Archive

About Me

Alergi… adalah teman baruku sejak dewasa. Tepatnya sejak umur 25 ke atas kira-kira.

Waktu kecil sampai remaja — dan hingga awal umur dua puluhan, saya sehat sekali. Selain masalah muka jerawatan di kala puber dini (dulu julukan saya Jelita alias Jerawat Lima Juta karena ketika umur 12-13 saya jerawatan parah, di mana teman-teman belum jerawatan, tapi untungnya ketika yang lain mulai berjerawat jerawatku pun musnah) saya nggak pernah mendapatkan masalah yang berurusan dengan kulit sensitif, alergi makanan, alergi macam-macam. Pokoknya hidup bebas dan tanpa beban takut ini itu, ha ha ha…

Sejak umur 25 ke atas ini, waduh kok mendadak saya memiliki banyak teman baru ya… yaitu si alergi-alergi menyebalkan ini. Munculnya tiba-tiba, tak terduga dan malah beberapa hal yang dulunya saya oke-oke saja, sekarang jadi bermasalah.

Gigitan Serangga/Nyamuk
Dulu, kalau digigit nyamuk di kulit saya hanya berbekas bentok merah kecil saja yang sama sekali nggak gatal, lalu dalam dua hari pudar dan hilang sendiri. Asyik banget!
Sekarang???
Kalau terkena gigitan nyamuk pasti bentol dan gatal, dan jadi besar-besar…
Sementara gigitan serangga lebih parah. Dua tahun yang lalu saya terkena gigitan di pangkal kaki yang membengkak besar, jadi panas dan keras seperti batu. Alhasil saya harus diinfus antibiotik keras selama dua hari berturut-turut, setelah sembuh bekas bengkaknya pun menjadi gelap dan lama baru hilang.

Debu
Seumur-umur saya biasa saja dengan debu, apalagi mainnya di toko kayu Mami dan Papi yang berdebu banget pastinya. Sekarang kalau ketemu debu saya pasti bersin-bersin dan hidungnya jadi merah.

Lactose Intolerant/Intoleransi Laktosa
Ini ketahuan setelah swab dari usus perut saya (dengan kamera dan selang yang dimasukkan lewat tenggorokan). Karena saya ada intoleransi laktosa ini tidak aman untuk saya mengkonsumsi produk dairy (susu, keju, krim…) – kalau mengkonsumsi dalam jumlah besar perut jadi sakit, anginan, lalu setorlah ke toilet atau setor udara yang nggak mengenakkan banget, ha ha ha.
Untungnya menurut dokter intoleransi saya masih dalam batas yang tidak parah/intens jadi saya masih bisa makan produk dairy sedikit-sedikit (yogurt boleh, susu sedikit boleh, keju sedikit-sedikit juga masih oke). Kalau kepengin makan yang banyak, bisa — asal minum obat penangkalnya yaitu pil lactese (untuk membantu perut mencerna dairy). Dokter juga menyarankan jangan tidak mengkonsumsi sama sekali karena tubuh saya butuh kalsium.
Intoleransi laktosa ini ternyata hal yang wajar lho di ras orang Asia karena perut kita rata-rata belum berevolusi menghasilkan enzim laktosa di perut yang diperlukan untuk mencerna dairy.
Selama ini sih saya santai-santai saja, sehari-hari mengurangi produk dairy berlebih (misalnya susu diganti dengan lacto-free milk, nggak makan krim dsb) – tapi sekali-sekali ketika ingin, saya masih makan juga. Toh jarang dan juga, ada penangkalnya.

Obat Maag
Salah satu obat maag yang sering diresepkan dokter (termasuk untuk radang usus, sariawan di usus dan sebagainya) adalah obat yang mengandung proton pump inhibitor. Pengalaman saya jelek sekali – ketika mencoba obat ini untuk meredakan gejala maag di perut, saya sukses masuk rumah sakit. Perut sakit, badan merah dan bengkak, tenggorokan pelan-pelan menutup dan membuat saya sesak napas – alhasil saya harus disuntik adrenalin.
Nggak lagi-lagi deh dan saya pun menjauhi obat dengan kandungan ini, dengan sedih sih, soalnya saya punya gastritis yang harusnya kan bisa dengan mudah diobati menggunakan obat ini. Sayangnya saya alergi.

Perhiasan
Duh ini bikin sedih banget. Dulu saya bisa memakai apapun yang saya mau. Sekarang memakai anting sudah jaminan pasti kuping saya akan panas dan bengkak (mau coba anting dari bahan apapun, sampai beli yang hypoallergenic juga nggak bisa). Untungnya kalung dan cincin masih oke. Minggu ini saya bersedih sekali karena saya memakai jam tangan pemberian M untuk hadiah anniversary kami beberapa tahun yang lalu… dan pergelangan tangan saya iritasi, membentuk seperti arloji tersebut. Jadi sekarang tuh jam harus dipensiunkan dini, deh.

Plaster
Salah satu yang menyebalkan dan munculnya baru tahun 2015. Ingat sekali karena setelah reaksi alergi terjadi semua plaster di rumah diganti jadi yang hypoallergenic. Ceritanya saya luka di paha dan saya tutup dengan menggunakan plaster biasa lalu saya pun tidur.
Tengah malam… saya bangun karena paha saya panas. Ada apa gerangan… kupikir tuh luka infeksi?? Ternyata tidak, tapi kulit saya meradang dari plasternya. Di paha saya sampai sekarang ada bekas luka yang berbentuk plaster walau sudah sedikit lebih pudar. Jadi, saya harus berhati-hati dengan jenis lem/perekat yang digunakan oleh plaster untuk kulit saya.

Duh untungnya selain ini, saya nggak alergi yang lain (misalnya seafood atau gluten) atau muka saya jadi nggak cocok dengan skincare yang biasa saja. Bangkrut deh kalau disuruh beli skincare yang mahal-mahal, ha ha ha…

Kalian ada alergi juga nggak? Share di kolom komen dong kalau ada ceritanya yang menarik!

Advertisements

Apa…?

Ya benar, sudah setengah tahun lamanya saya mempersulit hidup sendiri hehehe, dengan nggak mengambil wadah (terutama plastik) sekali pakai. Wadah sekali pakai ini termasuk sedotan, beli minuman di wadah plastik, makanan di wadah plastik, styrofoam dsb.

Saya pernah bercerita di postingan ini tentang upaya saya mengurangi sampah, nggak mau ambil kantong plastik, dan inilah perubahan ‘naik sederajat’ yang saya coba terapkan dalam kehidupan sehari-hari sekarang.

Soal sedotan… sebelum beli sedotan stainless steel, saya mencoba kalau beli minuman minumnya langsung dari gelas saja. Sekarang sudah beli satu pak sedotan yang bisa dipakai berulang kali, lama dan bahannya stainless pula. Praktis, tinggal dibawa ke mana-mana dan tinggal cemplung ke mesin cuci piring sesudahnya.

Screen Shot 2017-08-11 at 8.31.13 PMPenampakan sedotan saya.

Berkaitan dengan soal minuman, komitmen nggak memakai produk sekali pakai ini juga artinya saya mengurangi konsumsi minuman takeway yang dibeli seperti minumannya Starb**ks soalnya gelas dan sedotannya plastik – begitu juga dengan smoothies (sekarang bikin sendiri saja tiap mau minum), minumannya di tempat fast food (wadahnya kan kertas tapi tutupnya plastik), kopi (kecuali ketika bawa wadah untuk kopi sendiri – tapi seringnya bikin sendiri di rumah dan dimasukkan wadah untuk dibawa keluar), bubble tea is a big no no soalnya full plastik semuanya, minuman seperti jus dalam botol plastik sekali minum juga tidak. Selain lebih sehat – sekarang saya seringnya minum teh, kesukaan saya rooibos dan jadinya lebih sering minum air putih dari botol yang dibawa di dalam tas – juga menghemat uang karena nggak sering jajan minuman iseng sembarangan kan.

Kebetulan tempat kopi saya unyu hahahaha jadinya senang dibawa ke mana-mana.

Soal makanan di wadah plastik… ini agak lebih tricky karena plastik kan di mana-mana ya. Saya beli foodwrap organic yang dibuat dari bahan beeswax. Ke mana-mana bawa si foodwrap ini dalam tas, kalau beli snack misalnya pastry, dibungkus pakai ini. Bisa dicuci dengan mudah dan dipakai berulang kali, desainnya cantik, wangi madu (jadi tas wangi madu juga) dan membungkus makanan dengan efektif soalnya kalau dua permukaannya ditekan bersama, jadi agak nempel. Lebih mendingan dong dibandingkan pembungkus makanan dari kertas (sekali pakai terus dibuang jadi saya nggak ambil juga). Lalu kalau pergi makan keluar saya mencoba untuk membawa kotak makan dari rumah, jadi sisa makanannya masuk ke situ saja untuk dibawa daripada masuk Styrofoam.

Foodwrap yang ramah lingkungan.

Kalau lupa, kebetulan butuh, nggak ada dsb… bagaimana?

Di rumah saya menyediakan wadah khusus untuk plastik halus (seperti pembungkus produk supermarket misalnya, atau kantong plastik biasa) supaya kalau memang terpaksa ngambil, plastik-plastiknya bisa dikumpulkan. Kalau sudah penuh saya bawa ke supermarket karena di supermarket ada fasilitas untuk mendaur ulang plastik jenis ini. Plastik keras lainnya wajib masuk wadah daur ulang di rumah yang dikumpulkan oleh tukang sampah setiap dua minggu.

Repot nggak? Awalnya iya, sekarang kebiasaan, dan kalau lihat minuman sudah nggak kepingin lagi. Kalau lihat sampah yang sembarangan dibuang (dalam artian sekali pakai sudah dibuang) duh rasanya ngenes di dada gitu lho. Kata teman saya, nanti kalau saya pulang bisa ikutan stress… plastik di mana-mana hahaha…

“As a child my Mum said I was very easy to feed.”
“What changed?” one of my peers sarcastically asked, trying to make a joke.

Nothing has changed. The difference is I value for what I pay for, with the money I earn with hard work, more.

I don’t consider myself as fussy. When I go to my friend’s house, my parents’ house, or wherever where I get people cooking me my meals as a favour (this includes my own husband), as their way of hospitality, as a nice thing to do, I eat what I get given on the plate. I feel thankful, I don’t kick up a fuss.

But when I pay $7 for a two minute cup noodles in the airplane and the person who makes it goes way over the water pour line and makes my food bland, I don’t like it.

When I buy a $17 plate of schnitzel for lunch and it comes smothering in sauce (despite nothing in the menu indicates so), I cringe. I would have asked for sauce on the side. What’s the best part of eating schnitzel? The crispy crumb. And nope I did not get that.

When I ask for no peanuts on my pad thai yet I get peanuts on it. With $15 a pop. Don’t I have the right to be ‘fussy’ and not liking my meal?

I can be ‘fussy’ as most of the time I cook my own meals, thank you very much. The times when I don’t pay for the meals I don’t kick up a fuss about what I like or dislike. And when I pay for those meals and get disappointed, or simply get served bad meals, or go to an Asian eatery to find an absolute bastarised version of a dish that I grew up with (sorry Indonesians and Koreans, gado-gado salad with kimchi does exist) do I then lose my right to not like it in order to conform, and be a kinder member of society rather than be labelled as ‘fussy’?

I have a right to not like tomatoes in my burger. I don’t ask you to take them off my burgers when I myself forget to ask it off.

I have a right to not like ice cream on my waffles. I paid for my waffles AND always ask nicely to have it on the side.

I have a right to not want to eat chicken thighs on my meal. Because a) I almost always cook my own chicken meals and b) when we eat out I always, always ask the cut of meat they use and/or ask for breast only.

The list goes on.

Leave me alone. I don’t ask people to pay for my food — let alone cook it for free.

Beberapa hari yang lalu, saya sedang bersantai di kasur sebelum tidur. Iseng-iseng nontonin InstaStory orang-orang (hihihi, ketahuan dong kerjaan nggak jelasku apa). Sampai ke InstaStory salah seorang teman lama… yang lagi kumpul-kumpul dan makan-makan di rumahnya. Di NZ juga nih. Lalu di video tersebut ada foto-foto mereka sedang ngumpul dan muncul di layar, ada seseorang yang lagi balik liburan kemari. Nggak mengabari saya. Padahal, bagi saya dia adalah salah satu teman dekat yang sering ngumpul sebelum dirinya pindah keluar negeri. Kalau misalnya saya pergi ke negara di mana dirinya pindah tersebut, pasti saya akan mengabari dan ajak ketemuan.

Jleb.

Perasaan aneh mengalir dalam diri saya. Kenapa? Apa saya ada salah ngomong? Lalu si otak kepala saya yang menyebalkan ini langsung deh memutar-mutar skenario. Ada apa? Oh iya si orang lain kemarin kumpul dan sebagainya juga nggak mengajak saya. Apa saya nyebelin ya? Teringatlah kasus dengan teman SMU, dulu kami main bertiga dan ujung-ujungnya saya terdorong ke samping karena mereka berdua berteman akrab, sampai sekarang, dan saya merasa dibuang.

Setelah merasa bersedih selama beberapa hari; apalagi salah satu teman saya mengatakan, kalau weekend ini nggak bisa ngumpul dengan saya karena mau ketemu dengan cewek di video itu. Makin jleb-lah rasanya — saya memutuskan untuk curhat dengan M. Dan setelah itu saya jadi agak lega.

Kenapa saya harus sedihkan dengan hal-hal kecil yang sepele. Yang remeh temeh. Mungkin dia sibuk. Yang pentingnya interaksi kami memang nggak intens kok. Dan, untuk apa saya merasa sedih diri, karena yang sayang sama saya juga banyak… hahaha. Being grateful is hard. Bagaikan gelas yang separuhnya terisi air, saya melihat kosongnya. Nggak melihat penuhnya.

Saya tidak ingat, kejutan ulangtahun kemarin yang saya terima dari teman-teman saya yang berbeda-beda grup, di kala saya sakit.
Tidak menyadari, kalau yang ngajak ketemuan tuh banyak, tapi saya-nya aja yang lagi nggak fit dan sibuk.
Terlewatkan, punya suami yang baik banget dan setiap hari bikin saya ketawa.
Kurang bersyukur tentang teman-teman di kerja yang baiknya luar biasa, walaupun di kantor suasana kadang seperti SMA saja, tapi yang peduli dengan saya sayang dengan saya.

Lupa, kalau teman dunia mayapun peduli dengan saya. Leony yang baik hati antarkan saya pulang malam-malam (walau kena road works nyebelin sampe dua kali harus mutar, hahaha). Inly yang menyempatkan diri ketemuan dan ngasih hadiah dari Indonesia pula. Stephanie yang ngirim Snapchat foto paket buatku. Syera yang saking baiknya saya dikasih resep rahasia… hihihi. Wiwien yang suka nanyain kabarku, dan saya suka balasnya lama pula! Aggy yang mau buatkan sarung Kindle pesan khusus dengan baik hatinya. Dan masih banyak lagi.

Saya ingin jadi orang yang nggak melupakan hal-hal yang baik hanya karena sedih merasa ‘dicuekin’ — padahal untuk apa merasa ‘dicuekin’ oleh seluruh dunia, padahal yang hanya nila setitik. Iya nggak? Dan alasanpun bisa saja nggak terkait dengan saya. Mungkin dia sibuk. Atau waktu di sini sempit. Atau apalah, ngapain dipikirin kan? Mendingan, gue happy aja! – slogan dari salah satu sahabat saya.

Yuk belajar untuk bersyukur (yang ternyata sulit).

Sekian curhatan ngarol ngidul saya hari ini… hehehe.

Beberapa hari yang lalu, saya mimpi rumah kami di Jakarta kemasukan banyak orang dan kami ngumpet di dalam… begitu orang-orang sudah dekat, sayapun terbangun. Mimpi yang masih saya alami, skenario yang sama, dari dulu. Ketika mimpinya muncul, sayapun jadi terkenang, kejadian 19 tahun yang lalu, yang darimana mimpi ini berasal. Melihat kalender, wah… ternyata sebentar lagi harinya. Karena itu saya memutuskan, setelah dulu-dulu bilang kapan-kapan mau ditulis, sekaranglah saatnya saya menuliskan pengalaman ini.

Screen Shot 2017-05-13 at 12.28.08 PM.pngMami dan saya pada masa itu… foto diambil waktu liburan ke Penang, Malaysia tapi lupa tepatnya kapan. Di foto saya berumur 9 tahun.

19 tahun yang lalu saya hanyalah seorang anak piyik yang berusia 9 tahun. Seorang anak kecil yang sebentar lagi bakal merayakan ulang tahun yang kesepuluh. Waktu itu saya berambut pendek sebahu, pakai kaca mata dan suka memakai baju gombrong supaya saya lebih mirip kakak saya yang laki-laki.

Saya masih ingat hari itu, kami semua nggak ada yang masuk sekolah. Mami dan Papi nggak pergi ke toko. Seminggu menjelang hari itu, Mami sudah dapat bocoran dari tukang yang suka mengantarkan barang ke tokonya, dari tukang ojek yang suka mangkal di dekat sana dan suka dikasih makanan oleh Mami, kalau akan ada kerusuhan yang menargetkan ras kami. Saya nggak ingat persis detailnya hari itu bagaimana, yang jelas sekitar daerah perumahan kami sudah ditulisi “MILIK PRIBUMI”.

Pagi itu, saya dan kakak didudukkan oleh Mami dan Papi. Kami di dalam rumah, ngumpet di kamar mandi yang lumayan besar yang letaknya di dalam kamar utama, dan kebetulan pintu keluar kamar utama kami dekat dengan pintu belakang. Kamar mandi yang bernuansa warna cokelat, ada bathtubnya yang juga warna coklat dengan lantai kotak-kotak kecil. Agak panas dan pengap karena AC tidak dinyalakan di kamar. Radio dinyalakan untuk memantau arah massa, telepon dipegang di dekat untuk menunggu kabar dari teman dan sanak saudara.

Kata Mami, kalau orang-orang memasuki rumah, kami akan langsung lari. Papi bertugas menggandeng saya, Mami akan membawa kakak. Lari ke rumah Pak Haji di belakang yang baik hati, entah kenapa kami hari itu nggak langsung ngumpet di sana saja, entahlah, saya nggak paham. Pakaian saya disuruh ganti oleh Mami. “Biasanya pake baju jelek hari ini keren amat pake bajunya!” — masih terngiang ucapan Mami di telinga saya. Saya memegang boneka kelinci coklat kesayangan saya, yang berbaju gaun bermotif bunga-bunga kecil di kain berwarna hijau gelap. Oleh Mami saya disuruh jangan membawa bonekanya. Nanti takut dikira orang menyembunyikan uang, katanya.

Hari itu kami sangat beruntung. Massa yang sudah dekat sekali dengan komplek perumahan kami, tidak mendatangi komplek. Toko Mami dan Papi pun selamat dari penjarahan berkat kebaikan mereka selama ini kepada orang-orang di sekitar sehingga mereka menjaga keamanan toko. Selama hampir seminggu lamanya kami tidak keluar rumah, tidak bekerja, tidak sekolah.

Beberapa teman dekat saya tidak beruntung, karena mereka terkena, untunglah tidak ada yang luka apa-apa. Hanya trauma saja yang menyisa dan tak terlihat. Sayapun sampai sekarang, kalau di rumah sendirian, suka waspada kalau-kalau ada yang mau masuk ke rumah… sampai M suka geleng-geleng kok istrinya mudah terkejut dengan suara di rumah… ha ha ha.

19 tahun berlalu. Tahun depan tepat 20 tahun. Hari yang tidak akan pernah saya lupakan, yang memori melekat di hati, yang membuat saya sadar kalau hidup ini adalah singkat dan harus dijalani sebaik-baiknya.

Oh iya, kalau kalian bagaimana? Adakah cerita atau ingatan khusus di hari ini? Share di comment dong kalau ada 🙂

Disclaimer: Postingan ini hanya sekedar membagi pengalaman saja, tidak ada maksud apa-apa. Dari dulu saya memang suka kepikiran untuk menuliskannya apalagi sejak comment dengan Febri di salah satu postingannya yang dulu.

Favorit saya ya… duh saya orangnya paling sulit disuruh memilih hal-hal favorit, karena kesukaannya banyak. Tapi untuk postingan ini akan dicoba pilih salah satu dari semuanya.

 

Song | “Into Everything” – by Telepopmusik

Nggak tahu banyak gak ya yang tahu Telepopmusik? Saya suka sekali dari jaman kuliah, dan lagu ini nggak bosan-bosannya saya dengarkan. Bahkan baru weekend kemarin saya dengarkan lagi. Ini dia link video Youtube-nya di sini kalau ada yang mau mendengarkan.

 

Quote | “Love won’t happen till you try to cross the great divide.”

Quote ini dari lirik lagu judulnya The Great Divide, yang nyanyi Velvetine. Saya suka sekali mix dari Myon and Shane 54-nya… anyway pas saya dengarkan lagunya pertama kali, kalimat ini ngena banget. Iya lah kalau mau mencintai (pasangan, teman atau keluarga) harus mau mencoba untuk menjadi lebih baik, kompromi, mau mengalah. Kalau nggak yang ada ya berantem dong.

 

Food | Noodles

Comfort food saya ya apapun jenis mie. Apapun jenis mie-nya saya suka! Seringkali saya ngidam-ngidam makan mie entah pagi, siang, tengah malampun sering. Pokoknya kalau nawarin saya makan mie nggak bakalan saya tolak deh.

 

Vacation Spot | Bali

Saya suka sekali Bali. Harganya terjangkau, alamnya indah, makanannya enak, mau ke waterpark juga ada. Pokoknya senang banget. Ideal saya kalau ke Bali, maunya bangun siang, makan enak, creambath… siang-siang baru keluar.

 

Photo | Loki and I

Screen Shot 2017-03-30 at 6.59.24 PM

Kalau saya boleh memilih satu hal pada diri saya yang tidak akan pernah mau saya ubah seumur hidup… mungkin adalah sifat empati saya.

Saya sebelumnya nggak pernah sadar kalau saya memiliki tingkat empati yang tinggi. Saya pikir sudah wajar dan seharusnya kita ikutan sedih dan sensitif dengan hal-hal di sekitar kita – dan semakin saya besar saya semakin sadar bahwa empati orang lain itu sulit ditemukan.

Hal yang buat saya biasa dan sudah seharusnya, tapi saya jarang menemukan hal yang sama dilakukan orang sekitar terhadap saya. Kalau ada yang cerita dengan saya, saya otomatis menaruh diri saya sendiri di posisinya. Ikutan merasakan emosinya. Dan berusaha kalau tidak diminta, saya tidak akan kasih saran. Saya mendengarkan saja.

Sadar ini juga merupakan suatu ‘hadiah’ dari sahabat saya yang nulis surat panjaaaaang sekali untuk saya ketika saya sedang down, dan mengatakan pada saya secara mendalam tentang tingkat empati yang saya miliki.

Nah jeleknya dari si empati, mood saya ngikut dengan mood orang di sekitar saya. Misalnya orang rumah lagi bete atau nggak senang, sayapun ikutan nggak senang. Tapi walaupun begini saya nggak mau mengubah sifat yang saya miliki karena buat saya lebih banyak keuntungannya… dengan ini juga sebetulnya saya jadi lebih peka dengan perasaan orang lain (maksudnya kalau orang sedang nggak senang, saya pun bisa merasakan).