Archive

Monthly Archives: April 2016

Akhir-akhir ini saya merasa seperti diteror oleh tikus-tikus kecil!

Siapa sih yang nggak takut sama tikus? Selain geli, menjijikkan, bau (ini nggak tahu sih sebenarnya, karena nggak pernah cium) terus adalah tanda-tanda jorok. Pokoknya nggak suka, takut dan geli bercampur jadi satu. Rumah pun selalu bersih kok dan nggak ada tikus yang tinggal di rumah kami.

Sialnya, banyak tikus yang tinggal di bush (hutan kecil) di belakang rumah.
Sialnya, kami punya kucing di rumah.
Sialnya, si kucing hobby menangkap tikus di hutan terus dibawa pulang!
*Nangis jejeritan* Nak kenapa mainnya dibawa pulang sih, ditinggal di luar kan gak apa-apa?

Berawal dari salah satu flatmate saya yang melihat si Loki makan tikus di rumah. Nah sejak saat itu sering deh si buntalan bulu bawa ‘teman-temannya’ main ke rumah! Katanya, kucing membawa tikus mati (atau setengah mati???) itu sebagai hadiah untuk tuannya… *mengelus dada*

Pernah suatu malam flatmate saya mengatakan kalau ia sepertinya melihat ada bayangan hitam kecil lari di ruang tengah dan diikuti oleh kucing. Dipikirnya mungkin sudah setengah tidur kali, terus olehnya dicuekin. Besok pagi kami menemukan Loki nongkrong di dekat daerah sepatu yang berantakan, dan begitu dirapikan ada tikus malang yang sudah tak bernyawa. Kagetnya luar biasa, rasanya jantung mau copot, terus saya pun menghabiskan siang itu membersihkan semua sepatu pakai sabun pembersih.

Pernah juga sedang asyik mainan laptop di kamar, dikunjungi oleh Loki yang membawa ‘hadiah’… sejak saat itu pintu kamar selalu ditutup kalau siang, karena kalau malam kan Loki tidak bisa keluar, jadi nggak ada kejutan-kejutan aneh. Kecuali kalau sial banget tikusnya tertangkap siang, melarikan diri dan ngumpet semalaman seperti cerita di atas.

Tapi yang paling segar di ingatan adalah kemarin sore, saya pulang kerja disambut dengan riang oleh Loki yang ikutan masuk ke rumah, elus elus ke saya. Lalu ia keluar lagi dan masuk lagi……… terus menjatuhkan tikus di depan pintu kamar saya. Kontan karena kaget saya membanting pintu, menutupnya dan di dalam saja deh sendiri menunggu bantuan datang.


Loki… Loki… lucu-lucu tapi kamu kok….

Advertisements

Seusai membaca postnya Bebe minggu lalu, rasanya pingin banget makan mie ayam jamur! Pinginnya yang pakai banget dan rencananya weekend mau ke food court dekat rumah karena ada tante-tante Indonesia yang memang khusus jualan mie ayam di sana. Tak dinyana… si tante tutup! Dan permanen pula tutupnya. Rasanya mau nangis soalnya mie si tante enak bingits secara ia membuat mienya sendiri. Pokoknya mantap!

Karena nggak kesampaian, pergilah saya ke toko Asia, beli macam-macam bahan untuk membuat mie ayam jamur ala bakmi GM. Rasanya sih nggak sama persis sama GM, tapi di lidah ini rasanya enaaaaak pokoknya. Bikinnya tumisan ayamnya sengaja banyak, supaya bisa dimakan sampai puas. Hari ini sudah dua kali makan bakmi untuk makan siang dan makan sore — nanti malam juga mau makan lagi sepertinya hehehe.

Mie Ayam Jamur a la Mariska

Bahan yang dibutuhkan:

  • 2 fillet dada ayam, pisahkan kulitnya (untuk membuat minyak ayam)
  • tulang atau ceker ayam, patah-patahkan dan cuci bersih
  • 3 siung bawang putih dan 2 cm jahe, geprek (untuk kuah)
  • mie telur — bihun atau kweatiau enak juga sih kalau bosan dengan bakmi
  • 1 kaleng jamur kancing, potong-potong jadi dua
  • 4 cm jahe, kupas dan geprek
  • 5 siung bawah putih, rajang halus
  • 1/2 buah bawang bombay, rajang halus
  • bakso sapi
  • sayur sawi, atau kalau tidak ada bokchoy juga boleh, direbus
  • 2 siung bawang putih + 6 butir cabai merah, rebus dan sisihkan (untuk sambel)
  • daun bawang, rajang

Bumbu:

  • 3 sdm saus tiram
  • 2 sdm kecap manis
  • 4 sdm kecap ikan
  • 4 sdm kecap asin
  • 1 sdm kecap asin kental (dark soy sauce)
  • garam
  • lada

Cara membuat:

  1. Rebus fillet ayam dengan ceker atau tulang, garam dan jahe plus bawang putih untuk kuah. Sisihkan kuah kaldu dan potong dadu dada ayam matang.
  2. Panaskan kulit ayam dengan sedikit minyak di atas api kecil sampai keluar minyaknya untuk membuat minyak ayam. Sisihkan.
  3. Untuk membuat tumisan ayam, panaskan sedikit minyak goreng. Masukkan rajangan bawang bombay, bawang putih dan jahe hingga layu dan harum. Bumbui dengan garam.
  4. Masukkan potongan ayam, aduk rata dan tambahkan jamur. Masukkan bumbu dan aduk rata, tambahkan sedikit kaldu ayam. Kecilkan api dan masak dengan api kecil selama setengah jam. Icip-icip dan tambahkan saus-sausan dan garam/lada jika perlu.
  5. Untuk membuat sambel, tumbuk halus rebusan bawang putih dan cabai merah dengan sedikit garam dan air kaldu.
  6. Sajikan mie rebus dengan tumisan ayam dan ‘kuah’ dari tumisan ayam (kalau suka boleh tambahkan minyak wijen), sawi rebus, bakso, sambel, daun bawang dan kuah kaldu ayam.

Alkisah kemarin siang, saya sedang berdiri di sisi jalan karena menunggu jalanan sepi supaya bisa menyeberang. Ketika saya berdiri sendiri itu, sebuah mobil sedan putih melaju di jalan dan melewati saya. Di dalam mobil dekil tersebut ada dua orang yang jelas-jelas imigran seperti saya, meneriaki saya dengan teriakan rasis seperti ‘Cing Cong’ dan mengklakson sambil melaju. Dari raut muka dan aksennya mereka pasti dari salah satu negara di Asia Selatan. Rasanya darah mendidih, kesal, kalau ada batu saya timpuk kali, hahahaha. Nggak mungkin kena juga soalnya ngebut sih mobilnya. Saya sangat kesal, mengapa? Karena kebiasaan jelek kok dibawa-bawa sih ketika menjadi pendatang di negara orang?

Memalukan sekali. Ketika saya tumbuh besar di Indonesia saya sering dipanggil Cina atau amoy dari tukang bangunan, pengemudi truk atau mikrolet, dan sebagainya. Panggilan kasar itu saya amini dalam hati walaupun kadang kalau kesal bawaannya mengutuk saja, hahaha. Ketika saya berkuliah di Malaysia juga pernah mengalami dipanggil seperti itu — terutama kalau lewat konstruksi — saya kaget dong masih ada juga yang seperti itu di New Zealand dan yang lebih menyebalkan lagi kami sama-sama imigran! Saya menyayangkan sikap seperti ini, ataupun kebiasaan jelek dari negara sendiri yang dibawa ketika bertamu ke negara lain. Baik bertamu sebagai turis, pelajar ataupun imigran. Menurut saya kita harus pandai menyikapi perilaku dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Kasarnya kalau nggak suka, nggak usah pindah ke negara orang!

Sebagai perantau yang sudah 10 tahun tinggal di luar negeri saya punya beberapa contoh yang tidak layak ditiru, yang ingin saya tulis mengenai membawa diri dengan baik ini. Menurut saya, sebagai perantau, kita juga membawa nama negara dan ras asal kita, lho. Jangan karena nila setitik rusak susu sebelanga… kan kasihan orang-orang lain yang kena efek generalisasi jelek seperti ini.

  • Kebiasaan orang meludah sembarangan. Ini jijay banget dan saya pernah melihat ada yang melakukannya di sini, tentu saja bawa kebiasaan negara asalnya karena ketahuan banget itu bukan orang asli sini.
  • Selalu berkumpul dengan sesama dari negara sendiri, nggak ngumpul dan membaur dengan orang lokal atau orang dari negara lain. Selain bahasa Inggrisnya jadi nggak lancar, dilihatnya juga malas banget kalau bergerombol rame, berisik, suka sok haha hihi tapi kalau sendiri? Diam di pojokan (ini pengalaman bersekolah saya di luar Indonesia).
  • Kebalikannya dengan yang kumpul dengan sesama negara, ada juga si kacang lupa kulit. Saking membaurnya dengan orang lokal, bahasa Indonesia pun lupa (atau katanya nggak lancar padahal tumbuh besar juga di Indonesia dan di luar negeri belum lama dibandingkan dengan di Indonesia), aksen berlebihan, dan sebagainya.
  • Kebiasaan bersikap intolerant alias tidak peduli. Sering saya lihat di bus orang yang duduk di disabled seats. Tak jarang pula kantong belanjaan atau terkadang tas tentengnya yang biasa didudukkan di kursi sebelahnya, walau jelas sekali bus perlahan menjadi penuh. Kebiasaan ini bukan hanya orang interlokal (hahaha) saja ya yang melakukan, tapi kebanyakan saya lihat memang bukan orang lokal.
  • Mengomel, mengeluh, hobby complain tentang regulasi negara lain yang ditempati dan membandingkannya dengan regulasi di negara asal. Kalau nggak senang banget ya ada kan option untuk pulang? Contohnya, ada orang Indonesia yang hobby complain… harga makanan mahal, complain. Harga tiket ini itu mahal, ngomel. Urutan tatacara ke dokter yang berbeda dengan di Indonesia, tidak senang. Dokternya nggak memberikan seabrek obat seperti di Indonesia ketika pilek, koar koar marah. Bingung dengan yang seperti ini, lama-lama gemas jadinya.
  • Impor obat-obatan terlarang. Beberapa tahun terakhir ini, kasihan dengan sebagian komunitas Asia yang jadi identik dengan narkoba, soalnya banyak muncul di berita kalau mereka import bahan narkoba atau terlibat perdagangan narkoba itu di koran.

Sebegitu dulu yang saya ingat dan terinspirasikan untuk nulis. Selain itu ramah, sopan, tidak sombong dan rajin harus dong yaaa 🙂
Sampai-sampai di kantor saya, kami para orang Asia dicapnya rajin hahaha… ini beneran kata boss saya, lho, bukan saya yang ngomong sendiri 😀

x

IMG_0492

Selamat musim gugur dari Loki di New Zealand!

Loki sekarang tambah besar dan bulunya mulai tumbuh lagi karena mulai dingin. Kalau siang masih panas terik dan benderang, Loki masih senang banget main di luar rumah… alias hutan belakang rumah dan bus stop di depan rumah. Minggu lalu saya disapa oleh seorang tante-tante cantik yang memuji Loki, katanya kucingnya friendly banget, he smooches to everyone in the bus stop… yup he is officially the bus stop cat.

IMG_0213

Yang follow saya di Instagram pasti sudah pada lihat videonya Loki bergembira ria mengikuti perintah untuk dapat snack! Haha. Iya Loki sekarang bisa tos alias high 5, menangkap tangan di atas (UP!), salaman dengan tangan kiri dan tangan kanan. Dia juga latihannya cepat, cepat menangkap perintah dan suruhan asal dikasih snack di akhir perintahnya itu.

Cerita horror dari Loki adalah, walaupun ia imut imut menggemaskan dan lucu bukan main, ia mulai berburu sekarang. Beberapa waktu yang lalu teman serumah saya Y, whatsapp ketika saya sedang nggak di rumah. Ia bilang ia menjerit horror melihat si Loki sedang dengan sedapnya makan anak tikus di rumah! Untungnya rumah kami nggak pakai karpet kecuali di kamar jadi ketika saya pulang, mudah membersihkan noda bekas darah tikus (geli banget ya, tapi darahnya sebetulnya nggak ada… disapu bersih sama si kucing rakus! Hanya saya bersihkan saja bekas lantainya soalnya geli banget kannnnn bekas site pembunuhan tikus begitu).

Rumah kami nggak ada tikus, jadi Loki sepertinya menangkap tikus dari luar rumah, terus dibawa ke dalam sebagai hadiah untuk kami :/
Selain tikus ia juga menangkap seekor burung. Hancur deh kamar mandi, penuh dengan bulu burung! Sekarang di lehernya Loki dipasangkan bel krincing krincing supaya burung atau tikus mendengar kalau dia datang jadi nggak nangkap lagi ya Nak! Burung sepertinya pendengarannya bagus dan pintar jadi sejak burung malang yang satu itu kami nggak dapat burung lagi. Tikus masih ada, tapi dimakan habis oleh si Loki.

IMG_0409

Hari Paskah yang lalu, saya sedang asyik menonton film seri di kamar yang remang-remang… si Loki masuk kamar, menoleh ke saya… Dan ada tikus gede donggggg di mulutnya. Kontan saya berteriak dan langsung lebay apalagi tikusnya masih hidup walau sudah gak bisa gerak lagi. Untungnya tertangkap tuh tikus.  

Ini Loki di tempat bobok favoritnya, dia selalu menyeret handuk buat ditidurin karena hangat dari heating rail.

Makanan kesukaan Loki sekarang sapi dan jeroan sapi dan kambing — kalau bagian ayam atau babi dia kurang suka. Makanan basah kalengan juga kurang suka, doyan banget biskuit dan suka sekali dengan madu (saya kadang suka kasih jilati sendok bekas madu, dijilatnya sampai bersih).

X

Anya Hindmarch

Masih pada ingatkah dengan tas kanvas di atas? Tas yang sangat nge-hits di jamannya yaitu tahun 2007 (alamak hampir satu dekade yang lalu!) dan banyak sekali teman di sekitar saya yang punya. Agak ironis karena nenteng tas ini untuk gaya-gayaan sementara di tangan sebelahnya nenteng kantong plastik belanjaan yang super banyak, ha ha ha. Karena aslinya desainer Anya Hindmarch juga termasuk orang yang peduli lingkungan, jadi ia mengeluarkan tas limited edition ini untuk mengajak supaya orang-orang ikut peduli lingkungan juga, nggak mengambil kantong plastik untuk belanja dan pakai tas kanvasnya saja sebagai tas belanja.

Saya pernah membahas sedikit di postingan ini tentang mencoba untuk mengurangi pemakaian plastik. Terus kemarin, ngobrol dengan Stephanie… jadi terinspirasi menulis ini.

Memulai mengurangi kantong plastik (dan waste in general — kapan-kapan saya tulis di postingan lain) memang awalnya terasa ribet dan susah. Tapi percayalah lama-lama jadi mudah kok. Apalagi menjadi aware dengan banyaknya kantong plastik yang tidak dibawa pulang, sekarang saya kalau terpaksa ngambil satu saja rasanya berat hati sekali!

Tips-tips kecil untuk mengurangi kantong plastik dan meminimalisir adanya waste a la saya di bawah ini. Meminimalisir waste maksudnya tidak ngambil barang yang nantinya malah jadi sampah dalam kehidupan sehari-hari.

  • Saya membeli reusable kantong belanja dari supermarket mereka biasanya menyediakan, dan juga tas kanvas yang lucu-lucu modelnya. Saya menyimpan satu di laci kantor, satu di mobil, dan membawa kantong belanjanya Lululemon seperti di gambar di bawah ini. Kantongnya si Lululemon ini bisa dilipat kecil (saya gulung-gulung) untuk ditaruh di dalam tas kerja atau weekend slig bag saya. Jadi kalau ada unexpected trips ke supermarket atau beli baju dan sebagainya sebisa mungkin ada tas kain untuk mengisi belanjaan. Kalau memang dari rumah saya membawa kantong belanja jumbo atau sekalian kardus dari rumah, jadi kantong-kantong emergency-nya benar-benar hanya dipakai untuk emergency saja.
    Lulu
  • Membeli daging atau membeli makanan takeaway biasanya diberikan wadah dan tray dari styrofoam kan — saya mulai membiasakan mengurangi ini. Waktu ke supermarket membeli daging kalau bisa, membeli dari bagian butcher karena dibungkus pakai kertas dan nggak di tray styrofoam seperti kalau ambil dari bagian daging prepacked. Kalau beli takeaway, membeli di restoran yang memang tahu ngasih wadahnya bukan styrofoam… setidaknya kalau wadah plastik, saya biasanya pakai ulang sampai rusak, lalu dimasukkan ke recycle bin untuk didaur ulang.
  • Tidak membeli takeaway coffee karena walaupun bisa di-recycle… tetep saja waste. Cuma dipakai buat minum sekali, lho! Saya membeli reusable coffee cup dari JoCo dan memakai itu, atau sekalian minum di sana saja nggak dibawa pulang.
  • Kalau di supermarket membeli buah dan sayur saya nggak masukkan ke dalam kantong plastik yang disediakan buat naruh dan mengumpulkannya. Langsung saja dimasukkan ke tas sendiri tapi hati-hati awas tertimpa barang lain yang lebih berat 🙂
  • Menggunakan organic cotton untuk liner, tampon, pads, kapas pencuci make up.
  • Nggak membeli minuman seperti bubble tea, kalau tidak jelas plastiknya bisa di-recycle nggak. Kalau iya, pastikan ketika sudah meminumnya, benar-benar memasukkannya ke recycle bin bukan tong sampah biasa.
  • Menggunakan banyak lap (beli yang bahannya benar-benar menyerap air) dibandingkan dengan paper towel sekali pakai untuk di dapur.
  • Memakai kotak makan stainless steel, karena lebih awet. Saya baru saja membeli merek LunchBots… sebelumnya menggunakan rantang kecil bawa dari Indonesia, tapi kadang makan siang saya cuma muat satu rantang saja tapi lha rantangnya kan harus bawa sekalian dua tumpuk biar bisa ditutup? Belilah LunchBots ini… selain mudah dicuci (bau dan noda nggak bandel kayak di tupperware) juga lebih awet. Jadi nggak sering membeli yang baru karena yang lama, rusak.
  • Buat yang doyan belanja di pasar seperti saran Mbak Deny boleh bawa kotak tupperware sendiri dari rumah untuk mengisi daging, tahu, dan sebagainya.
  • Nggak beli sedotan plastik! Hahaha. Hanya sekali pakai dan jadi sampah.

Itu dia beberapa saran saya yang dekat dan mudah dilakukan di hidup sehari-hari.
Ada saran tambahan lagi?

 

Images from Poshmark.com

IMG_20150327_200011372Soto males bikinan saya, males karena minim pernak-pernik. Hanya pakai ayam suwiran, soun dan telur rebus saja.

Tinggal jauh dari orangtua tentunya selain kangen dengan orangtua, kangen berat adalah sehari-hari dengan masakan si Mami (atau si Papi kalo yang para ayahnya bisa masak kalau Papi saya nggak bisa hehe, atau masakan simbak di rumah kalau ibunya jarang masak). Sebut saja masakan rumahan ya. Sebelum saya tinggal merantau, saya nggak pernah terpikirkan betapa repotnya menyiapkan makanan untuk sekeluarga. Apalagi di Indonesia, yang hidangannya penuh bumbu, rempah, masakan yang dimasak beberapa kali (contohnya ayam goreng harus diungkep dulu, atau ayam goreng bumbu dengan sayur yang ayamnya harus digoreng terpisah dulu), pernak-pernik dan sebagainya. Saya kadang suka merasa menyesal kalau ingat dulu ketika masih kecil dan belum mengerti, nggak pingin makan masakan Mami. Nggak enaklah, nggak sesuai selera, atau memilih jajan di luar. Padahal memasak buat sekeluarga selain capek juga pusing memutar otak memilih menu apalagi kalau di rumahnya ada yang bawel alias cerewet memilih-milih makanan (untungnya, saya pemakan segala).

Cerita lucu, Mami sedang pergi mengunjungi kakak saya selama dua minggu tanpa Papi. Paniklah Papi, karena Papi nggak bisa masak. Ketika kami Whatsapp-an, Papi mengeluh, “Liat mami masak gampang aja tuh, kalo papi yang masak kok nggak enak ya…” hahaha. Mami mengeluh si Papi sulit diajari, sudah terbiasa makan doang, nggak bisa masak, jadinya repot. Apalagi Papi saya doyan makanan rumahan, nggak suka beli di luar. Akhirnya selama Mami di Australia ini, Papi memasak sendiri cah sayuran sederhana… atau masakan lain yang bumbunya sudah digiling dan dikulkaskan oleh Mami. Ada juga sop ayam dan kuah yang sudah dibekukan oleh Mami — tinggal dipanaskan saja oleh Papi. Kemarin terakhir ngobrol dengan Papi, Papi masak cah buncis. Terus katanya “Iya papi pakai ebi kering enak lho ternyata kamu kalau cah buncis pakai ebi ya!” Hehehe.

Karena keluarga kami berasal dari Kalimantan Barat, makanan rumahannya khas dengan aroma bawang putih. Di rumah Mami membuat sendiri minyak bawang putih yang dikulkaskan dan siap ditaburkan di sop dan makanan berkuah (tradisi yang saya lanjutkan sampai sekarang). Dulu waktu Mami rajin masak karena yang di rumah makannya banyak, masakannya setiap hari fresh dan enak-enak. Dari kari ayam khas KalBar (ini masaknya rempong beut, sudah minta resepnya, tapi nggak dibikin-bikin), soto ayam bening, kuah rebung, ayam goreng kering dan garing dengan kucuran air jeruk limau, cah kangkung tauco, cah kangkung terasi, cah buncis dengan udang, ayam cah jamur, sup bakso ikan (dulu sering buat sendiri baksonya, rajin bener deh), sayur bening dengan bulatan daging sapi yang dibumbui, kuah ikan asam pedas, telur kukus goyang, kuah telur dadar, nasi ayam Pontianak (kalau di Jakarta mirip nasi campur… ini membuatnya harus sabar karena banyak perintilannya), tahu dan tempe goreng, dan sebagainya. Sambil mengetik ini ngiler membayangkan masakannya…

Kadang kalau bingung mau masak apa saya sering membaca website-website di bawah ini sebagai inspirasi untuk makanan rumahan nan enak:

  • Grup Natural Cooking Club di Facebook, karena pada suka posting makan siang yang sederhana… tapi enaaaaak banget apalagi untuk kami yang jauh dari rumah.
  • Dapur Elkaje https://dapurelkaje.wordpress.com/
    Suka dengan resepnya yang sederhana tapi enak, terus ada cerita di baliknya. Khas masakan rumahan a la Indonesia.
  • Just Try and Taste http://www.justtryandtaste.com/
    Blognya Mbak Endang Indriani yang tersohor. Resep disertai banyak foto yang menggugah selera, cerita di balik dan seputar resep. Gara-gara blog ini, saya ngidam kepingin berat makan ikan masak lemak, tapi itulah belum terlaksana karena malas masaknya.
  • Diah Didi’s Kitchen http://www.diahdidi.com/
  • Daily Cooking Quest http://dailycookingquest.com/

Share dong cerita apa masakan rumahan favoritmu? Dan ada nggak blog atau situs masakan rumahan yang kalian suka juga?