Archive

Cooking

Ketika saya kecil dulu (sampai sekarang sih sebetulnya) saya sangat menggemari cerpen majalah Bobo. Ketika sudah besar sedikit, Bobo mengeluarkan buku kumpulan cerpen-cerpennya, yang saya beli dan kumpulkan… sayang sekarang hanya bersisa sedikit dan saya bawa ke sini pula, untuk dibaca ketika sedang ingin bernostalgia. Saya suka cerpen zaman tahun 1980 – 1990an karena ceritanya yang benar-benar sederhana.

Salah satu cerita cerpen yang teringat di kepala adalah yang berjudul “Bangsa Tempe” – kalau nggak salah. Jadi ceritanya sederhana sekali, satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan kedua anaknya sedang menikmati makan malam. Si sulung komplen, kok tiap hari makan tempe terus… ayah pun lalu menimpali dan bercerita (yang menambah pengetahuan saya!) tentang bangsa Indonesia yang harus bangga terhadap tempe. Bangsa Indonesia adalah Bangsa Tempe. Katanya…

Masa iya sih?

Dulu waktu kecil lha ya nggak mikir seperti itu… makan tempe sudah seperti makanan pokok, sering banget, sampai bosan.

Sekarang dong… semalam saya sebelum tidur, terbayang mau makan tempe orek pete.
Tempe adalah makanan mewah untuk kami di sini. Harganya lebih mahal dibandingkan daging… bayangkan! Untuk kalangan orang New Zealand, tempe dikenal sebagai ‘protein baru’ yang hits di kalangan orang-orang vegan dan vegetarian, dan kalangan makanan sehat. Harganya pun MAHAL. Mahal banget. Contohnya sebungkus 250 gram tempe organik di supermarket… dibanderol seharga $6.29! Kalau mau murah sedikit beli di toko Asia (yang buat orang Indonesia rumahan) itu pun masih tergolong mahal (sekitar 3 dolar-an).


Tempe di atas dari website Huckleberry (tempat jualan makanan organik di Auckland) — di beberapa supermarket juga ada. Sebungkus di atas itu, cilik, 250g harganya $6-$7 tergantung belinya di mana.

Lihat bule-bule mengolah tempe, eneg sendiri. Tempenya dibumbui terus dijadikan pengganti burger patty daging, misalnya. Atau dibumbui pakai bumbu-bumbu health food gitu (contohnya tamari) dan dimakannya dingin. Waduh menurut saya nggak karuan. Lha ya dari negara pencipta tempe… tempe yang dimakan dari kecil hangat dan enak dengan rasa sederhana.

Saking kepengennya makan tempe, saya pengen makan tempe orek pete. Bela-belain deh beli tempe mahal-mahal… yang penting puas dan bergizi juga kan! Nanti kapan-kapan kalau pulang lagi saya ingin deh, beli ragi tempe terus diselundupkan ke sini biar bisa makan tempe sepuasnya tanpa mbolongin kantongku hahaha…
Hidup bangsa tempe! Bangga lho, makanan asli khas Indonesia ini di luar negeri pamornya betul-betul bagus (sayangnya cara memasaknya ndak cocok dengan lidah kita… eh lidah saya mungkin ya).

Screen Shot 2017-08-03 at 8.34.02 PMPenampakan orek tempe a la saya… saya doyannya yang agak nyemek dan nggak terlalu manis. Di rumah, Mami dulu nggak doyan yang versi garing, jadi keikut deh anaknya ini masak tempenya nggak garing sama sekali.

Kalian doyan makan tempe diapakan?

Favorit saya tempe mendoan dan tempe goreng pakai garam 🙂

Advertisements

Setelah lama dalam waitlist kepengen banget, dan sering nonton Masterchef AU (baca: kebanyakan nonton) akhirnya saya punya juga sebuah food processor cantik! Udah kebayang di kepala chicken nugget, pastry, pasta yang gampang, pempek… anyway teman-teman saya nih baik banget, ulangtahun saya kemarin mereka ngumpulkan uang supaya saya bisa beli alat masak idaman ini, pilih sendiri. Walaupun sekarang dapurnya penuh sesak… ya iya lha itu gadget kok jadi banyak banget ya… tapi nggak apa-apa, hasilnya masuk perut ini, hahaha.

Kemarin beli ini karena suka dengan warnanya (lagi-lagi deh), tapi attachment-nya juga banyak dan dibanding yang lain, model ini lebih compact, tapi berat. Jadi nggak ringkih. Lalu asyik banget kebetulan waktu beli, diskon lumayan banyak juga. Penampakan boxnya yang besarrrr…

Ini dia penampakan dusnya ketika dibuka… warnanya katanya adalah warna cranberry. Seperti warna buah ceri terang menurut saya. Suka banget! Makasih ya teman-temanku.

Duduk manis di atas counter dapur. Di kanan itu kotak penyimpanan attachment-nya, bisa untuk macam-macam fungsi dari memotong, mengiris, bikin adonan dan sebagainya.

Percobaan pertama ngapain dong?

Buat bakso! Karena sudah lama sekali penasaran… dan sering lihat di Instagram yang tinggal di luar negeri dingin-dingin bisa ngebakso irinya diriku. Kalau beli, selain mahal juga kan banyak pengawetnya. Dan karena baksonya nggak ada yang style Indonesia, mereka kenyal sekali dan rasanya kurang enak menurut saya. Salah satu makanan kesukaan saya tuh bakso, sampai tante saya menjuluki saya anak bakso waktu kecil hahaha… di sekolahan karena makanan yang dijual harus halal, ya mie ayamnya kurang minyak nggak halalnya menurut saya kurang enak hahahaha… jadi hampir tiap hari, jam istirahat makanan saya adalah bakso.

Pulang kerja belilah sekotak daging sapi cincang segar. Seusai makan malam dan membersihkan si food processor baru, saya mencampurkan daging dengan putih telur, es batu, tepung sagu tani, baking powder, bawang putih goreng, bawang putih bubuk, bawang merah goreng, lada, garam… dan setelah diolah jadi seperti di bawah ini. Senaaaang banget!

Saya melakukan beberapa test bakso dari adonan yang sudah jadi, tambah sana sini lagi (garam, sagu, es batu) sampai menemukan tingkat rasa dan kekenyalan yang pas.

Senang banget sudah jadi baksonya! Untuk percobaan pertama okelah, rasa sudah oke banget, hanya problem di membalnya. Sudah cukup keras dan kata si suami, enak banget. Tapi saya mau membal seperti baksonya abang-abang hahaha… kata Mami harus pakai obat (semacam tepung bakso) tapi masa iya sih? Besok-besok kalau buat lagi saya ingin menambahkan tepung sagu dan es batunya. Namanya eksperimen kan. Tapi senangnya sekarang bisa stok bakso homemade di kulkas. Bentuknya nih, harus diperbaiki, karena nggak pernah mentol bakso, bulatannya masih kurang cantik.

Esok harinya di malam musim dingin yang menggigil, di rumah makan bakso pakai bihun! Rasanya puas sekali, apalagi buatan sendiri. Suami juga ngacungin jempol, katanya enak, mirip yang beli di Indonesia. Senang banget deh. Disajikan dengan cabe buatan sendiri, daun seledri, daun bawang, sayur… dan bawang goreng legendaris oleh-oleh dari Inly yang baik hati. Sumpah, bawang goreng buatan rumah Inly ini enak banget, yang doyan bawang goreng harus coba dan pesen sama Inly.

Untuk berhemat dan lebih sehat tentunya, sejak kerja kantoran saya rajin membawa bekal ke kantor. Berasa banget uang yang bisa disimpan kalau bawa makanan sendiri, secara beli makanan ya minimal $5 untuk sandwich kalau di sekitar kantor… dan emang perut gembul dasarnya mana kenyang. Kalau mau proper meal alias makanan beneran, mulai dari $10 harganya untuk seporsi.

Banyak yang nanya, saya kok rajin. Kan ribet bikin bekal — termasuk orang-orang kantor. Saya udah colong start soalnya saya demen makan dan demen masak juga. Jadi rasanya gampang dan seperti tantangan gitu untuk mengolah bekal yang nggak ribet — saya mengandalkan left over alias makanan sisa makan malam. Nah bawelnya saya iniiiiiii saya paling nggak doyan makan makanan sisa! Waduh nggak deh.

Makanya itu sebisa mungkin makanan sisa saya tata lagi, atau dicampur bahan baru, atau dimasak dengan cara berbeda. Pokoknya asal nggak kelihatan seperti makanan sisa! Kalo nggak cerewet kayak saya sih gampang, sisa apapun masukin saja ke kotak bekal… beres deh. Saya juga kadang suka begini buat makanan yang memang sudah terlihat tercampur… seperti spaghetti bolognese, nasi goreng, mie goreng…

Di atas adalah salah satu contoh bekal yang dimasak dari bahan-bahan sisa di kulkas. Roast vegetables alias sayuran dipanggang yang saya buat hari Sabtu satu tray penuh buat makan malam, sisanya bisa untuk bekal dua hari (dengan sajian protein yang berbeda). Kemarin sisa roast vege ini saya bekalkan dengan sisa domba panggang yang saya bumbui lagi dan grill lagi biar rasanya lain, dan brokoli rebus (kalo malas pakai sayuran frozen saja). Dan di kotak makan hari berikutnya ini ayam — karena saya malam itu masak mie ayam, saya sisihkan ayam mentahnya sedikit, dibumbui sedikit, dimasak terus disajikan pakai sayuran hijau sisa nemu di kulkas yang dicah sebentar. Nah sisa mie ayamnya nanti ditata untuk makan siang hari besokannya lagi. Jadi nggak bosan, makan makanan yang sama dua hari berturut-turut.

Screen Shot 2016-05-31 at 7.14.04 PM

Atau satu contoh lagi makan siang saya yang di atas ini. Waktu itu saya masak baked chicken breast yang dibumbui pake bumbu kunyit, lemon, cabe pokoknya bumbu Asia yang segar-segar. Waktu saya buat bumbunya saya pisahkan sedikit nggak semuanya untuk marinade si ayam mentah. Sisa ayam bakenya saya suwir, lalu saya campurkan ke bumbu marinade, dimasak bareng dan dicampurkan ke kwetiau. Side saladsnya dari bahan-bahan yang nemu di kulkas. Jadinya kan beda dengan makan malam yang notabene si baked chicken pakai sayuran yang ikutan di-bake juga.

Beberapa tips dari saya buat mudah membuat ‘makanan baru’ dari sisa makanan:

  • Stok frozen vegetables alias sayuran beku di kulkas untuk jadi tampilan side dish baru buat di kotak bekal.
  • Stok bumbu macam-macam di rumah. Kalau mau ‘memperbaharui’ daging/ayam/dsb tinggal dimasak ulang pakai bumbu yang berbeda.
  • Kalau bikin makanan seperti saus pasta/saus daging, sisanya dibekukan. Kalau butuh instan tinggal masak pastanya saja.
  • Membuat makanan seperti lasagna, macaroni schotel — sisanya dimasukkan tupperware terus dibekukan. Jadi deh makan siang praktis yang tinggal dipanaskan kalau butuh.
  • Kalau masak makanan tahan lama yang bukan protein (daging-dagingan) seperti sayuran panggang atau sayuran rebus… bikin yang banyak sekalian. Bisa dicampurkan dengan makanan lainnya yang dimakan hari yang berbeda — jadi deh makanan baru!
  • Kalau beli bahan makanan seperti sayuran segar, daun selada dan daun-daunan lainnya sisakan sedikit buat di kulkas untuk dicampur jadi makanan baru di kotak bekal.
  • Sering baca blog/majalah makanan/Instagram/etc tentang makanan. Kalau saya sih makin lapar, makin terinspirasi mau masak ini itu jadinya, he he he.

 

Lastly… yang doyan masak ikutan gabung yuk ke grup Facebook Eating In! ini grup FB kecil-kecilan yang saya buat (dan private sifatnya, supaya menghindari spam seperti di grup masak yang biasanya pada rame-rame) untuk saling share ide dan foto makanan.

Klik untuk link grup Facebook Eating In! di sini.

Ada tips membuat bekal lainnya? Share dong 🙂

 

 

Seusai membaca postnya Bebe minggu lalu, rasanya pingin banget makan mie ayam jamur! Pinginnya yang pakai banget dan rencananya weekend mau ke food court dekat rumah karena ada tante-tante Indonesia yang memang khusus jualan mie ayam di sana. Tak dinyana… si tante tutup! Dan permanen pula tutupnya. Rasanya mau nangis soalnya mie si tante enak bingits secara ia membuat mienya sendiri. Pokoknya mantap!

Karena nggak kesampaian, pergilah saya ke toko Asia, beli macam-macam bahan untuk membuat mie ayam jamur ala bakmi GM. Rasanya sih nggak sama persis sama GM, tapi di lidah ini rasanya enaaaaak pokoknya. Bikinnya tumisan ayamnya sengaja banyak, supaya bisa dimakan sampai puas. Hari ini sudah dua kali makan bakmi untuk makan siang dan makan sore — nanti malam juga mau makan lagi sepertinya hehehe.

Mie Ayam Jamur a la Mariska

Bahan yang dibutuhkan:

  • 2 fillet dada ayam, pisahkan kulitnya (untuk membuat minyak ayam)
  • tulang atau ceker ayam, patah-patahkan dan cuci bersih
  • 3 siung bawang putih dan 2 cm jahe, geprek (untuk kuah)
  • mie telur — bihun atau kweatiau enak juga sih kalau bosan dengan bakmi
  • 1 kaleng jamur kancing, potong-potong jadi dua
  • 4 cm jahe, kupas dan geprek
  • 5 siung bawah putih, rajang halus
  • 1/2 buah bawang bombay, rajang halus
  • bakso sapi
  • sayur sawi, atau kalau tidak ada bokchoy juga boleh, direbus
  • 2 siung bawang putih + 6 butir cabai merah, rebus dan sisihkan (untuk sambel)
  • daun bawang, rajang

Bumbu:

  • 3 sdm saus tiram
  • 2 sdm kecap manis
  • 4 sdm kecap ikan
  • 4 sdm kecap asin
  • 1 sdm kecap asin kental (dark soy sauce)
  • garam
  • lada

Cara membuat:

  1. Rebus fillet ayam dengan ceker atau tulang, garam dan jahe plus bawang putih untuk kuah. Sisihkan kuah kaldu dan potong dadu dada ayam matang.
  2. Panaskan kulit ayam dengan sedikit minyak di atas api kecil sampai keluar minyaknya untuk membuat minyak ayam. Sisihkan.
  3. Untuk membuat tumisan ayam, panaskan sedikit minyak goreng. Masukkan rajangan bawang bombay, bawang putih dan jahe hingga layu dan harum. Bumbui dengan garam.
  4. Masukkan potongan ayam, aduk rata dan tambahkan jamur. Masukkan bumbu dan aduk rata, tambahkan sedikit kaldu ayam. Kecilkan api dan masak dengan api kecil selama setengah jam. Icip-icip dan tambahkan saus-sausan dan garam/lada jika perlu.
  5. Untuk membuat sambel, tumbuk halus rebusan bawang putih dan cabai merah dengan sedikit garam dan air kaldu.
  6. Sajikan mie rebus dengan tumisan ayam dan ‘kuah’ dari tumisan ayam (kalau suka boleh tambahkan minyak wijen), sawi rebus, bakso, sambel, daun bawang dan kuah kaldu ayam.

IMG_20150327_200011372Soto males bikinan saya, males karena minim pernak-pernik. Hanya pakai ayam suwiran, soun dan telur rebus saja.

Tinggal jauh dari orangtua tentunya selain kangen dengan orangtua, kangen berat adalah sehari-hari dengan masakan si Mami (atau si Papi kalo yang para ayahnya bisa masak kalau Papi saya nggak bisa hehe, atau masakan simbak di rumah kalau ibunya jarang masak). Sebut saja masakan rumahan ya. Sebelum saya tinggal merantau, saya nggak pernah terpikirkan betapa repotnya menyiapkan makanan untuk sekeluarga. Apalagi di Indonesia, yang hidangannya penuh bumbu, rempah, masakan yang dimasak beberapa kali (contohnya ayam goreng harus diungkep dulu, atau ayam goreng bumbu dengan sayur yang ayamnya harus digoreng terpisah dulu), pernak-pernik dan sebagainya. Saya kadang suka merasa menyesal kalau ingat dulu ketika masih kecil dan belum mengerti, nggak pingin makan masakan Mami. Nggak enaklah, nggak sesuai selera, atau memilih jajan di luar. Padahal memasak buat sekeluarga selain capek juga pusing memutar otak memilih menu apalagi kalau di rumahnya ada yang bawel alias cerewet memilih-milih makanan (untungnya, saya pemakan segala).

Cerita lucu, Mami sedang pergi mengunjungi kakak saya selama dua minggu tanpa Papi. Paniklah Papi, karena Papi nggak bisa masak. Ketika kami Whatsapp-an, Papi mengeluh, “Liat mami masak gampang aja tuh, kalo papi yang masak kok nggak enak ya…” hahaha. Mami mengeluh si Papi sulit diajari, sudah terbiasa makan doang, nggak bisa masak, jadinya repot. Apalagi Papi saya doyan makanan rumahan, nggak suka beli di luar. Akhirnya selama Mami di Australia ini, Papi memasak sendiri cah sayuran sederhana… atau masakan lain yang bumbunya sudah digiling dan dikulkaskan oleh Mami. Ada juga sop ayam dan kuah yang sudah dibekukan oleh Mami — tinggal dipanaskan saja oleh Papi. Kemarin terakhir ngobrol dengan Papi, Papi masak cah buncis. Terus katanya “Iya papi pakai ebi kering enak lho ternyata kamu kalau cah buncis pakai ebi ya!” Hehehe.

Karena keluarga kami berasal dari Kalimantan Barat, makanan rumahannya khas dengan aroma bawang putih. Di rumah Mami membuat sendiri minyak bawang putih yang dikulkaskan dan siap ditaburkan di sop dan makanan berkuah (tradisi yang saya lanjutkan sampai sekarang). Dulu waktu Mami rajin masak karena yang di rumah makannya banyak, masakannya setiap hari fresh dan enak-enak. Dari kari ayam khas KalBar (ini masaknya rempong beut, sudah minta resepnya, tapi nggak dibikin-bikin), soto ayam bening, kuah rebung, ayam goreng kering dan garing dengan kucuran air jeruk limau, cah kangkung tauco, cah kangkung terasi, cah buncis dengan udang, ayam cah jamur, sup bakso ikan (dulu sering buat sendiri baksonya, rajin bener deh), sayur bening dengan bulatan daging sapi yang dibumbui, kuah ikan asam pedas, telur kukus goyang, kuah telur dadar, nasi ayam Pontianak (kalau di Jakarta mirip nasi campur… ini membuatnya harus sabar karena banyak perintilannya), tahu dan tempe goreng, dan sebagainya. Sambil mengetik ini ngiler membayangkan masakannya…

Kadang kalau bingung mau masak apa saya sering membaca website-website di bawah ini sebagai inspirasi untuk makanan rumahan nan enak:

  • Grup Natural Cooking Club di Facebook, karena pada suka posting makan siang yang sederhana… tapi enaaaaak banget apalagi untuk kami yang jauh dari rumah.
  • Dapur Elkaje https://dapurelkaje.wordpress.com/
    Suka dengan resepnya yang sederhana tapi enak, terus ada cerita di baliknya. Khas masakan rumahan a la Indonesia.
  • Just Try and Taste http://www.justtryandtaste.com/
    Blognya Mbak Endang Indriani yang tersohor. Resep disertai banyak foto yang menggugah selera, cerita di balik dan seputar resep. Gara-gara blog ini, saya ngidam kepingin berat makan ikan masak lemak, tapi itulah belum terlaksana karena malas masaknya.
  • Diah Didi’s Kitchen http://www.diahdidi.com/
  • Daily Cooking Quest http://dailycookingquest.com/

Share dong cerita apa masakan rumahan favoritmu? Dan ada nggak blog atau situs masakan rumahan yang kalian suka juga?

Bakso bule ini, alias meatballs, tidak sama dengan bakso Indonesia yang digiling halus dan teksturnya kenyal. Baksonya lebih ke arah daging sapi alias mince yang dibulatkan tapi pakai cincangan ayam, babi, kambing atau kalkun juga bisa. Beberapa resep yang saya temukan juga mencampur babi dengan sapi dan sebagainya.

Hari ini saya mau sharing saja resep bakso bule kesukaan saya, setelah bikin dengan variasi ini itu inilah versi yang paling pas untuk selera saya. Si bakso ini versatile sekali alias mudah diadaptasikan mau makan pakai apa. Sama saus tomat dan pasta, oke. Dimakan pakai roti ala Subway juga boleh. Dibentuk lagi dijadikan burger patty juga oke. Dimakan pakai salad juga enak. Biasanya saya membuat dalam jumlah besar lalu dibekukan, kalau mau pakai tinggal dikeluarkan dari freezer.

Cara memasaknya juga mudah bisa digoreng atau di-pan fry atau dioven kalau mau lebih sehat, biasanya kalau saya, dipanaskan di atas penggorengan biar sisi-sisinya brown dan crispy lalu dimasukkan ke dalam oven sampai matang.

IMG_0210

Bakso Bule, alias Beef Meatballs ala Aku
Kalau mau bikin yang banyak tinggal dibanyakin saja bahan-bahannya

  • 500 gr daging sapi
  • 1/2 cup tomato paste / pasta tomat
  • 1/2 cup daun peterseli / parsley, cincang halus
  • 1/2 bawang bombay dicincang halus
  • 1 sdm bubuk bawang putih
  • 1/2 cup keju (saya pakai shredded edam)
  • 2 sdm kecap Inggris
  • 2 sdm wholegrain mustard
  • 1 sdm paprika bubuk
  • garam dan lada secukupnya

Selamat mencoba!