Archive

Monthly Archives: April 2015

Ini cerita tahun 2011 ketika kakakku A berkunjung kemari. Sudah pernah balik lagi ke Waiheke Island, tapi kapok sepedaan, he he he. Sampe gosong saking teriknya… bukan gosong hitam manis tapi gosong perih-perih plus plus. Untungnya kulitku ini, habis kena sunburn warnanya merata jadi gelap, jadi setidaknya nggak belang-belang.
Waiheke Island ini letaknya 45 menit naik ferry dari pusat kota Auckland, tujuan favorit terutama saat musim panas. Tinggal ngesot ke terminal ferry saja, dan ferrynya banyak jadi nggak takut kehabisan tiket kalau nggak sempat belu dulu. Kotanya kecil, penduduknya lagi-lagi ramah, banyak pantai cantik dan winery merangkap restauran dengan view yang indah plus bar — yang bertebaran di mana-mana. Aktivitas juga banyak, bisa main golf, memancing, bersepeda, naik kuda, memanah dan sebagainya. Uniknya lagi di Waiheke tidak boleh ada gerai makanan cepat saji model McDonalds, KFC dsb.

Begitu turun dari ferry, berhubung kami pelit membayar tur, naik mobil bingung siapa yang setir, naik skuter pun begitu kami memutuskan di tempat yak ayo sepedaan. Ampun deh kami nggak menyangka, besar juga pulaunya… baru 3 jam bersepeda, rasanya keok banget. Perasaan waktu kecil sepedaan ke mana-mana nggak ingat secapek ini, haha. Di bawah saya sertakan peta pulaunya, kok pede yaaaaa sewa sepeda waktu itu haizzzz kapok… total kami bersepeda dari sekitar jam 11 siang sampai jam 6 sore, nah kami berakhir di pantai untuk istirahat sore itu dan akhirnya telepon taksi van khusus untuk menjemput karena pantainya jauh dari terminal ferry… disuruh naik sepeda lagi, gak bakal nyampe.

Selama bersepeda berbagi jalan dengan mobil, motor dan… kuda! Ya kudanya memakai jalan biasa juga, jadi, pengguna jalan harus saling toleransi. Kalau ngamuk itu kuda, gawat kan!

Tujuan kami adalah melihat pantai dan mengunjungi winery-winery terkenal untuk sekedar wine tasting. Harga wine tasting sekitar 10 dolaran per orang untuk mencoba rata-rata 6-8 macam wine. Di beberapa winery tersebut kalau setelah mencicipi membeli dua botol, maka 10 dolar yang dibayarkan untuk biaya cicipnya akan dihapuskan.

Kira-kira begini jalanan di Pulau Waiheke.

Berfoto a la turis, ini di taman belakangnya Cable Bay Vineyard. Boleh masuk kok untuk lihat-lihat saja walaupun nggak membeli apa-apa atau makan di restaurannya.

Jurrasic Ridge Winery. Pemiliknya sangat ramah dan wine-winenya enak-enak semua… kami membeli 2 botol di sini karena takut keberatan ngangkutnya pakai ransel.

Berpose dengan anggur yang belum ranum. Dulu rambutnya masih panjang tuh.

Untuk yang berkesempatan mampir di kota Auckland, Waiheke Island ini adalah tempat yang layak dikunjungi. Sekalian brunch atau nge-cheese cantik juga, makanannya rasanya lebih enak soalnya pemandangannya bagus banget sih!

Pagi ini ketika bangun, saya diliputi perasaan panik. Baru ingat kalau lupa top up kartu bus… kartu bus ini ketika diisikan online, kadang saldonya nggak akan langsung muncul di kartu (maksimal 72 jam katanya). Langsunglah saya grasak grusuk cari uang tunai, ternyata nggak punya. Padahal udah nyari di semua tas yang saya punya hanya terkumpul beberapa sen saja! Sayapun nekad mengisikan kartu buru-buru, semoga masuk deh. Deg-degan menunggu bus, bener sekali begitu busnya sampai saya nggak bisa tag kartunya, huhuhu. Panik dong. Rumah jauh dari kantor dan nggak ada tempat ambil uang yang bisa dijangkau tanpa transportasi, nyetir pun nggak bisa. Dan yang terjadi setelahnya bikin saya terharu.

Bus yang saya naiki rutenya masih muter panjang dan halte saya termasuk dalam beberapa halte awal, jadi dalam bus hanya ada 3 orang. 3 orang tersebut lantas menawarkan koin-koin dan uang tunai yang mereka punya, dan dari sumbangan merekalah saya bisa berangkat ke kantor pagi ini.

Tersentuh, bersyukur dan sangat berterima kasih dengan orang-orang ramah-ramah dan baik hati di negeri ini.

from TVNZ

Salah satu acara kesukaanku, namanya Border Patrol. Border Patrol ini versi New Zealand, dan banyak lagi versinya di negara lain (setahu saya ada Border Security versi Kanada dan Australia, sisanya nggak tahu lagi di negara mana). Acara ini seru banget, bergaya dokumenter dramatis yang menyorot kejadian-kejadian menarik yang terjadi di airport terutama bagian imigrasi, bea cukai dan pos internasional. Dari masalah narkoba, koper yang isinya makanan-makanan eksotik, illegal worker, penyelundupan hewan dan telur hewan, macam-macam cara penyelundupan narkoba lewat pos dan sebagainya. Kalo yang minat mau nonton mungkin bisa coba nonton di YouTube… waktu saya pertama nonton dan ketagihan, maraton di YouTube terus jadinya 😀

Anyway minggu kemarin tayang season baru Border Patrol New Zealand dan tentunya saya sudah duduk manis di depan TV untuk menyaksikannya. Satu segmen dibuka dengan penjelasan tentang anjing pelacak narkoba yang sudah dilatih untuk melacak uang saudara-saudara… ya uang. Karena batas maksimal uang tunai yang boleh dibawa tanpa di-declare di kartu kedatangan adalah NZ$10,000 maka anjing tersebut terlatih untuk melacak uang dalam jumlah banyak. Anjing itu mengeluarkan reaksi keras terhadap seorang turis; bapak-bapak yang di-blur mukanya. Oleh karena itu sang bapak dan teman perjalanan beserta keluarganya dibawa ke counter untuk diselidiki lebih jauh.

Usut punya usut si bapak nggak bisa Bahasa Inggris lancar jadi yang menerjemahkan adalah rekannya. Saya spontan ngakak waktu temannya nanya “Bawa berapa uangnya?”. Kenapa ngakak? Habisnya memang saya kenal beberapa model turis paruh baya Indonesia yang kalo liburan bawa cash memang banyak sekali. Si bapak menegaskan kalau uang yang dibawanya tidak lebih dari batas yang diijinkan untuk tidak di-declare. Begitu digeledah, mata saya membelalak. 10,000 dolar Amerika yang bersih, bentuk sempurna dikaitkan dalam satu gepok (itu duit mulus banget, lebih mulus dari muka saya — tahu lah kalau dolar US di Indonesia harus perfek kalo nggak, gak laku di gerai penukaran uang lokal), banyak lembaran 1000an dolar Singapura (saya lupa si bapak punya berapa lembar, pokoknya totalnya banyak) dan segepok dolar New Zealand. Totalnya 2-3 kali lipat batas normal tersebut. -___-”

Si bapak ngeles dengan mengatakan uang tersebut untuk biaya pengobatannya di Singapura karena ia mempunyai penyakit jantung. Dengan alasan tersebut petugas menerima dan si bapak beserta rombongannya dilepaskan. Nah sesudah itu, petugas dapat informasi kalau si bapak nggak mempunyai janji dengan dokter di Singapura… jadi bergegaslah si petugas ke gate keberangkatan pesawat Singapore Airlines tujuan Singapura itu karena pesawatnya dijadwalkan akan berangkat 10 menit lagi. Sampai di sana si bapak dan rombongan nggak kelihatan batang hidungnya, mereka juga adalah penumpang terakhir yang ditunggu-tunggu oleh pesawat. Setelah manggil-manggil pakai speaker dan dicari-cari ketemulah rombongan si bapak yang dengan santainya jalan seperti pesawatnya masih berangkat 1 jam lagi (komentator berkomentar juga dengan kelakuan ini). End of story si bapak dibebaskan untuk masuk pesawat dan komentator bilang lagi kalau mereka bakal dikasih pandangan jutek sama penumpang lainnya, hihihi.

Saya sering sekali ketika di airport, melihat orang-orang yang santainya seperti lagi nggak mau naik pesawat saja… jam karet kehidupan sehari-harinya dibawa ke airport juga yang terkenal dengan waktu dan jadwal yang ketat. Pernah pesawat kami tertunda 15 menit, kirain ada apa, tahunya karena nunggu rombongan keluarga yang udah jalannya pelan, masuk pesawat masih bercanda dan haha hihi nggak seperti sudah ditungguin sepesawat, dan sudah dikasih pandangan jutek dari seisi pesawat yang pengin cepat-cepat berangkat.

Duh episode ini bikin tertawa, tapi miris juga, koq kebiasaan begini yang tersorot di acara TV luar negeri.

Banyak yang suka bertanya pada saya, Mariska belajar masak dari mana? Kok bisa masak segala macam sih?
Jawaban saya selalu, kalau ada niat pasti ada jalan.
Ya, saya memang pernah sekolah kuliner, tetapi di sekolah kuliner tersebut kami hanya diajarkan dasar-dasarnya saja. Sisanya harus tetap bereksperimen sendiri, masak sendiri dan tentunya harus dibarengi dengan motivasi doyan makan, he he he. Sampai sekarang pun saya masih belajar. Saya senang membaca blog-blog makanan pribadi, untuk ide dan inspirasi. Kadang habis baca, langsung lapar, dan pingin makan makanan yang dibahas. Biasanya kalau sudah kepengin makan sesuatu saya akan buat research kecil, membaca beberapa resep, bikin patokan kira-kira, lalu saya akan mencoba memasaknya. Karena nggak suka menakar, biasanya saya pakai insting lidah sendiri untuk mengira-ngira masaknya… prinsip saya, “I’ll wing it!” dan biasanya sih nggak pernah nggak enak (selera lidah lho ya).

Berikut saya ingin share beberapa blog makanan kesukaan saya untuk dijadikan inspirasi, juga tentunya dengan resep yang mudah diikuti.

Indochine Kitchen by Jun (http://www.indochinekitchen.com/)
Saya suka sekali dengan gaya penulisan Jun yang berasal dari Medan ini, juga foto-fotonya yang menggugah selera bahkan ada foto step by stepnya. Resep Jun banyak yang merupakan elemen makanan Chinese-Indonesia terutama dari daerah asalnya Medan. Bahkan ada post di mana dia menjelaskan secara detail bagaimana membuat selai srikaya yang bagus. Sayang Jun sekarang sudah tidak meng-update blognya lagi… padahal saya selalu setia ngecek.
Resep favorit: Mie Ayam, Nasi Tim, Perut Ikan Nyonya, Chiffon Pandan, Roti Kelapa

Daily Cooking Quest by Anita (http://dailycookingquest.com/)
Anita banyak menulis resep masakan-masakan rumahan a la keluarga Chinese Indonesia, dan makanan tradisional lainnya. Foto-fotonya juga selalu ciamik, dengan penulisan resep yang singkat, padat, dan jelas. Ia juga menggunakan dua bahasa untuk menerjemahkan bumbu tradisional jadi kadang saya nggak usah pusing Google bumbu-bumbu masakan tradisionalnya.
Resep favorit: Sop Buntut, Kwetiau Kuah dan Bakso Ikan, Sate Babi, Selai Nanas

Rasa Malaysia by Bee (http://rasamalaysia.com/)
Resep-resep Bee sangat mudah diikuti dengan petunjuk jelas dan foto-foto cara memasak yang detail. Websitenya sudah dikerjakan secara profesional untuk memudahkan kita mencari resep yang kita maui, tentunya dibarengi dengan foto yang ditata apik dengan lighting yang bagus, bikin lapar. Kadang Bee juga mendapatkan guest post dari teman-teman blogger masakan lainnya, sebagai variasi. Resep yang diposting Bee kebanyakan adalah masakan dari berbagai negara Asia Tenggara walaupun kadang ada juga makanan bulenya.
Resep favorit: Hainanese Chicken Rice, Taiwanese Pork Belly

Petite Kitchen by Eleanor Ozich (http://www.petite-kitchen.com/)
Membaca blog Eleanor bagi saya seperti baca terapi saja, blognya penuh dengan bahasa halus yang menginspirasi dan foto-foto untuk living wellness yang cantik-cantik dan bikin hati hangat. Eleanor menganut prinsip whole food di mana dia mengajak pembacanya untuk kembali menikmati hasil alam tanpa pengawet, tanpa gula, tanpa gluten. Nourish your body, katanya. Dari blog ini sekarang Eleanor punya cafe dan buku masaknya sendiri di New Zealand

Dapur Elkaje by Ine Elkaje (https://dapurelkaje.wordpress.com/)
Salah satu blog masakan yang pasti saya buka kalau lagi ngidam masakan rumahan a la Indonesia. Gaya penulisannya juga lugas dan personal, kadang kalau baca rasanya diajak untuk dekat dengan penulis dan keluarganya karena resep yang ditampilkan dibarengi dengan cerita di balik resep tersebut. Sayang sudah lama tidak di-update. Banyak masakan tradisional a la Chinese-Jawa dan resep kue-kue Indonesia.
Resep favorit: Ayam Goreng Karang Menanti, Soto Solo, Soto Garasi, Mie Siram Udang Tahu Taoco

Just One Cookbook by Nami (http://www.justonecookbook.com/)
Yang doyan makanan Jepang, harus main ke blog Nami ini.  Masakan yang ditampilkan fotonya bagus, resepnya mudah dan jelas disertai step by step foto bahkan sampai ke video cara membuat. Jadi nggak takut membuat makanan Jepang yang ternyata simple dan minimalis.
Resep favorit: Omurice, Nabe, Japanese Curry, Baked Katsu, Ramen Egg

AhrFl544blFi8JGBaBjZaglkFpWlZuwMd1D5BKWVW21V

Tanggal 21 April buat saya tidak begitu berkesan Hari Kartini, tapi, berkesan karena itu adalah hari ulang tahun sahabatku.
Kami berteman sudah lama, bahkan sepertinya M adalah sahabat saya yang paling lama bisa bertahan.

Kami kenalan dalam ingatan samar-samar saya, dari kelas 2 SD. Masih ada foto kelasnya dan ada foto M cilik umur 8 tahun yang dipasang waktu dia isi diary jaman SD (hayo masih disimpan gak, diary buku biodata SDnya). Kami dulu sama-sama suka ngobrol, sempat duduk berdua juga di kelas. Waktu itu, Bu Lusi wali kelas kami menghukum yang lupa bawa buku atau lupa bikin PR, harus angkat tas di atas kepala dan kakinya masuk tong sampah. Duh kasian amat, ya. Saya dan M pernah berbagi tong sampah berdua, satu kaki masing-masing masuk si tong karena gak muat dua anak masuk tong sampah karena lupa bawa bukunya bareng-bareng. Kala waktu istirahat kami pun kompak makan bakso yang jualan di depan sekolah (sampai sekarang, masih jualan, dan masih enak). Terus, karena rumah lama M dekat dengan sekolahan saya main ke rumahnya sepulang sekolah, main masak-masakan di depan garasi. Mbok pengasuhnya yang setia aja masih ingat dengan kenangan ini (si Mbok masih ikut tinggal dengan keluarga M).
Saya juga masih menyimpan, foto-foto studio kami waktu lulusan SMP. Fotonya bikin ketawa kalo dilihat karena kami bergaya skater girl a la Avril Lavigne, lengkap pakai dasi dan topi segala.

Keluarga M juga baik sekali dengan saya, saya sering diajak jalan-jalan bahkan sampai diajak ikut keluarganya liburan ke Bali. Walau waktu SMA kami pisah sekolah tapi nggak menjauhkan hubungan kami, sampai sekarangpun kami rutin ngobrol, berbagi gosip, berbagi keluh kesah lewat Whatsapp.

Kami sama-sama bawel, ceriwis, suka diem-diem ngegosip (maafkan akuuuuu), sama-sama suka ngemil, makan mie dan bakso. Banyak yang sudah dilalui dari pacar-pacar yang putus kami masih bertahan, temen-temen yang datang dan pergi kami bisa bertahan. Abang bakso SD menikah lagi, kami masih bertahan. 4 jam terjebak macet sepulang dari Mangga Dua. Pergi dugem eh diajak kenalan anak SMA. Beli kentang bumbu buat dimakan sambil ngerumpi di Starbucks berjam-jam (maafkan ya yang almamater SB, jaminan saya bersihkan sendiri mejanya dan belinya satu orang satu jenis minuman kok).

Kangennya dengan sahabatku yang satu ini. Senangnya saya menemukan toko kue yang bisa menerima pembayaran melalui Paypal tanpa minimum order, jadi bisa pesankan surprise cupcake untuk ulangtahunnya yang ke-27. Kalau toko-toko lainnya terima pembayaran selain bank transfer tapi minimum ordernya bisa ngasih makan kue untuk 2 keluarga barangkali. Menerimanya M sangat surprise sekali, nggak nyangka dapat kiriman kue dari jauh. Selamat ulang tahun ya dan semoga kita bisa ngumpul lagi secepatnya.

x

Ngobrol dengan salah seorang teman lama.
Sekedar background teman ini menikah tahun lalu dan sekarang lagi hamil 3-4 bulanan.
Dia tiba-tiba Whatsapp… begini kira-kira obrolannya:

Temen (T): Gw minta saran dongggg… gw lagi dilema
Saya (S): Saran apa??
T: Gw dilemma… ngelahirin gimana ya? normal kan blablabla, caesar kan blablabla. Kalo lu nanti, mau lahiran apa??
S: Oh kalo caesar kan pro nya ini, kontranya itu. Kalo normal ya paling sakit sebentar tp tergantung lunya takut apa ga kl takut mendingan jangan.
T: Oh gitu yaaa… kalo lu hamil maunya lahiran gimana say??
S: (kesel) Kawin aja belom ngapain gw mikirin mau lahiran sih?

Sekedar info tambahan temen saya ini tahu lho saya punya polycystic ovary. Malah saya sempet curhat dulu kalo saya sedih mikirin hamil-hamilan. Tapi ya nikah aja belom, rencana nikah aja belum… masa saya udah mikir metode lahiran?

*garuk kepala*

maspion_rantang2_a

Orang Indonesia mana sih yang nggak kenal rantangan? Dari model stainless, gambar kartun, atau klasik motif bunga bunga a la jadul sepertinya semua orang pernah makan atau setidaknya sekedar lihat dan tahu apa itu rantang.

Rantang, terutama rantang stainless, punya kenangan spesial buatku.

Mami punya satu set rantang stainless. Sampai sekarang masih ada dan masih dipakai rantangnya… rantang itu mungkin seumuran saya lho, bahkan kali-kali aja lebih tua, karena nggak pernah tanya. Tapi dari sudah bisa mengingat memang rantang itu sudah ada. Kadang kalau ingat rantang tersebut rasanya perasaan saya terbang ke masa kecil kadang sampe mewek kangen mami *lebay* hahaha. Sejak saya kecil, saya ingat dengan jelas Mami akan masak dan memakai rantang tersebut untuk dibawa ke toko, makan siang mami dan papi. Lalu toko bahan bangunan tersebut direnovasi oleh Papi dan dibuatkan dapur kecil supaya Mami bisa memanaskan makanan, lalu dapurnya berkembang sampai bisa masak sendiri. Dulu makan Indomie itu suatu hal yang spesial buat kami kalau kami main ke toko dan yang masakkan selalu sekretarisnya Mami (Indomie Ayam Spesial bikinannya, entah kenapa, rasanya paling enak sedunia, walau sudah 15 tahun lebih nggak makan Indomie buatannya tapi terkenang banget di hati).

Rantang itu lalu dipakai Mami untuk membawakan makan siang saya. Ini cerita dari jaman SD, karena sesudah masuk SMP sekolahnya dekat dengan rumah jadi ikut jemputan dan langsung diantar pulang ke rumah. Jadi setiap siang entah Mami atau supir akan menjemput di sekolah SD (masih ingat pulangnya antara jam 1-1.30 siang). Nasi hangat dan lauk yang hangat, yang berkesan itu tahu goreng, kangkung cah, sapi cah jahe kecap asin, ayam cah jamur. Makan dengan lahap di mobil. Kalau ingat itu sekarang rasanya hati saya jadi hangat ingat kasih sayang Mami, di sela-sela harinya yang sibuk masih menyempatkan masakkan kami makan siang, dibawakan lagi. Dulu sih nggak kepikiran seperti itu tapi sekarang sudah gede, sudah merasakan sibuknya kerja, bikin sarapan, makan siang dan makan malam sambil urus ini itu repotnya… belum lagi kalau musti ngurusin anak.

Ingin beli rantang kecil kalau saya pulang berlibur ke Indonesia nanti, supaya bisa bawa makan siang dipisah dan lebih mantap. Kalau pakai tupperware, nggak seru, dan malas mencucinya (plastik sih, baunya nempel).

Gambar nyomot dari website Maspion.