Archive

Curhat

“As a child my Mum said I was very easy to feed.”
“What changed?” one of my peers sarcastically asked, trying to make a joke.

Nothing has changed. The difference is I value for what I pay for, with the money I earn with hard work, more.

I don’t consider myself as fussy. When I go to my friend’s house, my parents’ house, or wherever where I get people cooking me my meals as a favour (this includes my own husband), as their way of hospitality, as a nice thing to do, I eat what I get given on the plate. I feel thankful, I don’t kick up a fuss.

But when I pay $7 for a two minute cup noodles in the airplane and the person who makes it goes way over the water pour line and makes my food bland, I don’t like it.

When I buy a $17 plate of schnitzel for lunch and it comes smothering in sauce (despite nothing in the menu indicates so), I cringe. I would have asked for sauce on the side. What’s the best part of eating schnitzel? The crispy crumb. And nope I did not get that.

When I ask for no peanuts on my pad thai yet I get peanuts on it. With $15 a pop. Don’t I have the right to be ‘fussy’ and not liking my meal?

I can be ‘fussy’ as most of the time I cook my own meals, thank you very much. The times when I don’t pay for the meals I don’t kick up a fuss about what I like or dislike. And when I pay for those meals and get disappointed, or simply get served bad meals, or go to an Asian eatery to find an absolute bastarised version of a dish that I grew up with (sorry Indonesians and Koreans, gado-gado salad with kimchi does exist) do I then lose my right to not like it in order to conform, and be a kinder member of society rather than be labelled as ‘fussy’?

I have a right to not like tomatoes in my burger. I don’t ask you to take them off my burgers when I myself forget to ask it off.

I have a right to not like ice cream on my waffles. I paid for my waffles AND always ask nicely to have it on the side.

I have a right to not want to eat chicken thighs on my meal. Because a) I almost always cook my own chicken meals and b) when we eat out I always, always ask the cut of meat they use and/or ask for breast only.

The list goes on.

Leave me alone. I don’t ask people to pay for my food — let alone cook it for free.

“Lu mah enak, jalan-jalan terus soalnya gak ada anak…”

Begitu kata salah seorang teman saya, yang membuat saya menulis postingan ini. Kata-kata seperti ini sering muncul di kehidupan sehari-hari, “Lu mah enak…” membandingkan situasi diri sendiri dengan keadaan orang lain.

Lu mah enak, punya pekerjaan kantoran.

Lu mah enak, bisa tidur siang gak diganggu anak.

Lu mah enak, tinggal di luar negeri.

Lu mah enak, bisa masak.

Lu mah enak, gaji dollar.

Lu mah enak, ga ada anak, gak terpaksa masak.

Lu mah enak, sakit bisa istirahat, kalau gue ada anak.

Dan sebagainya.

Everyone’s life struggle is different.

Teman saya yang ibu bekerja membandingkan saya dengannya karena saya nggak punya anak. Betapa asyiknya hidup saya nggak dirongrong kesibukan mengasuh anak dan bekerja sekaligus. Sampai ke hal kecil yang misalnya saya bilang, saya habis tidur siang, selalu ditimpalinya dengan ah enaknya kalau udah punya anak nggak bisa gitu lagi lho… Tapi kalau dibalik, dirinya di Indonesia memiliki asisten rumah tangga plus pengasuh anak untuk membantunya. Saya? Memang saya nggak punya anak. Tapi saya kerja 8 jam sehari dan pulang ke rumah mengerjakan bagian pekerjaan rumah saya (biasanya memasak, cuci alat masak karena piring dan peralatan makan lainnya masuk mesin cuci piring, cuci baju, merapikan ruangan, bersihkan kamar mandi dan melipat baju yang sudah kering) sendiri. Tanpa asisten.

Lagipula memiliki anak kan pilihannya secara sadar (Contohnya orang khusus ini, mau nambah lagi! Saya dan teman saya yang lain sudah mikir, moga-moga nambah anak, komplennya nggak dobel… hahaha) dan ia sudah dikasih kesempatan dengan yang Di Atas untuk bisa memiliki dan mengasuh anaknya. Kenapa nggak disyukuri? Dia pasti memang senang dan bersyukur punya anak. Kadang suka posting bernada betapa bahagianya punya anak, pokoknya kalau belum punya nggak akan paham dsb. Tapi kalau front-nya keluhan terus (sering posting di sosmed dan komen di status orang lain yang nggak ada hubungannya dengan anak, tentang hal negatif berkaitan dengan anak), rasanya tidak mengenakkan. Saya tahu jadi seorang ibu bukanlah tugas yang mudah. Tapi itu bukan berarti setiap kesempatan dipakai untuk membandingkan susahnya atau repotnya hidup dibanding hidup orang lain. Yang belum punya anak hidupnya bukan berarti guampaaaang kan?

Enak bisa masak? Bisa lah belajar dari bawah. Lagipula bakat setiap orang berbeda. Yang gak bisa masak, pintar menjahit misalnya (yang notabene saya benar-benar nggak bisa, jahit kancing saja nyerahhhh polll).

Enak tinggal di luar negeri dan gaji dollar? Biasanya kalau saya ceritakan keseharian saya (yang apa-apa harus bisa sendiri), perjuangan saya untuk adaptasi dan sampai ke titik saya sekarang ini, sedihnya tinggal jauh dari orangtua… si orang ini pasti mikir lagi. Tapi saya yang sekarang bukan saya yang mau capek “khotbah” dengan orang-orang model gini. Cukup dijawab dengan senyum saja.

Saya nggak dibawa iri dengan kehidupan orang lain. Nggak bohong, perasaan seperti itu normal kok, asal nggak dibawa tidur aja hahaha. Saya manusia, kadang sayapun merasa oh si itu nggak usah begini ya… lalu saya mikir tapi kalau begitu (aspek hidupnya yang lain) saya juga gak mau hahaha. Saya sadar, hidup setiap orang tidak ada yang sempurna. Kita nggak tahu kesusahan apa sih yang dimiliki orang setiap individu yang berbeda. Kadang, bisa menyakitkan hati lho, untuk orang lain dengan mengatakan “Lu mah enak…” ini, dibandingkan dengan dirimu, karena nggak tahu kan dan jadi menyepelekan pergumulan dan perjuangan orang lain.

Mari deh kita belajar bersyukur aja dengan kehidupan ini, sudah susah mendingan kita saling bahu membahu, saling mendukung, daripada lomba-lomba kehidupan siapa sih yang lebih susah… ya nggak?

Salam dari Auckland, ngetiknya ketika ambil break di kantor secara sepertinya hari ini bakalan lembur lagi… sisi baiknya, besok Jumat dan bisa pulang cepat (karena harus nunggu orang betulin pipa) 😀

Saya punya teman di kantor. Cewek ini lebih muda lumayan dari saya (sekitar 6-7 tahunan) dan orangnya sih baik dan asyik diajak ngobrol, hanya saja… ada satu sifatnya yang saya nggak begitu suka.

Pernah suatu kali bakery kesukaan saya buka cabang dekat kantor, menjual donatnya yang terkenal. Ingin dong, makan donat itu. Saya cerita kepadanya yang lalu menawarkan diri untuk pergi membeli donat. Pas donatnya datang, heboh dong yang duduk di sekitaran kita nanya beli donat di mana dan sebagainya. Dibilangnya ooo itu di toko ini, tapi sama sekali nggak nyebut saya yang menginformasikan, dan dia dipuji juga lho, kamu tahu saja nih tempat makanan baru.

Semua orang yang kenal saya pasti tahu dong saya ingin sekali ke Disneyland. Saya ngomong sepintas lewat dengannya, beberapa minggu kemudian dia cerita lagi plan liburan ke London, tapi mungkin mau stop di Los Angeles (bayangkan, Auckland – London – LA!) – yang menurut saya super nggak nyambung, jauh amat ke LA, di Paris ada kan Disneyland, dekat lagi dengan London – buat ke Disneyland satu akhir pekan.

Lalu tahun lalu saya sempat mau mengecat rambut jadi warna pink ujungnya. Saya cerita dengannya sepintas lalu saja, walau beberapa kali, karena saya sedang nunggu rambutnya supaya tumbuh panjang sedikit lagi (supaya bisa gradasi). Nah suatu saat, kami sedang makan siang dengan teman-teman kerja yang lain, ada yang menanyakan kamu ngapain weekend ini? Jawabnya… “Oh saya mau ngecat rambut ujungnya jadi pink…” Kesel nggak sih!? Nafsu makan hilanglah, lalu datang weekend tersebut dia nggak jadi ngecat… entah kenapa. Saya kira sudah lewat, tapi bulan depannya dia nyebut gitu lagi. Kali ini saya bilang, “Itu kan ide saya duluan…” katanya gak papa hasilnya beda kok… dan benar hari Seninnya dia muncul dengan rambut yang ujungnya dicat pink. Saking kesal saya nggak jadi cat pink sampai sekarang hahaha… soalnya di kantor pada heboh dirinya dicat pink itu, nanti kalau saya cat juga kan saya “ikutan dia” jadinya.

Beberapa kejadian kecil lainnya terjadi, tapi sudah lama nggak begitu lagi karena si M sudah wanti-wanti ketika saya curhati, kamu jangan cerita-cerita dengannya kalau ada ide atau rencana, sebelum kamu lakukan.

Sampai hari ini.

Ceritanya, saya kan demen tuh lihat-lihat Instagramnya barang-barang handmade ya, dan saya menemukan piring bentuk kepala kucing handmade. Lucu sekali. Saya tanyakan dia mau nggak, soalnya si orang ini suka sekali dengan kucing juga. Katanya mau. Ikutan pesan, saya yang pesan dan minta dikirimkan ke kantor. Ketika sampai… saya berikan sebuah untuknya. Beberapa saat kemudian – saya berdiri agak jauh – ia berjalan ke meja teman kantor saya yang lain. Menunjukkan nih piring kucingku, lucu ya, nemu di Instagram… handmade lhooo… dan sama sekali gak sebut saya yang nemukan dan order.

Wuahhh… sebenernya sepele, hal kecil, kalo kejadian sekali-kali di kehidupan sih nggak apa-apa ya tapi ini berulang-ulang dan si pelaku orangnya sama pula…

Ini sebetulnya saya yang sensitif apa memang nyebelin ya?

Sejak maraknya kasus putusan hakim terhadap Ahok yang sekarang mendekam di penjara, status di media sosial saya pokoknya marak, dan rame banget. Dari yang mendukung si hakim (ini jarang banget sih), menyalahkan pendemo berjilid-jilid, menyesalkan minimnya intervensi presiden dan sebagainya. Salah satu status (dan juga pertanyaan yang saya terima di pesan japri) yang marak ini adalah mau pindah ke luar negeri aja, deh.

Lalu dari salah satu status yang ada di Path ini, saya membaca comment-nya yang mau keluar negeri ini, katanya pindah ke NZ gampang sepertinya. Oh ya? Saya gemes, ikutan mengkomentari statusnya, memangnya mau pindah pakai jalur bagaimana? Jawabannya, oh nggak tahu ya. Saya bales aja dengan nada sarkastik gitu, cari laki lah biar bisa pindah kalau mau gampang. Si orang ini sepertinya nggak menangkap nada sarkasme dalam komentar saya, lalu dijawabnya seperti bernada ya sudah besok cari suami bule deh. Garuk-garuk kepala… capek deh.

Inilah sifat orang-orang yang suka menggampangkan… dengar dari si ini, atau si anu, padahal kenyataannya ya nggak seperti itu.

Saya pernah ditanya teman yang mau pindah ke sini. Tapi maunya terima mudah! Langsung kerja saja gitu. Lalu kerjanya juga maunya langsung kantoran. Dia tanya pada saya, bagaimana cara mendapatkan visa kerja… lalu saya tanyakan kamu sekolah lagi mau nggak? Secara kualifikasi yang dipunyai sebelumnya kan nggak memadai untuk mendaftar visa kerja atau visa resident. Nggak mau. Buang uang katanya. Lalu saya ceritakan pengalaman saya pribadi (yang bekerja mulai dari cuci piring semasa sekolah) langsunglah ia mengurungkan niat. Ribet ya! Gitu katanya. Dikira hidup saya enak kan udah dapat laki bule – ya tapi masa datang ke negara lain tujuannya untuk jaring pasangan demi mendapatkan visa? Harus dong mau berusaha sendiri… kalau tujuannya mau jaring pasangan saja, nggak mengandalkan diri sendiri, lah kalau nggak dapat pasangannya bagaimana dong? Terus memang mau hidup menggantungkan diri dengan orang lain dan nggak mandiri ya nggak.

Pernah salah satu teman saya yang tahun pertama di sini dapat pasangan dan ia pun mengandalkan si pasangannya 100% untuk mendapatkan ijin tinggal. Konsekuensinya nggak banget, lho! Ia kurang beruntung. Hubungannya nggak berlangsung dengan baik, tapi tiap kali minta putus pacarnya ini (sekarang mantan) mengungkit-ungkit soal ijin tinggal yang ia dapatkan. Mau dilaporkan ke imigrasi lah (mau nuduh si cewek ini memanfaatkan dirinya hanya untuk dapatkan visa). Pernah juga diancam suruh bayar uang $20,000 kalau mau putus, kan sudah dapat visa darinya. Untungnya setelah 5 tahun, si cowoknya menyerah dan mau juga putus.

Ada juga yang mengucapkan “gampang” dengan enaknya dari mulut, karena gengsi. Contohnya salah satu papa temanku. Teman saya ini dulu bersekolah di Australia lalu pulang ke Indonesia karena nggak mendapatkan ijin tinggal, padahal dirinya kepengen sekali bekerja di sana. Si om ini, papasan dengan Mamiku, terus mereka ngobrol, lalu dengan enaknya ngomong seperti, “Iya Mariska mah enak di New Zealand kan GAMPANG… waktu kakaknya apply di Australia jaman dulu juga MASIH GAMPAAAAANG kan! Anak saya tuh maunya di Indonesia aja, bisa jadi boss, kalo di luar negeri kan cuma bisa jadi karyawan…” pokoknya ngomong gampangnya itu sampai ditarik-tarik kata Mami saya.

Wuah… si om ini gimana sih, saya kan temenan dengan anaknya ya saya tahu dong alasan anaknya pulang dari Indonesia karena tidak dapat visa, bukannya karena nggak mau tinggal di sana. Gengsi banget. Gampang, kata om, yang sekeluarga serba dilayani ART – memang mau kerja cuci piring di NZ? Gampang, kata si om, yang nggak tahu (atau nggak mau tahu) perjuangan kakak saya dapat permanent resident di Australia yang juga nggak gampaaaang… sulit, buktinya dari angkatan kakak saya yang bersisa di sana nggak banyak. Saya tahu persis bagaimana panjang dan ribetnya tuh mencoba mendapatkan permanent resident di Australia.

Kalian pernah nggak, ketemu orang-orang yang menggampangkan seperti ini?

Beberapa hari yang lalu, saya sedang bersantai di kasur sebelum tidur. Iseng-iseng nontonin InstaStory orang-orang (hihihi, ketahuan dong kerjaan nggak jelasku apa). Sampai ke InstaStory salah seorang teman lama… yang lagi kumpul-kumpul dan makan-makan di rumahnya. Di NZ juga nih. Lalu di video tersebut ada foto-foto mereka sedang ngumpul dan muncul di layar, ada seseorang yang lagi balik liburan kemari. Nggak mengabari saya. Padahal, bagi saya dia adalah salah satu teman dekat yang sering ngumpul sebelum dirinya pindah keluar negeri. Kalau misalnya saya pergi ke negara di mana dirinya pindah tersebut, pasti saya akan mengabari dan ajak ketemuan.

Jleb.

Perasaan aneh mengalir dalam diri saya. Kenapa? Apa saya ada salah ngomong? Lalu si otak kepala saya yang menyebalkan ini langsung deh memutar-mutar skenario. Ada apa? Oh iya si orang lain kemarin kumpul dan sebagainya juga nggak mengajak saya. Apa saya nyebelin ya? Teringatlah kasus dengan teman SMU, dulu kami main bertiga dan ujung-ujungnya saya terdorong ke samping karena mereka berdua berteman akrab, sampai sekarang, dan saya merasa dibuang.

Setelah merasa bersedih selama beberapa hari; apalagi salah satu teman saya mengatakan, kalau weekend ini nggak bisa ngumpul dengan saya karena mau ketemu dengan cewek di video itu. Makin jleb-lah rasanya — saya memutuskan untuk curhat dengan M. Dan setelah itu saya jadi agak lega.

Kenapa saya harus sedihkan dengan hal-hal kecil yang sepele. Yang remeh temeh. Mungkin dia sibuk. Yang pentingnya interaksi kami memang nggak intens kok. Dan, untuk apa saya merasa sedih diri, karena yang sayang sama saya juga banyak… hahaha. Being grateful is hard. Bagaikan gelas yang separuhnya terisi air, saya melihat kosongnya. Nggak melihat penuhnya.

Saya tidak ingat, kejutan ulangtahun kemarin yang saya terima dari teman-teman saya yang berbeda-beda grup, di kala saya sakit.
Tidak menyadari, kalau yang ngajak ketemuan tuh banyak, tapi saya-nya aja yang lagi nggak fit dan sibuk.
Terlewatkan, punya suami yang baik banget dan setiap hari bikin saya ketawa.
Kurang bersyukur tentang teman-teman di kerja yang baiknya luar biasa, walaupun di kantor suasana kadang seperti SMA saja, tapi yang peduli dengan saya sayang dengan saya.

Lupa, kalau teman dunia mayapun peduli dengan saya. Leony yang baik hati antarkan saya pulang malam-malam (walau kena road works nyebelin sampe dua kali harus mutar, hahaha). Inly yang menyempatkan diri ketemuan dan ngasih hadiah dari Indonesia pula. Stephanie yang ngirim Snapchat foto paket buatku. Syera yang saking baiknya saya dikasih resep rahasia… hihihi. Wiwien yang suka nanyain kabarku, dan saya suka balasnya lama pula! Aggy yang mau buatkan sarung Kindle pesan khusus dengan baik hatinya. Dan masih banyak lagi.

Saya ingin jadi orang yang nggak melupakan hal-hal yang baik hanya karena sedih merasa ‘dicuekin’ — padahal untuk apa merasa ‘dicuekin’ oleh seluruh dunia, padahal yang hanya nila setitik. Iya nggak? Dan alasanpun bisa saja nggak terkait dengan saya. Mungkin dia sibuk. Atau waktu di sini sempit. Atau apalah, ngapain dipikirin kan? Mendingan, gue happy aja! – slogan dari salah satu sahabat saya.

Yuk belajar untuk bersyukur (yang ternyata sulit).

Sekian curhatan ngarol ngidul saya hari ini… hehehe.

Minggu kemarin, supervisor saya tidak masuk kerja Senin dan Selasa. Katanya sih kena flu. Hari Rabu beliau muncul… dengan suara sexy (kedengeran banget lagi sakit) dan… PAKAI MASKER!

Kantor kami tuh modelnya open office, yang nggak dipisahkan ruangan antar karyawannya (kecuali big boss ya). Supervisor pun duduknya nggak jauh dari saya. Katanya, beliau ini kena virus flu berat dan… nular. Bengonglah kami, takut ketularan. Sudah tahu nular, terus masuk kerja. Atasannya supervisor saya ini agak nyebelin memang kalau ada yang izin sakit dah sayangnya supervisor saya izin sakitnya ya harus telepon si atasan ini. Masuklah dia.

Hari Jumat siang di kantor… nih kepala rasanya mumet. Capek. Pikiran mungkin memang karena semingguan memang banyak episode menyebalkan di kantor. Pulang, leha-leha karena seneng sudah weekend. Ramalan cuacanya pun positif, semingguan itu hujan terus dan dingin, Sabtu Minggu harusnya cerah.

Bangun pagi hari Sabtu… memang cuacanya cerah… tapi… saya demam astaga! Ambil termometer. 38 derajat! HUAH… ini mah pasti ketularan si Ibu Boss Supervisor! Mana datangnya berbarengan dengan batuk, hidung tersumbat dan satu badan betul-betul pegel linu… sebelnya sampe ke ubun-ubun deh.

Senin pagi keadaanku nggak membaik juga, jadi teleponlah ke supervisor… dia menyayangkan dan minta maaf dirinya sudah nularkan virus ke saya. Ke dokter siangnya dan kata si dokter… saya memang kena virus flu ganas. Jadi harus istirahat sampai tanggal 18 (hari Kamis). Ya sedih donk… masa hari ulangtahun jadinya di rumah, badan sakit-sakit?

Yang lucu si Loki, sejak sakit saya diikutin terus, sampe mandi aja ditungguin gitu, hahaha…

Tadi sore, dapat SMS dari teman kerjaku, yang bilang besok ulangtahun dirayakan di rumah saja. Bersungut-sungut deh saya… soalnya memang sama sekali belum sembuh. Ini mah bukannya libur merayakan senang, tapi pake rasa pegel linu! Hehehe… Gara-gara si Ibu Boss nih… moga-moga besok sudah mendingan sakitnya.

Cerita singkat dari hari kemarin. Ada yang add saya di Facebook, mau saya kirim pesan ternyata feature message-nya dimatikan kalau bukan temannya di FB. Saya kan pelupa, kalau ada yang mengenalkan sepintas lewat saya suka lupa… hahaha… jadinya niatan sopan saya kemudian menerima request-nya untuk berteman lalu saya mengirimkan pesan.

Yang biru adalah saya dan yang abu-abu si cewek ini (inisial A).

Waduuuuhhhh ketemu orang ajaib… saya baca jawabannya tertegun, mau ketawa terus miris juga. Dia lho yang add saya terus kok sombong dia?

Saya penasaran jadi saya korek-korek setelah di atas. Soalnya nama saya kan antik, jadi masa iya bisa salah orang. Saya tanya oh memang di PPI ada ya yang namanya Mariska juga… sampai bisa nggak sadar salah add gitu. Terus alasannya dia nggak ingat. Capek deh… niat mau sopan balasannya kayak saya yang ngejar-ngejar dia seperti artis, hihihi.

Ya sudah karena nggak jelas saya unfriend saja. Dan yang bikin miris ituu, selama percakapan berlangsung saya pakai bahasa Indonesia (diselingi beberapa kata/kalimat bhs Inggris seperti di atas, tapi banyakan Indonesianya) sementara si A ini terusssss ngejawab pake bahasa Inggris. Terus saya kepo lihat Facebooknya… oh pindah ke sininya baru bulan Februari gitu.

Mungkin, si A yang anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia ini, sekolahnya di International School terus kali ya sampai nggak bisa membalas pesan dalam bahasa Indonesia.