Archive

Ngarol Ngidul

Saya ini masih muda… tapi kadang mengalami saat-saat di mana nih otak rasanya bekerja dengan senior mode on, hahaha. Maksudnya, saya suka alpa dan slebor. Contoh mudahnya saja, dulu Mami rutin kalau kami sedang jalan bareng akan memperingatkan saya, “Awas tuh ada batu di depan.” Atau ada kaca dsb. Padahal kadang obyek yang diperingatkan olehnya supaya saya nggak nabrak, gede banget… tapi ya begitu, karena saya suka tersandung, nabrak dan sebagainya – Mami selalu memperingatkan. Sekarang tanpa sadar, si M melakukan hal yang sama! Saya ngakak, sebegitu alpanya kah saya?

Contoh lainnya saya suka panik… mana HP, kacamata, buah lemon dsb. Dan obyek yang menjadi sumber kepanikan saya bisa saja nyantol di kepala. Atau HP nggak ketemu lha ya orang saya mencarinya sambal teleponan… HPnya nyantol di kuping… jadi nggak kelihatan. Buah lemonnya? Dipegang di tangan! Oops… udah panik duluan dan saya kalo panik jantung berdebar dan tangan langsung keringatan.

Kenapa tiba-tiba nulis tentang ini? Karena tadi pagi saya habis ditertawakan oleh M.

Semalam entah kenapa kami tidurnya terlambat, jadi tadi pagi saya bangun dengan rasa ngantuk yang luar biasa. Tertatih-tatih saya melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk bersiap-siap kerja. Seperti biasa Loki menyambut dengan semangat, dan kebiasaannya adalah menemani saya bersiap-siap. Loki akan naik ke atas tempat cuci tangan sambal meong meong sampai saya selesai bersiap-siap.

Sehabis cuci muka, saya biasa memasang lensa kontak dulu sebelum mandi. Buka tempat lensa kontaknya… langsung panik dong. Mana nih lensa kontak kiri? Lho yang kanan kok nggak ada juga???? Meraung-raung deh saya. Lalu… baru sadar… nih mata kok terang banget padahal nggak pakai kacamata? Ya saudara-saudara dengan alpanya lensa kontak nggak sengaja dibawa tidur (pertama kali kejadian dalam 5 tahun belakangan nih!). Pantesan nggak ada di tempatnya. Lha ya masih nempel dengan mata saya sih!!

Oke, kalau begitu saya mau keluarkan dan dicuci deh supaya aman. Sayapun mencuci tangan dengan sabun supaya tangannya bersih sebelum mencopot lensa kontak. Setelah mencuci tangan, saya refleks meraih lap tangan yang digantung di sebelah kiri bawahnya sink. Sambil usap-usap kok tangannya nggak kering-kering… nengoklah saya ke kiri.

WUAAAAAAAAAHHHHHHHHHH pantesan saja usapan saya nggak mengeringkan tangan. Lha yang diusap bukannya kain lap tangan… tapi ekornya si Loki yang menggantung tepat di sebelah si lap tangan!!!!!!!!!!

Kudu cuci tangan ulang, diketawain pula oleh M, kok kamu pagi-pagi sudah ngaco saja…

Yaaaaa… sayapun ikutan ketawa deh. Sambil berjanji pada diri sendiri, nanti malam tidurnya tidak boleh terlambat lagi 🙂

Oke bonusnya foto saya saja deh di bawah, hehehe. Ceritanya habis ikutan voting (voting pertama saya di NZ) untuk pemilu tahun ini.

Screen Shot 2017-09-23 at 5.00.08 PM

Advertisements

Ya, betul.

Kalau menaruh makanan di kulkas… kadang suka dipakai bersama! Bukan bekal ya tapi staple seperti misalnya margarin, selai, madu, yoghurt… saya pernah kehilangan satu kotak yoghurt plus dengan kotak khususnya. Saya kan membuat yoghurt di rumah jadi tanpa kotak khusus saya nggak bisa membuatnya lagi. Beli lagi deh kotak khususnya supaya bisa buat lagi di rumah.

Saya kapok juga membawa sekotak spread (butter atau margarin) untuk roti, soalnya cepet banget habisnya — dan bukan saya yang pakai! Dan para-para klepto yang males beli spread sendiri ini juga meninggalkan sisa remah roti mereka di dalam margarin ini. Karena pisau yang sudah dipakai untuk mengoles roti panggang, dipakai lagi deh untuk ambil margarin lagi…

Saya kapok membawa selai untuk roti panggang. Peanut butter saya dipakai orang, tanpa izin, dan mana yang makai nggak bersiiiih jadi pas saya menyentuh botol setelahnya, tutupnya berminyak. Sebel banget nggak sih!

Madu juga kalau ditaruh di dapur, pasti cepat habisnya walau sudah dituliskan nama pakai stiker yang buesaaaaaaar. Sulitnya karena meja duduk kami tidak banyak storage jadi hampir nggak mungkin menaruh semua makanan tersebut di meja pribadi.

Kok bisa sih saya hari ini nulis ini? Saya mengalami kejadian menyebalkan di kantor hari ini.

Berhubung perut saya tidak bisa mencerna susu biasa (yang disediakan oleh kantor), saya harus membawa susu khusus (lacto free, yang laktosanya sudah di-convert menjadi gula, jadi aman dikonsumsi perut dan rasa susu persis susu segar biasa hanya agak manis sedikit) untuk membuat kopi di kantor. Karena susu khusus ini gak ada yang botol besar, saya hanya bisa membeli yang botol kecil, dan nggak cukup untuk dipakai seminggu penuh. Jadi, saya membeli dua botol setiap kalinya, supaya kalau habis nggak repot buru-buru ke supermarket untuk membeli susu untuk bisa minum kopi, bikin bubur oat atau makan sereal.

Supaya tidak dikira botol susu bersama, kan warnanya mirip, jadi saya nulis nama dan menandai si botol pakai spidol merah menyala seperti di bawah ini:


Sudah gede gitu kan namanya… hari Rabu saya kehabisan botol yang lama. Ambillah botol baru. Begitu diambil… ternyata sudah ada yang minum. Ketika saya beli kondisi susu masih tersegel, dan yang ngambil ini berarti kan harus ambil botol, buka tutupnya, melepaskan segelnya dan diminum setengah. Masa sih kelewatan nama segede itu di spidol merah lagi!


Duhhhhhh kesalnya sampai ke ubun-ubun… karena saya tidak bisa minum susu yang lain. How rude and inconsiderate! Mungkin pada buta tidak bisa membaca nama di botol susu, dan karena kesal, saya bikinlah label yang dilaminating… untuk di sisi botol… dan di atas tutupnya! Nggak bisa salah lagi kan???

Mungkin, kalau masih ada yang minum juga bukan kepunyaan dan haknya, saya mau sambelin tuh susu diam-diam… sukurin deh minum kopi pedas hahaha, resiko tanggung sendiri!

Ternyata pada tahun 2015 saya pernah menulis singkat tentang Bahasa Unik NZ – Part 1 yang dengan sayangnya terlupakan dan saya nggak pernah menulis part 2-nya… hahaha… maafkan saya yang suka terlanda kemalasan dan kurang niat ini. Kali ini saya mau berbagi lebih banyak lagi slang alias bahasa Inggris unik a la New Zealand. Pakai bentuk list saja supaya mudah dibaca dan nggak kepanjangan ceritanya, hehehe. Siapa tahu berguna untuk kalau ada yang mau berkunjung kemari, atau nambah pengetahuan bahasa Inggris model unik gini 😀

  • Dairy: selain arti harafiahnya yaitu produk dari susu, dairy adalah kata lainnya convenience store/minimarket. Jadi kalau ada yang bilang, “Go to the dairy.” atau “Getting it from the dairy.” ini maksudnya pergi ke kios minimarket kecil.
  • Lolly/lollies: sebutan untuk permen dan manisan.
  • Cooked: istilah “He/she is getting cooked.” atau “He/she’s so cooked.” maksudnya artinya ini orang udah mabuk banget hahaha.
  • Chook: ayam… contoh, seperti ayam panggang jadinya roast chook 🙂
  • Ta: ini artinya terima kasih/thank you. Waktu baru sampai di sini, saya bingung lihat teman saya yang berkomunikasi dengan anaknya pakai ‘ta’ kirain ‘ta’ itu bahasa bikinannya teman saya ini untuk minta barang dari anaknya. Nggak tahunya artinya terima kasih, hehehe. Di kantor juga banyak yang pakai kata ‘ta’ ini… untung saya sekarang ngerti kalau nggak maluuuuu.
  • Cheers: atau bisa juga bahasa gaulnya “chur”. Semacam kata ganti untuk terima kasih, juga bisa digunakan untuk ganti kata “regards” di komunikasi tertulis.
  • Brolly: ini singkatannya umbrella, alias payung. Dulu saya bingung disuruh bawa brolly oleh senior di kantor, apa ituuuu brolly hahaha. Gak tahunya payung 🙂
  • Gummies: bukan gummy bear ya… gummy bear mah lolly seperti di atas hahaha. Gummies ini singkatannya gumboots alias sepatu boots dari bahan karet, yang dipakai di kala hari hujan dan jadi bechyeeek ga ada ojyeeeek.
  • Hot chips: kentang goreng — kalo ngomong fries banyak yang nggak tahu, lho!
  • Chips/chippies: keripik kentang
  • Crook: sakit… contoh kalimatnya “Oh I feel so crook!” maksudnya ini saya nggak enak badan (bukan body not delicious yaaa… hahaha).
  • Jelly: selain arti harafiahnya jelly makanan itu, bisa jadi singkatan iri alias “jealous” — contohnya “I’m so jelly you get to go to the concert.”
  • Piss: artinya alkohol. Kalo misalnya mau minum-minum mabok, orang bisa bilang “I’m getting on the piss.”
  • Takeaways: istilahnya untuk gerai/makanan cepat saji terjangkau (tapi bukan model McD gitu-gitu) yang dibawa pulang. Misalnya saya bilang, “Let’s get takeaways for dinner.” jadi artinya adalah yuk bungkus makanan. Gerai takeaway biasanya di food court, atau komplek perumahan dan nggak ada tempat duduknya. Jadi memang didisain untuk makanannya dimakan di rumah masing-masing.
  • Bugger: artinya persis dengan “Oh, no” jadi misalnya saya cerita tentang kemalangan yang saya alami, teman bisa mengungkapkan rasa prihatinnya dengan bilang “Bugger!” tapi pengucapannya nggak dipakai r di belakang, jadi seperti ba-ga’
  • Piece of piss: artinya gampaaaaaaang… kalau di bahasa Inggris biasa artinya mirip dengan piece of cake.
  • Chilly bin: tas pendingin/cooler box yang bisa dibawa-bawa kalau piknik itu lhoo.
  • Wheelie bin: kotak sampah yang bisa ditarik.
  • Crash here/there: artinya nginap di rumah orang, bukan nabrak hahaha.

Segini dulu yang mau saya share hari ini… semoga bisa membantu atau jadi hiburan karena kata-katanya banyak yang lucu menurut saya. Nanti kalau mood lagi saya akan bikin part 3-nya (semoga penundaan tidak menjadi 2 tahun lamanya, hihihihi).

Alergi… adalah teman baruku sejak dewasa. Tepatnya sejak umur 25 ke atas kira-kira.

Waktu kecil sampai remaja — dan hingga awal umur dua puluhan, saya sehat sekali. Selain masalah muka jerawatan di kala puber dini (dulu julukan saya Jelita alias Jerawat Lima Juta karena ketika umur 12-13 saya jerawatan parah, di mana teman-teman belum jerawatan, tapi untungnya ketika yang lain mulai berjerawat jerawatku pun musnah) saya nggak pernah mendapatkan masalah yang berurusan dengan kulit sensitif, alergi makanan, alergi macam-macam. Pokoknya hidup bebas dan tanpa beban takut ini itu, ha ha ha…

Sejak umur 25 ke atas ini, waduh kok mendadak saya memiliki banyak teman baru ya… yaitu si alergi-alergi menyebalkan ini. Munculnya tiba-tiba, tak terduga dan malah beberapa hal yang dulunya saya oke-oke saja, sekarang jadi bermasalah.

Gigitan Serangga/Nyamuk
Dulu, kalau digigit nyamuk di kulit saya hanya berbekas bentok merah kecil saja yang sama sekali nggak gatal, lalu dalam dua hari pudar dan hilang sendiri. Asyik banget!
Sekarang???
Kalau terkena gigitan nyamuk pasti bentol dan gatal, dan jadi besar-besar…
Sementara gigitan serangga lebih parah. Dua tahun yang lalu saya terkena gigitan di pangkal kaki yang membengkak besar, jadi panas dan keras seperti batu. Alhasil saya harus diinfus antibiotik keras selama dua hari berturut-turut, setelah sembuh bekas bengkaknya pun menjadi gelap dan lama baru hilang.

Debu
Seumur-umur saya biasa saja dengan debu, apalagi mainnya di toko kayu Mami dan Papi yang berdebu banget pastinya. Sekarang kalau ketemu debu saya pasti bersin-bersin dan hidungnya jadi merah.

Lactose Intolerant/Intoleransi Laktosa
Ini ketahuan setelah swab dari usus perut saya (dengan kamera dan selang yang dimasukkan lewat tenggorokan). Karena saya ada intoleransi laktosa ini tidak aman untuk saya mengkonsumsi produk dairy (susu, keju, krim…) – kalau mengkonsumsi dalam jumlah besar perut jadi sakit, anginan, lalu setorlah ke toilet atau setor udara yang nggak mengenakkan banget, ha ha ha.
Untungnya menurut dokter intoleransi saya masih dalam batas yang tidak parah/intens jadi saya masih bisa makan produk dairy sedikit-sedikit (yogurt boleh, susu sedikit boleh, keju sedikit-sedikit juga masih oke). Kalau kepengin makan yang banyak, bisa — asal minum obat penangkalnya yaitu pil lactese (untuk membantu perut mencerna dairy). Dokter juga menyarankan jangan tidak mengkonsumsi sama sekali karena tubuh saya butuh kalsium.
Intoleransi laktosa ini ternyata hal yang wajar lho di ras orang Asia karena perut kita rata-rata belum berevolusi menghasilkan enzim laktosa di perut yang diperlukan untuk mencerna dairy.
Selama ini sih saya santai-santai saja, sehari-hari mengurangi produk dairy berlebih (misalnya susu diganti dengan lacto-free milk, nggak makan krim dsb) – tapi sekali-sekali ketika ingin, saya masih makan juga. Toh jarang dan juga, ada penangkalnya.

Obat Maag
Salah satu obat maag yang sering diresepkan dokter (termasuk untuk radang usus, sariawan di usus dan sebagainya) adalah obat yang mengandung proton pump inhibitor. Pengalaman saya jelek sekali – ketika mencoba obat ini untuk meredakan gejala maag di perut, saya sukses masuk rumah sakit. Perut sakit, badan merah dan bengkak, tenggorokan pelan-pelan menutup dan membuat saya sesak napas – alhasil saya harus disuntik adrenalin.
Nggak lagi-lagi deh dan saya pun menjauhi obat dengan kandungan ini, dengan sedih sih, soalnya saya punya gastritis yang harusnya kan bisa dengan mudah diobati menggunakan obat ini. Sayangnya saya alergi.

Perhiasan
Duh ini bikin sedih banget. Dulu saya bisa memakai apapun yang saya mau. Sekarang memakai anting sudah jaminan pasti kuping saya akan panas dan bengkak (mau coba anting dari bahan apapun, sampai beli yang hypoallergenic juga nggak bisa). Untungnya kalung dan cincin masih oke. Minggu ini saya bersedih sekali karena saya memakai jam tangan pemberian M untuk hadiah anniversary kami beberapa tahun yang lalu… dan pergelangan tangan saya iritasi, membentuk seperti arloji tersebut. Jadi sekarang tuh jam harus dipensiunkan dini, deh.

Plaster
Salah satu yang menyebalkan dan munculnya baru tahun 2015. Ingat sekali karena setelah reaksi alergi terjadi semua plaster di rumah diganti jadi yang hypoallergenic. Ceritanya saya luka di paha dan saya tutup dengan menggunakan plaster biasa lalu saya pun tidur.
Tengah malam… saya bangun karena paha saya panas. Ada apa gerangan… kupikir tuh luka infeksi?? Ternyata tidak, tapi kulit saya meradang dari plasternya. Di paha saya sampai sekarang ada bekas luka yang berbentuk plaster walau sudah sedikit lebih pudar. Jadi, saya harus berhati-hati dengan jenis lem/perekat yang digunakan oleh plaster untuk kulit saya.

Duh untungnya selain ini, saya nggak alergi yang lain (misalnya seafood atau gluten) atau muka saya jadi nggak cocok dengan skincare yang biasa saja. Bangkrut deh kalau disuruh beli skincare yang mahal-mahal, ha ha ha…

Kalian ada alergi juga nggak? Share di kolom komen dong kalau ada ceritanya yang menarik!

Kali ini saya ingin bercerita beberapa pengalaman unik/awal/berkesan tentang papasan/ketemu nggak sengaja dengan orang Indonesia di tempat umum di New Zealand. Lumayan sering papasan atau dengar orang ngobrol Bahasa Indonesia di jalanan, mal, supermarket dan sebagainya. Sering di sini nggak tiap hari ya, mungkin sebulan sekali. Beberapa minggu yang lalu saya di Queenstown juga sempat papasan dengan pasangan Indonesia. Yang nyikut dan ngasih tau saya si M. Dia bilang “They’re saying ini… iniii…” dengan nada orang milih barang gitu hahahaha. Papasannya di toko souvenir.

Pengalaman pertama manis sih. Katanya orang Indonesia ramah-ramah? Iyaaaaa iyaaa… pengalaman yang pertama ini terjadi pada bulan kedua saya di Auckland. Sedang jalan-jalan di K Mart (department store murah) bersama dua teman serumah saya yang juga orang Indonesia (berangkatnya bareng dari agen sekolah yang sama). Kami papasan dengan sebuah keluarga muda kecil Indonesia yang RAMAH BANGET. Papa, mama dan anaknya perempuan… minggu depannya sekeluarga ini main ke apartemen kami yang mungil, bawa makanan. Ramah, baik, welcoming… ah berkesan deh, tapi saya nggak lanjut temenan dengan mereka.

Pengalaman kedua yang teringat… waktu saya baru di sini juga. Tahun pertama, tahun 2011 dan nggak kenal banyak orang – disarankan ikut organisasi tapi saya kurang minat, maklum karena sibuk, sekolah lalu bekerja part time. Papasan deh sama dua cewek Indonesia, kalau dengar dari gaya pakaiannya dan gaya ngomongnya… pasti deh orang Jakarta. Saya iseng, lagi good mood, jadi menyapa. Halo, dari Indo yaa (insert senyum semanis madu di sini). Whuaaaahh… katanya orang Indonesia ramah-ramah? Ngggaaaaaak semuaaaaa… saya mendapatkan jawaban berupa “Iya.” yang singkat, padat, jelas, tak terlanjutkan dan sebuah hadiah kecil tatapan naik dari atas kepala ke bawah kaki. Kabur ah! Itu pertama dan terakhir kali saya menyapa orang Indonesia duluan kalau nggak kenal. Niatku mau ramah aku malu… hihihi.

Pengalaman yang ketiga, lucu banget. Ceritanya saya dan teman lagi antre McDonald’s. Kami waktu itu dilemma banget mau makan apa, belum memutuskan, dan saking asyiknya saya nggak sadar di belakang yang tadinya nggak ada orang sekarang ada orang yang menunggu. Seorang Ibu kira-kira umur 50an dan anaknya kira-kira sepantaran saya lah, laki-laki. Si tante sepertinya kurang sabar… lalu nyelonong ke depan kami dan taruh order ke kasirnya, anak remaja yang mukanya langsung bingung situasi seperti ini mau diapakan. Muka saya kan mata sipit kulit kuning nggak langsat, jadi si Tante pasti nggak menyangka saya ngerti omongannya seterusnya.
Si anak mukanya merah karena malu, bilang, “Mama nggak boleh gitu… antre Ma.”
Lalu si Tante dengan agak berapi (walau ngomongnya nggak kencang, tapi nadanya biasa saja jadi saya bisa dengar) menjawab, “Habis mereka cewek-cewek ini LELETT buangeeeet (ngomongnya ditarik) sihhhhh… Mama kan laaaappeeerrr… biarin aja nih cewek-cewek sukurin tahu rasa kalo lelet ya keduluan orang!”

Ya sudah, saya pun jalan beberapa langkah, menundukkan kepala soalnya si Tante lebih pendek dari saya lalu saya berkata, “Gak apa-apa kok, Tante kalau laper, duluan aja.” Lengkap dengan senyum semanis madu a la saya hahaha… si Tante pun gelagapan dan menjawab pelan dan halus, “Oh… orang Indo juga yaa…” huahahaha… saya bukannya kesel tapi malah tertawa dalam hati. Teman saya juga ikutan ketawa! Habisnya mau nyolot terselubung malah ketahuan kan… makanya hati-hati deh kalau ngomong di tempat umum (saya juga) – daripada malu, ngomong macam-macam ternyata orangnya ngerti lagi diomongin yang nggak enak 🙂

Lebih dari setengah dekade tinggal di NZ sini… nggak terasa saya jadi slebor… hahaha. Selebor ini dalam artiannya percayaan, kurang waspada (kalau pakai bahasanya Mami saya). Orang Kiwi di sini, kebanyakan percayaan, baik, ramah — dengan tingkat kriminalitas yang menurut mereka tinggi ya, tapi kalau dibandingkan dengan negara-negara yang saya tinggali sebelumnya, wuih nggak sama sekali.

Percayaan ini dalam artian, nggak punya prasangka buruk dengan orang lain, pokoknya percaya deh kalau orang lain itu sama-sama jujur.

Mereka bisa lho jualan lepas dan ditinggal. Beberapa minggu yang lalu, saya pergi ke Matakana market (kira-kira sejam dari Auckland). Karena parkiran sekitar market penuh, kami parkir agak jauh dan jalan ke market. Sepanjang jalan… banyak rumah-rumah di dekat sana yang ikutan jualan juga. Ada yang jualan buah, tanaman kecil (contoh, Vietnamese mint di dalam pot kecil) dan sebagainya. Jualan-jualan ini semuanya ditinggal di luar rumah, ada yang ditaruh gitu aja di bak plastik, ada juga yang niat dengan meja papan kayu tua. Sayang, saya lagi sibuk minum kopi jadi nggak kepikiran mau difoto. Setiap jualan ini ada harganya (biasa ditulis dengan spidol di karton kardus bekas) dan… disediakan wadah (contohnya kaleng atau kotak bekas es krim) untuk uangnya!

Ya, mereka percaya saja tuh kalau orang membeli dagangannya, nanti bayar uangnya pas dengan jujur yang lewat nggak iseng mengambil uangnya. Saya juga pernah lihat di tepi jalanan kota kecil nanti ada seperti kotak kayu kecil yang mirip halte bus bentuknya, tapi tujuannya untuk orang jualan buah — dan nggak ada yang jaga. Mobil-mobil yang lewat bisa melihat dari tanda di papan buah apa yang dijual dan berapa harganya. Kalau mau beli ya stop saja, ambil buahnya, lalu membayar dengan menaruh uang tunai di wadah yang disediakan.

Salah satu teman kerja saya yang tinggalnya dekat dengan Matakana itu bercerita, kalau di rumahnya susu yang mereka minum adalah susu segar. Setiap dua hari sekali mereka menaruh botol susu (bahannya dari gelas dan transparan) di depan pintu rumah di pagi hari, dengan uang untuk botol berikutnya, nanti tukang antarnya akan ambil botol kosong dan menaruh botol baru dengan susu yang penuh.

Cerita begini kebanyakan yang di luar kota besar. Kalau di kota-kota besar (seperti di Auckland sini), sudah semakin ramai. Hidup susah. Banyak imigran. Ketidakpercayaan pun muncul di mana-mana.

Walaupun begitu tetep saja menurut standar saya yang tumbuh besar di Jakarta… masih aman bangetttt.

Saya berani saja tuh jalan sendirian walaupun di malam hari. Tas ya jarang diresleting. Ditenteng gitu aja. Kadang saya suka mikir aduh lupa ditutup nanti ada yang copet bagaimana. Selama 6 tahun nggak pernah kena copet walau slebor gitu. Kalau di Jakarta, harta bendaku pasti sudah habis tak bersisa hahaha… Kadang kalau malas bawa tas ya saya pegang saja HP dan dompet di tangan. Makan, ditaruh di meja tanpa diawasi. Kalau di Jakarta… makan di restoran di mal saja barang berharga masuk tas, yang ditutup rapat dan ditaruh di pangkuan, saking seringnya dengar cerita seraaaaam di mana-mana (apalagi orangtua saya tuh sering banget mengirimkan berita kriminal dengan modus terbaru di Indonesia).

Kejujuran juga tinggi. Misalnya duluuuuuu waktu baru ke sini, saya sempat pinjam buku di perpustakaan di mana tuh buku terselip waktu saya pindahan apartemen. Selang setahun kemudian, saya nemu bukunya ketika bongkar tas, dan cerita sepintas lalu dengan M. Ditanyain, kapan mau dikembaliin? Saya bilang ah nanti aja karena nggak sempat (ini sifat jelek banget jangan ditiru ya!)… hasilnya adalah saya dikuliahi macam-macam, disuruh kembalikan buku secepatnya dan bayar denda telat yang memang merupakan kewajiban saya.

Soal penipuan, saya juga jadi lebih ‘kurang awas’ — kali ini, pakai istilahnya Papi… hahaha. Dulu, waktu beli mobil saya transfer dulu malam sebelumnya. Besok sore baru diambil mobilnya. Kalau di Jakarta lha ya takut, banyak curigaan. Padahal ya saya masih curigaan dan awas juga sih. Kadang misalnya kami lagi ngapain gitu, lalu saya berkomentar, “Tapi kalau begini ________ bagaimana?” — M pasti bilang “It’s such an Indonesian thing to say.” maksudnya karena kecurigaan saya macam-macam skenarionya. Lah ya harus, di Indonesia kan buaaaanyaaakkk penipuan. Orang-orangnya kreatif.

Anyway postingan ini idenya dari foto di bawah ini. Saya tadi sore melihat ini di sebuah toko. Payung yang boleh dipinjam pelanggan kalau lagi hujan, mau jalan balik ke mobilnya. Nanti dikembalikan. Saya terpana, soalnya lagi-lagi ingat di Jakarta… apalagi payung kualitas bagus. Gratiskan? Jaminan yang balik, pasti nggak lebih dari seperempatnya jumlah payung deh.

“As a child my Mum said I was very easy to feed.”
“What changed?” one of my peers sarcastically asked, trying to make a joke.

Nothing has changed. The difference is I value for what I pay for, with the money I earn with hard work, more.

I don’t consider myself as fussy. When I go to my friend’s house, my parents’ house, or wherever where I get people cooking me my meals as a favour (this includes my own husband), as their way of hospitality, as a nice thing to do, I eat what I get given on the plate. I feel thankful, I don’t kick up a fuss.

But when I pay $7 for a two minute cup noodles in the airplane and the person who makes it goes way over the water pour line and makes my food bland, I don’t like it.

When I buy a $17 plate of schnitzel for lunch and it comes smothering in sauce (despite nothing in the menu indicates so), I cringe. I would have asked for sauce on the side. What’s the best part of eating schnitzel? The crispy crumb. And nope I did not get that.

When I ask for no peanuts on my pad thai yet I get peanuts on it. With $15 a pop. Don’t I have the right to be ‘fussy’ and not liking my meal?

I can be ‘fussy’ as most of the time I cook my own meals, thank you very much. The times when I don’t pay for the meals I don’t kick up a fuss about what I like or dislike. And when I pay for those meals and get disappointed, or simply get served bad meals, or go to an Asian eatery to find an absolute bastarised version of a dish that I grew up with (sorry Indonesians and Koreans, gado-gado salad with kimchi does exist) do I then lose my right to not like it in order to conform, and be a kinder member of society rather than be labelled as ‘fussy’?

I have a right to not like tomatoes in my burger. I don’t ask you to take them off my burgers when I myself forget to ask it off.

I have a right to not like ice cream on my waffles. I paid for my waffles AND always ask nicely to have it on the side.

I have a right to not want to eat chicken thighs on my meal. Because a) I almost always cook my own chicken meals and b) when we eat out I always, always ask the cut of meat they use and/or ask for breast only.

The list goes on.

Leave me alone. I don’t ask people to pay for my food — let alone cook it for free.