Archive

Monthly Archives: July 2015

Pas pertama kali sampai di sini… kira-kira 6 bulanan lah ya banyak sekali kosa kata baru yang saya temui. Dan, lucu-lucu. Berikut beberapa kisah perkenalan saya dengan slang/kata-kata khas di New Zealand yang berkesan di hati.

Spa and Togs
Bulan pertama di sini, masih ingat sekali diundang menginap di rumahnya salah satu teman sekelas. Nah teman saya ini bilang, “We have spa at home, you can bring your togs” di SMS yang dikirimkannya sebelum saya berangkat ke rumahnya. Lha bingung, apaan sih itu togs. Lupa juga kenapa nggak nanya… kayaknya malu deh. Terus pas dia bilang spa, di bayangan saya dia kaya amat punya sauna di rumahnya, hahahaha. Lalu saya pun ngepak barang, dan ngepak juga baju renang karena pikiran mau sauna-an.
Setiba di rumahnya tidak ada tuh ruangan sauna. Seusai makan malam bersama iapun mengajak spa, lalu dia bilang, “I’ll put my togs on.” dan keluar dari kamar mandi mengenakan pakaian renang. Oooooo baru maklum kalau togs itu istilahnya untuk pakaian renang. Lalu sayapun gantilah baju dengan baju renang dan dia sama sekali nggak tahu saya tadinya gak tau togs itu apa… kebayang di kepala saja nggak. Kamipun berjalan menuju spa-nya… yang ternyata adalah outdoor jacuzzi! Di sini orang nyebutnya spa pool.

I Need a New Jandal
Musim panas pertama saya di sini, sendal jepit yang dibawa dari Indonesia rusak. Sayapun masuk ke toko surf karena ingin membeli sepasang yang baru. Begitu masuk saya bertanya flip-flopnya di bagian mana… bingunglah mereka. Sayapun nggak enak hati lalu memutari toko sendiri, begitu menemukan yang cocok saya membawa ke kasir untuk membayarnya, dan si pegawaipun ngomong “Ohhhh…. you mean jandals!”
Nah aneh sekali di kepala nggak masuk dari mana ya mereka dapet kata jandal, hehe. Tapi sekarang sudah paham kalau butuh sendal jepit, bilangnya I need a new jandal deh…

Sweet As
Ceritanya duluuuuuu SMS-an dengan gebetan, dia mengajak saya ngopi. Setelah SMS berlanjut dan kami menyepakati ketemuannya, dia membalas SMS dengan ending “… sweet as”. Saya mengira dia kecepetan pencet tombol kirim jadi saya nunggu-nunggu kok gak ada balasannya lagi. Dan lupa kapan ya akhirnya sadar kalau ‘sweet as’ itu ucapan orang sini… kalau mereka mau bilang “yup okay” bisa jadi “yup sweet as” gitu. Semacam ‘oke dehhhhh’

Segitu dulu yang teringat karena postnya udah seminggu nangkring di draft, terus gak keinget kisah-kisah lainnya… nanti mungkin di post selanjutnya gak pake kisah kali ya biar pake poin aja, hehehe.

Advertisements

Kemarin sempet ngobrol-ngobrol dengan kenalan yang baru datang kemari, baru 3 bulan saja tinggal di sini karena mengikuti suaminya yang orang kiwi (sebutannya orang asli New Zealand).

Dia pun mengeluh, winter kok dingin ya. Kirain winter itu enak.
Lalu ngobrol pengen kerjaan, tapi dia gak ada pengalaman kerja dan ijazah selain SMA, tapi gak mau bagian bersih-bersih nyuci-nyuci, minimum wage pun nggak mau.
Saya sarankan kerja di cafe saja kalo gitu, coba-coba, lha katanya seumur-umur nggak pernah kerja di cafe, tuh!

Saya timpali dengan cerita saya dulu, dari yang gak pernah bersih-bersih sampai sikat lantai dapur setiap malam, pernah kebagian shift yang malam dan pulangnya winter-winter juga ya jalan kaki soalnya mobil gak ada, transport sudah habis jamnya. Pernah juga kena model cafe yang startnya pagi banget, kalau ada function mau gak mau jalan kakilah ke sana. 30 menit-sejam jalan, pernah dilalui.

Komentarnya habis itu, “Wah perjuangannya berat juga ya ternyata. Abis liat kamu skrg kerja kantoran kayaknya enak banget!”

Yah memang kalau yang dilihat pencapaiannya saja, tentu saja enak. Saya lihat boss yang kayaknya kerjaannya lunching2 melulu juga enak. Tapi kita nggak pernah tahu dulunya dia seperti apa. Seperti kalo ada yang bilang mami papiku hidupnya enak banget… mereka gak tahu perjuangan orangtua saya dulu seperti apa sampai bisa berkecukupan. Mereka kerja siang malem, sampe dulu anak2nya juga dibawa ke tempat kerjanya. Ya harus mulai dari 0 donk, masa ngga punya ijazah gak punya pengalaman kerja, maunya langsung enak, min wage aja nggak mau…

Judul post di atas kayaknya sudah cukup menjelaskan apa yang mau saya share di sini kali yak, hihihi. Walaupun nama saya bukan termasuk golongan nama ‘ajaib’ tetep saja namanya nggak pasaran. Beberapa cerita menarik dari kehidupan saya, punya nama tidak biasa.

Anyway nama saya… Mariska.

Unik dan satu-satunya
Maksudnya di kalangan lingkup dekat. Dari sekolah TK sampai lulus kuliah, nggak pernah ada yang namanya sama-sama Mariska juga. Selalu cuma satu, yaitu saya. Kalau Agnes, Angel, Melissa dll, banyaaaaak. Di kantor saya yang kecil aja saking pasarannya yang namanya Ben ada 4 orang. Jadi, kalau manggil harus nama belakang kalau nggak semua empat-empatnya, ikutan noleh juga.

Jadi juara spelling bee
Ya iyalah karena mendaftarkan nama secara lisan, dari yang formal sampai sepele model nama apa di cup karton kopi Starbucks, harus pake dieja-eja segala. Pertanyaan hi what’s your name/nama kamu siapa selalu saya jawab lengkap, sampai jadi kaset rusak yang nempel di lidah, “Mariska. M-A-R-I-S-K-A.” Langsung pake ejaan, nggak usah ditanya dulu. Itu juga kadang masih salah. Nama yang sering saya dapatkan adalah Marisa. Kemarin ada yang nyebutnya “Miriska”. Merisha, Melisa, Marisha, bahkan Meiliska, pernah saya dapatkan. Kadang kalau lagi nggak mood dan mau mesen meja dan segala macamnya yang lisan, saya sekalian aja sebut Marisa, biar gampang dan nggak ribet sekalian.

Suka dikira orang Rusia
Saya sering banget ditanya, namanya asalnya dari mana. It’s a Russian name isn’t it? Jujur saja saya nggak tahu, kalo diusut dari versi Mami katanya dia nonton film waktu hamil saya dan nama karakternya Mariska.
Di kantor kalau ada orang baru masuk, sehari sebelumnya ada mass-email kalau orangnya akan start besok, jadi tahu namanya. Katanya waktu sebelum saya masuk, banyak yang menyangka staf baru orang Rusia… dateng-dateng mataku sipit. Hahaha.

Cara pengucapan nama yang didesahkan
Konon cara penyebutan nama Mariska itu… Ma-ree-shhhh-ka. Kayak ada H-nya di tengah sehabis huruf S.
Tapi cara pengucapan nama saya untuk saya sih gak usah dikerenin. Betulan Mariska, biasa saja. Dulu boss nenek lampir manggil saya pake desahan itu, teriak2 melulu lagi. Sekarang kalau denger orang manggil pake nada desahan, saya jadi inget si nenek lampir, hahaha.

Ada teman-teman yang punya cerita serupa? 🙂