Archive

Monthly Archives: February 2017

Apakah arti sebuah nama, kata pepatah. Nama saya memiliki cerita sendiri, yang penuh dengan emosi dan kerepotan, akibat perlakuan rasisme-nya petugas Imigrasi di Jakarta pada akhir tahun 1990an dulu. Kesalahan yang terbawa hampir seumur hidup ini dan bikin ribet akte dan surat-surat yang diperlukan. Sudah lama saya kadang cerita verbal ke orang, kali ini mau share pengalaman di blog saja supaya mungkin bisa berguna bagi yang mau keluar negeri dan mengurus surat (terutama paspor). Beberapa orang yang saya ceritakan dulu, bahkan cerita balik tentang pengalaman mereka yang mirip yaitu nama di paspor dan di akte lahir berbeda.

Nah karena untuk alasan tertentu saya tidak mau publish nama lengkap asli saya, saya akan membuat nama samaran untuk ilustrasi pengalaman saya ini. Catat ya jadi nama yang saya pakai di postingan ini asli nama karang-karangan saya sendiri (bukan orang yang saya tahu, atau orang betulan mungkin, hahaha).

Jadi ceritanya saya terlahir dengan (again, nama samaran ya, bukan nama asliku, hehehe) nama Erika Putri Mayangsari Wijaya. Nama yang cakep, penuh makna dan diberikan oleh kedua orang tua secara tulus.

Akhir tahun 1990an ketika perpanjang paspor untuk kedua kalinya, saya bingung kok nama di paspornya berubah? Bukan lagi Erika Putri Mayangsari Wijaya tapi malah berubah jadi Wong Erika Putri Mayangsari. Petugas Imigrasi dengan seenaknya menambahkan Wong di depan nama saya. Catatan petugas dengan seenak udel dan arogan menambahkan Wong, alasannya karena nama ayah saya Wong Hendra Wijaya (lagi-lagi bukan nama asli ya).

Kontan saya marah dan protes. Orangtua saya mencoba untuk mengganti paspor yang kok seenaknya saja diganti oleh si bapak petugas yang nambah-nambahkan marga Chinese yang sebetulnya nggak ada kok, di akte lahir saya. Sayangnya petugas arogan dan tidak mau ngaku salah, kalau mau diganti harus lapor hilang ke polisi atau bayar jumlah yang lumayan besar… jadi walaupun anaknya ngamuk dan protes habis-habisan Mami pun bilang tidak apa-apa, cuma 5 tahun kok, nanti juga bisa diganti lagi waktu perpanjang.
Ternyata nggak bisa diganti… dan waktu itu saya sudah kepepet mau sekolah keluar negeri dan harus daftar sekolah, jadi paspor diganti cepat-cepat. Selama saya di luar negeri saya selalu bersungut-sungut. Habisnya nama depanku yang bagus dari Erika… jadinya Wong! Kalau ada acara, absen, pemanggilan di dokter dan sebagainya mereka akan refer saya sebagai Wong, karena hanya memakai paspor.

Puncaknya ketika saya pindah ke New Zealand… terpaksa akte lahirlah yang diubah untuk ikut nama paspor, secara identitas internasional saya sudah terlanjur sepuluh tahun lebih memakai nama si Wong tersebut. Jeleknya karena itu nama depan lagi. Makin bersungut-sungut. Sekarang saya stuck dengan nama Wong di depan ini.
Sering, kalau nunggu appointment, saya yang suka bengong sendiri nggak ngeh kalau mereka manggil-manggil Wong buat masuk ke ruangan. Alhasil, giliran saya sering terlewat. Duh sampai sekarang kalau ngisi formulir apapun, saya masih suka sedih dan marah sendiri. Saya merasa dirugikan oleh pihak Imigrasi Indonesia dan sikap mereka yang arogan dan tidak mau menerima salah – lalu saya merasa menambahkan nama Chinese yang nggak ada itu hal yang rasis. Catatan ini jaman akhir tahun 1990an ya, yang notabene masih berasa sekali jurang pemisah antara keturunan Tionghoa dan pribumi yang dibeda-bedakan. Sekarang, kalau saya mau ganti namapun, prosesnya agak ribet ya di Indonesia (harus ke pengadilan segala)… jadi mau nggak mau ya sudah lapang dada menerima nama depan yang diimbuhkan oleh si pak petugas Imigrasi dahulu kala itu.

Saya share pengalaman ini untuk curhat dan mengeluarkan uneg-uneg, sekalian supaya mungkin pengalaman ini bisa berguna untuk yang mengurus surat-surat penting. Kalau ada yang salah cepat dibetulkan karena nanti-nanti, tahunya 10 tahun kemudian, sudah nggak bisa diubah. Lalu kalau ada yang salah apalagi menyangkut dokumen anak, jangan marah balik kalau anaknya marah dan merasa dirugikan (hahaha, ini pengalaman pribadi banget) karena si anaklah yang akan menanggung konsekuensinya di hari nanti.

Salam manis dari saya, yang namanya bukan Erika 😀

Hari ini panas sekali, panasnya menyengat dengan kelembaban udara yang hampir menyamai Jakarta membuat saya malas bergerak. Tapi mau tidak mau bergerak juga karena ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Herannya, panas-panas saya malah membayangkan kuliner Asia yang menggoda dan memanggil pulang (maunya). Dalam postingan ini hanya saya tuliskan makanan-makanan terangan-angan yang saya sudah lama nggak sempat makan… kalau yang sempat makan kemarin dan beberapa tahun terakhir, ya sudah nggak udunen ya. Sudah lama nggak nulis blog (sudah dua mingguan) jadinya yuk dituliskan di blog, siapa tahu yang ada di daerah dekat sana bisa makan sebelum saya kesampaian…

1. Mie Kepiting Ou Kie, Pontianak
Colek Wiwien… mana nih Wiwien? Mie kepiting ini tersohor sekali di Pontianak sana. Menurut Mami yang punyanya (sekarang sudah meninggal katanya?) sudah berjualan bakmi kepiting dari Mami masih piyik, sekarang yang meneruskan anaknya, dan berdasarkan laporan Mami dan kakak yang bulan Januari kemarin berkesempatan untuk makan lagi, rasanya masih seenak dan seprima dulu. Mienya buatan sendiri, dan gurih tapi segar. Pilihannya bisa mie kuah atau mie yam, yang sama-sama enak kok. Dulu setiap tahun makan karena mengunjungi alm. Oma di kota sana tiap liburan sekolah sampai awal tahun 2000-an, ketika Oma pindah ke Jakarta ikut kami.
Semangkuk mie buatan sendiri yang tanpa pengawet, gurih dilengkapi daging kepiting yang royal, aneka bakso ikan dan entah ramuan apa yang bikin rasanya nempel di hati.
Yang lucu adalah Ou Kie, itu dalam bahasa daerah (Tio Ciu) artinya tompel alias tahi lalat. Karena si empunya yang original memiliki ciri khas tahi lalat di muka.

2. Bakso Ulung Putra Jaipong, Puri Indah (Jakarta)
Duluuuuu ketika masih SMP, bakso si Ulung ini cabangnya berjualan di kantin sekolah saya. Enaknya keterlaluan, sampai muka abangnya saja saya masih ingat soalnya hampir setiap hari makan siang istirahat ya bakso ini… sumpah setiap hari saya dilema duh takut kena kanker usus tapi nih bakso kok enak banget sih!
Sayangnya karena kantin yang dirombak ketika saya masuk SMU kelas dua (gedung SMP dan SMU sama) si Ulung menghilang. Konon si Ulung Putra Jaipong ini yang mbikin sama dengan yang mbikin dulu di sekolahan, hanya yang beda abang yang jualnya saja. Pingin banget makan ini lagi, semoga, next time pulang, saya bisa makan ini.

3. Nasi Ayam Akit, Pontianak
Lagi-lagi makanan Pontianak ya… habis gimana dong berhubung kenangan masa kecil dan sudah lama nggak makan ini. Nasi ayam Pontianak, namanya saja ayam, tapi ya isinya banyak babinya. Nasi pulen dengan perintilan babi garing, babi casio, sate babi dan sebagainya disiram kuah kaldu ayam gurih yang dibumbui dengan bawang putih goreng. Khas banget. Nasi ayam Akit ini letaknya di dekat rumah alm Oma, di dekat Jalan Gajah Mada. Kapan ya aku kesampean lagi ke sini, karena makan yang merek/cabang lainnya di luar Ponti nggak gitu enak dan memuaskan sih…

4. Puchong Yong Tau Foo, Kuala Lumpur (Malaysia)
Yong Tau Foo ini walaupun simple, dan dulu sering makan, cabang inilah yang paling enak dan mengesankan. Lupa tapi halal apa nggak ya? Sederhana saja, adonan bakso ikan direbus dan digoreng kering dengan pilihan kita (bisa okra/brinjal, terong, kulit pangsit, dan sebagainya). Yang mengesankan dari tempat ini adalah kuahnya yang bersayur dan gurih banget, nggak tahu isinya apa pokoknya panas-panas makan ini-pun saya rela. Buat saya enakan makan yang direbus alias berkuah, tapi yang goreng juga enak kalau doyan. Kalau mau ke sini harus bawa mobil dan kalau bisa bawa orang lokalnya, soalnya tempatnya di dalam perumahan dan sulit dicari gitu.

5. Ayam Masak Kunyit, Malaysia
Kalau ke restoran mamak yang menjamur di Malaysia, saya sering pesan menu ini. Hampir di setiap gerai ada kok tapi bedanya, dari pengalaman dan penyidikan ala saya, yang enak itu kalau yang masak kaum bumiputera/Muslimah. Kalau yang masak orang India atau Chinese nggak gitu enak. Duluuuuu… kalau sekarang takut makan, karena takut RIP. Simple saja hanya ayam bumbu kunyit yang dicah dengan sayuran… tapi nggak tahu isinya pakai apa yaaaa minyaknya itu ke mana-mana terus gurih banget. Kalau buat di rumah nggak bisa segurih itu dan pastinya nggak bermandikan minyak. Tapi enak, dan mengesankan, walaupun makannya sambil takut-takut sakit jantung hahaha atau kena struk dulu.

Saya lumayan sering mendapatkan pertanyaan ini, susah nggak cari kerja di NZ? Atau sekalian yang langsung nanya, ada lowongan kerja gak di tempatmu? Postingan ini berdasarkan pengalaman pribadi saya ya, dan pengalaman saya ini belum tentu adalah pakemnya pengalaman orang-orang lain. Berikut tips mencari dan mendapatkan pekerjaan di New Zealand, persembahan dari saya. Kalau yang mau tahu tentang biaya hidup bisa dibaca di postingan ini. Catatan tips ini nggak berlaku untuk yang mau mencari pekerjaan offshore alias dari luar NZ ya.

1. Memiliki visa dengan izin kerja yang sah
Yang satu ini benar-benar penting dan perlu, jangan sampai datang kemari dengan visa turis dan mencari pekerjaan. Saya pernah mendengar ada yang berhasil, tapi cerita gagal dibanding berhasilnya 10:1 deh apalagi sekarang perusahaan jarang yang mau mempekerjakan orang tanpa visa – bahkan sebagian lowongan pekerjaan, hanya berlaku untuk orang-orang yang memiliki visa Resident saja. Karena kalau employer mempekerjakan orang yang visanya tergantung padanya, mereka harus mensponsori izin kerja si orang ini dan syaratnya lumayan banyak lho untuk mereka sendiri.
Mendapatkan visa kerja ini banyak jalannya, mulai dari visa kerja yang didapatkan ketika lulus sekolah di NZ (Graduate Work Visa namanya, dulu saya punya visa ini), working visa based on partnership (ini kalau pasangannya tinggal di sini – termasuk pemegang work visa dan student visa, lho dan catatan partner ini antara pacar atau suami di sini nggak dibedakan jadi nikah atau belum nikah pemerintah sini gak persoalkan yaaa) atau melalui working holiday scheme, sayangnya Indonesia belum masuk ke working holiday scheme ini.

2. Kiwi working experience
Ini yang agak-agak harus membuat kita sabar dan teguh untuk mencari pekerjaan sebagai imigran yang baru datang. Banyak employer di sini yang lebih memilih untuk mempekerjakan orang yang punya kiwi working experience alias pengalaman bekerja di NZ. Yang beruntung mungkin bisa mendapatkan pekerjaan impian dengan mudah, tapi bagi yang kurang beruntung harus memulai dari nol untuk mendapatkan pengalaman kerja NZ ini. Dan berkaitan dengan si Kiwi working experience ini adalah tips saya yang ketiga.

3. Mau mulai dari awal
Alkisah ada seseorang yang awalnya curhat pada saya minta kalau ada lowongan di kantor saya. Sayangnya orang ini nggak memiliki pengalaman kerja di kantor, Bahasa Inggrisnya kurang lancar dalam percakapan dan ketika saya sarankan bekerja yang kecil-kecil dulu dia nggak mau. Alasannya capek, dan gajinya kecil. Ya ampun, cari di mana kerjaan yang gajinya lumayan, nggak usah ngomong dan nggak mau capek?
Beberapa jenis pekerjaan yang menurut saya bisa untuk memulai tabungan daftar pengalaman kerja di NZ misalnya kerja di restoran atau café (bersih-bersih kek, kerja di counter atau bantu-bantu di dapur), kerja jaga toko, jadi kasir di supermarket dan sebagainya. Kalau yang bisa bertahan hidup tanpa income untuk sementara juga boleh coba volunteering.
Intinya jangan malu mencoba, jangan takut bertanya, jangan malas capek dan jangan ngarap gaji di luar negeri pokoknya langsung besar saja.

4. Jangan malu mencoba
Ini penting bagi saya, apalagi untuk membantu mental yang kadang sedih kok susah amat dapat kerjaan ya. Jangan malu bertanya sama orang (tapi nggak sampai minta-minta kerjaan pakai cara sok kenal sok dekat, hehehe), jangan malu melamar kerjaan, pede-pedein saja! Bahkan banyak teman saya yang mendapatkan pekerjaan dari cara door-to-door alias meninggalkan CV di tempat kerja yang diinginkan.

5. Gabung dengan recruitment agency
Kalau kuliah, di kampus biasanya ada pelayanan yang menghubungkan pelajar dengan calon employer. Pekerjaan pertama saya (cuci piring dan kerjaan seperti ngupas bawang di dapur) dapatnya juga dari agency tempat saya kuliah dulu.
Nah ketika saya masih bekerja di bidang hospitality, di tahun ketiga saya memutuskan mau pindah profesi saja seutuhnya karena lingkungan kerja yang tidak kondusif dengan keadaan saya. Dan karena selama di NZ saya kerjanya di hospitality terus, cari kerja di bidang lain saya terbentur pengalaman kerja saya yang nggak cocok dengan bidang yang diingini. Walaupun saya punya visa yang valid, mendapatkan interview itu susahnya setengah mati.
Selama kurang lebih 8 bulan saya intens mencari pekerjaan dari awal, buatkan CV yang baru dan rajin cari pekerjaan online. Dari puluhan CV yang saya kirim, hanya beberapa yang membalas dan isinya kebanyakan penolakan. Duh rasanya sedih sekali.
Saya mencoba mendaftarkan diri ke recruitment agency yang menjamur di sini (beberapa juga ada yang nggak balas lho, mungkin karena saat itu saya belum menjadi resident dan pengalaman kerja di bidang perkantoran yang minim). Banyak yang tanya kalau daftar begitu fee-nya berapa? Recruitment agency di sini bertindak sebagai pencari tenaga kerja untuk perusahaan. Jadi, kita sebagai staf yang direkrut nggak membayar sepeserpun, perusahaanlah yang membayar jasa si recruiter. Gabung dengan recruitment agency biasanya mendapatkan pekerjaan yang kontrak dari 1 bulan hingga setahun lamanya. Kalau kisah saya pribadi, saya beruntung ada seseorang yang dua hari sebelum kontraknya mulai tiba-tiba mundur dan recruiter membutuhkan seseorang yang bisa mulai saat itu juga untuk pekerjaan bantu-bantu di kantor, masa kontraknya 6 bulan. Perjuangan banget setelah nunggu 8 bulanan tanpa ada tawaran, saya menerima pekerjaan ini… and the rest is history, setelah kontraknya selesai saya dipekerjakan permanen oleh perusahaan dengan posisi yang dinaikkan, dan sampai sekarang saya masih bekerja di sini (tahun ketiga).

6. Cas cis cus berkomunikasi dengan Bahasa Inggris
Intinya kalau mau mendapatkan pekerjaan tapi nggak bisa ngomong ya susah. Latihanlah bercakap-cakap dengan Bahasa Inggris – kalau diwawancara jawabnya bagaikan sembelit, pasti dapat kerjaannya lebih sulit lagi.

7. Belajar skills yang dibutuhkan
Mau bekerja di kantoran? Biasakanlah dirimu dengan menggunakan software yang dibutuhkan, kebanyakan kalau kantoran standarnya Microsoft Office ya. Atau mau dapat kerja masak memasak? Pilihannya antara sekolah masak dulu atau mau mulai dari jadi kitchen hand alias yang bantu-bantu di dapur… dan sebagainya. Intinya harus mau belajar hal-hal baru. Nggak mau juga kan employer mempekerjakan orang yang nggak tahu apa-apa.

8. Referensi, referensi dan referensi
Calon employer di sini, termasuk recruitment agency, masih sangat mementingkan referensi dari employer kalian sebelumnya. Di CV, taruhlah setidaknya dua referensi dari pekerjaan yang lama (kalau nggak ada, guru universitas juga boleh) soalnya mereka hampir pasti akan menghubungi referensi kamu dan tanya-tanya tentang kamu secara lisan. Ini pengalaman pribadi saya.
Sekian tips-tips dari saya semoga bisa membantu yang kira-kira pengin datang mencoba peruntungan di sini. Kalau yang cari offshore alias dari luar negeri, saya nggak bisa membantu karena saya nggak punya pengalaman seperti ini.

Oh iya dua website yang bisa untuk acuan lowongan kerja adalah http://www.trademe.com dan http://www.seek.co.nz. Untuk info visa dan sebagainya bisa dilihat dari situs yang sangat lengkap dan membantu yaitu immigration.govt.nz yaaa 🙂

Dalam rangka menghabiskan hari terakhir long weekend (hari Senin) saya dan M memutuskan untuk tramping. Kalau di Indonesia nyebutnya jalan alam, kali ya? Di NZ ini banyak sekali rute jalan alamnya (yang dirawat dengan baik, petunjuknya jelas, alamnya indah dan tentu saja tidak ada bahaya binatang berbisa) dan gratis. Ya mereka nggak memungut biaya masuk untuk rute jalan-jalan alam di sini, langsung jalan saja. Saya pernah jalan beberapa kali tapi setiap kali jalan saya nggak sempat nenteng HP dan foto-foto. Takut jatuh, karena saya kalo jalan kudu konsen — lha ya jalan biasa aja suka tersandung, sih! Terus celana olahraga yang khusus dipakai buat jalan memang nggak ada kantongnya. Tapi kali ini saya memutuskan bawa, dan janji mau cerita di blog tentang NZ dan jalan-jalannya nggak cuma curhatan hati melulu, he he he.

screen-shot-2017-02-06-at-6-01-17-pm

Kami memutuskan untuk jalan ke Rangitoto Island. M terakhir ke sini sudah lebih dari dua puluh tahun yang lalu, ketika umurnya masih kecil. Kalau saya sih masih ingat dengan si pulau karena tahun lalu jalan-jalan alam bersama kantor tujuannya kemari. Pulau ini pulau gunung merapi tak berpenghuni, yang dijadikan sanctuary untuk kehidupan alam bebas (wildlife) kebanyakan yang saya lihat sih, burung-burung. Untuk mencapai pulau ini bisa naik ferry dengan harga yang terpampang di atas, karena kami naik dari Devonport (lebih dekat dari rumah) hanya makan waktu 15 menitan saja kurang lebih. Tidak ada karcis masuk pulau, bayar ferry-nya saja. Karena pulau ini tidak berpenghuni, penting untuk membawa sendiri air minum dan bekal makanan secukupnya, yang sampahnya wajib dibawa pulang dan dibuang di luar pulau. Selain air minum dan bekal yang cukup, memakai sunscreen itu wajib karena panas banget kalau tidak pakai, 100% pasti kena sunburn parah. Yang terpenting adalah dengan teliti menghitung waktu di pulau, karena kalau kelewatan ferry terakhir bisa-bisa harus bermalam di pulau yang dingin dan sunyi itu.

screen-shot-2017-02-06-at-6-07-45-pmKetika sampai di Rangitoto Island, begitu keluar dari ferry. Hari ini cuacanya bagus sekali, cerah biru tapi panas… jangan ditanya.

Pulau Rangitoto dijadikan tujuan orang untuk jalan alam, kebanyakan untuk naik ke puncaknya. Jalan ini lumayan mudah kok banyak orang-orang tua yang berjalan, namun karena menanjak mungkin memakan waktu agak lama. Perkiraannya untuk ukuran orang biasa (termasuk saya dan perkiraan yang dicetak di papan penunjuk di pulau) sekitar kurang lebih 1 jam untuk naik ke puncak dan 1 jam untuk turun. Selain scenic walkway ke puncak pulau, masih banyak lagi rute-rute jalan alam yang bisa dijalani di sini. Kalau yang malas jalan ada tuh paket untuk ikutan tur yang naik mobil lalu dipandu guide-nya untuk melihat bekas gunung merapi yang meletus kira-kira 400-500 tahun lalu.

screen-shot-2017-02-06-at-6-13-48-pmPenampakan peserta tur beserta kendaraan medan beratnya

Sebelum kami mulai meneruskan perjalanan kami ke puncak, kami mampir sebentar di rumah tua yang difungsikan sebagai museum pulau. Lucu sekali rumahnya kecil cantik, dan di dalam penataannya masih jadoel bagaikan terbang ke tahun 1940-1950an. Kalau mau lihat rumah-rumah tua seperti ini (disebutnya bach) di pulau, ada rute khususnya juga, tapi para bach adalah bach kosong yang terlantar (namun dirawat untuk estetika), nggak seperti yang dijadikan museum khusus. Untuk pecinta sejarah, antik dan barang jadoel pasti senang. Saya termasuk yang ketiga, jadi rasanya melihat bagian dalam bach ini seneng sekali.

Penampakannya bach dan isi bagian dalamnya yang sangat menarik, terawat dan apik.

Perjalanan kami pun berlanjut. Karena mau mengejar ferry pulang yang masih siang dan nggak mau seharian di Rangitoto kami putuskan untuk jalan ke puncak terus turunnya lewat lava caves (gua yang terbentuk dari lava ratusan tahun lalu waktu gunungnya meletus). Kami budget 2.5 jam untuk jalan dan istirahat makan siang, kami bawa bekal sandwich, buah apel dan cokelat dari rumah. Jalannya sih gampang aja, tingkat kesulitan mudah kok. Tapiiiiii begitu sudah mulai mau betul-betul ke puncak, tanjakannya yang tadinya level rendah makin lama makin naik sampai berpadu tangga pula. Duh nggak kuat. Sampe acara ngos-ngosan dulu di tengah nanjaknya, minum air dulu, makan apel dulu terus akhirnyaaaa sampai juga deh.

Satu point yang saya kagumi dan acungi jempol pulaunya benar-benar bersih dan terawat. Tidak ada satupun sampah besar maupun kecil yang saya lihat walaupun banyak yang makan bekal atau snack, dan minum dari botol plastik. Mereka setelah makan, membereskan kembali sampahnya dimasukkan tas untuk dibawa balik.

Sampai di atas tuh capeknya udah nggak berasa. Pemandangannya bagus banget aduh foto aja kurang bagus pokoknya. Apalagi di cuaca yang langit biru seperti ini. Penampakannya adalah kota Auckland dari jauh. Setelah puas menikmati pemandangan sambil makan siang bekal kami dan ngobrol-ngobrol kamipun lanjut, pergi lihat gua. Sayangnya gua ini gelap banget dan hasil fotonya meski dari luar juga jelek-jelek, jadi nggak saya sertakan. Berikut foto-foto dan sedikit penjelasan di bawah ini.

img_5487
Pemandangan dari atas summit yang bagus sekali, this photo doesn’t do it justice.


Ini si M nongol dari antara dedaunan, orangnya suka iseng ini dilihat itu mau dilihat, turun masuk bushes kalo saya yang steep gitu alias dalam takut juga kalo jatuh gimana?


Untuk melindungi satwa alam yang kebanyakan burung-burung ini disiapkan perangkap untuk predator, pokoknya pulau ini harus bebas hewan predator.


Contoh papan penunjuk jalan yang tersedia dan tersebar di area rute jalan, untuk membantu supaya nggak nyasar.


Ini pemandangan karang di sekitar sisi pulau. Bagus banget saya suka gradasi warna airnya.

Senangnya hari libur bisa dimanfaatkan buat lihat-lihat alam dan menantang badan supaya nggak malas gerak, biar bugar — semoga weekend-weekend lainnya nanti saya bisa pergi jalan-jalan lagi ya biar makin banyak walkway di NZ yang masuk cerita blog, supaya yang pingin liburan ke sini makin kepingin datang untuk lihat langsung, he he he. Dijamin nggak nyesal karena… beneran bagus banget! Plus sehat buat tubuh dong ya pastinya.

Perasaan sudah lama nggak posting edisi Curhat (karena memang akhir-akhir ini syukurlah hidup lebih damai, porsi curhatnya berkurang jauh deh jadinya) jadi yuk deh saya mau cerita curhatan hati saya minggu kemarin.

Jadi ceritanya saya diundang teman dari negara tetangga buat makan bareng, dalam rangka tahun baruan lah. Setelah diundang dan saya menyatakan bisa, sayapun dimasukkan ke Facebook event-nya. Di deskripsi event tertulis oke makan siangnya di restoran X pukul 12 siang, sudah pesan makanan apa, dan siapa aja yang datang. Saya tidak kenal semuanya tapi sebagian besar kenal-lah.

Pukul 11.45 siang kami sudah jalan dari rumah. Kan nggak enak, diundang terus terlambat. Siang yang panas, banyak mobil yang nyetirnya nggak tahu aturan, terus cari parkir kok susah yaaa… mana belum makan, puol lengkap deh rasanya kesabaran dan iman diuji berat, hahaha… terus si M bercanda dengan nada agak judes kalo yang lain pada telat dia bisa nguamukkk (karena laper) — gara-garanya beberapa orang di grup ini terkenal jam karetnya. Saya sudah pernah loh padahal mendudukkan orangnya untuk diskusi serius, gini cara saya menata jadwal dan waktu saya jadi kalau kamu jam karet alias terlambat terus rasanya saya buang waktu untuk menyempatkan ketemu kamu. Percakapannya sih sudah beberapa tahun lewat jadi nggak heranlah kalau misalnya sudah menguap dari otaknya mungkin?

Kami tiba di resto jam 12.05 siang. Nggak jelas juga bookingannya atas nama siapa… Dan kami seperti dugaannya si M adalah orang pertama yang sampai di sana siang itu. Setelah telepon teman saya si A yang katanya sih sudah di jalan, alias on the way, kami mendapatkan nama reservasi dan duduk. 10 menit kemudian muncul 2 orang lainnya. Sisanya pun berdatangan dan yang paling telat tiba pukul 12.45 siang teman-teman! Duh capek deh, mana sudah lapar banget.

Suasana makan siang menyenangkan, karena makanannya enak dan kumpul-kumpul bersama teman-teman yang lama nggak ketemu. Nah salah satu teman jam karet (yang di atas saya kasih tau jangan telat melulu ya!) ini namanya W — W dan pasangannya muncul telat jam 12.30 siang hari itu. Jadi si W bukan yang paling telat sih sebetulnya tapiiiiii si W nyeletuk dengan santai dan bercandanya yang khas

“Yeah I was sure we’re all gonna shock M and Mariska, we’re all a bunch of late people!”

Gedubraaak… cape deh! Kebiasaan telat bukannya disikapi dengan baik, malah dibanggakan! *Geleng-geleng kepala, mikir nasihatku yang bener kan sudah nguap bagaikan asap rokok!* ya sudah sarannya M, lain kali kalau kita buat janji sama mereka, bilang saja janjiannya jam 7 malam… padahal jam 7.30 kita baru muncul, sengaja telat, habis daripada buang waktu kami.

Kalau dipikir-pikir, saya orangnya termasuk tipe yang hobi koleksi sesuatu sejak kecil. Tapi seperti semua ada masanya gitu, nanti berubah-ubah apa yang pengen dikoleksikan. Ingatan saya pun melayang kepada koleksian yang saya ingat waktu kecil, yaitu hadiah Tazos dari snack makanan ringan (lupa dari Taro atau Chiki sih? ada yang masih ingat?) tahun 1990an. Tazos menjadi sesuatu yang cukup berharga bagiku, karena waktu kecil nggak boleh sering-sering jajan Chiki.

Waktu jaman tahun 1990an ini saya juga hobby koleksi boneka kertas (pokoknya kepunyaan saya banyak banget dulu, belinya di abang sepuh yang mangkal di depan sekolahan SD). Sempat juga koleksi kartu Titanic jaman filmnya booming dulu… inget gak, kartunya bergambar Leonardo DiCaprio sendirian yang kece, atau Leonardo bareng Kate Winslet. Di belakangnya ada lirik lagu I Heart Will Go On-nya Celine Dion. Selain ini saya juga koleksi stiker, stiker-stiker saya dulu ditaruh di buku stiker warna biru. Stiker kesayangan saya ditaruh di bagian depan dan nggak ditukarkan, yang lain sih boleh ditukar-tukar dengan stiker teman. Dan juga saya punya kotak kaleng kecil, isinya penghapus! Hahaha. Saya punya banyak sekali penghapus karakter lucu dulu, yang nggak pernah dipakai… sekali-sekali saja dikeluarkan dan dihirup aromanya karena banyak yang wangi. Sekarang nggak tahu deh, pada ke mana.

Hobby saya membaca buku dan komik dari kecil itu membuat tahun 2000an saya koleksi buku dan komik… banyak banget sampai selemari penuh. Koleksi yang paling saya sayang adalah buku-bukunya Enid Blyton yang saya punya lengkap sampai pada lusuh karena sering dibaca. Sayang tahun 2014 lalu rumah kami kena musibah rayap, ternyata si rayap makanin koleksi buku saya buanyak sekali… jadinya koleksinya sekarang hampir punah deh. Selain itu saya juga koleksi… ya saudara-saudara… barang-barang kucing! Pokoknya barang saya itu kucing semua dulu saking sukanya sama kucing tapi Mami nggak mbolehkan punya kucing di rumah. Kamar saya tema kucing dari sprei, frame foto, boneka, tempat taruh pernak-pernik, tas dan sebagainya. Masih ada tuh fotonya tapi karena alay banget ngeditnya dulu malu-maluin kalo dipajang di blog sekarang hahaha. Sekarang sebetulnya masih suka juga dengan barang-barang kucing, tapi sudah nggak seperti dulu yang pokoknya semuanya harus kucing dari kotak pensil sampai ke penggaris.

Tahun 2015 lalu, saya mulai mengkoleksi magnet kulkas dari tempat-tempat yang pernah saya kunjungi. Ada rasa sesal yang masuk di dalam hati karena dulu kan saya jalan-jalan tapi nggak pernah beli magnet ya… jadi sekarang kalau ada teman yang pergi ke tempat yang pernah saya kunjungi sebelumnya saya kadang suka titip magnet kulkas. Yang lucu, ternyata dulu saya sering belikan Mami magnet kulkas kalau jalan-jalan. Rasanya seperti nemu harta karun melihat magnet yang masih disimpan oleh Mami, yang saya tanya boleh nggak kuminta kembali hahaha.

Contohnya magnet yang berbentuk kura-kura bening adalah magnet dari jalan-jalan ke Pulau Redang di Malaysia tahun 2006 duluuu. Atau magnet di sebelahnya adalah magnet bakpao dari jalan-jalan ke Malacca, Malaysia tahun 2009. Saya dulu kuliah di Malaysia termasuk suka jalan-jalan juga, masih kurang beli magnetnya Berjaya French Village Hill, Pulau Perhentian, Pulau Langkawi, Genting Highland, Cameron Highland, kota Penang — dan gak beli magnet juga pas jalan-jalan ke Bangkok, Thailand. Terus dulu keliling Cina juga nggak beli magnet, dan yang paling nyesel akhir tahun 2015 saya ke Jogja dan gak beli magnetnya. Jadi target saya mau pergi jalan-jalan yang sering biar bisa nambah magnet (alasan aja ini) hehehe…

Selain magnet sekarang saya suka banget koleksi cincin. Karena dulu waktu remaja dan kuliah nggak pernah pake aksesori selain kalung karena rasanya cincin kok mblibet. Terus waktu jadi koki kan nggak boleh pakai cincin, lha nanti kalau cincinnya masuk ke makanan gimana dong kan yah? Tapi setelah masuk ke dunia kerja kantoran, tiap hari ini tangan dipakaikan cincin sampai 4 – 5 buah sekaligus (ada yang memang khusus untuk stacking alias ditimpa-timpa). Di atas ini sebagian dari koleksi cincin saya yang di baliknya macam-macam ceritanya.

Ada yang warisan dari Mami… ada juga hadiah macam-macam dari M, kado dari teman, terus ada juga yang mbelinya di hari yang penuh drama dan sebagainya.

Kalian koleksinya apa saja? Boleh dong sharing di sini.

Minggu lalu, punggungku sempat ‘keceklek’ — pokoknya bangun tidur sakit semua rasanya, nggak begitu bisa bergerak. Hasil dari berdiri dari posisi duduk terlalu cepat malam sebelumnya. Karena nggak bisa bebas bergerak, hari itu saya di rumah saja di kasur, dan karena bosan… bukalah hard drive lama, yang ternyata isinya foto-foto lama yang benar-benar membangkitkan kenangan. Jadi saya pengen membuat seri cerita kenangan masa kecil ah di blog (jadi terinspirasi, ceritanya) kalau disingkat KMK (sudah dimasukkan di kategori sisi kiri). Kalau masa remaja, masuk KMK ini, atau tidak ya?

Singkat cerita keluarga kami tinggal di Jakarta Barat, orangtua dua-duanya berasal dari Kalimantan Barat. Kami berempat, saya dengan kakak laki-laki yang lebih tua dua tahun dengan Papi dan Mami — Papi dan Mami dua-duanya bekerja membuka toko bahan bangunan berdua. Ingatan masa kecil saya yang manis banyak yang diwarnai oleh si toko bahan bangunan ini, karena seusai sekolah (dulu sekolahnya di SD, pukul 7 pagi sampai pukul 1.30 siang kalau saya tidak salah ingat). Pas sekali masa kecil dalam ingatan saya itu tahun 1990-an, karena tahun ajaran 2001 saya sudah masuk SMP, sudah bukan anak SD lagi.

Toko bahan bangunan, dulu selalu ramai (sekarang kata Mami, sudah jauh deh pokoknya dengan dulu tahun 1990an yang booming pembangunan di mana-mana). Kata Papi, setiap bulan tangannya sampai capek menulis nota pembelian dan tinta di pulpennya pasti selalu rutin diganti.

Biasanya seusai sekolah SD saya dijemput oleh Mami yang menyempatkan datang di sela-sela kesibukannya. Saya masih ingat jelas, Mami yang berambut pendek dan ceriwis (ceriwisnya jelas nurun ke anaknya ini) ngobrol dengan Mami-mami lain yang menunggu anaknya di sekolah. Mami kurang suka anak-anaknya jajan. Seingatan saya waktu Mami menjemput, di dalam mobil sudah ada makan siang yang disiapkan di dalam rantang (biasanya nasi dan lauk tumisan biar gampang makannya), dan kadang suka ada es jeruk perasan sendiri lagi, dingin di dalam botol. Berasa banget sayangnya Mami kepada saya. Pernah juga Mami menjemput lalu saya nanya boleh nggak main ke rumahnya Aurel (ke rumah teman yang tinggalnya di dekat sekolah)… nanti pulang kerja Mami akan jemput di rumah Aurel. Mami mengiyakan. Pokoknya senang sekalilah waktu itu, karena di rumahnya Aurel banyak mainan yang bagus-bagus. Nah kadang, kalau Mami nggak sempat menjemput, yang menjemput adalah Wi Ku (masih kerabat jauh Mami yang kerja dengan Mami dan Papi), naik motor. Senang lho kalau Wi Ku yang jemput karena saya bisa duduk di atas motornya, jarang-jarang terjadi. Seperti petualangan saja rasanya.

Toko orangtua, dimodifikasi oleh Mami dan Papi supaya di dalam (di balik hiruk pikuk penjualan) bisa tidur siang, masak makan siang, main dan sebagainya. Saya betah-betah saja pulang sekolah ke sana karena di rumah… tidak ada orang yang bisa diajak main. Yang menjaga rumah kami adalah ART laki-laki (biasanya dari toko), karena Mami males punya ART perempuan — genit katanya! Hahaha. Secara memasak Mami yang mengerjakan, si ART laki-laki ya kerjanya main dengan kakak saya (makanya kakak saya pulang sekolahnya boleh tidak ikut ke toko), menyapu, mengepel, berkebun, menjaga rumah. Malam boleh pulang ke toko, atau mau tidur di rumah kami juga kamarnya sudah disiapkan. Balik ke cerita saya di toko, buat saya di toko banyak sekali yang bisa dikerjakan dan diajak ngobrol.

Ini ceritanya saya dan kakak saya di depan bagian hiruk pikuk toko, waktu kecil. Lupa tahun berapa.

Saya suka ngobrol dengan Mbak Tri, pegawai administrasi toko. Main bon-bonan, menulis cerita atau nggambar komik karena di toko banyak kertas dan alat tulis. Pernah juga iseng-iseng menulis pakai mesin tik tua yang warnanya biru dan sudah karatan — nulis cerpen yang nggak pernah selesai-selesai, idenya dapat dari majalah Bobo. Kalau sudah pakai mesin tik, rasanya seperti penulis beneran! Kalau sedang tidak sibuk dengan Mbak Tri atau main sendiri, saya akan main ke belakang. Ke belakang ini maksudnya di ujung belakang toko, karena ada rumahnya keluarga pegawai Mami dan Papi yang tinggal di sana untuk menjaga toko kalau sudah tutup. Pegawai ini punya anak perempuan sebaya saya dan adiknya. Jadi asyik, kalau main dengan mereka. Seingat saya dulu kami sering main masak-masakan bersama. Pernah juga ketika libur kenaikan kelas, Mami ajak mereka main ke Dunia Fantasi bareng kami. Sekarang sih, sudah tidak kontak lagi karena mantan pegawai Mami sudah RIP — pernah Mami menawarkan mau membiayai sekolah anaknya tapi mereka memilih menikah setelah lulus SMU dan pulang ke kampung.


Mami sewaktu muda, bersama saya dan anaknya alm. pegawai Mami ketika ke Dufan untuk hadiah kenaikan kelas. Kalau nggak salah tahun 1996 atau 1997… pakai kaus Fido Dido favorit saya masa itu.

Cerita lucu yang timbul dari main di toko ini adalah hasil dari ke-kepoan dan rasa mau tahu saya yang terlalu tinggi. Saya suka nggrasak barang-barangnya Mami. Suatu hari saya nemu bon-bon tagihan ke Mami dan Papi yang jumlahnya BUANYAAAAK SEKALI apalagi di mata anak kecil umur 7-8 tahunan. Saya belum mengerti kalau jualan itu membeli barang lalu dijualkan lagi. Jadi saya pikir… kami punya hutang banyak dan sebentar lagi bakalan jatuh miskin. Pokoknya sedih waktu itu mikirnya, dan saya suka gemes kalo lihat Mami bikin cemilan seperti sup ketan hitam. Habis, sudah miskin dan punya hutang banyak, mau bangkrut kok buang-buang uang buat ketan hitam????

Beberapa tahun yang lalu saya cerita ke Mami dan Papi soal ini, dan sukseslah saya ditertawakan habis-habisan… he he he.