Archive

Monthly Archives: January 2017

Senangnya akhir pekan kemarin, kota Auckland ulang tahun jadi kami mendapatkan long weekend. Libur hari Seninnya. Nuansa liburan sudah dimulai ketika saya pulang kerja hari Jumat sore. Bersama teman serumah sekaligus sahabat dekat saya, kami merencanakan malam kencan ala girly. Makan KFC (jarang-jarang nih kami makan KFC!), beli frozen coke dan nonton La La Land.


Berhubung saya orangnya suka sekali film musikal yang model retro. Saya suka film ini. Sayang endingnya merusak — kurang masuk akal! Tapi nggak akan saya bahas di sini soalnya nggak mau kasih orang spoiler dong 🙂

Semangat banget juga karena baru pertama kali ini saya mendapatkan Chinese New Year alias hari Imlek yang bertepatan dengan hari libur kerja, yakni hari Sabtu. Biasanya tidak berasa spesial karena merayakannya sembari kerja. Tetapi hari Sabtu Imlek kemarin, kami merayakan dengan makan meja ala Canton dengan teman-teman Malaysia saya.


Selamat Gong Xi Fa Cai dari kami berdua!


Senangnya lagi adalah berkat yang nggak terduga, dapat oleh-oleh Tokyo Banana dari teman yang baru pulang dari Jepang. Beneran nggak terduga dan tentunya senang karena saya nggak pernah mencobanya. Sekarang, rasa penasaran pun sudah terjawab dengan puas. Dulu saya lihat postingan Tokyo Banana ini dari blog Ci Ine Elkaje yang bener-bener bikin penasaran.

Kebahagiaan saya makin lengkap dengan kehadiran… si Kobo baru! Ya, saya mendapatkan ebook reader Kobo seharga $40 saja. Memang model lama sih, tapi bisa dipakai untuk membaca dan masih bagus. Jadi ceritanya saya tertarik untuk membeli Kindle. Lalu teman kerja saya bilang dia ada Kobo di rumah yang nggak terpakai (hadiah yang tak diperlukan ceritanya) — saya mau nggak. Dia menawarkan saya mencobanya kalau saya suka boleh buat saya dengan harga $40 karena model lama. Dengan girang saya mencobanya dan saya suka 🙂 saya memang tahun ini ingin balik ke hobby membaca buku yang saya tinggalkan beberapa tahun terakhir. Sekarang lagi mencoba untuk cari buku Indonesia dalam format epub untuk diunggah dan dimasukkan ke si Kobonya.


Membaca Kobo di pantai. Hari Seninnya karena hari libur dan cuaca cerah saya dan teman serumah memutuskan untuk ke pantai untuk bersantai. Beruntung dan bersyukurnya tinggal di Auckland, di manapun kita tinggal pasti dekat dengan pantai. Biasanya 15 menit menyetir sudah ada, dan bersih pula. Sayangnya saya nggak bisa berenang. Saya bawa Kobo, dia bawa Kindle. Kami beli smoothies, kopi dan bekal makan pita yang sehat. Pokoknya hari santai yang mengasyikkan. Tapi sepertinya kami kena heat stroke alias serangan kepanasan karena pulangnya ya ampun… capek sekali rasanya! Padahal habis bersantai, lho. Minumlah air putih yang banyak.


Salah satu ending weekend saya yang menyenangkan ini agak kurang menyenangkan. Biasa saya orangnya kurang teliti. Kalau membersihkan rumah saja suka dikritik oleh M katanya saya suka ketinggalan bagian-bagian yang terlupakan!


Inilah akibatnya kalau jadi orang kurang teliti. Saya kurang membubuhkan sunblock di salah satu bagian kaki… jadinya si kaki ini merah seperti kepiting rebus alias kena sunburn akut! Dan kelihatan ada bekas-bekas jarinya hahahah… jadi memang kurang teliti, terlupakan lalu kena deh akibatnya. Tidak apa-apa, untuk pelajaran nantinya. Matahari musim panas Auckland memang menyengat dan menakutkan! Sebagai catatan saja di NZ ini lapisan ozonnya antara tipis sekali atau sudah bolong sama sekali. Jadi kalau bule-bule putih (kayak si M contohnya) gak pakai sunblock, di matahari 5 menit aja udah bisa terbakar. Terbayang kan bahaya dan panasnya seperti apa…

Advertisements

Postingan ini saya tulis karena terinspirasi oleh beberapa teman sekolah saya jaman dulu di Jakarta, yang sekarang profesinya adalah sebagai agen asuransi perusahaan besar. Saya masih kontak dengan mereka melalui Path dan Facebook, dan jujur saja saya agak kaget dengan postingan-postingan mereka yang benar-benar membuat kabur batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Mengapa saya berpikiran seperti itu?

Karena hampir setiap hari di Path mereka akan berkoar tentang pentingnya berasuransi, disertai dengan cerita-cerita seram orang yang nggak punya asuransi kesehatan misalnya dan akhirnya menyesal. Sering juga ceritanya tentang kisah sukses para kliennya yang mendapatkan biaya pengobatan dari perusahaan tersebut. Kisah sukses biasanya diikuti oleh resi pengembalian dana yang nama pasiennya di-blur tapi tetap kelihatan biaya apa saja yang dikembalikan oleh pihak asuransi. Ada juga yang sering mengunggah foto serah terima polis dengan si klien sambil salaman tangan dan kadang, thumbs up alias ibu jari oke berpose. Jujur saja saya merasa teknik ini agak OTT alias over the top. Terus bagaimana dengan privasi kliennya?

Saya sendiri bekerja di bidang asuransi juga, walau bukan asuransi publik dan saya termasuk orang yang sadar untuk berasuransi. Sampai perhiasan saja saya buatkan surat nilainya (valuation) dan dimasukkan ke asuransi home and content untuk rumah (kalau hilang, dicuri atau rusak bisa diklaim). Karena itu saya merasa sangat heran kepada orang-orang yang mempromosikan asuransi melalui akun sosial media pribadi… apalagi sampai setiap hari! Teman saya Michele bahkan mengatakan “Wah kalau punya kontak BB-nya, broadcast tuh tiap pagi, kata-kata mutiara asuransi!”

Sebagai sosok orang yang sadar asuransi saya pun penasaran apakah orangtua saya memiliki asuransi, terutama asuransi kesehatan. Tahu sendiri di Indonesia biaya berobat sangat mahal. Memang sih sekarang ada BPJS, tapi kalau sakit berat kan repot sekali. Jawaban Mami? Tidak, katanya. Alasannya, untuk apa, tegas beliau. Beliau memposisikan agen asuransi setara dengan agen bank kartu kredit dan bisnis MLM – banyak tipunya!

Memang saya tahu berurusan dengan agen bank kartu kredit dan MLM menyebalkan. Sewaktu SMA, saya pernah diajak makan oleh teman les saya yang katanya mau membagi sesuatu yang special untuk saya. Saya masih ingat, makan bakso di mall Citraland lalu datanglah temannya yang dengan semangat langsung menjelaskan tentang piramida MLM yang dijalaninya. Pokoknya mudah, nanti uangnya berlipat asal saya banyak mengajak orang. Persuasif sekali. Dan jawaban saya apa? Tentu saja tidak. Dan setelah itu saya masih suka dikontak dan dicari terus, yang membikin takut kayak dikejar-kejar kreditor saja.

Sedangkan agen asuransi, oleh Mami sayapun diceritakan banyak cerita horror. Dari yang menipu tanpa polis, kalau mau klaim susah dihubungi, pingpong ke sana kemari dan sebagainya. Salah satu cerita yang paling berkesan adalah salah seorang teman yang mengajak Mami dan Papi saya untuk membeli asuransi kesehatan. Pokoknya penyakit apapun ditanggung – lalu beberapa tahun ini si Om sakit jantungnya kumat. Dan ternyata janji si agen sia-sia belaka karena penyakit jantung ini termasuk pre-existing condition, penyakitnya yang sudah diidap sebelum daftar premi asuransi. Pengobatan tidak tertanggung dan agen yang bersangkutan kabarnya sudah berhenti, jadi si Om ini tidak bisa mencari dan minta pertanggungjawaban atas kebohongannya si agen.

Apakah betul di Indonesia, agen asuransi imej-nya setara dengan MLM dan kartu kredit ini. Bikin takut orang, takut dijaring dan ditipu. Apalagi kalau sudah lihat yang lebay di sosial media itu, orang-orang malah rata-rata jadi malas… kalo kata Mami, kayak cari mangsa saja.

Kalau benar kasihan sekali karena menurut saya asuransi itu banyak manfaatnya. Kalau benar ada agen yang kurang bertanggung jawab ya rusaklah susu sebelanga karena nila setitik. Atau mereka menbangun imej berlebihan sampai orang-orang takut melihatnya mencari mangsa? Namanya juga masyarakat, cerita jelek pasti lebih cepat beredar dari cerita yang baiknya. Di NZ yang notabene biaya kesehatan ditanggung pemerintah saja saya masih membeli asuransi kesehatan – supaya kalau sakit bisa masuk instansi swasta yang pelayanannya pasti lebih bagus dan cepat.

Bagaimana pengalaman kalian dengan agen asuransi di Indonesia? Apa betul seperti ini? Bagi dong kesan-kesannya 🙂

Apa sih proses standar orang menikah rata-rata, zaman sekarang? Yang saya lihat dari sosial media, mulai dari proses pengumuman pertunangan (kadang, lengkap dengan foto dan video proses lamaran, biasanya pihak laki-laki melamar dan menanyakan dengan cara nan romantis apakah si pacar mau menikah dengannya), lalu nanti muncul foto pre-wedding, undangan dan tanggal pernikahan, lalu menikah dan resepsi pernikahan. Jarak perencanaan pernikahan ini bisa memakan satu tahun (atau lebih!) – bedanya kalau di Indonesia sepertinya sudah tunangan tak resmi dulu lalu tunangan resminya beberapa hari sebelum hari H menikah.

Anyway kenapa saya terinspirasi dan memutuskan untuk menulis ini? Kabar gembiranya, setelah bersama selama 4 tahun lebih status M sekarang naik pangkat dari pacar ke tunangan 🙂
Keputusannya diambil bulan Oktober 2016. Proses kami agak nggak ikut pakem standar lainnya, yang membuat cerita sendiri di balik persiapan kami menikah ini. Pertama, kami betul-betul memutuskan untuk menikah. Bukan tunangan yang lama sambil mempersiapkan pesta pernikahan. Kami merasa sudah bareng sekian lama, sudah saling cocok, keluarga mendukung dan mereka juga kebetulan tipe yang nggak mau ribet – jadi kami memutuskan ya sudah menikah sederhana saja, jadi tidak butuh waktu yang lama sekali untuk mempersiapkan pesta pernikahannya.

Lazimnya budaya wedding di sini adalah menikahnya dinikahkan oleh celebrant (orang yang punya lisensi untuk menikahkan) yang dilanjutkan oleh pesta (dinner and drinks) di tempat. Untuk booking tempat menikah (restoran, winery atau venue seperti aula gedung kecil biasanya) harus dilakukan jauh-jauh hari karena cepat sekali penuh dan tidak tersedia kalau dekat dengan hari H yang diinginkan. Karena itu persiapan (pesta) pernikahannya biasanya antara 1-2 tahun di depan (jarak antara engaged and married). Tidak seperti di Indonesia, nggak usah melakukan prosesi religi kalau tidak mau. Bisa menikah secara sipil saja (jadi beda agama atau sesama jenis pun bisa menikah dengan resmi). Nanti saya ceritakan lebih lanjutnya, ya!

Sewaktu kami memutuskan menikah, tidak ada proses lamar melamar berlutut memberikan cincin ala ala film romantis. Pertama, karena saya dulu pernah mengatakan kepada M please jangan lebay-lebay apalagi saya orangnya nggak suka kejutan-kejutan besar, hahaha. Lalu saya nggak mau nunggu dilamar — jadi sudah bilang jangan lamar-lamar ya! Haha. Menurut saya hubungan kami adalah hubungan mutual yang segala sesuatunya harus dirundingkan dan diputuskan bersama, termasuk soal pernikahan – kalau saya nunggu dilamar terus ya artinya keputusan menikah ada di tangan M seorang, bukan di tangan kami berdua. Ini pendapat dan perasaan pribadi saya lho ya, saya yakin perasaan pribadi setiap orang berbeda dan nggak melihat proses melamar ala “Will you marry me?” ini seperti saya. Kami sedang ngobrol-ngobrol santai dan mendadak jadi serius, pokoknya hasil obrolan itu adalah wow oke kami akan nikah.

Yang lucu adalah ketika kami mengabarkan berita ke orang-orang. Reaksinya macam-macam. Ada yang menyelamati saja, yang saya jawab dengan rasa terima kasih yang tulus. Lalu ada juga yang dengan bilang, “Selamat ya yang udah/baru dilamar!”. Ada juga yang mengatakan “Selamat ya, you deserve it!” — yang ini saya jawabnya agak malas-malasan karena statement ini agak bikin saya merasa sedih dan remeh (saya yakin orang-orang ini nggak bermaksud seperti itu), karena tunangan/menikah kok kayaknya pencapaian/achievement yang sejajar dengan promosi kerja atau lulus kuliah, suatu ‘hadiah’ dari laki-laki buat saya. Banyak juga yang menyelamati (dan bahkan ucapan selamatnya sepertinya tertinggal) lalu minta undangan pesta – yang saya jawab pakai senyum saja. Lalu ketika ditanya gimana M melamar saya orang-orangnya agak-agak kecewa dan terkejut mukanya waktu saya bilang nggak ada lamar-melamar ala romantis.

Oh iya, Mami saya orangnya sangat percaya ramalan tanggal. Jadi walaupun kami memutuskan menikahnya bulan Oktober, Mami meminta untuk jangan ‘diresmikan’ statusnya sampai tanggal 3 November 2016. Menurut orang yang membantu Mami hitung tanggalan, tanggal 3 November adalah hari yang baik apalagi shio M tahun lalu sedang jelek peruntungannya. Jadi saya baru resmi memakai cincin, mengganti status dan bilang ke orang-orang sesudah tanggal 3 November itu (kecuali beberapa teman dekat yang khusus saya memang gak sabar, sudah diberitahu sebelumnya).


Sedikit cerita tentang cincin pertunangan saya alias engagement ring saya di atas ini – cincin ini adalah cincin pertunangannya almarhum nenek M (dari mamanya) dari zaman tahun 1940-an. Cincin ini diberikan kepada saya sebagai tanda kalau keluarganya menyambut saya menjadi bagian keluarga mereka yang resmi. Ketika diberikan ke saya, cincinnya sudah gelap dan ukurannya jauh lebih besar dari jari saya, bahkan dimasukkan ke jempol juga tidak muat. Lalu dibawa ke spesialis perhiasan untuk dibersihkan, dipoles dan disesuaikan ukurannya. Jadi seperti baru lagi! Dan tentunya sejarah di baliknya membuatnya sungguh sangat spesial bagi saya.

Oke sekian dulu postingannya, nanti malah kepanjangan – proses persiapan nanti akan saya ceritakan di postingan lanjutan ya!

Saya sering sekali mendengar proses mendaftar dan mendapatkan visa turis untuk berlibur ke Amerika Serikat yang horor, menakutkan dan buat hati kejang-kejang. Saya banyak mendengar cerita-cerita penolakan visa oleh mas-mas bule di balik counter yang berhati dingin dan keji, tak berperasaan, pokoknya DITOLAK! Untungnya selama ini sih saya belum pernah merencanakan berlibur ke negeri Paman Sam jadi belum pernah mengalami sendiri prosesnya yang konon sangat ribet dan menyebalkan.

Sampai tahun ini.

Saya berencana berlibur ke Amerika Serikat akhirnya, tepatnya ke California dan Nevada. Tiket pesawat yang murah meriah membuat saya tergiur dan akhirnya belilah kami (saya dan M) tiket pulang pergi Auckland-LA yang herannya lebih murah daripada tiket untuk ke Singapura, Malaysia atau Jakarta! Saya pun mempersiapkan diri untuk mendaftar visa turis, dan memutuskan untuk mendaftar beberapa bulan sebelum berangkat (takutnya kalau kejauhan nanti jadi masalah lagi, kan kita nggak tahu ya).

Untuk proses pendaftaran di konsulat cabang Auckland, New Zealand bisa klik di SINI.

Gambar dari http://torontoniagarafallsbus.com/wp-content/uploads/2015/12/usa-visa-glitches.jpg

Pengalaman saya seperti berikut.

Saya mengikuti cara-cara yang dengan sangat jelas dimuat dalam website tersebut. Pertama saya mengambil foto dengan resolusi dan syarat yang diajukan oleh pemerintah Amerika Serikat untuk mendaftar visa. Setelah mengambil foto (saya ambilnya di rumah saja, background putih). Seusai pengambilan dan pengeditan foto saya mengisi form DS-160 secara online, dengan sangat cermat dan teliti karena diwanti-wanti jawabannya nggak boleh salah. Saya mengisi form selama satu jam karena pertanyaannya banyak sekali dan mengecek kembali supaya informasi yang diberikan tepat dan akurat. Sedikit catatan kaki M yang memiliki paspor NZ hanya perlu mengisi visa waiver form secara online selama kurang lebih 15 menit, mencantumkan foto dan membayar NZ$14 saja saudara-saudara!

Setelah submit form tersebut saya menerima email konfirmasi DS-160 yang harus di-print untuk dibawa ke interview. Lalu diarahkan untuk membayar biaya pendaftaran visa turis secara online. Biayanya NZ$240. Setelah membayar pihak konsulat akan mengirimkan email otomatis yang isinya resi pembayaran, yang seperti form sebelumnya harus di-print untuk dibawa ke konsulat. Setelah beres urusan membayar saya pun membuat ID login di websitenya dan siap untuk memilih tanggal dan jam interview. Saya pilih hari Rabu pagi, pukul 9.30.

Sesuai dengan petunjuk dan arahan lalu saya menyiapkan dokumen-dokumen untuk penunjang interview di konsulat sebagai berikut:
– Paspor yang masih berlaku dan dua paspor lama yang saya pegang di sini
– DS-160 confirmation form yang dikirimkan ke email.
– MRV receipt / resi pembayaran yang juga sebelumnya sudah dikirimkan ke email.
– Surat dari kantor yang menyatakan saya bekerja di sana dan berapa gaji saya.
– Slip gaji selama tiga bulan terakhir.
– Pas foto ukuran 5x5cm.
– Tiket pesawat pulang pergi.
– Slip cuti dari kantor yang menunjukkan saya akan kembali bekerja di Auckland.
– Itinerary / jadwal selama akan di Amerika.
– Tiket ke festival musik Coachella yang sudah lunas dibayar.
– Bukti rekening bank yang mencukupi.

Pukul 9 pagi saya tiba di konsulat, dan hati saya pun drop melihat antreannya yang mengular di pintu masuk sebelum area security, dan tidak bergerak. Saya antre hingga pukul 9.45 dan akhirnya diperbolehkan masuk. Mungkin mereka yang di dalam terlambat dari jadwal sehingga yang di luar walaupun sudah melewati jam janji kami, tidak diperbolehkan masuk. Ketika tiba giliran saya, saya disuruh meninggalkan tas dan telepon genggam dan masuk ke antrean bagian kanan.

Antre di bagian kanan selama 15 menit saya senang banget karena akhirnya giliran saya… tapi capek deh saudara-saudara! Saya ditanya tujuan ke Amerika, menyerahkan paspor, MRV receipt dan DS-160 form dan disuruh ambil sidik jari di mesin elektronik. Sesudahnya saya disuruh menunggu untuk interview di ruang tunggu sebelahnya. Kirain, tadi sudah interview! Bersungut-sungut sedikit saya menunggu, karena saya izin dengan supervisor saya hanya pergi keluar sebentar, satu jam saja. Tapi ini molor sampai sejam sudah berlalu belum ada tanda-tanda saya bisa pergi secepatnya.

Setelah menunggu selama sejam lagi, nama saya pun dipanggil di loket! Betapa senangnya. Menggenggam setumpuk dokumen saya pun berjalan ke arah loket dan disambut Om-Om beraksen Amerika kental yang mewawancarai saya melalui loket. Pertanyaannya bisa terdengar oleh seluruh orang di ruang tunggu. Selama menunggu sejam tadi saya banyak lho mendengar cerita-cerita menarik orang-orang yang apply, hihihi.

Dan deg-degan sebelumnya ternyata nggak berarti. Berikut cuplikan wawancara saya yang sangat sangat sangat sebentar:

Me: Good morning!
Interviewer (I): Good morning, so how long have you been living in New Zealand for?
Me: Coming up six years this April.
I: What do you do for a living?
Me: I work at xxxxx as an xxxxx
I: So why do you want to visit the United States?
Me: I’m going for a holiday and to Coachella music festival.
I: Any particular act you’re looking to see at the music festival?
Me: Radiohead and Beyonce (padahal nggak juga sebetulnya hahahaha)
I: So who will you be traveling to the US with?
Me: With my fiancee
I: Is he here with you today for visa application?
Me: Nope he’s a New Zealand citizen so he doesn’t need to be.
I: Okay your visa has been approved, your passport will be sent to your address in 2-3 working days!
Me: (melongo dan cengo) thank you!

Melongo dan cengo? Banget! Segala supporting documents yang sudah dibekap dalam genggaman tidak diminta, pertanyaan pun juga tidak ada yang aneh, hanya sedikit banget lagi! Dan langsung diterima. Bersyukur dan merasa beruntung pastinya, karena proses ini jauh dari kata horor yang diceritakan orang-orang. Mungkin lebih ke ribet mempersiapkan dokumennya, mahal membayarnya dan lama antrenya. Tapi sesudahnya ternyata tidak seseram yang saya bayangkan.

Nah sekarang hanya tinggal menunggu paspor saya sampai, dan berharap semoga dapat visanya yang beberapa tahun sekaligus, jadi ada alasan buat pergi lagi (ke Hawaii selalu sale dari sini) 🙂

Saya pernah membaca, kalau statistiknya kucing suka berantem satu sama lain atau kena kecelakaan adalah di malam hari. Karena itu walaupun Loki bebas keluar masuk di siang hari, kami memastikan kalau malam hari dia sudah di dalam. Mengapa si Loki dikasih keluar masuk? Namanya calculated risk. Sama seperti punya anak contohnya, kalau diperam di dalam terus si anak nggak mungkin bahagia, kebebasannya terkekang. Apalagi kucing masih termasuk jenis ‘wild animal’ walaupun judulnya kucing peliharaan, mereka tetap dekat dengan insting primitifnya berburu, jalan-jalan di luar. Ketika masih belum boleh keluar, Loki sedih dan nggak bahagia. Apalagi semua orang rumah bekerja setiap siang.

Sebulan setelah ulang tahun Loki yang kedua, sebuah kejadian mengenaskan terjadi di depan mata kami. Lalai lupa menutup pintu kucing, terlambat sejam sebetulnya, malam itu ketika mobil masuk ke area parkiran rumah Loki yang semangat dengar kami pulang lari dari seberang jalan. Dan tertabraklah Loki oleh mobil malam itu — sebuah mobil yang masih saya kutuki sampai sekarang. Kenapa? Memang jalanan gelap, dan Loki kencang sekali larinya jadi saya tidak menyalahkan pengemudinya. Yang saya sangat marah dan sesali, mobil berhenti setelah menabrak… lalu kabur!

Saya dan M sendiri sudah panik karena Loki setelah tertabrak kabur ke bawah rumah tetangga yang penuh dengan daun-daunan liar tak berpenghuni. Kami pun menghabiskan waktu lebih dari setengah jam untuk mencari ngumpet di mana ini kucing dengan hati cemas luar biasa. Untungnya setelah ketemu, si Loki tampak kesakitan namun baik — dalam artian tidak ada luka robek berdarah-darah. Tidak ada luka luar, tapi ketika diangkat jelas kakinya bermasalah. Kami kira patah tulang, mungkin. Langsung kami larikan ke klinik hewan gawat darurat yang buka 24 jam.

Loki terpaksa kami tinggal karena dia harus dibius dan dicek keadaannya. Malam itu hati kami cenat cenut, karena belum pasti apakah ada pendarahan di dalam? Apa Loki akan selamat? Pokoknya nggak pernah merasa sesedih dan setakut itu seumur hidup saya. Keesokan paginya kami kembali ke klinik. Kabar baiknya, Loki selamat! Akan hidup! Kabar jeleknya, tulang pinggulnya copot dari pelvisnya — jadi ia harus dioperasi secepatnya sebelum tulangnya sembuh dengan tidak baik yang bisa mengakibatkan cacat dan kesakitan luar biasa, apalagi kucing jenis maine coon kan besaaaarrr jadi mereka butuh tulang yang baik untuk menopang berat badannya.

Setelah membayar biaya dokter yang mahalnya aduhai bukan main bikin pusing, kami menitipkan Loki ke dokter hewannya yang biasa (bukan klinik darurat) karena kami harus ke kantor, dan menunggu kabar dari rumah sakit hewan untuk proses operasi. Kami memutuskan untuk operasi, tidak peduli biayanya. Yang penting Loki selamat dan bisa kembali seperti normal.

Sorenya Loki dibawa ke rumah sakit hewan. Dokter bedahnya baik, sabar dan menjelaskan proses yang akan dilalui oleh Loki. Untuk memperbaiki tulangnya harus dipasang tiga sekrup, yang memakan biaya sangat buesar. Biayanya dua kali lipat harga mobil saya. Hampir pingsan! Tapi karena sayang kucing sangat besar, tandatanganlah izin operasi. Dan sedihnya melihat Loki yang biasanya ceria, aktif dan manja, kali ini terkulai lemas tak berdaya. Kalau diangkat ia meraung kesakitan.

Tiga hari kemudian, seusai operasi yang berjalan lancar dan sukses, kami membawa Loki pulang. Loki tidak boleh lompat-lompat dan lari-lari selama kurang lebih 12 minggu. Yang artinya Loki harus tinggal di dalam kandang kecil selama itu juga, dan pelan-pelan boleh mulai latihan jalan dan keluar kandang. Setengah bulunya dicukur untuk operasi tersebut. Beberapa hari pertama setelah pulang Loki lemah dan masih bergantung pada obat penghilang rasa sakit. Sedih melihatnya. Segalanya kami amati dari pola makan, mau minum tidak, bisa pup nggak, pipis berapa kali. Seperti punya bayi sakit! hahaha.

Waktu baru sampai rumah, nafsu makan Loki nggak ada sama sekali karena baru selesai operasi berat. Air pun ia tidak mau minum. Jadi kami gantian menyuapkan air dan madu (dia mau makan madu!) pakai sendok teh pelan-pelan. Ketika Loki sudah mulai mau makan lagi, minum airnya kurang sekali sehingga tidak pup berhari-hari. Saya masih ingat batas terakhir Loki harus pup — kalau hari itu nggak pup harus balik ke dokter hewan dan dikasih pencahar — kami harap-harap cemas menunggu. Ketika akhirnya Loki pup, senangnya luar biasa!!! Padahal sehari-hari kalau lihat pup Loki bawaannya malas, harus dibersihkan hahahaha.

Yang membuat saya agak sedih dan tertusuk adalah orang-orang yang selama ini bisa bercanda kalau Loki ‘hanya kucing’. Atau ini kucing mahal sekali, mendingan di-euthanasia saja. Atau ada yang menyalahkan kenapa kucingnya boleh keluar. Sedih karena memangnya kami mau Loki kecelakaan? Atau kalau bisa diselamatkan kenapa harus di-euthanasia?? Bagi saya egois dan salah kalau memiliki hewan peliharaan (yang kami anggap keluarga!) tapi ketika masa susah, tidak mau menanggung.

Untungnya sejak diadopsi Loki sudah memiliki asuransi hewan. Sehingga biaya yang dibayar bisa diklaim ke asuransi — walaupun yang dibayarkan kembali tidak semuanya, sesuai dengan polis yang dibeli, setidaknya sebagian biaya yang telah dikeluarkan bisa dikembalikan. Biaya dokter hewan ini pokoknya mahal mencekik leher! Saya sampai seperti kampanye kaset rusak, wanti-wanti ke semua orang di sini yang punya peliharaan, please gabung dengan asuransi hewan. Jangan sampai ada apa-apa dengan hewannya lalu nggak mampu bayar… lalu bagaimana?

Nggak terasa sudah 10 minggu Loki istirahat. Sekarang Loki sudah bisa lompat sedikit tapi tidak tinggi, sudah bawel dan senang lagi. Bulunya sudah banyak yang tumbuh lagi. Sayangnya Loki bandel, suka menggigiti ujung kaki. Kata dokternya, memang biasa kalau setelah operasi besar kadang kucing (bahkan manusia) merasa memiliki ‘saraf gatal’ yang pokoknya harus digaruk. Bedanya, manusia nggak langsung menggaruk dan menggigiti si saraf gatal sampai berdarah-darah. Oleh karena itu Loki pun terpaksa dipasangkan cone kucing supaya nggak gigit-gigit lagi.

Banyak pelajaran yang dipetik dari musibah ini. Kesabaran. Betapa sayang kami dengan Loki yang mungkin sebelumnya nggak sadar berapa besarnya. Betapa mencekik lehernya biaya dokter hewan dan pentingnya asuransi, yang mungkin bisa jadi pelajaran untuk teman-teman kami (beberapa ada yang langsung membeli asuransi ketika dengar biayanya Loki).

Loki sekarang sudah lebih kuat dari 10 minggu yang lalu. Kami akan monitor perkembangannya, sambil dikonsultasi dengan dokternya kapan boleh keluar kandang permanen. Lalu kalau sudah kuat dan balik seperti normal pelan-pelan Loki boleh keluar lagi. Sekarang saja tiap kali dilepaskan, Loki sudah berusaha ‘kabur’! Hahaha, Semoga setelah ini Loki bisa sembuh total dan kembali semangat seperti dulu (sekarang jalannya masih aneh tapi sudah improve jauh, artinya Loki latihan jalan lagi) dan nak hati-hati ya, jangan tertabrak lagi! Kantongku sudah nggak mampu… hahaha 🙂

Selamat Tahun Baru 2017 semuanya!

Tidak terasa tahun 2016 sudah berakhir dengan cepat. Banyak pelajaran yang saya petik dari tahun kemarin, sehingga sayapun memutuskan untuk kembali blogging seperti dulu (tahun 2015 tahun yang intens bagi saya untuk blogging). Pertengahan tahun lalu saya sempat mundur sejenak dari area menulis di sini, karena blog sedikit sudah mempengaruhi kehidupan pribadi saya. Lalu akhir tahun saya pun sangat kangen menulis, menyapa teman-teman di sini… jadi kembali deh saya nulis lagi, semoga kali ini blog berjalan mulus aman tanpa gangguan sehingga mundur sejenak lagi juga nggak akan dibutuhkan.

Tahun Baru kemarin saya habiskan bersama keluarga di Jakarta. Ketika saya pulang kemarin, saya tidak sempat ketemuan dengan teman-teman banyak karena berbagai hal dan alasan. Pertama, karena saya hanya pulang kurang dari dua minggu saja, sendiri nggak bawa buntut (baca: pasangan saya si M). Waktu ini pun saya manfaatkan untuk kumpul bersama orangtua dan kakak (yang kebetulan juga pulang dari Australia) — dan keluarga besar karena Om saya yang paling tua sedang sakit berat dan kebetulan tahun terakhir ini Mama menjalin hubungan dekat lagi dengan keluarga besar. Kedua, tahun ini saya nggak punya transportasi… untuk ke mana-mana sulit sekali. Tahun lalu waktu ada M, rasanya tenang dan aman. Kalau mobil dan supir di rumah tidak tersedia, kami pun tinggal naik taksi atau Uber. Sedangkan jujur saja saya kalau disuruh naik angkutan umum, taksi atau Uber sendiri di Jakarta jadi paranoid, pokoknya takut sekali. Jadi selama dua minggu itu diisi oleh ketemuan dengan keluarga besar, quality time yang banyak dengan keluarga inti dan ketemuan hanya dengan segelintir teman dekat yang mau capek-capek menjemput dan mengantarkan saya pulang setiap ketemuan.

Waktu kurang dari dua minggu habisnya cepat sekali dan tak terasa saya sudah kembali ke Auckland dengan tekad ingin melewati 2017 dengan penuh kapasitas. Nggak malas-malas dan sering menunda seperti tahun kemarin.

Oh iya ketika pulang kemarin saya dapat banyak ‘hadiah berharga’ dari Mama. Salah satunya adalah wok ringan yang enak dipakai masak tumisan, yang sekarang diwariskan ke saya. Lalu piring-piring email dan mangkok ayam jadul, buatan lama yang tentunya kualitasnya lebih bagus dari yang buatan sekarang (kalau kata Mama — tipis, gampang gepeng!). Khusus piring email di atas adalah warisan asli Mama, piring makannya Mama sehari-hari ketika beliau masih kecil. Untuk mengobati kangen rumah dan jetlag yang luar biasa capeknya (kebetulan sehari setelah sampai saya kembali kerja dan dapat ‘tamu bulanan’) sayapun masak… nasi goreng pete! Makannya di piring email. Pokoknya puas dan bisa mengobati kangen rumah 🙂