Archive

Auckland

Ingin cerita dan berbagi foto tentang salah satu hal favorit saya di daerah tempat tinggal kami di Auckland.

Saya termasuk salah satu yang beruntung bisa tinggal di suburbia/daerah perumahan di Auckland, New Zealand — tepatnya di daerah North Shore City (bagian Utara kota Auckland). Menurut saya nggak terlalu sumpek dan beruntungnya lagi rumah kami letaknya di pinggiran bukit yang pemandangan ke bawahnya sangat cantik. Selain pemandangan yang cantik, pemerintah (council) juga merawat taman dan daerah sekitar sehingga ada taman dan rute kecil untuk jalan alam mini. Menyegarkan, pokoknya, dan gratis! Hehehe. Di sini banyak yang jalan pagi, jalan sore, ajak anjing jalan-jalan, jogging, bersepeda dan seperti saya jalan pacaran ceritanya, ha ha ha.

img_7837Turun dari bukit (tentunya ada jalan setapaknya, seperti di buku Enid Blyton kalau saya bayangkan… berpetualaaaaang) bertemu dengan pemandangan ini. Tentunya dengan langit yang biru. Saya ini seperti kucing, kalau hujan, saya nggak keluar rumah.

img_7868Ini si M lagi memfoto rumah kami dari bawah bukit… rumahnya kelihatan di foto ini seperti titik kecil, hehehe. Lihat kan deretan rumah-rumah di atas bukit?? Itu perumahannya, di jalan utama dan ada rute busnya dan sebagainya.

img_7834Jalan kira-kira 10 menit dari rumah kami sampai ke rute jalan alam ini. Jalannya ya cuma tanah biasa seperti di atas, yang bagian kayunya adalah jembatan buatan.

img_7861

img_7862

img_7839

img_7877

Saya seumur hidup nggak pernah olah raga, tahun ini saya memulai. Pelan tapi pasti — sulit pastinya dong soalnya jarang gerak sih! Dengan adanya rute jalan alam ini sangat membantu jadi tidak bosan, dekat rumah juga. Karena saya nggak terlalu suka olah raga di gym, selain jalan ini saya juga ikut kelas bikram yoga (yoga di ruangan panas kira-kira 38-40 derajat celsius).

Saya suka sekali dengan rute jalan alam ini, karena kalau lagi matahari bersinar cerah, sepertinya dengan mudah kami bisa mendapatkan sedikit pelarian alias escape dari kehidupan kota… secara sehari-hari kerja di daerah city yang sibuk (sesibuknya sih nggak sampai sesibuk di daerah Senen misalnya ya, hehehe), pulang kerja pun balik ke rumah yang suasananya ya perumahan. Bisa kabur ke alam sebentar seperti ini, rasanya rileks dan badan pun segar kembali.

Advertisements

Kali ini saya ingin bercerita beberapa pengalaman unik/awal/berkesan tentang papasan/ketemu nggak sengaja dengan orang Indonesia di tempat umum di New Zealand. Lumayan sering papasan atau dengar orang ngobrol Bahasa Indonesia di jalanan, mal, supermarket dan sebagainya. Sering di sini nggak tiap hari ya, mungkin sebulan sekali. Beberapa minggu yang lalu saya di Queenstown juga sempat papasan dengan pasangan Indonesia. Yang nyikut dan ngasih tau saya si M. Dia bilang “They’re saying ini… iniii…” dengan nada orang milih barang gitu hahahaha. Papasannya di toko souvenir.

Pengalaman pertama manis sih. Katanya orang Indonesia ramah-ramah? Iyaaaaa iyaaa… pengalaman yang pertama ini terjadi pada bulan kedua saya di Auckland. Sedang jalan-jalan di K Mart (department store murah) bersama dua teman serumah saya yang juga orang Indonesia (berangkatnya bareng dari agen sekolah yang sama). Kami papasan dengan sebuah keluarga muda kecil Indonesia yang RAMAH BANGET. Papa, mama dan anaknya perempuan… minggu depannya sekeluarga ini main ke apartemen kami yang mungil, bawa makanan. Ramah, baik, welcoming… ah berkesan deh, tapi saya nggak lanjut temenan dengan mereka.

Pengalaman kedua yang teringat… waktu saya baru di sini juga. Tahun pertama, tahun 2011 dan nggak kenal banyak orang – disarankan ikut organisasi tapi saya kurang minat, maklum karena sibuk, sekolah lalu bekerja part time. Papasan deh sama dua cewek Indonesia, kalau dengar dari gaya pakaiannya dan gaya ngomongnya… pasti deh orang Jakarta. Saya iseng, lagi good mood, jadi menyapa. Halo, dari Indo yaa (insert senyum semanis madu di sini). Whuaaaahh… katanya orang Indonesia ramah-ramah? Ngggaaaaaak semuaaaaa… saya mendapatkan jawaban berupa “Iya.” yang singkat, padat, jelas, tak terlanjutkan dan sebuah hadiah kecil tatapan naik dari atas kepala ke bawah kaki. Kabur ah! Itu pertama dan terakhir kali saya menyapa orang Indonesia duluan kalau nggak kenal. Niatku mau ramah aku malu… hihihi.

Pengalaman yang ketiga, lucu banget. Ceritanya saya dan teman lagi antre McDonald’s. Kami waktu itu dilemma banget mau makan apa, belum memutuskan, dan saking asyiknya saya nggak sadar di belakang yang tadinya nggak ada orang sekarang ada orang yang menunggu. Seorang Ibu kira-kira umur 50an dan anaknya kira-kira sepantaran saya lah, laki-laki. Si tante sepertinya kurang sabar… lalu nyelonong ke depan kami dan taruh order ke kasirnya, anak remaja yang mukanya langsung bingung situasi seperti ini mau diapakan. Muka saya kan mata sipit kulit kuning nggak langsat, jadi si Tante pasti nggak menyangka saya ngerti omongannya seterusnya.
Si anak mukanya merah karena malu, bilang, “Mama nggak boleh gitu… antre Ma.”
Lalu si Tante dengan agak berapi (walau ngomongnya nggak kencang, tapi nadanya biasa saja jadi saya bisa dengar) menjawab, “Habis mereka cewek-cewek ini LELETT buangeeeet (ngomongnya ditarik) sihhhhh… Mama kan laaaappeeerrr… biarin aja nih cewek-cewek sukurin tahu rasa kalo lelet ya keduluan orang!”

Ya sudah, saya pun jalan beberapa langkah, menundukkan kepala soalnya si Tante lebih pendek dari saya lalu saya berkata, “Gak apa-apa kok, Tante kalau laper, duluan aja.” Lengkap dengan senyum semanis madu a la saya hahaha… si Tante pun gelagapan dan menjawab pelan dan halus, “Oh… orang Indo juga yaa…” huahahaha… saya bukannya kesel tapi malah tertawa dalam hati. Teman saya juga ikutan ketawa! Habisnya mau nyolot terselubung malah ketahuan kan… makanya hati-hati deh kalau ngomong di tempat umum (saya juga) – daripada malu, ngomong macam-macam ternyata orangnya ngerti lagi diomongin yang nggak enak 🙂

Hari ini, cuaca cerah. Temperatur agak dingin tapi matahari bersinar dan nggak ada angin, jadi enak untuk jalan-jalan di sekitar kota. Sebetulnya kalau akhir pekan datang saya agak malas ke daerah CBD — Central Business District, alias central city/town di Auckland karena kantor saya letaknya di daerah sini, tapi dalam rangka ketemuan dengan teman-teman, daerah sini memang sentral (apalagi untuk saya yang nggak ada kendaraan sendiri; maksudnya kendaraannya ada SIM-nya yang nggak punya, hahaha). Berhubung cuaca bagus saya menyempatkan diri buat melewati dan mengambil foto Griffiths Gardens, community garden yang letaknya 10 menit dari gedung kantor. Saya suka sekali dengan pop up garden ini, ini yang kedua di daerah CBD. Kalau hari biasa, sepulang kantor saya sudah gelap jadi ambil fotonya nggak bagus. Kalau jam makan siang, rame jadi fotonya ya banyak orang lalu lalang ya.

Di community garden alias taman berkebun umum ini disediakan alat-alat berkebun yang bisa dipakai siapa saja. Jadi misalnya kalau ada yang hobby berkebun dan punya waktu luang di sela-sela kesibukan di daerah city, bisa membantu memelihara taman. Selain pohon dan tanaman yang ditanam, di sini mereka juga mengadakan kelas beekeeping alias memelihara lebah (dan untuk alasan keamanan tidak ada lebah yang dipelihara di tempat) dan ada greenhouse kecilnya. Di sini juga suka diadakan workshop dan kelas, semisal kelas untuk bagaimana mendaur ulang sampah menjadi pupuk kompos. Menarik, ya!

Di tengah-tengah kesibukan kota tentunya hadirnya taman membuatnya jadi lebih asri, hijau dan menarik. Sekelompok volunteer dari Auckland Council menjalankan taman dan memastikan kalau taman tetap bersih, terawat dan produknya bertumbuh kembang dengan baik.

Ini dia favorit saya tentang taman ini, yaitu Community Fridge. Lemari es ini adalah lemari es bekas yang diperbaiki dan dipasang di taman, tujuannya adalah supaya kita bisa mendonasi langsung makanan kepada orang-orang yang kurang mampu dan orang-orang homeless yang bertebaran di sekitar kota. Makanan yang disumbangkan harus dalam kondisi layak makan, dan harus diberikan label penjelasan sebelum dimasukkan ke kulkas. Siapa saja boleh menyumbangkan makanan, dan para volunteer yang baik hati rutin beberapa kali dalam sehari mengecek kondisi kulkas dan makanan di dalamnya, kalau tidak bagus dan layak makan mereka akan membuangnya.

Secara saya kerja di kantor corporate yang sering mengadakan meeting dengan makanan yang melimpah ruah… dan suka banyak sisanya. Saya suka sayang membuang-buang makanan ya, jadinya saya suka bawa pulang untuk dikasih orang-orang di rumah dan dimakan besoknya semacam brownies, scones, kue-kue dan sebagainya. Tapi hanya sebagian saja yang mampu saya makan sendiri. Sisanya… kalau nggak ada yang ambil ya dibuang. Sayang banget.

Sejak si kulkas ini ada bulan November 2016 kemarin, kalau sisa makanannya banyak saya menyempatkan untuk bawa ke kulkasnya berhubung halte bus saya nggak jauh dari sini juga. Jadi, tidak terbuang sia-sia di tong sampah.

Penampakannya si kebun dibandingkan dengan kami. Kecil ya tapi rapi dan asri.

Saya lumayan sering mendapatkan pertanyaan ini, susah nggak cari kerja di NZ? Atau sekalian yang langsung nanya, ada lowongan kerja gak di tempatmu? Postingan ini berdasarkan pengalaman pribadi saya ya, dan pengalaman saya ini belum tentu adalah pakemnya pengalaman orang-orang lain. Berikut tips mencari dan mendapatkan pekerjaan di New Zealand, persembahan dari saya. Kalau yang mau tahu tentang biaya hidup bisa dibaca di postingan ini. Catatan tips ini nggak berlaku untuk yang mau mencari pekerjaan offshore alias dari luar NZ ya.

1. Memiliki visa dengan izin kerja yang sah
Yang satu ini benar-benar penting dan perlu, jangan sampai datang kemari dengan visa turis dan mencari pekerjaan. Saya pernah mendengar ada yang berhasil, tapi cerita gagal dibanding berhasilnya 10:1 deh apalagi sekarang perusahaan jarang yang mau mempekerjakan orang tanpa visa – bahkan sebagian lowongan pekerjaan, hanya berlaku untuk orang-orang yang memiliki visa Resident saja. Karena kalau employer mempekerjakan orang yang visanya tergantung padanya, mereka harus mensponsori izin kerja si orang ini dan syaratnya lumayan banyak lho untuk mereka sendiri.
Mendapatkan visa kerja ini banyak jalannya, mulai dari visa kerja yang didapatkan ketika lulus sekolah di NZ (Graduate Work Visa namanya, dulu saya punya visa ini), working visa based on partnership (ini kalau pasangannya tinggal di sini – termasuk pemegang work visa dan student visa, lho dan catatan partner ini antara pacar atau suami di sini nggak dibedakan jadi nikah atau belum nikah pemerintah sini gak persoalkan yaaa) atau melalui working holiday scheme, sayangnya Indonesia belum masuk ke working holiday scheme ini.

2. Kiwi working experience
Ini yang agak-agak harus membuat kita sabar dan teguh untuk mencari pekerjaan sebagai imigran yang baru datang. Banyak employer di sini yang lebih memilih untuk mempekerjakan orang yang punya kiwi working experience alias pengalaman bekerja di NZ. Yang beruntung mungkin bisa mendapatkan pekerjaan impian dengan mudah, tapi bagi yang kurang beruntung harus memulai dari nol untuk mendapatkan pengalaman kerja NZ ini. Dan berkaitan dengan si Kiwi working experience ini adalah tips saya yang ketiga.

3. Mau mulai dari awal
Alkisah ada seseorang yang awalnya curhat pada saya minta kalau ada lowongan di kantor saya. Sayangnya orang ini nggak memiliki pengalaman kerja di kantor, Bahasa Inggrisnya kurang lancar dalam percakapan dan ketika saya sarankan bekerja yang kecil-kecil dulu dia nggak mau. Alasannya capek, dan gajinya kecil. Ya ampun, cari di mana kerjaan yang gajinya lumayan, nggak usah ngomong dan nggak mau capek?
Beberapa jenis pekerjaan yang menurut saya bisa untuk memulai tabungan daftar pengalaman kerja di NZ misalnya kerja di restoran atau café (bersih-bersih kek, kerja di counter atau bantu-bantu di dapur), kerja jaga toko, jadi kasir di supermarket dan sebagainya. Kalau yang bisa bertahan hidup tanpa income untuk sementara juga boleh coba volunteering.
Intinya jangan malu mencoba, jangan takut bertanya, jangan malas capek dan jangan ngarap gaji di luar negeri pokoknya langsung besar saja.

4. Jangan malu mencoba
Ini penting bagi saya, apalagi untuk membantu mental yang kadang sedih kok susah amat dapat kerjaan ya. Jangan malu bertanya sama orang (tapi nggak sampai minta-minta kerjaan pakai cara sok kenal sok dekat, hehehe), jangan malu melamar kerjaan, pede-pedein saja! Bahkan banyak teman saya yang mendapatkan pekerjaan dari cara door-to-door alias meninggalkan CV di tempat kerja yang diinginkan.

5. Gabung dengan recruitment agency
Kalau kuliah, di kampus biasanya ada pelayanan yang menghubungkan pelajar dengan calon employer. Pekerjaan pertama saya (cuci piring dan kerjaan seperti ngupas bawang di dapur) dapatnya juga dari agency tempat saya kuliah dulu.
Nah ketika saya masih bekerja di bidang hospitality, di tahun ketiga saya memutuskan mau pindah profesi saja seutuhnya karena lingkungan kerja yang tidak kondusif dengan keadaan saya. Dan karena selama di NZ saya kerjanya di hospitality terus, cari kerja di bidang lain saya terbentur pengalaman kerja saya yang nggak cocok dengan bidang yang diingini. Walaupun saya punya visa yang valid, mendapatkan interview itu susahnya setengah mati.
Selama kurang lebih 8 bulan saya intens mencari pekerjaan dari awal, buatkan CV yang baru dan rajin cari pekerjaan online. Dari puluhan CV yang saya kirim, hanya beberapa yang membalas dan isinya kebanyakan penolakan. Duh rasanya sedih sekali.
Saya mencoba mendaftarkan diri ke recruitment agency yang menjamur di sini (beberapa juga ada yang nggak balas lho, mungkin karena saat itu saya belum menjadi resident dan pengalaman kerja di bidang perkantoran yang minim). Banyak yang tanya kalau daftar begitu fee-nya berapa? Recruitment agency di sini bertindak sebagai pencari tenaga kerja untuk perusahaan. Jadi, kita sebagai staf yang direkrut nggak membayar sepeserpun, perusahaanlah yang membayar jasa si recruiter. Gabung dengan recruitment agency biasanya mendapatkan pekerjaan yang kontrak dari 1 bulan hingga setahun lamanya. Kalau kisah saya pribadi, saya beruntung ada seseorang yang dua hari sebelum kontraknya mulai tiba-tiba mundur dan recruiter membutuhkan seseorang yang bisa mulai saat itu juga untuk pekerjaan bantu-bantu di kantor, masa kontraknya 6 bulan. Perjuangan banget setelah nunggu 8 bulanan tanpa ada tawaran, saya menerima pekerjaan ini… and the rest is history, setelah kontraknya selesai saya dipekerjakan permanen oleh perusahaan dengan posisi yang dinaikkan, dan sampai sekarang saya masih bekerja di sini (tahun ketiga).

6. Cas cis cus berkomunikasi dengan Bahasa Inggris
Intinya kalau mau mendapatkan pekerjaan tapi nggak bisa ngomong ya susah. Latihanlah bercakap-cakap dengan Bahasa Inggris – kalau diwawancara jawabnya bagaikan sembelit, pasti dapat kerjaannya lebih sulit lagi.

7. Belajar skills yang dibutuhkan
Mau bekerja di kantoran? Biasakanlah dirimu dengan menggunakan software yang dibutuhkan, kebanyakan kalau kantoran standarnya Microsoft Office ya. Atau mau dapat kerja masak memasak? Pilihannya antara sekolah masak dulu atau mau mulai dari jadi kitchen hand alias yang bantu-bantu di dapur… dan sebagainya. Intinya harus mau belajar hal-hal baru. Nggak mau juga kan employer mempekerjakan orang yang nggak tahu apa-apa.

8. Referensi, referensi dan referensi
Calon employer di sini, termasuk recruitment agency, masih sangat mementingkan referensi dari employer kalian sebelumnya. Di CV, taruhlah setidaknya dua referensi dari pekerjaan yang lama (kalau nggak ada, guru universitas juga boleh) soalnya mereka hampir pasti akan menghubungi referensi kamu dan tanya-tanya tentang kamu secara lisan. Ini pengalaman pribadi saya.
Sekian tips-tips dari saya semoga bisa membantu yang kira-kira pengin datang mencoba peruntungan di sini. Kalau yang cari offshore alias dari luar negeri, saya nggak bisa membantu karena saya nggak punya pengalaman seperti ini.

Oh iya dua website yang bisa untuk acuan lowongan kerja adalah http://www.trademe.com dan http://www.seek.co.nz. Untuk info visa dan sebagainya bisa dilihat dari situs yang sangat lengkap dan membantu yaitu immigration.govt.nz yaaa 🙂

Dalam rangka menghabiskan hari terakhir long weekend (hari Senin) saya dan M memutuskan untuk tramping. Kalau di Indonesia nyebutnya jalan alam, kali ya? Di NZ ini banyak sekali rute jalan alamnya (yang dirawat dengan baik, petunjuknya jelas, alamnya indah dan tentu saja tidak ada bahaya binatang berbisa) dan gratis. Ya mereka nggak memungut biaya masuk untuk rute jalan-jalan alam di sini, langsung jalan saja. Saya pernah jalan beberapa kali tapi setiap kali jalan saya nggak sempat nenteng HP dan foto-foto. Takut jatuh, karena saya kalo jalan kudu konsen — lha ya jalan biasa aja suka tersandung, sih! Terus celana olahraga yang khusus dipakai buat jalan memang nggak ada kantongnya. Tapi kali ini saya memutuskan bawa, dan janji mau cerita di blog tentang NZ dan jalan-jalannya nggak cuma curhatan hati melulu, he he he.

screen-shot-2017-02-06-at-6-01-17-pm

Kami memutuskan untuk jalan ke Rangitoto Island. M terakhir ke sini sudah lebih dari dua puluh tahun yang lalu, ketika umurnya masih kecil. Kalau saya sih masih ingat dengan si pulau karena tahun lalu jalan-jalan alam bersama kantor tujuannya kemari. Pulau ini pulau gunung merapi tak berpenghuni, yang dijadikan sanctuary untuk kehidupan alam bebas (wildlife) kebanyakan yang saya lihat sih, burung-burung. Untuk mencapai pulau ini bisa naik ferry dengan harga yang terpampang di atas, karena kami naik dari Devonport (lebih dekat dari rumah) hanya makan waktu 15 menitan saja kurang lebih. Tidak ada karcis masuk pulau, bayar ferry-nya saja. Karena pulau ini tidak berpenghuni, penting untuk membawa sendiri air minum dan bekal makanan secukupnya, yang sampahnya wajib dibawa pulang dan dibuang di luar pulau. Selain air minum dan bekal yang cukup, memakai sunscreen itu wajib karena panas banget kalau tidak pakai, 100% pasti kena sunburn parah. Yang terpenting adalah dengan teliti menghitung waktu di pulau, karena kalau kelewatan ferry terakhir bisa-bisa harus bermalam di pulau yang dingin dan sunyi itu.

screen-shot-2017-02-06-at-6-07-45-pmKetika sampai di Rangitoto Island, begitu keluar dari ferry. Hari ini cuacanya bagus sekali, cerah biru tapi panas… jangan ditanya.

Pulau Rangitoto dijadikan tujuan orang untuk jalan alam, kebanyakan untuk naik ke puncaknya. Jalan ini lumayan mudah kok banyak orang-orang tua yang berjalan, namun karena menanjak mungkin memakan waktu agak lama. Perkiraannya untuk ukuran orang biasa (termasuk saya dan perkiraan yang dicetak di papan penunjuk di pulau) sekitar kurang lebih 1 jam untuk naik ke puncak dan 1 jam untuk turun. Selain scenic walkway ke puncak pulau, masih banyak lagi rute-rute jalan alam yang bisa dijalani di sini. Kalau yang malas jalan ada tuh paket untuk ikutan tur yang naik mobil lalu dipandu guide-nya untuk melihat bekas gunung merapi yang meletus kira-kira 400-500 tahun lalu.

screen-shot-2017-02-06-at-6-13-48-pmPenampakan peserta tur beserta kendaraan medan beratnya

Sebelum kami mulai meneruskan perjalanan kami ke puncak, kami mampir sebentar di rumah tua yang difungsikan sebagai museum pulau. Lucu sekali rumahnya kecil cantik, dan di dalam penataannya masih jadoel bagaikan terbang ke tahun 1940-1950an. Kalau mau lihat rumah-rumah tua seperti ini (disebutnya bach) di pulau, ada rute khususnya juga, tapi para bach adalah bach kosong yang terlantar (namun dirawat untuk estetika), nggak seperti yang dijadikan museum khusus. Untuk pecinta sejarah, antik dan barang jadoel pasti senang. Saya termasuk yang ketiga, jadi rasanya melihat bagian dalam bach ini seneng sekali.

Penampakannya bach dan isi bagian dalamnya yang sangat menarik, terawat dan apik.

Perjalanan kami pun berlanjut. Karena mau mengejar ferry pulang yang masih siang dan nggak mau seharian di Rangitoto kami putuskan untuk jalan ke puncak terus turunnya lewat lava caves (gua yang terbentuk dari lava ratusan tahun lalu waktu gunungnya meletus). Kami budget 2.5 jam untuk jalan dan istirahat makan siang, kami bawa bekal sandwich, buah apel dan cokelat dari rumah. Jalannya sih gampang aja, tingkat kesulitan mudah kok. Tapiiiiii begitu sudah mulai mau betul-betul ke puncak, tanjakannya yang tadinya level rendah makin lama makin naik sampai berpadu tangga pula. Duh nggak kuat. Sampe acara ngos-ngosan dulu di tengah nanjaknya, minum air dulu, makan apel dulu terus akhirnyaaaa sampai juga deh.

Satu point yang saya kagumi dan acungi jempol pulaunya benar-benar bersih dan terawat. Tidak ada satupun sampah besar maupun kecil yang saya lihat walaupun banyak yang makan bekal atau snack, dan minum dari botol plastik. Mereka setelah makan, membereskan kembali sampahnya dimasukkan tas untuk dibawa balik.

Sampai di atas tuh capeknya udah nggak berasa. Pemandangannya bagus banget aduh foto aja kurang bagus pokoknya. Apalagi di cuaca yang langit biru seperti ini. Penampakannya adalah kota Auckland dari jauh. Setelah puas menikmati pemandangan sambil makan siang bekal kami dan ngobrol-ngobrol kamipun lanjut, pergi lihat gua. Sayangnya gua ini gelap banget dan hasil fotonya meski dari luar juga jelek-jelek, jadi nggak saya sertakan. Berikut foto-foto dan sedikit penjelasan di bawah ini.

img_5487
Pemandangan dari atas summit yang bagus sekali, this photo doesn’t do it justice.


Ini si M nongol dari antara dedaunan, orangnya suka iseng ini dilihat itu mau dilihat, turun masuk bushes kalo saya yang steep gitu alias dalam takut juga kalo jatuh gimana?


Untuk melindungi satwa alam yang kebanyakan burung-burung ini disiapkan perangkap untuk predator, pokoknya pulau ini harus bebas hewan predator.


Contoh papan penunjuk jalan yang tersedia dan tersebar di area rute jalan, untuk membantu supaya nggak nyasar.


Ini pemandangan karang di sekitar sisi pulau. Bagus banget saya suka gradasi warna airnya.

Senangnya hari libur bisa dimanfaatkan buat lihat-lihat alam dan menantang badan supaya nggak malas gerak, biar bugar — semoga weekend-weekend lainnya nanti saya bisa pergi jalan-jalan lagi ya biar makin banyak walkway di NZ yang masuk cerita blog, supaya yang pingin liburan ke sini makin kepingin datang untuk lihat langsung, he he he. Dijamin nggak nyesal karena… beneran bagus banget! Plus sehat buat tubuh dong ya pastinya.

Senangnya akhir pekan kemarin, kota Auckland ulang tahun jadi kami mendapatkan long weekend. Libur hari Seninnya. Nuansa liburan sudah dimulai ketika saya pulang kerja hari Jumat sore. Bersama teman serumah sekaligus sahabat dekat saya, kami merencanakan malam kencan ala girly. Makan KFC (jarang-jarang nih kami makan KFC!), beli frozen coke dan nonton La La Land.


Berhubung saya orangnya suka sekali film musikal yang model retro. Saya suka film ini. Sayang endingnya merusak — kurang masuk akal! Tapi nggak akan saya bahas di sini soalnya nggak mau kasih orang spoiler dong 🙂

Semangat banget juga karena baru pertama kali ini saya mendapatkan Chinese New Year alias hari Imlek yang bertepatan dengan hari libur kerja, yakni hari Sabtu. Biasanya tidak berasa spesial karena merayakannya sembari kerja. Tetapi hari Sabtu Imlek kemarin, kami merayakan dengan makan meja ala Canton dengan teman-teman Malaysia saya.


Selamat Gong Xi Fa Cai dari kami berdua!


Senangnya lagi adalah berkat yang nggak terduga, dapat oleh-oleh Tokyo Banana dari teman yang baru pulang dari Jepang. Beneran nggak terduga dan tentunya senang karena saya nggak pernah mencobanya. Sekarang, rasa penasaran pun sudah terjawab dengan puas. Dulu saya lihat postingan Tokyo Banana ini dari blog Ci Ine Elkaje yang bener-bener bikin penasaran.

Kebahagiaan saya makin lengkap dengan kehadiran… si Kobo baru! Ya, saya mendapatkan ebook reader Kobo seharga $40 saja. Memang model lama sih, tapi bisa dipakai untuk membaca dan masih bagus. Jadi ceritanya saya tertarik untuk membeli Kindle. Lalu teman kerja saya bilang dia ada Kobo di rumah yang nggak terpakai (hadiah yang tak diperlukan ceritanya) — saya mau nggak. Dia menawarkan saya mencobanya kalau saya suka boleh buat saya dengan harga $40 karena model lama. Dengan girang saya mencobanya dan saya suka 🙂 saya memang tahun ini ingin balik ke hobby membaca buku yang saya tinggalkan beberapa tahun terakhir. Sekarang lagi mencoba untuk cari buku Indonesia dalam format epub untuk diunggah dan dimasukkan ke si Kobonya.


Membaca Kobo di pantai. Hari Seninnya karena hari libur dan cuaca cerah saya dan teman serumah memutuskan untuk ke pantai untuk bersantai. Beruntung dan bersyukurnya tinggal di Auckland, di manapun kita tinggal pasti dekat dengan pantai. Biasanya 15 menit menyetir sudah ada, dan bersih pula. Sayangnya saya nggak bisa berenang. Saya bawa Kobo, dia bawa Kindle. Kami beli smoothies, kopi dan bekal makan pita yang sehat. Pokoknya hari santai yang mengasyikkan. Tapi sepertinya kami kena heat stroke alias serangan kepanasan karena pulangnya ya ampun… capek sekali rasanya! Padahal habis bersantai, lho. Minumlah air putih yang banyak.


Salah satu ending weekend saya yang menyenangkan ini agak kurang menyenangkan. Biasa saya orangnya kurang teliti. Kalau membersihkan rumah saja suka dikritik oleh M katanya saya suka ketinggalan bagian-bagian yang terlupakan!


Inilah akibatnya kalau jadi orang kurang teliti. Saya kurang membubuhkan sunblock di salah satu bagian kaki… jadinya si kaki ini merah seperti kepiting rebus alias kena sunburn akut! Dan kelihatan ada bekas-bekas jarinya hahahah… jadi memang kurang teliti, terlupakan lalu kena deh akibatnya. Tidak apa-apa, untuk pelajaran nantinya. Matahari musim panas Auckland memang menyengat dan menakutkan! Sebagai catatan saja di NZ ini lapisan ozonnya antara tipis sekali atau sudah bolong sama sekali. Jadi kalau bule-bule putih (kayak si M contohnya) gak pakai sunblock, di matahari 5 menit aja udah bisa terbakar. Terbayang kan bahaya dan panasnya seperti apa…

Saya sering sekali mendengar proses mendaftar dan mendapatkan visa turis untuk berlibur ke Amerika Serikat yang horor, menakutkan dan buat hati kejang-kejang. Saya banyak mendengar cerita-cerita penolakan visa oleh mas-mas bule di balik counter yang berhati dingin dan keji, tak berperasaan, pokoknya DITOLAK! Untungnya selama ini sih saya belum pernah merencanakan berlibur ke negeri Paman Sam jadi belum pernah mengalami sendiri prosesnya yang konon sangat ribet dan menyebalkan.

Sampai tahun ini.

Saya berencana berlibur ke Amerika Serikat akhirnya, tepatnya ke California dan Nevada. Tiket pesawat yang murah meriah membuat saya tergiur dan akhirnya belilah kami (saya dan M) tiket pulang pergi Auckland-LA yang herannya lebih murah daripada tiket untuk ke Singapura, Malaysia atau Jakarta! Saya pun mempersiapkan diri untuk mendaftar visa turis, dan memutuskan untuk mendaftar beberapa bulan sebelum berangkat (takutnya kalau kejauhan nanti jadi masalah lagi, kan kita nggak tahu ya).

Untuk proses pendaftaran di konsulat cabang Auckland, New Zealand bisa klik di SINI.

Gambar dari http://torontoniagarafallsbus.com/wp-content/uploads/2015/12/usa-visa-glitches.jpg

Pengalaman saya seperti berikut.

Saya mengikuti cara-cara yang dengan sangat jelas dimuat dalam website tersebut. Pertama saya mengambil foto dengan resolusi dan syarat yang diajukan oleh pemerintah Amerika Serikat untuk mendaftar visa. Setelah mengambil foto (saya ambilnya di rumah saja, background putih). Seusai pengambilan dan pengeditan foto saya mengisi form DS-160 secara online, dengan sangat cermat dan teliti karena diwanti-wanti jawabannya nggak boleh salah. Saya mengisi form selama satu jam karena pertanyaannya banyak sekali dan mengecek kembali supaya informasi yang diberikan tepat dan akurat. Sedikit catatan kaki M yang memiliki paspor NZ hanya perlu mengisi visa waiver form secara online selama kurang lebih 15 menit, mencantumkan foto dan membayar NZ$14 saja saudara-saudara!

Setelah submit form tersebut saya menerima email konfirmasi DS-160 yang harus di-print untuk dibawa ke interview. Lalu diarahkan untuk membayar biaya pendaftaran visa turis secara online. Biayanya NZ$240. Setelah membayar pihak konsulat akan mengirimkan email otomatis yang isinya resi pembayaran, yang seperti form sebelumnya harus di-print untuk dibawa ke konsulat. Setelah beres urusan membayar saya pun membuat ID login di websitenya dan siap untuk memilih tanggal dan jam interview. Saya pilih hari Rabu pagi, pukul 9.30.

Sesuai dengan petunjuk dan arahan lalu saya menyiapkan dokumen-dokumen untuk penunjang interview di konsulat sebagai berikut:
– Paspor yang masih berlaku dan dua paspor lama yang saya pegang di sini
– DS-160 confirmation form yang dikirimkan ke email.
– MRV receipt / resi pembayaran yang juga sebelumnya sudah dikirimkan ke email.
– Surat dari kantor yang menyatakan saya bekerja di sana dan berapa gaji saya.
– Slip gaji selama tiga bulan terakhir.
– Pas foto ukuran 5x5cm.
– Tiket pesawat pulang pergi.
– Slip cuti dari kantor yang menunjukkan saya akan kembali bekerja di Auckland.
– Itinerary / jadwal selama akan di Amerika.
– Tiket ke festival musik Coachella yang sudah lunas dibayar.
– Bukti rekening bank yang mencukupi.

Pukul 9 pagi saya tiba di konsulat, dan hati saya pun drop melihat antreannya yang mengular di pintu masuk sebelum area security, dan tidak bergerak. Saya antre hingga pukul 9.45 dan akhirnya diperbolehkan masuk. Mungkin mereka yang di dalam terlambat dari jadwal sehingga yang di luar walaupun sudah melewati jam janji kami, tidak diperbolehkan masuk. Ketika tiba giliran saya, saya disuruh meninggalkan tas dan telepon genggam dan masuk ke antrean bagian kanan.

Antre di bagian kanan selama 15 menit saya senang banget karena akhirnya giliran saya… tapi capek deh saudara-saudara! Saya ditanya tujuan ke Amerika, menyerahkan paspor, MRV receipt dan DS-160 form dan disuruh ambil sidik jari di mesin elektronik. Sesudahnya saya disuruh menunggu untuk interview di ruang tunggu sebelahnya. Kirain, tadi sudah interview! Bersungut-sungut sedikit saya menunggu, karena saya izin dengan supervisor saya hanya pergi keluar sebentar, satu jam saja. Tapi ini molor sampai sejam sudah berlalu belum ada tanda-tanda saya bisa pergi secepatnya.

Setelah menunggu selama sejam lagi, nama saya pun dipanggil di loket! Betapa senangnya. Menggenggam setumpuk dokumen saya pun berjalan ke arah loket dan disambut Om-Om beraksen Amerika kental yang mewawancarai saya melalui loket. Pertanyaannya bisa terdengar oleh seluruh orang di ruang tunggu. Selama menunggu sejam tadi saya banyak lho mendengar cerita-cerita menarik orang-orang yang apply, hihihi.

Dan deg-degan sebelumnya ternyata nggak berarti. Berikut cuplikan wawancara saya yang sangat sangat sangat sebentar:

Me: Good morning!
Interviewer (I): Good morning, so how long have you been living in New Zealand for?
Me: Coming up six years this April.
I: What do you do for a living?
Me: I work at xxxxx as an xxxxx
I: So why do you want to visit the United States?
Me: I’m going for a holiday and to Coachella music festival.
I: Any particular act you’re looking to see at the music festival?
Me: Radiohead and Beyonce (padahal nggak juga sebetulnya hahahaha)
I: So who will you be traveling to the US with?
Me: With my fiancee
I: Is he here with you today for visa application?
Me: Nope he’s a New Zealand citizen so he doesn’t need to be.
I: Okay your visa has been approved, your passport will be sent to your address in 2-3 working days!
Me: (melongo dan cengo) thank you!

Melongo dan cengo? Banget! Segala supporting documents yang sudah dibekap dalam genggaman tidak diminta, pertanyaan pun juga tidak ada yang aneh, hanya sedikit banget lagi! Dan langsung diterima. Bersyukur dan merasa beruntung pastinya, karena proses ini jauh dari kata horor yang diceritakan orang-orang. Mungkin lebih ke ribet mempersiapkan dokumennya, mahal membayarnya dan lama antrenya. Tapi sesudahnya ternyata tidak seseram yang saya bayangkan.

Nah sekarang hanya tinggal menunggu paspor saya sampai, dan berharap semoga dapat visanya yang beberapa tahun sekaligus, jadi ada alasan buat pergi lagi (ke Hawaii selalu sale dari sini) 🙂