Archive

Cooking

Selamat berpuasa bagi yang menjalani ibadah bulan Ramadhan ya! Dan sekalian mau ngasih tahu kalau tulisan hari ini akan disertakan dengan foto-foto makanan, jadi yang sedang puasa mungkin mau bacanya setelah buka, hehehehe.

Mau berbagi saja cerita saya mengurangi konsumsi makan daging (baik itu daging ayam, sapi, babi, ikan dsb). Alasan awalnya sih karena perasaan dengan umur yang bertambah ini, keseringan makan daging perut saya suka berasa ‘begah’. Setelah didiagnosis lactose intolerant tahun lalu dan nggak mengkonsumsi produk susu, perut saya jarang sakit. Tapi sering rasa ‘begah’ kan nggak enak juga. Hayuk lah coba eksperimen, mengurangi jumlah daging yang dimakan… eh betul… perut rasanya juga lebih nyaman.

Senang juga rasanya jadi menyeimbangkan diet. Saya sebetulnya tidak makan daging berlebih juga sih dulu, tapi nggak dipikirkan apa yang masuk mulut dan perut secara sadar. Ingin makan? Ya makan saja! Kalau sekarang mikir, eh kemarin sudah makan daging atau siangnya sudah makan daging, jadi makanan setelahnya ya tanpa daging saja deh!

Yang bikin agak repot adalah mengajak M ikutan gaya ini. Kalau saya masak vegetarian, protes deh, mana dagingnya katanya. Jadi ya sudah, kalau masak buat berdua, saya masak yang ada dagingnya. Atau misalnya, saya masak pasta atau mie, di piring M ada varian dagingnya yang ditambahkan terpisah, sementara di piring saya isinya sayuran saja. Contohnya masak pasta dengan saus tomat. Di piring M ada udangnya, sementara di piring saya, banyak bayamnya saja, hahaha. Kalau makan di luar saya usahakan pesan menu tak berdaging, kecuali kalau memang makannya di McD, masa’ pesan burger tanpa isi, hahahaha.

Yang lucu ya, sejak saya mengubah sedikit gaya makan ini saya jadi punya makanan favorit baru, yang dulunya sebetulnya saya biasa saja, nggak doyan-doyan banget. Makanan ini adalah… terong! Saya sekarang tergila-gila makan terong. Dimasak ala masakan Asia, hayuk. Dipanggang a la masakan Western, juga enaaaaaak…

Mau sharing beberapa masakan (dan makanan lain) yang sempat difoto, kadang (seringnyaaa…) belum difoto karena sudah kelaparan, terburu-buru makan dan nggak sempat terfoto deh.

Cereal dengan almond, pisang, blueberry, chia seeds dan yoghurt kelapa — yang dairy free, supaya tidak sakit perut hehehe. Biasanya untuk sarapan atau snack sore.


Seringnya untuk sarapan pagi… oats dicampur bubuk kayu manis, susu almond dan peanut butter. Toppingnya apel, pisang dan chia seeds.


Sal’s Pizza ini enak sekali, favorit deh kalau di Auckland. Boleh dong makan pizza, yang toppingnya cuma keju saja, tanpa daging kaaaaaan hahaha.


Orek tempe, nasi dan brokoli. Menu sederhana yang mengenyangkan. Ini 100% vegan juga, benar-benar hanya produk nabati.


Yee mee rebus a la Malaysia… buatnya mudah hanya dengan kaldu jamur dan telur. Porsinya M saya tambahkan irisan ayam.


Yang terakhir ini bukan foto makanan tapi mesin kopi baru kami! Yay! Senang banget sekarang bisa buat kopi enak seperti di cafe, di rumah sendiri.

Ketika saya kecil dulu (sampai sekarang sih sebetulnya) saya sangat menggemari cerpen majalah Bobo. Ketika sudah besar sedikit, Bobo mengeluarkan buku kumpulan cerpen-cerpennya, yang saya beli dan kumpulkan… sayang sekarang hanya bersisa sedikit dan saya bawa ke sini pula, untuk dibaca ketika sedang ingin bernostalgia. Saya suka cerpen zaman tahun 1980 – 1990an karena ceritanya yang benar-benar sederhana.

Salah satu cerita cerpen yang teringat di kepala adalah yang berjudul “Bangsa Tempe” – kalau nggak salah. Jadi ceritanya sederhana sekali, satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan kedua anaknya sedang menikmati makan malam. Si sulung komplen, kok tiap hari makan tempe terus… ayah pun lalu menimpali dan bercerita (yang menambah pengetahuan saya!) tentang bangsa Indonesia yang harus bangga terhadap tempe. Bangsa Indonesia adalah Bangsa Tempe. Katanya…

Masa iya sih?

Dulu waktu kecil lha ya nggak mikir seperti itu… makan tempe sudah seperti makanan pokok, sering banget, sampai bosan.

Sekarang dong… semalam saya sebelum tidur, terbayang mau makan tempe orek pete.
Tempe adalah makanan mewah untuk kami di sini. Harganya lebih mahal dibandingkan daging… bayangkan! Untuk kalangan orang New Zealand, tempe dikenal sebagai ‘protein baru’ yang hits di kalangan orang-orang vegan dan vegetarian, dan kalangan makanan sehat. Harganya pun MAHAL. Mahal banget. Contohnya sebungkus 250 gram tempe organik di supermarket… dibanderol seharga $6.29! Kalau mau murah sedikit beli di toko Asia (yang buat orang Indonesia rumahan) itu pun masih tergolong mahal (sekitar 3 dolar-an).


Tempe di atas dari website Huckleberry (tempat jualan makanan organik di Auckland) — di beberapa supermarket juga ada. Sebungkus di atas itu, cilik, 250g harganya $6-$7 tergantung belinya di mana.

Lihat bule-bule mengolah tempe, eneg sendiri. Tempenya dibumbui terus dijadikan pengganti burger patty daging, misalnya. Atau dibumbui pakai bumbu-bumbu health food gitu (contohnya tamari) dan dimakannya dingin. Waduh menurut saya nggak karuan. Lha ya dari negara pencipta tempe… tempe yang dimakan dari kecil hangat dan enak dengan rasa sederhana.

Saking kepengennya makan tempe, saya pengen makan tempe orek pete. Bela-belain deh beli tempe mahal-mahal… yang penting puas dan bergizi juga kan! Nanti kapan-kapan kalau pulang lagi saya ingin deh, beli ragi tempe terus diselundupkan ke sini biar bisa makan tempe sepuasnya tanpa mbolongin kantongku hahaha…
Hidup bangsa tempe! Bangga lho, makanan asli khas Indonesia ini di luar negeri pamornya betul-betul bagus (sayangnya cara memasaknya ndak cocok dengan lidah kita… eh lidah saya mungkin ya).

Screen Shot 2017-08-03 at 8.34.02 PMPenampakan orek tempe a la saya… saya doyannya yang agak nyemek dan nggak terlalu manis. Di rumah, Mami dulu nggak doyan yang versi garing, jadi keikut deh anaknya ini masak tempenya nggak garing sama sekali.

Kalian doyan makan tempe diapakan?

Favorit saya tempe mendoan dan tempe goreng pakai garam 🙂

Setelah lama dalam waitlist kepengen banget, dan sering nonton Masterchef AU (baca: kebanyakan nonton) akhirnya saya punya juga sebuah food processor cantik! Udah kebayang di kepala chicken nugget, pastry, pasta yang gampang, pempek… anyway teman-teman saya nih baik banget, ulangtahun saya kemarin mereka ngumpulkan uang supaya saya bisa beli alat masak idaman ini, pilih sendiri. Walaupun sekarang dapurnya penuh sesak… ya iya lha itu gadget kok jadi banyak banget ya… tapi nggak apa-apa, hasilnya masuk perut ini, hahaha.

Kemarin beli ini karena suka dengan warnanya (lagi-lagi deh), tapi attachment-nya juga banyak dan dibanding yang lain, model ini lebih compact, tapi berat. Jadi nggak ringkih. Lalu asyik banget kebetulan waktu beli, diskon lumayan banyak juga. Penampakan boxnya yang besarrrr…

Ini dia penampakan dusnya ketika dibuka… warnanya katanya adalah warna cranberry. Seperti warna buah ceri terang menurut saya. Suka banget! Makasih ya teman-temanku.

Duduk manis di atas counter dapur. Di kanan itu kotak penyimpanan attachment-nya, bisa untuk macam-macam fungsi dari memotong, mengiris, bikin adonan dan sebagainya.

Percobaan pertama ngapain dong?

Buat bakso! Karena sudah lama sekali penasaran… dan sering lihat di Instagram yang tinggal di luar negeri dingin-dingin bisa ngebakso irinya diriku. Kalau beli, selain mahal juga kan banyak pengawetnya. Dan karena baksonya nggak ada yang style Indonesia, mereka kenyal sekali dan rasanya kurang enak menurut saya. Salah satu makanan kesukaan saya tuh bakso, sampai tante saya menjuluki saya anak bakso waktu kecil hahaha… di sekolahan karena makanan yang dijual harus halal, ya mie ayamnya kurang minyak nggak halalnya menurut saya kurang enak hahahaha… jadi hampir tiap hari, jam istirahat makanan saya adalah bakso.

Pulang kerja belilah sekotak daging sapi cincang segar. Seusai makan malam dan membersihkan si food processor baru, saya mencampurkan daging dengan putih telur, es batu, tepung sagu tani, baking powder, bawang putih goreng, bawang putih bubuk, bawang merah goreng, lada, garam… dan setelah diolah jadi seperti di bawah ini. Senaaaang banget!

Saya melakukan beberapa test bakso dari adonan yang sudah jadi, tambah sana sini lagi (garam, sagu, es batu) sampai menemukan tingkat rasa dan kekenyalan yang pas.

Senang banget sudah jadi baksonya! Untuk percobaan pertama okelah, rasa sudah oke banget, hanya problem di membalnya. Sudah cukup keras dan kata si suami, enak banget. Tapi saya mau membal seperti baksonya abang-abang hahaha… kata Mami harus pakai obat (semacam tepung bakso) tapi masa iya sih? Besok-besok kalau buat lagi saya ingin menambahkan tepung sagu dan es batunya. Namanya eksperimen kan. Tapi senangnya sekarang bisa stok bakso homemade di kulkas. Bentuknya nih, harus diperbaiki, karena nggak pernah mentol bakso, bulatannya masih kurang cantik.

Esok harinya di malam musim dingin yang menggigil, di rumah makan bakso pakai bihun! Rasanya puas sekali, apalagi buatan sendiri. Suami juga ngacungin jempol, katanya enak, mirip yang beli di Indonesia. Senang banget deh. Disajikan dengan cabe buatan sendiri, daun seledri, daun bawang, sayur… dan bawang goreng legendaris oleh-oleh dari Inly yang baik hati. Sumpah, bawang goreng buatan rumah Inly ini enak banget, yang doyan bawang goreng harus coba dan pesen sama Inly.

Untuk berhemat dan lebih sehat tentunya, sejak kerja kantoran saya rajin membawa bekal ke kantor. Berasa banget uang yang bisa disimpan kalau bawa makanan sendiri, secara beli makanan ya minimal $5 untuk sandwich kalau di sekitar kantor… dan emang perut gembul dasarnya mana kenyang. Kalau mau proper meal alias makanan beneran, mulai dari $10 harganya untuk seporsi.

Banyak yang nanya, saya kok rajin. Kan ribet bikin bekal — termasuk orang-orang kantor. Saya udah colong start soalnya saya demen makan dan demen masak juga. Jadi rasanya gampang dan seperti tantangan gitu untuk mengolah bekal yang nggak ribet — saya mengandalkan left over alias makanan sisa makan malam. Nah bawelnya saya iniiiiiii saya paling nggak doyan makan makanan sisa! Waduh nggak deh.

Makanya itu sebisa mungkin makanan sisa saya tata lagi, atau dicampur bahan baru, atau dimasak dengan cara berbeda. Pokoknya asal nggak kelihatan seperti makanan sisa! Kalo nggak cerewet kayak saya sih gampang, sisa apapun masukin saja ke kotak bekal… beres deh. Saya juga kadang suka begini buat makanan yang memang sudah terlihat tercampur… seperti spaghetti bolognese, nasi goreng, mie goreng…

Di atas adalah salah satu contoh bekal yang dimasak dari bahan-bahan sisa di kulkas. Roast vegetables alias sayuran dipanggang yang saya buat hari Sabtu satu tray penuh buat makan malam, sisanya bisa untuk bekal dua hari (dengan sajian protein yang berbeda). Kemarin sisa roast vege ini saya bekalkan dengan sisa domba panggang yang saya bumbui lagi dan grill lagi biar rasanya lain, dan brokoli rebus (kalo malas pakai sayuran frozen saja). Dan di kotak makan hari berikutnya ini ayam — karena saya malam itu masak mie ayam, saya sisihkan ayam mentahnya sedikit, dibumbui sedikit, dimasak terus disajikan pakai sayuran hijau sisa nemu di kulkas yang dicah sebentar. Nah sisa mie ayamnya nanti ditata untuk makan siang hari besokannya lagi. Jadi nggak bosan, makan makanan yang sama dua hari berturut-turut.

Screen Shot 2016-05-31 at 7.14.04 PM

Atau satu contoh lagi makan siang saya yang di atas ini. Waktu itu saya masak baked chicken breast yang dibumbui pake bumbu kunyit, lemon, cabe pokoknya bumbu Asia yang segar-segar. Waktu saya buat bumbunya saya pisahkan sedikit nggak semuanya untuk marinade si ayam mentah. Sisa ayam bakenya saya suwir, lalu saya campurkan ke bumbu marinade, dimasak bareng dan dicampurkan ke kwetiau. Side saladsnya dari bahan-bahan yang nemu di kulkas. Jadinya kan beda dengan makan malam yang notabene si baked chicken pakai sayuran yang ikutan di-bake juga.

Beberapa tips dari saya buat mudah membuat ‘makanan baru’ dari sisa makanan:

  • Stok frozen vegetables alias sayuran beku di kulkas untuk jadi tampilan side dish baru buat di kotak bekal.
  • Stok bumbu macam-macam di rumah. Kalau mau ‘memperbaharui’ daging/ayam/dsb tinggal dimasak ulang pakai bumbu yang berbeda.
  • Kalau bikin makanan seperti saus pasta/saus daging, sisanya dibekukan. Kalau butuh instan tinggal masak pastanya saja.
  • Membuat makanan seperti lasagna, macaroni schotel — sisanya dimasukkan tupperware terus dibekukan. Jadi deh makan siang praktis yang tinggal dipanaskan kalau butuh.
  • Kalau masak makanan tahan lama yang bukan protein (daging-dagingan) seperti sayuran panggang atau sayuran rebus… bikin yang banyak sekalian. Bisa dicampurkan dengan makanan lainnya yang dimakan hari yang berbeda — jadi deh makanan baru!
  • Kalau beli bahan makanan seperti sayuran segar, daun selada dan daun-daunan lainnya sisakan sedikit buat di kulkas untuk dicampur jadi makanan baru di kotak bekal.
  • Sering baca blog/majalah makanan/Instagram/etc tentang makanan. Kalau saya sih makin lapar, makin terinspirasi mau masak ini itu jadinya, he he he.

 

Ada tips membuat bekal lainnya? Share dong 🙂

 

 

Seusai membaca postnya Bebe minggu lalu, rasanya pingin banget makan mie ayam jamur! Pinginnya yang pakai banget dan rencananya weekend mau ke food court dekat rumah karena ada tante-tante Indonesia yang memang khusus jualan mie ayam di sana. Tak dinyana… si tante tutup! Dan permanen pula tutupnya. Rasanya mau nangis soalnya mie si tante enak bingits secara ia membuat mienya sendiri. Pokoknya mantap!

Karena nggak kesampaian, pergilah saya ke toko Asia, beli macam-macam bahan untuk membuat mie ayam jamur ala bakmi GM. Rasanya sih nggak sama persis sama GM, tapi di lidah ini rasanya enaaaaak pokoknya. Bikinnya tumisan ayamnya sengaja banyak, supaya bisa dimakan sampai puas. Hari ini sudah dua kali makan bakmi untuk makan siang dan makan sore — nanti malam juga mau makan lagi sepertinya hehehe.

Mie Ayam Jamur a la Mariska

Bahan yang dibutuhkan:

  • 2 fillet dada ayam, pisahkan kulitnya (untuk membuat minyak ayam)
  • tulang atau ceker ayam, patah-patahkan dan cuci bersih
  • 3 siung bawang putih dan 2 cm jahe, geprek (untuk kuah)
  • mie telur — bihun atau kweatiau enak juga sih kalau bosan dengan bakmi
  • 1 kaleng jamur kancing, potong-potong jadi dua
  • 4 cm jahe, kupas dan geprek
  • 5 siung bawah putih, rajang halus
  • 1/2 buah bawang bombay, rajang halus
  • bakso sapi
  • sayur sawi, atau kalau tidak ada bokchoy juga boleh, direbus
  • 2 siung bawang putih + 6 butir cabai merah, rebus dan sisihkan (untuk sambel)
  • daun bawang, rajang

Bumbu:

  • 3 sdm saus tiram
  • 2 sdm kecap manis
  • 4 sdm kecap ikan
  • 4 sdm kecap asin
  • 1 sdm kecap asin kental (dark soy sauce)
  • garam
  • lada

Cara membuat:

  1. Rebus fillet ayam dengan ceker atau tulang, garam dan jahe plus bawang putih untuk kuah. Sisihkan kuah kaldu dan potong dadu dada ayam matang.
  2. Panaskan kulit ayam dengan sedikit minyak di atas api kecil sampai keluar minyaknya untuk membuat minyak ayam. Sisihkan.
  3. Untuk membuat tumisan ayam, panaskan sedikit minyak goreng. Masukkan rajangan bawang bombay, bawang putih dan jahe hingga layu dan harum. Bumbui dengan garam.
  4. Masukkan potongan ayam, aduk rata dan tambahkan jamur. Masukkan bumbu dan aduk rata, tambahkan sedikit kaldu ayam. Kecilkan api dan masak dengan api kecil selama setengah jam. Icip-icip dan tambahkan saus-sausan dan garam/lada jika perlu.
  5. Untuk membuat sambel, tumbuk halus rebusan bawang putih dan cabai merah dengan sedikit garam dan air kaldu.
  6. Sajikan mie rebus dengan tumisan ayam dan ‘kuah’ dari tumisan ayam (kalau suka boleh tambahkan minyak wijen), sawi rebus, bakso, sambel, daun bawang dan kuah kaldu ayam.

IMG_20150327_200011372Soto males bikinan saya, males karena minim pernak-pernik. Hanya pakai ayam suwiran, soun dan telur rebus saja.

Tinggal jauh dari orangtua tentunya selain kangen dengan orangtua, kangen berat adalah sehari-hari dengan masakan si Mami (atau si Papi kalo yang para ayahnya bisa masak kalau Papi saya nggak bisa hehe, atau masakan simbak di rumah kalau ibunya jarang masak). Sebut saja masakan rumahan ya. Sebelum saya tinggal merantau, saya nggak pernah terpikirkan betapa repotnya menyiapkan makanan untuk sekeluarga. Apalagi di Indonesia, yang hidangannya penuh bumbu, rempah, masakan yang dimasak beberapa kali (contohnya ayam goreng harus diungkep dulu, atau ayam goreng bumbu dengan sayur yang ayamnya harus digoreng terpisah dulu), pernak-pernik dan sebagainya. Saya kadang suka merasa menyesal kalau ingat dulu ketika masih kecil dan belum mengerti, nggak pingin makan masakan Mami. Nggak enaklah, nggak sesuai selera, atau memilih jajan di luar. Padahal memasak buat sekeluarga selain capek juga pusing memutar otak memilih menu apalagi kalau di rumahnya ada yang bawel alias cerewet memilih-milih makanan (untungnya, saya pemakan segala).

Cerita lucu, Mami sedang pergi mengunjungi kakak saya selama dua minggu tanpa Papi. Paniklah Papi, karena Papi nggak bisa masak. Ketika kami Whatsapp-an, Papi mengeluh, “Liat mami masak gampang aja tuh, kalo papi yang masak kok nggak enak ya…” hahaha. Mami mengeluh si Papi sulit diajari, sudah terbiasa makan doang, nggak bisa masak, jadinya repot. Apalagi Papi saya doyan makanan rumahan, nggak suka beli di luar. Akhirnya selama Mami di Australia ini, Papi memasak sendiri cah sayuran sederhana… atau masakan lain yang bumbunya sudah digiling dan dikulkaskan oleh Mami. Ada juga sop ayam dan kuah yang sudah dibekukan oleh Mami — tinggal dipanaskan saja oleh Papi. Kemarin terakhir ngobrol dengan Papi, Papi masak cah buncis. Terus katanya “Iya papi pakai ebi kering enak lho ternyata kamu kalau cah buncis pakai ebi ya!” Hehehe.

Karena keluarga kami berasal dari Kalimantan Barat, makanan rumahannya khas dengan aroma bawang putih. Di rumah Mami membuat sendiri minyak bawang putih yang dikulkaskan dan siap ditaburkan di sop dan makanan berkuah (tradisi yang saya lanjutkan sampai sekarang). Dulu waktu Mami rajin masak karena yang di rumah makannya banyak, masakannya setiap hari fresh dan enak-enak. Dari kari ayam khas KalBar (ini masaknya rempong beut, sudah minta resepnya, tapi nggak dibikin-bikin), soto ayam bening, kuah rebung, ayam goreng kering dan garing dengan kucuran air jeruk limau, cah kangkung tauco, cah kangkung terasi, cah buncis dengan udang, ayam cah jamur, sup bakso ikan (dulu sering buat sendiri baksonya, rajin bener deh), sayur bening dengan bulatan daging sapi yang dibumbui, kuah ikan asam pedas, telur kukus goyang, kuah telur dadar, nasi ayam Pontianak (kalau di Jakarta mirip nasi campur… ini membuatnya harus sabar karena banyak perintilannya), tahu dan tempe goreng, dan sebagainya. Sambil mengetik ini ngiler membayangkan masakannya…

Kadang kalau bingung mau masak apa saya sering membaca website-website di bawah ini sebagai inspirasi untuk makanan rumahan nan enak:

  • Grup Natural Cooking Club di Facebook, karena pada suka posting makan siang yang sederhana… tapi enaaaaak banget apalagi untuk kami yang jauh dari rumah.
  • Dapur Elkaje https://dapurelkaje.wordpress.com/
    Suka dengan resepnya yang sederhana tapi enak, terus ada cerita di baliknya. Khas masakan rumahan a la Indonesia.
  • Just Try and Taste http://www.justtryandtaste.com/
    Blognya Mbak Endang Indriani yang tersohor. Resep disertai banyak foto yang menggugah selera, cerita di balik dan seputar resep. Gara-gara blog ini, saya ngidam kepingin berat makan ikan masak lemak, tapi itulah belum terlaksana karena malas masaknya.
  • Diah Didi’s Kitchen http://www.diahdidi.com/
  • Daily Cooking Quest http://dailycookingquest.com/

Share dong cerita apa masakan rumahan favoritmu? Dan ada nggak blog atau situs masakan rumahan yang kalian suka juga?

Bakso bule ini, alias meatballs, tidak sama dengan bakso Indonesia yang digiling halus dan teksturnya kenyal. Baksonya lebih ke arah daging sapi alias mince yang dibulatkan tapi pakai cincangan ayam, babi, kambing atau kalkun juga bisa. Beberapa resep yang saya temukan juga mencampur babi dengan sapi dan sebagainya.

Hari ini saya mau sharing saja resep bakso bule kesukaan saya, setelah bikin dengan variasi ini itu inilah versi yang paling pas untuk selera saya. Si bakso ini versatile sekali alias mudah diadaptasikan mau makan pakai apa. Sama saus tomat dan pasta, oke. Dimakan pakai roti ala Subway juga boleh. Dibentuk lagi dijadikan burger patty juga oke. Dimakan pakai salad juga enak. Biasanya saya membuat dalam jumlah besar lalu dibekukan, kalau mau pakai tinggal dikeluarkan dari freezer.

Cara memasaknya juga mudah bisa digoreng atau di-pan fry atau dioven kalau mau lebih sehat, biasanya kalau saya, dipanaskan di atas penggorengan biar sisi-sisinya brown dan crispy lalu dimasukkan ke dalam oven sampai matang.

IMG_0210

Bakso Bule, alias Beef Meatballs ala Aku
Kalau mau bikin yang banyak tinggal dibanyakin saja bahan-bahannya

  • 500 gr daging sapi
  • 1/2 cup tomato paste / pasta tomat
  • 1/2 cup daun peterseli / parsley, cincang halus
  • 1/2 bawang bombay dicincang halus
  • 1 sdm bubuk bawang putih
  • 1/2 cup keju (saya pakai shredded edam)
  • 2 sdm kecap Inggris
  • 2 sdm wholegrain mustard
  • 1 sdm paprika bubuk
  • garam dan lada secukupnya

Selamat mencoba!

Dulu… waktu sering masak untuk diri sendiri, saya dapat ide ini untuk menghemat uang dan tentunya nggak minim asupan gizi. Saya membudayakan seekor ayam, diolah untuk protein makanan selama 5 hari. Tentunya harus pintar-pintar mengolah dengan cara yang berbeda biar nggak bosen makannya ayam lagi, ayam lagi. Catatan di sini seekor ayam ukuran standar di supermarket bisa didapatkan dengan harga 12-19 dolar tergantung lagi diskon nggak, mau ayam organik atau ayam biasa dan sebagainya. Ketika membeli ayam juga perhatikan kesegarannya, kalau di sini membeli di supermarket ayam utuh biasanya dipak per-ekor dengan tanggal kadaluarsa yang tertera di bungkusan si ayam. Saya pilih ayam yang kadaluarsanya paling lama tentunya.

Guide menyimpan ayam di bawah ini:
According to Foodsafety.gov, uncooked poultry is safe in the refrigerator for 1-2 days, and safe in the freezer for 9 months (for pieces) and up to 12 months for whole chickens or turkey. Cooked poultry is safe refrigerated for 3-4 days.

10367803_10152509580575605_1273716152285334074_n

Maafkan ilustrasi ayam di atas adalah ilustrasi belaka, hahaha. Itu foto roast chicken bikinan saya 😀
Nggak termasuk menu ngemat ya

Begitu dibawa pulang bersihkanlah si ayam dengan cara dilumuri garam lalu dicuci bersih dengan air dingin. Ayam biasanya saya potong-potong menjadi 8 bagian yaitu 2 sayap, 2 dada, 2 paha atas dan 2 paha bawah. Langsung hari itu juga dimasak untuk malam pertama, ya.

Hari pertama saya masak jenis oseng-oseng sayuran dengan satu bagian dada, yang saya olah dengan cara dipotong-potong. Makan dengan nasi dan oseng-osengnya dengan sayur yang banyak, dapat 2 meal (dinner plus bekal untuk makan siang besoknya).

Hari kedua saya bikin jenis kuah/sop dengan bagian paha atas yang dipotong-potong lagi. Paha atas ini ada tulangnya jadi untuk bikin kuah, rasanya enak karena tulang ayam ini yang bikin gurih. Saya senang sopnya diisi makaroni jadi nggak usah masak nasi lagi. Bisa untuk dua meal juga dinner dan lunch besokannya.

Hari ketiga saya memasak paha bawah, sisa dada dan wings berbarengan. Biasa saya bumbui dan dioven saja. Untuk makan malam misalnya, saya menghidangkan paha dengan salad dan roti. Untuk makan siang besoknya, suwir setengah dari dada yang dimasak dan dijadikan sandwich dengan sisa salad dan roti makan malam.

Hari keempat kita masih punya sisa setengah dada dan dua potong wings yang tentunya disimpan dengan baik di kulkas. Untuk makan malam saya bisa suwir bagian dada atau dipotong strip, dibumbui lagi dan di-pan fry untuk dihidangkan dengan oseng-oseng pasta atau pasta salad. Jangan lupa bikin banyakan si pasta ini karena…

Lunch hari kelima adalah pasta plus wings yang sudah dibumbui dari kulkas. Ta-daaaah! Hari kelima ini kan Jumat dan biasanya saya makan malamnya di luar buat refreshing.

Segitulah contohnya saya survive seminggu dengan seekor ayam… minggu besoknya puasa makan ayam deh. Hahahaha.

Perkenalan saya dengan lasagna, pertama kali dari resto Pizza Hut ketika kecil. Nggak doyan karena pastanya benyek dan rasanya berminyak dan bikin eneg. Jadi, nggak pernah makan lagi. Pernah juga makan vegetarian lasagna waktu baru pindah ke sini, enak dan nggak eneg tapi kok kurang dagingnya. Salah satu teman saya Whatsapp foto lasagna bikinannya yang pakai banyak sayur… tapi dagingnya nggak dimasak tomat dulu. Jadinya lasagna favorit ini pun lahir — hasil modifikasi sesuai kesukaan sendiri. Saya bisa sekali makan dua potong kalau masak ini untuk makan malam. Karena banyak step untuk membuatnya saya sekali bikin dua loyang, sisanya bisa untuk makan siang besok atau dibekukan untuk kalau lagi malas masak.

Screen Shot 2016-02-06 at 11.28.37 am

Meat Sauce

1 kg mince beef (I reckon maybe mince chicken if you don’t eat beef?)
2 large onion, diced
1 bulb or just 5 cloves would do too, garlic, finely minced
1 tbsp dried oregano (or mixed herbs would do)
1 tbsp ground paprika, optional
1 can tomato (you can use diced or whole peeled)
1 cup tomato paste
2 tbsp worchestire sauce
1 tbsp marmite or vegemite (optional — makes the mince taste richer)
a dash of red wine, optional

Saute garlic and onion in butter or oil of your choice. Stir in oregano. Sprinkle some salt. Mix in mince, sprinkle a bit more salt and keep stirring until cooked through. Stir in tomato paste and ground paprika. Keep stirring. Add in a dash of wine and keep stirring. Mix in marmite, worchestire sauce and canned tomato. Mix thoroughly, adjust salt and pepper to your taste. Let braise for 15 minutes, set aside.

White sauce / bechamel

Melt 50g butter in a saucepan. Stir in slowly 1 cup flour. Whisk thoroughly. Make sure you let this mixture (roux) cook properly, otherwise the white sauce will taste floury.
Add in milk — I don’t really measure my milk, I just keep adding and keep whisking until the desired consistency. It should be thick and creamy once you’re done. I like to add a pinch of ground nutmeg to my bechamel too. Some people whisk cheese in to theirs but I don’t.

Vegetables Layer

I sliced zucchini, eggplant and some capsicum. The vegetables layer is so versatile you can put anything you want I reckon. I have seen people put pumpkin, spinach or mushrooms into their mix.

  • Preheat oven to 180º C.
  • Layer lasagna. My layer usually is a thin spread of tomato sauce (canned, packet, or even ketchup will do) on the bottom, lasagna sheets, meat sauce, lasagna sheet, vegetables, cover the vegetables in bechamel, lasagna sheets, and repeat.
  • My top layer is vegetables covered thoroughly in bechamel sauce. Cover with baking paper.
  • Bake for 40 minutes, remove paper from the top and generously sprinkle grated cheese on top, put back in the oven on grill mode for another 10 minutes or until cheese is golden brown.

image

Honestly kita makan sampai kalap karena ada teman yang dateng ikutan makan kemarin… sampai lupa foto hasil jadinya deh ha ha ha.

image

Pertama kali saya melihat magic cooker ini, dari blognya Ci Ine Elkaje beberapa tahun yang lalu. Begitu membacanya saya langsung semangat dan merasa sangat tertarik, sampai kirim linknya ke Mami segala (karena Mamiku doyan perabotan rumah tangga sih). Dari yang saya baca panci ini ‘ajaib’, karena bisa memasak tanpa api, tanpa listrik. Katanya, panci pengempuk. Cerita singkat dari blog Ci Ine, memasak rawon, bumbu ditumis hingga harum, masukkan daging, air dan didihkan, ditutup rapat dan ditunggu 4 jam, hasilnya daging empuk dan bumbunya meresap — tanpa api tanpa listrik.

Beberapa minggu lalu saya jalan-jalan ke Mangga Dua dan kebetulan melihat si panci magic cooker ini di toko perabotan. Padahal sudah lupa sebetulnya dengan panci ini, begitu melihatnya saya langsung ingat dan semangat lagi. Saya pun langsung membelinya, kapasitas 4L dengan harga 425.000 Rupiah. Dibalut-balut dengan pakaian sebelum dimasukkan ke koper.

Setelah mencari informasi online, alat ini sebetulnya masuk kategori thermal cooker. Selain si magic cooker ini masih banyak brand lainnya, walaupun mahal-mahal. Panci stainless yang di dalam termos kembang-kembangnya bisa diangkat keluar untuk memasak terlebih dahulu masakan yang akan dimasukkan ke termos. Maaf nggak ada fotonya yang terpisah, soalnya nggak ingat untuk foto di Jakarta. Kardusnya saya tinggal di sana, dan saking semangatnya belum difoto sudah dipakai masak, hahaha… Karena tadinya nggak ada niat mau menulis tentang si panci. Jadinya panci dalamnya kotor deh nggak sempat difoto dulu waktu masih kinclong.

Sekembalinya ke sini, saya memasak saus spaghetti bolognaise.

Cincangan bawang bombay, bawang putih dan oregano kering kutumis, tambahkan potongan dadu kecil wortel (biar ada sayurnya gitu), garam, lada, dan aduk-aduk daging cincang hingga berubah warna. Masukkan pasta tomat, tomat kalengan dan sedikit air. Kalau punya sisa red wine juga boleh ditambahkan. Begitu agak matang saya pindahkan dari wajan ke panci dalam stainless ini dan saya didihkan selama 10 menit, lalu dimasukkan ke dalam termos luarnya, tutup rapat. 40 menit kemudian saya buka… wowwwwwww… sausnya enak, daging cincangnya empuk menyatu dengan saus. Dan selama ditinggal itu saya bisa nyuci baju dulu dan masak pastanya. Kalau masak saus di atas wajan kan harus diaduk terus biar nggak nempel, lalu dapurnya kotor karena banyak cipratan sausnya yang merah-merah. Jadi betulan ngefans deh, dengan panci ini.

Saya juga sempat memasak sup ayam darurat pakai ini (saking malesnya ke supermarket), mendidihkan kaldu ayam sisa yang dibekukan di freezer, menambahkan potongan wortel dan dididihkan. Ayamnya saya nemu ayam beku di freezer yang saya rendam air panas (tapi nggak langsung air panas menyentuh ayamnya ya, ayam beku masih di dalam kantong, direndam air panas. kalau nggak, bagian luar si ayam bisa ikut termasak). Waktu saya cemplungkan ke dalam kaldu mendidihnya pun masih dingin-dingin sedikit beku tuh, ha ha ha… pikir ya sudahlah menghabiskan sisa makanan di freezer yang memang sudah harus dipakai. Kalau nggak matang ya dimasak lagi, atau mau nggak mau beli McDonald’s. Setelah mendidih 10 menit saya masukkan ke dalam termosnya selama 40 menit. Begitu dimakan, sudah matang tuh ayam. Padahal potongannya lumayan tebal lho ada tulangnya lagi. Makin ngefans, dengan si panci.

Katanya, makin lama ‘diperam’ dan didiamkan, sop, soto, stew, saus dan lainnya akan lebih sedappppp… masuk akal juga sih. Besok mau coba masak soto ah pakai ini. Senangnya ketemu alat masak portabel yang hemat listrik, ramah lingkungan dan nggak bikin kuatir gosong atau bikin kotor dapur dengan cipratan. Menghemat waktu juga masaknya bisa ditinggal sambil ngerjain yang lain.