Archive

Green and Cruelty Free

Apa…?

Ya benar, sudah setengah tahun lamanya saya mempersulit hidup sendiri hehehe, dengan nggak mengambil wadah (terutama plastik) sekali pakai. Wadah sekali pakai ini termasuk sedotan, beli minuman di wadah plastik, makanan di wadah plastik, styrofoam dsb.

Saya pernah bercerita di postingan ini tentang upaya saya mengurangi sampah, nggak mau ambil kantong plastik, dan inilah perubahan ‘naik sederajat’ yang saya coba terapkan dalam kehidupan sehari-hari sekarang.

Soal sedotan… sebelum beli sedotan stainless steel, saya mencoba kalau beli minuman minumnya langsung dari gelas saja. Sekarang sudah beli satu pak sedotan yang bisa dipakai berulang kali, lama dan bahannya stainless pula. Praktis, tinggal dibawa ke mana-mana dan tinggal cemplung ke mesin cuci piring sesudahnya.

Screen Shot 2017-08-11 at 8.31.13 PMPenampakan sedotan saya.

Berkaitan dengan soal minuman, komitmen nggak memakai produk sekali pakai ini juga artinya saya mengurangi konsumsi minuman takeway yang dibeli seperti minumannya Starb**ks soalnya gelas dan sedotannya plastik – begitu juga dengan smoothies (sekarang bikin sendiri saja tiap mau minum), minumannya di tempat fast food (wadahnya kan kertas tapi tutupnya plastik), kopi (kecuali ketika bawa wadah untuk kopi sendiri – tapi seringnya bikin sendiri di rumah dan dimasukkan wadah untuk dibawa keluar), bubble tea is a big no no soalnya full plastik semuanya, minuman seperti jus dalam botol plastik sekali minum juga tidak. Selain lebih sehat – sekarang saya seringnya minum teh, kesukaan saya rooibos dan jadinya lebih sering minum air putih dari botol yang dibawa di dalam tas – juga menghemat uang karena nggak sering jajan minuman iseng sembarangan kan.

Kebetulan tempat kopi saya unyu hahahaha jadinya senang dibawa ke mana-mana.

Soal makanan di wadah plastik… ini agak lebih tricky karena plastik kan di mana-mana ya. Saya beli foodwrap organic yang dibuat dari bahan beeswax. Ke mana-mana bawa si foodwrap ini dalam tas, kalau beli snack misalnya pastry, dibungkus pakai ini. Bisa dicuci dengan mudah dan dipakai berulang kali, desainnya cantik, wangi madu (jadi tas wangi madu juga) dan membungkus makanan dengan efektif soalnya kalau dua permukaannya ditekan bersama, jadi agak nempel. Lebih mendingan dong dibandingkan pembungkus makanan dari kertas (sekali pakai terus dibuang jadi saya nggak ambil juga). Lalu kalau pergi makan keluar saya mencoba untuk membawa kotak makan dari rumah, jadi sisa makanannya masuk ke situ saja untuk dibawa daripada masuk Styrofoam.

Foodwrap yang ramah lingkungan.

Kalau lupa, kebetulan butuh, nggak ada dsb… bagaimana?

Di rumah saya menyediakan wadah khusus untuk plastik halus (seperti pembungkus produk supermarket misalnya, atau kantong plastik biasa) supaya kalau memang terpaksa ngambil, plastik-plastiknya bisa dikumpulkan. Kalau sudah penuh saya bawa ke supermarket karena di supermarket ada fasilitas untuk mendaur ulang plastik jenis ini. Plastik keras lainnya wajib masuk wadah daur ulang di rumah yang dikumpulkan oleh tukang sampah setiap dua minggu.

Repot nggak? Awalnya iya, sekarang kebiasaan, dan kalau lihat minuman sudah nggak kepingin lagi. Kalau lihat sampah yang sembarangan dibuang (dalam artian sekali pakai sudah dibuang) duh rasanya ngenes di dada gitu lho. Kata teman saya, nanti kalau saya pulang bisa ikutan stress… plastik di mana-mana hahaha…

Hari ini, cuaca cerah. Temperatur agak dingin tapi matahari bersinar dan nggak ada angin, jadi enak untuk jalan-jalan di sekitar kota. Sebetulnya kalau akhir pekan datang saya agak malas ke daerah CBD — Central Business District, alias central city/town di Auckland karena kantor saya letaknya di daerah sini, tapi dalam rangka ketemuan dengan teman-teman, daerah sini memang sentral (apalagi untuk saya yang nggak ada kendaraan sendiri; maksudnya kendaraannya ada SIM-nya yang nggak punya, hahaha). Berhubung cuaca bagus saya menyempatkan diri buat melewati dan mengambil foto Griffiths Gardens, community garden yang letaknya 10 menit dari gedung kantor. Saya suka sekali dengan pop up garden ini, ini yang kedua di daerah CBD. Kalau hari biasa, sepulang kantor saya sudah gelap jadi ambil fotonya nggak bagus. Kalau jam makan siang, rame jadi fotonya ya banyak orang lalu lalang ya.

Di community garden alias taman berkebun umum ini disediakan alat-alat berkebun yang bisa dipakai siapa saja. Jadi misalnya kalau ada yang hobby berkebun dan punya waktu luang di sela-sela kesibukan di daerah city, bisa membantu memelihara taman. Selain pohon dan tanaman yang ditanam, di sini mereka juga mengadakan kelas beekeeping alias memelihara lebah (dan untuk alasan keamanan tidak ada lebah yang dipelihara di tempat) dan ada greenhouse kecilnya. Di sini juga suka diadakan workshop dan kelas, semisal kelas untuk bagaimana mendaur ulang sampah menjadi pupuk kompos. Menarik, ya!

Di tengah-tengah kesibukan kota tentunya hadirnya taman membuatnya jadi lebih asri, hijau dan menarik. Sekelompok volunteer dari Auckland Council menjalankan taman dan memastikan kalau taman tetap bersih, terawat dan produknya bertumbuh kembang dengan baik.

Ini dia favorit saya tentang taman ini, yaitu Community Fridge. Lemari es ini adalah lemari es bekas yang diperbaiki dan dipasang di taman, tujuannya adalah supaya kita bisa mendonasi langsung makanan kepada orang-orang yang kurang mampu dan orang-orang homeless yang bertebaran di sekitar kota. Makanan yang disumbangkan harus dalam kondisi layak makan, dan harus diberikan label penjelasan sebelum dimasukkan ke kulkas. Siapa saja boleh menyumbangkan makanan, dan para volunteer yang baik hati rutin beberapa kali dalam sehari mengecek kondisi kulkas dan makanan di dalamnya, kalau tidak bagus dan layak makan mereka akan membuangnya.

Secara saya kerja di kantor corporate yang sering mengadakan meeting dengan makanan yang melimpah ruah… dan suka banyak sisanya. Saya suka sayang membuang-buang makanan ya, jadinya saya suka bawa pulang untuk dikasih orang-orang di rumah dan dimakan besoknya semacam brownies, scones, kue-kue dan sebagainya. Tapi hanya sebagian saja yang mampu saya makan sendiri. Sisanya… kalau nggak ada yang ambil ya dibuang. Sayang banget.

Sejak si kulkas ini ada bulan November 2016 kemarin, kalau sisa makanannya banyak saya menyempatkan untuk bawa ke kulkasnya berhubung halte bus saya nggak jauh dari sini juga. Jadi, tidak terbuang sia-sia di tong sampah.

Penampakannya si kebun dibandingkan dengan kami. Kecil ya tapi rapi dan asri.

Anya Hindmarch

Masih pada ingatkah dengan tas kanvas di atas? Tas yang sangat nge-hits di jamannya yaitu tahun 2007 (alamak hampir satu dekade yang lalu!) dan banyak sekali teman di sekitar saya yang punya. Agak ironis karena nenteng tas ini untuk gaya-gayaan sementara di tangan sebelahnya nenteng kantong plastik belanjaan yang super banyak, ha ha ha. Karena aslinya desainer Anya Hindmarch juga termasuk orang yang peduli lingkungan, jadi ia mengeluarkan tas limited edition ini untuk mengajak supaya orang-orang ikut peduli lingkungan juga, nggak mengambil kantong plastik untuk belanja dan pakai tas kanvasnya saja sebagai tas belanja.

Saya pernah membahas sedikit di postingan ini tentang mencoba untuk mengurangi pemakaian plastik. Terus kemarin, ngobrol dengan Stephanie… jadi terinspirasi menulis ini.

Memulai mengurangi kantong plastik (dan waste in general — kapan-kapan saya tulis di postingan lain) memang awalnya terasa ribet dan susah. Tapi percayalah lama-lama jadi mudah kok. Apalagi menjadi aware dengan banyaknya kantong plastik yang tidak dibawa pulang, sekarang saya kalau terpaksa ngambil satu saja rasanya berat hati sekali!

Tips-tips kecil untuk mengurangi kantong plastik dan meminimalisir adanya waste a la saya di bawah ini. Meminimalisir waste maksudnya tidak ngambil barang yang nantinya malah jadi sampah dalam kehidupan sehari-hari.

  • Saya membeli reusable kantong belanja dari supermarket mereka biasanya menyediakan, dan juga tas kanvas yang lucu-lucu modelnya. Saya menyimpan satu di laci kantor, satu di mobil, dan membawa kantong belanjanya Lululemon seperti di gambar di bawah ini. Kantongnya si Lululemon ini bisa dilipat kecil (saya gulung-gulung) untuk ditaruh di dalam tas kerja atau weekend slig bag saya. Jadi kalau ada unexpected trips ke supermarket atau beli baju dan sebagainya sebisa mungkin ada tas kain untuk mengisi belanjaan. Kalau memang dari rumah saya membawa kantong belanja jumbo atau sekalian kardus dari rumah, jadi kantong-kantong emergency-nya benar-benar hanya dipakai untuk emergency saja.
    Lulu
  • Membeli daging atau membeli makanan takeaway biasanya diberikan wadah dan tray dari styrofoam kan — saya mulai membiasakan mengurangi ini. Waktu ke supermarket membeli daging kalau bisa, membeli dari bagian butcher karena dibungkus pakai kertas dan nggak di tray styrofoam seperti kalau ambil dari bagian daging prepacked. Kalau beli takeaway, membeli di restoran yang memang tahu ngasih wadahnya bukan styrofoam… setidaknya kalau wadah plastik, saya biasanya pakai ulang sampai rusak, lalu dimasukkan ke recycle bin untuk didaur ulang.
  • Tidak membeli takeaway coffee karena walaupun bisa di-recycle… tetep saja waste. Cuma dipakai buat minum sekali, lho! Saya membeli reusable coffee cup dari JoCo dan memakai itu, atau sekalian minum di sana saja nggak dibawa pulang.
  • Kalau di supermarket membeli buah dan sayur saya nggak masukkan ke dalam kantong plastik yang disediakan buat naruh dan mengumpulkannya. Langsung saja dimasukkan ke tas sendiri tapi hati-hati awas tertimpa barang lain yang lebih berat 🙂
  • Menggunakan organic cotton untuk liner, tampon, pads, kapas pencuci make up.
  • Nggak membeli minuman seperti bubble tea, kalau tidak jelas plastiknya bisa di-recycle nggak. Kalau iya, pastikan ketika sudah meminumnya, benar-benar memasukkannya ke recycle bin bukan tong sampah biasa.
  • Menggunakan banyak lap (beli yang bahannya benar-benar menyerap air) dibandingkan dengan paper towel sekali pakai untuk di dapur.
  • Memakai kotak makan stainless steel, karena lebih awet. Saya baru saja membeli merek LunchBots… sebelumnya menggunakan rantang kecil bawa dari Indonesia, tapi kadang makan siang saya cuma muat satu rantang saja tapi lha rantangnya kan harus bawa sekalian dua tumpuk biar bisa ditutup? Belilah LunchBots ini… selain mudah dicuci (bau dan noda nggak bandel kayak di tupperware) juga lebih awet. Jadi nggak sering membeli yang baru karena yang lama, rusak.
  • Buat yang doyan belanja di pasar seperti saran Mbak Deny boleh bawa kotak tupperware sendiri dari rumah untuk mengisi daging, tahu, dan sebagainya.
  • Nggak beli sedotan plastik! Hahaha. Hanya sekali pakai dan jadi sampah.

Itu dia beberapa saran saya yang dekat dan mudah dilakukan di hidup sehari-hari.
Ada saran tambahan lagi?

 

Images from Poshmark.com

Apa sih cruelty free skincare? Di postingan ini yang saya maksud dengan cruelty free skincare adalah termasuk toiletries semacam sabun, sampo, odol dsb, lalu obat muka, krim muka dan make up yang tidak dites kepada hewan sebelum dipasarkan. Dulu karena saya awam banget nggak pernah memikirkan beginian, awal tahun lalu saya kebetulan secara tidak sengaja nonton video mereka testing skincare dan makeup ke hewan seperti kelinci dan tikus. Duh nontonnya jadi miris, video dan gambar-gambarnya nggak akan saya posting di sini. Kalau kalian penasaran boleh di-Google sendiri.

Sejak saat itu saya pelan-pelan mengganti koleksi di rumah dengan cruelty free brands. Selain research di rumah merk apa yang kira-kira bagus, kalau jalan-jalan saya sambil lihat, dan kalau ada yang menarik saya selalu Google dulu untuk memastikan mereka cruelty free tidak. Sampai saat ini merek-merek Asian cosmetics (termasuk yang terkenal seperti E*** House) sepertinya masih mengetes pada hewan karena di websitenya dan hasil research saya, beberapa orang yang email untuk bertanya pun mendapatkan jawaban yang ambigu.

Dan lagi, ada poin ini. Setiap merk alat mandi, kosmetik dan perawatan kulit yang dipasarkan di Cina, sesuai hukumnya harus melewati serangkaian tes termasuk animal testing. Jadi, kalau merk itu dijual di Cina sudah pasti melakukan tes pada hewan. Atau mereka tidak melakukan animal testing di negara lain tapi hanya di Cina — ya sama saja dong, karena pada prinsipnya berarti tetap melakukan tes pada hewan. Atau, brand tersebut tidak tes pada hewan tapi mereka berada di bawah naungan main company yang sama (yang mengetes pada hewan di brand mereka lainnya), lha ya sama saja dong keuntungannya masuk kantong perusahaan yang sama.

cruelty-free-bunny-logo-symbolImage from http://www.crueltyfreekitty.com/

Awalnya ketika saya switch ini agak ribet juga karena saya sudah terbiasa menggunakan skincare yang saya pakai selama ini. Saya terkejut betapa selama ini hampir semua produk yang saya gunakan… semuanya melakukan animal testing! Ampun deh. Tapi kebetulan pada saat yang sama saya berniat mengubah produk yang saya gunakan ke yang lebih organic dan bebas bahan kimia, untungnya rata-rata kebanyakan produk organik ini juga cruelty free. Sekalian deh, sekali tepuk, dua nyamuk!

Saya nggak akan menyebut merek yang melakukan animal testing tapi saya akan menyebut merek produk-produk yang saya pribadi gunakan, yang tidak test pada hewan. Produk ini campuran yang biasa dan yang organic juga, karena belum semua produk organik yang saya gunakan cocok dengan bagian kulit saya sih. Masih dalam tahap coba-coba sana sini, kalau habis ya baru beli lagi 🙂
Produk yang saya sebut di bawah ini setahu saya tidak melakukan tes pada hewan, tidak menjual produk di Cina dan juga tidak berada di naungan korporasi yang melakukan animal testing di produk mereka lainnya. Yang saya pernah coba dan pakai ya, jadi masih buanyaaak lagi produk-produk di luaran lainnya.

Skinfood New Zealand (jangan tertukar sama yang Korea), NYX Cosmetics, Antipodes, Sukin, Bossy Cosmetics, Bare Minerals / Bare Escentuals, Ilia Lipstick, Burt’s Bees, Anastasia Beverly Hills, Oasis Sun, Cancer Society of New Zealand, Australis, Trilogy, Urban Decay

Atau boleh juga main kemari http://www.crueltyfreekitty.com/ultimate-guide-to-cruelty-free-makeup/

Selamat membaca! Btw postingan ini nggak bermaksud untuk men-judge atau melarang pemakaian skincare karena ini balik ke pilihan masing-masing. Teman kantor saya contohnya menurutnya animal testing sih tidak apa-apa karena kalau tidak dites pada hewan mau dites di mana, manusia? Begitu menurutnya dan saya paham dengan jalan berpikirnya juga. Hanya saja saya cinta binatang sih dan orangnya cepet sedih gak jelas (re: galau, ha ha ha) kalau ingat video yang tak sengaja saya tonton waktu itu. Tujuan saya sharing ini hanya again sekedar untuk sharing semata dan meningkatkan awareness kalau ini terjadi di sekeliling kita tanpa disadari. Karena saya suka banget dengan orangutan juga saya pelan-pelan mencoba mengkonsumsi makanan yang tidak mengandung minyak kelapa sawit. Kapan-kapan saya posting selengkapnya, kalau lagi mood. 🙂

x

DSC03582.jpgPhoto credit to America Al Jazeera

Saya barusan membaca artikel ini. Boleh dibaca sendiri, tapi intinya tahun 2050 nanti sampah plastik di lautan akan menjadi lebih berat dibandingkan dengan ikan-ikan di laut! Alangkah menyeramkan, menyedihkan dan memprihatinkan.

Membaca artikel ini saya jadi ingat pengalaman kemarin selama di Indonesia. Saya sering sekali merasa gemas dengan berbagai perilaku yang berhubungan dengan kantong plastik yang nggak perlu. FYI selama di Indonesia saya tetap membawa kantong belanja sendiri yang dilipat dan dimasukkan tas. Wadah plastik yang terpaksa diambil (misalnya dari beli kue yang dimasukkan ke tempat plastik, makanan sisa yang dikasih plastik untuk bawa pulang dari restorannya dsb) saya berikan semua ke Mami untuk dikasihkan ke tukang pulung (yang bisa menjual atau mengolahnya kembali). Pakai kantong plastik nggak apa-apa, asal ya kalau perlu dan nggak over. Saya juga masih pakai kok, kalau terpaksa banget ya diambil lalu dipakai berulang-ulang.

  • Saya sedang mengantri untuk beli bubble tea dan saya perhatikan banyaaak sekali orang yang membeli segelas, tetap dimasukkan ke kantong plastik kecil seukuran gelas itu. Lebih gemes lagi ketika saya lihat orang-orangnya juga langsung minum kok??? Untuk apa sih plastik didobel dengan plastik yang nggak ada gunanya. Ketika saya post di Path ternyata teman saya sendiri juga melakukan ini katanya. kenapaaa?
  • Ketika saya menyarankan Mami untuk mengurangi ambil kantong plastik di pasar, Mami bilang repot, karena orang-orang di pasar sudah terbiasa dan langsung saja memplastikkan semuanya. Tidak mau plastik, harus buka-buka lagi dan dikembalikan ke orangnya yang biasanya juga sudah malas mengambil kembali. Kalau kita nggak mau ambil, malah diketawain orang pasar. Rugi amat nolak plastik? katanya.
  • Beli bakso contohnya, banyak orang yang minta baksonya, kuahnya, bihunnya, mienya sampai bawang pelengkapnya untuk dipisah semua. Alhasil, beli seporsi bakso, kantong plastiknya banyaaaak sekali dan semuanya dimasukkan lagi ke satu kantong plastik yang lebih besar untuk ditenteng.
  • Belanja ke supermarket dan meminta kasirnya untuk nggak pakai kantong plastik kok susah ya. Kadang sudah dibilangin tapi tangannya otomatis memasukkan ke kantong plastik, dipisah-pisah pula antara makanan dan lainnya (padahal semuanya disegel rapat dalam wadah sendiri-sendiri). Seringkali saya mengeluarkan dan mengembalikannya ke kasir, sampai orang-orang yang bareng saya suka nggak sabaran.
  • Sampah plastik bekas makanan dan air mineral yang bertebaran di mana-mana dengan sangat menyedihkan di Candi Prambanan. Bukan hanya di area candi, tapi di dalamnya juga. Kalau di Candi Borobudur ada yang mengawasi jadi nggak terlalu parah seperti di Prambanan.
  • Bapak supir mikrolet yang dengan santainya minum air mineral dan membuangnya di jalan raya. Saya berteriak kaget. Mami bilang ah… sudah biasa. Memang mereka seperti itu.

Saya senang dan bersemangat begitu membaca tentang supermarket yang mulai akan mengenakan biaya terhadap kantong plastik. Semoga bisa menjadi awal yang baik untuk mengurangi dependensi orang terhadap plastik (dependensi padahal gak perlu juga, gak terpakai. seperti contoh kantong plastik untuk minum bubble tea) dan semoga tahun 2050 yang ditakutkan nggak terjadi. Seram!

Screen Shot 2015-10-21 at 5.57.23 pm

*Fotonya adalah fotoku ceritanya lagi mejeng di laman ijo-ijo, biar mendukung postnya yang berbau go green ceritanya*

Sejak pindah dan tinggal di sini, saya merasa saya telah evolve jadi seseorang yang lebih peduli lingkungan, kelangsungan ecosystem dan sustainability. Saya sadar sebagai individu yang cuma seiprit di dunia ini saya masih harus banyak belajar, harus mengembangkan diri lebih jauh supaya lebih rela berkorban kepentingan sendiri untuk lingkungan. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa? Apalagi berita tentang pengrusakan hutan dan asap yang merajalela, bikin sedih dan prihatin.

Dulu sebelum datang ke sini saya masih tergolong kurang peduli karena pengaruh lingkungan mungkin ya. 5 tahun lalu itu kan di Asia recycling dan sebagainya belum marak, bahkan sampai sekarang, masih kantong plastik di mana-mana. Dengan kakak saya-pun dia suka naik pitam kalau keluar dengan saya yang pelupa dan lupa bawa kantong belanja tapi kekeuh menolak plastik. Ribet jadinya.

Berawal dari diskusi dengan sahabat saya T yang sangat cinta lingkungan (pokoknya berapi-api) muncullah ide untuk sekedar nulis perubahan dan upaya saya untuk kontribusi individu kecil di kehidupan sehari-hari.

  • Sebisa mungkin kalau nggak terpaksa banget menolak pemakaian kantong plastik. Beli sayur atau buah di supermarket nggak dimasukkan ke plastik individu lagi dan selalu membawa kantong belanja (atau kadang dus malah, kalau belanja banyak keperluan) ke supermarket. Tas yang dibawa sehari-hari ke kantorpun jumbo supaya kalau beli apa-apa tinggal dicemplungkan saja ke dalam tasnya dan di mobil selalu ada kantung kertas bekas, kalau-kalau kelupaan bawa kantung kecil.
  • Kalau belanja ke toko Asia sengaja bawa kontainer plastik dari rumah untuk beli tahu segar, jadi tahunya langsung cemplung ke wadah daripada masuk plastik lagi (ide ini dapat dari Deny Lestiyorini kalo nggak salah, betul gak Den ini idemu, pernah comment ini di post tentang kantong plastik?)
  • Pelan-pelan makeup, obat muka, toiletries semuanya diganti jadi yang organic dan cruelty free… setiap yang lama habis diganti dengan yang organic. Nggak pernah memakai sabun mandi cair lagi, sekarang pakai sabun batangan saja.
  • Sabun cuci tangan, deterjen pencuci pakaian dan sabun cuci piring semua menggunakan wadah inti yang kalau habis tinggal direfill.
  • Membeli mug to go jadi kalau beli kopi atau minuman di luar sebisa mungkin pakai mug sendiri, nggak pakai yang sekali pakai dibuang.
  • Membeli produk di supermarket selalu dilihat dulu bahan-bahannya. Kalau pakai palm oil alias minyak kelapa sawit, nggak beli.
  • Membeli daging, ayam dan seafood sebisa mungkin beli yang free range / organik / fished sustainably. Kalau nggak ada baru apes deh, terpaksa beli yang ada.
  • Ampas bekas kopi dari rumah kalau ada, ditaburkan sebagai pupuk di tanah.
  • Daripada beli air mineral saya beli botol air yang bukan dari plastik. Selain sehat, hemat, cantik… juga mengurangi sampah plastikan nantinya kalau botol plastiknya rusak, atau buang-buang botol air mineral.
  • Mengurangi minuman kemasan bahan plastik. Sebisa mungkin nggak minum. Ini betul-betul yang susah dulu karena saya doyan minuman kemasan sih. Selain menjaga lingkungan juga jadi hemat dan lebih sehat.
  • Membeli tempat teh dari kaleng daripada plastik. Koleksi teh daun saya lumayan banyak, pakai bahan kaleng selain lebih awet juga lebih cantik daripada yang plastik.

Segitu dulu yang teringat sekarang. Kalau ada cara yang boleh dibagi, comment dong jadi bisa contek-contekan seperti beli tahu a la Deny 😀

“NO PLASTIC BAG!”

Kata-kata yang sering saya ucapkan (sampai teriak, malah) dalam beberapa tahun terakhir ini. Saya masih ingat, kakak saya pasang muka melongo karena kaget sejak kapan adiknya jadi peduli lingkungan saat saya mengunjunginya di Australia tahun 2011, dan saya menolak kantong plastik. Nggak terasa sudah 5 tahun lamanya — sejak 2010 — saya berusaha (ya, masih berusaha!) untuk tidak menerima kantong plastik… kecuali kalau terpaksa. Entah lupa bawa kantong belanjaan sendiri, atau kantongnya memang besar bisa untuk nampung sampah daur ulang, atau juga kantong belanjaannya nggak cukup.

Awalnya sejak saya merasa kok kantong plastik banyak dan malah jadi terbuang-buang sia-sia. Lalu saya membaca dengan sungguh-sungguh bahayanya sampah plastik yang berlebihan. Di Indonesia yang masih budayanya kantong plastikan di mana-mana, untuk nggak menerimanya… haduh susah sekali. Ditolakpun sudah terlanjur diplastikin, mau nggak mau diambil. Sampai pernah saya kena tegur, “Udah lah jangan rese, buruan dong!” sebagai bentuk protes soalnya saya ribet, gak mau plastik, jadi lama deh proses beli-belinya.

Sekarang beberapa cara saya terapkan supaya lebih disiplin dalam nggak menerima kantong plastik ini. Saya berusaha selalu ingat (walau otak ini, suka lupa melulu bawaannya) untuk membawa kantong sendiri kalau mau belanja di supermarket atau Sunday market. Kalau beli baju biasanya saya menolak kantongnya kalau plastik dan bajunya dimasukkan ke dalam tas (kalau kebetulan bawa yang besar) atau ke dalam kantong belanjaan lain yang terbuat dari kertas atau karton. Kalau beli makanan takeaway, usaha dibawa di tangan saja nggak usah diplastikin. Bagusnya takeaway di sini kalo memang belinya banyak, dipak dalam kardus bekas bukan dalam kantong plastiknya. Pokoknya usaha! Walau suka kadang masih ambil juga, buat buang sampah kecil di kamar mandi dan sebagainya. Ya mengapa susah-susah gampang? Karena ya itu, suka lupa, lebih convenient kalo ambil aja gak usah pake debat, atau memang masih butuh si plastik dalam jumlah kecil. Walau memang kalau dibandingkan dengan di Indonesia atau Malaysia, nolak kantong plastik di sini sudah dianggap lumrah, nggak usah pakai terlalu ribet lagi.

Dalam rangka mau lebih konsisten dan bertanggung jawab, belilah kantong belanjaan ini. Bisa dilipat masukin tas, isinya banyak lagi. Dan yang paling penting aku sukaaaaa gambarnyaaaaaaa 🙂

Semoga bisa lebih disiplin, dalam menolak plastikan.