Archive

Monthly Archives: June 2015

Akhir-akhir ini saya sempet mengalami beberapa interaksi yang nggak mengenakkan dengan beberapa orang di sekitar (nggak bisa disebut teman karena nggak dekat ya, sebutlah aja kenalan) dan berhubung hasil introspeksi diri maunya mengurangi jutek atau judes, saya tanggapi secara sopan. Tapi inilah emang udah dari sononya jutek, he he he, jadi kepikiran terus jadi kesel sendiri… terus diomongin sama temen-temen deket, memang seyogyanya manusia itu suka nge-judge kehidupan orang berdasarkan gimana mereka melihat kehidupan itu sendiri, dari kacamata mereka. Yang salah dan kasar mungkin, kalo mereka komentar ke orang lain berdasarkan asumsinya aja, nggak tanya dulu, nggak kroscek dulu. Kayak mobil ngebut nerobos lampu terus, gak pake signal (ini sih edisi lagi belajar nyetir, hehehe).

Berikut beberapa cerita singkatnya.

Rumah-rumahan
Ceritanya si Mike baru mulai nyicil rumah pertamanya. Seneng dong rasanya kan, namanya milestone hidup yang lumayan penting tuh, rumah pertama. Ada seorang kenalan yang kepo, nanya begini.
“Oh jadi rumahnya rumahnya Mike?” saya jawab iya, lalu dia tanya atas nama siapa rumahnya. Lha koq kepo banget. Saya tanya balik maksudnya apa… dia tanya lagi ada nama saya nggak di rumahnya. DUENGGG. Bengong sekali.
Lalu saya jawablah tidak, dan dia langsung nyerocos saya sebagai perempuan jangan nggak mau rugi, harus ada dong dicantumkan namanya blablabla. Dengan sopan saya jawab saya nggak keluar uang sepeserpun, kenapa harus ada nama saya di surat rumahnya. Nikahpun belum, kalo sudah berkeluarga ya lain ceritanya. Lalu da nyerocos lagi dengan khotbah perempuan jangan mau ruginya itu. Saya dengan dongkol permisi ke toilet dan saya tinggal percakapannya.
Pantesan ada sebutan perempuan gold digger buat ras/suku tertentu, kalo modelnya begini ya rusaklah nama baik sesuku-sukunya itu.

Kasihan ya, Loki…
Kenalan lama komentar tentang foto kucingku yang katanya dia lihat di Facebook. Dalam komentarnya ia menyatakan Loki kasihan banget, di rumah sendirian, kasih temen dong (kucing lain). Saya jawab sopan kucing tidak perlu kucing lain di rumah, apalagi biaya melihara hewan tidak murah. Lalu ia berkomentar lagi “Ya gapapalah nanti kalo udah gede, bisa bikin anak sendiri kucingnya.” Saya jelaskan kalo si Loki sudah di-desex, nggak bisa beranak. Komentarnya “Wahhhhh kejam banget, kasian dong gak bisa punya anak nanti kok kamu tega…”
Saya pura2 b-r-b mau masak jadi nggak bisa balas chat-nya. Lalu saya nggak balik lagi, hahaha.
Sebelnya karena dia nggak tahu aja memang didukung gerakan mensterilkan kucing-kucing peliharaan. Selain untuk mengurangi jumlah populasi kucing liar (kasihan banget terlantar, kadang ada yang suka dibuang atau ditinggal begitu saja) punya kucing jantan yang nggak di-desex, bisa berantem bunuh-bunuhan sama kucing lain. Belum kalo musim kawin mereka bakal spray (pipis) di mana-mana. Hiyyy.

Mobilku, oh mobilku
Beberapa hari yang lalu saya ada keperluan jadi harus kontak kenalan lama, orang Indonesia di sini juga. Percakapan pun mengalir, karena saya model yang paling nggak enak minta tolong langsung bye. Kami pun mengobrolkan tentang perkembangan menyetir saya… yang dikomennya seperti ini. “Gue jamin deh lu kalo udah bisa nyetir nanti pasti kelayapan, cowok lu pasti nyesel beliin lu tuh mobil.”
JLEBB. Ini sih yang paling bikin sakit hati… soalnya di kepala langsung muter perjuangan nabung dulu untuk beli mobilnya yang nggak mudah dan nggak cepat. Sayapun bertanya “Siapa yang bilang mobilnya dibeliin?”
Jawabnya… “Oh nggak ada.” lalu saya menjelaskan kalau mobil itu saya beli dari hasil jerih payah menabung sendiri.
Komentar berikutnya… “Ohhh gue kirain dibeliin! Minta beliin dong. Beli Jazz kek he he he. Ngapain beli sendiri”
Duh kalo nggak ingat keperluan yang lumayan penting ini, pengen banget rasanya nge-unfriend orang ini di Facebook. Komentarnya nggak di-ayak dulu, hihihihi.

Berusaha menyabarkan diri, dan yang paling penting goal buat mengurangi juteknya sih sampe sekarang berhasil *ambil positifnya saja* 🙂

Di NZ lagi heboh soal Milo. Iya, Milo, minuman malt yang enak banget itu… heboh karena komposisinya diubah, dan banyak yang marah-marah karena rasa Milo-nya berubah katanya. Kalau tertarik mau baca bisa lihat artikelnya di sini dan di sini.

gambar dari websitenya Milo

Ngomong-ngomong Milo mendadak jadi inget masa kecil sampai kuliah. Siapa sih di Indonesia yang nggak kenal Milo? Dari bentuk bubuk, cair, sereal sarapan sampai snack coklat bar segala. Saya ingetnya Mami menyiapkan sarapan setiap pagi; kalau nggak sempat misalnya bangun kesiangan (seringnya sih saya, he he he) atau kita ada rencana perjalanan jauh yang berangkatnya pagi banget kami akan dikasih segelas Milo hangat pakai susu kental manis. Rasa Milo bikinannya Mami sampe sekarang khas gitu… mungkin aroma nostalgianya kali ya yang kuat. Di rumah sekaleng Milo bubuk selalu tersedia untuk diminum hangat atau dingin. Saya suka banget Milo dingin waktu kecil… Milonya dicampur air panas sedikit, diaduk, campur susu kental manis terus masukkan air es dan es batu.

Yang paling senang pas jaman sekolah SD… kalau ada promo susu Milo yang ke sekolah! Dulu sih nggak tahu itu promo, namanya anak kecil seneng saja dapat susu gratis. Enak lagi… sampai sekarang nggak ada yang mengalahkan enaknya susu Milo dingin yang berkunjung ke sekolah SD itu, entah bagaimana ya bikin Milonya bisa sampe seenak itu. Sekolah SD-ku dulu bentuknya segi empat, di tengahnya bolong untuk lapangan upacara dan olahraga. Ruangan kelasnya jadi bisa melihat ke bawah semua, kalau ada tanda-tanda orang Milonya datang, pasti langsung heboh dan siap-siap lari begitu bel istirahat berbunyi biar kebagian susu tanpa ngantri lama-lama. Kalau beruntung, pas kelasnya jam olahraga, jadi bisa langsung minum susunya duluan daripada kelas-kelas lain.

gambar dari indonesiajuara.org

Kayak begitu kurang lebih tenda nya Milo di sekolahan. Kayaknya sih segitu ya tapi entah kenapa di ingatan saya dispensernya lebih buesaaar… mungkin dulu kecil kan, sekarang kan sudah gede, hehehe. Masih sering nggak ya tenda Milo ini berkunjung ke sekolahan jaman sekarang? Ah bahagia yang sederhana jaman dulu itu 🙂

Begitu kuliah saya tinggal di Malaysia selama 4 tahun wah makin suka dengan Milo. Kesukaan saya Milo kotak… harus yang sekali minum. Pernah mencoba yang Indonesia punya, nggak suka karena lebih manis dan pekat rasa Milonya. Kalo yang versi Malaysia  cocok dengan lidah saya, rasanya manis pas dengan Milo dan susu yang nggak ada rasa dominan pekatnya. Kalau Milo kaleng sekali minumnya Malaysia, rasanya sama dengan Milo kotak versi Indonesia. Saking seringnya minum tuh, sampe bisa membedakan rasa-rasanya, hahaha. Kalau kehabisan Milo saya akan beli Vico (minuman malt juga, kotaknya warna kuning cerahhhhhh — bukan Ovaltine ya kalo Ovaltine kan oranye). Rasanya suka juga, tapi ada aftertaste malt-nya yang agak kuat, jadi emang lebih doyan Milo. Kalau kelas pagi pasti mampir ke minimart di kampus untuk beli sekotak Milo ini. Harganya RM1.50 masa itu, sekarang nggak tahu deh berapa.

Saking sukanya waktu terakhir ke Malaysia, setiap hari saya minum si Milo box itu. Kalau sejak di sini jarang memang minum Milo… karena nggak stok susu kental manis di rumah, minum sendiri nggak habis-habis terus di kulkas jadi lengket. Beli yang kotak juga nggak enak-enak amat (udah fanatik kotakannya Malaysia).

Kalian ada nggak kenangan spesial dengan si Milo ini? 🙂

Queenstown adalah tempat tujuannya turis-turis yang datang ke New Zealand. Tinggal di sinipun saya belum pernah ke sana sebelumnya karena biaya ke sana yang tidak murah — maklum kota turis sih! Akhirnya berkesempatan juga ke sana, memanfaatkan long weekend akhir bulan (Queen’s Birthday) dan deal promo tiket Jetstar yang harganya bersahabat.

Kota Queenstown yang diapit danau bening dan gunung yang gagah dilihat dari atas (naik gondola ke atasnya).

Queenstown bukanlah tempat yang kamu tuju untuk belanja atau ngegaul, menurut saya, karena kotanya yang kecil banget (di lembah gunung). Queenstown adalah tempat yang dituju untuk relaksasi, untuk bertualang, untuk mendekatkan diri dengan alam. Banyak sekali kegiatan yang ditawarkan mulai dari trekking, naik gunung, ski, skydiving, bungee jumping, kayak, rafting dan sebagainya. Dengan banderol harga yang tidak murah, tetapi saya berhasil menyiasatinya dengan merencanakan kegiatan secara seksama dan booking kegiatan-kegiatan tersebut online. Contohnya naik gondola kalau bayar di loket langsung $35, tetapi kalau beli tiket di situs bookme.com $45 sudah termasuk gondola dan 5 permainan luge (seperti mobil-mobilan kayu yang turun gunung). Kalau beli tiket luge di loket $43 adalah gondola + 1 luge tersebut.

Pemandangan dari atas pesawat sebelum mendarat.

Selama di sana saya berjalan-jalan dengan menggunakan mobil sewaan. Biasanya hotel atau penginapan yang bukan backpacking menawarkan tempat parkir gratis untuk tamunya, jadi nggak usah khawatir mobilnya diparkir di mana. Menyewa mobil juga ideal, jadi bisa jalan-jalan sendiri, menentukan tujuan sendiri. Dan selama menyetir pasti berdecak kagum dengan pemandangannya yang ajubile bagus banget, kalau menyetir sendiri nggak usah repot, tinggal berhenti di pinggir jalan untuk foto-foto atau sekedar menikmati pemandangan alamnya. Menyewa mobil juga tidak mahal, hitunglah pukul rata $50 sehari dan dibagi berberapa yang menyewa mobilnya plus biaya bensin, lebih murah dari beli tiket bus menuju tempat wisata. Turis dengan mudah bisa menyetir asal memiliki SIM Internasional yang diakui.

Ini namanya “Queenstown Mall” kalau di Indonesia lumrahnya mall adalah gedung pertokoan, di NZ sini mall bisa saja komplek jalanan yang banyak tokonya, hahaha. Queenstown Mall ini adalah pusat kotanya Queenstown… kecil tempatnya, penuh toko-toko, restoran, pub dan tourist centre.

Di Queenstown udaranya sangat segar dan sejuk! Mungkin karena nggak ada gedung tinggi, adanya banyak pohon dan hewan seperti burung dan bebek. Bebeknya banyaaak dan gemuk-gemuk. Orang-orang di sini sangat ramah dan bersahabat… di Auckland aja udah ramah bener, di sini di-dobel ramahnya! Ya iya karena kota kecil yang mengandalkan pariwisata. Di mana-mana juga banyak turis berseliweran, dengan tempat backpacker yang selalu ramai, pub yang selalu ramai karena minumannya murah dan orang-orang rileks untuk berlibur. Saya mencoba mulled wine, red wine yang dipanaskan dengan rempah-rempah. Enak sekali, untuk menghangatkan badan di tengah dinginnya cuaca malam Queenstown. Segelas dibanderol $6-$10 tergantung tempat.

Bebek di pinggir danau utama pusat kota Queenstown.

Pemandangan dari jendela hotel. Menginap di hotel Rydges… book dari wotif.com dapat diskon 15%, harga terjangkau di pusat kota, pemandangan bagus, unlimited wifi dan servis yang menyenangkan. Untuk budget hotel, saya bisa sarankan di sini.

Berhenti di pinggir jalan buat foto-foto… recommended untuk nyewa mobil dan nggak ikutan tur bus hehehe, serasa nyetir di gambar kartupos… bagus sekali!

Sampai sini dulu ceritanya 😀 nanti saya akan lanjutkan di post lain tentang jalan-jalan ke tempat lainnya di Queenstown.