Archive

Life

Saya ini masih muda… tapi kadang mengalami saat-saat di mana nih otak rasanya bekerja dengan senior mode on, hahaha. Maksudnya, saya suka alpa dan slebor. Contoh mudahnya saja, dulu Mami rutin kalau kami sedang jalan bareng akan memperingatkan saya, “Awas tuh ada batu di depan.” Atau ada kaca dsb. Padahal kadang obyek yang diperingatkan olehnya supaya saya nggak nabrak, gede banget… tapi ya begitu, karena saya suka tersandung, nabrak dan sebagainya – Mami selalu memperingatkan. Sekarang tanpa sadar, si M melakukan hal yang sama! Saya ngakak, sebegitu alpanya kah saya?

Contoh lainnya saya suka panik… mana HP, kacamata, buah lemon dsb. Dan obyek yang menjadi sumber kepanikan saya bisa saja nyantol di kepala. Atau HP nggak ketemu lha ya orang saya mencarinya sambal teleponan… HPnya nyantol di kuping… jadi nggak kelihatan. Buah lemonnya? Dipegang di tangan! Oops… udah panik duluan dan saya kalo panik jantung berdebar dan tangan langsung keringatan.

Kenapa tiba-tiba nulis tentang ini? Karena tadi pagi saya habis ditertawakan oleh M.

Semalam entah kenapa kami tidurnya terlambat, jadi tadi pagi saya bangun dengan rasa ngantuk yang luar biasa. Tertatih-tatih saya melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk bersiap-siap kerja. Seperti biasa Loki menyambut dengan semangat, dan kebiasaannya adalah menemani saya bersiap-siap. Loki akan naik ke atas tempat cuci tangan sambal meong meong sampai saya selesai bersiap-siap.

Sehabis cuci muka, saya biasa memasang lensa kontak dulu sebelum mandi. Buka tempat lensa kontaknya… langsung panik dong. Mana nih lensa kontak kiri? Lho yang kanan kok nggak ada juga???? Meraung-raung deh saya. Lalu… baru sadar… nih mata kok terang banget padahal nggak pakai kacamata? Ya saudara-saudara dengan alpanya lensa kontak nggak sengaja dibawa tidur (pertama kali kejadian dalam 5 tahun belakangan nih!). Pantesan nggak ada di tempatnya. Lha ya masih nempel dengan mata saya sih!!

Oke, kalau begitu saya mau keluarkan dan dicuci deh supaya aman. Sayapun mencuci tangan dengan sabun supaya tangannya bersih sebelum mencopot lensa kontak. Setelah mencuci tangan, saya refleks meraih lap tangan yang digantung di sebelah kiri bawahnya sink. Sambil usap-usap kok tangannya nggak kering-kering… nengoklah saya ke kiri.

WUAAAAAAAAAHHHHHHHHHH pantesan saja usapan saya nggak mengeringkan tangan. Lha yang diusap bukannya kain lap tangan… tapi ekornya si Loki yang menggantung tepat di sebelah si lap tangan!!!!!!!!!!

Kudu cuci tangan ulang, diketawain pula oleh M, kok kamu pagi-pagi sudah ngaco saja…

Yaaaaa… sayapun ikutan ketawa deh. Sambil berjanji pada diri sendiri, nanti malam tidurnya tidak boleh terlambat lagi 🙂

Oke bonusnya foto saya saja deh di bawah, hehehe. Ceritanya habis ikutan voting (voting pertama saya di NZ) untuk pemilu tahun ini.

Screen Shot 2017-09-23 at 5.00.08 PM

Advertisements

Ya, betul.

Kalau menaruh makanan di kulkas… kadang suka dipakai bersama! Bukan bekal ya tapi staple seperti misalnya margarin, selai, madu, yoghurt… saya pernah kehilangan satu kotak yoghurt plus dengan kotak khususnya. Saya kan membuat yoghurt di rumah jadi tanpa kotak khusus saya nggak bisa membuatnya lagi. Beli lagi deh kotak khususnya supaya bisa buat lagi di rumah.

Saya kapok juga membawa sekotak spread (butter atau margarin) untuk roti, soalnya cepet banget habisnya — dan bukan saya yang pakai! Dan para-para klepto yang males beli spread sendiri ini juga meninggalkan sisa remah roti mereka di dalam margarin ini. Karena pisau yang sudah dipakai untuk mengoles roti panggang, dipakai lagi deh untuk ambil margarin lagi…

Saya kapok membawa selai untuk roti panggang. Peanut butter saya dipakai orang, tanpa izin, dan mana yang makai nggak bersiiiih jadi pas saya menyentuh botol setelahnya, tutupnya berminyak. Sebel banget nggak sih!

Madu juga kalau ditaruh di dapur, pasti cepat habisnya walau sudah dituliskan nama pakai stiker yang buesaaaaaaar. Sulitnya karena meja duduk kami tidak banyak storage jadi hampir nggak mungkin menaruh semua makanan tersebut di meja pribadi.

Kok bisa sih saya hari ini nulis ini? Saya mengalami kejadian menyebalkan di kantor hari ini.

Berhubung perut saya tidak bisa mencerna susu biasa (yang disediakan oleh kantor), saya harus membawa susu khusus (lacto free, yang laktosanya sudah di-convert menjadi gula, jadi aman dikonsumsi perut dan rasa susu persis susu segar biasa hanya agak manis sedikit) untuk membuat kopi di kantor. Karena susu khusus ini gak ada yang botol besar, saya hanya bisa membeli yang botol kecil, dan nggak cukup untuk dipakai seminggu penuh. Jadi, saya membeli dua botol setiap kalinya, supaya kalau habis nggak repot buru-buru ke supermarket untuk membeli susu untuk bisa minum kopi, bikin bubur oat atau makan sereal.

Supaya tidak dikira botol susu bersama, kan warnanya mirip, jadi saya nulis nama dan menandai si botol pakai spidol merah menyala seperti di bawah ini:


Sudah gede gitu kan namanya… hari Rabu saya kehabisan botol yang lama. Ambillah botol baru. Begitu diambil… ternyata sudah ada yang minum. Ketika saya beli kondisi susu masih tersegel, dan yang ngambil ini berarti kan harus ambil botol, buka tutupnya, melepaskan segelnya dan diminum setengah. Masa sih kelewatan nama segede itu di spidol merah lagi!


Duhhhhhh kesalnya sampai ke ubun-ubun… karena saya tidak bisa minum susu yang lain. How rude and inconsiderate! Mungkin pada buta tidak bisa membaca nama di botol susu, dan karena kesal, saya bikinlah label yang dilaminating… untuk di sisi botol… dan di atas tutupnya! Nggak bisa salah lagi kan???

Mungkin, kalau masih ada yang minum juga bukan kepunyaan dan haknya, saya mau sambelin tuh susu diam-diam… sukurin deh minum kopi pedas hahaha, resiko tanggung sendiri!

Ingin cerita dan berbagi foto tentang salah satu hal favorit saya di daerah tempat tinggal kami di Auckland.

Saya termasuk salah satu yang beruntung bisa tinggal di suburbia/daerah perumahan di Auckland, New Zealand — tepatnya di daerah North Shore City (bagian Utara kota Auckland). Menurut saya nggak terlalu sumpek dan beruntungnya lagi rumah kami letaknya di pinggiran bukit yang pemandangan ke bawahnya sangat cantik. Selain pemandangan yang cantik, pemerintah (council) juga merawat taman dan daerah sekitar sehingga ada taman dan rute kecil untuk jalan alam mini. Menyegarkan, pokoknya, dan gratis! Hehehe. Di sini banyak yang jalan pagi, jalan sore, ajak anjing jalan-jalan, jogging, bersepeda dan seperti saya jalan pacaran ceritanya, ha ha ha.

img_7837Turun dari bukit (tentunya ada jalan setapaknya, seperti di buku Enid Blyton kalau saya bayangkan… berpetualaaaaang) bertemu dengan pemandangan ini. Tentunya dengan langit yang biru. Saya ini seperti kucing, kalau hujan, saya nggak keluar rumah.

img_7868Ini si M lagi memfoto rumah kami dari bawah bukit… rumahnya kelihatan di foto ini seperti titik kecil, hehehe. Lihat kan deretan rumah-rumah di atas bukit?? Itu perumahannya, di jalan utama dan ada rute busnya dan sebagainya.

img_7834Jalan kira-kira 10 menit dari rumah kami sampai ke rute jalan alam ini. Jalannya ya cuma tanah biasa seperti di atas, yang bagian kayunya adalah jembatan buatan.

img_7861

img_7862

img_7839

img_7877

Saya seumur hidup nggak pernah olah raga, tahun ini saya memulai. Pelan tapi pasti — sulit pastinya dong soalnya jarang gerak sih! Dengan adanya rute jalan alam ini sangat membantu jadi tidak bosan, dekat rumah juga. Karena saya nggak terlalu suka olah raga di gym, selain jalan ini saya juga ikut kelas bikram yoga (yoga di ruangan panas kira-kira 38-40 derajat celsius).

Saya suka sekali dengan rute jalan alam ini, karena kalau lagi matahari bersinar cerah, sepertinya dengan mudah kami bisa mendapatkan sedikit pelarian alias escape dari kehidupan kota… secara sehari-hari kerja di daerah city yang sibuk (sesibuknya sih nggak sampai sesibuk di daerah Senen misalnya ya, hehehe), pulang kerja pun balik ke rumah yang suasananya ya perumahan. Bisa kabur ke alam sebentar seperti ini, rasanya rileks dan badan pun segar kembali.

Setelah lama dalam waitlist kepengen banget, dan sering nonton Masterchef AU (baca: kebanyakan nonton) akhirnya saya punya juga sebuah food processor cantik! Udah kebayang di kepala chicken nugget, pastry, pasta yang gampang, pempek… anyway teman-teman saya nih baik banget, ulangtahun saya kemarin mereka ngumpulkan uang supaya saya bisa beli alat masak idaman ini, pilih sendiri. Walaupun sekarang dapurnya penuh sesak… ya iya lha itu gadget kok jadi banyak banget ya… tapi nggak apa-apa, hasilnya masuk perut ini, hahaha.

Kemarin beli ini karena suka dengan warnanya (lagi-lagi deh), tapi attachment-nya juga banyak dan dibanding yang lain, model ini lebih compact, tapi berat. Jadi nggak ringkih. Lalu asyik banget kebetulan waktu beli, diskon lumayan banyak juga. Penampakan boxnya yang besarrrr…

Ini dia penampakan dusnya ketika dibuka… warnanya katanya adalah warna cranberry. Seperti warna buah ceri terang menurut saya. Suka banget! Makasih ya teman-temanku.

Duduk manis di atas counter dapur. Di kanan itu kotak penyimpanan attachment-nya, bisa untuk macam-macam fungsi dari memotong, mengiris, bikin adonan dan sebagainya.

Percobaan pertama ngapain dong?

Buat bakso! Karena sudah lama sekali penasaran… dan sering lihat di Instagram yang tinggal di luar negeri dingin-dingin bisa ngebakso irinya diriku. Kalau beli, selain mahal juga kan banyak pengawetnya. Dan karena baksonya nggak ada yang style Indonesia, mereka kenyal sekali dan rasanya kurang enak menurut saya. Salah satu makanan kesukaan saya tuh bakso, sampai tante saya menjuluki saya anak bakso waktu kecil hahaha… di sekolahan karena makanan yang dijual harus halal, ya mie ayamnya kurang minyak nggak halalnya menurut saya kurang enak hahahaha… jadi hampir tiap hari, jam istirahat makanan saya adalah bakso.

Pulang kerja belilah sekotak daging sapi cincang segar. Seusai makan malam dan membersihkan si food processor baru, saya mencampurkan daging dengan putih telur, es batu, tepung sagu tani, baking powder, bawang putih goreng, bawang putih bubuk, bawang merah goreng, lada, garam… dan setelah diolah jadi seperti di bawah ini. Senaaaang banget!

Saya melakukan beberapa test bakso dari adonan yang sudah jadi, tambah sana sini lagi (garam, sagu, es batu) sampai menemukan tingkat rasa dan kekenyalan yang pas.

Senang banget sudah jadi baksonya! Untuk percobaan pertama okelah, rasa sudah oke banget, hanya problem di membalnya. Sudah cukup keras dan kata si suami, enak banget. Tapi saya mau membal seperti baksonya abang-abang hahaha… kata Mami harus pakai obat (semacam tepung bakso) tapi masa iya sih? Besok-besok kalau buat lagi saya ingin menambahkan tepung sagu dan es batunya. Namanya eksperimen kan. Tapi senangnya sekarang bisa stok bakso homemade di kulkas. Bentuknya nih, harus diperbaiki, karena nggak pernah mentol bakso, bulatannya masih kurang cantik.

Esok harinya di malam musim dingin yang menggigil, di rumah makan bakso pakai bihun! Rasanya puas sekali, apalagi buatan sendiri. Suami juga ngacungin jempol, katanya enak, mirip yang beli di Indonesia. Senang banget deh. Disajikan dengan cabe buatan sendiri, daun seledri, daun bawang, sayur… dan bawang goreng legendaris oleh-oleh dari Inly yang baik hati. Sumpah, bawang goreng buatan rumah Inly ini enak banget, yang doyan bawang goreng harus coba dan pesen sama Inly.

Berhubung saya punya proyek Instagram (klik di sini) dan blog makanan baru (klik di sini) saya ingin mencoba peruntungan saya dalam berkebun lagi. Tahun 2015 saya sempat bercerita tentang niat berkebun saya. Sayangnya, tanaman-tanaman tersebut (ada mint, rosemary, parsley dan spring onions) satu-satu mati… tangan saya nih betul-betul nggak hijau. Kali ini ganti strategi, tanamannya ditaruh di halaman depan rumah yang sering saya lewati supaya saya ingat untuk disayang-sayang. Memang untung nggak disangka, ketika bertanya tips berkebun kepada temannya M yang berkebunnya sukses sekali, dia malah menawari ambil saja tanaman di rumahnya untuk bibit supaya saya nggak perlu beli.

Pulang dari rumahnya yang asri (dan ada kucing serta ayam-ayam yang lucu dan gemuk-gemuk sayangnya saya lupa foto) dikasih hadiah rosemary, catnip dan cabe segar-segar! Duh terimakasih sekali, bisa buat masak minggu depan nih. Loki juga sangat senang dan ceria dapat catnip yang luar biasa banyaknya.

Tanaman yang diberikan olehnya saya pindahkan ke pot saya. Ini tanaman mint, catnip dan rosemary. Nanti saya mau beli tanaman kecil untuk coriander (ketumbar) dan thyme yang sering saya gunakan dalam masakan sehari-hari.

Untung lagi yang nggak disangka dan sangat disyukuri, teman kerja saya pindah rumah. Ketika pindah ini tanaman lemon dan limaunya di dalam pot, nggak ikut dibawa karena rumah barunya minim tempat di kebun. Ditawarkan ke saya, gratis… dan diantarkan ke rumah pula! Benar-benar terima kasih sekali, apalagi timingnya yang tepat banget kan ketika saya mau mulai berkebun lagi.

img_6867

Foto penampakan tanaman dan buah limaunya yang cantik dan segar-segar, semoga beneran nggak mati! Ada tips, boleh dong dibagi untuk saya yang baru mulai berkebun ini!

Nasi goreng petai yang enak dan mengobati kangennya dengan rumah. Piring di atas ini adalah piring masa kecilnya Mamiku, lho! Konon waktu kecil setiap hari beliau makannya dengan piring ini, hebat banget kualitasnya sudah berumur 50 tahun masih bagus. Masak ini hasil dari inspirasi karena SMS-an dengan Stephanie malam sebelumnya, hahaha… Resep sudah diposting di sini ya!

Terakhir, penampakan si Loki aja nih karena bisa lihat panjangnya dia dibandingkan bantal sofa kami.

Semoga weekend kalian bermanfaat dan penuh warna juga, ya!

Bulan Juni 2016 yang lalu (wow tepat setahun lho) saya sempat bercerita di blog tentang customer service berkesan yang saya terima di NZ sini. Sekedar lanjutan cerita pelayanan bagus dari toko tas tersebut, saya membeli tasnya. Beberapa bulan kemudian tassel (gantungan)nya copot dan ketika menghubungi mereka, pemilik toko (yang juga membuat tasnya dengan tangan) baik banget mengirimkan kurir untuk jemput tasnya di kantor, diperbaiki (gratis lho!) dan dikembalikan ke saya dalam waktu yang cepat. Pokoknya berkesan banget deh dan sampai sekarang saya masih rekomen orang untuk membeli tas di sana.

Kali ini saya mau berbagi cerita tentang pelayanan sangat berkesan yang saya terima di awal bulan.

Ceritanya, akhir bulan lalu saya dan suami beli breadmaker alias mesin pembuat roti. Iseng banget deh, dan seru lho memakainya. Foto-foto sudah diambil dan nanti saya mau cerita tersendiri tentang si breadmaker ini. Belinya secondhand alias bekas. Siang hari sebelum menjemput mesin, kami sudah semangat banget mau buat roti malamnya, jadi belilah tepung protein tinggi plus ragi di supermarket. Di rumah sih, ada ragi sachet, tapi sudah kadaluarsa beberapa bulan sebelumnya jadi beli saja yang baru pikir saya. Jemput mesin roti sorenya, seusai makan malam kami semangat langsung mencoba mesinnya… nunggu dengan semangat… keluarnya BAAAANTEEETT PUOLLL.

Sedih nggak sih? Sudah semangat mau makan roti, keluarnya pucat dengan berat batu bata pula. Saya kira kami pakai resep yang salah. Si M curiga mungkin raginya rusak, soalnya selain nggak ngembang tuh roti nggak ada bau khas raginya. Cek di Google katanya untuk mengecek ragi masih aktif atau tidak adalah memberi ragi air hangat dan sedikit gula. Kalau adonan raginya menggelembung, artinya tuh ragi masih bagus. Kami tes dua ragi, ragi yang baru (yang dipakai) dan yang kadaluarsa. Alangkah kekinya begitu 10 menit telah lewat, ragi kadaluarsa menggelembung hebat sementara yang beli siangnya nggak ada reaksi.

Berita baiknya kamipun coba buat lagi (kali ini dipasang timer supaya rotinya jadi waktu kami bangun esok harinya) memakai ragi kadaluarsa yang ternyata masih gagah perkasa tersebut. Jadi lho, tuh roti dan cantik pula. Berita jeleknya ya kok ragi yang baru beli siangnya malah matiiiikk… sayapun memfoto bukti ragi yang tiren itu dan mengirimkannya ke Facebook page Edmonds. Lha janjinya tuh ragi “sure to rise” kok malah mati kemaren sore?

Wah tanpa disangka, respon dari pesan Facebook itu cepat sekali. Dalam kurun beberapa jam saja saya menerima balasan panjang lebar. Bukan hanya meminta maaf, si layanan konsumen ini juga meminta nomor kode ragi untuk diselidiki mengapa kok nggak bagus, dan meminta alamat saya untuk mengirimkan voucher tanda maaf mereka katanya. Seminggu kemudian, kami dapat surat. Pas nerima suratnya saya kira surat dari rumah sakit soalnya amplopnya serius sekali. Wah mengesankan pokoknya, karena tuh surat tanda tangannya betulan pake bolpen, bukan yang di-print bareng kertasnya.

Penampakan surat dan ragi tiren tersebut.
Beda banget dengan pelayanan jelek yang saya terima dari suatu brand makanan ringan kecil di sini. Snacknya katanya produksi keluarga (usaha kecil), dan enak sih, tapi saya nemu kertas aluminium foil kecil di salah satu biskuitnya. Komplen ke Facebook, ditanggapi tapi lama dan nggak memberikan penjelasan apa-apa. Saya pun nggak membeli makanan ringan tersebut lagi.

Baru pertama kali dapat surat permintaan maaf formal, terus ada voucher buat beli dua pack raginya. Lumayanlah dapat pengganti ragi yang tiren plus satu pack lagi untuk obat bete… hahaha… ini mah alamat kita makan roti terus ya. Baru pertama kali dalam 29 tahun hidup di dunia ini saya komplen tentang suatu produk, komplen yang sangat sederhana tapi ditanggapi sebaik ini.

Terimakasih Goodman Fielder NZ, yang dengan sigap menanggapi komplen dan feedback pelanggan.

Beberapa hari yang lalu, saya mimpi rumah kami di Jakarta kemasukan banyak orang dan kami ngumpet di dalam… begitu orang-orang sudah dekat, sayapun terbangun. Mimpi yang masih saya alami, skenario yang sama, dari dulu. Ketika mimpinya muncul, sayapun jadi terkenang, kejadian 19 tahun yang lalu, yang darimana mimpi ini berasal. Melihat kalender, wah… ternyata sebentar lagi harinya. Karena itu saya memutuskan, setelah dulu-dulu bilang kapan-kapan mau ditulis, sekaranglah saatnya saya menuliskan pengalaman ini.

Screen Shot 2017-05-13 at 12.28.08 PM.pngMami dan saya pada masa itu… foto diambil waktu liburan ke Penang, Malaysia tapi lupa tepatnya kapan. Di foto saya berumur 9 tahun.

19 tahun yang lalu saya hanyalah seorang anak piyik yang berusia 9 tahun. Seorang anak kecil yang sebentar lagi bakal merayakan ulang tahun yang kesepuluh. Waktu itu saya berambut pendek sebahu, pakai kaca mata dan suka memakai baju gombrong supaya saya lebih mirip kakak saya yang laki-laki.

Saya masih ingat hari itu, kami semua nggak ada yang masuk sekolah. Mami dan Papi nggak pergi ke toko. Seminggu menjelang hari itu, Mami sudah dapat bocoran dari tukang yang suka mengantarkan barang ke tokonya, dari tukang ojek yang suka mangkal di dekat sana dan suka dikasih makanan oleh Mami, kalau akan ada kerusuhan yang menargetkan ras kami. Saya nggak ingat persis detailnya hari itu bagaimana, yang jelas sekitar daerah perumahan kami sudah ditulisi “MILIK PRIBUMI”.

Pagi itu, saya dan kakak didudukkan oleh Mami dan Papi. Kami di dalam rumah, ngumpet di kamar mandi yang lumayan besar yang letaknya di dalam kamar utama, dan kebetulan pintu keluar kamar utama kami dekat dengan pintu belakang. Kamar mandi yang bernuansa warna cokelat, ada bathtubnya yang juga warna coklat dengan lantai kotak-kotak kecil. Agak panas dan pengap karena AC tidak dinyalakan di kamar. Radio dinyalakan untuk memantau arah massa, telepon dipegang di dekat untuk menunggu kabar dari teman dan sanak saudara.

Kata Mami, kalau orang-orang memasuki rumah, kami akan langsung lari. Papi bertugas menggandeng saya, Mami akan membawa kakak. Lari ke rumah Pak Haji di belakang yang baik hati, entah kenapa kami hari itu nggak langsung ngumpet di sana saja, entahlah, saya nggak paham. Pakaian saya disuruh ganti oleh Mami. “Biasanya pake baju jelek hari ini keren amat pake bajunya!” — masih terngiang ucapan Mami di telinga saya. Saya memegang boneka kelinci coklat kesayangan saya, yang berbaju gaun bermotif bunga-bunga kecil di kain berwarna hijau gelap. Oleh Mami saya disuruh jangan membawa bonekanya. Nanti takut dikira orang menyembunyikan uang, katanya.

Hari itu kami sangat beruntung. Massa yang sudah dekat sekali dengan komplek perumahan kami, tidak mendatangi komplek. Toko Mami dan Papi pun selamat dari penjarahan berkat kebaikan mereka selama ini kepada orang-orang di sekitar sehingga mereka menjaga keamanan toko. Selama hampir seminggu lamanya kami tidak keluar rumah, tidak bekerja, tidak sekolah.

Beberapa teman dekat saya tidak beruntung, karena mereka terkena, untunglah tidak ada yang luka apa-apa. Hanya trauma saja yang menyisa dan tak terlihat. Sayapun sampai sekarang, kalau di rumah sendirian, suka waspada kalau-kalau ada yang mau masuk ke rumah… sampai M suka geleng-geleng kok istrinya mudah terkejut dengan suara di rumah… ha ha ha.

19 tahun berlalu. Tahun depan tepat 20 tahun. Hari yang tidak akan pernah saya lupakan, yang memori melekat di hati, yang membuat saya sadar kalau hidup ini adalah singkat dan harus dijalani sebaik-baiknya.

Oh iya, kalau kalian bagaimana? Adakah cerita atau ingatan khusus di hari ini? Share di comment dong kalau ada 🙂

Disclaimer: Postingan ini hanya sekedar membagi pengalaman saja, tidak ada maksud apa-apa. Dari dulu saya memang suka kepikiran untuk menuliskannya apalagi sejak comment dengan Febri di salah satu postingannya yang dulu.