Archive

Monthly Archives: June 2017

“Lu mah enak, jalan-jalan terus soalnya gak ada anak…”

Begitu kata salah seorang teman saya, yang membuat saya menulis postingan ini. Kata-kata seperti ini sering muncul di kehidupan sehari-hari, “Lu mah enak…” membandingkan situasi diri sendiri dengan keadaan orang lain.

Lu mah enak, punya pekerjaan kantoran.

Lu mah enak, bisa tidur siang gak diganggu anak.

Lu mah enak, tinggal di luar negeri.

Lu mah enak, bisa masak.

Lu mah enak, gaji dollar.

Lu mah enak, ga ada anak, gak terpaksa masak.

Lu mah enak, sakit bisa istirahat, kalau gue ada anak.

Dan sebagainya.

Everyone’s life struggle is different.

Teman saya yang ibu bekerja membandingkan saya dengannya karena saya nggak punya anak. Betapa asyiknya hidup saya nggak dirongrong kesibukan mengasuh anak dan bekerja sekaligus. Sampai ke hal kecil yang misalnya saya bilang, saya habis tidur siang, selalu ditimpalinya dengan ah enaknya kalau udah punya anak nggak bisa gitu lagi lho… Tapi kalau dibalik, dirinya di Indonesia memiliki asisten rumah tangga plus pengasuh anak untuk membantunya. Saya? Memang saya nggak punya anak. Tapi saya kerja 8 jam sehari dan pulang ke rumah mengerjakan bagian pekerjaan rumah saya (biasanya memasak, cuci alat masak karena piring dan peralatan makan lainnya masuk mesin cuci piring, cuci baju, merapikan ruangan, bersihkan kamar mandi dan melipat baju yang sudah kering) sendiri. Tanpa asisten.

Lagipula memiliki anak kan pilihannya secara sadar (Contohnya orang khusus ini, mau nambah lagi! Saya dan teman saya yang lain sudah mikir, moga-moga nambah anak, komplennya nggak dobel… hahaha) dan ia sudah dikasih kesempatan dengan yang Di Atas untuk bisa memiliki dan mengasuh anaknya. Kenapa nggak disyukuri? Dia pasti memang senang dan bersyukur punya anak. Kadang suka posting bernada betapa bahagianya punya anak, pokoknya kalau belum punya nggak akan paham dsb. Tapi kalau front-nya keluhan terus (sering posting di sosmed dan komen di status orang lain yang nggak ada hubungannya dengan anak, tentang hal negatif berkaitan dengan anak), rasanya tidak mengenakkan. Saya tahu jadi seorang ibu bukanlah tugas yang mudah. Tapi itu bukan berarti setiap kesempatan dipakai untuk membandingkan susahnya atau repotnya hidup dibanding hidup orang lain. Yang belum punya anak hidupnya bukan berarti guampaaaang kan?

Enak bisa masak? Bisa lah belajar dari bawah. Lagipula bakat setiap orang berbeda. Yang gak bisa masak, pintar menjahit misalnya (yang notabene saya benar-benar nggak bisa, jahit kancing saja nyerahhhh polll).

Enak tinggal di luar negeri dan gaji dollar? Biasanya kalau saya ceritakan keseharian saya (yang apa-apa harus bisa sendiri), perjuangan saya untuk adaptasi dan sampai ke titik saya sekarang ini, sedihnya tinggal jauh dari orangtua… si orang ini pasti mikir lagi. Tapi saya yang sekarang bukan saya yang mau capek “khotbah” dengan orang-orang model gini. Cukup dijawab dengan senyum saja.

Saya nggak dibawa iri dengan kehidupan orang lain. Nggak bohong, perasaan seperti itu normal kok, asal nggak dibawa tidur aja hahaha. Saya manusia, kadang sayapun merasa oh si itu nggak usah begini ya… lalu saya mikir tapi kalau begitu (aspek hidupnya yang lain) saya juga gak mau hahaha. Saya sadar, hidup setiap orang tidak ada yang sempurna. Kita nggak tahu kesusahan apa sih yang dimiliki orang setiap individu yang berbeda. Kadang, bisa menyakitkan hati lho, untuk orang lain dengan mengatakan “Lu mah enak…” ini, dibandingkan dengan dirimu, karena nggak tahu kan dan jadi menyepelekan pergumulan dan perjuangan orang lain.

Mari deh kita belajar bersyukur aja dengan kehidupan ini, sudah susah mendingan kita saling bahu membahu, saling mendukung, daripada lomba-lomba kehidupan siapa sih yang lebih susah… ya nggak?

Salam dari Auckland, ngetiknya ketika ambil break di kantor secara sepertinya hari ini bakalan lembur lagi… sisi baiknya, besok Jumat dan bisa pulang cepat (karena harus nunggu orang betulin pipa) 😀

Advertisements

Setelah lama dalam waitlist kepengen banget, dan sering nonton Masterchef AU (baca: kebanyakan nonton) akhirnya saya punya juga sebuah food processor cantik! Udah kebayang di kepala chicken nugget, pastry, pasta yang gampang, pempek… anyway teman-teman saya nih baik banget, ulangtahun saya kemarin mereka ngumpulkan uang supaya saya bisa beli alat masak idaman ini, pilih sendiri. Walaupun sekarang dapurnya penuh sesak… ya iya lha itu gadget kok jadi banyak banget ya… tapi nggak apa-apa, hasilnya masuk perut ini, hahaha.

Kemarin beli ini karena suka dengan warnanya (lagi-lagi deh), tapi attachment-nya juga banyak dan dibanding yang lain, model ini lebih compact, tapi berat. Jadi nggak ringkih. Lalu asyik banget kebetulan waktu beli, diskon lumayan banyak juga. Penampakan boxnya yang besarrrr…

Ini dia penampakan dusnya ketika dibuka… warnanya katanya adalah warna cranberry. Seperti warna buah ceri terang menurut saya. Suka banget! Makasih ya teman-temanku.

Duduk manis di atas counter dapur. Di kanan itu kotak penyimpanan attachment-nya, bisa untuk macam-macam fungsi dari memotong, mengiris, bikin adonan dan sebagainya.

Percobaan pertama ngapain dong?

Buat bakso! Karena sudah lama sekali penasaran… dan sering lihat di Instagram yang tinggal di luar negeri dingin-dingin bisa ngebakso irinya diriku. Kalau beli, selain mahal juga kan banyak pengawetnya. Dan karena baksonya nggak ada yang style Indonesia, mereka kenyal sekali dan rasanya kurang enak menurut saya. Salah satu makanan kesukaan saya tuh bakso, sampai tante saya menjuluki saya anak bakso waktu kecil hahaha… di sekolahan karena makanan yang dijual harus halal, ya mie ayamnya kurang minyak nggak halalnya menurut saya kurang enak hahahaha… jadi hampir tiap hari, jam istirahat makanan saya adalah bakso.

Pulang kerja belilah sekotak daging sapi cincang segar. Seusai makan malam dan membersihkan si food processor baru, saya mencampurkan daging dengan putih telur, es batu, tepung sagu tani, baking powder, bawang putih goreng, bawang putih bubuk, bawang merah goreng, lada, garam… dan setelah diolah jadi seperti di bawah ini. Senaaaang banget!

Saya melakukan beberapa test bakso dari adonan yang sudah jadi, tambah sana sini lagi (garam, sagu, es batu) sampai menemukan tingkat rasa dan kekenyalan yang pas.

Senang banget sudah jadi baksonya! Untuk percobaan pertama okelah, rasa sudah oke banget, hanya problem di membalnya. Sudah cukup keras dan kata si suami, enak banget. Tapi saya mau membal seperti baksonya abang-abang hahaha… kata Mami harus pakai obat (semacam tepung bakso) tapi masa iya sih? Besok-besok kalau buat lagi saya ingin menambahkan tepung sagu dan es batunya. Namanya eksperimen kan. Tapi senangnya sekarang bisa stok bakso homemade di kulkas. Bentuknya nih, harus diperbaiki, karena nggak pernah mentol bakso, bulatannya masih kurang cantik.

Esok harinya di malam musim dingin yang menggigil, di rumah makan bakso pakai bihun! Rasanya puas sekali, apalagi buatan sendiri. Suami juga ngacungin jempol, katanya enak, mirip yang beli di Indonesia. Senang banget deh. Disajikan dengan cabe buatan sendiri, daun seledri, daun bawang, sayur… dan bawang goreng legendaris oleh-oleh dari Inly yang baik hati. Sumpah, bawang goreng buatan rumah Inly ini enak banget, yang doyan bawang goreng harus coba dan pesen sama Inly.

Saya punya teman di kantor. Cewek ini lebih muda lumayan dari saya (sekitar 6-7 tahunan) dan orangnya sih baik dan asyik diajak ngobrol, hanya saja… ada satu sifatnya yang saya nggak begitu suka.

Pernah suatu kali bakery kesukaan saya buka cabang dekat kantor, menjual donatnya yang terkenal. Ingin dong, makan donat itu. Saya cerita kepadanya yang lalu menawarkan diri untuk pergi membeli donat. Pas donatnya datang, heboh dong yang duduk di sekitaran kita nanya beli donat di mana dan sebagainya. Dibilangnya ooo itu di toko ini, tapi sama sekali nggak nyebut saya yang menginformasikan, dan dia dipuji juga lho, kamu tahu saja nih tempat makanan baru.

Semua orang yang kenal saya pasti tahu dong saya ingin sekali ke Disneyland. Saya ngomong sepintas lewat dengannya, beberapa minggu kemudian dia cerita lagi plan liburan ke London, tapi mungkin mau stop di Los Angeles (bayangkan, Auckland – London – LA!) – yang menurut saya super nggak nyambung, jauh amat ke LA, di Paris ada kan Disneyland, dekat lagi dengan London – buat ke Disneyland satu akhir pekan.

Lalu tahun lalu saya sempat mau mengecat rambut jadi warna pink ujungnya. Saya cerita dengannya sepintas lalu saja, walau beberapa kali, karena saya sedang nunggu rambutnya supaya tumbuh panjang sedikit lagi (supaya bisa gradasi). Nah suatu saat, kami sedang makan siang dengan teman-teman kerja yang lain, ada yang menanyakan kamu ngapain weekend ini? Jawabnya… “Oh saya mau ngecat rambut ujungnya jadi pink…” Kesel nggak sih!? Nafsu makan hilanglah, lalu datang weekend tersebut dia nggak jadi ngecat… entah kenapa. Saya kira sudah lewat, tapi bulan depannya dia nyebut gitu lagi. Kali ini saya bilang, “Itu kan ide saya duluan…” katanya gak papa hasilnya beda kok… dan benar hari Seninnya dia muncul dengan rambut yang ujungnya dicat pink. Saking kesal saya nggak jadi cat pink sampai sekarang hahaha… soalnya di kantor pada heboh dirinya dicat pink itu, nanti kalau saya cat juga kan saya “ikutan dia” jadinya.

Beberapa kejadian kecil lainnya terjadi, tapi sudah lama nggak begitu lagi karena si M sudah wanti-wanti ketika saya curhati, kamu jangan cerita-cerita dengannya kalau ada ide atau rencana, sebelum kamu lakukan.

Sampai hari ini.

Ceritanya, saya kan demen tuh lihat-lihat Instagramnya barang-barang handmade ya, dan saya menemukan piring bentuk kepala kucing handmade. Lucu sekali. Saya tanyakan dia mau nggak, soalnya si orang ini suka sekali dengan kucing juga. Katanya mau. Ikutan pesan, saya yang pesan dan minta dikirimkan ke kantor. Ketika sampai… saya berikan sebuah untuknya. Beberapa saat kemudian – saya berdiri agak jauh – ia berjalan ke meja teman kantor saya yang lain. Menunjukkan nih piring kucingku, lucu ya, nemu di Instagram… handmade lhooo… dan sama sekali gak sebut saya yang nemukan dan order.

Wuahhh… sebenernya sepele, hal kecil, kalo kejadian sekali-kali di kehidupan sih nggak apa-apa ya tapi ini berulang-ulang dan si pelaku orangnya sama pula…

Ini sebetulnya saya yang sensitif apa memang nyebelin ya?

Berhubung saya punya proyek Instagram (klik di sini) dan blog makanan baru (klik di sini) saya ingin mencoba peruntungan saya dalam berkebun lagi. Tahun 2015 saya sempat bercerita tentang niat berkebun saya. Sayangnya, tanaman-tanaman tersebut (ada mint, rosemary, parsley dan spring onions) satu-satu mati… tangan saya nih betul-betul nggak hijau. Kali ini ganti strategi, tanamannya ditaruh di halaman depan rumah yang sering saya lewati supaya saya ingat untuk disayang-sayang. Memang untung nggak disangka, ketika bertanya tips berkebun kepada temannya M yang berkebunnya sukses sekali, dia malah menawari ambil saja tanaman di rumahnya untuk bibit supaya saya nggak perlu beli.

Pulang dari rumahnya yang asri (dan ada kucing serta ayam-ayam yang lucu dan gemuk-gemuk sayangnya saya lupa foto) dikasih hadiah rosemary, catnip dan cabe segar-segar! Duh terimakasih sekali, bisa buat masak minggu depan nih. Loki juga sangat senang dan ceria dapat catnip yang luar biasa banyaknya.

Tanaman yang diberikan olehnya saya pindahkan ke pot saya. Ini tanaman mint, catnip dan rosemary. Nanti saya mau beli tanaman kecil untuk coriander (ketumbar) dan thyme yang sering saya gunakan dalam masakan sehari-hari.

Untung lagi yang nggak disangka dan sangat disyukuri, teman kerja saya pindah rumah. Ketika pindah ini tanaman lemon dan limaunya di dalam pot, nggak ikut dibawa karena rumah barunya minim tempat di kebun. Ditawarkan ke saya, gratis… dan diantarkan ke rumah pula! Benar-benar terima kasih sekali, apalagi timingnya yang tepat banget kan ketika saya mau mulai berkebun lagi.

img_6867

Foto penampakan tanaman dan buah limaunya yang cantik dan segar-segar, semoga beneran nggak mati! Ada tips, boleh dong dibagi untuk saya yang baru mulai berkebun ini!

Nasi goreng petai yang enak dan mengobati kangennya dengan rumah. Piring di atas ini adalah piring masa kecilnya Mamiku, lho! Konon waktu kecil setiap hari beliau makannya dengan piring ini, hebat banget kualitasnya sudah berumur 50 tahun masih bagus. Masak ini hasil dari inspirasi karena SMS-an dengan Stephanie malam sebelumnya, hahaha… Resep sudah diposting di sini ya!

Terakhir, penampakan si Loki aja nih karena bisa lihat panjangnya dia dibandingkan bantal sofa kami.

Semoga weekend kalian bermanfaat dan penuh warna juga, ya!

Bulan Juni 2016 yang lalu (wow tepat setahun lho) saya sempat bercerita di blog tentang customer service berkesan yang saya terima di NZ sini. Sekedar lanjutan cerita pelayanan bagus dari toko tas tersebut, saya membeli tasnya. Beberapa bulan kemudian tassel (gantungan)nya copot dan ketika menghubungi mereka, pemilik toko (yang juga membuat tasnya dengan tangan) baik banget mengirimkan kurir untuk jemput tasnya di kantor, diperbaiki (gratis lho!) dan dikembalikan ke saya dalam waktu yang cepat. Pokoknya berkesan banget deh dan sampai sekarang saya masih rekomen orang untuk membeli tas di sana.

Kali ini saya mau berbagi cerita tentang pelayanan sangat berkesan yang saya terima di awal bulan.

Ceritanya, akhir bulan lalu saya dan suami beli breadmaker alias mesin pembuat roti. Iseng banget deh, dan seru lho memakainya. Foto-foto sudah diambil dan nanti saya mau cerita tersendiri tentang si breadmaker ini. Belinya secondhand alias bekas. Siang hari sebelum menjemput mesin, kami sudah semangat banget mau buat roti malamnya, jadi belilah tepung protein tinggi plus ragi di supermarket. Di rumah sih, ada ragi sachet, tapi sudah kadaluarsa beberapa bulan sebelumnya jadi beli saja yang baru pikir saya. Jemput mesin roti sorenya, seusai makan malam kami semangat langsung mencoba mesinnya… nunggu dengan semangat… keluarnya BAAAANTEEETT PUOLLL.

Sedih nggak sih? Sudah semangat mau makan roti, keluarnya pucat dengan berat batu bata pula. Saya kira kami pakai resep yang salah. Si M curiga mungkin raginya rusak, soalnya selain nggak ngembang tuh roti nggak ada bau khas raginya. Cek di Google katanya untuk mengecek ragi masih aktif atau tidak adalah memberi ragi air hangat dan sedikit gula. Kalau adonan raginya menggelembung, artinya tuh ragi masih bagus. Kami tes dua ragi, ragi yang baru (yang dipakai) dan yang kadaluarsa. Alangkah kekinya begitu 10 menit telah lewat, ragi kadaluarsa menggelembung hebat sementara yang beli siangnya nggak ada reaksi.

Berita baiknya kamipun coba buat lagi (kali ini dipasang timer supaya rotinya jadi waktu kami bangun esok harinya) memakai ragi kadaluarsa yang ternyata masih gagah perkasa tersebut. Jadi lho, tuh roti dan cantik pula. Berita jeleknya ya kok ragi yang baru beli siangnya malah matiiiikk… sayapun memfoto bukti ragi yang tiren itu dan mengirimkannya ke Facebook page Edmonds. Lha janjinya tuh ragi “sure to rise” kok malah mati kemaren sore?

Wah tanpa disangka, respon dari pesan Facebook itu cepat sekali. Dalam kurun beberapa jam saja saya menerima balasan panjang lebar. Bukan hanya meminta maaf, si layanan konsumen ini juga meminta nomor kode ragi untuk diselidiki mengapa kok nggak bagus, dan meminta alamat saya untuk mengirimkan voucher tanda maaf mereka katanya. Seminggu kemudian, kami dapat surat. Pas nerima suratnya saya kira surat dari rumah sakit soalnya amplopnya serius sekali. Wah mengesankan pokoknya, karena tuh surat tanda tangannya betulan pake bolpen, bukan yang di-print bareng kertasnya.

Penampakan surat dan ragi tiren tersebut.
Beda banget dengan pelayanan jelek yang saya terima dari suatu brand makanan ringan kecil di sini. Snacknya katanya produksi keluarga (usaha kecil), dan enak sih, tapi saya nemu kertas aluminium foil kecil di salah satu biskuitnya. Komplen ke Facebook, ditanggapi tapi lama dan nggak memberikan penjelasan apa-apa. Saya pun nggak membeli makanan ringan tersebut lagi.

Baru pertama kali dapat surat permintaan maaf formal, terus ada voucher buat beli dua pack raginya. Lumayanlah dapat pengganti ragi yang tiren plus satu pack lagi untuk obat bete… hahaha… ini mah alamat kita makan roti terus ya. Baru pertama kali dalam 29 tahun hidup di dunia ini saya komplen tentang suatu produk, komplen yang sangat sederhana tapi ditanggapi sebaik ini.

Terimakasih Goodman Fielder NZ, yang dengan sigap menanggapi komplen dan feedback pelanggan.

Salah seorang sahabat saya bekerja di bidang makanan (PR dan marketing). Iseng-iseng saya memperlihatkan blog makanan saya, dan dia menyarankan kenapa nggak dibuat public saja? Toh saya saat itu sedang curhat ingin cari hobby baru. Masalahnya saya nggak mau membuat public blog pribadi, alamat email pribadi, identitas pribadi saya karena banyak alasan (hehe apa cari-cari alasan?)

Ya sudah diputuskan karena ini kayak proyek saya yang dimentori olehnya, saya benar-benar mulai dari nol. Dari akun wordpress, alamat email dan akun Instagram khusus untuk ini. Cari nama pun susah, nggak ada yang nyangkut di hati… sampai pas lagi sun Loki kepikiran namanya Cat Lady Kitchen saja.

Screen Shot 2017-06-04 at 3.22.53 PM

Ini blog baru khusus makanan dan resep saya. Yang Eating In lama, akan dihapus begitu resepnya saya pindahkan semua ke sini.

Screen Shot 2017-06-04 at 3.24.20 PM

Saya juga bikin akun Instagram khusus postingan makanan untuk proyek ini.

Yang demen dengan postingan makanan, boleh dong di-follow blog dan Instagram barunya (saya nggak sering-sering posting makanan lagi ceritanya nanti di IG biasa). TERIMA KASIH BANYAK! 🙂

 

Blog: Cat Lady in The Kitchen

Instagram: @catladykitchen

Kali ini saya mau berbagi sedikit tentang visa spesial yang satu ini karena banyak yang nggak tahu lho, tentang eksistensinya. Catatan ya, saya nggak punya pengalaman apply visa ini sendiri jadi ini hanya rangkuman dari research saya membaca-baca di website imigrasi New Zealand.

img_5596

Silver Fern Job Search Visa ini adalah visa yang dikeluarkan oleh pemerintah NZ untuk orang-orang yang minat untuk mencari pekerjaan di sini. Boleh bekerja apa saja, lho! Setiap tahunnya hanya 300 orang pertama yang aplikasinya diterima untuk mendapatkan visa ini, jadi harus cepet-cepetan (udah kayak beli tiket konser). Setiap tahun ada tanggal khusus di mana kalian bisa apply visa ini. Hanya sekali saja setiap tahunnya! Dan nggak dikasihtahu dari jauh-jauh hari, cuma ditulis ‘late 2017’ jadi harus rajin-rajin cek ke website imigrasi.

 

Dengan mendapatkan visa ini, bisa bekerja apapun di manapun di NZ selama 9 bulan lamanya (boleh dipakai juga buat belajar selama 3 bulan maksimal) dan bisa keluar masuk NZ (multiple entry) selama ini. Nah kalau dalam kurun waktu 9 bulan memegang visa ini kalian mendapatkan job offer dari perusahaan di sini, kalian bisa mendaftar Silver Fern Practical Experience Work visa, dan mendapatkan visa lagi dengan durasi maksimal 2 tahun… lalu bisa mendaftar visa resident setelahnya.

Kali ini yang mau saya bahas sih yang Job Search visa ya karena inilah langkah awal yang kudu ditempuh sebelum ke depan-depannya.

 

Saran-saran pendaftaran dari saya:

  • Sign up/registrasi di website Imigrasi NZ SEKARANG JUGA. Jadi kalian punya akun, dan akan dikabari lewat email tanggal pastinya dan bisa mempersiapkan diri untuk mencoba peruntungan mendaftar visa ini. Nggak buru-buru.
  • Research juga tentang job market di NZ (bisa lihat-lihat lowongan yang ada di Seek.co.nz atau Trademe.co.nz) jadi kalau beruntung dan dapat visanya, kan nggak kelabakan ya.
  • Ketika mendaftar bukalah banyak tab dengan browser yang berbeda, supaya kesempatan untuk masuk lebih besar. Ingat, saingan kalian untuk 300 visa ini dari seluruh dunia yang buesaaar ini.
  • Mempersiapkan dari jauh hari dokumen-dokumen dan syarat yang dibutuhkan.
  • Jangan lupa waktu yang kalian pakai harus waktu NZ yaa… teman saya ada yang mau daftar, dia baca jam 7 pagi. Lah jam 7 pagi NZ dong, bukan waktu Jakarta. Pas dia buka, udah habislah tuh kuota.

Kriteria penting yang dibutuhkan ketika mendaftar:

  • Usia harus 20-35 tahun.
  • Harus berada di luar NZ ketika mendaftar. Mereka mungkin akan minta bukti surat yang kalian terima beserta alamatnya untuk bukti, atau surat dari perusahaan di mana kalian bekerja.
  • Punya paspor yang masih berlaku dan pasfoto terbaru.
  • Menyiapkan diri menjawab pertanyaan kesehatan. Kalau aplikasinya diterima harus siap ikut X-Ray dan eksaminasi medis untuk imigrasi.
  • Kalau diterima harus ada SKCK dan police report dari semua negara yang pernah kalian tinggali selama 12 bulan atau lebih.
  • Harus memiliki ijazah minimal setara dengan S1 di NZ atau trade qualifications (kalau yang mau kerja pertukangan misalnya).
  • Harus punya pengalaman kerja.
  • Harus memiliki bukti tabungan setara dengan NZ$4,200 untuk bukti kalian bisa menghidupi diri kalau datang ke sini nanti.
  • Harus memiliki bukti tiket pesawat, booking-an tiket pesawat atau uang yang dibutuhkan untuk beli tiket return ke NZ.
  • Harus lancar berbahasa Inggris! Dan bisa membuktikannya dengan misalnya ijazah TOEFL atau IELTS, ijazah sekolah di negara yang berbahasa Inggris.

 

Semoga postingan singkat ini bisa membantu 🙂

Pengalaman yang sudah pernah mendaftar sendiri bisa dilihat contohnya di sini.

Untuk yang mau baca-baca, silakan ke halaman web Imigrasi New Zealand ini.