Archive

Monthly Archives: August 2015

Saya pernah membahas di post lama kalau saya termasuk orang yang nggak suka telponan, tapi mau gak mau ya harus menghadapi telponan juga. Hal-hal penting kadang harus melalui telepon, atau misalnya ada yang mau curhat penting nggak seru kalau melalui pesan tertulis.┬áMenurut saya di jaman di mana email dan pesan singkat sangat lumrah, penting sekali menjaga tatanan dan etika menelepon yang baik, walaupun nelponnya ke nomer telepon genggam pribadi sekalipun. Kalau mau mengirim pesan bisa kapan saja, kalau menelepon tentunya tidak bisa seperti itu. Sebagai penerima telepon juga saya berusaha sopan, kalau ngangkat telepon dari nomer gak dikenal saya selalu menjawab dengan “Hi Mariska speaking.”, atau menjawab telepon kantor pun harus panjang, sopan dan menanyakan “How can I help you?”

Jaman dulu belum ada telepon genggam, ortu suka kesel kalo mengangkat telepon dari teman sekolah yang menanyakan “Halo bisa bicara dengan Mariska?” atau “Halo Mariskanya ada?” tapi begitu ditanya dari siapa, jawabnya, “DARI TEMENNYA” lha kalo musuhnya, ngapain telepon? Mereka suka misuh-misuh, kalo kadang lagi bad mood suka bilang nggak ada di rumah~! Padahal lagi ngendon di kamar.
Atau dulu suka ada yang telepon salah sambung, begitu sadar salah sambung bukannya minta maaf malah ngeyel, “Yang bener?” atau “Di rumah ini bukannya rumahnya bapak X?” — padahal udah dibilang salah sambung. Atau yang lebih parah gak pake sopan langsung ditutup tuh telepon. @#$$%^!!!

Beberapa hari yang lalu saya menerima telepon sekitar jam 1 siang. Setelah diangkat dan menanyakan apa betul ini adalah saya, orangnya tanpa basa basi lagi langsung memulai ngomong blablabla. Telepon itu dari sebuah restoran yang menginginkan feedback saya sebagai customer (walaupun booking dan perginya sudah setahun yang lalu bok). Yang kurang mengenakkan bagi saya, saat itu kan jam kantor dan hari biasa pula. Semestinya si penelepon menanyakan dulu apakah saya free untuk dimintai feedback. Alhasil sayapun langsung nyerocos kalau saya sibuk kerja (emang betul lagi di tengah-tengah mengerjakan sesuatu yang penting) dan nggak memberikan feedback yang dia minta secara penuh. Hanya jawab satu pertanyaan saja terus dia menanyakan pertanyaan lain lagi, lha orang lagi kerja, nggak pakai permisi main tembak pertanyaan, hahaha.

Lalu ada lagi yang nggak ingat perbedaan waktu. Saya menerima telepon 2 missed calls dari kakak saya pukul 11 malam waktu NZ. Begitu melihat teleponnya, saya pun kaget dan risau karena pukul 11 malam kan, tiba2 nelepon, gak pake babibu pula. Begitu diangkat ternyata dia pengin ngobrol iseng saja. Wah sayapun naik pitam, ngomel deh, kalau telepon jangan malam-malam, dikira ada kejadian gawat, lalu kalau emang mau telepon mbok ya kirimkan pesan dulu siapa tahu orang yang ditelepon sedang tidak senggang buat ngomong kosong? Apalagi sudah jam istirahat segitu. Sepertinya dia lupa mengecek perbedaan waktu yang ada. Saya memegang prinsip kalau mau telepon untuk yang tidak penting, saya selalu berusaha menanyakan kepada orangnya apakah sibuk nggak untuk ditelepon buat ngobrol ngarul ngidul.

Kalian ada nggak cerita berkait etika menelepon yang berkesan?