Archive

Monthly Archives: May 2016

Untuk berhemat dan lebih sehat tentunya, sejak kerja kantoran saya rajin membawa bekal ke kantor. Berasa banget uang yang bisa disimpan kalau bawa makanan sendiri, secara beli makanan ya minimal $5 untuk sandwich kalau di sekitar kantor… dan emang perut gembul dasarnya mana kenyang. Kalau mau proper meal alias makanan beneran, mulai dari $10 harganya untuk seporsi.

Banyak yang nanya, saya kok rajin. Kan ribet bikin bekal — termasuk orang-orang kantor. Saya udah colong start soalnya saya demen makan dan demen masak juga. Jadi rasanya gampang dan seperti tantangan gitu untuk mengolah bekal yang nggak ribet — saya mengandalkan left over alias makanan sisa makan malam. Nah bawelnya saya iniiiiiii saya paling nggak doyan makan makanan sisa! Waduh nggak deh.

Makanya itu sebisa mungkin makanan sisa saya tata lagi, atau dicampur bahan baru, atau dimasak dengan cara berbeda. Pokoknya asal nggak kelihatan seperti makanan sisa! Kalo nggak cerewet kayak saya sih gampang, sisa apapun masukin saja ke kotak bekal… beres deh. Saya juga kadang suka begini buat makanan yang memang sudah terlihat tercampur… seperti spaghetti bolognese, nasi goreng, mie goreng…

Di atas adalah salah satu contoh bekal yang dimasak dari bahan-bahan sisa di kulkas. Roast vegetables alias sayuran dipanggang yang saya buat hari Sabtu satu tray penuh buat makan malam, sisanya bisa untuk bekal dua hari (dengan sajian protein yang berbeda). Kemarin sisa roast vege ini saya bekalkan dengan sisa domba panggang yang saya bumbui lagi dan grill lagi biar rasanya lain, dan brokoli rebus (kalo malas pakai sayuran frozen saja). Dan di kotak makan hari berikutnya ini ayam — karena saya malam itu masak mie ayam, saya sisihkan ayam mentahnya sedikit, dibumbui sedikit, dimasak terus disajikan pakai sayuran hijau sisa nemu di kulkas yang dicah sebentar. Nah sisa mie ayamnya nanti ditata untuk makan siang hari besokannya lagi. Jadi nggak bosan, makan makanan yang sama dua hari berturut-turut.

Screen Shot 2016-05-31 at 7.14.04 PM

Atau satu contoh lagi makan siang saya yang di atas ini. Waktu itu saya masak baked chicken breast yang dibumbui pake bumbu kunyit, lemon, cabe pokoknya bumbu Asia yang segar-segar. Waktu saya buat bumbunya saya pisahkan sedikit nggak semuanya untuk marinade si ayam mentah. Sisa ayam bakenya saya suwir, lalu saya campurkan ke bumbu marinade, dimasak bareng dan dicampurkan ke kwetiau. Side saladsnya dari bahan-bahan yang nemu di kulkas. Jadinya kan beda dengan makan malam yang notabene si baked chicken pakai sayuran yang ikutan di-bake juga.

Beberapa tips dari saya buat mudah membuat ‘makanan baru’ dari sisa makanan:

  • Stok frozen vegetables alias sayuran beku di kulkas untuk jadi tampilan side dish baru buat di kotak bekal.
  • Stok bumbu macam-macam di rumah. Kalau mau ‘memperbaharui’ daging/ayam/dsb tinggal dimasak ulang pakai bumbu yang berbeda.
  • Kalau bikin makanan seperti saus pasta/saus daging, sisanya dibekukan. Kalau butuh instan tinggal masak pastanya saja.
  • Membuat makanan seperti lasagna, macaroni schotel — sisanya dimasukkan tupperware terus dibekukan. Jadi deh makan siang praktis yang tinggal dipanaskan kalau butuh.
  • Kalau masak makanan tahan lama yang bukan protein (daging-dagingan) seperti sayuran panggang atau sayuran rebus… bikin yang banyak sekalian. Bisa dicampurkan dengan makanan lainnya yang dimakan hari yang berbeda — jadi deh makanan baru!
  • Kalau beli bahan makanan seperti sayuran segar, daun selada dan daun-daunan lainnya sisakan sedikit buat di kulkas untuk dicampur jadi makanan baru di kotak bekal.
  • Sering baca blog/majalah makanan/Instagram/etc tentang makanan. Kalau saya sih makin lapar, makin terinspirasi mau masak ini itu jadinya, he he he.

 

Lastly… yang doyan masak ikutan gabung yuk ke grup Facebook Eating In! ini grup FB kecil-kecilan yang saya buat (dan private sifatnya, supaya menghindari spam seperti di grup masak yang biasanya pada rame-rame) untuk saling share ide dan foto makanan.

Klik untuk link grup Facebook Eating In! di sini.

Ada tips membuat bekal lainnya? Share dong 🙂

 

 

Sebelum-sebelumnya saya pernah bercerita tentang pie dan donat khas NZ, kala itu saya cerita juga ke teman saya di Indonesia dan asumsinya, bakery tempat membeli pie dan donat ini mirip BreadT***?

Bakery di New Zealand jumlahnya banyaaaaak, tempat-tempatnya sederhana dan banyak yang dimiliki dan dikelola oleh imigran, lho! Pada jamannya banyak imigran dari Kamboja yang mencari suaka di sini pada tahun 1970an dan kebanyakan dari mereka sekarang membuka bakery (sampai menang pie award segala) walaupun banyak juga pemilik bakery yang asli Kiwi, orang China, saya juga pernah melihat pemilik bakery asal Vietnam.

Minggu pagi, lapar, kami pun pergi ke bakery dekat rumah. Namanya Northcote Bakery, tempatnya sederhana di kompleks belanja kecil dan menyediakan roti, pastry, kue dan tentunya pie yang fresh setiap harinya. Juga ada mesin kopi kecil dan minuman dingin. Saya sih nggak coba kopinya karena instan — masih enakan kopi di rumah haha.

Penampilannya bakery yang sangat sederhana. Dulu waktu baru pindah kemari, saking sederhananya saya suka jalan lewat dan nggak sadar isinya makanan-makanan enak karena banyak restoran dan supermarket Asia di kanan kiri si bakery.

Kue-kue yang mejeng di display — tart-nya mirip base tart buah di Indonesia tapi isinya bukan buah. Terus ada muffin, biskuit, coklat, donat coklat dan donat gula, dsb.

Ini dia food warmer yang paling enaaaaaaaak! Bermacam varian pastry hangat yang baru dipanggang di pagi hari. Sampa ada yang ukuran mini segala! Potato top artinya berdasar pastry, isinya daging dan gravy dan di atasnya topping mashed potato — lalu dipanggang sampai si mashed potato atasnya crispy.

Yang menurut saya lucu, mereka juga jual telur rebus seharga 90 sen haha. Bakery ini tergolong murah meriah karena di daerah suburbia. Kalau di cafe-cafe keren di city, sandwich yang seperti di bagian atas seharga $2.80 harganya paling murah $4.50. Di bakery suburbia seperti ini juga isinya lebih gede-gedeee dan banyak walau penampilannya ya nggak secantik yang di cafe. Tapi enakan yang model begini menurutku. Ibarat makan nasi padang di tempat sederhana vs makan nasi padang di tempat yang mewah — enakan nasi padang sederhana.

Aneka slices dan cookies buatan mereka. Untuk ukurannya… ini muraaaaah banget.

Penampakan close up si krim donat. Luarnya donat dan isinya apel (seperti isi apple pie) dan whipped cream. Terus ada topping icing sugar dan ceri.


Dan yang terakhir… sarapanku. Mince and cheese pie. Flaky crust, gravy and cheese… dimakan hangat saat cuaca mendung.

Teman lama saya dari jaman kuliah dulu, Lia, datang berkunjung. Karena saya bekerja dan jatah cuti sudah habis, jalan-jalan sendirilah Lia dan saya menemani waktu akhir pekan saja karena Lia di Auckland hanya beberapa hari lalu jalan-jalan ke South Island. Salah satu tempat yang wajib dikunjungi kalau jalan-jalan ke NZ adalah weekend farmers market-nya. Banyak sekali bertebaran di mana-mana — Sabtu itu saya mengajak Lia untuk ke French farmers market di daerah Parnell, sekalian jalan-jalan ke katedral dekat sana soalnya.

Kenapa disebut French farmers market? Soalnya bertempat di La Cigale French Cafe. Jadi ada cafe-nya yang menyajikan kopi dan pastry-pastry fresh menggugah selera dan di area parkiran cafe-lah weekend market alias pasar akhir minggu ini diadakan.

La Cigale Market, Bistro & Cafe
69 St Georges Bay Road, Auckland 1052, New Zealand
Cafe buka setiap hari dari pagi, market hanya ada setiap hari Sabtu dan Minggu pagi sampai pukul 1.30 PM

Begitu masuk disambut oleh wanginya pastry hangat yang baru keluar dari oven dan kopi. Terus ada keju dan kue-kue yang bisa dicoba. Saya menyarankan Lia mencoba bacon and egg pie — khas New Zealand! Ini di dalam bagian gedungnya si La Cigale cafe.

Selain pastry dan keju tentunya ada kue-kue — macaron si cantik yang di manapun sepertinya sedang populer saat ini.

Roti ini enak banget, dari adonan roti a la Timur Tengah yang dipanggang fresh di depan muka kita ketika kita order. Kalau gak salah pilihan isinya banyak tapi yang saya ingat cuma lamb alias daging domba, dan spinach and ricotta. Kami pesan yang spinach soalnya saya lagi nggak makan daging domba… enak banget karena fresh, asin dan gurih bercampur jadi satu.

Lagi-lagi fresh baking yang tampilannya menggoda. Kalau ke sini ketika lapar… wah bisa-bisa kalap mata dan makan kebanyakan. Oh iya kebanyakan weekend farmers market model begini tidak semua stall-nya menyediakan Eftpos alias metode pembayaran pakai kartu. Kami-kami di sini jarang banget deh bawa cash jadi hal beginian harus diingat — kalau nggak repot deh cari ATM atau stall yang menyediakan jasa cash out.

Namanya juga French market jadi kudu menyediakan fresh crepes dong. Saya nggak makan, tapi dulu pernah coba dan enak banget yang rasa lemon and sugar. Sederhana, hanya crepes tipis hangat ditaburi gula dan kucuran jeruk lemon segar. Sayangnya di market ini nggak ada stall yang menyediakan mussels atau whitebait fritter. Padahal enak, khas NZ dan saya pingin banget makan seafood pagi itu — dan juga pengen suruh si Lia mencoba.

Dua malam seminggu La Cigale juga buka sampai malam menyediakan hidangan a la Prancis. Ini belum dicoba tapi masuk list sih — sepertinya enak dan harganya masuk akal dibandingkan resto a la Prancis lainnya.

Siapa yang suka fresh oysters angkat tangaaaaaan! Saya dulu nggak doyan, geli-geli gimana gitu. Setelah pindah kemari dan mencoba yang segar… wah… enaaaaaaaak banget! Seperti stall Mahurangi oysters ini. Kerang-kerangnya baru ditangkap subuh itu katanya dan memang rasanya betul-betul segar. $12 untuk setengah lusin, dibukain, dimakan di sana. Puas banget, setengah lusin nggak cukup tapi sayang dompet hahahaha.

Ini dia muka bahagia kami di depan stall-stall yang enak-enak. Hari itu sunny sekali, masih bisa pakai baju summer, padahal hanya dua minggu yang lalu! Sejak minggu kemarin, cuaca pokoknya tiba-tiba jadi buruk.

Setelah baca postingannya Eva tadi pagi yang berjudul Alcohol, Pornography and Rape saya jadi teringat tentang pengalaman saya sendiri; saya pernah mendapatkan telepon-telepon iseng dari seseorang yang berbau seksual, and verbally assaulting. Saya mengalami sendiri yang namanya victim blaming, yang dibahas Eva di postingannya ini.

Singkat cerita seorang laki-laki dulu sering menelepon ke cafe tempat saya kerja dan ngomong jorok. Orang Indonesia. Setelah melapor polisi dan sebagainya kami pun tahu identitasnya. Di atas kertas, dari keluarga baik-baik. Kalau nggak kenal, pasti kamu kira dia berpendidikan. Nyatanya…

By the way saya masih sering lihat fotonya seliweran di Facebook kenalan-kenalan di Auckland. Dia masih di sini sih, tapi sudah nggak pernah ganggu saya lagi. Mungkin kapok, karena oleh polisi yang menangani kasus saya (orangnya sumpah baik banget) si cowok insial B ini dipanggil ke kantor polisi dan digertak keras oleh si polisi. Sebagai status mahasiswa dengan student visa tentunya ia tidak mau dideportasi karena masalah ini, kan? Karena salah satu gertakannya polisi tersebut adalah kalau B berlaku macam-macam lagi, polisi akan menghubungi pihak imigrasi.

Ceritanya pernah saya share melalui postingan Pengalaman Stalker.

Ketika saya berbagi cerita tentang hal ini (saat itu, dan sesudahnya) saya sempat mendengar komentar-komentar seperti di bawah:
– “Kamu sih posting foto di pantai.”
– “Kamu sih pakai baju seksi/pendek/terbuka dll”
– “Makanya jangan suka posting foto di Facebook.”
– “Teman kamu aneh-aneh sih.”
dsb.

Komen yang menyakitkan hati, tidak membantu dan tidak terbukti pada akhirnya, karena si cowok ini punya Facebook juga nggak (dan kalau kamu tidak berteman dengan saya di FB, profile saya terkunci habis. FB pribadi tersebut juga orangnya nggak banyak). Soal saya berfoto lagi liburan di pantai (saya di-tag oleh teman) — emangnya di pantai pake baju lengkap lagi berenang? Ya malah aneh dong. Soal baju seksi, menurut saya baju saya masih normal. Sekalipun tidak normal misalnya, IT IS STILL NOT OKAY TO HARRASS AND ASSAULT PEOPLE JUST BECAUSE YOU ARE A SHITTY PERSON.

Jujur mendengar komen seperti itu saya merasa tersudut. Takut, malu, merasa tidak aman. Saya tidak berani cerita pada orangtua, takut mereka khawatir dari jauh. Takut mereka akan ikutan menyalahkan saya, habisnya banyak orang yang menyalahkan saya. Sekarang, setelah masalahnya lewat saya bisa melihat dengan jelas itu bukan salah saya, saya tidak boleh takut berbagi, apalagi malu! His disrespectful behaviour was not my fault. Dan saya mengerti mengapa korban pelecehan dalam bentuk apapun, itu kadang takut bercerita. Ya, karena mereka merasa tidak aman, takut disalahkan, nanti kalau berbalik bagaimana, dan sebagainya.

We need to stop making the wrong people feel responsible for what they don’t do.

x

Kalau ditanya makanan apa sih yang khas dari New Zealand? Semisal rendang dari Indonesia, nasi lemak dari Malaysia, pasta dari Italia atau pastry dari Perancis… jawabannya nggak ada. Saya sudah pernah tanya M juga dan selain pavlova, makanan di sini adalah adaptasi dari makanan pendatang-pendatang di Selandia Baru ini (yah namanya aja udah pake kata ‘Baru’ ya) tapi hasil adaptasinya enak-enak kok jadi Kiwi style. Misalnya pie, pie kan aslinya bukan dari NZ tapi di NZ sini pie terkenal banget dan style-nya juga beda dari segi pastry dan isi.

Part 1 ini isinya adalah makanan, rencananya saya pengen bikin part 2 yaitu snack (inspirasi dari waktu beli afghan cookie — khas NZ — yang ternyata lumayan mengundang rasa penasaran yak hehehe).

Oke berikut makanan-makanan yang wajib dicoba kalau lagi di NZ versi saya.

fantacy-pavlova-hero-NEW-SITEPavlova
Suka disangka oleh orang awam sebagai makanan dari Australia, makanan pencuci mulut ini sebetulnya berasal dari New Zealand. Dari list ini pavlova ini adalah satu-satunya yang murni asli makanan NZ. Pavlova terbuat dari putih telur yang dikocok keras dan dicampur dengan gula. Biasa dimakan dengan topping buah-buahan, saus buah (semacam berry coulis seperti di foto) dan whipped cream alias krim kocok. Banyak tempat yang menjual dari restoran fine dining sampai supermarket biasa. Biasanya kami kalau kepingin belilah satu loyang di supermarket terus potong buah atau pakai buah kalengan dan saus buah instan dan bikin krim kocok sendiri. Orang sini sangat bangga dengan pavlova, dan kamu bisa saja menyinggung mereka kalau bilang pavlova dari Australia hehehe. Enak tapi menurut saya agak manis banget jadi kalau saya yang makan, banyakan krim dan buahnya dibanding pavlovanya.
Fotonya dari website annabel-langbein.com

pie-copy.jpgMince and Cheese Pie
Ini salah satu makanan kegemaran saya! Orang New Zealand suka sekali makan pie, bahkan setiap tahunnya diadakan kompetisi pie untuk menentukan pie paling enak tahun itu dari bakery mana. Untuk pie yang enak pastrynya harus lembut, buttery tapi crispy di atasnya. Yummy! Mince and cheese pie ini isinya biasanya filling yang terbuat dari daging sapi cincang nan gurih, lalu ditaruh keju di atasnya sebelum ditutup pastry lagi. Pokoknya enak banget. McDonalds NZ juga menjual pie ini versi mereka namanya Georgie Pie. Selain mince and cheese pie, steak and cheese pie juga terkenal. Kalau main ke Auckland saya menyarankan pokoknya harus coba pie di Little and Friday bakery — mince and cheese pie-nya thumbs up!
Gambar dari GAdventures.com

downloadSausage Rolls
Salah satu makanan yang enak sekali dan saya juga senang membuatnya — karena mudah dikreasikan dengan daging cincang apa saja. Mau babi, sapi, ayam, kambing semua bisa kecuali seafood. Makanan andalan yang suka saya buat kalau didaulat untuk bikin kudapan, habisnya mudah dan enak! Prinsipnya simple saja, daging cincang dibumbui dan dibalut kulit puff pastry dan dipanggang. Hasilnya? Perfect for morning tea, alias snack pagi sebelum makan siang, atau kudapan piknik! Atau mau gampang beli ke bakery mana saja, bahkan tersedia beku di supermarket.
Gambar dari chelseawinter.com

feijoa.jpgBuah Feijoa
Hanya ada di musim gugur sayangnya, untungnya saya punya pohon yang berbuah banyaaaak di musim gugur, di belakang rumah kami. Buahnya bertekstur mirip guava alias jambu, tapi wangi sekali. Saya suka campurkan ke dalam smoothie atau dimakan begitu saja juga enak. Atau dicemplungin ke dalam segelas wine.
Foto dari breontheroad.com

13-26-likes-the-classic-kiwi-cream-bunJam and Cream Donuts
Simple saja, donat biasa tanpa bolongan di tengah (menurut saya nggak selembut tekstur donat di Indonesia, teksturnya lebih keras sedikit dan lebih mirip roti walau nggak sekeras roti) dibelah dua dan diisi selai berry dan krim kocok. Ke bakery atau supermarket pasti ada, menurut saya enak dan pasti yang doyan makan manis suka! Kata M kenangan masa kecilnya adalah makan donat ini, sampai sekarang kalau lewat bakery juga masih suka beli.
Foto dari longwhitekid.wordpress.com

fncFish and Chips
Juaranya! Siapa sih yang nggak suka gorengan? Menurut saya yang paling enak adalah beli di toko takeaway kecil dan dimakan di taman atau pantai terdekat. So Kiwi! 🙂
Ikan yang tersedia biasanya ikan lokal seperti gunnard, tarakihi, snapper atau hoki — saya paling suka tarakihi atau snapper. Makannya harus pakai saus tomat. Dan biasanya saya juga tambahkan orderan gorengan lainnya khas di sini, yaitu deep fried mussels (isinya kerang hijau NZ yang dibalut adonan dan goreng garing ) dan mussel fritters (semacam omelet kerang hijau NZ).
Foto dari birddogsprofit.com via Pinterest

Selain ini yang boleh dicoba juga hangi, makanan tradisional khas suku Maori. Hangi ini memasak sayuran seperti kumara (NZ sweet potato), wortel dan sebagainya dengan daging dengan cara menggali lubang di tanah, dipanaskan lubangnya dan makanannya dimasukkan ke lubang. Menurut saya rasanya biasa aja and cenderung hambar? Emang dasar lidah Indonesia kalau makan yang nggak ada bumbunya, nggak doyan. Tapi bolehlah dicoba kalau lagi di sini.

Dan satu lagi… ini sih saya nggak doyan ya. Tapi M suka dan dia bilang kudu dimasukkan ke postingan ini karena khas Kiwi katanya hahaha.
DSC06043-L.jpgMarmite and Chips Sandwich
Menurut saya pokoknya ini makanan aneh! Marmite itu spread yang terbuat dari fermentasi yeast alias ragi. Rasanya… susah dideskripsikan. Mirip Vegemite (kalau yang di negaranya ada cobain deh) tapi lebih pungent dan kuat rasanya. Terus dioleskan di roti tawar, masukin keripik kentang, makan deh. Pokoknya aneh buat saya, enak buat orang-orang yang gedenya makan beginian hahaha.
Gambar dari breontheroad.com