Archive

Monthly Archives: February 2015

Screen Shot 2015-02-22 at 11.13.24 pmIseng-iseng bikin note kecil ini untuk dipasang di notice board saya. Yup, untuk mengingatkan fokus tahun ini! Tadinya nggak mau bikin fokus… atau istilahnya resolusi lah. Dari sekian banyak yang dibuat, nggak ada yang nyantol dari tahun ke tahun. Lalu suatu hari saya ngerasanya kesel sama seorang teman, ngobrol panjang lebar dengan Mike. Keluar deh Focus 2015 ini. Sederhana, tapi semoga nyata… tujuannya ya simple aja semoga lebih happy!

Get Rid of Negative Relationships
Ini termasuk simple banget dan banyak nggak terlihat sama orang, termasuk saya. Saya nggak membicarakan tentang abuse atau bullying… simple aja. Pernah nggak kamu punya teman yang sepertinya lebih sering bikin bete dibanding senengnya. Cocok ngobrol, seru diajak nongkrong. Tapi selalu menomorduakan kamu dibanding pasangannya, kamu pun sedih. Dateng selalu telat, atau batalin janji last minute, sering curhat tapi kalau dicurhatin kayanya nggak nyambung, cuma cari kamu kalau ada gosip, sering mengkritik, bikin down dan sebagainya.
Saya ada seorang teman yang sepertinya saya sisihkan waktu, dia nggak pernah menyisihkan waktunya untuk saya kalau dia lagi sama pacarnya (bayangkan, saya pulang ke Indonesia setahun-dua tahun sekali, dia lebih milih menyisihkan waktu untuk pacaran… sedih nggak. Katanya sih sibuk, tapi foto Instagramnya… kencan terus). Terus ada juga temen lain yang pas saya di-stalk dan lapor polisi malah bilang “Percuma banget lapor polisi, nggak ada gunanya!” tapi nggak kasih solusi lain pun juga.
Dan sebagainya bisa diisi sendiri. Hal-hal kecil yang bikin kita sedih… buat apa sih menyisihkan waktu dan energi untuk orang-orang yang hanya ada saat kita senang? Saya nggak pernah minta hal-hal grand dari persahabatan atau hubungan. Cukup waktu aja. Kita spend time together, bukan hanya on your own terms saja. Kalau kita dikecewakan, dampaknya bisa aja kan jadi merembet ke aspek2 lain di hidup. Misalnya jadi kesel, sedih, nggak konsen dsb (karena perasaan amarah dan kecewa yang kalau sering banget dari orang yang sama, numpuk). Which leads me to…

Give and Receive
Salah seorang teman saya pernah berkata, “If you want friendship, you have to give friendship. If you want relationship, you have to give relationship. Don’t expect people to do everything for you!” yang saya camkan dan ingat-ingat di hati. Buat apa waste energy membantu, atau sekedar menyisihkan waktu, untuk orang yang nggak “give” balik? Give ini bukannya mengharapkan imbalan ya. Tapi sekedar reciprocation aja. Timbal balik. Nggak ada hubungan yang berat sebelah di dunia ini. Teman saya yang ngeduluin pacar, kalau saya lagi nggak pulang pasti nge-wall, nge-whatsapp, kangen dll dll. Tapi pas saya pulang, nggak ada tuh effort dari dia untuk ketemuan atau sekedar menyisihkan waktu aja deh… bikin sedih. For what? Buat seneng2 dan ketawa2 pas kita akhirnya ketemuan? Kayaknya, nggak setimpal…

Chill Out
Saya merasa di jaman serba digital sekarang, mudah sekali merasa rendah diri. Kok pencapaian hidup saya nggak sama dengan A? We grew up together. Or si B sepertinya disenengin banyak orang, kapan ya bisa gaul seperti itu. Dsb. Akhirnya saya bikin stress diri sendiri, karena setiap hari berusaha ‘mengejar’ ketidaksempuranaan sendiri. Trying hard to keep up. That’s why I need to really chill out!

Goal-goal yang sederhana buat saya. Nggak ada ‘nambah berat badan’ atau ‘makan sehat setahunan’ dsb.
I choose to be good for my heart and soul this year 🙂

Advertisements

Kayak bayi aja ya pake ada perkembangannya… haha. Tapi yo wes lah kan saya belom punya anak dan emang semua perhatian tercurah sama si kucing centil ini. Anyway Loki punya fan page di Facebook lho! Like ya kalo suka kucing dan biar crazy cat mom-nya ini seneng, hehehe. Berhubung Loki cuma kucing bolehlah punya page sendiri, karena ntar kalo punya anak saya paling anti jadi sharent (oversharing parent, minjem istilahnya Mbak Yoyen) dengan alasan-alasan tertentu yang tentunya nggak ngefek ke kucing.

  • Loki aktif sekali, apalagi pada malam hari (karena kucing kan nocturnal ya) dan sekarang lagi teething, jadi suka gigit-gigit semuanya termasuk kaki saya di malam hari lagi tidur! Jadi dia dibelikan boneka chewing dog khusus anjing buat teething aid-nya.
  • Suka dengan kaki — pokoknya kalo lagi duduk nanti dia akan nemplok2 di kaki kita, terus tidur deh.
  • Paling doyan makan Jimbo (fresh meat for cat dengan banyak rasa). Kalo treats dia biasa aja, terus juga doyan keju (tapi gak bisa makan karena lactose, abis makan muntah) dan suka banget sama kue bolu?? Yang ini aneh sih.
  • Beratnya sekarang 3.2 kg… makin berat ya nak. Tiap hari saya gendong-gendong biar kebiasaan gendongnya sampe nanti dia belasan kilo.
  • Udah mulai pinter banget loncat, kemarin loncat ke atas mesin cuci yang tinggi.
  • Mulai mau diangkat-angkat — HOREEEE.

Nempel kaki a la Loki

Menurut vet-nya Loki termasuk kucing sehat yang happy dan berat badannya bagus. Duh seneng banget dengernya. Dia juga termasuk yang mau deket-deket terus, kalo saya pulang duh dia seneng dan jilat-jilat terus. Purring terus. Di ruangan mana saya ada nanti dia akan ngikutin. Oh ya Loki juga baru selesai semua vaksin kitten-nya, dan bakal mulai round vaksin feline HIV (semacam AIDS kucing) bulan depan. Dia juga baru aja dipasang microchip. Gunanya microchip ini, kalau dia hilang atau dicuri dan dibawa ke dokter hewan sama yang nemuin nantinya, akan di-scan dan ketahuan kalau saya pemiliknya yang ter-register resmi di New Zealand. Biayanya cukup murah, $65.

Buku perkembangan Loki dengan detail setiap vet visit dan sakit-sakitnya dll.

Ceritanya ada anak baru di kantorku. Resepsionis yang udah kerja 10 tahun kemarin berhenti karena mau travel keliling dunia katanya, jadi salah satu anggota tim administrasi kami ditarik untuk menggantikan dalam kapasitas secondment, sementara mereka akan cari resepsionis baru yang cocok untuk kantor. Untuk mengisi kekurangan staf di tim, perusahaan pun ambil temp staff (pegawai kontrak). Saya juga awalnya bekerja di perusahaan dalam kapasitas pegawai kontrak, setelah 6 bulan mereka menawari saya kerja permanen.

Anak baru ini kerjanya dimulai dengan belajar sistem filing kantor dulu; awal kerjapun saya diajari belajar filing dulu, dari sana akan mudah mengerti sistem kerja perusahaan selanjutnya. Pertama ketemu, orangnya kecil imut2 banget, dari Fiji. Ternyata dia pindah ke NZ karena dia nikah dengan si suami yang adalah resident New Zealand, dan ini adalah pekerjaan pertamanya setelah pindah 8 bulan yang lalu.

Hari pertama si anak baru ini pake heels… dan karena harus filing terus-terusan pastilah kakinya pegel. Apa yang dia lakukan saudara-saudara… DIA COPOT SEPATU. Yup, dengan pedenya dia nyeker di kantor… sambil jalan-jalan filing pula! Ya ampun sampe pegawai senior mau negurpun nggak enak, disuruhlah saya yang negur.

Ampun deh, bener2 bingung gimana ngomongnya, serba salah jadinya.
Memang budaya itu lucu, ya. Mungkin, di Fiji, bisa nyeker kalo kerja… nah dikelilingin bule-bule? Ya nggak bisa dong non…
Semoga nantinya dia nggak aneh-aneh lagi deh, habisnya diriku paling susah sih suruh negur orang, he he he.

*image nyomot dari Google*

Sejak punya Loki, komen begini seriiiiiiiing banget saya denger, menyuruh saya gendutin kucingnya. Alasannya, karena kan gendut itu lucu. Teman saya (kebetulan dia salah satu tersangka penyuruh penggemukan kucing ini) cerita, kalo dia sering ngasih makan kucing liar yang main ke rumahnya KRIM! Biar lucu dan gendut. Padahal tahu nggak sih, kucing itu kebanyakan lactose intolerant. Mereka dikasih susu atau krim, bakalan muntah. Nggak semua kucing ya, tapi kucing kebanyakan. Lha kalo kucingnya liar mana tahu kalo dia muntah kan… kemarin saya sempat eksperimen, ngasih si Loki susu dikit aja buat dia cicipin. Beberapa jam kemudian, muntah deh dan harus dibersihkan kan muntahnya. Untung di lantai kayu, tinggal dilap.

Bingung deh kenapa ya banyak pet owners yang kayaknya obsesi sama ‘gemukin hewan’nya. Pokoknya biar lucu. Apalagi jenis maine coon (MC) seperti Loki. Saya sempat gabung di group maine coon Indonesia di Facebook… terus saya tinggal grupnya. Habisnya, kalau grup lain tuh post foto-foto kucing mereka dan berbagi kisah keseharian, tabiat dan kejadian seputar kucing mereka, yang di grup Indonesia tuh fokus dengan size-nya si kucing. Kalo ada yang belum baca postingan tentang Loki sebelumnya, jenis kucing maine coon ini ras kucing besar yang bisa tumbuh hingga 15 kg di masa dewasanya. Betul-betul fokus dengan berat… sampai ada yang curhat “Kenapa sih kucingku gak gendut2????” dan ada yang sampai post suplemen penambah nafsu makan kucing! “Biar gemuk” katanya.

Ya ampun hatiku miris… hewan peliharaan kan makhluk hidup, life companion, anggota keluarga kita.
Kebayang nggak kalau kucing obesitas misalnya. Lucu sih, kayak bayi atau balita obesitas. Tapi kasihan… Obesitas pada kucing dapat memberikan kontribusi akan terjadinya arthritis (meningkat empat kali lipat pada penderita diabetes tipe 2), dan hepatic lipidosis (masalah yang berpotensi dapat mengancam nyawa).

Dari pedoman kucing dan nasehat dokter hewan, sebaiknya si kucing juga nggak sering dikasih treats, daging (apalagi yang mentah), makanan manusia, dan susu. Sementara para penggemar obsesi kucing gendut, ngasih makan kucingnya daging ayam segar, ikan segar dsb. Yang paling sedih lagi… waktu dikasih tau mereka semua ignorant. “Gapapa ah, kucing ini. Kan lucuuuuu kalo gendut!”

*sedih*

“Awas, jangan keramas 40 hari setelah lahiran!”

Saya yakin banyak banget teman-teman yang pernah dengar (atau bahkan terpaksa melakukan!) mitos ini — terutama dari kalangan Chinese. Entah dari mana mitos ini berasal, konon kalau keramas dalam jangka waktu 40 hari tersebut nanti akan membahayakan proses penyembuhan ibu baru, sakit dan sulit pulihlah, atau di masa tua akan kena rematik atau ngilu tulang (ini 3 versi yang pernah saya dengar kalau ada lagi bisa ditambahin ya). Teman-teman saya banyak yang terpaksa mengikuti ini, ada yang nggak tahan terus dipaksa keramas saja dan dimarahin habis-habisan oleh ibu/mertua-nya, ada juga yang pakai dry shampoo untuk menyiasati. Atau yang baru saya denger dari teman yang sedang hamil, ada jasa keramas ibu yang sedang dalam masa confinement (pemulihan setelah melahirkan)–tukang keramasnya datang ke rumah dan dengan biaya 100,000 Rupiah si Ibu akan dikeramasi dengan hati-hati supaya air keramasannya nggak kena ke tubuhnya (apa mempan ini?).

Selain keramasan ini mitos seputar melahirkan ada di masa confinementnya. Dalam tradisi Chinese, si ibu baru nggak boleh keluar rumah dan hanya boleh makan makanan yang mengandung unsur ‘panas’. Yang paling populer sih semacam ayam tim jahe atau ramuan herbal lainnya. Bahkan saya pernah baca dalam total 40 hari itu nggak peduli digodok dalam apa pokoknya si ibu harus mengkonsumsi total 10kg (ada yang bilang 30 di satu cerita!) jahe — entah dimasak dengan protein atau diminum sebagai teh dan sebagainya.

Saya pribadi skeptis banget dengan hal ini–apalagi Mami sudah wanti-wanti kalau saya harus ikutan confinement ala Chinese di masa yang dibutuhkan. Saya sih orangnya dasarnya bandel, tapi jago ngumpet-ngumpet. Udah kebayang keramasan diam-diam kalau Mami tetep galak walaupun ditolak, hahaha. Supaya damai dan kan nggak menyakiti perasaannya… mungkin beliau percaya dan mau saya menghormati tradisi. Tapi…pertanyaan dalam batin saya:
1. Kalau memang benar dan terbukti kenapa detailnya bisa berubah? Misal, jumlah jahe yang harus dikonsumsi.
2. Bayi yang baru lahir kan rentan kuman, kalau nggak keramas… hiiiiiyyy kebayang nggak kumannya??
3. Ketombe? Rambut berminyak? Bisa nggak tidur 40 hari!
4. Demi anak? Apa ada scientific proof? Semisal ASI vs sufor misalnya, atau caesar vs normal kan ada buktinya.

Dan semacamnya.
Saya termasuk yang dulu, waktu kecil sih, percaya dengan mitos. Seperti ungu itu warna janda. Nggak boleh gunting kuku waktu Magrib. Kalau nakal nanti reinkarnasi jadi kecoa (ini kayaknya karangan Mami, tapi berhubung saya sekarang agnostic, jadi abu-abu aja tentang surga/neraka/reinkarnasi/life after death dan semacamnya). Kalau hamil dan sebel sama orang lain, nanti anaknya mirip tuh sama orangnya. Atau, ada tanda di telapak tangan yang menandakan… nanti suamimu ganteng nggak (udah terbukti bohong, saya ingat ada yang seneng banget dulu ‘diramal’ suaminya ganteng, tapi udah ada buktinya sekarang nggak betul, hahaha). Pokoknya macam-macam deh, tapi yang paling ingat dan berkesan ya si keramas ini… habis jaman sekarang masih juga diberlakukan, lengkap dengan ‘pengurungan’ dalam confinement 40 harinya.

Saya paham mungkin, jaman dulu kan nggak ada hair dryer atau pemanas ruangan… mungkiiiin ya ini analisa saya aja, di Cina kan dingin. Habis melahirkan, musim dingin, keramas, nggak ada hair dryer atau pemanas… ya bisa aja sakit berat dan nggak pulih. Tapi jaman modern macam sekarang?

Atau ini salah satu mitos yang paling saya benci… sekarang lagi marak karena udah mendekati Imlek. Mitos, kepercayaan tentang khasiat (badak yang diambil culanya, sekarang hampir punah, juga karena mitos ini), gengsi, pretentiousness dan bentuk yang menyerupai kalung emas = membawa berkat di balik konsumsi sup hisit (sirip hiu). Makanan mahal, sirip hiu tergolong makanan mewah yang hanya bisa dimakan orang kaya jaman dulu (sekarang juga kali ya). Kejam sekali, hiu ditangkap dan diambil siripnya, lalu dibuang lagi ke laut…
Duh saya emosi banget kalau lihat orang masih makan ini dengan nikmatnya… apa mau tanganmu dipotong, terus kamu dibiarkan di pinggir jalan begitu aja untuk mati, cuma buat gengsi? Banyak yang tahu tapi nggak perduli, “Ah, hiu kan jahat ini.” atau nggak mau tahu (ignorant).

Barusan aja… saya comment di postingan cooking club di Facebook tentang shark fin soup ini. Pertama yang ngepost comment balik, “Kalau mikir kejam semua hewan bernyawa yang kita makan itu ya kejam hahaha. Mending jadi vegetarian ajaa.” Terus saya jelasin donk… apa bedanya makan daging biasa dan kejamnya makan sup hisit. Jawabannya…, “Bener saya pernah baca, cuman kalo saya beli hisit udah kering ya ngga merasa kejam.” #facepalm

Mitos… percaya nggak percaya deh.

*foto nyomot dari Google Image search*