Archive

Inspirative

Bulan Juni 2016 yang lalu (wow tepat setahun lho) saya sempat bercerita di blog tentang customer service berkesan yang saya terima di NZ sini. Sekedar lanjutan cerita pelayanan bagus dari toko tas tersebut, saya membeli tasnya. Beberapa bulan kemudian tassel (gantungan)nya copot dan ketika menghubungi mereka, pemilik toko (yang juga membuat tasnya dengan tangan) baik banget mengirimkan kurir untuk jemput tasnya di kantor, diperbaiki (gratis lho!) dan dikembalikan ke saya dalam waktu yang cepat. Pokoknya berkesan banget deh dan sampai sekarang saya masih rekomen orang untuk membeli tas di sana.

Kali ini saya mau berbagi cerita tentang pelayanan sangat berkesan yang saya terima di awal bulan.

Ceritanya, akhir bulan lalu saya dan suami beli breadmaker alias mesin pembuat roti. Iseng banget deh, dan seru lho memakainya. Foto-foto sudah diambil dan nanti saya mau cerita tersendiri tentang si breadmaker ini. Belinya secondhand alias bekas. Siang hari sebelum menjemput mesin, kami sudah semangat banget mau buat roti malamnya, jadi belilah tepung protein tinggi plus ragi di supermarket. Di rumah sih, ada ragi sachet, tapi sudah kadaluarsa beberapa bulan sebelumnya jadi beli saja yang baru pikir saya. Jemput mesin roti sorenya, seusai makan malam kami semangat langsung mencoba mesinnya… nunggu dengan semangat… keluarnya BAAAANTEEETT PUOLLL.

Sedih nggak sih? Sudah semangat mau makan roti, keluarnya pucat dengan berat batu bata pula. Saya kira kami pakai resep yang salah. Si M curiga mungkin raginya rusak, soalnya selain nggak ngembang tuh roti nggak ada bau khas raginya. Cek di Google katanya untuk mengecek ragi masih aktif atau tidak adalah memberi ragi air hangat dan sedikit gula. Kalau adonan raginya menggelembung, artinya tuh ragi masih bagus. Kami tes dua ragi, ragi yang baru (yang dipakai) dan yang kadaluarsa. Alangkah kekinya begitu 10 menit telah lewat, ragi kadaluarsa menggelembung hebat sementara yang beli siangnya nggak ada reaksi.

Berita baiknya kamipun coba buat lagi (kali ini dipasang timer supaya rotinya jadi waktu kami bangun esok harinya) memakai ragi kadaluarsa yang ternyata masih gagah perkasa tersebut. Jadi lho, tuh roti dan cantik pula. Berita jeleknya ya kok ragi yang baru beli siangnya malah matiiiikk… sayapun memfoto bukti ragi yang tiren itu dan mengirimkannya ke Facebook page Edmonds. Lha janjinya tuh ragi “sure to rise” kok malah mati kemaren sore?

Wah tanpa disangka, respon dari pesan Facebook itu cepat sekali. Dalam kurun beberapa jam saja saya menerima balasan panjang lebar. Bukan hanya meminta maaf, si layanan konsumen ini juga meminta nomor kode ragi untuk diselidiki mengapa kok nggak bagus, dan meminta alamat saya untuk mengirimkan voucher tanda maaf mereka katanya. Seminggu kemudian, kami dapat surat. Pas nerima suratnya saya kira surat dari rumah sakit soalnya amplopnya serius sekali. Wah mengesankan pokoknya, karena tuh surat tanda tangannya betulan pake bolpen, bukan yang di-print bareng kertasnya.

Penampakan surat dan ragi tiren tersebut.
Beda banget dengan pelayanan jelek yang saya terima dari suatu brand makanan ringan kecil di sini. Snacknya katanya produksi keluarga (usaha kecil), dan enak sih, tapi saya nemu kertas aluminium foil kecil di salah satu biskuitnya. Komplen ke Facebook, ditanggapi tapi lama dan nggak memberikan penjelasan apa-apa. Saya pun nggak membeli makanan ringan tersebut lagi.

Baru pertama kali dapat surat permintaan maaf formal, terus ada voucher buat beli dua pack raginya. Lumayanlah dapat pengganti ragi yang tiren plus satu pack lagi untuk obat bete… hahaha… ini mah alamat kita makan roti terus ya. Baru pertama kali dalam 29 tahun hidup di dunia ini saya komplen tentang suatu produk, komplen yang sangat sederhana tapi ditanggapi sebaik ini.

Terimakasih Goodman Fielder NZ, yang dengan sigap menanggapi komplen dan feedback pelanggan.

Advertisements

Kali ini saya mau berbagi sedikit tentang visa spesial yang satu ini karena banyak yang nggak tahu lho, tentang eksistensinya. Catatan ya, saya nggak punya pengalaman apply visa ini sendiri jadi ini hanya rangkuman dari research saya membaca-baca di website imigrasi New Zealand.

img_5596

Silver Fern Job Search Visa ini adalah visa yang dikeluarkan oleh pemerintah NZ untuk orang-orang yang minat untuk mencari pekerjaan di sini. Boleh bekerja apa saja, lho! Setiap tahunnya hanya 300 orang pertama yang aplikasinya diterima untuk mendapatkan visa ini, jadi harus cepet-cepetan (udah kayak beli tiket konser). Setiap tahun ada tanggal khusus di mana kalian bisa apply visa ini. Hanya sekali saja setiap tahunnya! Dan nggak dikasihtahu dari jauh-jauh hari, cuma ditulis ‘late 2017’ jadi harus rajin-rajin cek ke website imigrasi.

 

Dengan mendapatkan visa ini, bisa bekerja apapun di manapun di NZ selama 9 bulan lamanya (boleh dipakai juga buat belajar selama 3 bulan maksimal) dan bisa keluar masuk NZ (multiple entry) selama ini. Nah kalau dalam kurun waktu 9 bulan memegang visa ini kalian mendapatkan job offer dari perusahaan di sini, kalian bisa mendaftar Silver Fern Practical Experience Work visa, dan mendapatkan visa lagi dengan durasi maksimal 2 tahun… lalu bisa mendaftar visa resident setelahnya.

Kali ini yang mau saya bahas sih yang Job Search visa ya karena inilah langkah awal yang kudu ditempuh sebelum ke depan-depannya.

 

Saran-saran pendaftaran dari saya:

  • Sign up/registrasi di website Imigrasi NZ SEKARANG JUGA. Jadi kalian punya akun, dan akan dikabari lewat email tanggal pastinya dan bisa mempersiapkan diri untuk mencoba peruntungan mendaftar visa ini. Nggak buru-buru.
  • Research juga tentang job market di NZ (bisa lihat-lihat lowongan yang ada di Seek.co.nz atau Trademe.co.nz) jadi kalau beruntung dan dapat visanya, kan nggak kelabakan ya.
  • Ketika mendaftar bukalah banyak tab dengan browser yang berbeda, supaya kesempatan untuk masuk lebih besar. Ingat, saingan kalian untuk 300 visa ini dari seluruh dunia yang buesaaar ini.
  • Mempersiapkan dari jauh hari dokumen-dokumen dan syarat yang dibutuhkan.
  • Jangan lupa waktu yang kalian pakai harus waktu NZ yaa… teman saya ada yang mau daftar, dia baca jam 7 pagi. Lah jam 7 pagi NZ dong, bukan waktu Jakarta. Pas dia buka, udah habislah tuh kuota.

Kriteria penting yang dibutuhkan ketika mendaftar:

  • Usia harus 20-35 tahun.
  • Harus berada di luar NZ ketika mendaftar. Mereka mungkin akan minta bukti surat yang kalian terima beserta alamatnya untuk bukti, atau surat dari perusahaan di mana kalian bekerja.
  • Punya paspor yang masih berlaku dan pasfoto terbaru.
  • Menyiapkan diri menjawab pertanyaan kesehatan. Kalau aplikasinya diterima harus siap ikut X-Ray dan eksaminasi medis untuk imigrasi.
  • Kalau diterima harus ada SKCK dan police report dari semua negara yang pernah kalian tinggali selama 12 bulan atau lebih.
  • Harus memiliki ijazah minimal setara dengan S1 di NZ atau trade qualifications (kalau yang mau kerja pertukangan misalnya).
  • Harus punya pengalaman kerja.
  • Harus memiliki bukti tabungan setara dengan NZ$4,200 untuk bukti kalian bisa menghidupi diri kalau datang ke sini nanti.
  • Harus memiliki bukti tiket pesawat, booking-an tiket pesawat atau uang yang dibutuhkan untuk beli tiket return ke NZ.
  • Harus lancar berbahasa Inggris! Dan bisa membuktikannya dengan misalnya ijazah TOEFL atau IELTS, ijazah sekolah di negara yang berbahasa Inggris.

 

Semoga postingan singkat ini bisa membantu 🙂

Pengalaman yang sudah pernah mendaftar sendiri bisa dilihat contohnya di sini.

Untuk yang mau baca-baca, silakan ke halaman web Imigrasi New Zealand ini.

Post ini sumpah beneran ngarol ngidul aja tentang saya yang random, hahaha. Jadi ceritanya saya sudah lama banget kepengen makan mie ayam. Saking kepengennya, setiap kali saya beli ayam, kalo kulitnya nggak terpakai saya masukkan ke ziplock bag dan dibekukan, sampai tuh kantong (yang saya labeli “chicken collection”) penuh dengan kulit ayam. Kenapa? Karena lagi niat, mau dibikin minyak ayam, biar mie ayamnya endeus seperti mie abang-abang.

Di atas adalah proses pembuatan minyak ayamnya. Kulit ayam dibersihkan, dikeringkan dan dicampur dengan 1 sendok makan minyak sayur. Ya, benar, satu sendok makan saja. Lalu dipanaskan di atas api sedang dengan beberapa butir bawang putih yang digeprek. Lama-lama, minyak dari kulitnya keluar semua dan hasilnya adalah di foto atas kanan.

Yak sudah jadi mie ayamnya. Resep pernah saya share di sini ya. Aduh memang benar, mie yang pake minyak ayam tuh rasanya beda… enak banget pokoknya. Sisa kulit ayamnya dimasukkan air fryer oleh M sampai crispy terus dimakanin gitu aja seperti snack… hahaha… everyone’s happy!

Berhubung lagi iseng banget saya tambahkan pangsit di mie ayamnya. Ceritanya makan mie ayam jamur lengkap dengan bakso dan kuah pangsit. Tadinya mau buat pangsit goreng a la Bakmi G* tapi nggak jadi, malas menunggunya, si pangsit dikuahkan saja. Secara saya ini orangnya malas bikin makanan sedikit-sedikit, sisa pangsitnya buanyak banget bisa buat makanan darurat di kala cuaca dingin nih. Semuanya masuk ke freezer dibekukan untuk kalau-kalau malas masak.

Yang terakhir… adalah kejutan dari orang-orang rumah. Berhubung kemarin sewaktu ulangtahun kok sedih banget ya di kasur, kena flu berat dan gak bisa makan. Jadi kuenya menyusul! Senangnya… berkaitan dengan post kemarin tentang bersyukur, ini benar-benar moment yang membantu sekali.

Sekian post ngarol-ngidul berkaitan makanan kali ini.

Untuk berhemat dan lebih sehat tentunya, sejak kerja kantoran saya rajin membawa bekal ke kantor. Berasa banget uang yang bisa disimpan kalau bawa makanan sendiri, secara beli makanan ya minimal $5 untuk sandwich kalau di sekitar kantor… dan emang perut gembul dasarnya mana kenyang. Kalau mau proper meal alias makanan beneran, mulai dari $10 harganya untuk seporsi.

Banyak yang nanya, saya kok rajin. Kan ribet bikin bekal — termasuk orang-orang kantor. Saya udah colong start soalnya saya demen makan dan demen masak juga. Jadi rasanya gampang dan seperti tantangan gitu untuk mengolah bekal yang nggak ribet — saya mengandalkan left over alias makanan sisa makan malam. Nah bawelnya saya iniiiiiii saya paling nggak doyan makan makanan sisa! Waduh nggak deh.

Makanya itu sebisa mungkin makanan sisa saya tata lagi, atau dicampur bahan baru, atau dimasak dengan cara berbeda. Pokoknya asal nggak kelihatan seperti makanan sisa! Kalo nggak cerewet kayak saya sih gampang, sisa apapun masukin saja ke kotak bekal… beres deh. Saya juga kadang suka begini buat makanan yang memang sudah terlihat tercampur… seperti spaghetti bolognese, nasi goreng, mie goreng…

Di atas adalah salah satu contoh bekal yang dimasak dari bahan-bahan sisa di kulkas. Roast vegetables alias sayuran dipanggang yang saya buat hari Sabtu satu tray penuh buat makan malam, sisanya bisa untuk bekal dua hari (dengan sajian protein yang berbeda). Kemarin sisa roast vege ini saya bekalkan dengan sisa domba panggang yang saya bumbui lagi dan grill lagi biar rasanya lain, dan brokoli rebus (kalo malas pakai sayuran frozen saja). Dan di kotak makan hari berikutnya ini ayam — karena saya malam itu masak mie ayam, saya sisihkan ayam mentahnya sedikit, dibumbui sedikit, dimasak terus disajikan pakai sayuran hijau sisa nemu di kulkas yang dicah sebentar. Nah sisa mie ayamnya nanti ditata untuk makan siang hari besokannya lagi. Jadi nggak bosan, makan makanan yang sama dua hari berturut-turut.

Screen Shot 2016-05-31 at 7.14.04 PM

Atau satu contoh lagi makan siang saya yang di atas ini. Waktu itu saya masak baked chicken breast yang dibumbui pake bumbu kunyit, lemon, cabe pokoknya bumbu Asia yang segar-segar. Waktu saya buat bumbunya saya pisahkan sedikit nggak semuanya untuk marinade si ayam mentah. Sisa ayam bakenya saya suwir, lalu saya campurkan ke bumbu marinade, dimasak bareng dan dicampurkan ke kwetiau. Side saladsnya dari bahan-bahan yang nemu di kulkas. Jadinya kan beda dengan makan malam yang notabene si baked chicken pakai sayuran yang ikutan di-bake juga.

Beberapa tips dari saya buat mudah membuat ‘makanan baru’ dari sisa makanan:

  • Stok frozen vegetables alias sayuran beku di kulkas untuk jadi tampilan side dish baru buat di kotak bekal.
  • Stok bumbu macam-macam di rumah. Kalau mau ‘memperbaharui’ daging/ayam/dsb tinggal dimasak ulang pakai bumbu yang berbeda.
  • Kalau bikin makanan seperti saus pasta/saus daging, sisanya dibekukan. Kalau butuh instan tinggal masak pastanya saja.
  • Membuat makanan seperti lasagna, macaroni schotel — sisanya dimasukkan tupperware terus dibekukan. Jadi deh makan siang praktis yang tinggal dipanaskan kalau butuh.
  • Kalau masak makanan tahan lama yang bukan protein (daging-dagingan) seperti sayuran panggang atau sayuran rebus… bikin yang banyak sekalian. Bisa dicampurkan dengan makanan lainnya yang dimakan hari yang berbeda — jadi deh makanan baru!
  • Kalau beli bahan makanan seperti sayuran segar, daun selada dan daun-daunan lainnya sisakan sedikit buat di kulkas untuk dicampur jadi makanan baru di kotak bekal.
  • Sering baca blog/majalah makanan/Instagram/etc tentang makanan. Kalau saya sih makin lapar, makin terinspirasi mau masak ini itu jadinya, he he he.

 

Lastly… yang doyan masak ikutan gabung yuk ke grup Facebook Eating In! ini grup FB kecil-kecilan yang saya buat (dan private sifatnya, supaya menghindari spam seperti di grup masak yang biasanya pada rame-rame) untuk saling share ide dan foto makanan.

Klik untuk link grup Facebook Eating In! di sini.

Ada tips membuat bekal lainnya? Share dong 🙂

 

 

Dulu… waktu sering masak untuk diri sendiri, saya dapat ide ini untuk menghemat uang dan tentunya nggak minim asupan gizi. Saya membudayakan seekor ayam, diolah untuk protein makanan selama 5 hari. Tentunya harus pintar-pintar mengolah dengan cara yang berbeda biar nggak bosen makannya ayam lagi, ayam lagi. Catatan di sini seekor ayam ukuran standar di supermarket bisa didapatkan dengan harga 12-19 dolar tergantung lagi diskon nggak, mau ayam organik atau ayam biasa dan sebagainya. Ketika membeli ayam juga perhatikan kesegarannya, kalau di sini membeli di supermarket ayam utuh biasanya dipak per-ekor dengan tanggal kadaluarsa yang tertera di bungkusan si ayam. Saya pilih ayam yang kadaluarsanya paling lama tentunya.

Guide menyimpan ayam di bawah ini:
According to Foodsafety.gov, uncooked poultry is safe in the refrigerator for 1-2 days, and safe in the freezer for 9 months (for pieces) and up to 12 months for whole chickens or turkey. Cooked poultry is safe refrigerated for 3-4 days.

10367803_10152509580575605_1273716152285334074_n

Maafkan ilustrasi ayam di atas adalah ilustrasi belaka, hahaha. Itu foto roast chicken bikinan saya 😀
Nggak termasuk menu ngemat ya

Begitu dibawa pulang bersihkanlah si ayam dengan cara dilumuri garam lalu dicuci bersih dengan air dingin. Ayam biasanya saya potong-potong menjadi 8 bagian yaitu 2 sayap, 2 dada, 2 paha atas dan 2 paha bawah. Langsung hari itu juga dimasak untuk malam pertama, ya.

Hari pertama saya masak jenis oseng-oseng sayuran dengan satu bagian dada, yang saya olah dengan cara dipotong-potong. Makan dengan nasi dan oseng-osengnya dengan sayur yang banyak, dapat 2 meal (dinner plus bekal untuk makan siang besoknya).

Hari kedua saya bikin jenis kuah/sop dengan bagian paha atas yang dipotong-potong lagi. Paha atas ini ada tulangnya jadi untuk bikin kuah, rasanya enak karena tulang ayam ini yang bikin gurih. Saya senang sopnya diisi makaroni jadi nggak usah masak nasi lagi. Bisa untuk dua meal juga dinner dan lunch besokannya.

Hari ketiga saya memasak paha bawah, sisa dada dan wings berbarengan. Biasa saya bumbui dan dioven saja. Untuk makan malam misalnya, saya menghidangkan paha dengan salad dan roti. Untuk makan siang besoknya, suwir setengah dari dada yang dimasak dan dijadikan sandwich dengan sisa salad dan roti makan malam.

Hari keempat kita masih punya sisa setengah dada dan dua potong wings yang tentunya disimpan dengan baik di kulkas. Untuk makan malam saya bisa suwir bagian dada atau dipotong strip, dibumbui lagi dan di-pan fry untuk dihidangkan dengan oseng-oseng pasta atau pasta salad. Jangan lupa bikin banyakan si pasta ini karena…

Lunch hari kelima adalah pasta plus wings yang sudah dibumbui dari kulkas. Ta-daaaah! Hari kelima ini kan Jumat dan biasanya saya makan malamnya di luar buat refreshing.

Segitulah contohnya saya survive seminggu dengan seekor ayam… minggu besoknya puasa makan ayam deh. Hahahaha.

Pagi ini ketika bangun, saya diliputi perasaan panik. Baru ingat kalau lupa top up kartu bus… kartu bus ini ketika diisikan online, kadang saldonya nggak akan langsung muncul di kartu (maksimal 72 jam katanya). Langsunglah saya grasak grusuk cari uang tunai, ternyata nggak punya. Padahal udah nyari di semua tas yang saya punya hanya terkumpul beberapa sen saja! Sayapun nekad mengisikan kartu buru-buru, semoga masuk deh. Deg-degan menunggu bus, bener sekali begitu busnya sampai saya nggak bisa tag kartunya, huhuhu. Panik dong. Rumah jauh dari kantor dan nggak ada tempat ambil uang yang bisa dijangkau tanpa transportasi, nyetir pun nggak bisa. Dan yang terjadi setelahnya bikin saya terharu.

Bus yang saya naiki rutenya masih muter panjang dan halte saya termasuk dalam beberapa halte awal, jadi dalam bus hanya ada 3 orang. 3 orang tersebut lantas menawarkan koin-koin dan uang tunai yang mereka punya, dan dari sumbangan merekalah saya bisa berangkat ke kantor pagi ini.

Tersentuh, bersyukur dan sangat berterima kasih dengan orang-orang ramah-ramah dan baik hati di negeri ini.

Sejak tinggal di sini dan punya social group yang tetap kita lumayan rutin mengadakan potluck. Potluck itu istilahnya masing-masing yang diundang membawa makanan (lebih afdol kalo homemade) sendiri, dan abis itu ya dibagi-bagi makan bersama. Seru banget dan pastinya murah meriah karena pas dikumpulkan makanannya jadi banyak. Saya sendiri nggak begitu tahu budaya ini rame-nya di mana, kalo di Indonesia mungkin nggak terlalu ya karena yang saya perhatiin orang-orangnya lebih suka makan bersama di mall — saya inget jaman mami masih aktif arisan dulu juga para tante-tante datang ke rumah bawa makanan, tapi arisan jaman sekarang kayaknya lebih gaul dalam artian ngumpul2 cantik di resto ketimbang potluck-an di rumah.

Apalagi kalo yang datang beragam latar belakangnya, makanan yang disajikan pun lebih unik dan beraneka macam. Sebagai penggemar berat potluck menurut saya acara model begini banyak keuntungannya lho. Selain mempererat persahabatan/silaturahmi, menghemat biaya (lha iya makan di rumah dibanding makan di luar gitu), suasana lebih hangat (nggak rame seperti kalau keluar kadang2 berisik dan musik yang terlalu keras, teman yang duduknya jauh di ujung meja sana dan sebagainya) dan bisa mencicipi makanan yang lain daripada yang biasa kita pesan atau masak sendiri. Seru banget kalau teman-temannya bawa masakan asal daerah atau negara mereka masing-masing, jadi ajang mencicipi deh.

Ini dia makanan potluck kali ini. Green beans and tahini salad, chicken satay with peanut sauce and simple acar, green salad, vegetarian rice rolls with peanut sauce, nasi uduk, tempe mendoan dan rendang Padang — semuanya homemade. Saya lupa foto dessertnya; lemon cream with raspberry topping karena saking enaknya tiba-tiba udah habis aja. Senang rasanya bisa memperkenalkan rendang Indonesia ke teman-teman saya karena rendang yang populer di sini adalah versi Malaysia (lebih berkuah dan tidak sekering versi Indonesia) dan tempe mendoan! Kebanyakan mereka belum pernah lihat atau makan tempe, malah nggak tahu kalau ada produk makanan kedelai selain tahu dan mereka semua suka sama tempe ini. Jadi semangat next time untuk buat tempe dan tahu bacem! Effort membuat rendang ini juga percobaan pertama bikin betul-betul dari scratch, nggak tahunya enak banget dan mudah membuatnya asal sabar dan punya waktu lebih untuk memasaknya agak lama.

Happy potluck!