Archive

KMK

Ini adalah salah satu kenangan masa kecilku yang teringat dengan jelas, dan makin diingat kok rasanya makin lucu ya…

Mamiku adalah Mami nano nano. Beliau baik hati, perhatian dan sayang terhadap kami anak-anaknya, tapi jangan salah, Mami ini mudah marah dan kalau sudah marah rentetan omelannya (pakai istilah kami dulu) seperti kereta api, pokoknya panjaaaang, merembet ke mana-mana tak ada habisnya.

Masa itu almarhum kakek dan nenek saya tinggalnya di Kalimantan. Untuk berkomunikasi dengan Mami, Oma sering menelepon (teleponnya bagaikan telepon pejabat penting hihihi) dan kalau Oma menelepon bisa sejam lebih sekalinya ngobrol dengan Mami… dan kalau kami yang mengangkat rasanya senang ditelepon orang penting. Pokoknya Oma Diana number 1 deh!

Ketika saya berumur 6-8 tahun (duh nggak ingat pastinya — yang pasti masih polosssssss sekali) kami kena omel Mami. Lupa sebabnya apa. Omelan yang panjang, merembet pokoknya omelan khas Mami deh… setelah Mami berhenti ngomel tentu saja suasana di rumah masih tidak enak apalagi kami-kami yang habis diomelin, tuh! Telepon berdering… saya yang mengangkat. Eh, dari Oma! Oma menanyakan kabar saya dan ngobrol-ngobrol sebentar… lalu ingin ngobrol dengan Mami. Oma tanya, “Mama lagi ngapain?”

Jawaban polos dan jujur a la saya, “Mama lagi marah tuh…”

Tentu saja Oma menanyakan marah kenapa dan sebagainya, lalu telepon pun disambungkan ke Mami. Setelah Mami dan Oma selesai teleponan… saya dipanggil dan dikasihtahu lagi, lain kali nggak boleh ngomong ke Oma kalau Mami lagi marah! Ketika kecil saya iya-iya saja. Makin besar saya pun sadar… karena jawaban polos dan jujur a la saya, sukses tanpa disengaja Mami diomelin oleh maminya, yaitu Oma! hihihi… Iseng yang tak disadari…

Sampai sekarang saya masih suka meledek Mami, kalau dulu Mami diomelin Oma karena ngomelin kami… hahaha

Advertisements

Beberapa hari yang lalu, saya mimpi rumah kami di Jakarta kemasukan banyak orang dan kami ngumpet di dalam… begitu orang-orang sudah dekat, sayapun terbangun. Mimpi yang masih saya alami, skenario yang sama, dari dulu. Ketika mimpinya muncul, sayapun jadi terkenang, kejadian 19 tahun yang lalu, yang darimana mimpi ini berasal. Melihat kalender, wah… ternyata sebentar lagi harinya. Karena itu saya memutuskan, setelah dulu-dulu bilang kapan-kapan mau ditulis, sekaranglah saatnya saya menuliskan pengalaman ini.

Screen Shot 2017-05-13 at 12.28.08 PM.pngMami dan saya pada masa itu… foto diambil waktu liburan ke Penang, Malaysia tapi lupa tepatnya kapan. Di foto saya berumur 9 tahun.

19 tahun yang lalu saya hanyalah seorang anak piyik yang berusia 9 tahun. Seorang anak kecil yang sebentar lagi bakal merayakan ulang tahun yang kesepuluh. Waktu itu saya berambut pendek sebahu, pakai kaca mata dan suka memakai baju gombrong supaya saya lebih mirip kakak saya yang laki-laki.

Saya masih ingat hari itu, kami semua nggak ada yang masuk sekolah. Mami dan Papi nggak pergi ke toko. Seminggu menjelang hari itu, Mami sudah dapat bocoran dari tukang yang suka mengantarkan barang ke tokonya, dari tukang ojek yang suka mangkal di dekat sana dan suka dikasih makanan oleh Mami, kalau akan ada kerusuhan yang menargetkan ras┬ákami. Saya nggak ingat persis detailnya hari itu bagaimana, yang jelas sekitar daerah perumahan kami sudah ditulisi “MILIK PRIBUMI”.

Pagi itu, saya dan kakak didudukkan oleh Mami dan Papi. Kami di dalam rumah, ngumpet di kamar mandi yang lumayan besar yang letaknya di dalam kamar utama, dan kebetulan pintu keluar kamar utama kami dekat dengan pintu belakang. Kamar mandi yang bernuansa warna cokelat, ada bathtubnya yang juga warna coklat dengan lantai kotak-kotak kecil. Agak panas dan pengap karena AC tidak dinyalakan di kamar. Radio dinyalakan untuk memantau arah massa, telepon dipegang di dekat untuk menunggu kabar dari teman dan sanak saudara.

Kata Mami, kalau orang-orang memasuki rumah, kami akan langsung lari. Papi bertugas menggandeng saya, Mami akan membawa kakak. Lari ke rumah Pak Haji di belakang yang baik hati, entah kenapa kami hari itu nggak langsung ngumpet di sana saja, entahlah, saya nggak paham. Pakaian saya disuruh ganti oleh Mami. “Biasanya pake baju jelek hari ini keren amat pake bajunya!” — masih terngiang ucapan Mami di telinga saya. Saya memegang boneka kelinci coklat kesayangan saya, yang berbaju gaun bermotif bunga-bunga kecil di kain berwarna hijau gelap. Oleh Mami saya disuruh jangan membawa bonekanya. Nanti takut dikira orang menyembunyikan uang, katanya.

Hari itu kami sangat beruntung. Massa yang sudah dekat sekali dengan komplek perumahan kami, tidak mendatangi komplek. Toko Mami dan Papi pun selamat dari penjarahan berkat kebaikan mereka selama ini kepada orang-orang di sekitar sehingga mereka menjaga keamanan toko. Selama hampir seminggu lamanya kami tidak keluar rumah, tidak bekerja, tidak sekolah.

Beberapa teman dekat saya tidak beruntung, karena mereka terkena, untunglah tidak ada yang luka apa-apa. Hanya trauma saja yang menyisa dan tak terlihat. Sayapun sampai sekarang, kalau di rumah sendirian, suka waspada kalau-kalau ada yang mau masuk ke rumah… sampai M suka geleng-geleng kok istrinya mudah terkejut dengan suara di rumah… ha ha ha.

19 tahun berlalu. Tahun depan tepat 20 tahun. Hari yang tidak akan pernah saya lupakan, yang memori melekat di hati, yang membuat saya sadar kalau hidup ini adalah singkat dan harus dijalani sebaik-baiknya.

Oh iya, kalau kalian bagaimana? Adakah cerita atau ingatan khusus di hari ini? Share di comment dong kalau ada ­čÖé

Disclaimer: Postingan ini hanya sekedar membagi pengalaman saja, tidak ada maksud apa-apa. Dari dulu saya memang suka kepikiran untuk menuliskannya apalagi sejak comment dengan Febri di salah satu postingannya yang dulu.

Minggu lalu, punggungku sempat ‘keceklek’ — pokoknya bangun tidur sakit semua rasanya, nggak begitu bisa bergerak. Hasil dari berdiri dari posisi duduk terlalu cepat malam sebelumnya. Karena nggak bisa bebas bergerak, hari itu saya di rumah saja di kasur, dan karena bosan… bukalah hard drive lama, yang ternyata isinya foto-foto lama yang benar-benar membangkitkan kenangan. Jadi saya pengen membuat seri cerita kenangan masa kecil ah di blog (jadi terinspirasi, ceritanya) kalau disingkat KMK (sudah dimasukkan di kategori sisi kiri). Kalau masa remaja, masuk KMK ini, atau tidak ya?

Singkat cerita keluarga kami tinggal di Jakarta Barat, orangtua dua-duanya berasal dari Kalimantan Barat. Kami berempat, saya dengan kakak laki-laki yang lebih tua dua tahun dengan Papi dan Mami — Papi dan Mami dua-duanya bekerja membuka toko bahan bangunan berdua. Ingatan masa kecil saya yang manis banyak yang diwarnai oleh si toko bahan bangunan ini, karena seusai sekolah (dulu sekolahnya di SD, pukul 7 pagi sampai pukul 1.30 siang kalau saya tidak salah ingat). Pas sekali masa kecil dalam ingatan saya itu tahun 1990-an, karena tahun ajaran 2001 saya sudah masuk SMP, sudah bukan anak SD lagi.

Toko bahan bangunan, dulu selalu ramai (sekarang kata Mami, sudah jauh deh pokoknya dengan dulu tahun 1990an yang booming pembangunan di mana-mana). Kata Papi, setiap bulan tangannya sampai capek menulis nota pembelian dan tinta di pulpennya pasti selalu rutin diganti.

Biasanya seusai sekolah SD saya dijemput oleh Mami yang menyempatkan datang di sela-sela kesibukannya. Saya masih ingat jelas, Mami yang berambut pendek dan ceriwis (ceriwisnya jelas nurun ke anaknya ini) ngobrol dengan Mami-mami lain yang menunggu anaknya di sekolah. Mami kurang suka anak-anaknya jajan. Seingatan saya waktu Mami menjemput, di dalam mobil sudah ada makan siang yang disiapkan di dalam rantang (biasanya nasi dan lauk tumisan biar gampang makannya), dan kadang suka ada es jeruk perasan sendiri lagi, dingin di dalam botol. Berasa banget sayangnya Mami kepada saya. Pernah juga Mami menjemput lalu saya nanya boleh nggak main ke rumahnya Aurel (ke rumah teman yang tinggalnya di dekat sekolah)… nanti pulang kerja Mami akan jemput di rumah Aurel. Mami mengiyakan. Pokoknya senang sekalilah waktu itu, karena di rumahnya Aurel banyak mainan yang bagus-bagus. Nah kadang, kalau Mami nggak sempat menjemput, yang menjemput adalah Wi Ku (masih kerabat jauh Mami yang kerja dengan Mami dan Papi), naik motor. Senang lho kalau Wi Ku yang jemput karena saya bisa duduk di atas motornya, jarang-jarang terjadi. Seperti petualangan saja rasanya.

Toko orangtua, dimodifikasi oleh Mami dan Papi supaya di dalam (di balik hiruk pikuk penjualan) bisa tidur siang, masak makan siang, main dan sebagainya. Saya betah-betah saja pulang sekolah ke sana karena di rumah… tidak ada orang yang bisa diajak main. Yang menjaga rumah kami adalah ART laki-laki (biasanya dari toko), karena Mami males punya ART perempuan — genit katanya! Hahaha. Secara memasak Mami yang mengerjakan, si ART laki-laki ya kerjanya main dengan kakak saya (makanya kakak saya pulang sekolahnya boleh tidak ikut ke toko), menyapu, mengepel, berkebun, menjaga rumah. Malam boleh pulang ke toko, atau mau tidur di rumah kami juga kamarnya sudah disiapkan. Balik ke cerita saya di toko, buat saya di toko banyak sekali yang bisa dikerjakan dan diajak ngobrol.

Ini ceritanya saya dan kakak saya di depan bagian hiruk pikuk toko, waktu kecil. Lupa tahun berapa.

Saya suka ngobrol dengan Mbak Tri, pegawai administrasi toko. Main bon-bonan, menulis cerita atau nggambar komik karena di toko banyak kertas dan alat tulis. Pernah juga iseng-iseng menulis pakai mesin tik tua yang warnanya biru dan sudah karatan — nulis cerpen yang nggak pernah selesai-selesai, idenya dapat dari majalah Bobo. Kalau sudah pakai mesin tik, rasanya seperti penulis beneran! Kalau sedang tidak sibuk dengan Mbak Tri atau main sendiri, saya akan main ke belakang. Ke belakang ini maksudnya di ujung belakang toko, karena ada rumahnya keluarga pegawai Mami dan Papi yang tinggal di sana untuk menjaga toko kalau sudah tutup. Pegawai ini punya anak perempuan sebaya saya dan adiknya. Jadi asyik, kalau main dengan mereka. Seingat saya dulu kami sering main masak-masakan bersama. Pernah juga ketika libur kenaikan kelas, Mami ajak mereka main ke Dunia Fantasi bareng kami. Sekarang sih, sudah tidak kontak lagi karena mantan pegawai Mami sudah RIP — pernah Mami menawarkan mau membiayai sekolah anaknya tapi mereka memilih menikah setelah lulus SMU dan pulang ke kampung.


Mami sewaktu muda, bersama saya dan anaknya alm. pegawai Mami ketika ke Dufan untuk hadiah kenaikan kelas. Kalau nggak salah tahun 1996 atau 1997… pakai kaus Fido Dido favorit saya masa itu.

Cerita lucu yang timbul dari main di toko ini adalah hasil dari ke-kepoan dan rasa mau tahu saya yang terlalu tinggi. Saya suka nggrasak barang-barangnya Mami. Suatu hari saya nemu bon-bon tagihan ke Mami dan Papi yang jumlahnya BUANYAAAAK SEKALI apalagi di mata anak kecil umur 7-8 tahunan. Saya belum mengerti kalau jualan itu membeli barang lalu dijualkan lagi. Jadi saya pikir… kami punya hutang banyak dan sebentar lagi bakalan jatuh miskin. Pokoknya sedih waktu itu mikirnya, dan saya suka gemes kalo lihat Mami bikin cemilan seperti sup ketan hitam. Habis, sudah miskin dan punya hutang banyak, mau bangkrut kok buang-buang uang buat ketan hitam????

Beberapa tahun yang lalu saya cerita ke Mami dan Papi soal ini, dan sukseslah saya ditertawakan habis-habisan… he he he.