Nggak pernah menyangka kalau Jumat, 15 Maret 2019 saya akan mengalami kekagetan besar. Karena pagi dan siangnya saya di daerah sedikit jauh dari kota dan sinyalnya jelek. Begitu sampai ke dekat kota lagi, tiba-tiba sudah baca berita penembakan di Christchurch.

Saya bisa bayangkan betapa takutnya komunitas minoritas di New Zealand akan adanya serangan seperti ini. Saya bisa bayangkan betapa kaget, tidak percaya, jijiknya warga New Zealand akan adanya teror di negeri yang aman ini.

Pagi ini, esok harinya, cuaca mendung seharian. Di luar jendela saya, langit kelabu, seperti turut berduka untuk negara.

Advertisements

Suatu siang di pusat perbelanjaan… yang lagi musim diskon, jadinya ramai.

Saya sedang melihat-lihat baju dingin di rak pakaian diskon, tiba-tiba saya mendengar sebuah celetukan yang asalnya dari dua orang tante separuh baya yang sedang mengamati sebuah sweater. Salah satu dari si tante menunjuk ke arah saya.

“Nih kalo yang kayak gini nih seukuran dia kali ya? Ukuran M.”

Saya tak tahan tak menjawab. Habisnya nggak suka ditunjuk-tunjuk, hahaha.

“Tante kalo saya ukuran S.”

Dua tante pun terkejut. Mukanya merah. Menanyakan saya orang Indonesia ya? Saya jawab ya. Yang diikuti dengan komentar, “Wahhhh kamu kok bisa badannya langsing begitu!”

Wah kabur ah, nggak kenal tapi sudah ngomongin bentuk badan 😀

Semoga si tante kapok nunjuk-nunjuk orang di tempat umum.

Si payung yang jadi cerita.

Cerita singkat hari ini seputar kolega kantor. Karena saya dipindahkan bagian di kantor, posisi meja dan yang duduk sebelahannya juga pindah. Sekarang saya duduk pas di sebelah seorang cewek Eropa, sebut saja namanya Lina.

Lina ini orangnya suka ngobrol, heboh — pokoknya seru deh. Awal-awalnya saya senang duduk di sebelah Lina. Soalnya orangnya ramai, jadi nggak bosan di kantor bisa haha hihi. Tapi lama-lama saya risih juga dengan si Lina ini. Soalnya doi selain suka haha hihi… juga suka kepo.

Misalnya saya lagi browsing hal pribadi dia suka datang, oh what are you looking at. Terus misalnya saya pulang awal karena ada appointment, dia berani lho tanya, appointment apa? Kalau dijawab dokter, nanti dia berani tanya lagi, dokter apa? Lama-lama bosan juga kan yaaa, memangnya kamu Mamiku, hahaha.

Anyway cerita ini tentang payung.

Di Auckland kan cuacanya nggak menentu, bisa cerah matahari terik lalu tiba-tiba badai hujan. Dan kalau hujannya deras anginpun kencang; menurut saya dua hal yang wajib dibawa ke mana-mana adalah jas hujan dan payung. Kalau nggak punya jas hujan ya payung juga oke. Daripada basah kuyup plus bete.

Payung kesayangan saya adalah payung lama yang awet. Belinya tahun 2014, dan sudah tahan kena badai berkali-kali tapi masih bisa dipakai. Beda dengan payung-payung yang saya beli ketika baru pindah ke sini, dipakai beberapa kali atau kena badai kencang lalu rusak. Akhirnya setelah menimbang-nimbang saya beli payung merek yang tidak murah tapi terkenal kualitasnya dan ada garansi lagi. Jadi kalau si payung rusak dalam jangka waktu 2 tahun (sekarang 5 tahun dan global aka seluruh dunia), bisa diganti yang baru. Ternyata si payung awet selama 4 tahun… sayangnya saya yang slebor ini karena demam tinggi naik bus untuk pulang ke rumah dari kantor, payungnya ketinggalan di bus… sedihhhnyaaaa…

Gak apa-apa, relakan. Belilah payung yang baru. Merek yang sama tapi sengaja beli yang ukuran lebih gede dan warna yang lebih ngejreng… alasannyaaaa supaya nggak ketinggalan lagi! Begitu balik ke kantor Lina melihat kotak payung yang baru, langsunglah dia tanya-tanya beli apa, beli di mana, harganya berapa.

Begitu saya sebut payungnya $119 Lina kaget setengah mati. Whaaaat, mahal sekali, begitu katanya. Lalu dia langsung manggil-manggil orang yang duduk sekitar, coba tebak berapa yang Mariska keluarkan buat beli payung. Lalu hari-hari besoknya dia masih bisa bercanda, jangan ketinggalan awas payungnya lebih mahal dari outfit keseluruhan si Lina… atau ya ampun payungnya seperti emas.

Deuh lama-lama bosan juga ya bercandaan (yang nggak lucu!) diulang-ulang. Padahal saya sudah jelaskan lho coba bayangkan dalam setahun kalau rusak payung beli beberapa kali pasti habisnya lebih banyak dari $119. Ini pengalaman pribadi, apalagi saya kan ke mana-mana jalan atau naik transportasi umum. Tahun 2013 saya ingat sekali beli payung sampai 4 kali, soalnya rusak terus (ini sebelum saya memutuskan investasi lah beli payung yang bagusan dikit).

Kalau kalian mendingan beli yang mahal di depan tapi jaminan awet apa yang murah saja sambil berharap-harap bakalan awet?

Kalau ada yang penasaran dengan payungnya boleh dicek di sini websitenya, memang si payung didesain untuk tahan banting dan tahan lama (sudah saya buktikan sendiri — kok jadi promosi, hahaha) tapi memang saya cinta banget dengan merek payung ini.

Hore, minggu depan Lina pergi liburan — hahahaha.

Selamat berpuasa bagi yang menjalani ibadah bulan Ramadhan ya! Dan sekalian mau ngasih tahu kalau tulisan hari ini akan disertakan dengan foto-foto makanan, jadi yang sedang puasa mungkin mau bacanya setelah buka, hehehehe.

Mau berbagi saja cerita saya mengurangi konsumsi makan daging (baik itu daging ayam, sapi, babi, ikan dsb). Alasan awalnya sih karena perasaan dengan umur yang bertambah ini, keseringan makan daging perut saya suka berasa ‘begah’. Setelah didiagnosis lactose intolerant tahun lalu dan nggak mengkonsumsi produk susu, perut saya jarang sakit. Tapi sering rasa ‘begah’ kan nggak enak juga. Hayuk lah coba eksperimen, mengurangi jumlah daging yang dimakan… eh betul… perut rasanya juga lebih nyaman.

Senang juga rasanya jadi menyeimbangkan diet. Saya sebetulnya tidak makan daging berlebih juga sih dulu, tapi nggak dipikirkan apa yang masuk mulut dan perut secara sadar. Ingin makan? Ya makan saja! Kalau sekarang mikir, eh kemarin sudah makan daging atau siangnya sudah makan daging, jadi makanan setelahnya ya tanpa daging saja deh!

Yang bikin agak repot adalah mengajak M ikutan gaya ini. Kalau saya masak vegetarian, protes deh, mana dagingnya katanya. Jadi ya sudah, kalau masak buat berdua, saya masak yang ada dagingnya. Atau misalnya, saya masak pasta atau mie, di piring M ada varian dagingnya yang ditambahkan terpisah, sementara di piring saya isinya sayuran saja. Contohnya masak pasta dengan saus tomat. Di piring M ada udangnya, sementara di piring saya, banyak bayamnya saja, hahaha. Kalau makan di luar saya usahakan pesan menu tak berdaging, kecuali kalau memang makannya di McD, masa’ pesan burger tanpa isi, hahahaha.

Yang lucu ya, sejak saya mengubah sedikit gaya makan ini saya jadi punya makanan favorit baru, yang dulunya sebetulnya saya biasa saja, nggak doyan-doyan banget. Makanan ini adalah… terong! Saya sekarang tergila-gila makan terong. Dimasak ala masakan Asia, hayuk. Dipanggang a la masakan Western, juga enaaaaaak…

Mau sharing beberapa masakan (dan makanan lain) yang sempat difoto, kadang (seringnyaaa…) belum difoto karena sudah kelaparan, terburu-buru makan dan nggak sempat terfoto deh.

Cereal dengan almond, pisang, blueberry, chia seeds dan yoghurt kelapa — yang dairy free, supaya tidak sakit perut hehehe. Biasanya untuk sarapan atau snack sore.


Seringnya untuk sarapan pagi… oats dicampur bubuk kayu manis, susu almond dan peanut butter. Toppingnya apel, pisang dan chia seeds.


Sal’s Pizza ini enak sekali, favorit deh kalau di Auckland. Boleh dong makan pizza, yang toppingnya cuma keju saja, tanpa daging kaaaaaan hahaha.


Orek tempe, nasi dan brokoli. Menu sederhana yang mengenyangkan. Ini 100% vegan juga, benar-benar hanya produk nabati.


Yee mee rebus a la Malaysia… buatnya mudah hanya dengan kaldu jamur dan telur. Porsinya M saya tambahkan irisan ayam.


Yang terakhir ini bukan foto makanan tapi mesin kopi baru kami! Yay! Senang banget sekarang bisa buat kopi enak seperti di cafe, di rumah sendiri.

Karena mengucapkan syukur / being grateful itu bagus sekali manfaatnya untuk kesehatan mental, saya ingin berbagi hal-hal baik yang terjadi minggu ini. Mungkin hal kecil saja, tapi bisa membuat kita makin semangat, kenapa tidak?

Banyak orang di luar sana yang saya yakin pakaian bersihpun susah mereka dapatkan. Apalagi minggu ini saya getol membaca cerita para tahanan di kamp konsentrasi Auschwitz pada masa Perang Dunia II. Sedih sekali membaca detail kisah mereka yang memilukan. Membuat saya melihat betapa beruntungnya diri saya selama ini.

Lalu apa saja sih yang saya syukuri pada minggu ini?

Ini donat kesukaan saya. Rasanya khas dan enak sekali. Tapi yang jualnya bukan di toko melainkan di beberapa cabang supermarket di sini. Pokoknya harus cari secara khusus kalau nggak ya gak ada. Nah untungnya minggu ini saya bisa makan, dibelikan hubby. Dimasukkan ke dalam kulkas lagi, jadinya dingin dan enak.

Gambar di atas courtesy dari manajemen tempat di mana saya akan merayakan ulang tahun ke 30. Ya, 30! Mencari tempat yang sepertinya susah, ternyata nggak juga. Kami diberikan kemudahan untuk menemukan tempat dengan lokasi dan harga yang cocok. Senang.

Makan malam dan sarapan bakmi bikinan sendiri, lengkap dengan baksonya. Minggu lalu saya buat bakso agak banyak dan distok di frezeer.

Udara sih jadi makin dingin saya nggak suka, tapi bonusnya Loki jadi nempel setiap malam!

Dapat warisan panci Le Creuset dari mama mertua. Secara dia juga nggak doyan masak, ini hanya ngumpulkan debu saja di rumah katanya. Panci ini adalah warisan neneknya M (ibu mertua MIL) — wah senang sekali dapat panci ini. Apalagi saya memang niat mau beli sebuah, sekarang tidak usah lagi!

Minggu ditutup dengan makan Sunday roast di rumah. M memanggang daging babi, saya masak sayur brokoli dengan bawang bombay, bawang putih dan labu panggang. Lalu dapat oleh-oleh wine dari sahabat kami, pasangan yang pas dengan makanannya!

Wah setelah dituliskan ternyata banyak sekali hal yang bisa disyukuri minggu ini ya! Oke siap siap ke minggu selanjutnyaaaa…

Walaupun nggak merayakan hari Paskah secara agama, saya ikut dong menikmati hawa-hawa liburannya, kelinci-kelinci lucu di mana-mana, dan makan coklat-coklatnya. Di kantor kami libur 4 hari (dari Jumat ke Senin).

Nggak terasa liburnya sudah mau berlalu dan besok kami sudah masuk lagi. Besok adalah hari pertama saya training! Ya, saya dipindahkan sementara untuk mengisi posisi di tim lain di perusahaan, yang pekerjaannya 100% beda dengan apa yang sudah saya kerjakan selama ini. Karyawati di bagian itu sebentar lagi akan cuti melahirkan, jadi sayalah yang didaulat sebagai pengganti sementara. Moga-moga training besok lancar!

Yang istimewa untuk saya setiap hari Paskah, adalah kalung Paskah ini. Kalung ini diberikan mama mertua dulu (sebelum jadi mertua), beberapa tahun yang lalu untuk Paskah. Jadi setiap ada long weekend Paskah, pasti saya pakai kalungnya.