Archive

Monthly Archives: March 2015

Udara yang makin mendingin karena sudah musim gugur bikin saya pengen banget makan makanan Indonesia. Sudah beberapa hari terakhir ini saya masak macam-macam, bukannya karena rajin tapi betulan kepengin makan hehehe. Dari minggu kemarin saya ngidam berat nasi tim, sayangnya nggak punya kukusan sih… akhirnya bikinlah di rice cooker, walau hasilnya nggak sempurna tapi rasanya kurang lebih mirip sama yang beli di pasar (cuma kurang teksturnya saja).

tim

Bahan yang dibutuhkan:

  • 1/2 ekor ayam, potong daging menjadi dadu dan sisihkan tulang dan kulitnya
  • 3 cups beras (saya suka pakai jasmine rice)
  • 2 butir telur, rebus
  • 5-10 buah jamur merang, belah 2
  • sayur hijau seperti bok choy atau sawi, rebus selama 3 menit di air mendidih bergaram, sisihkan
  • daun bawang, cincang untuk garnish
  • 1 buah bawang putih utuh, cincang dan bagi 2
  • minyak untuk menumis secukupnya
  • minyak wijen secukupnya
  • air secukupnya

Bahan marinade ayam:

  • 1 sdm kecap manis
  • 1 sdm tepung maizena/sagu
  • 3 sdm Shaoxing wine/arak masak Cina (optional — tidak halal, bisa diganti air biasa)
  • 3 sdm kecap asin biasa (light soy sauce)
  • 1 sdm kecap asin gelap/dark soy sauce
  • 1 sdm saus tiram
  • garam dan merica secukupnya

Cara memasak:

  1. Rebus tulang dan kulit ayam selama kurang lebih 45 menit, sisihkan kaldu.
  2. Campurkan potongan daging ayam dengan bahan rendaman dan diamkan kurang lebih 15 menit.
  3. Panaskan minyak, tumis 1 bagian bawang putih hingga harum. Masukkan jamur, tumis 1 menit dan masukkan daging rendaman ayam sambil diaduk-aduk hingga ayam berubah warna. Masukkan air secukupnya dan kecilkan api, biarkan matang (kurang lebih 15 menit) sambil diaduk-aduk. Masukkan minyak wijen, sisihkan. (Rasakan kurang garam/merica/aneka kecap dan tambahkan jika perlu)
  4. Panaskan minyak, tumis 1 bagian bawang putih hingga harum. Tumis beras, bumbui dengan garam. Campurkan sedikit kuah dari tumisan ayam, sisihkan.
  5. Tata bahan di dalam rice cooker. Tumisan ayam, telur dan beras. Masak dengan menggunakan kaldu ayam secukupnya hingga matang.
  6. Sajikan dengan bok choy rebus dan kuah kaldu ayam (jika ada sisa), garnish dengan daun bawang.

Tip: Kalau mau lebih enak tapi nggak halal bisa campurkan Chinese sausage/sosis Taiwan di tumisan ayam.

Advertisements

Dengan sedihnya Sabtu kemarin pas balik ke dokter gigi saya kena quote perawatan lagi yang lebih dari $1000. Itu juga udah dapet alternatif murah alias ‘penundaan’ dari dokternya. Satu gigi geraham belakang saya retak dan butuh crown tapi berhubung crown di sini and di Jakarta bedanya 10 jutaan, saya muter2 cari solusi gimana caranya supaya si gigi bisa bertahan sampe saya balik akhir tahun, pas saya pulang untuk sekalian betulin gigi. Sedih padahal tahun kemarin udah bolongin kantong lebih dari $1000 buat si gigi-gigi ini.

Mahal banget lho perawatan gigi di sini. Dulu mah enak, udah murah, yang bayar juga orangtua hahaha.
Screen Shot 2015-03-23 at 10.21.43 pmDaftar harganya klinik gigi saya. Banyak yang pake ‘from’ lagi! Gila kata Mami bikin merinding hahaha. Setahu saya di sini nggak ada namanya dokter gigi yang praktek rumahan dan semacamnya, semua dokter gigi harus praktek di instansi kesehatan seperti klinik gigi, rumah sakit, medical centre dan semacamnya.

Kenapa gigi saya?

Yang bikin mahal dari segala perawatan gigi ini adalah mengganti tambelan. Yak seperti anak-anak kecil badung lainnya udah malas sikat gigi, suka makan permen pula saya. Pas udah gede dan udah rajin gosok gigi udah agak terlambat karena sudah lumayan jumlah tambalannya. Nah, di masa lalu (atau masih sih?) ini dokter gigi saya nambalnya dengan tambalan hitam alias metal alias amalgam. Amalgam ini ternyata nggak baik untuk kesehatan gigi, karena salah satu tambalan amalgam saya memuai dan bikin gigi belakang retak 😦 makanya ngilu-ngilu. Gigi ini akan ditambal sementara oleh dokter giginya dan saat saya balik Indonesia saya akan bikin crown yang beda harganya 10 juta tersebut.
Lalu gigi geraham belakang saya kurang satu dan dari dokter gigi di Jakarta saya dikasih gigi palsu yang ditempel di dua gigi sebelahnya. Semacam bridge… tapi bridge bohong! Karena suatu saat saya lagi makan, ‘bridge’ ini setengah copot. Pas saya bawa ke dokter gigi… dokter giginya terkaget-kaget karena oleh dokter gigi saya, ‘bridge’ ini ditempel dengan lem… jadi selama ini makanan pun nyangkut di antara si gigi palsu dan bikin rusak gigi sebelahnya. Sedih!
Berkat dua kejadian itu saya mesti pulang untuk mengurus bridge beneran dan crown (di sini untuk dua itu total 40 jutaan). Dan untuk sementara dokter gigi saya mengganti sedikit demi sedikit tambalan-tambalan lama dengan yang baru semoga kejadian retak nggak terulang lagi…

Saran saya nih kalo memeriksakan gigi ke dokter gigi, please catet apa aja yang dilakuin si dokter (saya sebelum ini nggak gitu tahu, sekarang rasakan akibatnya!). Jangan mau ditambal metal, disarankan cabut gigi, dan kalo ada masang macam-macam seperti bridge dan crown do your own research dan jadi cerewet deh gapapa… daripada rusak gigi dan menyesal kayak saya.

Happy smile, happy teeth, sad wallet!

Alkisah… saya kenalan sama cewe (sebut aja si A) online. Kenalannya dari grup KKC, dia ada post apa gitu dan saya komen dan dia nge-add saya. Kelihatannya orangnya baik dan karena udah saling mengkomen saya approve friend requestnya. Sejak add-add itu kami cuma ngobrol paling 2x dalam 4-5 bulan.
Sebulanan yang lalu A message saya di Facebook, bilang kalo sepupunya mau ke sini untuk sekolah (dan pengen dapet resident) boleh nggak kontak saya. Tapi sebelum saya sempat jawab, sepupunya udah add saya di FB. Okelah saya approve, saya ngerti banget kalo keluar negeri sendiri nggak kenal siapa-siapa tuh rasanya ‘gelap’.

Ngobrol-ngobrol sama si sepupu (sebut aja namanya S) dia pun tanya-tanya tentang Auckland, sampe tanya kalo ‘mau apply point resident bisa gak sebelum sekolahnya tamat’. Mulai nih sebel-sebel dikit… soalnya emang rada sebel sama orang yang nanya sekarung tapi jelas-jelas belom cari info sendiri. Masih bener-bener gelap ceritanya kayaknya, tapi dia udah mau berangkat bulan depannya… bagaimanakah ituuuuu. Saya coba bantu jawab pertanyaannya dan kasih dia website Immigration buat baca sendiri — lebih lengkap dan jelas kan daripada tanya saya.

Hari ini, si S message dan bilang dia udah nyampe, minta nomer telepon saya.
Terus saya bilang kontak di FB messenger aja… karena kalo text saya suka lupa bales (emang bener) dan saya paling gak suka telponan kecuali penting… mainly sih karena nggak kenal ya baru ngobrol sekali, saya nggak mau kasih nomer telepon saya.
Terus dia bilang… mau minta siapa tau ada temen saya yang bisa ada lowongan kerja part time buat dia.

*duengggg*

Saya bukannya nggak mau menolong, tapi saya nggak kenal kan… ketemu aja belum. Kalaupun saya bisa bantu cari kerja (juga gak jelas mau kerjaan apa) saya belum ketemu orangnya, saya nggak enak rekomen orang ke teman atau kenalan kalau saya nggak yakin orangnya bisa kerja, sifatnya seperti apa dsb. Dan notabene dia baru sampai, apa sudah coba cari sendiri?
Duh jadi inget cerita budaya tumpang menumpang dan titip menitip a la orang Indonesia. Minta tolong boleh aja, tapi lihat-lihat sikon juga kan?

Saya termasuk beruntung dapet kerjaan kantoran pertama di company yang lumayan ngemong staffnya. Dari mesin kopi beneran, snack yang selalu tersedia, drinks-o-clock on Friday sampe event-event team building kantor yang bertebaran sepanjang tahun. Awal bulan ini tepatnya minggu kemarin saya berkesempatan untuk ikut Annual Work Conference kantor kami di Waiheke Island. Singkat cerita Waiheke Island ini 45 menit naik ferry dari pusat kota Auckland, dan terkenal dengan pantai-pantainya yang bersih, penduduknya yang ramah dan winery. Kalau ada yang berkesempatan ke sini harus ikut tur wine tastingnya, entah itu guided tour atau tour sendiri (ambil peta, sewa mobil/skuter/sepeda–tahun 2011 saya sempat keliling pulau ini naik sepeda, capeknya wah!).

Begitu sampai kami dimanjakan dengan pemandangan air yang tenang dari stasiun ferry-nya, karena cuacanya yang bagus sekali. Selepas itu kami diantar ke aktivitas masing-masing (kami boleh memilih naik kapal terus pergi memancing, naik kuda, memanah atau main golf). Karena belum pernah megang kuda betulan seumur hidup sayapun memilih naik kuda.

Naik kuda ini kami diantar untuk pergi guided trek bersama pemandu dari Horse Trex, Waiheke. Pemandunya baik dan sangat membantu. Treknya lumayan menarik — bukan cuma muter di lapangan aja tapi kami naik kuda sepanjang jalan, melewati pantai dan bukit tinggi untuk mencapai Mudbrick Winery di mana kami makan siang, dan balik lagi ke farm tersebut. Total perjalanan makan waktu 4 jam — 1 jam menuju tempat makan siang, dua jam makan siang dan 1 jam lagi jalan baliknya. Pemandangannya… jangan ditanya saking bagusnya saya sampe gak bisa napas. Sayang sekali pas naik kuda karena kagok ya baru pertama kali, nggak berani keluarin HP untuk jepret-jepret. Tangan saya memegang kendali si kuda erat-erat.

Saya recommend naik kuda ini, betulan nggak usah takut karena kudanya gentle dan lambat dan pemandangannya yang memanjakan mata, apalagi melewati trek kuda yang beda dengan jalan umum lainnya. Yang minat bisa kunjungi website mereka di sini. Psst beberapa kuda yang kami naiki ikut syuting film The Hobbit lho. Dan yang pernah nonton LOTR pertama, adegan Arwen membawa Frodo di kuda putihnya… kudanya juga pernah ada di Horse Worx ini dulu.

Makan siang pun nggak kalah seru dan nikmat di Mudbrick Winery yang pemandangannya bagus dan makanannya enak. Thanks VL for the lovely conference! Selain Mudbrick masih banyak lagi winery yang bagus di Waiheke, tapi yang paling terkenal adalah Cable Bay, Jurassic Ridge dan Mudbrick. Di bawah ini foto Mudbrick, ya ampun gardennya bagus sekali.

postcard

Kemarin pas buka calendar dan to do list eh baru inget janji mengirimkan postcard Hobbit buat sahabat mayaku Crystal (kita udah kenal nggak berasa 5 tahunan ya Tal, berkat blogger) belum terlaksanakan. Maaf banget Tal bisa lupa, secara setelah liat tanggalnya, kartu pos edisi Hobbitnya belum terbit dan setelah terbit diriku yang pelupa ini, malah jadi lupa. Huhuhu.

Anyway jadi muncullah ide, karena kartu pos edisi The Hobbit ini hanya dijual eksklusif per pak saya mendapatkan satu seri penuh. Jadi kepengen mengirimkan ke teman-teman blogger semua. Tukeran kartu pos yuk! Sebagai suvenir tanda pertemanan yang mendunia 😀
Saya akan kirimkan kartu pos dari New Zealand (nggak terbatas edisi Hobbit aja, kok!) dan vice versa saya juga dikirimin kartu pos dari belahan bagian manapun kalian berada.
Saya punya beberapa kartu pos dari teman-teman lama, ada yang dari Hong Kong, Mauritius, Malaysia, dan Prancis — para kartu pos tersebut tertempel manis mendekorasi meja kerja saya. Unik karena saya seneng banget baca tulisan tangan teman-teman saya dan juga stempel unik dari berbagai negara tersebut.

Bagi yang minat untuk tuker-tukeran bisa email saya di mariska.fdj@gmail.com biar bisa tukeran alamatnya secara private.

*Gambar nyomot dari Google Image

x

Liburan Easter dua tahun lalu saya mengunjungi Coromandel Peninsula. Coromandel ini kota kecil yang terkenal dengan tempat wisatanya yaitu Cathedral Cove karena pernah jadi tempat syutingnya salah satu scene di film Chronicles of Narnia (tapi lupa pastinya yang lama). Selain Cathedral Cove ada lagi beberapa tempat wisata lainnya seperti Hot Water Beach (populer karena menggali lubang di pantai pasir hitamnya, terus nanti air akan masuk dan jadi semacam lubang pemandian air panas galian sendiri deh) dan pantai-pantai lainnya. Kalo dari Auckland sebaiknya menyetir mobil sendiri (jaraknya hampir 3 jam naik mobil) jadi bisa pindah-pindah dan puas-puasin deh liatnya. Dan jangan lupa book akomodasi, apalagi pas musim liburan begitu… waktu saya ke sana sampai rela semalam tidur di mobil karena nggak dapat kamar di mana-mana. Satu lagi yang paling penting jangan lupa cek keadaan cuaca sebelum ke sana, karena kalau mendung pemandangan nggak begitu bagus, dan sia-sia pergi ke hot water beachnya (pengalaman pribadi, waktu ke sana mendung jadinya nggak seru deh gali lubangnya).

Begitu sampai di Cathedral Cove kita akan disambut dengan pemandangan indah yang bener-bener menyakitkan mata saking bagusnya. Di atas tebing gitu ceritanya, dan untuk mencapai pantainya yang terkenal, kita harus jalan alam (trekking). Trekkingnya bervariasi jarak tempuhnya tergantung titik mana yang mau kita lewati dan sebagainya.

Tip dari saya sih kalo mau trekking di sini (dan di mana-mana lainnya di New Zealand) bawa air dan makanan yang cukup karena di tempat trekking dan tujuannya, nggak ada tuh yang jualan makanan dan sebagainya. Pokoknya dibiarkan sedekat dengan alamnya…
Mikir kalo di Indonesia pasti banyak pedagang asongan deh di deket pintu masuk atau di area dalamnya, hehehe.
Anyway begitu sampai di Cathedral Cove kita akan disambut dengan pantai pasir putih yang bagusnya luar biasa, dipagari tebing dan batu-batu tinggi. Nggak tersentuh peradaban kecuali oleh orang-orang yang dateng berkunjung aja 🙂

“Kamu udah forgood and ganti paspor di sana ya?”
Pertanyaan ini sering sekali saya dengar dari orang-orang di sekitar, makanya saya ingin bahas di blog post ini. Sedikit background saya pindah ke sini bulan April 2011 sebagai student. Dengan kapasitas common sense orang biasa saja deh, mungkin nggak saya forgood ganti paspor dalam kurun waktu singkat yang 5 tahun saja belum? Karena itu saya pengen bahas sedikit mengenai menetap di New Zealand 🙂

Ada 3 cara (+1 lagi kalau punya paspor tertentu–pastinya paspor Indonesia nggak bisa) untuk bisa tinggal di New Zealand, permanen atau tinggal singkat. Cara-cara tersebut adalah melalui:
1. Student visa
2. Working visa, bisa didapatkan melalui pekerjaan atau punya pasangan yang sudah resident atau citizen NZ.
3. Resident visa

Yang ingin saya bahas sedikit di sini (saya bukan expert jadi saya akan bahas dari yang saya mengerti aja ya) tentang residency ini. Orang banyak yang menganggap dapat residence di sini itu gampang, atau gampang bisa ganti paspor, atau aturan yang sama dengan Australia. Makanya orang-orang awam yang bertanya kebanyakan bertanya dengan istilah PR (Permanent Residence). Nah di New Zealand, beda PR dan Resident aja.
Langkah-langkah yang harus ditempuh untuk memperoleh paspor:

  1. Mendapatkan status visa Resident New Zealand. Dengan visa resident ini kita bisa tinggal dan bekerja di sini tanpa perlu memperpanjang visa dan dapat hak-hak yang hampir setara, bahkan ikut Kiwi Saver Scheme–semacam dana pensiun NZ– (kalo nggak salah bedanya cuma kita nggak boleh ikut voting) dengan PR dan citizen.
  2. Setelah 2 tahun tinggal dan bekerja di sini dan mematuhi travel conditions (max 6 bulan dalam setahun keluar NZ) akan mendapatkan Permanent Resident visa. Intinya pihak imigrasi ingin kita bisa membuktikan kalau kita memang based dan menetap di sini. Kalo sudah mendapatkan PR kita bisa keluar dari NZ selama belasan atau puluhan tahun, dan kapanpun akan bisa diterima di sini tanpa harus memperoleh visa lagi. Istilahnya NZ sudah jadi second home dan kita pun bisa ikut voting.
  3. Tapi untuk memperoleh paspor/citizenship NZ, setelah memperoleh status PR 5 tahun dan bisa membuktikan kalau kita memang menetap di sini (ada travel conditions yang berlaku untuk jalur ini — nggak bisa pindah keluar dan tiba-tiba balik langsung apply) kita bisa apply dan memenuhi syarat-syarat yang diajukan lalu memperoleh gelar citizenship/kewarganegaraan New Zealand. Tentunya WNI pun hilang… kecuali ada deh beberapa orang yang saya kenal yang ‘nakal’ dan menyimpan dua buah paspor walau dilarang keras oleh pihak Indonesia.

Untuk mendapatkan resident itu sendiri bisa melalui beberapa jalur, yaitu dari Family Category, Work — Skilled Migrant Category (ini lebih susah dan point based system) dan lainnya seperti Refugee dsb… untuk jelasnya bisa ke web Immigration New Zealand.

Semoga penjelasan singkat ini bisa menjelaskan secara garis besar prosesnya yang nggak mudah dan menjentikkan jari. Kalau ada yang minat ke sini, walaupun untuk kunjungan atau sekolah aja, New Zealand menurut saya adalah negara yang cocok buat orang-orang laidback (baca: males) kayak saya hahaha… dan tentunya dengan warna kultur yang berbeda dari negara-negara lainnya 🙂