Archive

Monthly Archives: September 2015

Hari ini saya pengen cerita sedikit tentang healthcare basic di New Zealand. Basic saja jadi cuma mencakup yang umum dan dasar. Ide postingannya sendiri saya dapatkan dari membaca keluh kesah seorang kenalan yang baru pindah ke Auckland (dan comment-comment ikut berkeluh yang mengikuti status tersebut).

Jadi cerita singkatnya orang ini (sebut aja si A) mengeluh, suaminya batuk parah, dia juga batuk parah, lalu ke dokter dan… gak dikasih obat apa-apa sama si dokter. Cuma disarankan yang awam-awam saja seperti istirahat, minum air hangat dsb. Si A pun sepertinya kesel banget karena ia membayar biaya ketemu dokter yang bisa mahal mencekik leher rasanya, terus nggak dikasih obat apa-apa. Menurut si A, kalau kita di Indonesia, sakit sedikit ke dokter saja pasti dikasih obat. Lalu muncullah komen-komen menyetujui keluh kesahnya A dari teman-temannya, ada yang bilang dokter sini nggak berguna, sampai yang berbunyi seperti “welcome to NZ” atau “Itulah healthcare di NZ… kalo ke rumah sakit nggak sekarat, pasti dicuekin.”

Apa betul?

Sebelumnya A juga pernah bikin status nanya-nanya tentang dokter kandungan mana yang bagus untuk dikunjungi. Jawabannya, tidak tahu. Mengapa bisa tidak tahu? Di NZ, sakit apapun (kecuali sakit gigi atau mungkin dokter kulit kosmetik ya) harus melalui General Practitioner alias GP (dokter umum). Bertemu GP lalu oleh si GP ini akan diberikan surat pengantar untuk ke spesialis selanjutnya, nggak bisa langsung bikin janji ke spesialisnya begitu saja. Bertemu GP ini juga harganya bervariasi, dari daerah di mana kliniknya berada (nggak ada dokter yang buka klinik pribadi, semua GP terpusat misalnya di CityMed Medical Centre, Symonds Street Medical Centre dsb) — di setiap klinik akan ada beberapa GP yang praktek — sampai apakah anda berhak mendapatkan public funding atau tidak. Harganya bisa beda mencapai 30-50 dolar setiap sesinya.

Untuk mendapatkan public funding anda harus berstatus setidaknya Resident New Zealand atau punya work visa dan bekerja minimal 2 tahun berturut-turut di NZ. GP pun akan bertanya apakah setelah itu mau ikut jalur Private atau Public? Kalau public di rumah sakit dan fasilitas umum biasanya dan dengan rujukan itu kalau anda sudah ada public funding, jadinya gratis (walau nunggunya lama dan fasilitas nggak sebagus private/swasta). Kalau private ya harus bayar sendiri kecuali anda punya asuransi kesehatan yang bersedia membayar biayanya. Saya sudah merasakan sendiri bedanya ke swasta dan public, memang yang bayar harganya nggak bisa bohong, haha.

Tetapi fasilitas public hospital sendiri sebenernya sudah bagus banget kok apalagi kalau dibanding negara lain yang healthcarenya masih kurang — makanya waktu saya baca komentar-komentar judes di statusnya A saya mesem-mesem sendiri. Nggak seburuk itulah healthcare di NZ. Sudah bagus ada, sedia, gratis lagi (kalau eligible ya — makanya kalau nggak eligible saya bener-bener tekankan dan selalu sarankan supaya punya asuransi kesehatan).

Tentang dokter yang nggak ngasih obat… sebenernya menurut saya ada positif dan negatifnya. Positif jadi nggak ada lobi-lobi ramai perusahaan farmasi untuk menjual obat ‘racikan’ atau dokter tertentu yang bikin obat racikan, semua teregulasi. Negatifnya ya karena saking hati-hatinya kadang kita sakit dan berharap obat, hanya dikasih wejangan dan ke apotek sendiri beli obat generik. GP sini memang nggak sembarangan kasih obat. Nggak ada tuh yang namanya obat racikan inilah dan itulah. Untuk mendapatkan obat flu dengan efek ngantuk (alias mengandung zat pseudo-ephedrine) yang umum sekali di Indonesia seperti Decolsin, Panadol Cold n Flu dsb saja sulitnya minta ampun karena zat tersebut disalahgunakan untuk bikin sabu sabu alias crystal meth. Kalau tidak punya resep dokter tidak bisa beli, dan saya sampai flu parah separah-parahnya pun di sini, nggak pernah diresepkan obat tersebut. Sampai sekarang ke dokter saya hanya pernah dapet resep semacam Oralit, codeine, ibuprofen, paracetamol dan antibiotik saja. Antibiotik juga tidak sembarangan diberi. Kecuali betul-betul yakin ada infeksi bakteri tidak akan diberikan… di Indonesia saya flu saja diberi antibiotik padahal flu kan viral? Lho kok pake antibiotik.

Kalau mau pendekatan herbal, bisa berkunjung ke Naturopath. Naturopath ini biasanya ada di apotek atau toko suplemen tertentu. Biaya ketemuannya lebih mahal dari ketemu GP, dan pendekatan mereka natural. Tidak meresepkan obat kimia mereka lebih meresepkan suplemen herbal, vitamin dan pendekatan melalui makanan.

Semoga sharingnya berguna buat asal tau aja… hehehe.

EMP_2018Nggak berasa sekali karena sibuk dan sebagai macamnya, saya sudah lama nggak nge-blog! Hallo semuanya 😀
Sekarang di New Zealand sudah mulai musim semi, jadi masih tetep dingin dan sering hujan miring alias semi-badai tapi juga ada hari-hari di mana cuaca cerah dan mataharinya bersinar cantik kayak di atas (di belakang saya tepatnya).
Banyak ide tulisan yang sudah diketik (judul doang sih!) dan menunggu untuk ditulis. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya dengan Matematika. Ya, idenya datang dari ditertawakan oleh Mami saya. Kenapa ditertawakan? hehehehe

Saya masih ingat saya termasuk anak yang pintar waktu TK sampai kelas 2 SD. Begitu kelas 3 SD, cap bodoh (dan malas), kebanyakan ngobrol di kelas, hiperaktif saya dapatkan dari guru-guru. Cap bodoh itu menempel sampai saya lulus SMA. Kenapa bodoh? Soalnya saya nggak pandai menghitung. Matematika, Kimia, Fisika, Ekonomi, Akuntansi, dsb jeblok. Akuntansi yang paling mendingan walau nggak bagus-bagus banget. Menghapal juga saya nggak jago, pelajaran yang bisa saya ikuti dengan sangat baik adalah pelajaran-pelajaran Bahasa, Komputer, Seni, pokoknya yang dipraktekkan (kecuali Olah Raga). Tahu sendiri pelajaran jaman dulu, selain menghitung, adalah menghapalkan Bab X atau halan X ke halaman X untuk ulangan besoknya. Tapi masih mendingan sih daripada menghitung. Kadang saya menghapal, besoknya sudah lupa lagi, hanya ingat setengahnya saja.

Bertahun-tahun itu dalam ingatan nggak ada satupun guru Matematika (dan pelajaran hitungan lainnya) yang baik pada saya. Masih ingat waktu SMA kelas 3 saya mengalami kesulitan dan untuk pertama kalinya saya bertanya pada guru, guru dengan judesnya (minta dijitak) bilang “Salah sendiri kamu nggak merhatikan penjelasan di kelas!”. Sesudah itu murid lain yang disukainya bertanya dan dengan lemah lembut dijelaskan. Nyebelin kan? Hahaha. Ada juga guru les Matematika, masih ingat naik sepeda ke rumahnya, namanya Bu Emma. Les Matematika dengan Bu Emma ini banyak muridnya dan rame banget, programnya adalah membawa pelajaran dari sekolah berikut PR-nya, lalu Bu Emma bakal memutari ruang kelas (yaitu rumahnya) dan menjawab pertanyaan-pertanyaan secara individual. Saat Bu Emma menjelaskan ia juga sepertinya capek dengan otak dongkol saya, dan komentar dengan nada pendek nggak sabaran “Kamu ini tertinggal sekali kemampuannya.” Beberapa minggu kemudian sayapun berhenti les Matematika dengan Bu Emma. Ajaibnya saya nggak pernah tidak naik kelas, walaupun tiap tahun hampiiiiirrrr melulu, dan bisa lulus ujian kelulusan (jaman saya namanya UAS, tahun 2006, nggak tahu sekarang namanya apa).

Karena pengalaman buruk itulah saya memutuskan, lulus sekolah, nggak mau hitung-hitungan lagi! Saya suka menggambar, salah satu hobby yang sudah tergerus termakan usia soalnya sekarang, sudah nggak bisa menggambar sebagus dulu lagi. Saya juga suka majalah, saking sukanya kalau melihat iklan dan layout buku, dsb, saya melihatnya sampai detail banget. Karena itulah saya memutuskan masuk sekolah desain selama 4 tahun. Setelah lulus semua orang termasuk kakak saya sendiri menyarankan saya kuliah lagi ambil Akuntansi supaya bisa ikutan pindah ke Australia bersamanya. Waktu itu aturan Imigrasinya sudah ketat banget (sekitar tahun 2010). Saya mati-matian nggak mau, selain karena sayang uangnya kalau nggak lulus, saya betul-betul tidak percaya diri. Akhirnya saya memutuskan untuk menekuni hobby yang lain, yaitu masak-masak. Nggak usah ngitung kan? Cuma ngitung pas nimbang bahan aja. Salah juga, setelah menekuni hobi, saya memutuskan dengan dukungan orangtua untuk masuk sekolah belajar masak instan. Instan karena belajar dasarnya saja, durasi sekolah selama setahun di New Zealand. Setelah sekolah dan bekerja banyak sekali hitungan dan budgeting yang harus dikerjakan, tapi dengan kaget, saya nggak merasa bodoh. Bisa dilakukan. Saya tersenyum. Saya nggak sebodoh yang dikatakan orang-orang dulu kepada saya.

Lalu kenapa Mami menertawakan saya?
Secara kebetulan tahun lalu saya mendapatkan pekerjaan di perusahaan asuransi, karena bekerja di bidang hospitality sebagai juru masak nggak memberikan saya kepuasan yang saya inginkan. Biarlah itu jadi hobby saja. Saya nggak mau mengkonotasikan hobi yang saya sukai sebagai terapi diri, malah jadi sumber depresi diri. Anyway kapan-kapan saya akan post kenapa saya meninggalkan pekerjaan chef tersebut, biar post ini nggak kepanjangan.
Awal masuk pekerjaan saya remeh temeh membantu resepsionis dan operasional menjalankan kantor dari hal remeh seperti memesan kudapan untuk di dapur sampai mail dan paperwork lainnya. Makin lama tanggung jawab saya makin banyak, dan akhir bulan Mei kemarin, saya mendapatkan promosi yaitu naik jabatan sebagai Underwriting Assistant!
Senang, bangga, excited — semua perasaan yang berkecamuk di dalam hati saya. Saya nggak percaya, saya yang tadinya ‘bodoh’ –bisa dipercaya untuk pekerjaan asisten ini. Pekerjaan ini membutuhkan banyak ketelitian dan hitungan soalnya.

Mami tertawa. “Kamu benci Mat dari kecil, takut Mat masuk sekolah desain. Sebel sama Mat, masuk sekolah masak. Ujung-ujungnya… kena Mat juga!”

Mami tertawanya dengan nada bangga. Perkataan orang-orang anaknya bodoh ternyata salah.
Semoga pendidikan di Indonesia ke depannya, mengenali potensi murid-muridnya. Pintar di sekolah belum tentu pintar dalam arti intelegensi. Nggak ada anak yang bodoh, kan, karena nggak pintar ngitung dan ngapal?