Archive

Nostalgia

Beberapa hari yang lalu, saya mimpi rumah kami di Jakarta kemasukan banyak orang dan kami ngumpet di dalam… begitu orang-orang sudah dekat, sayapun terbangun. Mimpi yang masih saya alami, skenario yang sama, dari dulu. Ketika mimpinya muncul, sayapun jadi terkenang, kejadian 19 tahun yang lalu, yang darimana mimpi ini berasal. Melihat kalender, wah… ternyata sebentar lagi harinya. Karena itu saya memutuskan, setelah dulu-dulu bilang kapan-kapan mau ditulis, sekaranglah saatnya saya menuliskan pengalaman ini.

Screen Shot 2017-05-13 at 12.28.08 PM.pngMami dan saya pada masa itu… foto diambil waktu liburan ke Penang, Malaysia tapi lupa tepatnya kapan. Di foto saya berumur 9 tahun.

19 tahun yang lalu saya hanyalah seorang anak piyik yang berusia 9 tahun. Seorang anak kecil yang sebentar lagi bakal merayakan ulang tahun yang kesepuluh. Waktu itu saya berambut pendek sebahu, pakai kaca mata dan suka memakai baju gombrong supaya saya lebih mirip kakak saya yang laki-laki.

Saya masih ingat hari itu, kami semua nggak ada yang masuk sekolah. Mami dan Papi nggak pergi ke toko. Seminggu menjelang hari itu, Mami sudah dapat bocoran dari tukang yang suka mengantarkan barang ke tokonya, dari tukang ojek yang suka mangkal di dekat sana dan suka dikasih makanan oleh Mami, kalau akan ada kerusuhan yang menargetkan ras kami. Saya nggak ingat persis detailnya hari itu bagaimana, yang jelas sekitar daerah perumahan kami sudah ditulisi “MILIK PRIBUMI”.

Pagi itu, saya dan kakak didudukkan oleh Mami dan Papi. Kami di dalam rumah, ngumpet di kamar mandi yang lumayan besar yang letaknya di dalam kamar utama, dan kebetulan pintu keluar kamar utama kami dekat dengan pintu belakang. Kamar mandi yang bernuansa warna cokelat, ada bathtubnya yang juga warna coklat dengan lantai kotak-kotak kecil. Agak panas dan pengap karena AC tidak dinyalakan di kamar. Radio dinyalakan untuk memantau arah massa, telepon dipegang di dekat untuk menunggu kabar dari teman dan sanak saudara.

Kata Mami, kalau orang-orang memasuki rumah, kami akan langsung lari. Papi bertugas menggandeng saya, Mami akan membawa kakak. Lari ke rumah Pak Haji di belakang yang baik hati, entah kenapa kami hari itu nggak langsung ngumpet di sana saja, entahlah, saya nggak paham. Pakaian saya disuruh ganti oleh Mami. “Biasanya pake baju jelek hari ini keren amat pake bajunya!” — masih terngiang ucapan Mami di telinga saya. Saya memegang boneka kelinci coklat kesayangan saya, yang berbaju gaun bermotif bunga-bunga kecil di kain berwarna hijau gelap. Oleh Mami saya disuruh jangan membawa bonekanya. Nanti takut dikira orang menyembunyikan uang, katanya.

Hari itu kami sangat beruntung. Massa yang sudah dekat sekali dengan komplek perumahan kami, tidak mendatangi komplek. Toko Mami dan Papi pun selamat dari penjarahan berkat kebaikan mereka selama ini kepada orang-orang di sekitar sehingga mereka menjaga keamanan toko. Selama hampir seminggu lamanya kami tidak keluar rumah, tidak bekerja, tidak sekolah.

Beberapa teman dekat saya tidak beruntung, karena mereka terkena, untunglah tidak ada yang luka apa-apa. Hanya trauma saja yang menyisa dan tak terlihat. Sayapun sampai sekarang, kalau di rumah sendirian, suka waspada kalau-kalau ada yang mau masuk ke rumah… sampai M suka geleng-geleng kok istrinya mudah terkejut dengan suara di rumah… ha ha ha.

19 tahun berlalu. Tahun depan tepat 20 tahun. Hari yang tidak akan pernah saya lupakan, yang memori melekat di hati, yang membuat saya sadar kalau hidup ini adalah singkat dan harus dijalani sebaik-baiknya.

Oh iya, kalau kalian bagaimana? Adakah cerita atau ingatan khusus di hari ini? Share di comment dong kalau ada 🙂

Disclaimer: Postingan ini hanya sekedar membagi pengalaman saja, tidak ada maksud apa-apa. Dari dulu saya memang suka kepikiran untuk menuliskannya apalagi sejak comment dengan Febri di salah satu postingannya yang dulu.

My Most Embarrassing Moment to Date

 

Hari yang paling memalukan untuk diriku adalah suatu hari di tahun 2000, tepatnya di pertengahan tahun. Lupa tepatnya bulan apa, yang pasti adalah semasa libur sekolah karena kami di Pontianak, Kalimantan Barat sedang berlibur di rumah alm. Oma Diana (biasanya kami hanya ke sana saat liburan sekolah saja).

Ingatan saya terhadap siang tersebut masih agak lengkap. Saya ingat hari itu panas terik, menyengat ala hawa Khatulistiwa. Ketika itu, hanya ada Mami dan kakak saya yang ke sana, Papi tidak ikut. Nah saya sewaktu kecil ini umur 12 tahun, senang kalau ke Pontianak karena tempat alm. Oma tinggal dulu lingkungannya banyak orang Chinese (mayoritas) jadi saya diizinkan keluar rumah sendiri buat jajan. Kalau di Jakarta, jangan harap deh, main ke rumah tetangga saja harus diantar jalan oleh minimal kakak saya.

Rumah alm. Oma dulu ada di daerah jalan besar, karena rumahnya adalah tiga buah ruko dijadikan satu rumah tinggal yang ada tamannya. Jadi di sekitar sana banyak yang bisa dilihat, dari kedai kopi, warung, sampai tempat penyewaan VCD dan komik pun ada. Saya ingat siang itu Mami sedang pergi membeli durian dengan Paman saya, kakak dan saya menyeberang jalan untuk jajan es selasih kesukaan saya, sekaligus nonton penghitungan suara pemilu. Waktu itu saya senang banget karena di daerahnya Megawati menang. Alasannya cilik sekali, karena Megawati kan perempuan. Jadi saya senang dong perempuannya menang pemilihan suara lokal. Pendukungnya pun menyanyikan seruan coblos nomor 4, Megawati PDI Perjuangan.

Nah waktu dulu ini (sampai sekarang sih) saya orangnya ragu… takut menyeberang. Ketika mau nyeberang saya tengok kanan kiri kalau kosong. Setelah selesai minum es selasih dan nonton pemungutan suara saya dan kakak pun jalan pulang ke rumah Oma… dan kejadian memalukan itupun terjadilah.

Tengok kanan, kosong. Tengok kiri, kosong. Larilah gadis cilik yang pakai kaos tua itu (saya dulu demennya pakai kaos yang sudah tua, karena adem). Lalu… JEDER…. Lagi lari, tiba-tiba ada motor muncul dan menabrak saya! Sepertinya tuh motor muncul dari gang di dekat tempat pemilu. Kan saya lihat kanan kosong waktu sebelum saya lari. Ya saya masih ingat tuh ditabraknya dari kanan.

Memalukan banget, saya dikerumunin orang-orang yang heboh. Sandal jepit saya copot terbang. Terus si pengemudi motor menyalahkan saya… katanya lari-lari di jalan sih. Yah pokoknya memalukan banget kalau diingat (kalau saya sekarang bakalan ngamukin si pengemudi motor itu, masa jelas-jelas anak kecil ditabrak, malah dimarahin sih! Orangnya mungkin remaja akhir belasan atau awal 20 tahunan). Lalu saya pun meyakinkan orang-orang yang berkerumun kalau saya masih bisa jalan. “Lihat nih!” ucap saya menahan malu, sambil melompat. “Saya masih bisa jalan kok!” Kerumunan pun bubar. Masa itu masih kecil, belum mengerti kalau yang namanya sakit sehabis luka itu datangnya nanti, bukan ketika tubuh masih dalam kondisi shock.

Pulang ke rumah Oma, kakak saya sudah duluan sampai dan mengadukan saya. Sambil ketawa-ketawa lagi, makin malulah saya… pokoknya maluuuuunya masih ingat sampai sekarang. Saya dinyanyikan seruan coblos no 4 PDI oleh kakak saya (sampai bertahun-tahun kemudian malah, kalau beritanya muncul, saya pasti diledek, untung sekarang sudah nggak meledek lagi hahaha). Oma pun membersihkan luka saya, dan ketika dibersihkan baru kelihatan di telapak kaki ada yang sampai bolong karena terlindas. Ketika Mami pulang tentunya kakak saya sudah menyambut dan menyongsong di depan sambil ngadukan saya… Mami pun masuk, nenteng durian di kedua tangannya pakai kaos putih (memang ingatan macam gini jelas banget ya, masih ingat pula lengkap dengan lantai rumah si Oma yang warna coklat gradasi) – panik dan ingin melihat keadaan saya.

Saya nggak diomelin hari itu, tapi sesudahnya diomelin (dan maluuu) karena saya nyebrang nggak lihat-lihat katanya (suer saya lihat lho, dan kosong bagian kanan – mungkin salah saya adalah saya lari), dan merasa bersalah si Mami diomelin oleh Papi karena saya ditabrak waktu dalam jagaan Mamilah ceritanya.

Kalau ditanya pengalaman paling memalukan saya selalu teringat cerita ini. Malunya masih kadang suka merembes di hati kalau ingat nyanyian ledekan dan kerumunan orang-orangnya… hahaha. Tuh luka sudah sembuh semua, kecuali yang bekas bolong di telapak kaki, masih kelihatan sedikit kalau diperhatikan 🙂

Kalau dipikir-pikir, saya orangnya termasuk tipe yang hobi koleksi sesuatu sejak kecil. Tapi seperti semua ada masanya gitu, nanti berubah-ubah apa yang pengen dikoleksikan. Ingatan saya pun melayang kepada koleksian yang saya ingat waktu kecil, yaitu hadiah Tazos dari snack makanan ringan (lupa dari Taro atau Chiki sih? ada yang masih ingat?) tahun 1990an. Tazos menjadi sesuatu yang cukup berharga bagiku, karena waktu kecil nggak boleh sering-sering jajan Chiki.

Waktu jaman tahun 1990an ini saya juga hobby koleksi boneka kertas (pokoknya kepunyaan saya banyak banget dulu, belinya di abang sepuh yang mangkal di depan sekolahan SD). Sempat juga koleksi kartu Titanic jaman filmnya booming dulu… inget gak, kartunya bergambar Leonardo DiCaprio sendirian yang kece, atau Leonardo bareng Kate Winslet. Di belakangnya ada lirik lagu I Heart Will Go On-nya Celine Dion. Selain ini saya juga koleksi stiker, stiker-stiker saya dulu ditaruh di buku stiker warna biru. Stiker kesayangan saya ditaruh di bagian depan dan nggak ditukarkan, yang lain sih boleh ditukar-tukar dengan stiker teman. Dan juga saya punya kotak kaleng kecil, isinya penghapus! Hahaha. Saya punya banyak sekali penghapus karakter lucu dulu, yang nggak pernah dipakai… sekali-sekali saja dikeluarkan dan dihirup aromanya karena banyak yang wangi. Sekarang nggak tahu deh, pada ke mana.

Hobby saya membaca buku dan komik dari kecil itu membuat tahun 2000an saya koleksi buku dan komik… banyak banget sampai selemari penuh. Koleksi yang paling saya sayang adalah buku-bukunya Enid Blyton yang saya punya lengkap sampai pada lusuh karena sering dibaca. Sayang tahun 2014 lalu rumah kami kena musibah rayap, ternyata si rayap makanin koleksi buku saya buanyak sekali… jadinya koleksinya sekarang hampir punah deh. Selain itu saya juga koleksi… ya saudara-saudara… barang-barang kucing! Pokoknya barang saya itu kucing semua dulu saking sukanya sama kucing tapi Mami nggak mbolehkan punya kucing di rumah. Kamar saya tema kucing dari sprei, frame foto, boneka, tempat taruh pernak-pernik, tas dan sebagainya. Masih ada tuh fotonya tapi karena alay banget ngeditnya dulu malu-maluin kalo dipajang di blog sekarang hahaha. Sekarang sebetulnya masih suka juga dengan barang-barang kucing, tapi sudah nggak seperti dulu yang pokoknya semuanya harus kucing dari kotak pensil sampai ke penggaris.

Tahun 2015 lalu, saya mulai mengkoleksi magnet kulkas dari tempat-tempat yang pernah saya kunjungi. Ada rasa sesal yang masuk di dalam hati karena dulu kan saya jalan-jalan tapi nggak pernah beli magnet ya… jadi sekarang kalau ada teman yang pergi ke tempat yang pernah saya kunjungi sebelumnya saya kadang suka titip magnet kulkas. Yang lucu, ternyata dulu saya sering belikan Mami magnet kulkas kalau jalan-jalan. Rasanya seperti nemu harta karun melihat magnet yang masih disimpan oleh Mami, yang saya tanya boleh nggak kuminta kembali hahaha.

Contohnya magnet yang berbentuk kura-kura bening adalah magnet dari jalan-jalan ke Pulau Redang di Malaysia tahun 2006 duluuu. Atau magnet di sebelahnya adalah magnet bakpao dari jalan-jalan ke Malacca, Malaysia tahun 2009. Saya dulu kuliah di Malaysia termasuk suka jalan-jalan juga, masih kurang beli magnetnya Berjaya French Village Hill, Pulau Perhentian, Pulau Langkawi, Genting Highland, Cameron Highland, kota Penang — dan gak beli magnet juga pas jalan-jalan ke Bangkok, Thailand. Terus dulu keliling Cina juga nggak beli magnet, dan yang paling nyesel akhir tahun 2015 saya ke Jogja dan gak beli magnetnya. Jadi target saya mau pergi jalan-jalan yang sering biar bisa nambah magnet (alasan aja ini) hehehe…

Selain magnet sekarang saya suka banget koleksi cincin. Karena dulu waktu remaja dan kuliah nggak pernah pake aksesori selain kalung karena rasanya cincin kok mblibet. Terus waktu jadi koki kan nggak boleh pakai cincin, lha nanti kalau cincinnya masuk ke makanan gimana dong kan yah? Tapi setelah masuk ke dunia kerja kantoran, tiap hari ini tangan dipakaikan cincin sampai 4 – 5 buah sekaligus (ada yang memang khusus untuk stacking alias ditimpa-timpa). Di atas ini sebagian dari koleksi cincin saya yang di baliknya macam-macam ceritanya.

Ada yang warisan dari Mami… ada juga hadiah macam-macam dari M, kado dari teman, terus ada juga yang mbelinya di hari yang penuh drama dan sebagainya.

Kalian koleksinya apa saja? Boleh dong sharing di sini.

Minggu lalu, punggungku sempat ‘keceklek’ — pokoknya bangun tidur sakit semua rasanya, nggak begitu bisa bergerak. Hasil dari berdiri dari posisi duduk terlalu cepat malam sebelumnya. Karena nggak bisa bebas bergerak, hari itu saya di rumah saja di kasur, dan karena bosan… bukalah hard drive lama, yang ternyata isinya foto-foto lama yang benar-benar membangkitkan kenangan. Jadi saya pengen membuat seri cerita kenangan masa kecil ah di blog (jadi terinspirasi, ceritanya) kalau disingkat KMK (sudah dimasukkan di kategori sisi kiri). Kalau masa remaja, masuk KMK ini, atau tidak ya?

Singkat cerita keluarga kami tinggal di Jakarta Barat, orangtua dua-duanya berasal dari Kalimantan Barat. Kami berempat, saya dengan kakak laki-laki yang lebih tua dua tahun dengan Papi dan Mami — Papi dan Mami dua-duanya bekerja membuka toko bahan bangunan berdua. Ingatan masa kecil saya yang manis banyak yang diwarnai oleh si toko bahan bangunan ini, karena seusai sekolah (dulu sekolahnya di SD, pukul 7 pagi sampai pukul 1.30 siang kalau saya tidak salah ingat). Pas sekali masa kecil dalam ingatan saya itu tahun 1990-an, karena tahun ajaran 2001 saya sudah masuk SMP, sudah bukan anak SD lagi.

Toko bahan bangunan, dulu selalu ramai (sekarang kata Mami, sudah jauh deh pokoknya dengan dulu tahun 1990an yang booming pembangunan di mana-mana). Kata Papi, setiap bulan tangannya sampai capek menulis nota pembelian dan tinta di pulpennya pasti selalu rutin diganti.

Biasanya seusai sekolah SD saya dijemput oleh Mami yang menyempatkan datang di sela-sela kesibukannya. Saya masih ingat jelas, Mami yang berambut pendek dan ceriwis (ceriwisnya jelas nurun ke anaknya ini) ngobrol dengan Mami-mami lain yang menunggu anaknya di sekolah. Mami kurang suka anak-anaknya jajan. Seingatan saya waktu Mami menjemput, di dalam mobil sudah ada makan siang yang disiapkan di dalam rantang (biasanya nasi dan lauk tumisan biar gampang makannya), dan kadang suka ada es jeruk perasan sendiri lagi, dingin di dalam botol. Berasa banget sayangnya Mami kepada saya. Pernah juga Mami menjemput lalu saya nanya boleh nggak main ke rumahnya Aurel (ke rumah teman yang tinggalnya di dekat sekolah)… nanti pulang kerja Mami akan jemput di rumah Aurel. Mami mengiyakan. Pokoknya senang sekalilah waktu itu, karena di rumahnya Aurel banyak mainan yang bagus-bagus. Nah kadang, kalau Mami nggak sempat menjemput, yang menjemput adalah Wi Ku (masih kerabat jauh Mami yang kerja dengan Mami dan Papi), naik motor. Senang lho kalau Wi Ku yang jemput karena saya bisa duduk di atas motornya, jarang-jarang terjadi. Seperti petualangan saja rasanya.

Toko orangtua, dimodifikasi oleh Mami dan Papi supaya di dalam (di balik hiruk pikuk penjualan) bisa tidur siang, masak makan siang, main dan sebagainya. Saya betah-betah saja pulang sekolah ke sana karena di rumah… tidak ada orang yang bisa diajak main. Yang menjaga rumah kami adalah ART laki-laki (biasanya dari toko), karena Mami males punya ART perempuan — genit katanya! Hahaha. Secara memasak Mami yang mengerjakan, si ART laki-laki ya kerjanya main dengan kakak saya (makanya kakak saya pulang sekolahnya boleh tidak ikut ke toko), menyapu, mengepel, berkebun, menjaga rumah. Malam boleh pulang ke toko, atau mau tidur di rumah kami juga kamarnya sudah disiapkan. Balik ke cerita saya di toko, buat saya di toko banyak sekali yang bisa dikerjakan dan diajak ngobrol.

Ini ceritanya saya dan kakak saya di depan bagian hiruk pikuk toko, waktu kecil. Lupa tahun berapa.

Saya suka ngobrol dengan Mbak Tri, pegawai administrasi toko. Main bon-bonan, menulis cerita atau nggambar komik karena di toko banyak kertas dan alat tulis. Pernah juga iseng-iseng menulis pakai mesin tik tua yang warnanya biru dan sudah karatan — nulis cerpen yang nggak pernah selesai-selesai, idenya dapat dari majalah Bobo. Kalau sudah pakai mesin tik, rasanya seperti penulis beneran! Kalau sedang tidak sibuk dengan Mbak Tri atau main sendiri, saya akan main ke belakang. Ke belakang ini maksudnya di ujung belakang toko, karena ada rumahnya keluarga pegawai Mami dan Papi yang tinggal di sana untuk menjaga toko kalau sudah tutup. Pegawai ini punya anak perempuan sebaya saya dan adiknya. Jadi asyik, kalau main dengan mereka. Seingat saya dulu kami sering main masak-masakan bersama. Pernah juga ketika libur kenaikan kelas, Mami ajak mereka main ke Dunia Fantasi bareng kami. Sekarang sih, sudah tidak kontak lagi karena mantan pegawai Mami sudah RIP — pernah Mami menawarkan mau membiayai sekolah anaknya tapi mereka memilih menikah setelah lulus SMU dan pulang ke kampung.


Mami sewaktu muda, bersama saya dan anaknya alm. pegawai Mami ketika ke Dufan untuk hadiah kenaikan kelas. Kalau nggak salah tahun 1996 atau 1997… pakai kaus Fido Dido favorit saya masa itu.

Cerita lucu yang timbul dari main di toko ini adalah hasil dari ke-kepoan dan rasa mau tahu saya yang terlalu tinggi. Saya suka nggrasak barang-barangnya Mami. Suatu hari saya nemu bon-bon tagihan ke Mami dan Papi yang jumlahnya BUANYAAAAK SEKALI apalagi di mata anak kecil umur 7-8 tahunan. Saya belum mengerti kalau jualan itu membeli barang lalu dijualkan lagi. Jadi saya pikir… kami punya hutang banyak dan sebentar lagi bakalan jatuh miskin. Pokoknya sedih waktu itu mikirnya, dan saya suka gemes kalo lihat Mami bikin cemilan seperti sup ketan hitam. Habis, sudah miskin dan punya hutang banyak, mau bangkrut kok buang-buang uang buat ketan hitam????

Beberapa tahun yang lalu saya cerita ke Mami dan Papi soal ini, dan sukseslah saya ditertawakan habis-habisan… he he he.

Lagi mood nulis dan tiba-tiba teringat ceritaku jaman dulu, sebelum bisa dan senang memasak. Catatan saya mulai iseng-iseng masak dengan serius, belajar dan dari menggeluti hobi sekitar 5 tahunan lalu (tahun 2011). Jadi cerita di bawah semua sebelum tahun 2010.

Waktu SMA, saya nggak bisa masak kecuali Indomie selera sendiri dan spageti. Belajar masak spageti waktu SD, di rumah teman kecilku dulu namanya Ria… tetangganya ada almarhum Ibu Haji yang baik hati dan pintar bikin kue — keluarga kami suka memesan kue kepadanya dulu untuk ulangtahun, masih teringat enaknya rasa black forest bikinannya. Kami yang masih piyik berbekal buku resep masakan kue dan roti Nova tahun 1990an nongkrong di rumah si Ibu membuat kue, kami bawa bahan. Dulu rasanya saya tuh yang bikin dan gampang pasti jadi, tapi kalau diingat lagi yang membuat sebetulnya si Ibu, kami tim hore yang ikutan main dan memulung bahannya, memecah telurnya. Ingatan samar-samar membuat roti bulat-bulat sobek, diisi meises. Enak sekali rasanya. Lanjut ke spageti, spageti a la SD ini masih ingatnya simple sekali dibumbuin bawang bombay, kornet sapi, saus tomat, sambel ABC. Rasanya enakkk, dan karena nostalgia masa kecil sampai sekarang kalau makan itu tetap rasanya enak. Menurut M sih rasanya aneh. Ya iya lha spagetinya tidak ikut pakem. Pake sambel lagi (ini Indonesia banget).

Senang membuat kue dan roti ini nggak bertahan sekarang karena saya nggak suka menimbang dan nggak sabaran mengulen, menunggui. Ketahuan banget pasti jaman dulu itu si Ibu Haji yang sebetulnya kerja keras, he he he. Jadi kangen dengan si Ibu.

Jaman kuliah karena kuliahnya di Malaysia, awal-awalnya nggak pernah masak. Soalnya di mana-mana banyak makanan hawker yang murah, ngapain pakai masak segala *jaman kos-kosan*
Masih segar di ingatan saya waktu main ke rumah sesama teman yang bikin dinner sendiri yaitu beef stir fry langsung wowwww kayaknya susah banget. Sekarang merem mata juga bisa buat udah paling gampang hahahaaa.

Mulai semester 4-an saya mulai mencoba-coba masak, tapi asal banget masaknya. Misalnya goreng nugget (chicken nugget golden merk Ramly yang kantongnya warna oranye itu enak sekali pakai bumbu penyedap Maggi — ini gak sehat banget sudah nggak pernah makan beginian sekarang) lalu dibungkus dengan roti pita ala ala Arab yang banyak dijual di dekat tempat kost dulu. Atau beli saus spageti botolan, dimasak dengan ngasal dan isinya juga sosis yang nggak sehat. Nggak pakai bawang putih cuma pakai bawang bombay… tidaaaaaak. Nggak pernah makan beginian lagi sekarang karena sekarang sudah bisa masak sendiri, jadi fussy.

Teman satu kost membawa buku resep masakan sehari-hari, saya membaca bumbu oseng-osengnya yang rasanya banyaaak banget (kecap ikan, kecap asin, saus tiram blablabla) sudah pusing rasanya kok susah ya. Kalau sekarang, di pantry bumbunya lengkap.

Kenangan yang bikin sebel, mantan pacar dulu makannya ribet. Nggak doyan jamur, gak doyan daging sapi (katanya bau), gak doyan kecap ikan… pokoknya banyak nggak doyannya. Jadi kalau masak, saya misalnya masak oseng ayam jamur untuk diriku sendiri. Buat dia beda lagi lauknya. Lucu juga kalau diinget dulu rasanya sebel tapi ya sudahlah tetep masak. Kalau sekarang, saya masak apa juga si M makan. Kalo gak doyan ya beli ajalah makanan di luar, atau masak sendiri gih, he he he.

Kenangan yang lucu, waktu mencoba-coba iseng bikin bakmi ayam… tapi rasanya? Rasa kecap ikan! Hahaha. Karena Mamiku menyarankan kalau mau harum pakai kecap ikan. Salahnya… kecap ikan doang yang banyak (plus bawang putih) gak pakai bumbu lain. Jadinya nggak enak deh. Teman yang jadi kelinci percobaan, komplen kok bau ikan, he he he. Padahal harusnya mie ayam.

IMG_20160208_203841897

Foto di atas adalah peking duck makanan kami merayakan Imlek tahun monyet ini.

Perayaan Imlek-ku yang terakhir bersama keluarga adalah tahun 2011, dua bulan sebelum berangkat ke New Zealand. Itu juga tidak keluarga lengkap karena kakak saya absen (dia berdomisili di Australia)… yang benar-benar lengkap sekeluarga sih saya sudah lupa kapan ya. Ketika saya masih kuliah di Malaysia saya selalu pulang untuk Imlekan dan kakak saya menghindari, hahaha… karena kami tidak begitu akrab dengen keluarga besar soalnya. Imlek yang jauh dari keluarga membuat kangen dengan sangat, saya sudah menghitung bahwa Imlek tahun 2018 akan dekat dengan Natal jadi mungkin kami berempat bisa kumpul dan saya bisa ajak M ikutan juga supaya dia bisa merasakan meriahnya bikin kenyangnya Imlek di Indonesia.

Kalau Imlek di rumah, malam sebelumnya kami keluarga inti berkumpul dan Mami-lah yang memasak. Masakan mami tiada duanya pokoknya enak sekali. Dulu belum jaman foto-foto dengan heboh sih jadi saya tidak ada dokumentasi makanan Imlek di rumah. Memang hal-hal kecil yang kita anggap biasa growing up, makin lama jadi memori tak terlupakan yang berharga seperti masakan Mami di hari malam Imlek ini. Biasanya pasti ada ayam goreng, cah mee suah, sepanci sayur kuah rebung, hekeng (semacam gilingan udang dan sayuran dibalut kulit kembang tahu lalu digoreng kering) dan satu macam seafood — karena kakak saya doyan ikan goreng kalau dia ada di rumah seafoodnya pasti ikan goreng. Di rumah juga penuh dengan makanan lainnya seperti kue lapis legit, lapis surabaya, kue manis (tiam kue, itu kue yang seperti dodol — saya nggak doyan), nastar, biskuit makanan kering, jeruk manis dan manisan yang ditaruh di tempat berbentuk koin Cina.

Duluuuu… jaman Soeharto masih berkuasa saya masih ingat kami dilarang merayakan Imlek terang-terangan. Karena, nggak boleh oleh pemerintah bukan sih? Entahlah soalnya saya masih kecil dan nggak tahu detailnya. Yang saya ingat saya akan dibuatkan surat ijin sakit tidak masuk sekolah kalau kebetulan hari itu ada acara… kalau tidak biasanya kami sekeluarga memindahkan acara kumpul-kumpul keluarga besarnya ke hari Minggu. Yang penting makan-makan di malam sebelum Imleknya itu.

Almarhum nenek saya (kami memanggilnya Ama) dari pihak Mami sempat tinggal di rumah kami 3 tahun ketika ia sakit di masa tuanya… dari saya kelas 2 SMP sampai kelas 2 SMA ketika beliau berpulang. Waktu Ama ada di rumah, dia adalah yang paling senior… jadi kami nggak keliling ke rumah saudara yang lain, semua oranglah yang datang ke rumah kami. Pokoknya betul-betul sibuk hari Imleknya, bahkan sampai saudara-saudara jauh yang saya nggak pernah tahu juga datang. Setelah Ama tidak ada, kami balik ke tradisi awal yaitu keliling ke rumah saudara lain dan kumpul di rumah Ama dari pihak Papi. Sekarang Ama itu juga sudah tidak ada, jadi hanya keliling saja, nggak kumpul di rumah orang tertentu.

Imlekan di sini tidak dapat hari libur jadi saya nggak pernah merayakan juga… kangen sekali dengan suasana Imlek di Indonesia. Semoga tahun depan dan tahun depannya lagi bisa ikutan di rumah seperti dulu.

Pernah nggak kalian didiamkan orang begitu saja? Rata-rata jawabnya pasti pernah ya…? Apalagi pas masih kecil dan di sekolahan. TK dan SD masih pada kecil dan suka saling ngambek-ngambekan, jaman SMA saja masih ada dalam ingatan saya kalau saya didiamkan teman yang ngambek. Di rumah pun mungkin kakak atau adik bahkan orang tua kalau lagi marah lalu memutuskan untuk nggak ngomong sekalian saja, dalam waktu yang lama. Diam mendiamkan ini sebutannya adalah silent treatment. Berawal dari iseng-iseng nostalgia bersama teman saya pun iseng-iseng Google tentang ST ini… ternyata tergolong abuse, lho!

“The silent treatment (feigned apathy; cold-shoulder; silence; distance, and ignoring you) is the worst form of emotional abuse. It is a punishment used by abusers to make you feel unimportant, not valued, not cared about and completely absent from the abuser’s thoughts.” (sumber: artikel ini)

Ingatan saya pun terbawa ke kelas 1 SMP, suatu waktu salah satu cewek di grup main saya marah dan mendiamkan saya. Saya sampai saat ini tidak tahu pasti kenapa dia mendiamkan saya, karena betul-betul dia tiba-tiba mendiamkan–yang diikuti dengan beberapa teman lainnya yang memihak dia. Sayapun sukses dimusuhi. Dengar-dengar dia nggak senang saya ‘mengatur’, milih tempat makan di hari ulangtahunnya (saya aja udah lupa hari itu seperti apa, ya). Tiba-tiba setelah beberapa minggu dia ngobrol dengan saya, menyapa seperti tidak ada apa-apa. Ketika saya tanyakan apa sebabnya… jawabannya hanya “Gue cuma bercanda kok.” Kalau diingat-ingat bikin gemes ya, mana saya masih temenan FB lagi dengan orangnya (walau nggak intens sih). Kejadian model silent treatment musuhan ini sering sekali terjadi di lingkungan sekolah bahkan sampai ke lingkungan kerja pun walaupun nggak terlalu intens, ya iyalah kan di lingkungan kerja nggak mungkin berlagak kayak anak SMP lagi puber.

Saya masih ingat membaca cerpen Bobo waktu kecil tentang Mama yang mendiamkan anaknya. Mami saya pun pernah mendiamkan saya beberapa hari, rasanya sengsara sekali soalnya kan serumah, tapi nggak diajak ngomong (ingatan samar-samar soalnya gara-gara dimarahi nilai jelek lalu saya ‘melawan’ alias memberikan alasan kenapa itu nilai kok jelek-jelek). Untung nggak sering deh amin… karena…

Setelah banyak membaca tentang ST ini dampaknya bisa jadi buruuuuuk sekali apalagi kalau dilakukan ke anak/remaja (both dari orangtua atau teman sepergaulan, misalnya). Juga buruk untuk pasangan (pacar atau suami/istri) karena bukannya berkomunikasi dan menyelesaikan masalah tapi malah bikin gondok lama-lama jadi bukit! Saya menulis post ini tujuannya ingin share saja dan mungkin untuk raise sedikit awareness karena sebelum Google dan banyak sesi mikir saya nggak pernah mengaitkan mendiamkan orang sebagai mental abuse. Duh maaf ya temenku di SD yang dulu aku diamkan gara-gara makan bekalku melulu.

ST dari orangtua bisa menimbulkan si anak tidak percaya diri, abandonment issues, tidak berani menyampaikan pendapat (takut salah), mengajari anak kalau love dari mereka adalah conditional love… Saya merasa mungkin banyak orang yang mikir daripada ngomelin, mendingan didiamkan saja lebih baik daripada ribut-ribut… ini tidak benar. Cuplikan dari artikel yang bagus ini:
“Giving your child the silent treatment means that you are punishing them in a manner that inflicts pain, that you are suddenly not speaking to them without telling them why, and that they have no defined way to get you to speak to them again.  This is painful and terrifying for a child.  In their minds, you have disappeared and all attempts to get you to reappear are not working.  They have no idea why this has happened.  It is terrifying because a child cannot survive without a parent or caregiver.  The silent treatment sends a message to your child that they are not safe in the world, that their provider may or may not be available to them at any given time, for no apparent reason.”

Let’s say no to silent treatment!
Diam mendiamkan ini sepertinya sangat bahaya dan damaging… lebih daripada yang terlihat. Sepertinya masih banyak orang di masyarakat yang menganggap kalau hal ini adalah hal biasa saja (sampai masuk cerpen anak-anak segala, yang diakhiri dengan anaknya senang sekali Mamanya ngomong dengannya lagi setelah ia patuh dan minta maaf!)
Kalau dilihat dari luar cuek lebih bagus daripada diomeli? Saya sih, lebih pilih omel-omelan… lebih jelas, nggak nebak-nebak, nggak tegang (kalau anxiety alias tegang saya kumat saya suka sakit perut) dan masalahpun cepat selesainya 🙂

TAMBAHAN:
ST yang saya maksud di sini adalah ST yang jangka panjang. Dalam hitungan jam males ngomong wajar lah kalau lagi marah. Jangka panjangnya bisa lebih dari sehari… beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan bahkan mencapai hitungan tahun (ada teman saya pribadi yang sudah masuk tahun ketiga di-ST orangtuanya, contohnya).