Archive

Monthly Archives: March 2016

Saya sempat mikir beberapa kali posting ini nggak ya, posting nggak ya. Karena sudah lama ada di draft, tapi agak-agak berbau personal juga jadinya bingung. Tapi memutuskan untuk share cerita ini sekarang ūüôā

Kapan waktu lalu… ada yang tanya saya sudah bisa menyetir belum. Atau ada yang bilang kok sudah lama belajar nyetirnya nggak selesai-selesai.

Jawabannya soalnya saya sempat vakum belajar selama beberapa waktu, sekarang baru mulai-mulai lagi. Kenapa saya vakum belajar? Kok belajarnya lama banget?

Saya kena panic attack waktu di jalanan tahun lalu ūüė¶

Ceritanya saya sedang berada di jalanan dan entah mengapa hari itu saya melakukan banyak sekali kealpaan yang sebenarnya adalah hal-hal kecil, tapi mungkin membikin panik diri sendiri (pada dasarnya saya punya semacam issue dengan anxiety) dan pada dasarnya masih nggak lancar, nggak pede nyetir. Tiba-tiba rasanya sesak napas dan pusing. Nah karena saya sudah pernah mengalami panic attack sebelumnya saya sudah tahu wah ini gejala-gejalanya muncul. Untungnya jalanannya sedang tidak ramai, paling hanya ada beberapa mobil karena dekat daerah komplek perumahan. Saya meminggirkan mobil dengan sukses.

Terus pokoknya setelah itu takuuuuut banget duduk di belakang setir mobil lagi. Setiap kali masuk mobil di belakang setir rasanya takut, mulas, keringat dingin pula. Saya kan orangnya panikan, sudah takut duluan, perutnya sakit duluan.

Setelah balik dari Indonesia baru minggu lalu memberanikan diri lagi menyetir pelan-pelan. Sulit karena sudah terbelenggu rasa takut. Saking panikannya saat menyetir yang kedua kali minggu kemarin, terus lupa pakai seatbelt -___-

Kadang suka sedih juga dan nggak pede semua orang nyetirnya santai-santai aja tapi saya kok panik and nggak bisa-bisa. Kalah lagi sama remaja-remaja yang 6 bulan latihan udah bisa bagaikan balapan sirkuit, hihihihi. Weekend ini saya memberanikan diri book kelas menyetir tapi saya minta instrukturnya tolong bawa mobil matic. Jadi paniknya berkurang sedikit mungkin? Entahlah. Doakan saya ya!

Bakso bule ini, alias meatballs, tidak sama dengan bakso Indonesia yang digiling halus dan teksturnya kenyal. Baksonya lebih ke arah daging sapi alias mince yang dibulatkan tapi pakai cincangan ayam, babi, kambing atau kalkun juga bisa. Beberapa resep yang saya temukan juga mencampur babi dengan sapi dan sebagainya.

Hari ini saya mau sharing saja resep bakso bule kesukaan saya, setelah bikin dengan variasi ini itu inilah versi yang paling pas untuk selera saya. Si bakso ini versatile sekali alias mudah diadaptasikan mau makan pakai apa. Sama saus tomat dan pasta, oke. Dimakan pakai roti ala Subway juga boleh. Dibentuk lagi dijadikan burger patty juga oke. Dimakan pakai salad juga enak. Biasanya saya membuat dalam jumlah besar lalu dibekukan, kalau mau pakai tinggal dikeluarkan dari freezer.

Cara memasaknya juga mudah bisa digoreng atau di-pan fry atau dioven kalau mau lebih sehat, biasanya kalau saya, dipanaskan di atas penggorengan biar sisi-sisinya brown dan crispy lalu dimasukkan ke dalam oven sampai matang.

IMG_0210

Bakso Bule, alias Beef Meatballs ala Aku
Kalau mau bikin yang banyak tinggal dibanyakin saja bahan-bahannya

  • 500 gr daging sapi
  • 1/2 cup tomato paste / pasta tomat
  • 1/2 cup daun peterseli / parsley, cincang halus
  • 1/2 bawang bombay dicincang halus
  • 1 sdm bubuk bawang putih
  • 1/2 cup keju (saya pakai shredded edam)
  • 2 sdm kecap Inggris
  • 2 sdm wholegrain mustard
  • 1 sdm paprika bubuk
  • garam dan lada secukupnya

Selamat mencoba!

Saya sedang pilek berat. Bernapaspun, lewat mulut kalau hidungnya lagi mampet… untungnya setelah ke dokter dikasih decongestant beneran jadi mampetnya sudah lumayan berkurang.¬†Beberapa hari yang lalu saya di rumah, nggak masuk kantor karena pilek ini dan sedang asyik nonton Teen Wolf di Netflix… mumpung nggak ada kerjaan di rumah yuk kita binge watching series aja. Karena sehari-harinya kalau sibuk nggak sempat nonton. Saya mendengar ada yang ngetuk pintu. Sayapun keluar seadanya. Pakai piyama, nggak pakai make up, pakai kacamata tebel. Suara ngebass dan mata menyipit karena hidung bengkak.

Saya membuka pintu dan menyapa cewek bule yang mukanya segar banget dan pakai seragam St. John (ambulans). Langsung deh males karena saya paling males kalau ada yang ngetuk pintu untuk kampanye lah, bagi selebaran apalagi minta sumbangan!

Si cewek bule dengan ramahnya menyapa saya, “Oh hi, is there anyone over 21 in this house I can talk to?”

Saya dalam hati ngakak sekaligus lega. Karena sudah yakin ini orang mau minta sumbangan! Tapi saya didaulat anak dibawah umur berdasarkan tampang. Sipppppppp nggak usah capek-capek menolak, karena sudah ditolak duluan sama dia deh! Mungkin muka saya seperti anak sekolahan, entahlah. Di cerita sebelumnya saya juga disangka di bawah umur sampai diusir dari bar. Kalau kali ini, disangka di bawah umur dan membawa berkah!

salam, dari Mariska yang sudah hampir 30 sebetulnya
P.P.S. saya yakin si bule kalo nggak seumuran pasti lebih muda dari saya sebetulnya!

Di postingan kali ini saya ingin berbagi mengenai dua hal yang unik yang saya sukai di Auckland yaitu Silo Cinemas dan… Moustache Milk and Cookie Bus!

Silo Cinema ini semacam layar tancap di Indonesia yang ada setiap summer di Auckland. Dekat dengan city kalau jalan kaki mengitari harbour yang cantik, hanya 30 menit (sambil foto-foto, ya, hehehe). Film diadakan pukul 9 malam setiap hari Jumat, filmnya ganti-ganti setiap minggunya. Jumat kemarin saya ke sana untuk ramai-ramai nonton Top Gun. Klasik! Ke sana harus membawa selimut karena temperatur drop di kala malam, tatakan untuk duduk kalau nggak mau duduk di rumput yang dingin dan bawa sebotol wine juga kalau mau. Di sana bisa sih beli tapi harganya seharga wine di restoran (baca: mahal!)

IMG_0179

Suasana malam di Silo Park, foto ini diambil kira-kira jam 8 malam. Sky Towernya Auckland kelihatan di belakang. Silo Cinema ini menyediakan stall bazaar-bazaar barang-barang seperti artwork dan jewellery dan juga makanan di stall yang enak-enak. Buat yang mau meja disediakan juga meja untuk makan, dan makanannya berkisar antara 5-15 dolar.

IMG_0178

IMG_0181.JPG

Nontonnya seru, karena klasik yang banyak diminati sepanjang film banyak yang suit-suit, tertawa, bercanda dan sebagainya.

Moustache Milk and Cookie Bus ini menyediakan soft cookies yang unik dan enaaaaak. Unik karena rasa-rasanya seperti Afghan, lemon meringue, marmite and chips, smore, oreo and marshmallow, bacon and maple, mallowpuff dan sebagainya. Awalnya mereka adalah toko (sampai masuk BuzzFeed segala sebagai salah satu tempat kencan ter-romantis di Auckland), tapi karena sewa toko naik drastis merekapun menggalang dana dengan melakukan Givalittle fundraising (saya cinta dengan kuenya jadi ikutan) untuk membangun bus yang bisa tur sambil jualan kue.

IMG_0057.JPG

IMG_20160304_185230564_HDR.jpg

IMG_20160304_185528181.jpg

Yang penasaran sama kue-kuenya Moustache dan kalo kebetulan di NZ dan mau cobain busnya dan kuenya… bisa stalk mereka di sini¬†https://www.facebook.com/MoustacheNZ

Apa sih cruelty free skincare? Di postingan ini yang saya maksud dengan cruelty free skincare adalah termasuk toiletries semacam sabun, sampo, odol dsb, lalu obat muka, krim muka dan make up yang tidak dites kepada hewan sebelum dipasarkan. Dulu karena saya awam banget nggak pernah memikirkan beginian, awal tahun lalu saya kebetulan secara tidak sengaja nonton video mereka testing skincare dan makeup ke hewan seperti kelinci dan tikus. Duh nontonnya jadi miris, video dan gambar-gambarnya nggak akan saya posting di sini. Kalau kalian penasaran boleh di-Google sendiri.

Sejak saat itu saya pelan-pelan mengganti koleksi di rumah dengan cruelty free brands. Selain research di rumah merk apa yang kira-kira bagus, kalau jalan-jalan saya sambil lihat, dan kalau ada yang menarik saya selalu Google dulu untuk memastikan mereka cruelty free tidak. Sampai saat ini merek-merek Asian cosmetics (termasuk yang terkenal seperti E*** House) sepertinya masih mengetes pada hewan karena di websitenya dan hasil research saya, beberapa orang yang email untuk bertanya pun mendapatkan jawaban yang ambigu.

Dan lagi, ada poin ini. Setiap merk alat mandi, kosmetik dan perawatan kulit yang dipasarkan di Cina, sesuai hukumnya harus melewati serangkaian tes termasuk animal testing. Jadi, kalau merk itu dijual di Cina sudah pasti melakukan tes pada hewan. Atau mereka tidak melakukan animal testing di negara lain tapi hanya di Cina — ya sama saja dong, karena pada prinsipnya berarti tetap melakukan tes pada hewan. Atau,¬†brand tersebut tidak tes pada hewan tapi mereka berada di bawah naungan main company yang sama (yang mengetes pada hewan di brand mereka lainnya), lha ya sama saja dong keuntungannya masuk kantong perusahaan yang sama.

cruelty-free-bunny-logo-symbolImage from http://www.crueltyfreekitty.com/

Awalnya ketika saya switch ini agak ribet juga karena saya sudah terbiasa menggunakan skincare yang saya pakai selama ini. Saya terkejut betapa selama ini hampir semua produk yang saya gunakan… semuanya melakukan animal testing! Ampun deh. Tapi kebetulan pada saat yang sama saya berniat mengubah produk yang saya gunakan ke yang lebih organic dan bebas bahan kimia, untungnya rata-rata kebanyakan produk organik ini juga cruelty free. Sekalian deh, sekali tepuk, dua nyamuk!

Saya nggak akan menyebut merek yang melakukan animal testing tapi saya akan menyebut merek produk-produk yang saya pribadi gunakan, yang tidak test pada hewan. Produk ini campuran yang biasa dan yang organic juga, karena¬†belum semua produk organik yang saya gunakan cocok dengan bagian kulit saya sih. Masih dalam tahap coba-coba sana sini, kalau habis ya baru beli lagi ūüôā
Produk yang saya sebut di bawah ini setahu saya tidak melakukan tes pada hewan, tidak menjual produk di Cina dan juga tidak berada di naungan korporasi yang melakukan animal testing di produk mereka lainnya. Yang saya pernah coba dan pakai ya, jadi masih buanyaaak lagi produk-produk di luaran lainnya.

Skinfood New Zealand (jangan tertukar sama yang Korea), NYX Cosmetics, Antipodes, Sukin, Bossy Cosmetics, Bare Minerals / Bare Escentuals, Ilia Lipstick, Burt’s Bees, Anastasia Beverly Hills, Oasis Sun, Cancer Society of New Zealand, Australis, Trilogy, Urban Decay

Atau boleh juga main kemari http://www.crueltyfreekitty.com/ultimate-guide-to-cruelty-free-makeup/

Selamat membaca! Btw postingan ini nggak bermaksud untuk men-judge atau melarang pemakaian skincare karena ini balik ke pilihan masing-masing. Teman kantor saya contohnya menurutnya animal testing sih tidak apa-apa karena kalau tidak dites pada hewan mau dites di mana, manusia? Begitu menurutnya dan saya paham dengan jalan berpikirnya juga. Hanya saja saya cinta binatang sih dan orangnya cepet sedih gak jelas (re: galau, ha ha ha) kalau ingat video yang tak sengaja saya tonton waktu itu. Tujuan saya sharing ini hanya again sekedar untuk sharing semata dan meningkatkan awareness kalau ini terjadi di sekeliling kita tanpa disadari. Karena saya suka banget dengan orangutan juga saya pelan-pelan mencoba mengkonsumsi makanan yang tidak mengandung minyak kelapa sawit. Kapan-kapan saya posting selengkapnya, kalau lagi mood. ūüôā

x

Hidup merantau di negeri orang jauh dari keluarga tentunya punya tantangan dan cerita sendiri. Kebetulan saya tinggal di New Zealand dan lumayan banyak orang yang berminat ingin liburan, sekolah, bekerja atau pindah tinggal kemari. Sejak punya blog ini kadang saya sering mendapatkan comment atau email yang berkaitan dengan empat hal di atas tersebut.

Saya bukannya pelit informasi. Tidak juga pelit pengalaman kalau ditanyakan. Contohnya salah satu teman kuliah saya di Malaysia tanya-tanya kehidupan di sini bagaimana, universitas yang terkenal bagus bagaimana. Saya jawab sesuai kapasitas dan sepengetahuan saya… sisanya ya memang dia yang mencari informasi sendiri.

Hanya saja kadang-kadang pertanyaan atau komentar yang saya dapatkan membuat saya mikir, ini orang males buener sih, akika kan bukan agen… kalau dapet komisi sih boleh deh. Asal tahu saja agen sekolah atau yang mengurusi visa itu bayarannya tidak murah lho! Menurut saya kalau punya mental dikit-dikit saja tanya dan nggak memanfaatkan resources yang ada (baca: Internet) dulu sebelum bertanya… mungkin harus membenahi mentalnya dulu sebelum nekat angkat koper dan pindah ke negeri orang.

Contoh pertanyaan dan komentar yang bikin saya geleng-geleng:

  1. Berapa sih minimum wage di New Zealand? Please yang kayak begini tolong di Google sendiri effortnya lebih kecil daripada email saya khusus untuk tanya.
  2. Saya tertarik sekolah kuliner kira-kira berapa ya range harga tuition fee-nya? Maaf saya bukan agen sekolahan yang punya banyak waktu luang buat ke website sekolahan masing-masing, research sekolah dan ngumpulin pamflet buat kasih info ke kamu.
  3. Kalau mau dapet PR susah nggak? Ketahuan belum research karena PR itu istilah resident untuk Australia, PR di NZ bisa didapatkan hanya ketika kamu sudah berstatus Resident selama dua tahun (inilah yang dimaksud seharusnya) dan juga setiap orang berbeda-beda skill dan pengalamannya, sekali lagi saya bukan agen imigrasi yang bisa ngejawabnya.
  4. Kira-kira prospek kerja bagaimana, mungkin kamu bisa bantu/bantuin koneksi dong? Maaf saya kenal kamu saja nggak, ketemu pun belum dan pekerjaan saya di kantor nggak sebagai agen recruitment untuk pekerjaan jadi saya nggak bisa bantu kamu cari kerjaan. Nih website trademe.co.nz atau seek.co.nz untuk cari lowongan kerja sendiri.
  5. Cara kamu apply visa dulu bagaimana sih? Again, ada websitenya imigrasi. Kalau saya bisa cari info dan apply sendiri dulu harusnya informasinya ada dan Google-able untuk kamu research sendiri. Kalau stuck dan bener-bener nggak bisa kontaklah agen khusus imigrasi yang pekerjaannya memang untuk khusus bantu-bantu apply visa dan sebagainya.
  6. Kalau saya hospitality gampang nggak dapet PR?¬†Again jawaban saya¬†adalah please ke website Imigrasi karena setiap individu berbeda-beda, daripada saya jawab iya tahunya nggak kan bingung dan kasihan kamunya…

Di postingan ini saya nggak bermaksud sombong dan nggak mau membantu. Biasanya pertanyaan seperti ‘Bagaimana sih lifestyle di NZ?’ atau misalnya ‘Kerja di sana lingkungannya seperti apa ya?’ saya masih menjawab karena tentu saja hal-hal kayak gini kan memang blank kalau belum ke sini tentu saja bingung dong. Malah saya sempat bikin post kecil seputar biaya hidup di Auckland di sini.

P.S. Silakan berkunjung kemari, informasinya akan jauh lebih lengkap dari nanya-nanya saya tentunya dan lebih jelas juga hitam di atas putih bukan jawaban saya yang pakai ‘kayaknya’ untuk pertanyaan seputar imigrasi– http://www.immigration.govt.nz

Dulu… waktu sering masak untuk diri sendiri, saya dapat ide ini untuk menghemat uang dan tentunya nggak minim asupan gizi. Saya membudayakan seekor ayam, diolah untuk protein makanan selama 5 hari. Tentunya harus pintar-pintar mengolah dengan cara yang berbeda biar nggak bosen makannya ayam lagi, ayam lagi. Catatan di sini seekor ayam ukuran standar di supermarket¬†bisa didapatkan dengan harga 12-19 dolar tergantung lagi diskon nggak, mau ayam organik atau ayam biasa dan sebagainya. Ketika membeli ayam juga perhatikan kesegarannya, kalau di sini membeli di supermarket ayam utuh biasanya dipak per-ekor dengan tanggal kadaluarsa yang tertera di¬†bungkusan si ayam. Saya pilih ayam yang kadaluarsanya paling lama tentunya.

Guide menyimpan ayam di bawah ini:
According to Foodsafety.gov, uncooked poultry is safe in the refrigerator for 1-2 days, and safe in the freezer for 9 months (for pieces) and up to 12 months for whole chickens or turkey. Cooked poultry is safe refrigerated for 3-4 days.

10367803_10152509580575605_1273716152285334074_n

Maafkan ilustrasi ayam di atas adalah ilustrasi belaka, hahaha. Itu foto roast chicken bikinan saya ūüėÄ
Nggak termasuk menu ngemat ya

Begitu dibawa pulang bersihkanlah si ayam dengan cara dilumuri garam lalu dicuci bersih dengan air dingin. Ayam biasanya saya potong-potong menjadi 8 bagian yaitu 2 sayap, 2 dada, 2 paha atas dan 2 paha bawah. Langsung hari itu juga dimasak untuk malam pertama, ya.

Hari pertama saya masak jenis oseng-oseng sayuran dengan satu bagian dada, yang saya olah dengan cara dipotong-potong. Makan dengan nasi dan oseng-osengnya dengan sayur yang banyak, dapat 2 meal (dinner plus bekal untuk makan siang besoknya).

Hari kedua saya bikin jenis kuah/sop dengan bagian paha atas yang dipotong-potong lagi. Paha atas ini ada tulangnya jadi untuk bikin kuah, rasanya enak karena tulang ayam ini yang bikin gurih. Saya senang sopnya diisi makaroni jadi nggak usah masak nasi lagi. Bisa untuk dua meal juga dinner dan lunch besokannya.

Hari ketiga saya memasak paha bawah, sisa dada dan wings berbarengan. Biasa saya bumbui dan dioven saja. Untuk makan malam misalnya, saya menghidangkan paha dengan salad dan roti. Untuk makan siang besoknya, suwir setengah dari dada yang dimasak dan dijadikan sandwich dengan sisa salad dan roti makan malam.

Hari keempat kita masih punya sisa setengah dada dan dua potong wings yang tentunya disimpan dengan baik di kulkas. Untuk makan malam saya bisa suwir bagian dada atau dipotong strip, dibumbui lagi dan di-pan fry¬†untuk dihidangkan dengan oseng-oseng pasta atau pasta salad. Jangan lupa bikin banyakan si pasta ini karena…

Lunch hari kelima adalah pasta plus wings yang sudah dibumbui dari kulkas. Ta-daaaah! Hari kelima ini kan Jumat dan biasanya saya makan malamnya di luar buat refreshing.

Segitulah contohnya saya survive seminggu dengan seekor ayam… minggu besoknya puasa makan ayam deh. Hahahaha.