Archive

Monthly Archives: January 2016

Disclaimer sebelum membaca postnya saya tidak ada maksud untuk menjelekkan agama apapun di postingan ini.

Berawal dari comment-commentan dengan Inly soal KTP Indonesia yang menaruh informasi agama seseorang minggu lalu membuat saya dapat inspirasi untuk menulis ini. Di Indonesia memang hampir semua surat-surat pribadi yang penting memasukkan kolom agama yang harus diisi. KTP, KK, kartu pelajar di sekolah dulu. Bagusnya SIM nggak mencantumkan agama ini. Latar belakang keluarga saya beragama Kong Hu Cu dan karena dulu dilarang oleh pemerintah kami pun masuk ke agama Budha (masih bingung kok agama yang urusannya individual bisa dilarang mana yang boleh dan mana yang tidak oleh negara). Sampai sekarang untuk urusan resmi kami sekeluarga masih pakai Budha sebagai agama walaupun secara masing-masingnya kami sudah punya dan memeluk kepercayaan masing-masing yang berbeda. Malas gantinya karena satu alasan yaitu birokrasi yang ribet. Lalu dalam KK katanya sebaiknya agamanya disamakan saja supaya urusan segala lebih mudah.

Anyway saya jadi ingat pengalaman beberapa waktu yang lalu.

Anak temannya orangtua ada yang baru datang ke New Zealand beserta suami dan anaknya. Mami memberikan nomer telepon saya (dengan seijin saya tentunya) soalnya memang dia nggak kenal siapa-siapa di sini. Dia pun menghubungi saya dan kami ngobrol lewat Whatsapp. Catatan ya saya nggak kenal orang ini dan bertemu saja belum.

Lewat Whatsapp kira-kira dia bilang gini.
“Mariska hari Minggu ngapain? Ikut Cici ke *rumah ibadah xx* yuk, banyak makanan Indonesianya lho.”

Dan bukan hanya sekali dia ngomong begitu. Beberapa kali. Saya sudah bilang saya tidak ke rumah ibadah tertentu. Ajakan tetap datang. Saya merasa risih dan sampai sekarang saya tidak menjaga kontak dan ketemuan dengan orang itu.

Menurut saya agama itu sifatnya pribadi sekali dan saya juga jarang membicarakan soal agama dengan orang lain apalagi yang baru kenal. Karena itu saya merasa risih banget belum-belum saja sudah mencoba ‘menjerat’ orang. Terus apa hubungannya ke rumah ibadah dengan makanan Indonesia? Apakah segampang itu menjerat orang untuk datang ke rumah ibadahnya dengan iming-iming makanan?

Bukan hanya sekali ini dengan orang ini saja beberapa tahun lalu saya mengantar teman saya ke rumah ibadah (yang banyak orang Indonesianya). Saya datang dan menunggu di sana, ikutan masuk juga karena nggak ada tempat menunggu di luarnya. Selesai ibadah mereka mengajak saya ngobrol, terus saya tiba2 kok sudah di dalam ruangan orang-orang yang sedang belajar mendalami agamanya??? Saya kaget dan sama sekali nggak tahu. Nggak balik lagi juga tapi saya sempat dapat SMS mengajak balik dari orang-orang yang baru saya temui tersebut! Ohmygod. Agresif sekali. Agama itu kan panggilan batin ya bukan untuk dikejar-kejar seperti itu.

Di Indonesia juga tak jarang orang kenalan yang nggak dekat tiba-tiba mengetuk pintu rumah, bertamu dengan tujuan menyebarkan agama dan mengajak ke rumah ibadah. Datang juga tidak bilang-bilang kadang-kadang kami di rumah sibuk dan nggak bisa menerima tamu kan? Jadi dengan alasan kesopanan kami nggak melakukan kegiatan kami yang direncanakan. Contohnya yang masih segar di kepala saya dan Mami berencana untuk ke dokter kulit pukul 7.30 malam, pukul 6.30 ada orang mengetuk pintu bertamu. Rupanya tetangga belakang rumah dengan beberapa orang dari rumah ibadahnya. Mereka duduk di rumah kami sampai jam 9 malam, berkhotbah tentang agamanya. Minta nomer telepon saya supaya saya bisa dapat undangan grup anak-anak muda di rumah ibadahnya. Hello, mereka sama sekali nggak pernah tanya lho agama saya apa. Atau saya minat gak. Pokoknya, jerat dulu. Nggak saya kasih nomer teleponnya dengan alasan saya di Indonesia cuma sebentar kok.

Salah satu anggota keluarga besar juga kadang berkunjung ke rumah membawa khotbah agama sampai mengatakan setiap dia datang di perjalanan menuju rumah kami dia berdoa supaya kepala kami dibebaskan dari makhluk jahat, jadi kami bisa menerima Tuhannya dan diselamatkan…

Anyway point saya kali ini adalah saya tidak mengerti kenapa ajakan ke rumah ibadah yang kadang-kadang bisa extreme ini seperti hal biasa yang diterima dan dengan lumrah dilakukan oleh sebagian orang di masyarakat. Agama sifatnya adalah hal yang pribadi kan, bukan menyeret orang lain untuk ikut kepercayaannya (sampai refer agama orang lain se-extreme kepala kami diselubungi makhluk jahat jadinya kami nggak bisa diajak untuk diselamatkan!). Saya menghormati setiap kepercayaan orang lain. Menurut saya nggak perlulah berlaku extreme untuk mengundang orang lain masuk agama kita… Lebih baik kita benahi dulu kelakuan kita pribadi, belajar saling toleransi dan tidak melewati batas hal-hal pribadi orang lain. Soal agama, biar diri dan Tuhan saja yang tahu.

x, Mariska

Saya mengetik post ini sambil mencium harumnya bau steak yang lagi dimasak si M. Perut keroncongan dan bau harumnya benar-benar menggelitik hidung! Bikin inspirasi menulis salah satu yang sudah ingin saya tulis agak lama, he he he. Salah satu sifat jelek saya yang harus diubah adalah saya berubah jadi monster kalau sudah lapar! Sifat bawaan, dari kecil juga Mami suka komentar kalau saya lagi lapar bawaannya uring-uringan.

Gejala-gejala lapar a la Mariska:
– Susah konsentrasi
– Mudah marah dan mudah tersinggung
– Mual-mual nggak jelas (terus nanti keluar angin dari perut alias burping)
– Mual-mual nggak jelas dibarengi sakit ulu hati (judulnya gejala maag)
– Mulai rajin browsing blog makanan atau resep
– Datangnya inspirasi mau masak apa ya sekarang
– Migraine
– Mabuk jalan, kalau lagi di mobil langsung meriang rasanya

Usut punya usut setelah ngobrol dengan teman yang nutritionist apalagi karena saya punya maag saya nggak boleh makan banyak dalam sekali makan. Cara menyiasati lapar ini adalah perut harus diisi, pokoknya asal ada makanan di dalam perut deh. Demi merubah sifat yang kurang bagus, demi kesehatan tubuh, demi menekan gejala sakit maag.

Kira-kira begini pola hidup saya sebulan ini balik kantor. Lumayan juga hasilnya terlihat, menghemat uang dan juga nggak marah-marah lapar sesering dulu!

  • Sampai kantor di pagi hari saya bikin sarapan dan secangkir teh. Di kantor saya menyimpan sereal (susu disediakan dari kantor), muesli sprinkles, roti di freezer (tinggal dimicrowave atau ditoaster saja), yogurt,selai kacang, sachet miso soup, Nutella, tuna dan salmon kaleng, keju, buah (saat ini lagi ada alpukat dan pisang) dan irisan ham. Jadi suka-suka deh pagi pingin makan apa yo wes bahannya sudah ada. Juga buat snack dikreasikan dari simpanan ini. Untuk benar-benar urgent saya juga simpan sup dan mie instan tinggal tambah air, ha ha ha.
  • Setelah sarapan minum suplemen kapsul minyak ikan, kalsium, biotin untuk rambut dan kulit. Sesekali saya minum vitamin B complex juga dan kapsul evening primrose oil (ini bagus buat kalo lagi PMS).
  • Jam 10 waktunya minum kopi. Di kantor ada mesinnya tinggal buat saja.
  • Jam 11.30 pre lunch biasanya saya bikin toast dengan spread.
  • Jam 12.30 atau jam 1 siang waktu makan siang. Biasanya saya makan bekal dari rumah (sisa makan kemarin malamnya!)… kalaupun lagi gak ada bekal dan mau beli karena sudah makan roti jam 11.30, nggak gitu lapar dan beli makanannya yang kecil saja.
  • Jam 3.30 waktunya ngeteh, biasanya saya minum green tea. Kalo lagi laper lagi, masih ada toast atau ngemil biskuit yang disediakan di kantor.
  • Makan malam jam 7.30 rendah karbohidrat banyakin sayur dan protein.
  • Setelah makan malam makan buah dan minum herbal tea.

Sering makan dalam porsi kecilan ini juga bikin nggak ngantuk di siang hari! Kalau makan dalam porsi besar saya bisa crash habis-habisan jadi capek dan uring-uringan. Atau kalo lagi sial malah jadi eneg karena kekenyangan, hahaha. Oh iya sejak rajin makan buah malam hari ini juga BAB makin lancar lho 😀
Biasanya saya makan buahnya sporadically banget kalo lagi kepengen aja baru makan.

Share dong tips pola makan kalian 🙂

Screen Shot 2016-01-27 at 5.57.51 pm

Ada dua buah cat cafe — kafe kucing di mana kamu bisa bermain dengan kucing-kucing rescue sambil ngopi, di Auckland. Saya sudah pernah berkunjung ke dua-duanya tapi yang pertama kali di dekat daerah rumah saya terlalu semangat jadi nggak foto-foto. Barista Cats ini baru buka di Auckland CBD, kebetulan dekat dengan kantor saya. Dengan biaya $15 kita mendapatkan satu jam sesi bermain dengan kucing dan minuman. Bersama-sama dengan pecinta kucing di kantor sayapun booking satu sesi untuk pergi di jam makan siang.

cat1cat2

Barista Cats ini tempatnya sangat cozy dan nggak ada bau-bauan binatang seperti yang kita temukan di pet shop misalnya. Ruangannya ditata warna warni dengan banyak sofa, mainan kucing, tower kucing dan foto-foto serta bio kucing rescue yang tinggal di sana beserta cerita mereka. Menarik! Ada seekor kucing yang sangat senang dipeluk dan disayang, begitu saya baca bionya ternyata kucing ini pernah dibuang dua kali oleh pemilik yang berbeda.

cat3

Minuman yang datang disajikan dengan penutup gelas yang berbeda supaya nggak tertukar. Sumpah saya naksir berat tutupan gelasnya, lucu banget!

Semua kucing yang ada di cafe ini friendly. Senang diajak bermain dan dielus-elus. Kami curiga kucingnya dikasihkan Feliway (semacam penenang biar kucingnya jinak) kali ya. Habis semuanya baik dan nggak ada yang agresif sama sekali.

cat6

Kucing ini namanya Banksy, mirip sekali dengan Loki tapi versi mini-nya. Rasanya ingin deh saya bawa pulang!

Kalau kalian pecinta kucing tempat ini benar-benar worth it untuk melepaskan stress dan bermain dengan kucing. Saya pasti akan balik lagi!

FB_IMG_1453662862955

Kalian pernah lihat nggak meme di atas berseliweran di dunia maya? Atau sejenisnya yang mirip. Beberapa hari yang lalu saya lihat seorang kenalan di Facebook share ini. Buat dia lucu, bercandaan, dan katanya untuk menyindir ‘cewek-cewek kurus ala anoreksia yang nggak sehat’.

Jujur saja saya tertohok melihat meme beginian muncul (lagi) di dunia maya.

Saya naturally kurus. Baru beberapa tahun terakhir ini seiring dengan pertambahan umur berat saya masuk golongan BMI normal, walau kalau dibandingan dengan porsi makan ya saya masih kurus. FYI berat saya 50 kg untuk tinggi badan 162 cm. Dari kecil saya termasuk kurus terus bahkan sampai 5 tahun lalu berat saya hanya 45 kg.

Pernahkah saya diet? Jawabannya tidak.

Saya merasa di-bully, teraniaya dengan kekurusan saya karena dari kecil kurus terus. Komentar-komentar dari kecil kurus kering, kering kerontang, jankis, begeng, anoreksia, jangan diet terus nggak bagus kalo kurusan lagi, makan banyakan kasian kalo badannya kurus, dan sebagainya. Ingin rasanya saya berteriak. Saya nggak diet! Saya nggak punya masalah dengan berat badan saya. Atau dibercandain kalau saya rata seperti papan.

Dan yang paling menyebalkannya, saya nggak bisa membalas.

Coba bayangkan kalo saya ngatai orang lain GENDUT. Pasti saya sudah dicaci maki karena saya kejam. Lho, kenapa orang gemuk boleh mengatai saya kurus, rata dan semacamnya tetapi saya nggak boleh balik mengatai dia gendut??

Alkisah dua tahun lalu mantan temen kerja saya yang menyebalkan — untungnya dia sudah berhenti kerja dari kantor — bercanda dengan saya. Dia sebenernya nggak gemuk tapi nggak kurus juga dan bentuk badannya seperti buah pir. Katanya “Well you’re probably so skinny because you go to the toilet after lunch… ha ha ha ha.” Betapa kesalnya saya. Dia bercanda di depan banyak orang yang bahkan berkomentar, “That’s not a very nice thing to say.” But I took the high road. Mulut rasanya sudah gatal untuk ngomong, “You should probably join in.” Tapi untuk apa? Ya sudah lah biarkan saja orang lain yang menjawab. Saya cuma tersenyum terus ngeloyor. Mungkin dia iri saya bisa makan banyak tapi tetap kurus? Entah juga. Tapi sebagai contoh saja kalau saya mengatai dia gemuk, saya akan dicap kejam.

People please stop skinny shaming. Skinny people have feelings too… hahahaha!

Bahkan yang anoreksia atau bulimia sekalipun. Apakah kalian harus bully mereka dengan tujuan supaya mereka sadar? Kadang saking sebalnya saya suka comment di tulisan yang nggak adil dan skinny shaming ini. Sekarang saya ngelus dada saja deh. Biar saya kurus. Biarin juga dada saya rata. Yang penting saya sehat dan happy!

Beruntung sekali di dekat rumah ada taman (yang lengkap dengan children bicycle route dan playground) yang cukup besar. Namanya Onepoto Domain. Banyak orang bermain cricket atau baseball karena disediakan area lapangan yang luas, ada keluarga yang piknik, BBQ (ada mesin BBQ coin operated di sana), mengantar anak bermain, mengajak jalan-jalan anjing atau hanya sekedar berputar mengelilingi danau kecil yang banyak bebeknya.

48514e69-02ee-486a-8742-9819faa40548

Inilah tampaknya si Onepoto Domain dari jendela rumah.

NZ sedang musim panas dan panasnya… tiap malam saya tidak bisa tidur! Betul-betul panas. Hari ini temperatur mencapai 30 derajat celsius. Dan sialnya lapisan ozon di sini sudah berlubang jadi mataharinya terik membakar kulit. Harus selalu setiap hari memakai sunblock banyak-banyak supaya tidak terkena kanker kulit.

Berbekal berlapis-lapis sunblock dioleskan ke kulit, powerade (semacam pocari sweat), beberapa buah pisang dan sepatu kets saya dan M memutuskan untuk iseng sore-sore jalan-jalan berputar (dekat rumah tapi nggak pernah mutar penuh!) Onepoto Domain dan taman kecil di sekitarnya. Kami lalu berteduh dan makan pisang sambil ngobrol ngarol ngidul, he he he. Lalu berteduh di bawah pohon palem dan nonton gratis orang-orang yang lagi main cricket.

IMG-20160123-WA0012

Hiburan yang murah meriah dan sedikit olahraga, kami total 3 jam berjalan lalu diakhiri dengan melihat sunset di jembatan. Menikmati udara yang segar dan asri (walaupun panasnya kelewatan juga). Dan senang plus terkejut soalnya kaget gak pernah tahu di deket rumah ada jembatan yang pemandangannya bagus!

IMG-20160123-WA0007IMG-20160123-WA0008IMG-20160123-WA0019

Senangnya cuma bermodal pisang dan air sudah dapat hiburan sekalian olah raga. Pas di belakang rumah lagi, jadi motivasi supaya nggak malas gerak bisa jalan-jalan alam mini 🙂

DSC03582.jpgPhoto credit to America Al Jazeera

Saya barusan membaca artikel ini. Boleh dibaca sendiri, tapi intinya tahun 2050 nanti sampah plastik di lautan akan menjadi lebih berat dibandingkan dengan ikan-ikan di laut! Alangkah menyeramkan, menyedihkan dan memprihatinkan.

Membaca artikel ini saya jadi ingat pengalaman kemarin selama di Indonesia. Saya sering sekali merasa gemas dengan berbagai perilaku yang berhubungan dengan kantong plastik yang nggak perlu. FYI selama di Indonesia saya tetap membawa kantong belanja sendiri yang dilipat dan dimasukkan tas. Wadah plastik yang terpaksa diambil (misalnya dari beli kue yang dimasukkan ke tempat plastik, makanan sisa yang dikasih plastik untuk bawa pulang dari restorannya dsb) saya berikan semua ke Mami untuk dikasihkan ke tukang pulung (yang bisa menjual atau mengolahnya kembali). Pakai kantong plastik nggak apa-apa, asal ya kalau perlu dan nggak over. Saya juga masih pakai kok, kalau terpaksa banget ya diambil lalu dipakai berulang-ulang.

  • Saya sedang mengantri untuk beli bubble tea dan saya perhatikan banyaaak sekali orang yang membeli segelas, tetap dimasukkan ke kantong plastik kecil seukuran gelas itu. Lebih gemes lagi ketika saya lihat orang-orangnya juga langsung minum kok??? Untuk apa sih plastik didobel dengan plastik yang nggak ada gunanya. Ketika saya post di Path ternyata teman saya sendiri juga melakukan ini katanya. kenapaaa?
  • Ketika saya menyarankan Mami untuk mengurangi ambil kantong plastik di pasar, Mami bilang repot, karena orang-orang di pasar sudah terbiasa dan langsung saja memplastikkan semuanya. Tidak mau plastik, harus buka-buka lagi dan dikembalikan ke orangnya yang biasanya juga sudah malas mengambil kembali. Kalau kita nggak mau ambil, malah diketawain orang pasar. Rugi amat nolak plastik? katanya.
  • Beli bakso contohnya, banyak orang yang minta baksonya, kuahnya, bihunnya, mienya sampai bawang pelengkapnya untuk dipisah semua. Alhasil, beli seporsi bakso, kantong plastiknya banyaaaak sekali dan semuanya dimasukkan lagi ke satu kantong plastik yang lebih besar untuk ditenteng.
  • Belanja ke supermarket dan meminta kasirnya untuk nggak pakai kantong plastik kok susah ya. Kadang sudah dibilangin tapi tangannya otomatis memasukkan ke kantong plastik, dipisah-pisah pula antara makanan dan lainnya (padahal semuanya disegel rapat dalam wadah sendiri-sendiri). Seringkali saya mengeluarkan dan mengembalikannya ke kasir, sampai orang-orang yang bareng saya suka nggak sabaran.
  • Sampah plastik bekas makanan dan air mineral yang bertebaran di mana-mana dengan sangat menyedihkan di Candi Prambanan. Bukan hanya di area candi, tapi di dalamnya juga. Kalau di Candi Borobudur ada yang mengawasi jadi nggak terlalu parah seperti di Prambanan.
  • Bapak supir mikrolet yang dengan santainya minum air mineral dan membuangnya di jalan raya. Saya berteriak kaget. Mami bilang ah… sudah biasa. Memang mereka seperti itu.

Saya senang dan bersemangat begitu membaca tentang supermarket yang mulai akan mengenakan biaya terhadap kantong plastik. Semoga bisa menjadi awal yang baik untuk mengurangi dependensi orang terhadap plastik (dependensi padahal gak perlu juga, gak terpakai. seperti contoh kantong plastik untuk minum bubble tea) dan semoga tahun 2050 yang ditakutkan nggak terjadi. Seram!

IMG_20160111_200105791

Siang ini begitu keluar kantor untuk lunch, saya melihat coretan ini di jalanan sebelum zebra cross di depan gedung. Kreatif sekali. Menarik perhatian orang pastinya. Kalau pasang selebaran atau poster belum tentu banyak yang memperhatikan (contohnya, orang seperti saya hahaha). Panahnya menunjukkan arah menuju tempat NZ Trade tersebut untuk mendonorkan darah hari Jumat besok.

Pernah nggak kalian mendonorkan darah?

Selain tentunya karena alasan mulia menolong orang lain mendonorkan darah juga baik untuk kesehatan tubuh kita sendiri. Tetapi saya sendiri belum pernah mencoba mendonor, wong disuntik aja udah gemetaran. Takut jarum pokoknya.

Waktu saya SMA dulu Palang Merah Indonesia pernah berkunjung ke sekolah. Sayapun mendaftarkan diri, habisnya teman-teman semua mendaftar terus saya takut diejek gara-gara takut jarum! Ha ha ha, cetek banget alasannya waktu itu. Sesaat sebelum giliran mendonor tiba kesehatan kami dicek… rupanya saya punya tekanan darah rendah jadi nggak boleh mendonor. Saat itu rasanya lega dan merasa beruntung. Sekarang? Beuhhh jauh dari senang. Soalnya punya tekanan darah rendah itu cepat capek, nanti berkunang-kunanglah, dan sebagainya.

Tetapi saya termasuk donor, lho!

IMG_20160121_174937696

Ya, di kartu identitas alias SIM ini (di New Zealand tidak ada KTP — kartu tanda identitas kalau bukan SIM ya paspor, atau ada juga kartu 18+ tetapi nggak bisa digunakan untuk daftar yang resmi-resmi, khusus buat tanda umur saja) dituliskan bahwa saya adalah donor. Donor di sini maksudnya kalau *amit amit ketuk ketuk meja* pemegang SIM ini meninggal akibat berbagai sebab pihak medis boleh mengambil organ tubuhnya yang masih bagus untuk didonorkan ke orang yang membutuhkan. Nggak usah minta persetujuan keluarga karena sudah diberi izin oleh si pemegang SIM.

Kalian ada cerita menarik tentang mendonor?