Archive

Life

Setelah lama dalam waitlist kepengen banget, dan sering nonton Masterchef AU (baca: kebanyakan nonton) akhirnya saya punya juga sebuah food processor cantik! Udah kebayang di kepala chicken nugget, pastry, pasta yang gampang, pempek… anyway teman-teman saya nih baik banget, ulangtahun saya kemarin mereka ngumpulkan uang supaya saya bisa beli alat masak idaman ini, pilih sendiri. Walaupun sekarang dapurnya penuh sesak… ya iya lha itu gadget kok jadi banyak banget ya… tapi nggak apa-apa, hasilnya masuk perut ini, hahaha.

Kemarin beli ini karena suka dengan warnanya (lagi-lagi deh), tapi attachment-nya juga banyak dan dibanding yang lain, model ini lebih compact, tapi berat. Jadi nggak ringkih. Lalu asyik banget kebetulan waktu beli, diskon lumayan banyak juga. Penampakan boxnya yang besarrrr…

Ini dia penampakan dusnya ketika dibuka… warnanya katanya adalah warna cranberry. Seperti warna buah ceri terang menurut saya. Suka banget! Makasih ya teman-temanku.

Duduk manis di atas counter dapur. Di kanan itu kotak penyimpanan attachment-nya, bisa untuk macam-macam fungsi dari memotong, mengiris, bikin adonan dan sebagainya.

Percobaan pertama ngapain dong?

Buat bakso! Karena sudah lama sekali penasaran… dan sering lihat di Instagram yang tinggal di luar negeri dingin-dingin bisa ngebakso irinya diriku. Kalau beli, selain mahal juga kan banyak pengawetnya. Dan karena baksonya nggak ada yang style Indonesia, mereka kenyal sekali dan rasanya kurang enak menurut saya. Salah satu makanan kesukaan saya tuh bakso, sampai tante saya menjuluki saya anak bakso waktu kecil hahaha… di sekolahan karena makanan yang dijual harus halal, ya mie ayamnya kurang minyak nggak halalnya menurut saya kurang enak hahahaha… jadi hampir tiap hari, jam istirahat makanan saya adalah bakso.

Pulang kerja belilah sekotak daging sapi cincang segar. Seusai makan malam dan membersihkan si food processor baru, saya mencampurkan daging dengan putih telur, es batu, tepung sagu tani, baking powder, bawang putih goreng, bawang putih bubuk, bawang merah goreng, lada, garam… dan setelah diolah jadi seperti di bawah ini. Senaaaang banget!

Saya melakukan beberapa test bakso dari adonan yang sudah jadi, tambah sana sini lagi (garam, sagu, es batu) sampai menemukan tingkat rasa dan kekenyalan yang pas.

Senang banget sudah jadi baksonya! Untuk percobaan pertama okelah, rasa sudah oke banget, hanya problem di membalnya. Sudah cukup keras dan kata si suami, enak banget. Tapi saya mau membal seperti baksonya abang-abang hahaha… kata Mami harus pakai obat (semacam tepung bakso) tapi masa iya sih? Besok-besok kalau buat lagi saya ingin menambahkan tepung sagu dan es batunya. Namanya eksperimen kan. Tapi senangnya sekarang bisa stok bakso homemade di kulkas. Bentuknya nih, harus diperbaiki, karena nggak pernah mentol bakso, bulatannya masih kurang cantik.

Esok harinya di malam musim dingin yang menggigil, di rumah makan bakso pakai bihun! Rasanya puas sekali, apalagi buatan sendiri. Suami juga ngacungin jempol, katanya enak, mirip yang beli di Indonesia. Senang banget deh. Disajikan dengan cabe buatan sendiri, daun seledri, daun bawang, sayur… dan bawang goreng legendaris oleh-oleh dari Inly yang baik hati. Sumpah, bawang goreng buatan rumah Inly ini enak banget, yang doyan bawang goreng harus coba dan pesen sama Inly.

Berhubung saya punya proyek Instagram (klik di sini) dan blog makanan baru (klik di sini) saya ingin mencoba peruntungan saya dalam berkebun lagi. Tahun 2015 saya sempat bercerita tentang niat berkebun saya. Sayangnya, tanaman-tanaman tersebut (ada mint, rosemary, parsley dan spring onions) satu-satu mati… tangan saya nih betul-betul nggak hijau. Kali ini ganti strategi, tanamannya ditaruh di halaman depan rumah yang sering saya lewati supaya saya ingat untuk disayang-sayang. Memang untung nggak disangka, ketika bertanya tips berkebun kepada temannya M yang berkebunnya sukses sekali, dia malah menawari ambil saja tanaman di rumahnya untuk bibit supaya saya nggak perlu beli.

Pulang dari rumahnya yang asri (dan ada kucing serta ayam-ayam yang lucu dan gemuk-gemuk sayangnya saya lupa foto) dikasih hadiah rosemary, catnip dan cabe segar-segar! Duh terimakasih sekali, bisa buat masak minggu depan nih. Loki juga sangat senang dan ceria dapat catnip yang luar biasa banyaknya.

Tanaman yang diberikan olehnya saya pindahkan ke pot saya. Ini tanaman mint, catnip dan rosemary. Nanti saya mau beli tanaman kecil untuk coriander (ketumbar) dan thyme yang sering saya gunakan dalam masakan sehari-hari.

Untung lagi yang nggak disangka dan sangat disyukuri, teman kerja saya pindah rumah. Ketika pindah ini tanaman lemon dan limaunya di dalam pot, nggak ikut dibawa karena rumah barunya minim tempat di kebun. Ditawarkan ke saya, gratis… dan diantarkan ke rumah pula! Benar-benar terima kasih sekali, apalagi timingnya yang tepat banget kan ketika saya mau mulai berkebun lagi.

img_6867

Foto penampakan tanaman dan buah limaunya yang cantik dan segar-segar, semoga beneran nggak mati! Ada tips, boleh dong dibagi untuk saya yang baru mulai berkebun ini!

Nasi goreng petai yang enak dan mengobati kangennya dengan rumah. Piring di atas ini adalah piring masa kecilnya Mamiku, lho! Konon waktu kecil setiap hari beliau makannya dengan piring ini, hebat banget kualitasnya sudah berumur 50 tahun masih bagus. Masak ini hasil dari inspirasi karena SMS-an dengan Stephanie malam sebelumnya, hahaha… Resep sudah diposting di sini ya!

Terakhir, penampakan si Loki aja nih karena bisa lihat panjangnya dia dibandingkan bantal sofa kami.

Semoga weekend kalian bermanfaat dan penuh warna juga, ya!

Bulan Juni 2016 yang lalu (wow tepat setahun lho) saya sempat bercerita di blog tentang customer service berkesan yang saya terima di NZ sini. Sekedar lanjutan cerita pelayanan bagus dari toko tas tersebut, saya membeli tasnya. Beberapa bulan kemudian tassel (gantungan)nya copot dan ketika menghubungi mereka, pemilik toko (yang juga membuat tasnya dengan tangan) baik banget mengirimkan kurir untuk jemput tasnya di kantor, diperbaiki (gratis lho!) dan dikembalikan ke saya dalam waktu yang cepat. Pokoknya berkesan banget deh dan sampai sekarang saya masih rekomen orang untuk membeli tas di sana.

Kali ini saya mau berbagi cerita tentang pelayanan sangat berkesan yang saya terima di awal bulan.

Ceritanya, akhir bulan lalu saya dan suami beli breadmaker alias mesin pembuat roti. Iseng banget deh, dan seru lho memakainya. Foto-foto sudah diambil dan nanti saya mau cerita tersendiri tentang si breadmaker ini. Belinya secondhand alias bekas. Siang hari sebelum menjemput mesin, kami sudah semangat banget mau buat roti malamnya, jadi belilah tepung protein tinggi plus ragi di supermarket. Di rumah sih, ada ragi sachet, tapi sudah kadaluarsa beberapa bulan sebelumnya jadi beli saja yang baru pikir saya. Jemput mesin roti sorenya, seusai makan malam kami semangat langsung mencoba mesinnya… nunggu dengan semangat… keluarnya BAAAANTEEETT PUOLLL.

Sedih nggak sih? Sudah semangat mau makan roti, keluarnya pucat dengan berat batu bata pula. Saya kira kami pakai resep yang salah. Si M curiga mungkin raginya rusak, soalnya selain nggak ngembang tuh roti nggak ada bau khas raginya. Cek di Google katanya untuk mengecek ragi masih aktif atau tidak adalah memberi ragi air hangat dan sedikit gula. Kalau adonan raginya menggelembung, artinya tuh ragi masih bagus. Kami tes dua ragi, ragi yang baru (yang dipakai) dan yang kadaluarsa. Alangkah kekinya begitu 10 menit telah lewat, ragi kadaluarsa menggelembung hebat sementara yang beli siangnya nggak ada reaksi.

Berita baiknya kamipun coba buat lagi (kali ini dipasang timer supaya rotinya jadi waktu kami bangun esok harinya) memakai ragi kadaluarsa yang ternyata masih gagah perkasa tersebut. Jadi lho, tuh roti dan cantik pula. Berita jeleknya ya kok ragi yang baru beli siangnya malah matiiiikk… sayapun memfoto bukti ragi yang tiren itu dan mengirimkannya ke Facebook page Edmonds. Lha janjinya tuh ragi “sure to rise” kok malah mati kemaren sore?

Wah tanpa disangka, respon dari pesan Facebook itu cepat sekali. Dalam kurun beberapa jam saja saya menerima balasan panjang lebar. Bukan hanya meminta maaf, si layanan konsumen ini juga meminta nomor kode ragi untuk diselidiki mengapa kok nggak bagus, dan meminta alamat saya untuk mengirimkan voucher tanda maaf mereka katanya. Seminggu kemudian, kami dapat surat. Pas nerima suratnya saya kira surat dari rumah sakit soalnya amplopnya serius sekali. Wah mengesankan pokoknya, karena tuh surat tanda tangannya betulan pake bolpen, bukan yang di-print bareng kertasnya.

Penampakan surat dan ragi tiren tersebut.
Beda banget dengan pelayanan jelek yang saya terima dari suatu brand makanan ringan kecil di sini. Snacknya katanya produksi keluarga (usaha kecil), dan enak sih, tapi saya nemu kertas aluminium foil kecil di salah satu biskuitnya. Komplen ke Facebook, ditanggapi tapi lama dan nggak memberikan penjelasan apa-apa. Saya pun nggak membeli makanan ringan tersebut lagi.

Baru pertama kali dapat surat permintaan maaf formal, terus ada voucher buat beli dua pack raginya. Lumayanlah dapat pengganti ragi yang tiren plus satu pack lagi untuk obat bete… hahaha… ini mah alamat kita makan roti terus ya. Baru pertama kali dalam 29 tahun hidup di dunia ini saya komplen tentang suatu produk, komplen yang sangat sederhana tapi ditanggapi sebaik ini.

Terimakasih Goodman Fielder NZ, yang dengan sigap menanggapi komplen dan feedback pelanggan.

Beberapa hari yang lalu, saya mimpi rumah kami di Jakarta kemasukan banyak orang dan kami ngumpet di dalam… begitu orang-orang sudah dekat, sayapun terbangun. Mimpi yang masih saya alami, skenario yang sama, dari dulu. Ketika mimpinya muncul, sayapun jadi terkenang, kejadian 19 tahun yang lalu, yang darimana mimpi ini berasal. Melihat kalender, wah… ternyata sebentar lagi harinya. Karena itu saya memutuskan, setelah dulu-dulu bilang kapan-kapan mau ditulis, sekaranglah saatnya saya menuliskan pengalaman ini.

Screen Shot 2017-05-13 at 12.28.08 PM.pngMami dan saya pada masa itu… foto diambil waktu liburan ke Penang, Malaysia tapi lupa tepatnya kapan. Di foto saya berumur 9 tahun.

19 tahun yang lalu saya hanyalah seorang anak piyik yang berusia 9 tahun. Seorang anak kecil yang sebentar lagi bakal merayakan ulang tahun yang kesepuluh. Waktu itu saya berambut pendek sebahu, pakai kaca mata dan suka memakai baju gombrong supaya saya lebih mirip kakak saya yang laki-laki.

Saya masih ingat hari itu, kami semua nggak ada yang masuk sekolah. Mami dan Papi nggak pergi ke toko. Seminggu menjelang hari itu, Mami sudah dapat bocoran dari tukang yang suka mengantarkan barang ke tokonya, dari tukang ojek yang suka mangkal di dekat sana dan suka dikasih makanan oleh Mami, kalau akan ada kerusuhan yang menargetkan ras kami. Saya nggak ingat persis detailnya hari itu bagaimana, yang jelas sekitar daerah perumahan kami sudah ditulisi “MILIK PRIBUMI”.

Pagi itu, saya dan kakak didudukkan oleh Mami dan Papi. Kami di dalam rumah, ngumpet di kamar mandi yang lumayan besar yang letaknya di dalam kamar utama, dan kebetulan pintu keluar kamar utama kami dekat dengan pintu belakang. Kamar mandi yang bernuansa warna cokelat, ada bathtubnya yang juga warna coklat dengan lantai kotak-kotak kecil. Agak panas dan pengap karena AC tidak dinyalakan di kamar. Radio dinyalakan untuk memantau arah massa, telepon dipegang di dekat untuk menunggu kabar dari teman dan sanak saudara.

Kata Mami, kalau orang-orang memasuki rumah, kami akan langsung lari. Papi bertugas menggandeng saya, Mami akan membawa kakak. Lari ke rumah Pak Haji di belakang yang baik hati, entah kenapa kami hari itu nggak langsung ngumpet di sana saja, entahlah, saya nggak paham. Pakaian saya disuruh ganti oleh Mami. “Biasanya pake baju jelek hari ini keren amat pake bajunya!” — masih terngiang ucapan Mami di telinga saya. Saya memegang boneka kelinci coklat kesayangan saya, yang berbaju gaun bermotif bunga-bunga kecil di kain berwarna hijau gelap. Oleh Mami saya disuruh jangan membawa bonekanya. Nanti takut dikira orang menyembunyikan uang, katanya.

Hari itu kami sangat beruntung. Massa yang sudah dekat sekali dengan komplek perumahan kami, tidak mendatangi komplek. Toko Mami dan Papi pun selamat dari penjarahan berkat kebaikan mereka selama ini kepada orang-orang di sekitar sehingga mereka menjaga keamanan toko. Selama hampir seminggu lamanya kami tidak keluar rumah, tidak bekerja, tidak sekolah.

Beberapa teman dekat saya tidak beruntung, karena mereka terkena, untunglah tidak ada yang luka apa-apa. Hanya trauma saja yang menyisa dan tak terlihat. Sayapun sampai sekarang, kalau di rumah sendirian, suka waspada kalau-kalau ada yang mau masuk ke rumah… sampai M suka geleng-geleng kok istrinya mudah terkejut dengan suara di rumah… ha ha ha.

19 tahun berlalu. Tahun depan tepat 20 tahun. Hari yang tidak akan pernah saya lupakan, yang memori melekat di hati, yang membuat saya sadar kalau hidup ini adalah singkat dan harus dijalani sebaik-baiknya.

Oh iya, kalau kalian bagaimana? Adakah cerita atau ingatan khusus di hari ini? Share di comment dong kalau ada 🙂

Disclaimer: Postingan ini hanya sekedar membagi pengalaman saja, tidak ada maksud apa-apa. Dari dulu saya memang suka kepikiran untuk menuliskannya apalagi sejak comment dengan Febri di salah satu postingannya yang dulu.

Membaca beberapa comment di postingan giveaway saya kemarin (yuk ikutan, masih terbuka giveawaynya untuk yang mau ikutan di sini) saya jadi ingat sudah lama nggak menulis tentang kucingku tersayang ini. Terakhir saya menulis ketika Loki kecelakaan di sini. Ternyata yang demen sama Loki lumayan banyak juga ya, hehehe. Tidak banyak cerita baru tentang Loki soalnya selama masa penyembuhan ini, Loki dikurung di dalam rumah sampai tulangnya sembuh dengan baik. Waktu kontrol dokter terakhir bulan kemarin, Loki dinyatakan sembuh total dan karena itu pin yang ditaruh di tulangnya sekarang boleh dikeluarkan melalui operasi kecil. Sayangnya… bulu yang sekarang sudah tumbuh cantik nanti bakalan dicukur lagi untuk operasinya. Duh kasihan kamu Nak.

img_4573

Di atas ini sisa foto masa penyembuhan kemarin. Dasar bandel, Loki menggigiti kakinya sampai kelingkingnya gundul dan merah. Menurut dokter, mungkin karena operasi syarafnya merasa ‘gatal’ yang cukup normal. Supaya Loki nggak menggigiti kakinya lagi, dipakaikanlah cone/corong penyembuhan hewan plastik seperti di atas. Nggak suka banget dia, tapi setelah seharian memakai, cuek saja.

Kami melepaskan cone waktu jam makan malam (jatah makanan basah/wet food Loki) supaya dia makanya enak dan nggak nempel-nempel di cone-nya. Yang lucu, Loki suka nggak sadar dia pakai cone. Kayak foto di atas, dipikirnya dia lagi menjilati tangannya padahal kan yang dijilati plastik tembus pandang, hahaha. Saya suka ketawa sendiri kalau melihat dia menjilati plastik kayak gitu. Sekarang Loki sudah sembuh dan nggak menggigiti kakinya lagi jadi nggak usah pakai cone lagi deh. Bebas!

img_6241Sedang berpose di depan bantal yang dibelikan oleh sahabat saya, khusus buat Loki. Tulisannya Loki’s Throne. Katanya, pesan dari online shop di Instagram.

img_6315
Rajin menunggui makanan, kalau saya lengah naik deh lompat, curi daging yang baru dipotong.

Coba tebak yang mana Loki di foto atas… dengan teman-teman kucingnya, pasti ketahuan sih yang mana dari ukurannya dan bulunya, hahaha. Waktu kami liburan 3 minggu kemarin Loki dititipkan di cattery (hotel untuk kucing), dan pihak cattery yang luar biasa baiknya ini setiap beberapa hari bakal mengirimkan foto kepada kami. Mereka suka sekali dengan Loki, katanya baik dan manis… dalam hatiku lha yang bener ini kucing yang sama, soalnya kalo di rumah nakal luar biasa dan suka judes sendiri, walau manisnya sih tetap.

img_6266

Waktu kami pulang liburan, M langsung menjemput Loki (dapat titah Baginda Ratu a.k.a. saya). Si Loki waktu pulang langsung muter di rumah, ngendus-ngendus, meong sebentar lalu bobo siang di atas koper… nggak kelihatan kayak rindu sama kami! Tapi dia manis banget sih untuk beberapa hari pertama. Diapa-apain, diuyel-uyel pasti mau dan nggak protes. Kalau sekarang digangguin sering-sering, bisa kena cakar protesnya.

img_6306

Kursi empuk di atas adalah ‘kursinya Loki’, sebenarnya bagian dari sofa kami tapi dibajak dengan sukses. Sekarang M lagi suka-sukanya main Nintendo Switch yang baru itu dan mau nggak mau Loki harus bagi dong jatah kursinya. Kalau malam-malam, berduaan duduknya begini. Lucu dan manis! Kalau lagi gak mau berbagi nanti si Loki duduknya dengan kaki yang dipanjang-panjangin deh, terus kena usir oleh si M… hahaha.

Segitu dulu perkembangan Loki sekarang, semoga foto-fotonya bisa mengilustrasikan bagaimana baiknya proses penyembuhan Loki. Terima kasih kepada dokter-dokter dan dokter bedah hewan yang luar biasa baik dan suportif selama masa penyembuhan dan terapi si Loki.

Dokter hewan kami (siapa tahu di Auckland ada yang butuh):
Pet Doctors Glenfield
2 Cherry Lane, Glenfield, Auckland 0622

Rumah sakit dan dokter bedah hewan kami:
Dr. Kyle Clark
VSG (Veterinary Specialist Group) Auckland
97 Carrington Rd, Mount Albert, Auckland 1025

Tulisan ini sebetulnya sudah ada di dalam draft agak lama, tapi baru sekarang ini siap di-publish. Inspirasinya datang dari beberapa orang dekat dalam kehidupan saya, dan reaksi sekitarnya menyikapi keadaan mereka.

Saya pribadi sangat sedih dan prihatin dengan stigma anak yang diadopsi di Indonesia (di negara Asia lain begini nggak? Adakah yang bisa memberi pencerahan?). Sebutannya saja sudah tak enak didengar, yaitu anak pungut. Duh miris nggak sih. Emangnya barang jatuh di lantai yang dipunguti. Atau saya sering dengar juga, anak haram. Lingkungan pun melihat sang anak seperti warga kasta kelas dua saja. Padahal seharusnya mengadopsi anak kan untuk dijadikan anak betulan, bukan anak-anakan. Kalau di NZ sih, saya nggak menjamin masyarakatnya semua menerima tetapi sebagian besar sudah menganggap adopsi adalah hal yang lumrah dan biasa saja, bukan seperti aib/memalukan yang ditutupi atau jadi bahan gunjingan.

Beberapa contoh kejadian yang saya alami akhir akhir ini, yang membuat saya miris dan memutuskan untuk menuliskan keprihatinan dan uneg-uneg saya dalam blog.

Pertama, salah satu teman dekat yang diadopsi sejak bayi, mengatakan ketika orang mengetahui tentang cerita masa lalunya, kontan orang pun mengasihani. Lalu bertanya, apakah mencari orangtua kandungnya? Diikuti kenapa nggak/kenapa iya? Kalau cari ada yang anggap salah dan mengkhianati orangtua angkat. Kalau tidak cari ada yang anggap padahal itu kan orangtuamu. Menurut si teman saya ini, she doesn’t know any difference between parents and adoptive parents. Dia nggak mengenal konsep maksud pertanyaan itu. Seumur hidup, ya orangtuanya adalah orangtua yang mendidik dan membesarkannya. Orangtua yang mengangkatnya, memperlakukannya seperti anak sendiri. Lha iya dong, memang mau diperlakukan seperti apa? Anak-anakan?? Teman ini juga kalau nggak cerita ia anak angkat saya nggak akan nyangka, karena hubungannya dengan orangtuanya dekat sekali. Sewajarnya hubungan orangtua dan anaklah…

Kedua, anggapan bahwa anak angkat itu ‘tidak baik’. Saya pernah dinasihati, kalau mengangkat anak tuh tidak baik, karena nanti sudah dewasa kemungkinan besar akan mencari orangtua kandungnya lalu ‘kesetiaannya akan berbalik’ ke si orangtua kandung. Kamu nggak anak mendapatkan keuntungan apa-apa dari mengangkat anak. Saya sangat tidak senang dengan anggapan ini. Karena anggapan ini menurut saya, mengajarkan kalau cinta kasih itu tidak tulus, tidak ikhlas, tapi ada pamrihnya. Jadi tujuannya angkat anak, egois dong, kalau sudah besar si anak dikekang untuk ‘setia padanya’. Jadi kayak cerita cinta posesif saja.

Ketiga, konsep anak angkat/adopsi bukan anaknya. Orang yang tidak pernah mengadopsi anak mungkin tidak akan pernah membayangkan bagaimana sih perasaan si orangtua terhadap anak, karena mereka kan punya anak kandung sendiri ya. Tapi contoh mudah sajalah, saya sayang sekali dengan Loki yang bukan anak saya tuh. Itu saja adopsi kucing, bukannya anak. Ada seorang anak adopsi yang akan diajari oleh orangtua(angkat)nya untuk mengelola aset keluarga. Lalu seseorang mengomentari, “Lho memangnya boleh? Kenapa? Kan bukan anaknya…” komentar yang mungkin untuk si orang biasa saja dan wajar (karena ketidaktahuan atau kurangnya pengertian) tapi tentu saja tidak enak didengar. Orangtua yang mengadopsi tentu saja sudah menganggap anak adopsinya adalah darah daging sendiri. Again, saya tekankan, masa mengadopsi untuk jadi anak-anakan. Tidak disayang, tidak diikutkan secara penuh. Kalau kejadian begitu adalah salah orangtua angkatnya, bukan kesalahan pada status si anak yang anak angkat! Karena mengangkat anak adalah untuk dijadikan anak, bukan main keluarga-keluargaan. Kalau ada perbedaan perlakuan atau rasa tidak menyayangi ya, berarti orangtua tersebut belum/tidak siap mengangkat atau mengangkat tidak sepenuh hati (contoh: ya bukan anak kandung gue kok ngapain gue pusingin/bagi aset gue). Tidak baik, bukan?

Sahabat saya yang diadopsi pun mengatakan, kalau status ‘anak angkat’nya adalah anak bawaan dari suami/istri perkawinan sebelumnya, sepertinya dipandang lebih wajar oleh masyarakat dibandingkan anak yang 100% diadopsi oleh pasangan. Alasan mengadopsi pun banyak… ada yang memang tidak bisa memiliki anak, ingin membantu dunia karena merasa banyak anak yang tidak punya keluarga di dunia ini, ingin anak jenis kelamin tertentu (misalnya anak lelaki sudah ada 2, tidak mau/bisa hamil lagi tapi ingin anak perempuan, ya sudah adopsi adalah jalan keluar — ini berdasar beberapa kisah nyata di kehidupan sekitar saya)… kalau ada yang tahu alasan lain boleh ditambahkan di comment 🙂

Intinya saya menulis ini sebagai bentuk rasa prihatin saya terhadap orang-orang awam yang melihat (tanpa disadari kebanyakan) anak adopsi sebagai anak kasta kelas dua. Saya sangat prihatin karena beberapa orang terdekat dalam hidup saya diadopsi orangtuanya. Saya melihat nggak ada kata angkat, pungut, adopsi. Itu hanyalah suatu proses bagaimana mereka menjadi keluarga. Kalau orang lewat hamil dulu, mereka mengadopsi. Sekali sudah menjadi keluarga, ya judulnya resmi dan simple; orangtua dan anak. Nggak ada embel-embel! Lagipula setiap individu berbeda. Jangan melihat kasus orangtua mengangkat anak yang setelah dewasa dinilai ‘tidak baik’ lalu kemudian langsung menggeneralisasi dan mencap anak yang diadopsi itulah masalahnya. Kesalahannya. “Makanya mungut anak sih!” — komentar yang sangat tidak enak didengar.

Catatan: saya nggak pernah mengadopsi anak. Ini hanya pengamatan saya dari apa yang saya alami secara intens dalam kehidupan saya 🙂

Semoga curhatan saya ini make sense 🙂 wahhh setelah dipublish dan dituliskan rasanya legaaa sudah bisa berbagi pengalaman sendiri ❤

Postingan ini adalah suatu hal yang sering saya lihat dan alami di kehidupan sehari-hari. Sebagai orang Timur — orang Indonesia yang berkultur kekeluargaan, rasanya tak asing mendengar pertanyaan atau ajakan untuk memiliki keturunan dilontarkan di mana-mana, entah baru kenal, teman tidak dekat, teman dekat, keluarga dan seterusnya.

Ucapan selamat kepada pasangan yang baru melahirkan, biasa dibalas dengan “Yuk kapan giliranmu…”, “Nyusul yuk!”, “Buruan cepet kasih teman buat anakku” dan lainnya yang bernada mirip. Ketika menjadi pasangan baru menikah pasti suruhan ajakan untuk memiliki momongan datang dari berbagai kalangan baik yang dekat atau yang baru kenalpun bisa tanya, kapan punya anak nih?

Waktu ketemu dengan teman Mami saya, Mami bilang anaknya (saya) udah nikah waktu ditanya (padahal waktu itu belum, hanya berselang 3 bulan sebelumnya sih). Dan teman Mami ini, yang saya baru pernah bertemu sekali seumur hidup, pertama kali pula, langsung bercanda dan mengatakan, “Udah punya anak belum? Buruan kasih cucu ke Mama!” Rasanya pengin saya cabein, hahaha… habisnya saya nggak kenal sudah ngomong seenaknya saja sih. Tapi berdasarkan budaya hormat dan sabar dengan teman orangtua, saya jawab dengan senyum tipis. Lagipula saya yakin ini orang asal ngomong saja. Tapi tetap dong ya nggak boleh sembarangan ngomong, apalagi kalau nggak kenal.

Secara pribadi saya nggak suka dengan pertanyaan, komentar dan ajakan seperti ini. Tentu saja sebagai manusia, saya pernah juga melontarkan pertanyaan begini… tapi hanya pada teman dekat saya yang saya tahu tidak sensitif kalau saya tanya. Tanya, lho, bukan nada menyuruh (entah bercanda entah serius) yang banyak digunakan oleh orang-orang yang mungkin kehabisan bahan omongan. Memang saya tahu niatnya bukannya tidak baik. Tapi terkadang pertanyaan, bisa salah dilontarkan kepada orang yang salah.

Contohnya ketika saya pulang ke Indonesia akhir tahun kemarin.

Saya ketemuan dengan beberapa teman saya. Kebetulan, saya diceritakan oleh salah satunya (sebut saja G) kalau ia habis keguguran sekitar semingguan lebih sebelumnya. Singkat cerita janinnya berusia beberapa minggu dan nggak kuat di kandungannya. G sedih sekali dan merasa bersalah apalagi ia dan suaminya memang sedang program anak. Ketika nongkrong dengan G dan teman saya satunya lagi K, kami papasan dengan teman SMU, V, yang membawa anaknya di mal. Anaknya lucu sekali, baru berumur beberapa bulan. G pinjam main dan menggendong anaknya, lalu V dengan ramah, bercanda kali, atau bagaimana ngomong begini

“Udah cocok banget G, buruan dong jangan ditunda-tunda lagi, nyusul cepetan, sebentar lagi giliran kamu.”

Saya dan K saling lirik, merasa sumpah nggak enak banget, kami saling menyikut diam-diam terus pelan-pelan jalan balik ke meja kami… soalnya sebelum V muncul si G betulan baru saja cerita dengan detail bagaimana kejadian kegugurannya belum lama ini. Duh saya dan K rasanya pingin deh gali lubang di tembok terus ngumpet di situ, ha ha ha…

Dengan kejadian kemarin, membuat saya betul-betul jaga mulut. Berusaha untuk jaga mulut supaya misalnya, kemarin pas menikah, dan ada yang menyelamati, saya nggak kontan menjawab dengan ajakan yuk buruan nyusul atau semacamnya. Memang saya biasanya nggak ngomong begitu kepada teman yang tidak dekat, tapi sekarang pada semua orangpun saya berusaha nggak nyinggung topik positif… karena, kita mana tahu sih kehidupan dan isi hati orang, ya nggak 🙂 Siapa tahu saja di luarnya si pasangan bahagia, tapi di dalam isi jeroannya kita nggak tahu kan, bagaimana dan seperti apa hubungannya itu. Siapa tahu ceweknya nunggu dilamar, beuhhh, bisa-bisa, dikutuki aku bercanda kayak gitu 🙂 atau kalau ngajak/menyarankan orang hamil, bisa-bisa malah menyakiti perasaan si orang tersebut.