Archive

March: 15 Days Writing Challenge

Yay! Akhirnya day 15 dan artinya selesai jugalah writing challenge ini. Walau telat dua hari nggak apa-apa kan yaa… maunya selesai Maret tapi apa kendala karena kesibukan (atau kemalasan, nih?) jadinya postingan terakhir adalah tanggal 2 April.

Apa ya best compliment yang pernah saya dapatkan?

Mungkin dua minggu lalu, ketika salah seorang teman saya bilang, you’re compassionate and thoughtful.

Karena kadang saya suka merasa egois sama orang. Walaupun ternyata, tidak begitu. Dan harus lebih baik ke diri sendiri. Di mana saya merasa saya masih banyak kurangnya, ternyata di mata teman saya, saya lebih banyak lebihnya dari kurangnya 🙂 suatu kalimat yang singkat tapi membantu kepercayaan diri naik lagi.

Kalau boleh hanya nonton satu film saja seumur hidup, saya mau nonton film apa ya? Duh bingung banget karena saya orangnya melankolis dan suka nonton film yang bernuansa muram, hahaha, tapi saya juga suka film yang menyentuh hati.

Screen Shot 2017-03-31 at 6.39.52 PM

Pasti semua sudah pada tahu kaaan film ini apa… hehehe. Ya, ini film Love Actually yang jadoel itu. Kenapa saya pilih film ini? Karena nonton ini, sisi melankolis saya tersentuh di beberapa bagiannya, tetapi akhir-akhir nonton pasti saya merasa senang, good mood, feel good deh pokoknya!

Ceritanya sendiri sederhana, segmen-segmen cerita orang-orang yang sepertinya nggak berhubungan satu sama lain menjelang Natal di kota London. Makin filmnya berjalan, makin kita melihat koneksi di antara tokoh-tokoh di dalam film. Ceritanya seputar cerita cinta, ya lha judulnya Love gitu loh.

Kalau boleh memilih, cerita favorit saya adalah cerita seputar rumah tangga Alan Rickman – Emma Thompson. Yang paling saya nggak suka, cerita seputar karakter tokohnya Laura Linney. Ah jadi pengen nonton lagi nanti malam! Dan tahu nggak, film pendek sekuel yang mempertontonkan karakternya sekarang ngapain (ya, tahun 2017!) ada di Internet! Judulnya Red Nose Day.

Favorit saya ya… duh saya orangnya paling sulit disuruh memilih hal-hal favorit, karena kesukaannya banyak. Tapi untuk postingan ini akan dicoba pilih salah satu dari semuanya.

 

Song | “Into Everything” – by Telepopmusik

Nggak tahu banyak gak ya yang tahu Telepopmusik? Saya suka sekali dari jaman kuliah, dan lagu ini nggak bosan-bosannya saya dengarkan. Bahkan baru weekend kemarin saya dengarkan lagi. Ini dia link video Youtube-nya di sini kalau ada yang mau mendengarkan.

 

Quote | “Love won’t happen till you try to cross the great divide.”

Quote ini dari lirik lagu judulnya The Great Divide, yang nyanyi Velvetine. Saya suka sekali mix dari Myon and Shane 54-nya… anyway pas saya dengarkan lagunya pertama kali, kalimat ini ngena banget. Iya lah kalau mau mencintai (pasangan, teman atau keluarga) harus mau mencoba untuk menjadi lebih baik, kompromi, mau mengalah. Kalau nggak yang ada ya berantem dong.

 

Food | Noodles

Comfort food saya ya apapun jenis mie. Apapun jenis mie-nya saya suka! Seringkali saya ngidam-ngidam makan mie entah pagi, siang, tengah malampun sering. Pokoknya kalau nawarin saya makan mie nggak bakalan saya tolak deh.

 

Vacation Spot | Bali

Saya suka sekali Bali. Harganya terjangkau, alamnya indah, makanannya enak, mau ke waterpark juga ada. Pokoknya senang banget. Ideal saya kalau ke Bali, maunya bangun siang, makan enak, creambath… siang-siang baru keluar.

 

 

Kalau saya boleh memilih satu hal pada diri saya yang tidak akan pernah mau saya ubah seumur hidup… mungkin adalah sifat empati saya.

Saya sebelumnya nggak pernah sadar kalau saya memiliki tingkat empati yang tinggi. Saya pikir sudah wajar dan seharusnya kita ikutan sedih dan sensitif dengan hal-hal di sekitar kita – dan semakin saya besar saya semakin sadar bahwa empati orang lain itu sulit ditemukan.

Hal yang buat saya biasa dan sudah seharusnya, tapi saya jarang menemukan hal yang sama dilakukan orang sekitar terhadap saya. Kalau ada yang cerita dengan saya, saya otomatis menaruh diri saya sendiri di posisinya. Ikutan merasakan emosinya. Dan berusaha kalau tidak diminta, saya tidak akan kasih saran. Saya mendengarkan saja.

Sadar ini juga merupakan suatu ‘hadiah’ dari sahabat saya yang nulis surat panjaaaaang sekali untuk saya ketika saya sedang down, dan mengatakan pada saya secara mendalam tentang tingkat empati yang saya miliki.

Nah jeleknya dari si empati, mood saya ngikut dengan mood orang di sekitar saya. Misalnya orang rumah lagi bete atau nggak senang, sayapun ikutan nggak senang. Tapi walaupun begini saya nggak mau mengubah sifat yang saya miliki karena buat saya lebih banyak keuntungannya… dengan ini juga sebetulnya saya jadi lebih peka dengan perasaan orang lain (maksudnya kalau orang sedang nggak senang, saya pun bisa merasakan).

My Most Embarrassing Moment to Date

 

Hari yang paling memalukan untuk diriku adalah suatu hari di tahun 2000, tepatnya di pertengahan tahun. Lupa tepatnya bulan apa, yang pasti adalah semasa libur sekolah karena kami di Pontianak, Kalimantan Barat sedang berlibur di rumah alm. Oma Diana (biasanya kami hanya ke sana saat liburan sekolah saja).

Ingatan saya terhadap siang tersebut masih agak lengkap. Saya ingat hari itu panas terik, menyengat ala hawa Khatulistiwa. Ketika itu, hanya ada Mami dan kakak saya yang ke sana, Papi tidak ikut. Nah saya sewaktu kecil ini umur 12 tahun, senang kalau ke Pontianak karena tempat alm. Oma tinggal dulu lingkungannya banyak orang Chinese (mayoritas) jadi saya diizinkan keluar rumah sendiri buat jajan. Kalau di Jakarta, jangan harap deh, main ke rumah tetangga saja harus diantar jalan oleh minimal kakak saya.

Rumah alm. Oma dulu ada di daerah jalan besar, karena rumahnya adalah tiga buah ruko dijadikan satu rumah tinggal yang ada tamannya. Jadi di sekitar sana banyak yang bisa dilihat, dari kedai kopi, warung, sampai tempat penyewaan VCD dan komik pun ada. Saya ingat siang itu Mami sedang pergi membeli durian dengan Paman saya, kakak dan saya menyeberang jalan untuk jajan es selasih kesukaan saya, sekaligus nonton penghitungan suara pemilu. Waktu itu saya senang banget karena di daerahnya Megawati menang. Alasannya cilik sekali, karena Megawati kan perempuan. Jadi saya senang dong perempuannya menang pemilihan suara lokal. Pendukungnya pun menyanyikan seruan coblos nomor 4, Megawati PDI Perjuangan.

Nah waktu dulu ini (sampai sekarang sih) saya orangnya ragu… takut menyeberang. Ketika mau nyeberang saya tengok kanan kiri kalau kosong. Setelah selesai minum es selasih dan nonton pemungutan suara saya dan kakak pun jalan pulang ke rumah Oma… dan kejadian memalukan itupun terjadilah.

Tengok kanan, kosong. Tengok kiri, kosong. Larilah gadis cilik yang pakai kaos tua itu (saya dulu demennya pakai kaos yang sudah tua, karena adem). Lalu… JEDER…. Lagi lari, tiba-tiba ada motor muncul dan menabrak saya! Sepertinya tuh motor muncul dari gang di dekat tempat pemilu. Kan saya lihat kanan kosong waktu sebelum saya lari. Ya saya masih ingat tuh ditabraknya dari kanan.

Memalukan banget, saya dikerumunin orang-orang yang heboh. Sandal jepit saya copot terbang. Terus si pengemudi motor menyalahkan saya… katanya lari-lari di jalan sih. Yah pokoknya memalukan banget kalau diingat (kalau saya sekarang bakalan ngamukin si pengemudi motor itu, masa jelas-jelas anak kecil ditabrak, malah dimarahin sih! Orangnya mungkin remaja akhir belasan atau awal 20 tahunan). Lalu saya pun meyakinkan orang-orang yang berkerumun kalau saya masih bisa jalan. “Lihat nih!” ucap saya menahan malu, sambil melompat. “Saya masih bisa jalan kok!” Kerumunan pun bubar. Masa itu masih kecil, belum mengerti kalau yang namanya sakit sehabis luka itu datangnya nanti, bukan ketika tubuh masih dalam kondisi shock.

Pulang ke rumah Oma, kakak saya sudah duluan sampai dan mengadukan saya. Sambil ketawa-ketawa lagi, makin malulah saya… pokoknya maluuuuunya masih ingat sampai sekarang. Saya dinyanyikan seruan coblos no 4 PDI oleh kakak saya (sampai bertahun-tahun kemudian malah, kalau beritanya muncul, saya pasti diledek, untung sekarang sudah nggak meledek lagi hahaha). Oma pun membersihkan luka saya, dan ketika dibersihkan baru kelihatan di telapak kaki ada yang sampai bolong karena terlindas. Ketika Mami pulang tentunya kakak saya sudah menyambut dan menyongsong di depan sambil ngadukan saya… Mami pun masuk, nenteng durian di kedua tangannya pakai kaos putih (memang ingatan macam gini jelas banget ya, masih ingat pula lengkap dengan lantai rumah si Oma yang warna coklat gradasi) – panik dan ingin melihat keadaan saya.

Saya nggak diomelin hari itu, tapi sesudahnya diomelin (dan maluuu) karena saya nyebrang nggak lihat-lihat katanya (suer saya lihat lho, dan kosong bagian kanan – mungkin salah saya adalah saya lari), dan merasa bersalah si Mami diomelin oleh Papi karena saya ditabrak waktu dalam jagaan Mamilah ceritanya.

Kalau ditanya pengalaman paling memalukan saya selalu teringat cerita ini. Malunya masih kadang suka merembes di hati kalau ingat nyanyian ledekan dan kerumunan orang-orangnya… hahaha. Tuh luka sudah sembuh semua, kecuali yang bekas bolong di telapak kaki, masih kelihatan sedikit kalau diperhatikan 🙂

Describe the best day of your life to date.

Probably day 2 of our mini moon. Jadi setelah kemarin nikah kami menginap dua malam dari Jumat ke Minggu di Waiheke Island, 45 menit ferry dari Auckland.

Kenapa berkesan sebagai best day? Jadi memang bener-bener bersantai banget hari Sabtu itu. Kami menyewa Air BnB satu kamar yang pemandangannya bagus sekali, dengan balkon yang menghadap ke alam. Bangun hari Sabtu pagi (bangunnya siang sih, jam 8.30an) saya menyiapkan kopi (disediakan plunger coffee oleh pemilik rumah) dan menikmatinya sambil mengagumi pemandangan. Kebetulan cuaca juga bagus sekali, semilir angin, tidak begitu panas.

Screen Shot 2017-03-17 at 5.55.57 PM

Usai minum kopi kami bersiap-siap untuk ke Ostend Market, semacam weekend market di Waiheke. Jalan ke halte, naik bus, menikmati pemandangan… tiba di daerah Ostend kami makan di pasar, melihat barang-barang antik dan vintage, melihat daerah sekitar Ostend… balik ke pusat kota Waiheke, jalan santai keluar masuk toko, menikmati kopi, es krim dan snack. Lalu jalan balik ke penginapan untuk istirahat, santai, bersiap-siap makan malam di restoran yang sangat luar biasa enaknya — terimakasih kepada salah satu bos saya yang memberikan voucher makan malam untuk kami.

Sepanjang hari kami hanya ngobrol berdua, benar-benar bersantai sambil menikmati company satu sama lain.

Memang simpel, tapi terkadang di tengah kehidupan yang sibuk dan cepat-cepat, menikmati waktu bersantai dengan pasangan rasanya benar-benar spesial.

Karena kecenderungan saya yang suka curhat terus nanti merepet ke mana-mana, saya tuliskan masing-masing satu saja dari The Good, The Bad and The Ugly ini. Apalagi nggak mau terjun ke ranah yang terlalu pribadi ‘yang dalam-dalam’ hahaha.

Topik kali ini, tentang hubungan saya dengan orang-orang di sekitar. Biar ada temanya.

The Good
Saya orangnya memiliki empati yang tinggi. Pokoknya kalau ada teman, walau nggak dekat, baru kenal doang pun, sedang susah — saya ikutan sedih, dan mau membantu walau hanya sebagai pendengar curhat saja. Karena ini juga saya senang memberikan teman-teman saya hadiah, kejutan kecil ataupun hanya sebatas email selamat pagi di kantor. Buat saya kalau lihat teman senang, saya ikut senang.

The Bad
Karena ini saya jadi suka dimanfaatkan orang deh… beberapa hanya cari saya kalau sedang butuh teman curhat, hahaha. Karena saya orangnya nggak bisa langsung judes dengan orang, makanya the bad-nya saya jadi suka keki sendiri. Dan kalau saya sudah keki banget dengan orang… duh tuh orang napas saja sudah salah.
Jeleknya lagi karena saya kalau ngobrol campuran di Whatsapp, Facebook Messenger, dan iMessage saya sering lupa… keteteran. Nanti lupa balas habisnya pesan yang masuk banyak, apalagi Mami dan saya komunikasi setiap hari. Maafkan saya yang pelupa ya, kadang saya baca terus sedang sibuk pikir ah balas nanti. Terus lupa deh -_-” tapi biasanya kalau hal penting, selalu saya usahakan balas secepatnya sebelum kena penyakit lupa ini.

The Ugly
Berlanjut ke orang yang napas saja sudah susah… saya susah melupakan kalau ada orang yang jahat sama saya. Saya masih ingat satu-satunya yang nggak diundang ke pesta ulangtahun seorang anak di kelas 2 SD dulu, soalnya saya sedang dimusuhi anak populer. Hahaha, kelas 2 SD lho. Dan masih banyak lainnya. Belajar let go, untuk saya pelan-pelan. Mungkin semacam sekali kaujahati selamanya takkan kulupakan kali ya, hahaha.

Recommend a book for us to read. Why do you think it’s important?

Buku yang mengesankan untuk saya. Ceritanya banyak yang terkenang dan mengena di hati, serta berkat jasa penerjemahnya, bahasanya membuat saya ingin terus membaca sampai akhir. Buku ini sebetulnya nggak akan pernah saya lirik di toko buku. Tahun 2006 kami sekeluarga liburan ke Cina. Kakak saya yang memang suka membaca segala macam buku yang lebih berbau serius dari adiknya yang demennya chicklit dan novel cewek, membawa buku ini untuk dibaca di perjalanan. Begitu ia selesai membacanya, untuk mengisi waktupun saya pinjam untuk baca… dan saya suka sekali. Sudah saya baca beberapa kali dan setiap membacanya saya masih merasakan perasaan yang sama ketika pertama kali membaca. Si buku, sekarang tersampul rapi dan ikut dengan saya ke NZ 🙂

Screen Shot 2017-03-14 at 9.42.31 PM.png

Interpreter of Maladies by Jhumpa Lahiri

Buku kumpulan cerpen berlatar belakang kisah-kisah orang India yang tinggal di Amerika Serikat. Untuk saya ceritanya sederhana, tapi menyentuh dan semakin saya membacanya semakin banyak makna yang saya dapatkan dari cerita di dalam buku. Cerita-cerita dalam buku inipun jujur dalam perasaan para tokoh-tokohnya dan nggak hanya menjual happy ending dan cerita beramuan feel good. Kalau bisa saya deskripsikan, mungkin cerita-cerita dalam buku ini mengajarkan saya tentang harapan atau ‘hope’ — dan bagaimana sesederhananya kita bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari mungkin dampaknya terhadap orang lain bisa begitu besar (walau kadang kita nggak menyadarinya).

Ada cerita tentang seorang penjaga gedung tua yang punya kisah hidup miris dan menyedihkan dan lika-liku kehidupan masa tuanya tanpa rumah, tanpa harta. Ada juga seorang wanita barat yang menjalin hubungan cinta perselingkuhan dengan pria India. Lalu cerita tentang sepasang suami istri yang hubungannya telah mendingin, seorang gadis muda dengan penyakit aneh dengan lingkungan sekitarnya, dan sebagainya.

Buku ini menang Pulitzer Prize untuk bagian fiksi tahun 2000.

 

What’s something you’ve always wanted to do but haven’t? Why?

Mikir untuk nulis postingan ini, untuk menjawab pertanyaannya, saya menyadari saya tuh orangnya bener-bener tipe yang suka menunda hahaha… makanya ikut challenge menulis 15 hari inipun, harus ditekadkan kalau harus selesai dan harus dilakukan… nggak boleh menunda. Beberapa hal yang ingin saya lakukan, tapi belum kesampaian (dalam kesempatan, kesuksesan maupun niat) tapi nggak semuanya dituliskan deh, beberapa saja… mengutip kata Deny, report ya bukan curhat… hahaha.

  • Mendapatkan surat izin mengemudi
    Setiap kali ke jalanan, rasanya saya keringat dingin, sakit perut, tingkat kecemasan akut pun naik. Saya belum berani menyetir sendirian sampai sekarang. Terakhir nyetir, saking grogi-nya, saya sampai lupa memasang sabuk pengaman hahaha… saya masih belajar sampai sekarang, walaupun pelan-pelan tapi namanya mengalahkan rasa takut memang perlu waktu yang lama ya. Apalagi kalau banyak pengemudi yang gampang marah… lihat saya mengemudi pelajar, pelan-pelan, nanti mereka bakalan berusaha nyalip saya (yang bikin makin takut!).
    Setiap hari, di sini pasti ada berita kecelakaan mobil (entah mobil dengan mobil, bus, truk, sepeda, sepeda motor dan variasi lainnya) karena pengemudi yang lalai. Makanya saya sudah tebal kuping dibilang ah nyetir di sana mah gampang, nggak seperti di Indonesia/Jakarta… ya beda orang beda lah ya. Apalagi saya selalu mikir, saya nyetir nggak sendiri, ada yang menemani, kalau kecelakaan berarti nyawa kami berdua taruhannya.
  • Menulis buku
    Dari SMU saya sudah mulai nulis novel. Tapi sampai sekarang semuanya berhenti di tengah jalan, stuck, ide mati atau niat mati di tengah jalan, dan belum ada yang selesai. Jalan cerita sih setiap hari pasti ada kepikiran tetapi menyisihkan waktu untuk menulisnya saya belum sempat.
  • Membuat roti ala Indonesia
    Saya beli buku baking roti NCC dan sampai sekarang satupun belum saya eksekusi, padahal saya doyan banget roti ala Indonesia dan di sini mencari roti enak isi baso, duh susah dan nggak ada.
  • Lari setengah atau full marathon
    Salah satu bucket list, tapi saya orangnya kurang fit dan sampai sekarang belum berkomitmen untuk ikutan latihannya.
  • Online business
    Nah ini dia salah satu hal yang saya belum realisasikan. Padahal ide sudah ada, plan sudah ada, bahkan saya sudah mulai men-sketsa packaging, label, dan sebagainya. Tapi setiap hari saya pulang kantor aduh rasanya sulit banget untuk memulai merealisasikan bisnis kecil ini, saya dalam tahap harus memilih produk yang akan dijual sekarang.