Archive

Haul

Setelah lama dalam waitlist kepengen banget, dan sering nonton Masterchef AU (baca: kebanyakan nonton) akhirnya saya punya juga sebuah food processor cantik! Udah kebayang di kepala chicken nugget, pastry, pasta yang gampang, pempek… anyway teman-teman saya nih baik banget, ulangtahun saya kemarin mereka ngumpulkan uang supaya saya bisa beli alat masak idaman ini, pilih sendiri. Walaupun sekarang dapurnya penuh sesak… ya iya lha itu gadget kok jadi banyak banget ya… tapi nggak apa-apa, hasilnya masuk perut ini, hahaha.

Kemarin beli ini karena suka dengan warnanya (lagi-lagi deh), tapi attachment-nya juga banyak dan dibanding yang lain, model ini lebih compact, tapi berat. Jadi nggak ringkih. Lalu asyik banget kebetulan waktu beli, diskon lumayan banyak juga. Penampakan boxnya yang besarrrr…

Ini dia penampakan dusnya ketika dibuka… warnanya katanya adalah warna cranberry. Seperti warna buah ceri terang menurut saya. Suka banget! Makasih ya teman-temanku.

Duduk manis di atas counter dapur. Di kanan itu kotak penyimpanan attachment-nya, bisa untuk macam-macam fungsi dari memotong, mengiris, bikin adonan dan sebagainya.

Percobaan pertama ngapain dong?

Buat bakso! Karena sudah lama sekali penasaran… dan sering lihat di Instagram yang tinggal di luar negeri dingin-dingin bisa ngebakso irinya diriku. Kalau beli, selain mahal juga kan banyak pengawetnya. Dan karena baksonya nggak ada yang style Indonesia, mereka kenyal sekali dan rasanya kurang enak menurut saya. Salah satu makanan kesukaan saya tuh bakso, sampai tante saya menjuluki saya anak bakso waktu kecil hahaha… di sekolahan karena makanan yang dijual harus halal, ya mie ayamnya kurang minyak nggak halalnya menurut saya kurang enak hahahaha… jadi hampir tiap hari, jam istirahat makanan saya adalah bakso.

Pulang kerja belilah sekotak daging sapi cincang segar. Seusai makan malam dan membersihkan si food processor baru, saya mencampurkan daging dengan putih telur, es batu, tepung sagu tani, baking powder, bawang putih goreng, bawang putih bubuk, bawang merah goreng, lada, garam… dan setelah diolah jadi seperti di bawah ini. Senaaaang banget!

Saya melakukan beberapa test bakso dari adonan yang sudah jadi, tambah sana sini lagi (garam, sagu, es batu) sampai menemukan tingkat rasa dan kekenyalan yang pas.

Senang banget sudah jadi baksonya! Untuk percobaan pertama okelah, rasa sudah oke banget, hanya problem di membalnya. Sudah cukup keras dan kata si suami, enak banget. Tapi saya mau membal seperti baksonya abang-abang hahaha… kata Mami harus pakai obat (semacam tepung bakso) tapi masa iya sih? Besok-besok kalau buat lagi saya ingin menambahkan tepung sagu dan es batunya. Namanya eksperimen kan. Tapi senangnya sekarang bisa stok bakso homemade di kulkas. Bentuknya nih, harus diperbaiki, karena nggak pernah mentol bakso, bulatannya masih kurang cantik.

Esok harinya di malam musim dingin yang menggigil, di rumah makan bakso pakai bihun! Rasanya puas sekali, apalagi buatan sendiri. Suami juga ngacungin jempol, katanya enak, mirip yang beli di Indonesia. Senang banget deh. Disajikan dengan cabe buatan sendiri, daun seledri, daun bawang, sayur… dan bawang goreng legendaris oleh-oleh dari Inly yang baik hati. Sumpah, bawang goreng buatan rumah Inly ini enak banget, yang doyan bawang goreng harus coba dan pesen sama Inly.

Advertisements

Kalau dipikir-pikir, saya orangnya termasuk tipe yang hobi koleksi sesuatu sejak kecil. Tapi seperti semua ada masanya gitu, nanti berubah-ubah apa yang pengen dikoleksikan. Ingatan saya pun melayang kepada koleksian yang saya ingat waktu kecil, yaitu hadiah Tazos dari snack makanan ringan (lupa dari Taro atau Chiki sih? ada yang masih ingat?) tahun 1990an. Tazos menjadi sesuatu yang cukup berharga bagiku, karena waktu kecil nggak boleh sering-sering jajan Chiki.

Waktu jaman tahun 1990an ini saya juga hobby koleksi boneka kertas (pokoknya kepunyaan saya banyak banget dulu, belinya di abang sepuh yang mangkal di depan sekolahan SD). Sempat juga koleksi kartu Titanic jaman filmnya booming dulu… inget gak, kartunya bergambar Leonardo DiCaprio sendirian yang kece, atau Leonardo bareng Kate Winslet. Di belakangnya ada lirik lagu I Heart Will Go On-nya Celine Dion. Selain ini saya juga koleksi stiker, stiker-stiker saya dulu ditaruh di buku stiker warna biru. Stiker kesayangan saya ditaruh di bagian depan dan nggak ditukarkan, yang lain sih boleh ditukar-tukar dengan stiker teman. Dan juga saya punya kotak kaleng kecil, isinya penghapus! Hahaha. Saya punya banyak sekali penghapus karakter lucu dulu, yang nggak pernah dipakai… sekali-sekali saja dikeluarkan dan dihirup aromanya karena banyak yang wangi. Sekarang nggak tahu deh, pada ke mana.

Hobby saya membaca buku dan komik dari kecil itu membuat tahun 2000an saya koleksi buku dan komik… banyak banget sampai selemari penuh. Koleksi yang paling saya sayang adalah buku-bukunya Enid Blyton yang saya punya lengkap sampai pada lusuh karena sering dibaca. Sayang tahun 2014 lalu rumah kami kena musibah rayap, ternyata si rayap makanin koleksi buku saya buanyak sekali… jadinya koleksinya sekarang hampir punah deh. Selain itu saya juga koleksi… ya saudara-saudara… barang-barang kucing! Pokoknya barang saya itu kucing semua dulu saking sukanya sama kucing tapi Mami nggak mbolehkan punya kucing di rumah. Kamar saya tema kucing dari sprei, frame foto, boneka, tempat taruh pernak-pernik, tas dan sebagainya. Masih ada tuh fotonya tapi karena alay banget ngeditnya dulu malu-maluin kalo dipajang di blog sekarang hahaha. Sekarang sebetulnya masih suka juga dengan barang-barang kucing, tapi sudah nggak seperti dulu yang pokoknya semuanya harus kucing dari kotak pensil sampai ke penggaris.

Tahun 2015 lalu, saya mulai mengkoleksi magnet kulkas dari tempat-tempat yang pernah saya kunjungi. Ada rasa sesal yang masuk di dalam hati karena dulu kan saya jalan-jalan tapi nggak pernah beli magnet ya… jadi sekarang kalau ada teman yang pergi ke tempat yang pernah saya kunjungi sebelumnya saya kadang suka titip magnet kulkas. Yang lucu, ternyata dulu saya sering belikan Mami magnet kulkas kalau jalan-jalan. Rasanya seperti nemu harta karun melihat magnet yang masih disimpan oleh Mami, yang saya tanya boleh nggak kuminta kembali hahaha.

Contohnya magnet yang berbentuk kura-kura bening adalah magnet dari jalan-jalan ke Pulau Redang di Malaysia tahun 2006 duluuu. Atau magnet di sebelahnya adalah magnet bakpao dari jalan-jalan ke Malacca, Malaysia tahun 2009. Saya dulu kuliah di Malaysia termasuk suka jalan-jalan juga, masih kurang beli magnetnya Berjaya French Village Hill, Pulau Perhentian, Pulau Langkawi, Genting Highland, Cameron Highland, kota Penang — dan gak beli magnet juga pas jalan-jalan ke Bangkok, Thailand. Terus dulu keliling Cina juga nggak beli magnet, dan yang paling nyesel akhir tahun 2015 saya ke Jogja dan gak beli magnetnya. Jadi target saya mau pergi jalan-jalan yang sering biar bisa nambah magnet (alasan aja ini) hehehe…

Selain magnet sekarang saya suka banget koleksi cincin. Karena dulu waktu remaja dan kuliah nggak pernah pake aksesori selain kalung karena rasanya cincin kok mblibet. Terus waktu jadi koki kan nggak boleh pakai cincin, lha nanti kalau cincinnya masuk ke makanan gimana dong kan yah? Tapi setelah masuk ke dunia kerja kantoran, tiap hari ini tangan dipakaikan cincin sampai 4 – 5 buah sekaligus (ada yang memang khusus untuk stacking alias ditimpa-timpa). Di atas ini sebagian dari koleksi cincin saya yang di baliknya macam-macam ceritanya.

Ada yang warisan dari Mami… ada juga hadiah macam-macam dari M, kado dari teman, terus ada juga yang mbelinya di hari yang penuh drama dan sebagainya.

Kalian koleksinya apa saja? Boleh dong sharing di sini.