Archive

Kitchen

Begitu kira-kira pertanyaan Mami kepada saya.

Saya bukan tipe istri seperti Mami dulu, yang rajin masak beberapa lauk sekaligus (ada yang kuah, goreng dan tumis) untuk makan di meja makan. Karena pulang kerja sudah petang, saya maunya makan yang cepat saja. Tapi harus bergizi, penuh nutrisi… dan pastinya harus enak! Dan saya termasuk orang yang rewel soal penampilan makanan. Kalau kelihatannya asal tubruk, saya nggak bakalan makan dengan nikmat hahaha… makanya dari kecil kalau makan Mami nggak pernah menyendokkan makanan ke piring anaknya yang satu ini saking si anak bawel kalau makananannya disendokkan dengan ngasal. Urus sendiri deh! Beda dengan kakak saya yang demen kalau piringnya udah tinggal makan saja pokoknya.

Karena sedang musim dingin, harga sayuran pun tinggi; mau masak oseng oseng tumisan a la Asia, deuh sayurnya agak mahal dan sedikit. Tunggu deh nanti musim semi kalau mau makan gitu-gitu dengan ekonomis. Saya memang sedang berusaha dan mencoba untuk makan lebih seasonally, belanjaan sayur tergantung yang di musimnya supaya bisa mengirit (dan tentunya jatah tuh sayur yang lebih besar, makanannya bisa banyak untuk makan malam plus makan siang sekaligus).

Jadi kayak apa sih menunya kita sehari-hari bulan terakhir ini?

Sirloin steak, mashed potato (kentang tumbuk) dan tumisan kale plus wortel. Karena dagingnya dibeli dengan harga spesial hari itu sepiring ini kira-kira NZ$7 🙂 buat saya hap hap hap sekali makan aja, nggak ada sisanya! Kalau teman serumah makan, dagingnya disisakan lalu dicampur ke saladnya untuk makan siang esok.

Pie ayam dan sayuran (chicken and leek pie — resep sudah diposting di sini), menu ini juga menghangatkan badan secara minggu terakhir cuaca di Auckland amburadul (dingin banget, angin kayak es lalu saya tengah malam bangun karena hujan es nabrak-nabrak kaca kamar tidur tuh esnya). Terus ekonomis juga karena dengan harga bahan sekian si pie sangat mengenyangkan, sisanya untuk makan siang dan ada dua potong sisa yang saya masukkan freezer kalau kami butuh bekal makan siang darurat di masa depan.

Di atas ini ceritanya bekal makan siang saya dan M untuk dibawa ke kantor. Saya beli daging sapi cincang yang lagi diskon, dibagi dua. Setengahnya dijadikan patty/bola daging dan disajikan dengan telur rebus dan sisa sayur-sayuran dari beberapa makan malam sebelumnya. Jadi deh makanan baru. Lalu setengahnya lagi saya masak dengan pasta dan sayuran. Lumayan banget lho, bawa bekal seperti ini karena beli makanan di luar untuk makan siang kira-kira pukul rata bisa habis $10 atau lebih sekali beli (soalnya kalau mau murah, beli sandwich mana kenyaaang apalagi dingin begini). Berdua jadi $20an deh… bandingkan dengan si daging cincang yang harganya hanya $4.50, jadi 4 porsi makan siang 🙂

Bola-bola ayam dan wortel yang saya buat menggunakan food processor. Enak, murah, hasilnya banyak… dibawa ke rumah teman untuk potluck, sisanya saya sisihkan dan sajikan dengan nasi dan sayuran untuk bekal makan siang.

Minestrone soup, isinya sisa-sisa sayuran (lagi!) yang belum dimasak di kulkas, kelihatannya menyedihkan jadi campur aja deh dengan bacon, tomat dan pasta. Resepnya ada di sini dan si sup ini menghangatkan banget, lho! Selain ekonomis, enak dan mengenyangkan si sup juga oke dimasukkan ke freezer untuk dibekukan… kalau sakit dan malas masak (atau memang alasan aja lagi malas masak) bisa dipanaskan dengan cepat.

Bakso buatan sendiri… makannya pakai mangkok ayam. Suedaaaaaap…! Bakso saya buat 1 kg sampai pegel tuh tangan mentol baksonya sendirian, lalu saya bekukan dan pisahkan beberapa porsi kuah untuk dibekukan. Mau makan tinggal dipanaskan saja. Praktis, enak di kala dingin dan mengobati kangen Indonesia pastinya.

Laksa buatan sendiri. Ini juga enaaaak… pas membuatnya saya sempat was was takut nggak jadi, maklum belum pernah membuat laksa dari nol sebelumnya. Ternyata hasilnya enaaaaaaak dan menghangatkan (plus bikin nangis karena saya pakai sambel banyak). Sisa kuah lagi-lagi saya bekukan hahaha, kalau mau makan lagi tinggal hangatkan kuahnya saja dan hadirkan pernak-pernik segar (ayam, sayuran, telur rebus dan bihun).

img_6982

Di atas ini lagi-lagi saya mengkaryakan sisa makanan… hahaha. Saya dan M makan keluar dan porsi dagingnya banyak banget jadi kami gak bisa habiskan. Saya bungkus, bawa pulang dan hadirkan kembali dengan penampilan berbeda. Sisa daging saya potong-potong dan tumis bersama bumbu dan sayuran yang nemu di kulkas, sajikan dengan nasi putih. Enak dan ekonomis!

Sekian postingan iseng-iseng saya kali ini, semoga pada gak bosen lihat foto makanan ya 🙂

Setelah lama dalam waitlist kepengen banget, dan sering nonton Masterchef AU (baca: kebanyakan nonton) akhirnya saya punya juga sebuah food processor cantik! Udah kebayang di kepala chicken nugget, pastry, pasta yang gampang, pempek… anyway teman-teman saya nih baik banget, ulangtahun saya kemarin mereka ngumpulkan uang supaya saya bisa beli alat masak idaman ini, pilih sendiri. Walaupun sekarang dapurnya penuh sesak… ya iya lha itu gadget kok jadi banyak banget ya… tapi nggak apa-apa, hasilnya masuk perut ini, hahaha.

Kemarin beli ini karena suka dengan warnanya (lagi-lagi deh), tapi attachment-nya juga banyak dan dibanding yang lain, model ini lebih compact, tapi berat. Jadi nggak ringkih. Lalu asyik banget kebetulan waktu beli, diskon lumayan banyak juga. Penampakan boxnya yang besarrrr…

Ini dia penampakan dusnya ketika dibuka… warnanya katanya adalah warna cranberry. Seperti warna buah ceri terang menurut saya. Suka banget! Makasih ya teman-temanku.

Duduk manis di atas counter dapur. Di kanan itu kotak penyimpanan attachment-nya, bisa untuk macam-macam fungsi dari memotong, mengiris, bikin adonan dan sebagainya.

Percobaan pertama ngapain dong?

Buat bakso! Karena sudah lama sekali penasaran… dan sering lihat di Instagram yang tinggal di luar negeri dingin-dingin bisa ngebakso irinya diriku. Kalau beli, selain mahal juga kan banyak pengawetnya. Dan karena baksonya nggak ada yang style Indonesia, mereka kenyal sekali dan rasanya kurang enak menurut saya. Salah satu makanan kesukaan saya tuh bakso, sampai tante saya menjuluki saya anak bakso waktu kecil hahaha… di sekolahan karena makanan yang dijual harus halal, ya mie ayamnya kurang minyak nggak halalnya menurut saya kurang enak hahahaha… jadi hampir tiap hari, jam istirahat makanan saya adalah bakso.

Pulang kerja belilah sekotak daging sapi cincang segar. Seusai makan malam dan membersihkan si food processor baru, saya mencampurkan daging dengan putih telur, es batu, tepung sagu tani, baking powder, bawang putih goreng, bawang putih bubuk, bawang merah goreng, lada, garam… dan setelah diolah jadi seperti di bawah ini. Senaaaang banget!

Saya melakukan beberapa test bakso dari adonan yang sudah jadi, tambah sana sini lagi (garam, sagu, es batu) sampai menemukan tingkat rasa dan kekenyalan yang pas.

Senang banget sudah jadi baksonya! Untuk percobaan pertama okelah, rasa sudah oke banget, hanya problem di membalnya. Sudah cukup keras dan kata si suami, enak banget. Tapi saya mau membal seperti baksonya abang-abang hahaha… kata Mami harus pakai obat (semacam tepung bakso) tapi masa iya sih? Besok-besok kalau buat lagi saya ingin menambahkan tepung sagu dan es batunya. Namanya eksperimen kan. Tapi senangnya sekarang bisa stok bakso homemade di kulkas. Bentuknya nih, harus diperbaiki, karena nggak pernah mentol bakso, bulatannya masih kurang cantik.

Esok harinya di malam musim dingin yang menggigil, di rumah makan bakso pakai bihun! Rasanya puas sekali, apalagi buatan sendiri. Suami juga ngacungin jempol, katanya enak, mirip yang beli di Indonesia. Senang banget deh. Disajikan dengan cabe buatan sendiri, daun seledri, daun bawang, sayur… dan bawang goreng legendaris oleh-oleh dari Inly yang baik hati. Sumpah, bawang goreng buatan rumah Inly ini enak banget, yang doyan bawang goreng harus coba dan pesen sama Inly.

Senangnya hatiku, beberapa hari yang lalu ketika saya pulang sampai rumah malem banget (karena habis kopdaran seruuu setelah selesai kerja bareng Inly dan Leony nih!), begitu sampai rumah ada kardus gede. Kirain kardus apa… begitu dibuka ternyata isinya salah satu alat dapur yang sudah selama ini dilirik tapi nggak pernah dibeli! Air fryer alias alat menggoreng dengan udara 😀

Surprise ini adalah hasil kerjaannya sahabat-sahabat dekat saya di Indonesia yang berkonsultasi dengan M. Pokoknya senang bukan kepalang, deh. Apalagi nggak terduga-duga kan. Langsunglah besoknya untuk menyiapkan makan malam, kami mencoba menggunakan si air fryer ini.

Penampakannya air fryer. Sebagai kilas sedikit, air fryer yang terkenal (dan muahal…) tuh merek Ph***ps. Konon air fryer ini bisa menggoreng makanan menjadi crispy, renyah tanpa menggunakan minyak atau hanya menggunakan sedikit minyak saja. Jadi hasilnya akan mirip atau hampir sama dengan yang digoreng dalam minyak banyak. Tentu saja karena nggak menggunakan minyak segentong untuk menggoreng makanannya, hasilnya akan lebih sehat untuk tubuh. Salah satu kekurangan air fryer ini tapi, nggak bisa menggoreng dengan adonan/batter basah… contohnya pisang goreng atau tahu goreng isi gitu. Tetap harus menggunakan metode direndam di minyak panas.

Untuk eksperimen pertama kami memutuskan untuk membuat kumara chips. Apakah itu kumara chips? Alias sweet potato chips… Kalo di Indonesia bisa kita artikan sebagai ubi goreng! Hehehe.

Kumara itu jenis ubi manis khas New Zealand. Saya cuci dan potong-potong sesuai ukuran (dimiripkan dengan ukuran kentang goreng), campur dengan sedikit saja olive oil dan garam.

Nyalakan mesinnya, masukkan ke keranjang yang sudah disediakan. Deg-degan. Sekaligus semangat banget. Menunggu 25 menit dan hasilnya…

Wowwww garing, renyah dan enaaaaak sekali… rasanya persis dengan yang beli di restoran cepat saji. Padahal nggak pakai direndam minyak panas.

Disajikan dengan daging tidak halal 🙂 dan tumis kale bawang putih. Cepat, mudah dan enak plus mengenyangkan pula.

Oh iya setelah ini M iseng nyoba-nyoba masak chicken nugget frozen dari freezer, kali ini nggak dipakaikan minyak. Langsung dimasukkan ke keranjang. Hasilnya? Mantap! Semangat banget untuk mencoba masak lain-lainnya pakai air fryer ini.

Untuk berhemat dan lebih sehat tentunya, sejak kerja kantoran saya rajin membawa bekal ke kantor. Berasa banget uang yang bisa disimpan kalau bawa makanan sendiri, secara beli makanan ya minimal $5 untuk sandwich kalau di sekitar kantor… dan emang perut gembul dasarnya mana kenyang. Kalau mau proper meal alias makanan beneran, mulai dari $10 harganya untuk seporsi.

Banyak yang nanya, saya kok rajin. Kan ribet bikin bekal — termasuk orang-orang kantor. Saya udah colong start soalnya saya demen makan dan demen masak juga. Jadi rasanya gampang dan seperti tantangan gitu untuk mengolah bekal yang nggak ribet — saya mengandalkan left over alias makanan sisa makan malam. Nah bawelnya saya iniiiiiii saya paling nggak doyan makan makanan sisa! Waduh nggak deh.

Makanya itu sebisa mungkin makanan sisa saya tata lagi, atau dicampur bahan baru, atau dimasak dengan cara berbeda. Pokoknya asal nggak kelihatan seperti makanan sisa! Kalo nggak cerewet kayak saya sih gampang, sisa apapun masukin saja ke kotak bekal… beres deh. Saya juga kadang suka begini buat makanan yang memang sudah terlihat tercampur… seperti spaghetti bolognese, nasi goreng, mie goreng…

Di atas adalah salah satu contoh bekal yang dimasak dari bahan-bahan sisa di kulkas. Roast vegetables alias sayuran dipanggang yang saya buat hari Sabtu satu tray penuh buat makan malam, sisanya bisa untuk bekal dua hari (dengan sajian protein yang berbeda). Kemarin sisa roast vege ini saya bekalkan dengan sisa domba panggang yang saya bumbui lagi dan grill lagi biar rasanya lain, dan brokoli rebus (kalo malas pakai sayuran frozen saja). Dan di kotak makan hari berikutnya ini ayam — karena saya malam itu masak mie ayam, saya sisihkan ayam mentahnya sedikit, dibumbui sedikit, dimasak terus disajikan pakai sayuran hijau sisa nemu di kulkas yang dicah sebentar. Nah sisa mie ayamnya nanti ditata untuk makan siang hari besokannya lagi. Jadi nggak bosan, makan makanan yang sama dua hari berturut-turut.

Screen Shot 2016-05-31 at 7.14.04 PM

Atau satu contoh lagi makan siang saya yang di atas ini. Waktu itu saya masak baked chicken breast yang dibumbui pake bumbu kunyit, lemon, cabe pokoknya bumbu Asia yang segar-segar. Waktu saya buat bumbunya saya pisahkan sedikit nggak semuanya untuk marinade si ayam mentah. Sisa ayam bakenya saya suwir, lalu saya campurkan ke bumbu marinade, dimasak bareng dan dicampurkan ke kwetiau. Side saladsnya dari bahan-bahan yang nemu di kulkas. Jadinya kan beda dengan makan malam yang notabene si baked chicken pakai sayuran yang ikutan di-bake juga.

Beberapa tips dari saya buat mudah membuat ‘makanan baru’ dari sisa makanan:

  • Stok frozen vegetables alias sayuran beku di kulkas untuk jadi tampilan side dish baru buat di kotak bekal.
  • Stok bumbu macam-macam di rumah. Kalau mau ‘memperbaharui’ daging/ayam/dsb tinggal dimasak ulang pakai bumbu yang berbeda.
  • Kalau bikin makanan seperti saus pasta/saus daging, sisanya dibekukan. Kalau butuh instan tinggal masak pastanya saja.
  • Membuat makanan seperti lasagna, macaroni schotel — sisanya dimasukkan tupperware terus dibekukan. Jadi deh makan siang praktis yang tinggal dipanaskan kalau butuh.
  • Kalau masak makanan tahan lama yang bukan protein (daging-dagingan) seperti sayuran panggang atau sayuran rebus… bikin yang banyak sekalian. Bisa dicampurkan dengan makanan lainnya yang dimakan hari yang berbeda — jadi deh makanan baru!
  • Kalau beli bahan makanan seperti sayuran segar, daun selada dan daun-daunan lainnya sisakan sedikit buat di kulkas untuk dicampur jadi makanan baru di kotak bekal.
  • Sering baca blog/majalah makanan/Instagram/etc tentang makanan. Kalau saya sih makin lapar, makin terinspirasi mau masak ini itu jadinya, he he he.

 

Lastly… yang doyan masak ikutan gabung yuk ke grup Facebook Eating In! ini grup FB kecil-kecilan yang saya buat (dan private sifatnya, supaya menghindari spam seperti di grup masak yang biasanya pada rame-rame) untuk saling share ide dan foto makanan.

Klik untuk link grup Facebook Eating In! di sini.

Ada tips membuat bekal lainnya? Share dong 🙂

 

 

Seusai membaca postnya Bebe minggu lalu, rasanya pingin banget makan mie ayam jamur! Pinginnya yang pakai banget dan rencananya weekend mau ke food court dekat rumah karena ada tante-tante Indonesia yang memang khusus jualan mie ayam di sana. Tak dinyana… si tante tutup! Dan permanen pula tutupnya. Rasanya mau nangis soalnya mie si tante enak bingits secara ia membuat mienya sendiri. Pokoknya mantap!

Karena nggak kesampaian, pergilah saya ke toko Asia, beli macam-macam bahan untuk membuat mie ayam jamur ala bakmi GM. Rasanya sih nggak sama persis sama GM, tapi di lidah ini rasanya enaaaaak pokoknya. Bikinnya tumisan ayamnya sengaja banyak, supaya bisa dimakan sampai puas. Hari ini sudah dua kali makan bakmi untuk makan siang dan makan sore — nanti malam juga mau makan lagi sepertinya hehehe.

Mie Ayam Jamur a la Mariska

Bahan yang dibutuhkan:

  • 2 fillet dada ayam, pisahkan kulitnya (untuk membuat minyak ayam)
  • tulang atau ceker ayam, patah-patahkan dan cuci bersih
  • 3 siung bawang putih dan 2 cm jahe, geprek (untuk kuah)
  • mie telur — bihun atau kweatiau enak juga sih kalau bosan dengan bakmi
  • 1 kaleng jamur kancing, potong-potong jadi dua
  • 4 cm jahe, kupas dan geprek
  • 5 siung bawah putih, rajang halus
  • 1/2 buah bawang bombay, rajang halus
  • bakso sapi
  • sayur sawi, atau kalau tidak ada bokchoy juga boleh, direbus
  • 2 siung bawang putih + 6 butir cabai merah, rebus dan sisihkan (untuk sambel)
  • daun bawang, rajang

Bumbu:

  • 3 sdm saus tiram
  • 2 sdm kecap manis
  • 4 sdm kecap ikan
  • 4 sdm kecap asin
  • 1 sdm kecap asin kental (dark soy sauce)
  • garam
  • lada

Cara membuat:

  1. Rebus fillet ayam dengan ceker atau tulang, garam dan jahe plus bawang putih untuk kuah. Sisihkan kuah kaldu dan potong dadu dada ayam matang.
  2. Panaskan kulit ayam dengan sedikit minyak di atas api kecil sampai keluar minyaknya untuk membuat minyak ayam. Sisihkan.
  3. Untuk membuat tumisan ayam, panaskan sedikit minyak goreng. Masukkan rajangan bawang bombay, bawang putih dan jahe hingga layu dan harum. Bumbui dengan garam.
  4. Masukkan potongan ayam, aduk rata dan tambahkan jamur. Masukkan bumbu dan aduk rata, tambahkan sedikit kaldu ayam. Kecilkan api dan masak dengan api kecil selama setengah jam. Icip-icip dan tambahkan saus-sausan dan garam/lada jika perlu.
  5. Untuk membuat sambel, tumbuk halus rebusan bawang putih dan cabai merah dengan sedikit garam dan air kaldu.
  6. Sajikan mie rebus dengan tumisan ayam dan ‘kuah’ dari tumisan ayam (kalau suka boleh tambahkan minyak wijen), sawi rebus, bakso, sambel, daun bawang dan kuah kaldu ayam.

Bakso bule ini, alias meatballs, tidak sama dengan bakso Indonesia yang digiling halus dan teksturnya kenyal. Baksonya lebih ke arah daging sapi alias mince yang dibulatkan tapi pakai cincangan ayam, babi, kambing atau kalkun juga bisa. Beberapa resep yang saya temukan juga mencampur babi dengan sapi dan sebagainya.

Hari ini saya mau sharing saja resep bakso bule kesukaan saya, setelah bikin dengan variasi ini itu inilah versi yang paling pas untuk selera saya. Si bakso ini versatile sekali alias mudah diadaptasikan mau makan pakai apa. Sama saus tomat dan pasta, oke. Dimakan pakai roti ala Subway juga boleh. Dibentuk lagi dijadikan burger patty juga oke. Dimakan pakai salad juga enak. Biasanya saya membuat dalam jumlah besar lalu dibekukan, kalau mau pakai tinggal dikeluarkan dari freezer.

Cara memasaknya juga mudah bisa digoreng atau di-pan fry atau dioven kalau mau lebih sehat, biasanya kalau saya, dipanaskan di atas penggorengan biar sisi-sisinya brown dan crispy lalu dimasukkan ke dalam oven sampai matang.

IMG_0210

Bakso Bule, alias Beef Meatballs ala Aku
Kalau mau bikin yang banyak tinggal dibanyakin saja bahan-bahannya

  • 500 gr daging sapi
  • 1/2 cup tomato paste / pasta tomat
  • 1/2 cup daun peterseli / parsley, cincang halus
  • 1/2 bawang bombay dicincang halus
  • 1 sdm bubuk bawang putih
  • 1/2 cup keju (saya pakai shredded edam)
  • 2 sdm kecap Inggris
  • 2 sdm wholegrain mustard
  • 1 sdm paprika bubuk
  • garam dan lada secukupnya

Selamat mencoba!

Dulu… waktu sering masak untuk diri sendiri, saya dapat ide ini untuk menghemat uang dan tentunya nggak minim asupan gizi. Saya membudayakan seekor ayam, diolah untuk protein makanan selama 5 hari. Tentunya harus pintar-pintar mengolah dengan cara yang berbeda biar nggak bosen makannya ayam lagi, ayam lagi. Catatan di sini seekor ayam ukuran standar di supermarket bisa didapatkan dengan harga 12-19 dolar tergantung lagi diskon nggak, mau ayam organik atau ayam biasa dan sebagainya. Ketika membeli ayam juga perhatikan kesegarannya, kalau di sini membeli di supermarket ayam utuh biasanya dipak per-ekor dengan tanggal kadaluarsa yang tertera di bungkusan si ayam. Saya pilih ayam yang kadaluarsanya paling lama tentunya.

Guide menyimpan ayam di bawah ini:
According to Foodsafety.gov, uncooked poultry is safe in the refrigerator for 1-2 days, and safe in the freezer for 9 months (for pieces) and up to 12 months for whole chickens or turkey. Cooked poultry is safe refrigerated for 3-4 days.

10367803_10152509580575605_1273716152285334074_n

Maafkan ilustrasi ayam di atas adalah ilustrasi belaka, hahaha. Itu foto roast chicken bikinan saya 😀
Nggak termasuk menu ngemat ya

Begitu dibawa pulang bersihkanlah si ayam dengan cara dilumuri garam lalu dicuci bersih dengan air dingin. Ayam biasanya saya potong-potong menjadi 8 bagian yaitu 2 sayap, 2 dada, 2 paha atas dan 2 paha bawah. Langsung hari itu juga dimasak untuk malam pertama, ya.

Hari pertama saya masak jenis oseng-oseng sayuran dengan satu bagian dada, yang saya olah dengan cara dipotong-potong. Makan dengan nasi dan oseng-osengnya dengan sayur yang banyak, dapat 2 meal (dinner plus bekal untuk makan siang besoknya).

Hari kedua saya bikin jenis kuah/sop dengan bagian paha atas yang dipotong-potong lagi. Paha atas ini ada tulangnya jadi untuk bikin kuah, rasanya enak karena tulang ayam ini yang bikin gurih. Saya senang sopnya diisi makaroni jadi nggak usah masak nasi lagi. Bisa untuk dua meal juga dinner dan lunch besokannya.

Hari ketiga saya memasak paha bawah, sisa dada dan wings berbarengan. Biasa saya bumbui dan dioven saja. Untuk makan malam misalnya, saya menghidangkan paha dengan salad dan roti. Untuk makan siang besoknya, suwir setengah dari dada yang dimasak dan dijadikan sandwich dengan sisa salad dan roti makan malam.

Hari keempat kita masih punya sisa setengah dada dan dua potong wings yang tentunya disimpan dengan baik di kulkas. Untuk makan malam saya bisa suwir bagian dada atau dipotong strip, dibumbui lagi dan di-pan fry untuk dihidangkan dengan oseng-oseng pasta atau pasta salad. Jangan lupa bikin banyakan si pasta ini karena…

Lunch hari kelima adalah pasta plus wings yang sudah dibumbui dari kulkas. Ta-daaaah! Hari kelima ini kan Jumat dan biasanya saya makan malamnya di luar buat refreshing.

Segitulah contohnya saya survive seminggu dengan seekor ayam… minggu besoknya puasa makan ayam deh. Hahahaha.