Archive

Monthly Archives: November 2015

Sebentar lagi saya pulang dan pulangnya juga bawa turis pula.

Minta bantuan ide dong di Jakarta dua minggu, enaknya ke mana dan ngapain aja ya? Maklum sudah lama nggak pulang, tempat seperti Skye aja saya nggak tahu. Idenya nggak termasuk hiburan malam ya, karena nggak enak pulang malem-malem sama orang tua 😀

So far ide saya, Ancol/Dufan, Taman Safari, Kota Tua, Pasar Baru, Mangga Dua, sehari di Bandung, Chinatown/Glodok, Waterbom terus sisanya ya mall-mall saja… mati ide! Taman Mini Indonesia Indah saya belum pernah pergi, worth it nggak ya?

Terimakasih bantuannya x

Advertisements

Beberapa minggu yang lalu saya kumpul-kumpul di rumah teman bule-bule. Jam makan malam tiba semuanya lapar dan kami pun sepakat untuk order Wok Express, semacam delivery Asian stir fry gitu (namanya aja wok ya). Teman saya yang bule menyarankan pesan masakan kesukaannya saja di situ yaitu Satay Noodles Stir Fry.

Kontan saya pun sebagai orang Indonesia, nggak setuju dengan pilihannya, hahaha. Menurut saya pemakaian satay sauce (atau peanut sauce), saus kacang, ya sebatas bagaimana kita orang Asia memakannya… dijadiin gado-gado, ketoprak, saus cocol sate. Menurut teman saya buat dia yang penting enak. Menurut saya sih, saya nggak bilang rasanya pasti nggak enak… hanya saja rasanya ‘tidak betul’ di kepala makan satay sauce dijadikan oseng-oseng saus kacang haha. Pemakaian peanut satay sauce ini dalam dressing salad pun saya masih bisa toleransi karena miriplah dengan gado-gado. Tapi bule-bule memang doyan dengan satay sauce ini, teman saya bahkan memasak pork chop sausnya pakai satay sauce… lebih aneh lagi ini menurut saya soalnya kan di Indonesia/Malaysia mana ada makan babi pakai saus kacang (selama yang saya temui ya) lalu sidesnya pakai ubi tumbuk lagi.

Pernah lagi saya ke restoran Malaysia kebulean namanya Madam Woo. Entree restoran ini yang terkenal yaitu Hawker Roll-nya, semacam roll dari roti canai… isinya makanan Cina seperti braised pork misalnya. Wah saya malah merasanya aneh gitu, babi kecap pakai roti canai kayak apa tuh. Makanya nggak pernah pesan karena mana ada aslinya dihidangkan seperti itu.

Waktu masih kerja di cafe lebih-lebih lagi, saya sering banget membuat Asian-style salad tapi saya sendiri nggak pernah makan karena memang target marketnya kan bule-bule. Apapun misalnya pakai fish sauce, sudah jadi Asia deh haha. Contohnya saya pernah membuat, Thai beef slaw (sayuran untuk coleslaw dipotong, pakai daging sapi, dressingnya fish sauce, soy sauce, lime juice pokoknya yang penting ada herbs Asia seperti daun ketumbar, daun bawang dsb). Thai fish cake juga ada, ini rekan kerja saya yang asal Thailand juga geleng2. Campuran daging ayam, labu, wortel, sereh dan bumbu-bumbu Asia, perekatnya… spaghetti! Dibentuk dan dikukus. Kami sih nggak pernah makan, tapi pelanggan doyan.

maspion_rantang2_a

Salah satu finger food favorit di cafe yang sampai sekarang kalau diundang potluck bule-bule saya suka buat, soalnya pada doyan. Rice paper rolls pakai ayam sereh (kalau di cafe malah pakai smoked chicken) dan satay sauce. Buat bagian saya sendiri sih malah saya jadiin ketoprak-ketoprakan buat makan siang besoknya, nggak ikutan makan rollnya. Jadi saus kacangnya dicampur dengan bihun, tahu, tauge, daun bawang dan tahu. Ayamnya nggak ikut dicampurkan, dimakan dipisah gitu.

Emang sepertinya nasib punya lidah bawel, kalau campurannya di otak berasa aneh, bukannya nggak enak tapi makannya seperti salah bagaimanaaaaaa gitu.

Tapi masakan Western yang di-Indonesiakan juga, mungkin untuk lidahnya orang bule terlalu nendang/aneh rasanya. Misalnya steak dengan bumbu lada hitam tapi bumbunya di-Indonesiakan, atau bistik. Selat Solo juga sepertinya versi Indonesianya salad (makanya namanya selat — saya pernah baca ini di mana tapi lupa), atau ayam panggang yang pake sausnya kecap manis dan segala tetek bengek lainnya. Tapi makanan begitu buat saya makan aja, lha memang tumbuh besar makan makanan ‘bule’nya rasanya seperti itu — baru setelah betul-betul pindah keluar negeri saya merasakan oh begini rasa masakan aslinya, betul-betul lebih sederhana dan nggak banyak rempah-rempahnya.

Share dong kalau ada cerita makanan fusion unik di daerahmu 🙂

Pernah nggak kalian didiamkan orang begitu saja? Rata-rata jawabnya pasti pernah ya…? Apalagi pas masih kecil dan di sekolahan. TK dan SD masih pada kecil dan suka saling ngambek-ngambekan, jaman SMA saja masih ada dalam ingatan saya kalau saya didiamkan teman yang ngambek. Di rumah pun mungkin kakak atau adik bahkan orang tua kalau lagi marah lalu memutuskan untuk nggak ngomong sekalian saja, dalam waktu yang lama. Diam mendiamkan ini sebutannya adalah silent treatment. Berawal dari iseng-iseng nostalgia bersama teman saya pun iseng-iseng Google tentang ST ini… ternyata tergolong abuse, lho!

“The silent treatment (feigned apathy; cold-shoulder; silence; distance, and ignoring you) is the worst form of emotional abuse. It is a punishment used by abusers to make you feel unimportant, not valued, not cared about and completely absent from the abuser’s thoughts.” (sumber: artikel ini)

Ingatan saya pun terbawa ke kelas 1 SMP, suatu waktu salah satu cewek di grup main saya marah dan mendiamkan saya. Saya sampai saat ini tidak tahu pasti kenapa dia mendiamkan saya, karena betul-betul dia tiba-tiba mendiamkan–yang diikuti dengan beberapa teman lainnya yang memihak dia. Sayapun sukses dimusuhi. Dengar-dengar dia nggak senang saya ‘mengatur’, milih tempat makan di hari ulangtahunnya (saya aja udah lupa hari itu seperti apa, ya). Tiba-tiba setelah beberapa minggu dia ngobrol dengan saya, menyapa seperti tidak ada apa-apa. Ketika saya tanyakan apa sebabnya… jawabannya hanya “Gue cuma bercanda kok.” Kalau diingat-ingat bikin gemes ya, mana saya masih temenan FB lagi dengan orangnya (walau nggak intens sih). Kejadian model silent treatment musuhan ini sering sekali terjadi di lingkungan sekolah bahkan sampai ke lingkungan kerja pun walaupun nggak terlalu intens, ya iyalah kan di lingkungan kerja nggak mungkin berlagak kayak anak SMP lagi puber.

Saya masih ingat membaca cerpen Bobo waktu kecil tentang Mama yang mendiamkan anaknya. Mami saya pun pernah mendiamkan saya beberapa hari, rasanya sengsara sekali soalnya kan serumah, tapi nggak diajak ngomong (ingatan samar-samar soalnya gara-gara dimarahi nilai jelek lalu saya ‘melawan’ alias memberikan alasan kenapa itu nilai kok jelek-jelek). Untung nggak sering deh amin… karena…

Setelah banyak membaca tentang ST ini dampaknya bisa jadi buruuuuuk sekali apalagi kalau dilakukan ke anak/remaja (both dari orangtua atau teman sepergaulan, misalnya). Juga buruk untuk pasangan (pacar atau suami/istri) karena bukannya berkomunikasi dan menyelesaikan masalah tapi malah bikin gondok lama-lama jadi bukit! Saya menulis post ini tujuannya ingin share saja dan mungkin untuk raise sedikit awareness karena sebelum Google dan banyak sesi mikir saya nggak pernah mengaitkan mendiamkan orang sebagai mental abuse. Duh maaf ya temenku di SD yang dulu aku diamkan gara-gara makan bekalku melulu.

ST dari orangtua bisa menimbulkan si anak tidak percaya diri, abandonment issues, tidak berani menyampaikan pendapat (takut salah), mengajari anak kalau love dari mereka adalah conditional love… Saya merasa mungkin banyak orang yang mikir daripada ngomelin, mendingan didiamkan saja lebih baik daripada ribut-ribut… ini tidak benar. Cuplikan dari artikel yang bagus ini:
“Giving your child the silent treatment means that you are punishing them in a manner that inflicts pain, that you are suddenly not speaking to them without telling them why, and that they have no defined way to get you to speak to them again.  This is painful and terrifying for a child.  In their minds, you have disappeared and all attempts to get you to reappear are not working.  They have no idea why this has happened.  It is terrifying because a child cannot survive without a parent or caregiver.  The silent treatment sends a message to your child that they are not safe in the world, that their provider may or may not be available to them at any given time, for no apparent reason.”

Let’s say no to silent treatment!
Diam mendiamkan ini sepertinya sangat bahaya dan damaging… lebih daripada yang terlihat. Sepertinya masih banyak orang di masyarakat yang menganggap kalau hal ini adalah hal biasa saja (sampai masuk cerpen anak-anak segala, yang diakhiri dengan anaknya senang sekali Mamanya ngomong dengannya lagi setelah ia patuh dan minta maaf!)
Kalau dilihat dari luar cuek lebih bagus daripada diomeli? Saya sih, lebih pilih omel-omelan… lebih jelas, nggak nebak-nebak, nggak tegang (kalau anxiety alias tegang saya kumat saya suka sakit perut) dan masalahpun cepat selesainya 🙂

TAMBAHAN:
ST yang saya maksud di sini adalah ST yang jangka panjang. Dalam hitungan jam males ngomong wajar lah kalau lagi marah. Jangka panjangnya bisa lebih dari sehari… beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan bahkan mencapai hitungan tahun (ada teman saya pribadi yang sudah masuk tahun ketiga di-ST orangtuanya, contohnya).