Archive

Life

Si payung yang jadi cerita.

Cerita singkat hari ini seputar kolega kantor. Karena saya dipindahkan bagian di kantor, posisi meja dan yang duduk sebelahannya juga pindah. Sekarang saya duduk pas di sebelah seorang cewek Eropa, sebut saja namanya Lina.

Lina ini orangnya suka ngobrol, heboh — pokoknya seru deh. Awal-awalnya saya senang duduk di sebelah Lina. Soalnya orangnya ramai, jadi nggak bosan di kantor bisa haha hihi. Tapi lama-lama saya risih juga dengan si Lina ini. Soalnya doi selain suka haha hihi… juga suka kepo.

Misalnya saya lagi browsing hal pribadi dia suka datang, oh what are you looking at. Terus misalnya saya pulang awal karena ada appointment, dia berani lho tanya, appointment apa? Kalau dijawab dokter, nanti dia berani tanya lagi, dokter apa? Lama-lama bosan juga kan yaaa, memangnya kamu Mamiku, hahaha.

Anyway cerita ini tentang payung.

Di Auckland kan cuacanya nggak menentu, bisa cerah matahari terik lalu tiba-tiba badai hujan. Dan kalau hujannya deras anginpun kencang; menurut saya dua hal yang wajib dibawa ke mana-mana adalah jas hujan dan payung. Kalau nggak punya jas hujan ya payung juga oke. Daripada basah kuyup plus bete.

Payung kesayangan saya adalah payung lama yang awet. Belinya tahun 2014, dan sudah tahan kena badai berkali-kali tapi masih bisa dipakai. Beda dengan payung-payung yang saya beli ketika baru pindah ke sini, dipakai beberapa kali atau kena badai kencang lalu rusak. Akhirnya setelah menimbang-nimbang saya beli payung merek yang tidak murah tapi terkenal kualitasnya dan ada garansi lagi. Jadi kalau si payung rusak dalam jangka waktu 2 tahun (sekarang 5 tahun dan global aka seluruh dunia), bisa diganti yang baru. Ternyata si payung awet selama 4 tahun… sayangnya saya yang slebor ini karena demam tinggi naik bus untuk pulang ke rumah dari kantor, payungnya ketinggalan di bus… sedihhhnyaaaa…

Gak apa-apa, relakan. Belilah payung yang baru. Merek yang sama tapi sengaja beli yang ukuran lebih gede dan warna yang lebih ngejreng… alasannyaaaa supaya nggak ketinggalan lagi! Begitu balik ke kantor Lina melihat kotak payung yang baru, langsunglah dia tanya-tanya beli apa, beli di mana, harganya berapa.

Begitu saya sebut payungnya $119 Lina kaget setengah mati. Whaaaat, mahal sekali, begitu katanya. Lalu dia langsung manggil-manggil orang yang duduk sekitar, coba tebak berapa yang Mariska keluarkan buat beli payung. Lalu hari-hari besoknya dia masih bisa bercanda, jangan ketinggalan awas payungnya lebih mahal dari outfit keseluruhan si Lina… atau ya ampun payungnya seperti emas.

Deuh lama-lama bosan juga ya bercandaan (yang nggak lucu!) diulang-ulang. Padahal saya sudah jelaskan lho coba bayangkan dalam setahun kalau rusak payung beli beberapa kali pasti habisnya lebih banyak dari $119. Ini pengalaman pribadi, apalagi saya kan ke mana-mana jalan atau naik transportasi umum. Tahun 2013 saya ingat sekali beli payung sampai 4 kali, soalnya rusak terus (ini sebelum saya memutuskan investasi lah beli payung yang bagusan dikit).

Kalau kalian mendingan beli yang mahal di depan tapi jaminan awet apa yang murah saja sambil berharap-harap bakalan awet?

Kalau ada yang penasaran dengan payungnya boleh dicek di sini websitenya, memang si payung didesain untuk tahan banting dan tahan lama (sudah saya buktikan sendiri — kok jadi promosi, hahaha) tapi memang saya cinta banget dengan merek payung ini.

Hore, minggu depan Lina pergi liburan — hahahaha.

Advertisements

Ceritanya saya lagi iseng-iseng mainan Facebook, lalu lihat ada salah satu teman perempuan yang single posting foto anak temannya (memang dia ini dekat dengan ibunya si anak yang lucu). Yang paling menyebalkan dan bikin darah mendidih adalah salah satu komen di foto yang menurut saya nyebelin, rude, nggak pada tempatnya, sok, dan minta ditowel pake cobek.

Kenapa saya bilang sok? Habis foto profile-nya cewek yang comment di foto ini adalah fotonya bersama dua anaknya.

Mendidiiiiiih deh baca komennya apalagi bagian yang saya lingkari itu. Memangnya langsung saja deh sembarangan pacaran, nikah atau bikin anak dengan seseorang. Kan nggak bisa. Kenapa ya banyak orang yang pikirannya cetek begini *elus dada*. Belum ketemu pasangan yang cocok (ini bukan main-main, untuk masa depan lho) lalu dikomentari pilih-pilih. Dan yang sering dikomentari picky alias pilih-pilih ini hampir semuanya selalu perempuan, lho. Sudah umur tinggi sedikit, belum punya pasangan lalu katanya pilih-pilih. Kalo laki-laki ya gampang aja, dan nggak ada tuh yang bilang cowok itu koq picky banget sih dsb.

Saya ikutan kesel padahal bukan Facebook saya, hahaha. Secara juga, dua orang sahabat saya di Indonesia sering kena komentar seperti ini, sampai mereka berdua malas pergi ke acara ramai terutama pesta pernikahan.

Sahabat saya K pernah curhat, kalau ketika pergi ke acara pernikahan dirinya selalu mendapatkan interaksi seperti di bawah ini:
Tante-tante (T): Wahhhh K sebentar lagi giliran kamu dong, mana nih pacarnya?
K: Oh iya Tante doain aja ya.
T: Kamu pacar aja belom ada ya?
K: Belum tante, doain aja ya.
T: Wah kamu nih makanya jangan milih-milih! Nanti keburu umur! Pasti kamu cerewet yaa milih-milih pasangannya.

Aduh jleb banget nggak sih, dan karena norma sopan santun si K ya nggak bisa membalas kecuali dengan senyum.

Atau contoh lainnya teman saya si L, yang sering dinasihati temannya yang lain (yang sudah menikah) kalau jangan terlalu milih-milih, yang penting orangnya care dengan kita dan sebagainya. Yah pilihan orang beda-beda, tentu saja laki-laki yang baik itu banyak, tapi kecocokan kan penting yah! Apalagi sejak baca cerita-cerita In a Bad Marriage with a Good Husband dari Instagram Mbak Irassistible. Ngeriiiiii hiiiiii…

Saya jadi berusaha mau lebih peka kalau bercanda, supaya nggak nyakitin hati orang lain (atau bikin sebel stranger yang baca komennya, hahha)

Saya ini masih muda… tapi kadang mengalami saat-saat di mana nih otak rasanya bekerja dengan senior mode on, hahaha. Maksudnya, saya suka alpa dan slebor. Contoh mudahnya saja, dulu Mami rutin kalau kami sedang jalan bareng akan memperingatkan saya, “Awas tuh ada batu di depan.” Atau ada kaca dsb. Padahal kadang obyek yang diperingatkan olehnya supaya saya nggak nabrak, gede banget… tapi ya begitu, karena saya suka tersandung, nabrak dan sebagainya – Mami selalu memperingatkan. Sekarang tanpa sadar, si M melakukan hal yang sama! Saya ngakak, sebegitu alpanya kah saya?

Contoh lainnya saya suka panik… mana HP, kacamata, buah lemon dsb. Dan obyek yang menjadi sumber kepanikan saya bisa saja nyantol di kepala. Atau HP nggak ketemu lha ya orang saya mencarinya sambal teleponan… HPnya nyantol di kuping… jadi nggak kelihatan. Buah lemonnya? Dipegang di tangan! Oops… udah panik duluan dan saya kalo panik jantung berdebar dan tangan langsung keringatan.

Kenapa tiba-tiba nulis tentang ini? Karena tadi pagi saya habis ditertawakan oleh M.

Semalam entah kenapa kami tidurnya terlambat, jadi tadi pagi saya bangun dengan rasa ngantuk yang luar biasa. Tertatih-tatih saya melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk bersiap-siap kerja. Seperti biasa Loki menyambut dengan semangat, dan kebiasaannya adalah menemani saya bersiap-siap. Loki akan naik ke atas tempat cuci tangan sambal meong meong sampai saya selesai bersiap-siap.

Sehabis cuci muka, saya biasa memasang lensa kontak dulu sebelum mandi. Buka tempat lensa kontaknya… langsung panik dong. Mana nih lensa kontak kiri? Lho yang kanan kok nggak ada juga???? Meraung-raung deh saya. Lalu… baru sadar… nih mata kok terang banget padahal nggak pakai kacamata? Ya saudara-saudara dengan alpanya lensa kontak nggak sengaja dibawa tidur (pertama kali kejadian dalam 5 tahun belakangan nih!). Pantesan nggak ada di tempatnya. Lha ya masih nempel dengan mata saya sih!!

Oke, kalau begitu saya mau keluarkan dan dicuci deh supaya aman. Sayapun mencuci tangan dengan sabun supaya tangannya bersih sebelum mencopot lensa kontak. Setelah mencuci tangan, saya refleks meraih lap tangan yang digantung di sebelah kiri bawahnya sink. Sambil usap-usap kok tangannya nggak kering-kering… nengoklah saya ke kiri.

WUAAAAAAAAAHHHHHHHHHH pantesan saja usapan saya nggak mengeringkan tangan. Lha yang diusap bukannya kain lap tangan… tapi ekornya si Loki yang menggantung tepat di sebelah si lap tangan!!!!!!!!!!

Kudu cuci tangan ulang, diketawain pula oleh M, kok kamu pagi-pagi sudah ngaco saja…

Yaaaaa… sayapun ikutan ketawa deh. Sambil berjanji pada diri sendiri, nanti malam tidurnya tidak boleh terlambat lagi 🙂

Oke bonusnya foto saya saja deh di bawah, hehehe. Ceritanya habis ikutan voting (voting pertama saya di NZ) untuk pemilu tahun ini.

Ya, betul.

Kalau menaruh makanan di kulkas… kadang suka dipakai bersama! Bukan bekal ya tapi staple seperti misalnya margarin, selai, madu, yoghurt… saya pernah kehilangan satu kotak yoghurt plus dengan kotak khususnya. Saya kan membuat yoghurt di rumah jadi tanpa kotak khusus saya nggak bisa membuatnya lagi. Beli lagi deh kotak khususnya supaya bisa buat lagi di rumah.

Saya kapok juga membawa sekotak spread (butter atau margarin) untuk roti, soalnya cepet banget habisnya — dan bukan saya yang pakai! Dan para-para klepto yang males beli spread sendiri ini juga meninggalkan sisa remah roti mereka di dalam margarin ini. Karena pisau yang sudah dipakai untuk mengoles roti panggang, dipakai lagi deh untuk ambil margarin lagi…

Saya kapok membawa selai untuk roti panggang. Peanut butter saya dipakai orang, tanpa izin, dan mana yang makai nggak bersiiiih jadi pas saya menyentuh botol setelahnya, tutupnya berminyak. Sebel banget nggak sih!

Madu juga kalau ditaruh di dapur, pasti cepat habisnya walau sudah dituliskan nama pakai stiker yang buesaaaaaaar. Sulitnya karena meja duduk kami tidak banyak storage jadi hampir nggak mungkin menaruh semua makanan tersebut di meja pribadi.

Kok bisa sih saya hari ini nulis ini? Saya mengalami kejadian menyebalkan di kantor hari ini.

Berhubung perut saya tidak bisa mencerna susu biasa (yang disediakan oleh kantor), saya harus membawa susu khusus (lacto free, yang laktosanya sudah di-convert menjadi gula, jadi aman dikonsumsi perut dan rasa susu persis susu segar biasa hanya agak manis sedikit) untuk membuat kopi di kantor. Karena susu khusus ini gak ada yang botol besar, saya hanya bisa membeli yang botol kecil, dan nggak cukup untuk dipakai seminggu penuh. Jadi, saya membeli dua botol setiap kalinya, supaya kalau habis nggak repot buru-buru ke supermarket untuk membeli susu untuk bisa minum kopi, bikin bubur oat atau makan sereal.

Supaya tidak dikira botol susu bersama, kan warnanya mirip, jadi saya nulis nama dan menandai si botol pakai spidol merah menyala.

Sudah BUESAR DAN TERANG kan namanya… hari Rabu saya kehabisan botol yang lama. Ambillah botol baru. Begitu diambil… ternyata sudah ada yang minum. Ketika saya beli kondisi susu masih tersegel, dan yang ngambil ini berarti kan harus ambil botol, buka tutupnya, melepaskan segelnya dan diminum setengah. Masa sih kelewatan nama segede itu di spidol merah lagi!

Duhhhhhh kesalnya sampai ke ubun-ubun… karena saya tidak bisa minum susu yang lain. How rude and inconsiderate! Mungkin pada buta tidak bisa membaca nama di botol susu, dan karena kesal, saya bikinlah label yang dilaminating… untuk di sisi botol… dan di atas tutupnya! Nggak bisa salah lagi kan???

Mungkin, kalau masih ada yang minum juga bukan kepunyaan dan haknya, saya mau sambelin tuh susu diam-diam… sukurin deh minum kopi pedas hahaha, resiko tanggung sendiri!

Ingin cerita dan berbagi foto tentang salah satu hal favorit saya di daerah tempat tinggal kami di Auckland.

Saya termasuk salah satu yang beruntung bisa tinggal di suburbia/daerah perumahan di Auckland, New Zealand — tepatnya di daerah North Shore City (bagian Utara kota Auckland). Menurut saya nggak terlalu sumpek dan beruntungnya lagi rumah kami letaknya di pinggiran bukit yang pemandangan ke bawahnya sangat cantik. Selain pemandangan yang cantik, pemerintah (council) juga merawat taman dan daerah sekitar sehingga ada taman dan rute kecil untuk jalan alam mini. Menyegarkan, pokoknya, dan gratis! Hehehe. Di sini banyak yang jalan pagi, jalan sore, ajak anjing jalan-jalan, jogging, bersepeda dan seperti saya jalan pacaran ceritanya, ha ha ha.

img_7837Turun dari bukit (tentunya ada jalan setapaknya, seperti di buku Enid Blyton kalau saya bayangkan… berpetualaaaaang) bertemu dengan pemandangan ini. Tentunya dengan langit yang biru. Saya ini seperti kucing, kalau hujan, saya nggak keluar rumah.

img_7868Ini si M lagi memfoto rumah kami dari bawah bukit… rumahnya kelihatan di foto ini seperti titik kecil, hehehe. Lihat kan deretan rumah-rumah di atas bukit?? Itu perumahannya, di jalan utama dan ada rute busnya dan sebagainya.

img_7834Jalan kira-kira 10 menit dari rumah kami sampai ke rute jalan alam ini. Jalannya ya cuma tanah biasa seperti di atas, yang bagian kayunya adalah jembatan buatan.

img_7861

img_7862

img_7839

img_7877

Saya seumur hidup nggak pernah olah raga, tahun ini saya memulai. Pelan tapi pasti — sulit pastinya dong soalnya jarang gerak sih! Dengan adanya rute jalan alam ini sangat membantu jadi tidak bosan, dekat rumah juga. Karena saya nggak terlalu suka olah raga di gym, selain jalan ini saya juga ikut kelas bikram yoga (yoga di ruangan panas kira-kira 38-40 derajat celsius).

Saya suka sekali dengan rute jalan alam ini, karena kalau lagi matahari bersinar cerah, sepertinya dengan mudah kami bisa mendapatkan sedikit pelarian alias escape dari kehidupan kota… secara sehari-hari kerja di daerah city yang sibuk (sesibuknya sih nggak sampai sesibuk di daerah Senen misalnya ya, hehehe), pulang kerja pun balik ke rumah yang suasananya ya perumahan. Bisa kabur ke alam sebentar seperti ini, rasanya rileks dan badan pun segar kembali.

Setelah lama dalam waitlist kepengen banget, dan sering nonton Masterchef AU (baca: kebanyakan nonton) akhirnya saya punya juga sebuah food processor cantik! Udah kebayang di kepala chicken nugget, pastry, pasta yang gampang, pempek… anyway teman-teman saya nih baik banget, ulangtahun saya kemarin mereka ngumpulkan uang supaya saya bisa beli alat masak idaman ini, pilih sendiri. Walaupun sekarang dapurnya penuh sesak… ya iya lha itu gadget kok jadi banyak banget ya… tapi nggak apa-apa, hasilnya masuk perut ini, hahaha.

Kemarin beli ini karena suka dengan warnanya (lagi-lagi deh), tapi attachment-nya juga banyak dan dibanding yang lain, model ini lebih compact, tapi berat. Jadi nggak ringkih. Lalu asyik banget kebetulan waktu beli, diskon lumayan banyak juga. Penampakan boxnya yang besarrrr…

Ini dia penampakan dusnya ketika dibuka… warnanya katanya adalah warna cranberry. Seperti warna buah ceri terang menurut saya. Suka banget! Makasih ya teman-temanku.

Duduk manis di atas counter dapur. Di kanan itu kotak penyimpanan attachment-nya, bisa untuk macam-macam fungsi dari memotong, mengiris, bikin adonan dan sebagainya.

Percobaan pertama ngapain dong?

Buat bakso! Karena sudah lama sekali penasaran… dan sering lihat di Instagram yang tinggal di luar negeri dingin-dingin bisa ngebakso irinya diriku. Kalau beli, selain mahal juga kan banyak pengawetnya. Dan karena baksonya nggak ada yang style Indonesia, mereka kenyal sekali dan rasanya kurang enak menurut saya. Salah satu makanan kesukaan saya tuh bakso, sampai tante saya menjuluki saya anak bakso waktu kecil hahaha… di sekolahan karena makanan yang dijual harus halal, ya mie ayamnya kurang minyak nggak halalnya menurut saya kurang enak hahahaha… jadi hampir tiap hari, jam istirahat makanan saya adalah bakso.

Pulang kerja belilah sekotak daging sapi cincang segar. Seusai makan malam dan membersihkan si food processor baru, saya mencampurkan daging dengan putih telur, es batu, tepung sagu tani, baking powder, bawang putih goreng, bawang putih bubuk, bawang merah goreng, lada, garam… dan setelah diolah jadi seperti di bawah ini. Senaaaang banget!

Saya melakukan beberapa test bakso dari adonan yang sudah jadi, tambah sana sini lagi (garam, sagu, es batu) sampai menemukan tingkat rasa dan kekenyalan yang pas.

Senang banget sudah jadi baksonya! Untuk percobaan pertama okelah, rasa sudah oke banget, hanya problem di membalnya. Sudah cukup keras dan kata si suami, enak banget. Tapi saya mau membal seperti baksonya abang-abang hahaha… kata Mami harus pakai obat (semacam tepung bakso) tapi masa iya sih? Besok-besok kalau buat lagi saya ingin menambahkan tepung sagu dan es batunya. Namanya eksperimen kan. Tapi senangnya sekarang bisa stok bakso homemade di kulkas. Bentuknya nih, harus diperbaiki, karena nggak pernah mentol bakso, bulatannya masih kurang cantik.

Esok harinya di malam musim dingin yang menggigil, di rumah makan bakso pakai bihun! Rasanya puas sekali, apalagi buatan sendiri. Suami juga ngacungin jempol, katanya enak, mirip yang beli di Indonesia. Senang banget deh. Disajikan dengan cabe buatan sendiri, daun seledri, daun bawang, sayur… dan bawang goreng legendaris oleh-oleh dari Inly yang baik hati. Sumpah, bawang goreng buatan rumah Inly ini enak banget, yang doyan bawang goreng harus coba dan pesen sama Inly.