Archive

Monthly Archives: September 2016

Selama 27 tahun saya hidup di dunia, tubuh saya pokoknya sehat terus. Nggak punya alergi apa-apa. Nah tahun ke-28 mendadak saya alergi gigitan nyamuk dan serangga (pokoknya habis-habisan bengkaknya), terus alergi band aid (Hansaplast) dan plaster biasa harus pakai yang hypo allergenic — sepertinya kulit sensitif dengan lemnya. Tapi masih dalam batas alergi biasa yang minum antihistamine dan oles krim juga sudah oke kok.

Suatu hari Selasa biasa, saya di kantor. Pukul 12.30 seperti biasa makan siang, saya makan bekal kwetiau yang bawa dari rumah. Setelah jam makan siang, kira-kira jam 2 siang perut saya rasanya nggak enak sekali seperti sakit maag gitu (saya memang punya maag). Sepertinya indigestion karena makannya cepat-cepat, habisnya lapar. Pulang ke rumah harusnya saya masak spageti, tapi karena perut masih nggak enak saya putuskan masak bubur. Selesai masak bubur, karena masih nggak enak badan saya minum obat maag resep dokter (yang sudah setahun belakangan ini saya konsumsi kalau maagnya kambuh — jarang sih kambuhnya untungnya) dan makan si bubur. Seusai makan bubur saya masih bisa Snapchat, nonton TV, terus tiba-tiba perut rasanya sakiiiiiiit banget. Bener-bener abdominal cramp terparah dalam hidup saya pokoknya sampai nangis, tapi saya masih bisa bercanda bilang kalo ini aja sakitnya kayak gini gimana kalo kontraksi beranak? hehehe.

Selesai episode melilit yang menguras air mata ini saya ke WC untuk mencoba buang air. Nah di WC ini masih sakit banget dan saya merasa ada sensasi pedas/tingling/gatel/menggigit di daerah kelopak mata dan bibir (catatan: Ini Jangan Diabaikan!) tapi saya acuhkan pikir mungkin tangan saya kotor terus nggosok2 muka yang berair mata itu. Saya sukses muntah dan masih nggak enak badan jadi saya ke kamar untuk baring-baring di kasur. Selang setengah jam saya perlahan-lahan mengalami badan terasa panas dan gatal dan tenggorokan mampet, seperti ada makanan yang nyangkut gitu, padahal kan nggak ada makan apa-apa setelah muntah.

Sukseslah saya ternyata sudah membalon bengkak dan langsung dilarikan ke Accident and Emergency alias klinik gawat darurat. Baru pertama kali seumur hidup masuk ke klinik gak usah antre langsung masuk dan dirawat. Saya diberikan suntikan adrenalin yang sukses bikin kejang-kejang pula. Untungnya cuma sebentar sih dan dikasih obat apa lagi saya lupa… dan malam itu saya di rumah sakit. Yang seramnya kan saya takut sama jarum, selang, suntik-suntikan, rumah sakit… sampai nangis kaya anak kecil dengan lebay. Orang ambulansnya sampai kasih gas happy terus bilang gimana ini kamu kalau mau beranak? hahahahaha… let’s not think about that…

Muka lemas di rumah sakit (maaf linknya rusak jadi di-delete dulu ya untuk sementara). Ini sudah bisa senyum soalnya sudah dipindahin dari UGD ke rumah sakit biasa, dikasih gas, periode suntikan sudah selesai dan dokternya ganti. Dari dokter cewek yang pelit ngomong diganti ke yang … ganteng banget mirip Jason Statham, baik dan ramah lagi ha ha ha ha… bikin pasien ganjen cepet sembuh kan jadinya dan nurut aja dikasih obat apa.

Lucu ya ternyata serangan alergi begini (namanya anaphylaxis) bisa muncul seiringan umur — alerginya bisa tiba-tiba ada aja gitu. Sekarang saya masih harus ketemu allergy specialist untuk tahu sebenarnya reaksi ini karena apa? Karena bubur? Obat? Bahan kapsulnya si obat? Entahlah.

Oh iya saya masuk UGD, dokter dan rumah sakit ini gratis asli gak bayar apa-apa karena situasinya tergolong accident — jadi dibayar oleh pemerintah NZ alias gratis. Hanya bayar 90 dolar untuk biaya klinik after hours alias tengah malam (tagihan dikirim lewat pos datang belakangan, terus yang bayar asuransi). Kalau kata Mama saya di Jakarta kalo gak pakai uang muka, gak ditolongin tuh sama dokternya. Masa iya sih?

Advertisements