Archive

Monthly Archives: February 2016

Lagi mood nulis dan tiba-tiba teringat ceritaku jaman dulu, sebelum bisa dan senang memasak. Catatan saya mulai iseng-iseng masak dengan serius, belajar dan dari menggeluti hobi sekitar 5 tahunan lalu (tahun 2011). Jadi cerita di bawah semua sebelum tahun 2010.

Waktu SMA, saya nggak bisa masak kecuali Indomie selera sendiri dan spageti. Belajar masak spageti waktu SD, di rumah teman kecilku dulu namanya Ria… tetangganya ada almarhum Ibu Haji yang baik hati dan pintar bikin kue — keluarga kami suka memesan kue kepadanya dulu untuk ulangtahun, masih teringat enaknya rasa black forest bikinannya. Kami yang masih piyik berbekal buku resep masakan kue dan roti Nova tahun 1990an nongkrong di rumah si Ibu membuat kue, kami bawa bahan. Dulu rasanya saya tuh yang bikin dan gampang pasti jadi, tapi kalau diingat lagi yang membuat sebetulnya si Ibu, kami tim hore yang ikutan main dan memulung bahannya, memecah telurnya. Ingatan samar-samar membuat roti bulat-bulat sobek, diisi meises. Enak sekali rasanya. Lanjut ke spageti, spageti a la SD ini masih ingatnya simple sekali dibumbuin bawang bombay, kornet sapi, saus tomat, sambel ABC. Rasanya enakkk, dan karena nostalgia masa kecil sampai sekarang kalau makan itu tetap rasanya enak. Menurut M sih rasanya aneh. Ya iya lha spagetinya tidak ikut pakem. Pake sambel lagi (ini Indonesia banget).

Senang membuat kue dan roti ini nggak bertahan sekarang karena saya nggak suka menimbang dan nggak sabaran mengulen, menunggui. Ketahuan banget pasti jaman dulu itu si Ibu Haji yang sebetulnya kerja keras, he he he. Jadi kangen dengan si Ibu.

Jaman kuliah karena kuliahnya di Malaysia, awal-awalnya nggak pernah masak. Soalnya di mana-mana banyak makanan hawker yang murah, ngapain pakai masak segala *jaman kos-kosan*
Masih segar di ingatan saya waktu main ke rumah sesama teman yang bikin dinner sendiri yaitu beef stir fry langsung wowwww kayaknya susah banget. Sekarang merem mata juga bisa buat udah paling gampang hahahaaa.

Mulai semester 4-an saya mulai mencoba-coba masak, tapi asal banget masaknya. Misalnya goreng nugget (chicken nugget golden merk Ramly yang kantongnya warna oranye itu enak sekali pakai bumbu penyedap Maggi — ini gak sehat banget sudah nggak pernah makan beginian sekarang) lalu dibungkus dengan roti pita ala ala Arab yang banyak dijual di dekat tempat kost dulu. Atau beli saus spageti botolan, dimasak dengan ngasal dan isinya juga sosis yang nggak sehat. Nggak pakai bawang putih cuma pakai bawang bombay… tidaaaaaak. Nggak pernah makan beginian lagi sekarang karena sekarang sudah bisa masak sendiri, jadi fussy.

Teman satu kost membawa buku resep masakan sehari-hari, saya membaca bumbu oseng-osengnya yang rasanya banyaaak banget (kecap ikan, kecap asin, saus tiram blablabla) sudah pusing rasanya kok susah ya. Kalau sekarang, di pantry bumbunya lengkap.

Kenangan yang bikin sebel, mantan pacar dulu makannya ribet. Nggak doyan jamur, gak doyan daging sapi (katanya bau), gak doyan kecap ikan… pokoknya banyak nggak doyannya. Jadi kalau masak, saya misalnya masak oseng ayam jamur untuk diriku sendiri. Buat dia beda lagi lauknya. Lucu juga kalau diinget dulu rasanya sebel tapi ya sudahlah tetep masak. Kalau sekarang, saya masak apa juga si M makan. Kalo gak doyan ya beli ajalah makanan di luar, atau masak sendiri gih, he he he.

Kenangan yang lucu, waktu mencoba-coba iseng bikin bakmi ayam… tapi rasanya? Rasa kecap ikan! Hahaha. Karena Mamiku menyarankan kalau mau harum pakai kecap ikan. Salahnya… kecap ikan doang yang banyak (plus bawang putih) gak pakai bumbu lain. Jadinya nggak enak deh. Teman yang jadi kelinci percobaan, komplen kok bau ikan, he he he. Padahal harusnya mie ayam.

Advertisements

Sejak beli mesin khusus untuk bikin smoothies sendiri saya rasanya bahagiaaaaaaa. Smoothies kan mahal sekali di sini sekali minum $7-9.50 rasanya menyakitkan hati. Enak sih tapinya! Tahun lalu saya sempat beli George Foreman smoothie maker, sakit hati karena kualitasnya kurang bagus dalam artian tidak kuat memblender es batu atau buah yang saya sengaja bekukan untuk buat smoothies. Jadilah saya jual si smoothie maker, nabung sedikit, lalu beli Nutri Ninja Slim. Yang paling dasar saja. Bisa memblender es batu yang gedeeeeee dan rasanya bahagia nggak beli-beli smoothies lagi, bikin di rumah.

Screen Shot 2016-02-29 at 6.47.33 pm

Foto di atas adalah si smoothie dari cafe depan kantor yang saya doyan banget, dulu harganya $6 dan suka iseng beli. Sekarang $7.50 jadi nggak pernah beli lagi sama sekali.

Mau share dua resep smoothies kesukaanku!
Takaran ini buat satu gelas ya, kurleb 400 ml karena itu ukuran gelasnya si Ninja di rumah.

Green Glacier

  • 2 cups / 2 genggam tangan terus diremas ketat sayuran hijau, biasanya saya pakai bayam saja atau campuran bayam dan kale
  • 1/2 pisang
  • 1 buah kiwi
  • daun mint kalau ada dicemplung juga enak
  • 2 sendok makan yogurt tawar
  • 1 sendok makan coconut oil (boleh di skip, ga ada rasanya buat health benefit aja sih)
  • 1/2 sendok makan chia seeds (boleh di skip juga)
  • 1/2 sendok makan LSA powder (boleh di skip juga)
  • es batu

Wooly Brekkie

  • 1 buah pisang
  • 1 sendok makan madu
  • 1 cup (kalau doyan bisa 1 1/2 cups) oat
  • 1 sendok makan yogurt tawar
  • 1/2 sendok makan peanut butter
  • 1 sendok makan coconut oil (boleh di skip, ga ada rasanya buat health benefit aja sih)
  • 1/2 sendok makan chia seeds (boleh di skip juga)
  • 1/2 sendok makan LSA powder (boleh di skip juga)
  • es batu

 

Selamat mencoba 😀

Berada di tengah-tengah social group yang jumlahnya lumayan banyak kadang bisa timbul permasalahan dan sialnya, kadang permasalahan itu membuat kita jadi stuck di tengah-tengah situasi yang nggak mengenakkan padahal sebetulnya nggak secara langsung terkait dengan kita.

Balada Cinta Segitiga bag.1
Teman saya, U dan M adalah tunangan yang akan menikah sebentar lagi. Dulu U dan M ini punya pacar lagi di samping namanya A. Seperti pacaran bertigalah. Nah sekarang sudah tidak begitu, U sudah tidak ikutan pacaran bertiga ini tapi M dan A masih pacaran di samping. U tahu tentang ini dan nggak masalah mereka masih pacaran… tapi dia dan A kan ceritanya nggak pisah baik-baik alias ada berantem lebay.
Jadi sekarang kalau kami merencanakan macam-macam nggak bisa deh membarengi U dan A di acara yang sama. Jadi ribet soalnya kami semua kan temenan dengan U dan A dua-duanya. Ribet ya ribet…

Balada Cinta Segitiga bag.2
Ketika E dan R putus tahun lalu mereka putusnya baik-baik. Masih bareng juga dan bisa diundang ke acara bersama, pokoknya seru. Yang jadi masalah adalah ketika si E mulai diam-diam jadi TTM-an dengan teman kami yang lain si M. Waduh ribet karena awalnya adalah rahasia pelan-pelan yang lain tahu dan ada yang nggak seneng dengan hal ini. Contohnya kemarin saya bikin lunch yang mengundang si E dan M, tapi nggak ngajak R. Purely karena alasan orangnya sudah kebanyakan dan restorannya agak rese kalau orangnya kebanyakan… jadi masalah lagi deh. Padahal sebetulnya saya nggak dekat-dekat amat dengan si R dan jauh lebih main bareng E — jadi wajar saja saya ngajaknya si E bukan si R. Karena ada permasalahan TTM yang muncul ini jadi ribet, bet, bet.

Semoga balada-balada percintaan ini cepat selesai… soalnya bikin pusing di tengah-tengah, sih!

Kalau Amerika punya Coachella dan Burning Man, Australia punya Stereosonic dan Belgia punya Tomorrowland, New Zealand punya Splore yang diadakan setiap bulan Februari setiap tahunnya. Annual arts and music festival ini seru sekali dan setiap tahun temanya berbeda. Anak kecil boleh ikut bahkan ada camping area khusus untuk keluarga juga, ada aktivitas untuk anak-anak, art workshop, yoga, show dan sebagainya. Bahkan ada themed camp di mana orang-orang yang niat banget membawa campervan dan membuat camping bertema sendiri. Splore diadakan di Tapapakanga Regional Park — camping ground yang sampingan dengan pantai. Selama tiga hari festival ada stage besarrrr di tepi pantai yang memainkan musik terus menerus namun cukup jauh dari area camping jadi kalau mau istirahat tidak berisik.

10441072_851631148215628_3970465387407032353_n

Untuk bertransaksi diberikan wristband yang diisikan uang di dalamnya jadi tidak bisa beli-beli barang pakai uang cash atau kartu lainnya. Gara-gara ini juga saya sempat diusir keluar dari sebuah bar di siang bolong (padahal saya nggak beli minuman lho) — karena disangka di bawah umur! Dan ironisnya saat saya balik ke barnya di malam hari saat semua orang party, saya nggak ditanyakan kartu tanda umur, ha ha ha.

11025228_10153842155180605_3423977962650409324_n

Tema tahun ini adalah space odyssey jadi sepanjang weekend kami melihat dan ikutan dress up dengan tema angkasa luar. Banyak yang niat banget sampai membuat kostum astronot sendiri, lho!

10533435_10153834327815605_6308697358102217767_n

Selain stand makanan, musik dan market yang menjual aksesoris dari baju, perhiasan sampai topi, Splore juga menyediakan jasa pernikahan! Ya, dengan mendaftar dan membayar biaya bisa menikah di festival ini. Unik sekali!

12743606_10207276503885642_190450265301497852_n.jpgCaravan bertema.

12744094_10153842154420605_2712846790255242608_n12746337_10153841893125605_1763828985_n

Kalau berkunjung ke New Zealand bulan Februari pokoknya worth it untuk datang ke arts and music festival ini. Makanannya juga enak-enak! Pengalaman tak terlupakan dan kami berencana untuk pergi lagi tahun depan. Yang bikin agak ilfil awalnya adalah portaloo – WC portabel — karena nggak ada flushnya kalau lagi sial bisa melihat ‘kado’ dari orang sebelum kita, ha ha ha.

Info selengkapnya bisa lihat di http://splore.net/
See you next year, Splore!

Minggu lalu saya sedih, ribet, pusing, galau, kacau… telepon genggam saya rusak. Jaman sekarang siapa sih yang nggak menggantungkan beberapa aspek penting hidupnya di telepon genggam? Apalagi saya yang tinggal jauh dari keluarga. Saya menyimpan foto di HP, kalender sehari-hari juga di HP karena sync dengan kalender di kantor dan sharing kalender juga dengan M (biar nggak lupa acara-acara yang direncanakan bersama), komunikasi dengan keluarga dari HP. Berjualan barang bekas memakai aplikasi di HP. Membaca postingan di WordPress, membalas komen, menuliskan ide di draft juga dilakukan di HP. Mendengarkan musik untuk melewati perjalanan pulang pergi bekerja juga pakai Spotify di HP.

Telepon genggam saya baterenya error dan masuk servis hari Minggu — paniknya saya harus pergi camping untuk ke festival hari Jumat, bagaimana berkomunikasi di hari Jumat-Minggu di antah berantah kalau tidak ada HP. Nggak mungkin dong saya mendadak beli HP baru, yang kualitasnya bagus harganya mahal saya tidak mau menghamburkan uang untuk membeli HP abal-abal yang ujung-ujungnya cepat rusak juga.

Hari Minggu malam saya mengutak-atik kotak pindahan rumah dan menemukan dua telepon genggam bekas yang rusak. Samsung Galaxy S3 dan iPhone 4. Saya mencoba menggunakan iPhone tetapi sialnya saya sama sekali nggak ingat passcode yang saya gunakan 5 tahun lalu, setelah mencoba berbagai kombinasi alhasil sukseslah iPhone-nya terkunci. Saya mencoba menggunakan si Galaxy S3 selama 2 hari — HP itu saya panggil HP galau. Mengapa galau? Mati nyala terus! Sehari bisa 20 kali mati nyala dan lemotnya minta ampun sampai bikin emosi, ha ha ha.

Saya mencoba meminjam telepon genggam bekas teman tapi tidak ada yang bersedia membersihkan alias factory reset HP bekas mereka. Saya heran karena saya nggak akan pernah merasa nyaman meminjamkan HP bekas saya dengan data-data saya masih ada di sana. Bahkan seseorang mau meminjamkan iPhone bekasnya… dengan akun iCloud-nya yang masih aktif di sana (ia menggunakan iPhone baru jadi, kalau saya pinjam HP itu, saya harus share akun iCloud dengannya). Saya merasa nggak nyaman ada data orang lain di HP dan meninggalkan jejak digital saya di HP orang lain kalau ketika HP itu harus dikembalikan.

Untungnya hari Kamis malam kami (saya dan M) berhasil mem-bypass iPhone lama saya! Awalnya agak sulit karena untuk melakukan hard reset karena home buttonnya rusak berat (harus pencet itu untuk hard reset) — jaman duluuu waktu iPhone-nya rusak belum ada aplikasi di dalamnya yang bisa menggantikan pencetan home button sih, jadi nggak dipakai lagi sampai sekarang. Saya jujur takjub dengan si iPhone yang ternyata masih segar bugar bahkan baterenya lebih awet dari Motorola saya yang sedang rusak sekarang. Tapi karena iPhone-nya punya OS lama, saya nggak bisa mengunggah aplikasi WordPress… artinya sekarang saya hanya bisa ber-Wordpress ria ketika ada waktu luang di rumah di depan laptop.

Sekian curhat kali ini… I miss my cellphone so bad!

IMG_20160208_203841897

Foto di atas adalah peking duck makanan kami merayakan Imlek tahun monyet ini.

Perayaan Imlek-ku yang terakhir bersama keluarga adalah tahun 2011, dua bulan sebelum berangkat ke New Zealand. Itu juga tidak keluarga lengkap karena kakak saya absen (dia berdomisili di Australia)… yang benar-benar lengkap sekeluarga sih saya sudah lupa kapan ya. Ketika saya masih kuliah di Malaysia saya selalu pulang untuk Imlekan dan kakak saya menghindari, hahaha… karena kami tidak begitu akrab dengen keluarga besar soalnya. Imlek yang jauh dari keluarga membuat kangen dengan sangat, saya sudah menghitung bahwa Imlek tahun 2018 akan dekat dengan Natal jadi mungkin kami berempat bisa kumpul dan saya bisa ajak M ikutan juga supaya dia bisa merasakan meriahnya bikin kenyangnya Imlek di Indonesia.

Kalau Imlek di rumah, malam sebelumnya kami keluarga inti berkumpul dan Mami-lah yang memasak. Masakan mami tiada duanya pokoknya enak sekali. Dulu belum jaman foto-foto dengan heboh sih jadi saya tidak ada dokumentasi makanan Imlek di rumah. Memang hal-hal kecil yang kita anggap biasa growing up, makin lama jadi memori tak terlupakan yang berharga seperti masakan Mami di hari malam Imlek ini. Biasanya pasti ada ayam goreng, cah mee suah, sepanci sayur kuah rebung, hekeng (semacam gilingan udang dan sayuran dibalut kulit kembang tahu lalu digoreng kering) dan satu macam seafood — karena kakak saya doyan ikan goreng kalau dia ada di rumah seafoodnya pasti ikan goreng. Di rumah juga penuh dengan makanan lainnya seperti kue lapis legit, lapis surabaya, kue manis (tiam kue, itu kue yang seperti dodol — saya nggak doyan), nastar, biskuit makanan kering, jeruk manis dan manisan yang ditaruh di tempat berbentuk koin Cina.

Duluuuu… jaman Soeharto masih berkuasa saya masih ingat kami dilarang merayakan Imlek terang-terangan. Karena, nggak boleh oleh pemerintah bukan sih? Entahlah soalnya saya masih kecil dan nggak tahu detailnya. Yang saya ingat saya akan dibuatkan surat ijin sakit tidak masuk sekolah kalau kebetulan hari itu ada acara… kalau tidak biasanya kami sekeluarga memindahkan acara kumpul-kumpul keluarga besarnya ke hari Minggu. Yang penting makan-makan di malam sebelum Imleknya itu.

Almarhum nenek saya (kami memanggilnya Ama) dari pihak Mami sempat tinggal di rumah kami 3 tahun ketika ia sakit di masa tuanya… dari saya kelas 2 SMP sampai kelas 2 SMA ketika beliau berpulang. Waktu Ama ada di rumah, dia adalah yang paling senior… jadi kami nggak keliling ke rumah saudara yang lain, semua oranglah yang datang ke rumah kami. Pokoknya betul-betul sibuk hari Imleknya, bahkan sampai saudara-saudara jauh yang saya nggak pernah tahu juga datang. Setelah Ama tidak ada, kami balik ke tradisi awal yaitu keliling ke rumah saudara lain dan kumpul di rumah Ama dari pihak Papi. Sekarang Ama itu juga sudah tidak ada, jadi hanya keliling saja, nggak kumpul di rumah orang tertentu.

Imlekan di sini tidak dapat hari libur jadi saya nggak pernah merayakan juga… kangen sekali dengan suasana Imlek di Indonesia. Semoga tahun depan dan tahun depannya lagi bisa ikutan di rumah seperti dulu.

“Mariska, lama gak ketemu nih jalan-jalan yuk!”
“Babe you want to catch up?”
“Oh we should catch up soon!”
“Oh we should have a meal together!”

Pertanyaan dan ajakan di atas sering saya dengar dari teman-teman, dekat atau tidak, lama atau baru. Ya ajakan jalan-jalan. Sayangnya ajakan jalan-jalan dan ketemuannya yang saya iyakan, 75% dijawab lagi oleh mereka dengan

“I don’t know, you choose!”

Jadi mengajak jalan dan melimpahkan suruh milih tempatnya ke saya. Mau makan apa juga tanya saya. Jadi sebenernya yang mau bikin acara ini siapa, ya?

Pernah juga ada teman datang dari Wellington dan menghubungi saya lewat Facebook untuk ketemuan, yang saya iyakan. Dia meminta tolong saya menghubungi kawan yang lain S dan T untuk ajak mereka juga, yang juga saya iyakan. Di hari H… teman Wellington saya ini (sebut saja namanya N) menghubungi saya, nanya siapa saja yang akan ikutan datang dan kita mau kumpul di mana. Saya kaget, sejak kapan lho saya jadi organiser acaranya? Ketika saya tanyakan waktu ketemu menurut dia permintaannya sudah jelas dan saya kok nggak mikir buat nanya orang lain supaya datang. Mengalami hal seperti ini saya menuliskan mental note untuk tidak menjawab ya kepada si N lagi. Kalau dia tanya atau minta tolong saya harus tanya dengan jelas dari A-Z daripada saya kena batunya, ha ha ha.

Seringkali juga dengan teman saya X. X ini teman saya yang lumayan dekat, tapi ada satu sifatnya yang nggak bisa membuat keputusan kadang membikin jengkel, ha ha ha. Kalau ditanya mau makan apa jawabannya selalu “I don’t mind.”, “Whatever you feel like.”, atau “I’m not fussed.”
Kalau ditanya mau pergi ke mana jawabannya selalu “Up to you.”
Lama-lama saya jadi capek memutuskan dan mencetuskan ide soalnya kadang-kadang nih otak kan mandek nggak punya ide baru atau setelah hari yang panjang dan melelahkan masih harus memutar otak untuk memutuskan. Apalagi kalau kami lagi di luaran dan mau memutuskan makan apa saat itu juga, jawaban up to you yang terus-terusan ini agak annoying ya lama-lama. Untungnyaaaaaa pacar saya si M sangat aware dengan kejengkelan saya ini jadi kalau X tidak bisa memutuskan (kami suka main bareng bertiga dan X 90% gak pernah kasih keputusan atau mencetuskan ide) dan saya sudah malas/capek, M lah yang membuat keputusan untuk kami.

Ada satu contoh lagi teman saya C yang selalu ngajak ketemuan, lalu nggak menghubungi saya sampai hari H lalu dia tanya kita mau ke mana. Jeng jeng jeng lah kan kamu yang ngajak jalan kok saya lagi yang bikin acaranya? hehehe…

Kalau sesekali atau persenan 50-50 kadang kita kadang dia sih nggak apa-apa kalau kita terus yang memutuskan, seperti cerita di atas kepala mandek dan idenya lama-lama habis. Juga malas bikin acara terus setiap kali.

Ada yang punya cerita serupa? Berbagi dong 🙂