Archive

Monthly Archives: November 2014

Kemarin, entah kenapa saya tiba-tiba homesick banget… selain kangen ingin bertemu orangtua saya juga kangen makan sambel. Ya, kalau lagi kangen rumah berat saya akan makan yang pedas-pedas… mulai dari Indomie goreng pakai sambal berlebih, soto pakai sambel extra, bakmi super pedas dan sebagainya. Cara ini cukup efektif lho! Sepertinya otak ini sudah mengasosiasi rasa pedas dengan feeling ada di kampung halaman… karena jujur saja waktu tinggal di Malaysia saya nggak pernah tuh merasakan makan sambel pedas dan enak seperti di Indonesia karena menurut saya sambel mereka lebih ke aromatic dan manis, sementara sambel Indonesia itu pedasnya nendang sampai garuk-garuk kepala. Apalagi sejak di sini, kebanyakan pedas yang beredar adalah lagi-lagi masakan Malaysia atau China. Pedas ala China biasanya memakai sambel minyak (chili oil) yang pedasnya saya kurang begitu suka–mana berminyak banget pula.

Khusus untuk sambel bakmi dan soto saya buat dengan blender halus bawang putih dan cabe yang direbus bersama-sama, kecuali sambel soto ayam yang harus pakai terasi. Sedangkan sambel terasi andalan saya, bawang merah, bawang putih, tomat dan cabe yang ditumis sebentar lalu diblender dengan terasi, gula merah, garam dan air jeruk limau atau lemon.

Kemarin karena kebetulan ada teman yang datang ke rumah untuk dinner, saya masakkan ayam panggang kecap manis ala Indonesia, lalapan daun selada, mentimun, wortel rebus dan buncis rebus, plus sambel yang sukses bikin dua teman saya (satunya bule satunya Thailand) pusing-pusing. Yang Thailand sampai nangis menitikkan air mata (sumpah nggak bohong) sementara yang bule sampai keringatan dan bilang kalau kepala dan telinganya gatal kepedasan, hahaha.

Salam makan sambel!

Sepertinya memang sudah menjadi kewajiban orang Indonesia (atau budaya ketimuran kebanyakan kali ya) untuk terjun ke dalam percakapan basa basi setiap kali ketemu, atau mungkin pun hanya papasan, dengan teman serumpun. Di dunia teknologi jaman sekarang sepertinya makin susah menghindari pertanyaan model begini karena, nggak papasanpun, nanti notification2 akan bunyi sendiri dengan comment ataupun ajakan chat yang kadang bikin gerah, hahaha. Bukannya membandingkan tapi budaya barat kebanyakan tanya pertanyaan pribadi itu tabu apalagi kalau sudah dilengkapi dengan metode insisting plus nggak begitu akrab pula.

Pertanyaan umum yang sering saya dapatkan akhir-akhir ini:

  1. Kapan kawin?
  2. Kapan kawin — nggak mau cepat-cepat punya anak? Nanti keburu tua lho, blablablabla (silakan dilanjutkan sendiri)…
  3. Kapan pulang? Gak kangen orangtua? Gak kangen rumah? Udah nyaman ya tinggal di negara bule? Kok kayak Bang Toyib sih gak pulang-pulang? Beneran ya nggak kangen? Udah forgood di sana? (Pertanyaan yang bikin ngelus dada karena kalau teman dekat saya pasti tahu betapa kangen dan pengen pulangnya saya tapi situasi kurang mendukung)
  4. Sekarang kerja apa? Gak kerja kuliner lagi? Kenapa nggak? Kan seru tuh! Apa pulang aja ke Indonesia gaji kuliner sekarang lumayan lho. Gak sayang bayar sekolah lalu karirnya nggak dilanjutin? Ikut MasterChef aja!
  5. Kapan pacarnya dibawa pulang? Nggak kenalan sama orangtua? Jangan sombong2 kalau pacaran.

Susah memang menghindari pertanyaan-pertanyaan yang kadang dijawab salah, nggak dijawab pun salah. Pinter-pinter aja mengalihkan pembicaraan pun ujung-ujungnya tetap bakalan ditanya atau dikomentari. Contohnya ada yang kekeuh saya suruh berburu tiket Air Asia buat pulang karena dia dapat murah PP ke Sydney… sayangnya ke sini kan nggak ada Air Asia, hahaha.

Sekarang saya sih masih dalam stage itu, kalau kalian sekarang sudah sampai stage berapa?

Mungkin masih ada yang ingat kalau sebulanan yang lalu saya pernah post tentang interview kucing. Saya sudah update di postnya kalau saya nggak jadi pergi lihat kucingnya sama sekali karena sehari sebelum janjian, ownernya telepon dan membatalkan dengan alasan mereka sepakat untuk ngasih kucing mereka ke kerabat dekat. Sebalnya…
Sayapun makin rajin mencari-cari listing kucing maine coon terbaru dari registered breeder di sini. Untuk adopsi maine coon nggak bisa sembarangan karena selain tidak banyak/umum maine coon yang didapatkan dari registered breeder sudah pasti keturunan bagus, bersih dari penyakit, resmi (sampai ada sertifikat kucingnya segala), dan sudah terpaket dengan pemotongan kelamin (penting banget untuk kucing jantan supaya nggak membunuh kucing-kucing jantan di sekitar lingkungan dan untuk kucing betina supaya nggak beranak melulu nantinya)-pembersihan kutu-vaksinasi.

Akhirnya minggu kemarin setelah berkunjung ke salah satu anak kucing yang di-list (jauh, bo, 1 jam perjalanan out of Auckland), booking, dan membayar deposit, saya bakal menjemput si kucing seminggu sebelum Natal! Nggak sabar rasanya. Dan lucu aja kalo melihat anak kucingnya kecil dan imut-imut tapi setelah 2 tahun si anak kucing bakal tumbuh buesaaaaaarrrr jadi 13 kilogram.

wpid-wp-1416372351424.jpeg

wpid-wp-1416372315372.jpegwpid-wp-1416372360778.jpeg

wpid-wp-1416372342992.jpeg wpid-wp-1416372312052.jpeg

Sekarang hal-hal yang harus dipikirkan, nama, biaya untuk cat carrier, scratch pole tower, tempat makanan, tempat minuman dan main air (kucing ini suka main air lho), makanan, tempat tidur, pasir dan tempat pup, dan register di dokter hewan terdekat.

Lucunya, pas cerita ke Mami (dalam kapasitas cerita saja lho, tidak minta izin) tentang lihat kucing Mami sudah melarang keras… bisa jadi kejutan deh kalau tahun depan atau tahun depannya lagi Mami datang main, eh ada kucing seukuran anjing seliweran di rumah, hehehe.

Saya sering diomelin oleh Mike karena ketidakmampuan saya untuk ‘say no’ ke orang. Diomelin karena merepotkan juga dan sayanya sendiri jadi resah dan nggak happy, haha. Di umur saya yang udah 26 ini saya masih suka nggak enak hati berlebih untuk menolak… jadi selama ini ya method of survivalnya untuk bikin alasan muter-muter untuk bilang nggak secara tidak langsung–tapi kadang jadi bumerang juga karena ada orang yang nggak menangkap hint yang saya kasih (atau pura-pura nggak nangkap?). Tiap tahun salah satu goal tahun baru saya adalah bisa bilang nggak dan berhenti buat merasa nggak enak setelah menolak baik langsung maupun tidak langsung. Sudah ada kemajuan say no-nya tapi ya begitulah, rasa nggak enaknya itu lhooo yang susah. Makanya saya menghindari bergaul dengan orang yang karakternya pushy karena alasan ini.

Contohnya, saya post di Instagram kalau saya beli beberapa botol susu coklat (yang langka susah didapat karena saking lakunya di pasaran). Salah seorang teman saya SMS kalau dia ingin mampir rumah baru untuk lihat hari ini, sebentar aja dll. Saya pun bilang hari ini sudah ada rencana (karena sesiangan saya banyak kegiatan jadi capek dan ada seorang teman lain yang memang mau datang untuk makan malam, jadi saya pulang harus masih berberes lalu masak dsb). Teman ini masih insist untuk mau datang sebentaaaaaaarrrrr saja, dan akhirnya saya bilang besok saja ya. Bukannya nggak mau dia datang tapi rasanya repot kalau orang datang ke rumah di kala waktu kita untuk mengerjakan macam-macam sedikit aja–memang sih saya di rumah tapi saya nggak lagi leha-leha. Lalu balasannya sippp oke, sisain satu ya susu coklatnya.

Hah, sayapun kaget karena susu coklatnya sudah janji mau dibagi ke teman-teman yang lain. Lalu saya balas kalau sudah tidak ada jatahnya, minggu depan ya. Nah lalu akhirnya saya merasa bersalah deh sudah menolak teman saya main ke rumah, menolak memberi susu coklat lagi. Padahal kalo ditilik secara logika sebenernya saya nggak usah merasa bersalah kan ya?

Duh, repot! Hahaha.

Saya pengen aja nge-share kebiasaan/tabiat unik saya. Kayaknya banyak banget sebenernya sampe beberapa temen dan bahkan pacar bilang tabiat saya lucu-lucu, hahaha. Memang semua orang pasti punya tabiat dan kebiasaan unik ya jadi mungkin dilihat orang lain jadi tidak biasa aja. Ini dia beberapa kebiasaan dan sifat unik saya. Bikin part 1 soalnya banyak jadi daripada kebanyakan, cape ngetiknya dan ntar cape bacanya juga lebih baik dipisah jadi beberapa post… siapa tahu besok ingat lebih banyak, haha.

  1. Saya sangat particular terhadap jenis tulisan. Yes, font maksudnya. Kalau misalnya saya baca buku dan jenis dan ukuran fontnya saya nggak suka, saya nggak akan baca buku tersebut. Same thing goes for phone, buku pelajaran, poster/flyer, dsb. Makanya saya sekarang lebih suka membaca buku dari tablet karena jenis dan ukuran fontnya bisa saya sesuaikan dengan mood. Saya nggak suka font dan display dari HP HTC misalnya, jadi waktu mencari HP yang cocok sudah pasti merk tersebut buang jauh-jauh. Saya suka membaca dengan font Times tapi tidak dengan Times New Roman–banyak lho yang suka nanya loh apa bedanya karena memang mirip banget tapi buat saya perbedaan yang kecil itu tetap aja mengganggu. Saya suka banget membaca digital dengan font Apple dan iPhone (Helvetica Neue dan Helvetica Neue Light). Dan kalau mengetik email di kantor saya suka memakai font Calibri, harus ukuran 11 dan warnanya shade biru tua agak grey. Hahaha. Jadi tiap tujuan saya bener-bener particular dengan apa jenis, ukuran dan warna font yang dipakai…
  2. Peka dengan bau-bauan di kala makan (dan minum). Saya peka banget dengan bau-bauan. Saya ingat waktu SD di jam istirahat ada tante jual mie tapi pakai mangkok plastik yang dicuci dan dipakai lagi. Jadi, mie ditata di mangkok sebelum jam istirahat dan waktu jam istirahat mie disiram dengan kuah panas. Walaupun kata semua orang mienya enak saya nggak doyan karena saya bisa cium bau plastik panasnya! Makan di pinggir jalanpun saya nggak masalah, asal makannya nggak ada bau sabun (biasanya bau sabun colek) atau bau got… kalau sudah tercium bau sabun (di restoran dan tempat makan juga sama) atau saluran air, goodbye. Kalo nggak, mau kata nggak higienis juga masih bisa tertelan tuh makanan. Pernah waktu kecil saya punya teman yang design rumahnya indoor-outdoor, di deket meja makannya ada kolam ikan dan akuarium. Nggak pernah bisa makan di sana soalnya bau ikan sih! Satu lagi saya nggak suka minum air putih di rumah orang karena bau gelas dan aroma rumah (menurut saya tiap rumah ada aroma berbeda) yang lain jadi airnya rasanya aneh, hahaha.
  3. Suka pedas tapi nggak suka sambal botol. Paling gemes kalau pergi makan dan makanan saya dikasih saos botol. Nggak doyan sama sekali! Apalagi di Thailand atau Malaysia, di mana-mana ada sweet chili sauce banjir…
  4. Cara makan pangsit. Kalau saya makan pangsit, gyoza, bakpao, dan sejenisnya itu, saya preteli dulu luarnya, dimakan sendiri terus isinya dimakan terakhir. Kadang kalau nggak doyan isinya, saya kasihin orang atau disisihkan ke samping soalnya memang lebih doyan kulit daripada isinya sih. Prinsip yang lumayan sama juga kalau makan makanan berkuah… kalau makan bakso kuah, mie kuah dll, saya makan dulu mie atau bihunnya, baru topping atau dagingnya terakhir. Sampe pernah waktu makan beef brisket noodles, ada yang kecele dan udah ngarep dikasih beef brisketnya, dikira saya nggak doyan gara2 yang dimakan mie-nya aja hahahaha. Padahal brisketnya terakhir dimakannya.
  5. Nggak doyan kulit ayam dan daging ayam selain dada. Entah kenapa nggak doyan padahal kayaknya semua orang suka sama kulit ayam ya, ampe ada yang jual garingan kulit ayam segala. Kalo makan KFC dan model ayam goreng sejenisnya saya makan dagingnya dan kremesannya dipreteli, terus kulitnya dikasihin orang (yang biasanya bahagia berat dapat kulit extra). Saya juga paling doyan dada ayam, kalau paha atau sayap saya nggak doyan soalnya dagingnya keabu2an dan di mulut saya rasanya amis… mungkin ini ya saya nggak suka makan bebek karena dagingnya sedikit, gelap warnanya dan jagoannya ya di kulit si bebek ini.
  6. Menulis. Saya suka membaca tulisan yang rapi, jadi kalau menulis sendiri kesel sekali kalau nggak rapih, miring dan sebagainya. Biasanya kalau menulis kertas post it-pun, kalau kurang rapih saya bisa uring-uringan jadinya atau mendingan diulang saja sekalian.

IMG_20140919_142107 IMG_20140319_163446

Cukup 6 dulu deh sifat uniknya sekarang, share juga dong apa sifat unikmu yang lucu? 🙂

Sejak tinggal di sini dan punya social group yang tetap kita lumayan rutin mengadakan potluck. Potluck itu istilahnya masing-masing yang diundang membawa makanan (lebih afdol kalo homemade) sendiri, dan abis itu ya dibagi-bagi makan bersama. Seru banget dan pastinya murah meriah karena pas dikumpulkan makanannya jadi banyak. Saya sendiri nggak begitu tahu budaya ini rame-nya di mana, kalo di Indonesia mungkin nggak terlalu ya karena yang saya perhatiin orang-orangnya lebih suka makan bersama di mall — saya inget jaman mami masih aktif arisan dulu juga para tante-tante datang ke rumah bawa makanan, tapi arisan jaman sekarang kayaknya lebih gaul dalam artian ngumpul2 cantik di resto ketimbang potluck-an di rumah.

Apalagi kalo yang datang beragam latar belakangnya, makanan yang disajikan pun lebih unik dan beraneka macam. Sebagai penggemar berat potluck menurut saya acara model begini banyak keuntungannya lho. Selain mempererat persahabatan/silaturahmi, menghemat biaya (lha iya makan di rumah dibanding makan di luar gitu), suasana lebih hangat (nggak rame seperti kalau keluar kadang2 berisik dan musik yang terlalu keras, teman yang duduknya jauh di ujung meja sana dan sebagainya) dan bisa mencicipi makanan yang lain daripada yang biasa kita pesan atau masak sendiri. Seru banget kalau teman-temannya bawa masakan asal daerah atau negara mereka masing-masing, jadi ajang mencicipi deh.

Ini dia makanan potluck kali ini. Green beans and tahini salad, chicken satay with peanut sauce and simple acar, green salad, vegetarian rice rolls with peanut sauce, nasi uduk, tempe mendoan dan rendang Padang — semuanya homemade. Saya lupa foto dessertnya; lemon cream with raspberry topping karena saking enaknya tiba-tiba udah habis aja. Senang rasanya bisa memperkenalkan rendang Indonesia ke teman-teman saya karena rendang yang populer di sini adalah versi Malaysia (lebih berkuah dan tidak sekering versi Indonesia) dan tempe mendoan! Kebanyakan mereka belum pernah lihat atau makan tempe, malah nggak tahu kalau ada produk makanan kedelai selain tahu dan mereka semua suka sama tempe ini. Jadi semangat next time untuk buat tempe dan tahu bacem! Effort membuat rendang ini juga percobaan pertama bikin betul-betul dari scratch, nggak tahunya enak banget dan mudah membuatnya asal sabar dan punya waktu lebih untuk memasaknya agak lama.

Happy potluck!

Berhubung tidak belum bisa nyetir mobil, pindah ke daerah suburb artinya jadi ketergantungan sama minta diantar jemput orang atau public transport yang menyebalkan, apalagi kalo pas weekend. Minggu kemarin girang gembira soalnya Mike dengan baik hatinya beliin sepeda baru buat early Christmas gift — kebetulan sepedanya lagi sale. Seneng banget dong karena saya udah nabung sebetulnya buat beli sepeda tapi keduluan, lumayan uangnya bisa buat beli perlengkapan sepeda lainnya. Udah lama emang liat2 ladies vintage bike dan akhirnya dapat yang cocok, merk Giant. Tapi ya sepedanya doang, perlengkapannya harus beli lagi. Dan hore, weekend ini sepeda saya udah bisa dibawa jalan! Moga2 aman sentosa dan bisa jalan2 sendiri sekitar daerah perumahan, minimal bisa lah buat belanja groceries kecil2an 😀

Saya sendiri udah baca2 dong road rules dan aturan keselamatan. Mumpung akhir2 ini cuaca lagi bagus juga jadinya semangat banget mau nyobain sepeda ini 😀
Dari kecil saya udah suka sepedaan, di area toko ortu dulu ada tanah lapang yang lumayan luas buat main… sayangnya saya nggak diijinkan sepedaan sama temen2 sekomplek. Alasannya takut diserempet mobil, takut diculik atau takut ilang! Kebayang dong sedihnya ditinggal temen2 main sepeda sore2 atau mereka biasanya rame2 ke sekolah sepedaan… saya pernah iseng ikutan main sepeda terus ketauan, wah diomelin and diambil deh tuh sepeda.

Anyway foto2 sepeda saya sekarang 😀

Sepeda waktu baru dibeli, masih polos nian.

Sepeda waktu baru dibeli, masih polos nian.

wpid-wp-1415416521884.jpegwpid-wp-1415416564308.jpeg

Yang saya paling suka dari sepeda saya sekarang, keranjang ini! Saya beli terpisah; jadi keranjangnya dipasang di depan sepeda tapi ada attachmentnya, jadi kalo misal saya pergi belanja, saya tinggal lepasin keranjangnya dari attachmentnya (tinggal pencet tombol dan tarik) dan isi belanjaan, terus dipasang lagi buat perjalanan pulang. Tinggal taroh dan ada bunyi ‘klik’ udah jadi deh! Mudah, praktis, cantik lagi modelnya. Berhubung nggak ada stok helm polos putih, saya pilih helm Paul Frank aja soalnya lucu.

wpid-wp-1415416527886.jpegwpid-wp-1415416538132.jpeg

Yuk sepedaan! Rasanya seneng banget waktu muter2 sebentar tadi siang, mana udaranya bagus banget… recommended kalo visit NZ harus deh sewa sepeda untuk muter2 daerah asri 🙂