Archive

Monthly Archives: August 2017

Judulnya lebay banget ya… hahaha… singkatnya setiap tahun kantor saya ikutan acara cupcake day ini di mana kami-kami volunteer dari kantor untuk buat cupcakes (atau cemilan lainnya) yang lalu dijual di kantor dan hasilnya disumbangkan untuk SPCA. SPCA ini adalah organisasi kesejahteraan hewan di New Zealand. Mereka ini organisasi independen yang nggak menerima uang dari pemerintah… jadi sumbangan dari masyarakat benar-benar penting untuk mereka. Saya sendiri sebagai pecinta binatang tentunya ikutan dong ya volunteer di kantor untuk bikin kue. Tahun ini tidak terasa sudah tahun ketiga saya ikutan acara ini. Mau berbagi cerita saja gimana ikutan berpartisipasi di acaranya.

Saya, si orang last minute ini, hari Minggu sore baru mulai baking. Pede aja pastinya jadi. Lalu pakai acara coba-coba resep baru lagi… yah saudara-saudara GAGAL DONG! Hasil jadinya sih enak bingits seperti kue bolu ala ala Indonesia gitu, tapi saking airy dan lembutnya, si kue kempes kalau dikasih icing yang berat 😦

img_7730

Di atas ini adalah penampakan si kue yang gagal tapi enak ini (iya, gagal, tapi karena enak dan lembut jadi kita makanin semua di rumah hihihihi). Resepnya pakai resep Cie Ine Elkaje. Saking enaknya si suami udah request, bikin lagi dong pakai pasta pandan. Dasar memang kue kesukaannya, chiffon pandan 🙂

Oke, resep gagal, nggak mati gaya. Langsung ke website gula di NZ sini yang kebetulan merek gulanya kami pakai di rumah, pakai resep cupcakenya, hasilnya… cupcake yang lembut, tapi kuat dan kokoh untuk icingnya.

img_7736

Inilah hasil cupcakes batch kedua, saya buat dobel resep jadinya dua loyang. Beda ya hasilnya kelihatan sama yang awal, mengkerut kebanyakan udara si kue. Tapi jujur saja… lidah Asia saya lebih doyan yang mengkerut. Soalnya rasanya persisssssss kue bolu chiffon! Biar cepat, saya bikin Nutella frosting saja (karena lumayan sering bikin jadi sudah nggak ditakar lagi buatnya). Eh ternyata spuitku hilang… entah ke mana… padahal sudah jam 11 malam yaaa habisnya last minute sih bikinnya. Setengah mengantuk sayapun menghias cupcakes dengan menggunakan pisau butter! hehehe. Lalu pakai sprinkles. Hasilnya lumayan juga. Jam 12 malam jerih payah saya terbayar dengan comot makan satu cupcakesnya.

img_7743

Hasil cupcakes frostingan tangan saya. Lumayan banget! Satunya dijual $4

img_7742

Tahun lalu peserta bakingnya jauh lebih banyak, tahun ini hanya ada 3 orang saja. Jadi kuenya terpaksa kami hargai lebih mahal 😦 terus kedengeran Ibu Manager saya protes, kok mahal amat. Yah Bu, bikinnya pakai telat tidur dan bahannya dari kami lho… hahahaha… tapi setelah ngoceh-ngoceh si Ibu Manager beli juga satu. Dilabeli dengan post it note, karena saya demen nulis, sayalah yang disuruh nulis label dan harga.

img_7745

Oh iya di atas ini adalah ‘toko kue’ resminya SPCA untuk cupcake day ini. Toko pop up ini hanya ada sehari ini saja, dan tersebar di Auckland. Yang membuat kue dan menjualnya juga adalah para volunteer yang baik hati.

Bagi saya pribadi, seru — dan walau tiap tahun pasti membuatnya last minute, lalu ngoceh-ngoceh no more next year, tetap tahun depannya saya ikutan lagi.

Advertisements

Kali ini saya ingin bercerita beberapa pengalaman unik/awal/berkesan tentang papasan/ketemu nggak sengaja dengan orang Indonesia di tempat umum di New Zealand. Lumayan sering papasan atau dengar orang ngobrol Bahasa Indonesia di jalanan, mal, supermarket dan sebagainya. Sering di sini nggak tiap hari ya, mungkin sebulan sekali. Beberapa minggu yang lalu saya di Queenstown juga sempat papasan dengan pasangan Indonesia. Yang nyikut dan ngasih tau saya si M. Dia bilang “They’re saying ini… iniii…” dengan nada orang milih barang gitu hahahaha. Papasannya di toko souvenir.

Pengalaman pertama manis sih. Katanya orang Indonesia ramah-ramah? Iyaaaaa iyaaa… pengalaman yang pertama ini terjadi pada bulan kedua saya di Auckland. Sedang jalan-jalan di K Mart (department store murah) bersama dua teman serumah saya yang juga orang Indonesia (berangkatnya bareng dari agen sekolah yang sama). Kami papasan dengan sebuah keluarga muda kecil Indonesia yang RAMAH BANGET. Papa, mama dan anaknya perempuan… minggu depannya sekeluarga ini main ke apartemen kami yang mungil, bawa makanan. Ramah, baik, welcoming… ah berkesan deh, tapi saya nggak lanjut temenan dengan mereka.

Pengalaman kedua yang teringat… waktu saya baru di sini juga. Tahun pertama, tahun 2011 dan nggak kenal banyak orang – disarankan ikut organisasi tapi saya kurang minat, maklum karena sibuk, sekolah lalu bekerja part time. Papasan deh sama dua cewek Indonesia, kalau dengar dari gaya pakaiannya dan gaya ngomongnya… pasti deh orang Jakarta. Saya iseng, lagi good mood, jadi menyapa. Halo, dari Indo yaa (insert senyum semanis madu di sini). Whuaaaahh… katanya orang Indonesia ramah-ramah? Ngggaaaaaak semuaaaaa… saya mendapatkan jawaban berupa “Iya.” yang singkat, padat, jelas, tak terlanjutkan dan sebuah hadiah kecil tatapan naik dari atas kepala ke bawah kaki. Kabur ah! Itu pertama dan terakhir kali saya menyapa orang Indonesia duluan kalau nggak kenal. Niatku mau ramah aku malu… hihihi.

Pengalaman yang ketiga, lucu banget. Ceritanya saya dan teman lagi antre McDonald’s. Kami waktu itu dilemma banget mau makan apa, belum memutuskan, dan saking asyiknya saya nggak sadar di belakang yang tadinya nggak ada orang sekarang ada orang yang menunggu. Seorang Ibu kira-kira umur 50an dan anaknya kira-kira sepantaran saya lah, laki-laki. Si tante sepertinya kurang sabar… lalu nyelonong ke depan kami dan taruh order ke kasirnya, anak remaja yang mukanya langsung bingung situasi seperti ini mau diapakan. Muka saya kan mata sipit kulit kuning nggak langsat, jadi si Tante pasti nggak menyangka saya ngerti omongannya seterusnya.
Si anak mukanya merah karena malu, bilang, “Mama nggak boleh gitu… antre Ma.”
Lalu si Tante dengan agak berapi (walau ngomongnya nggak kencang, tapi nadanya biasa saja jadi saya bisa dengar) menjawab, “Habis mereka cewek-cewek ini LELETT buangeeeet (ngomongnya ditarik) sihhhhh… Mama kan laaaappeeerrr… biarin aja nih cewek-cewek sukurin tahu rasa kalo lelet ya keduluan orang!”

Ya sudah, saya pun jalan beberapa langkah, menundukkan kepala soalnya si Tante lebih pendek dari saya lalu saya berkata, “Gak apa-apa kok, Tante kalau laper, duluan aja.” Lengkap dengan senyum semanis madu a la saya hahaha… si Tante pun gelagapan dan menjawab pelan dan halus, “Oh… orang Indo juga yaa…” huahahaha… saya bukannya kesel tapi malah tertawa dalam hati. Teman saya juga ikutan ketawa! Habisnya mau nyolot terselubung malah ketahuan kan… makanya hati-hati deh kalau ngomong di tempat umum (saya juga) – daripada malu, ngomong macam-macam ternyata orangnya ngerti lagi diomongin yang nggak enak 🙂

Lebih dari setengah dekade tinggal di NZ sini… nggak terasa saya jadi slebor… hahaha. Selebor ini dalam artiannya percayaan, kurang waspada (kalau pakai bahasanya Mami saya). Orang Kiwi di sini, kebanyakan percayaan, baik, ramah — dengan tingkat kriminalitas yang menurut mereka tinggi ya, tapi kalau dibandingkan dengan negara-negara yang saya tinggali sebelumnya, wuih nggak sama sekali.

Percayaan ini dalam artian, nggak punya prasangka buruk dengan orang lain, pokoknya percaya deh kalau orang lain itu sama-sama jujur.

Mereka bisa lho jualan lepas dan ditinggal. Beberapa minggu yang lalu, saya pergi ke Matakana market (kira-kira sejam dari Auckland). Karena parkiran sekitar market penuh, kami parkir agak jauh dan jalan ke market. Sepanjang jalan… banyak rumah-rumah di dekat sana yang ikutan jualan juga. Ada yang jualan buah, tanaman kecil (contoh, Vietnamese mint di dalam pot kecil) dan sebagainya. Jualan-jualan ini semuanya ditinggal di luar rumah, ada yang ditaruh gitu aja di bak plastik, ada juga yang niat dengan meja papan kayu tua. Sayang, saya lagi sibuk minum kopi jadi nggak kepikiran mau difoto. Setiap jualan ini ada harganya (biasa ditulis dengan spidol di karton kardus bekas) dan… disediakan wadah (contohnya kaleng atau kotak bekas es krim) untuk uangnya!

Ya, mereka percaya saja tuh kalau orang membeli dagangannya, nanti bayar uangnya pas dengan jujur yang lewat nggak iseng mengambil uangnya. Saya juga pernah lihat di tepi jalanan kota kecil nanti ada seperti kotak kayu kecil yang mirip halte bus bentuknya, tapi tujuannya untuk orang jualan buah — dan nggak ada yang jaga. Mobil-mobil yang lewat bisa melihat dari tanda di papan buah apa yang dijual dan berapa harganya. Kalau mau beli ya stop saja, ambil buahnya, lalu membayar dengan menaruh uang tunai di wadah yang disediakan.

Salah satu teman kerja saya yang tinggalnya dekat dengan Matakana itu bercerita, kalau di rumahnya susu yang mereka minum adalah susu segar. Setiap dua hari sekali mereka menaruh botol susu (bahannya dari gelas dan transparan) di depan pintu rumah di pagi hari, dengan uang untuk botol berikutnya, nanti tukang antarnya akan ambil botol kosong dan menaruh botol baru dengan susu yang penuh.

Cerita begini kebanyakan yang di luar kota besar. Kalau di kota-kota besar (seperti di Auckland sini), sudah semakin ramai. Hidup susah. Banyak imigran. Ketidakpercayaan pun muncul di mana-mana.

Walaupun begitu tetep saja menurut standar saya yang tumbuh besar di Jakarta… masih aman bangetttt.

Saya berani saja tuh jalan sendirian walaupun di malam hari. Tas ya jarang diresleting. Ditenteng gitu aja. Kadang saya suka mikir aduh lupa ditutup nanti ada yang copet bagaimana. Selama 6 tahun nggak pernah kena copet walau slebor gitu. Kalau di Jakarta, harta bendaku pasti sudah habis tak bersisa hahaha… Kadang kalau malas bawa tas ya saya pegang saja HP dan dompet di tangan. Makan, ditaruh di meja tanpa diawasi. Kalau di Jakarta… makan di restoran di mal saja barang berharga masuk tas, yang ditutup rapat dan ditaruh di pangkuan, saking seringnya dengar cerita seraaaaam di mana-mana (apalagi orangtua saya tuh sering banget mengirimkan berita kriminal dengan modus terbaru di Indonesia).

Kejujuran juga tinggi. Misalnya duluuuuuu waktu baru ke sini, saya sempat pinjam buku di perpustakaan di mana tuh buku terselip waktu saya pindahan apartemen. Selang setahun kemudian, saya nemu bukunya ketika bongkar tas, dan cerita sepintas lalu dengan M. Ditanyain, kapan mau dikembaliin? Saya bilang ah nanti aja karena nggak sempat (ini sifat jelek banget jangan ditiru ya!)… hasilnya adalah saya dikuliahi macam-macam, disuruh kembalikan buku secepatnya dan bayar denda telat yang memang merupakan kewajiban saya.

Soal penipuan, saya juga jadi lebih ‘kurang awas’ — kali ini, pakai istilahnya Papi… hahaha. Dulu, waktu beli mobil saya transfer dulu malam sebelumnya. Besok sore baru diambil mobilnya. Kalau di Jakarta lha ya takut, banyak curigaan. Padahal ya saya masih curigaan dan awas juga sih. Kadang misalnya kami lagi ngapain gitu, lalu saya berkomentar, “Tapi kalau begini ________ bagaimana?” — M pasti bilang “It’s such an Indonesian thing to say.” maksudnya karena kecurigaan saya macam-macam skenarionya. Lah ya harus, di Indonesia kan buaaaanyaaakkk penipuan. Orang-orangnya kreatif.

Anyway postingan ini idenya dari foto di bawah ini. Saya tadi sore melihat ini di sebuah toko. Payung yang boleh dipinjam pelanggan kalau lagi hujan, mau jalan balik ke mobilnya. Nanti dikembalikan. Saya terpana, soalnya lagi-lagi ingat di Jakarta… apalagi payung kualitas bagus. Gratiskan? Jaminan yang balik, pasti nggak lebih dari seperempatnya jumlah payung deh.

Apa…?

Ya benar, sudah setengah tahun lamanya saya mempersulit hidup sendiri hehehe, dengan nggak mengambil wadah (terutama plastik) sekali pakai. Wadah sekali pakai ini termasuk sedotan, beli minuman di wadah plastik, makanan di wadah plastik, styrofoam dsb.

Saya pernah bercerita di postingan ini tentang upaya saya mengurangi sampah, nggak mau ambil kantong plastik, dan inilah perubahan ‘naik sederajat’ yang saya coba terapkan dalam kehidupan sehari-hari sekarang.

Soal sedotan… sebelum beli sedotan stainless steel, saya mencoba kalau beli minuman minumnya langsung dari gelas saja. Sekarang sudah beli satu pak sedotan yang bisa dipakai berulang kali, lama dan bahannya stainless pula. Praktis, tinggal dibawa ke mana-mana dan tinggal cemplung ke mesin cuci piring sesudahnya.

Screen Shot 2017-08-11 at 8.31.13 PMPenampakan sedotan saya.

Berkaitan dengan soal minuman, komitmen nggak memakai produk sekali pakai ini juga artinya saya mengurangi konsumsi minuman takeway yang dibeli seperti minumannya Starb**ks soalnya gelas dan sedotannya plastik – begitu juga dengan smoothies (sekarang bikin sendiri saja tiap mau minum), minumannya di tempat fast food (wadahnya kan kertas tapi tutupnya plastik), kopi (kecuali ketika bawa wadah untuk kopi sendiri – tapi seringnya bikin sendiri di rumah dan dimasukkan wadah untuk dibawa keluar), bubble tea is a big no no soalnya full plastik semuanya, minuman seperti jus dalam botol plastik sekali minum juga tidak. Selain lebih sehat – sekarang saya seringnya minum teh, kesukaan saya rooibos dan jadinya lebih sering minum air putih dari botol yang dibawa di dalam tas – juga menghemat uang karena nggak sering jajan minuman iseng sembarangan kan.

Kebetulan tempat kopi saya unyu hahahaha jadinya senang dibawa ke mana-mana.

Soal makanan di wadah plastik… ini agak lebih tricky karena plastik kan di mana-mana ya. Saya beli foodwrap organic yang dibuat dari bahan beeswax. Ke mana-mana bawa si foodwrap ini dalam tas, kalau beli snack misalnya pastry, dibungkus pakai ini. Bisa dicuci dengan mudah dan dipakai berulang kali, desainnya cantik, wangi madu (jadi tas wangi madu juga) dan membungkus makanan dengan efektif soalnya kalau dua permukaannya ditekan bersama, jadi agak nempel. Lebih mendingan dong dibandingkan pembungkus makanan dari kertas (sekali pakai terus dibuang jadi saya nggak ambil juga). Lalu kalau pergi makan keluar saya mencoba untuk membawa kotak makan dari rumah, jadi sisa makanannya masuk ke situ saja untuk dibawa daripada masuk Styrofoam.

Foodwrap yang ramah lingkungan.

Kalau lupa, kebetulan butuh, nggak ada dsb… bagaimana?

Di rumah saya menyediakan wadah khusus untuk plastik halus (seperti pembungkus produk supermarket misalnya, atau kantong plastik biasa) supaya kalau memang terpaksa ngambil, plastik-plastiknya bisa dikumpulkan. Kalau sudah penuh saya bawa ke supermarket karena di supermarket ada fasilitas untuk mendaur ulang plastik jenis ini. Plastik keras lainnya wajib masuk wadah daur ulang di rumah yang dikumpulkan oleh tukang sampah setiap dua minggu.

Repot nggak? Awalnya iya, sekarang kebiasaan, dan kalau lihat minuman sudah nggak kepingin lagi. Kalau lihat sampah yang sembarangan dibuang (dalam artian sekali pakai sudah dibuang) duh rasanya ngenes di dada gitu lho. Kata teman saya, nanti kalau saya pulang bisa ikutan stress… plastik di mana-mana hahaha…

“As a child my Mum said I was very easy to feed.”
“What changed?” one of my peers sarcastically asked, trying to make a joke.

Nothing has changed. The difference is I value for what I pay for, with the money I earn with hard work, more.

I don’t consider myself as fussy. When I go to my friend’s house, my parents’ house, or wherever where I get people cooking me my meals as a favour (this includes my own husband), as their way of hospitality, as a nice thing to do, I eat what I get given on the plate. I feel thankful, I don’t kick up a fuss.

But when I pay $7 for a two minute cup noodles in the airplane and the person who makes it goes way over the water pour line and makes my food bland, I don’t like it.

When I buy a $17 plate of schnitzel for lunch and it comes smothering in sauce (despite nothing in the menu indicates so), I cringe. I would have asked for sauce on the side. What’s the best part of eating schnitzel? The crispy crumb. And nope I did not get that.

When I ask for no peanuts on my pad thai yet I get peanuts on it. With $15 a pop. Don’t I have the right to be ‘fussy’ and not liking my meal?

I can be ‘fussy’ as most of the time I cook my own meals, thank you very much. The times when I don’t pay for the meals I don’t kick up a fuss about what I like or dislike. And when I pay for those meals and get disappointed, or simply get served bad meals, or go to an Asian eatery to find an absolute bastarised version of a dish that I grew up with (sorry Indonesians and Koreans, gado-gado salad with kimchi does exist) do I then lose my right to not like it in order to conform, and be a kinder member of society rather than be labelled as ‘fussy’?

I have a right to not like tomatoes in my burger. I don’t ask you to take them off my burgers when I myself forget to ask it off.

I have a right to not like ice cream on my waffles. I paid for my waffles AND always ask nicely to have it on the side.

I have a right to not want to eat chicken thighs on my meal. Because a) I almost always cook my own chicken meals and b) when we eat out I always, always ask the cut of meat they use and/or ask for breast only.

The list goes on.

Leave me alone. I don’t ask people to pay for my food — let alone cook it for free.

Ketika saya kecil dulu (sampai sekarang sih sebetulnya) saya sangat menggemari cerpen majalah Bobo. Ketika sudah besar sedikit, Bobo mengeluarkan buku kumpulan cerpen-cerpennya, yang saya beli dan kumpulkan… sayang sekarang hanya bersisa sedikit dan saya bawa ke sini pula, untuk dibaca ketika sedang ingin bernostalgia. Saya suka cerpen zaman tahun 1980 – 1990an karena ceritanya yang benar-benar sederhana.

Salah satu cerita cerpen yang teringat di kepala adalah yang berjudul “Bangsa Tempe” – kalau nggak salah. Jadi ceritanya sederhana sekali, satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan kedua anaknya sedang menikmati makan malam. Si sulung komplen, kok tiap hari makan tempe terus… ayah pun lalu menimpali dan bercerita (yang menambah pengetahuan saya!) tentang bangsa Indonesia yang harus bangga terhadap tempe. Bangsa Indonesia adalah Bangsa Tempe. Katanya…

Masa iya sih?

Dulu waktu kecil lha ya nggak mikir seperti itu… makan tempe sudah seperti makanan pokok, sering banget, sampai bosan.

Sekarang dong… semalam saya sebelum tidur, terbayang mau makan tempe orek pete.
Tempe adalah makanan mewah untuk kami di sini. Harganya lebih mahal dibandingkan daging… bayangkan! Untuk kalangan orang New Zealand, tempe dikenal sebagai ‘protein baru’ yang hits di kalangan orang-orang vegan dan vegetarian, dan kalangan makanan sehat. Harganya pun MAHAL. Mahal banget. Contohnya sebungkus 250 gram tempe organik di supermarket… dibanderol seharga $6.29! Kalau mau murah sedikit beli di toko Asia (yang buat orang Indonesia rumahan) itu pun masih tergolong mahal (sekitar 3 dolar-an).


Tempe di atas dari website Huckleberry (tempat jualan makanan organik di Auckland) — di beberapa supermarket juga ada. Sebungkus di atas itu, cilik, 250g harganya $6-$7 tergantung belinya di mana.

Lihat bule-bule mengolah tempe, eneg sendiri. Tempenya dibumbui terus dijadikan pengganti burger patty daging, misalnya. Atau dibumbui pakai bumbu-bumbu health food gitu (contohnya tamari) dan dimakannya dingin. Waduh menurut saya nggak karuan. Lha ya dari negara pencipta tempe… tempe yang dimakan dari kecil hangat dan enak dengan rasa sederhana.

Saking kepengennya makan tempe, saya pengen makan tempe orek pete. Bela-belain deh beli tempe mahal-mahal… yang penting puas dan bergizi juga kan! Nanti kapan-kapan kalau pulang lagi saya ingin deh, beli ragi tempe terus diselundupkan ke sini biar bisa makan tempe sepuasnya tanpa mbolongin kantongku hahaha…
Hidup bangsa tempe! Bangga lho, makanan asli khas Indonesia ini di luar negeri pamornya betul-betul bagus (sayangnya cara memasaknya ndak cocok dengan lidah kita… eh lidah saya mungkin ya).

Screen Shot 2017-08-03 at 8.34.02 PMPenampakan orek tempe a la saya… saya doyannya yang agak nyemek dan nggak terlalu manis. Di rumah, Mami dulu nggak doyan yang versi garing, jadi keikut deh anaknya ini masak tempenya nggak garing sama sekali.

Kalian doyan makan tempe diapakan?

Favorit saya tempe mendoan dan tempe goreng pakai garam 🙂