Archive

Monthly Archives: March 2017

Kalau boleh hanya nonton satu film saja seumur hidup, saya mau nonton film apa ya? Duh bingung banget karena saya orangnya melankolis dan suka nonton film yang bernuansa muram, hahaha, tapi saya juga suka film yang menyentuh hati.

Screen Shot 2017-03-31 at 6.39.52 PM

Pasti semua sudah pada tahu kaaan film ini apa… hehehe. Ya, ini film Love Actually yang jadoel itu. Kenapa saya pilih film ini? Karena nonton ini, sisi melankolis saya tersentuh di beberapa bagiannya, tetapi akhir-akhir nonton pasti saya merasa senang, good mood, feel good deh pokoknya!

Ceritanya sendiri sederhana, segmen-segmen cerita orang-orang yang sepertinya nggak berhubungan satu sama lain menjelang Natal di kota London. Makin filmnya berjalan, makin kita melihat koneksi di antara tokoh-tokoh di dalam film. Ceritanya seputar cerita cinta, ya lha judulnya Love gitu loh.

Kalau boleh memilih, cerita favorit saya adalah cerita seputar rumah tangga Alan Rickman – Emma Thompson. Yang paling saya nggak suka, cerita seputar karakter tokohnya Laura Linney. Ah jadi pengen nonton lagi nanti malam! Dan tahu nggak, film pendek sekuel yang mempertontonkan karakternya sekarang ngapain (ya, tahun 2017!) ada di Internet! Judulnya Red Nose Day.

Favorit saya ya… duh saya orangnya paling sulit disuruh memilih hal-hal favorit, karena kesukaannya banyak. Tapi untuk postingan ini akan dicoba pilih salah satu dari semuanya.

 

Song | “Into Everything” – by Telepopmusik

Nggak tahu banyak gak ya yang tahu Telepopmusik? Saya suka sekali dari jaman kuliah, dan lagu ini nggak bosan-bosannya saya dengarkan. Bahkan baru weekend kemarin saya dengarkan lagi. Ini dia link video Youtube-nya di sini kalau ada yang mau mendengarkan.

 

Quote | “Love won’t happen till you try to cross the great divide.”

Quote ini dari lirik lagu judulnya The Great Divide, yang nyanyi Velvetine. Saya suka sekali mix dari Myon and Shane 54-nya… anyway pas saya dengarkan lagunya pertama kali, kalimat ini ngena banget. Iya lah kalau mau mencintai (pasangan, teman atau keluarga) harus mau mencoba untuk menjadi lebih baik, kompromi, mau mengalah. Kalau nggak yang ada ya berantem dong.

 

Food | Noodles

Comfort food saya ya apapun jenis mie. Apapun jenis mie-nya saya suka! Seringkali saya ngidam-ngidam makan mie entah pagi, siang, tengah malampun sering. Pokoknya kalau nawarin saya makan mie nggak bakalan saya tolak deh.

 

Vacation Spot | Bali

Saya suka sekali Bali. Harganya terjangkau, alamnya indah, makanannya enak, mau ke waterpark juga ada. Pokoknya senang banget. Ideal saya kalau ke Bali, maunya bangun siang, makan enak, creambath… siang-siang baru keluar.

 

Photo | Loki and I

Screen Shot 2017-03-30 at 6.59.24 PM

Kalau saya boleh memilih satu hal pada diri saya yang tidak akan pernah mau saya ubah seumur hidup… mungkin adalah sifat empati saya.

Saya sebelumnya nggak pernah sadar kalau saya memiliki tingkat empati yang tinggi. Saya pikir sudah wajar dan seharusnya kita ikutan sedih dan sensitif dengan hal-hal di sekitar kita – dan semakin saya besar saya semakin sadar bahwa empati orang lain itu sulit ditemukan.

Hal yang buat saya biasa dan sudah seharusnya, tapi saya jarang menemukan hal yang sama dilakukan orang sekitar terhadap saya. Kalau ada yang cerita dengan saya, saya otomatis menaruh diri saya sendiri di posisinya. Ikutan merasakan emosinya. Dan berusaha kalau tidak diminta, saya tidak akan kasih saran. Saya mendengarkan saja.

Sadar ini juga merupakan suatu ‘hadiah’ dari sahabat saya yang nulis surat panjaaaaang sekali untuk saya ketika saya sedang down, dan mengatakan pada saya secara mendalam tentang tingkat empati yang saya miliki.

Nah jeleknya dari si empati, mood saya ngikut dengan mood orang di sekitar saya. Misalnya orang rumah lagi bete atau nggak senang, sayapun ikutan nggak senang. Tapi walaupun begini saya nggak mau mengubah sifat yang saya miliki karena buat saya lebih banyak keuntungannya… dengan ini juga sebetulnya saya jadi lebih peka dengan perasaan orang lain (maksudnya kalau orang sedang nggak senang, saya pun bisa merasakan).

My Most Embarrassing Moment to Date

 

Hari yang paling memalukan untuk diriku adalah suatu hari di tahun 2000, tepatnya di pertengahan tahun. Lupa tepatnya bulan apa, yang pasti adalah semasa libur sekolah karena kami di Pontianak, Kalimantan Barat sedang berlibur di rumah alm. Oma Diana (biasanya kami hanya ke sana saat liburan sekolah saja).

Ingatan saya terhadap siang tersebut masih agak lengkap. Saya ingat hari itu panas terik, menyengat ala hawa Khatulistiwa. Ketika itu, hanya ada Mami dan kakak saya yang ke sana, Papi tidak ikut. Nah saya sewaktu kecil ini umur 12 tahun, senang kalau ke Pontianak karena tempat alm. Oma tinggal dulu lingkungannya banyak orang Chinese (mayoritas) jadi saya diizinkan keluar rumah sendiri buat jajan. Kalau di Jakarta, jangan harap deh, main ke rumah tetangga saja harus diantar jalan oleh minimal kakak saya.

Rumah alm. Oma dulu ada di daerah jalan besar, karena rumahnya adalah tiga buah ruko dijadikan satu rumah tinggal yang ada tamannya. Jadi di sekitar sana banyak yang bisa dilihat, dari kedai kopi, warung, sampai tempat penyewaan VCD dan komik pun ada. Saya ingat siang itu Mami sedang pergi membeli durian dengan Paman saya, kakak dan saya menyeberang jalan untuk jajan es selasih kesukaan saya, sekaligus nonton penghitungan suara pemilu. Waktu itu saya senang banget karena di daerahnya Megawati menang. Alasannya cilik sekali, karena Megawati kan perempuan. Jadi saya senang dong perempuannya menang pemilihan suara lokal. Pendukungnya pun menyanyikan seruan coblos nomor 4, Megawati PDI Perjuangan.

Nah waktu dulu ini (sampai sekarang sih) saya orangnya ragu… takut menyeberang. Ketika mau nyeberang saya tengok kanan kiri kalau kosong. Setelah selesai minum es selasih dan nonton pemungutan suara saya dan kakak pun jalan pulang ke rumah Oma… dan kejadian memalukan itupun terjadilah.

Tengok kanan, kosong. Tengok kiri, kosong. Larilah gadis cilik yang pakai kaos tua itu (saya dulu demennya pakai kaos yang sudah tua, karena adem). Lalu… JEDER…. Lagi lari, tiba-tiba ada motor muncul dan menabrak saya! Sepertinya tuh motor muncul dari gang di dekat tempat pemilu. Kan saya lihat kanan kosong waktu sebelum saya lari. Ya saya masih ingat tuh ditabraknya dari kanan.

Memalukan banget, saya dikerumunin orang-orang yang heboh. Sandal jepit saya copot terbang. Terus si pengemudi motor menyalahkan saya… katanya lari-lari di jalan sih. Yah pokoknya memalukan banget kalau diingat (kalau saya sekarang bakalan ngamukin si pengemudi motor itu, masa jelas-jelas anak kecil ditabrak, malah dimarahin sih! Orangnya mungkin remaja akhir belasan atau awal 20 tahunan). Lalu saya pun meyakinkan orang-orang yang berkerumun kalau saya masih bisa jalan. “Lihat nih!” ucap saya menahan malu, sambil melompat. “Saya masih bisa jalan kok!” Kerumunan pun bubar. Masa itu masih kecil, belum mengerti kalau yang namanya sakit sehabis luka itu datangnya nanti, bukan ketika tubuh masih dalam kondisi shock.

Pulang ke rumah Oma, kakak saya sudah duluan sampai dan mengadukan saya. Sambil ketawa-ketawa lagi, makin malulah saya… pokoknya maluuuuunya masih ingat sampai sekarang. Saya dinyanyikan seruan coblos no 4 PDI oleh kakak saya (sampai bertahun-tahun kemudian malah, kalau beritanya muncul, saya pasti diledek, untung sekarang sudah nggak meledek lagi hahaha). Oma pun membersihkan luka saya, dan ketika dibersihkan baru kelihatan di telapak kaki ada yang sampai bolong karena terlindas. Ketika Mami pulang tentunya kakak saya sudah menyambut dan menyongsong di depan sambil ngadukan saya… Mami pun masuk, nenteng durian di kedua tangannya pakai kaos putih (memang ingatan macam gini jelas banget ya, masih ingat pula lengkap dengan lantai rumah si Oma yang warna coklat gradasi) – panik dan ingin melihat keadaan saya.

Saya nggak diomelin hari itu, tapi sesudahnya diomelin (dan maluuu) karena saya nyebrang nggak lihat-lihat katanya (suer saya lihat lho, dan kosong bagian kanan – mungkin salah saya adalah saya lari), dan merasa bersalah si Mami diomelin oleh Papi karena saya ditabrak waktu dalam jagaan Mamilah ceritanya.

Kalau ditanya pengalaman paling memalukan saya selalu teringat cerita ini. Malunya masih kadang suka merembes di hati kalau ingat nyanyian ledekan dan kerumunan orang-orangnya… hahaha. Tuh luka sudah sembuh semua, kecuali yang bekas bolong di telapak kaki, masih kelihatan sedikit kalau diperhatikan 🙂

Describe the best day of your life to date.

Probably day 2 of our mini moon. Jadi setelah kemarin nikah kami menginap dua malam dari Jumat ke Minggu di Waiheke Island, 45 menit ferry dari Auckland.

Kenapa berkesan sebagai best day? Jadi memang bener-bener bersantai banget hari Sabtu itu. Kami menyewa Air BnB satu kamar yang pemandangannya bagus sekali, dengan balkon yang menghadap ke alam. Bangun hari Sabtu pagi (bangunnya siang sih, jam 8.30an) saya menyiapkan kopi (disediakan plunger coffee oleh pemilik rumah) dan menikmatinya sambil mengagumi pemandangan. Kebetulan cuaca juga bagus sekali, semilir angin, tidak begitu panas.

Screen Shot 2017-03-17 at 5.55.57 PM

Usai minum kopi kami bersiap-siap untuk ke Ostend Market, semacam weekend market di Waiheke. Jalan ke halte, naik bus, menikmati pemandangan… tiba di daerah Ostend kami makan di pasar, melihat barang-barang antik dan vintage, melihat daerah sekitar Ostend… balik ke pusat kota Waiheke, jalan santai keluar masuk toko, menikmati kopi, es krim dan snack. Lalu jalan balik ke penginapan untuk istirahat, santai, bersiap-siap makan malam di restoran yang sangat luar biasa enaknya — terimakasih kepada salah satu bos saya yang memberikan voucher makan malam untuk kami.

Sepanjang hari kami hanya ngobrol berdua, benar-benar bersantai sambil menikmati company satu sama lain.

Memang simpel, tapi terkadang di tengah kehidupan yang sibuk dan cepat-cepat, menikmati waktu bersantai dengan pasangan rasanya benar-benar spesial.

Tulisan ini sebetulnya sudah ada di dalam draft agak lama, tapi baru sekarang ini siap di-publish. Inspirasinya datang dari beberapa orang dekat dalam kehidupan saya, dan reaksi sekitarnya menyikapi keadaan mereka.

Saya pribadi sangat sedih dan prihatin dengan stigma anak yang diadopsi di Indonesia (di negara Asia lain begini nggak? Adakah yang bisa memberi pencerahan?). Sebutannya saja sudah tak enak didengar, yaitu anak pungut. Duh miris nggak sih. Emangnya barang jatuh di lantai yang dipunguti. Atau saya sering dengar juga, anak haram. Lingkungan pun melihat sang anak seperti warga kasta kelas dua saja. Padahal seharusnya mengadopsi anak kan untuk dijadikan anak betulan, bukan anak-anakan. Kalau di NZ sih, saya nggak menjamin masyarakatnya semua menerima tetapi sebagian besar sudah menganggap adopsi adalah hal yang lumrah dan biasa saja, bukan seperti aib/memalukan yang ditutupi atau jadi bahan gunjingan.

Beberapa contoh kejadian yang saya alami akhir akhir ini, yang membuat saya miris dan memutuskan untuk menuliskan keprihatinan dan uneg-uneg saya dalam blog.

Pertama, salah satu teman dekat yang diadopsi sejak bayi, mengatakan ketika orang mengetahui tentang cerita masa lalunya, kontan orang pun mengasihani. Lalu bertanya, apakah mencari orangtua kandungnya? Diikuti kenapa nggak/kenapa iya? Kalau cari ada yang anggap salah dan mengkhianati orangtua angkat. Kalau tidak cari ada yang anggap padahal itu kan orangtuamu. Menurut si teman saya ini, she doesn’t know any difference between parents and adoptive parents. Dia nggak mengenal konsep maksud pertanyaan itu. Seumur hidup, ya orangtuanya adalah orangtua yang mendidik dan membesarkannya. Orangtua yang mengangkatnya, memperlakukannya seperti anak sendiri. Lha iya dong, memang mau diperlakukan seperti apa? Anak-anakan?? Teman ini juga kalau nggak cerita ia anak angkat saya nggak akan nyangka, karena hubungannya dengan orangtuanya dekat sekali. Sewajarnya hubungan orangtua dan anaklah…

Kedua, anggapan bahwa anak angkat itu ‘tidak baik’. Saya pernah dinasihati, kalau mengangkat anak tuh tidak baik, karena nanti sudah dewasa kemungkinan besar akan mencari orangtua kandungnya lalu ‘kesetiaannya akan berbalik’ ke si orangtua kandung. Kamu nggak anak mendapatkan keuntungan apa-apa dari mengangkat anak. Saya sangat tidak senang dengan anggapan ini. Karena anggapan ini menurut saya, mengajarkan kalau cinta kasih itu tidak tulus, tidak ikhlas, tapi ada pamrihnya. Jadi tujuannya angkat anak, egois dong, kalau sudah besar si anak dikekang untuk ‘setia padanya’. Jadi kayak cerita cinta posesif saja.

Ketiga, konsep anak angkat/adopsi bukan anaknya. Orang yang tidak pernah mengadopsi anak mungkin tidak akan pernah membayangkan bagaimana sih perasaan si orangtua terhadap anak, karena mereka kan punya anak kandung sendiri ya. Tapi contoh mudah sajalah, saya sayang sekali dengan Loki yang bukan anak saya tuh. Itu saja adopsi kucing, bukannya anak. Ada seorang anak adopsi yang akan diajari oleh orangtua(angkat)nya untuk mengelola aset keluarga. Lalu seseorang mengomentari, “Lho memangnya boleh? Kenapa? Kan bukan anaknya…” komentar yang mungkin untuk si orang biasa saja dan wajar (karena ketidaktahuan atau kurangnya pengertian) tapi tentu saja tidak enak didengar. Orangtua yang mengadopsi tentu saja sudah menganggap anak adopsinya adalah darah daging sendiri. Again, saya tekankan, masa mengadopsi untuk jadi anak-anakan. Tidak disayang, tidak diikutkan secara penuh. Kalau kejadian begitu adalah salah orangtua angkatnya, bukan kesalahan pada status si anak yang anak angkat! Karena mengangkat anak adalah untuk dijadikan anak, bukan main keluarga-keluargaan. Kalau ada perbedaan perlakuan atau rasa tidak menyayangi ya, berarti orangtua tersebut belum/tidak siap mengangkat atau mengangkat tidak sepenuh hati (contoh: ya bukan anak kandung gue kok ngapain gue pusingin/bagi aset gue). Tidak baik, bukan?

Sahabat saya yang diadopsi pun mengatakan, kalau status ‘anak angkat’nya adalah anak bawaan dari suami/istri perkawinan sebelumnya, sepertinya dipandang lebih wajar oleh masyarakat dibandingkan anak yang 100% diadopsi oleh pasangan. Alasan mengadopsi pun banyak… ada yang memang tidak bisa memiliki anak, ingin membantu dunia karena merasa banyak anak yang tidak punya keluarga di dunia ini, ingin anak jenis kelamin tertentu (misalnya anak lelaki sudah ada 2, tidak mau/bisa hamil lagi tapi ingin anak perempuan, ya sudah adopsi adalah jalan keluar — ini berdasar beberapa kisah nyata di kehidupan sekitar saya)… kalau ada yang tahu alasan lain boleh ditambahkan di comment 🙂

Intinya saya menulis ini sebagai bentuk rasa prihatin saya terhadap orang-orang awam yang melihat (tanpa disadari kebanyakan) anak adopsi sebagai anak kasta kelas dua. Saya sangat prihatin karena beberapa orang terdekat dalam hidup saya diadopsi orangtuanya. Saya melihat nggak ada kata angkat, pungut, adopsi. Itu hanyalah suatu proses bagaimana mereka menjadi keluarga. Kalau orang lewat hamil dulu, mereka mengadopsi. Sekali sudah menjadi keluarga, ya judulnya resmi dan simple; orangtua dan anak. Nggak ada embel-embel! Lagipula setiap individu berbeda. Jangan melihat kasus orangtua mengangkat anak yang setelah dewasa dinilai ‘tidak baik’ lalu kemudian langsung menggeneralisasi dan mencap anak yang diadopsi itulah masalahnya. Kesalahannya. “Makanya mungut anak sih!” — komentar yang sangat tidak enak didengar.

Catatan: saya nggak pernah mengadopsi anak. Ini hanya pengamatan saya dari apa yang saya alami secara intens dalam kehidupan saya 🙂

Semoga curhatan saya ini make sense 🙂 wahhh setelah dipublish dan dituliskan rasanya legaaa sudah bisa berbagi pengalaman sendiri ❤