Archive

Monthly Archives: May 2017

Sejak maraknya kasus putusan hakim terhadap Ahok yang sekarang mendekam di penjara, status di media sosial saya pokoknya marak, dan rame banget. Dari yang mendukung si hakim (ini jarang banget sih), menyalahkan pendemo berjilid-jilid, menyesalkan minimnya intervensi presiden dan sebagainya. Salah satu status (dan juga pertanyaan yang saya terima di pesan japri) yang marak ini adalah mau pindah ke luar negeri aja, deh.

Lalu dari salah satu status yang ada di Path ini, saya membaca comment-nya yang mau keluar negeri ini, katanya pindah ke NZ gampang sepertinya. Oh ya? Saya gemes, ikutan mengkomentari statusnya, memangnya mau pindah pakai jalur bagaimana? Jawabannya, oh nggak tahu ya. Saya bales aja dengan nada sarkastik gitu, cari laki lah biar bisa pindah kalau mau gampang. Si orang ini sepertinya nggak menangkap nada sarkasme dalam komentar saya, lalu dijawabnya seperti bernada ya sudah besok cari suami bule deh. Garuk-garuk kepala… capek deh.

Inilah sifat orang-orang yang suka menggampangkan… dengar dari si ini, atau si anu, padahal kenyataannya ya nggak seperti itu.

Saya pernah ditanya teman yang mau pindah ke sini. Tapi maunya terima mudah! Langsung kerja saja gitu. Lalu kerjanya juga maunya langsung kantoran. Dia tanya pada saya, bagaimana cara mendapatkan visa kerja… lalu saya tanyakan kamu sekolah lagi mau nggak? Secara kualifikasi yang dipunyai sebelumnya kan nggak memadai untuk mendaftar visa kerja atau visa resident. Nggak mau. Buang uang katanya. Lalu saya ceritakan pengalaman saya pribadi (yang bekerja mulai dari cuci piring semasa sekolah) langsunglah ia mengurungkan niat. Ribet ya! Gitu katanya. Dikira hidup saya enak kan udah dapat laki bule – ya tapi masa datang ke negara lain tujuannya untuk jaring pasangan demi mendapatkan visa? Harus dong mau berusaha sendiri… kalau tujuannya mau jaring pasangan saja, nggak mengandalkan diri sendiri, lah kalau nggak dapat pasangannya bagaimana dong? Terus memang mau hidup menggantungkan diri dengan orang lain dan nggak mandiri ya nggak.

Pernah salah satu teman saya yang tahun pertama di sini dapat pasangan dan ia pun mengandalkan si pasangannya 100% untuk mendapatkan ijin tinggal. Konsekuensinya nggak banget, lho! Ia kurang beruntung. Hubungannya nggak berlangsung dengan baik, tapi tiap kali minta putus pacarnya ini (sekarang mantan) mengungkit-ungkit soal ijin tinggal yang ia dapatkan. Mau dilaporkan ke imigrasi lah (mau nuduh si cewek ini memanfaatkan dirinya hanya untuk dapatkan visa). Pernah juga diancam suruh bayar uang $20,000 kalau mau putus, kan sudah dapat visa darinya. Untungnya setelah 5 tahun, si cowoknya menyerah dan mau juga putus.

Ada juga yang mengucapkan “gampang” dengan enaknya dari mulut, karena gengsi. Contohnya salah satu papa temanku. Teman saya ini dulu bersekolah di Australia lalu pulang ke Indonesia karena nggak mendapatkan ijin tinggal, padahal dirinya kepengen sekali bekerja di sana. Si om ini, papasan dengan Mamiku, terus mereka ngobrol, lalu dengan enaknya ngomong seperti, “Iya Mariska mah enak di New Zealand kan GAMPANG… waktu kakaknya apply di Australia jaman dulu juga MASIH GAMPAAAAANG kan! Anak saya tuh maunya di Indonesia aja, bisa jadi boss, kalo di luar negeri kan cuma bisa jadi karyawan…” pokoknya ngomong gampangnya itu sampai ditarik-tarik kata Mami saya.

Wuah… si om ini gimana sih, saya kan temenan dengan anaknya ya saya tahu dong alasan anaknya pulang dari Indonesia karena tidak dapat visa, bukannya karena nggak mau tinggal di sana. Gengsi banget. Gampang, kata om, yang sekeluarga serba dilayani ART – memang mau kerja cuci piring di NZ? Gampang, kata si om, yang nggak tahu (atau nggak mau tahu) perjuangan kakak saya dapat permanent resident di Australia yang juga nggak gampaaaang… sulit, buktinya dari angkatan kakak saya yang bersisa di sana nggak banyak. Saya tahu persis bagaimana panjang dan ribetnya tuh mencoba mendapatkan permanent resident di Australia.

Kalian pernah nggak, ketemu orang-orang yang menggampangkan seperti ini?

Advertisements

Post ini sumpah beneran ngarol ngidul aja tentang saya yang random, hahaha. Jadi ceritanya saya sudah lama banget kepengen makan mie ayam. Saking kepengennya, setiap kali saya beli ayam, kalo kulitnya nggak terpakai saya masukkan ke ziplock bag dan dibekukan, sampai tuh kantong (yang saya labeli “chicken collection”) penuh dengan kulit ayam. Kenapa? Karena lagi niat, mau dibikin minyak ayam, biar mie ayamnya endeus seperti mie abang-abang.

Di atas adalah proses pembuatan minyak ayamnya. Kulit ayam dibersihkan, dikeringkan dan dicampur dengan 1 sendok makan minyak sayur. Ya, benar, satu sendok makan saja. Lalu dipanaskan di atas api sedang dengan beberapa butir bawang putih yang digeprek. Lama-lama, minyak dari kulitnya keluar semua dan hasilnya adalah di foto atas kanan.

Yak sudah jadi mie ayamnya. Resep pernah saya share di sini ya. Aduh memang benar, mie yang pake minyak ayam tuh rasanya beda… enak banget pokoknya. Sisa kulit ayamnya dimasukkan air fryer oleh M sampai crispy terus dimakanin gitu aja seperti snack… hahaha… everyone’s happy!

Berhubung lagi iseng banget saya tambahkan pangsit di mie ayamnya. Ceritanya makan mie ayam jamur lengkap dengan bakso dan kuah pangsit. Tadinya mau buat pangsit goreng a la Bakmi G* tapi nggak jadi, malas menunggunya, si pangsit dikuahkan saja. Secara saya ini orangnya malas bikin makanan sedikit-sedikit, sisa pangsitnya buanyak banget bisa buat makanan darurat di kala cuaca dingin nih. Semuanya masuk ke freezer dibekukan untuk kalau-kalau malas masak.

Yang terakhir… adalah kejutan dari orang-orang rumah. Berhubung kemarin sewaktu ulangtahun kok sedih banget ya di kasur, kena flu berat dan gak bisa makan. Jadi kuenya menyusul! Senangnya… berkaitan dengan post kemarin tentang bersyukur, ini benar-benar moment yang membantu sekali.

Sekian post ngarol-ngidul berkaitan makanan kali ini.

Beberapa hari yang lalu, saya sedang bersantai di kasur sebelum tidur. Iseng-iseng nontonin InstaStory orang-orang (hihihi, ketahuan dong kerjaan nggak jelasku apa). Sampai ke InstaStory salah seorang teman lama… yang lagi kumpul-kumpul dan makan-makan di rumahnya. Di NZ juga nih. Lalu di video tersebut ada foto-foto mereka sedang ngumpul dan muncul di layar, ada seseorang yang lagi balik liburan kemari. Nggak mengabari saya. Padahal, bagi saya dia adalah salah satu teman dekat yang sering ngumpul sebelum dirinya pindah keluar negeri. Kalau misalnya saya pergi ke negara di mana dirinya pindah tersebut, pasti saya akan mengabari dan ajak ketemuan.

Jleb.

Perasaan aneh mengalir dalam diri saya. Kenapa? Apa saya ada salah ngomong? Lalu si otak kepala saya yang menyebalkan ini langsung deh memutar-mutar skenario. Ada apa? Oh iya si orang lain kemarin kumpul dan sebagainya juga nggak mengajak saya. Apa saya nyebelin ya? Teringatlah kasus dengan teman SMU, dulu kami main bertiga dan ujung-ujungnya saya terdorong ke samping karena mereka berdua berteman akrab, sampai sekarang, dan saya merasa dibuang.

Setelah merasa bersedih selama beberapa hari; apalagi salah satu teman saya mengatakan, kalau weekend ini nggak bisa ngumpul dengan saya karena mau ketemu dengan cewek di video itu. Makin jleb-lah rasanya — saya memutuskan untuk curhat dengan M. Dan setelah itu saya jadi agak lega.

Kenapa saya harus sedihkan dengan hal-hal kecil yang sepele. Yang remeh temeh. Mungkin dia sibuk. Yang pentingnya interaksi kami memang nggak intens kok. Dan, untuk apa saya merasa sedih diri, karena yang sayang sama saya juga banyak… hahaha. Being grateful is hard. Bagaikan gelas yang separuhnya terisi air, saya melihat kosongnya. Nggak melihat penuhnya.

Saya tidak ingat, kejutan ulangtahun kemarin yang saya terima dari teman-teman saya yang berbeda-beda grup, di kala saya sakit.
Tidak menyadari, kalau yang ngajak ketemuan tuh banyak, tapi saya-nya aja yang lagi nggak fit dan sibuk.
Terlewatkan, punya suami yang baik banget dan setiap hari bikin saya ketawa.
Kurang bersyukur tentang teman-teman di kerja yang baiknya luar biasa, walaupun di kantor suasana kadang seperti SMA saja, tapi yang peduli dengan saya sayang dengan saya.

Lupa, kalau teman dunia mayapun peduli dengan saya. Leony yang baik hati antarkan saya pulang malam-malam (walau kena road works nyebelin sampe dua kali harus mutar, hahaha). Inly yang menyempatkan diri ketemuan dan ngasih hadiah dari Indonesia pula. Stephanie yang ngirim Snapchat foto paket buatku. Syera yang saking baiknya saya dikasih resep rahasia… hihihi. Wiwien yang suka nanyain kabarku, dan saya suka balasnya lama pula! Aggy yang mau buatkan sarung Kindle pesan khusus dengan baik hatinya. Dan masih banyak lagi.

Saya ingin jadi orang yang nggak melupakan hal-hal yang baik hanya karena sedih merasa ‘dicuekin’ — padahal untuk apa merasa ‘dicuekin’ oleh seluruh dunia, padahal yang hanya nila setitik. Iya nggak? Dan alasanpun bisa saja nggak terkait dengan saya. Mungkin dia sibuk. Atau waktu di sini sempit. Atau apalah, ngapain dipikirin kan? Mendingan, gue happy aja! – slogan dari salah satu sahabat saya.

Yuk belajar untuk bersyukur (yang ternyata sulit).

Sekian curhatan ngarol ngidul saya hari ini… hehehe.

Senangnya hatiku, beberapa hari yang lalu ketika saya pulang sampai rumah malem banget (karena habis kopdaran seruuu setelah selesai kerja bareng Inly dan Leony nih!), begitu sampai rumah ada kardus gede. Kirain kardus apa… begitu dibuka ternyata isinya salah satu alat dapur yang sudah selama ini dilirik tapi nggak pernah dibeli! Air fryer alias alat menggoreng dengan udara 😀

Surprise ini adalah hasil kerjaannya sahabat-sahabat dekat saya di Indonesia yang berkonsultasi dengan M. Pokoknya senang bukan kepalang, deh. Apalagi nggak terduga-duga kan. Langsunglah besoknya untuk menyiapkan makan malam, kami mencoba menggunakan si air fryer ini.

Penampakannya air fryer. Sebagai kilas sedikit, air fryer yang terkenal (dan muahal…) tuh merek Ph***ps. Konon air fryer ini bisa menggoreng makanan menjadi crispy, renyah tanpa menggunakan minyak atau hanya menggunakan sedikit minyak saja. Jadi hasilnya akan mirip atau hampir sama dengan yang digoreng dalam minyak banyak. Tentu saja karena nggak menggunakan minyak segentong untuk menggoreng makanannya, hasilnya akan lebih sehat untuk tubuh. Salah satu kekurangan air fryer ini tapi, nggak bisa menggoreng dengan adonan/batter basah… contohnya pisang goreng atau tahu goreng isi gitu. Tetap harus menggunakan metode direndam di minyak panas.

Untuk eksperimen pertama kami memutuskan untuk membuat kumara chips. Apakah itu kumara chips? Alias sweet potato chips… Kalo di Indonesia bisa kita artikan sebagai ubi goreng! Hehehe.

Kumara itu jenis ubi manis khas New Zealand. Saya cuci dan potong-potong sesuai ukuran (dimiripkan dengan ukuran kentang goreng), campur dengan sedikit saja olive oil dan garam.

Nyalakan mesinnya, masukkan ke keranjang yang sudah disediakan. Deg-degan. Sekaligus semangat banget. Menunggu 25 menit dan hasilnya…

Wowwww garing, renyah dan enaaaaak sekali… rasanya persis dengan yang beli di restoran cepat saji. Padahal nggak pakai direndam minyak panas.

Disajikan dengan daging tidak halal 🙂 dan tumis kale bawang putih. Cepat, mudah dan enak plus mengenyangkan pula.

Oh iya setelah ini M iseng nyoba-nyoba masak chicken nugget frozen dari freezer, kali ini nggak dipakaikan minyak. Langsung dimasukkan ke keranjang. Hasilnya? Mantap! Semangat banget untuk mencoba masak lain-lainnya pakai air fryer ini.

Hai teman-teman yang sudah pada ikutan giveaway saya, terima kasih atas keikutsertaannya ya! Seperti yang sudah dijanjikan hadiahnya ada dua yaitu sebuah tempat lilin dan sebuah buku resep, dua-duanya khas New Zealand. Pemenang dipilih melalui random number generator yang saya dapatkan di Mbah Gugel.

Berikut nomor undian yang saya pakai, nomornya dari urutan comment yang saya terima di postingan.

  1. Wulan
  2. Bayutrie
  3. Neng Syera
  4. Crystal
  5. Shiq4
  6. Joey
  7. Mrs. Muhandoko
  8. Presyl
  9. Puji
  10. Rietsi Vicia
  11. Christa
  12. Ata
  13. Wiwien

Oke yuk mari, kita undi bersama!

Hadiah Pertama: Tea Light Lantern
Pemenangnya nomer 12 yaitu Ata!

Screen Shot 2017-05-16 at 9.18.59 PM

Hadiah Kedua: Buku Resep Edmonds
Pemenangnya nomer 9 yaitu Puji!

Screen Shot 2017-05-16 at 9.22.05 PM

Selamat ya yang sudah pada menang dan terima kasih banyak yang sudah pada ikutan 🙂 saya senang sekali dengan masukan-masukannya. Ata dan Puji, nanti kita email-emailan ya untuk tukeran alamatnya.

Minggu kemarin, supervisor saya tidak masuk kerja Senin dan Selasa. Katanya sih kena flu. Hari Rabu beliau muncul… dengan suara sexy (kedengeran banget lagi sakit) dan… PAKAI MASKER!

Kantor kami tuh modelnya open office, yang nggak dipisahkan ruangan antar karyawannya (kecuali big boss ya). Supervisor pun duduknya nggak jauh dari saya. Katanya, beliau ini kena virus flu berat dan… nular. Bengonglah kami, takut ketularan. Sudah tahu nular, terus masuk kerja. Atasannya supervisor saya ini agak nyebelin memang kalau ada yang izin sakit dah sayangnya supervisor saya izin sakitnya ya harus telepon si atasan ini. Masuklah dia.

Hari Jumat siang di kantor… nih kepala rasanya mumet. Capek. Pikiran mungkin memang karena semingguan memang banyak episode menyebalkan di kantor. Pulang, leha-leha karena seneng sudah weekend. Ramalan cuacanya pun positif, semingguan itu hujan terus dan dingin, Sabtu Minggu harusnya cerah.

Bangun pagi hari Sabtu… memang cuacanya cerah… tapi… saya demam astaga! Ambil termometer. 38 derajat! HUAH… ini mah pasti ketularan si Ibu Boss Supervisor! Mana datangnya berbarengan dengan batuk, hidung tersumbat dan satu badan betul-betul pegel linu… sebelnya sampe ke ubun-ubun deh.

Senin pagi keadaanku nggak membaik juga, jadi teleponlah ke supervisor… dia menyayangkan dan minta maaf dirinya sudah nularkan virus ke saya. Ke dokter siangnya dan kata si dokter… saya memang kena virus flu ganas. Jadi harus istirahat sampai tanggal 18 (hari Kamis). Ya sedih donk… masa hari ulangtahun jadinya di rumah, badan sakit-sakit?

Yang lucu si Loki, sejak sakit saya diikutin terus, sampe mandi aja ditungguin gitu, hahaha…

Tadi sore, dapat SMS dari teman kerjaku, yang bilang besok ulangtahun dirayakan di rumah saja. Bersungut-sungut deh saya… soalnya memang sama sekali belum sembuh. Ini mah bukannya libur merayakan senang, tapi pake rasa pegel linu! Hehehe… Gara-gara si Ibu Boss nih… moga-moga besok sudah mendingan sakitnya.

Beberapa hari yang lalu, saya mimpi rumah kami di Jakarta kemasukan banyak orang dan kami ngumpet di dalam… begitu orang-orang sudah dekat, sayapun terbangun. Mimpi yang masih saya alami, skenario yang sama, dari dulu. Ketika mimpinya muncul, sayapun jadi terkenang, kejadian 19 tahun yang lalu, yang darimana mimpi ini berasal. Melihat kalender, wah… ternyata sebentar lagi harinya. Karena itu saya memutuskan, setelah dulu-dulu bilang kapan-kapan mau ditulis, sekaranglah saatnya saya menuliskan pengalaman ini.

Screen Shot 2017-05-13 at 12.28.08 PM.pngMami dan saya pada masa itu… foto diambil waktu liburan ke Penang, Malaysia tapi lupa tepatnya kapan. Di foto saya berumur 9 tahun.

19 tahun yang lalu saya hanyalah seorang anak piyik yang berusia 9 tahun. Seorang anak kecil yang sebentar lagi bakal merayakan ulang tahun yang kesepuluh. Waktu itu saya berambut pendek sebahu, pakai kaca mata dan suka memakai baju gombrong supaya saya lebih mirip kakak saya yang laki-laki.

Saya masih ingat hari itu, kami semua nggak ada yang masuk sekolah. Mami dan Papi nggak pergi ke toko. Seminggu menjelang hari itu, Mami sudah dapat bocoran dari tukang yang suka mengantarkan barang ke tokonya, dari tukang ojek yang suka mangkal di dekat sana dan suka dikasih makanan oleh Mami, kalau akan ada kerusuhan yang menargetkan ras kami. Saya nggak ingat persis detailnya hari itu bagaimana, yang jelas sekitar daerah perumahan kami sudah ditulisi “MILIK PRIBUMI”.

Pagi itu, saya dan kakak didudukkan oleh Mami dan Papi. Kami di dalam rumah, ngumpet di kamar mandi yang lumayan besar yang letaknya di dalam kamar utama, dan kebetulan pintu keluar kamar utama kami dekat dengan pintu belakang. Kamar mandi yang bernuansa warna cokelat, ada bathtubnya yang juga warna coklat dengan lantai kotak-kotak kecil. Agak panas dan pengap karena AC tidak dinyalakan di kamar. Radio dinyalakan untuk memantau arah massa, telepon dipegang di dekat untuk menunggu kabar dari teman dan sanak saudara.

Kata Mami, kalau orang-orang memasuki rumah, kami akan langsung lari. Papi bertugas menggandeng saya, Mami akan membawa kakak. Lari ke rumah Pak Haji di belakang yang baik hati, entah kenapa kami hari itu nggak langsung ngumpet di sana saja, entahlah, saya nggak paham. Pakaian saya disuruh ganti oleh Mami. “Biasanya pake baju jelek hari ini keren amat pake bajunya!” — masih terngiang ucapan Mami di telinga saya. Saya memegang boneka kelinci coklat kesayangan saya, yang berbaju gaun bermotif bunga-bunga kecil di kain berwarna hijau gelap. Oleh Mami saya disuruh jangan membawa bonekanya. Nanti takut dikira orang menyembunyikan uang, katanya.

Hari itu kami sangat beruntung. Massa yang sudah dekat sekali dengan komplek perumahan kami, tidak mendatangi komplek. Toko Mami dan Papi pun selamat dari penjarahan berkat kebaikan mereka selama ini kepada orang-orang di sekitar sehingga mereka menjaga keamanan toko. Selama hampir seminggu lamanya kami tidak keluar rumah, tidak bekerja, tidak sekolah.

Beberapa teman dekat saya tidak beruntung, karena mereka terkena, untunglah tidak ada yang luka apa-apa. Hanya trauma saja yang menyisa dan tak terlihat. Sayapun sampai sekarang, kalau di rumah sendirian, suka waspada kalau-kalau ada yang mau masuk ke rumah… sampai M suka geleng-geleng kok istrinya mudah terkejut dengan suara di rumah… ha ha ha.

19 tahun berlalu. Tahun depan tepat 20 tahun. Hari yang tidak akan pernah saya lupakan, yang memori melekat di hati, yang membuat saya sadar kalau hidup ini adalah singkat dan harus dijalani sebaik-baiknya.

Oh iya, kalau kalian bagaimana? Adakah cerita atau ingatan khusus di hari ini? Share di comment dong kalau ada 🙂

Disclaimer: Postingan ini hanya sekedar membagi pengalaman saja, tidak ada maksud apa-apa. Dari dulu saya memang suka kepikiran untuk menuliskannya apalagi sejak comment dengan Febri di salah satu postingannya yang dulu.