Archive

NZ Life

Kali ini saya ingin bercerita beberapa pengalaman unik/awal/berkesan tentang papasan/ketemu nggak sengaja dengan orang Indonesia di tempat umum di New Zealand. Lumayan sering papasan atau dengar orang ngobrol Bahasa Indonesia di jalanan, mal, supermarket dan sebagainya. Sering di sini nggak tiap hari ya, mungkin sebulan sekali. Beberapa minggu yang lalu saya di Queenstown juga sempat papasan dengan pasangan Indonesia. Yang nyikut dan ngasih tau saya si M. Dia bilang “They’re saying ini… iniii…” dengan nada orang milih barang gitu hahahaha. Papasannya di toko souvenir.

Pengalaman pertama manis sih. Katanya orang Indonesia ramah-ramah? Iyaaaaa iyaaa… pengalaman yang pertama ini terjadi pada bulan kedua saya di Auckland. Sedang jalan-jalan di K Mart (department store murah) bersama dua teman serumah saya yang juga orang Indonesia (berangkatnya bareng dari agen sekolah yang sama). Kami papasan dengan sebuah keluarga muda kecil Indonesia yang RAMAH BANGET. Papa, mama dan anaknya perempuan… minggu depannya sekeluarga ini main ke apartemen kami yang mungil, bawa makanan. Ramah, baik, welcoming… ah berkesan deh, tapi saya nggak lanjut temenan dengan mereka.

Pengalaman kedua yang teringat… waktu saya baru di sini juga. Tahun pertama, tahun 2011 dan nggak kenal banyak orang – disarankan ikut organisasi tapi saya kurang minat, maklum karena sibuk, sekolah lalu bekerja part time. Papasan deh sama dua cewek Indonesia, kalau dengar dari gaya pakaiannya dan gaya ngomongnya… pasti deh orang Jakarta. Saya iseng, lagi good mood, jadi menyapa. Halo, dari Indo yaa (insert senyum semanis madu di sini). Whuaaaahh… katanya orang Indonesia ramah-ramah? Ngggaaaaaak semuaaaaa… saya mendapatkan jawaban berupa “Iya.” yang singkat, padat, jelas, tak terlanjutkan dan sebuah hadiah kecil tatapan naik dari atas kepala ke bawah kaki. Kabur ah! Itu pertama dan terakhir kali saya menyapa orang Indonesia duluan kalau nggak kenal. Niatku mau ramah aku malu… hihihi.

Pengalaman yang ketiga, lucu banget. Ceritanya saya dan teman lagi antre McDonald’s. Kami waktu itu dilemma banget mau makan apa, belum memutuskan, dan saking asyiknya saya nggak sadar di belakang yang tadinya nggak ada orang sekarang ada orang yang menunggu. Seorang Ibu kira-kira umur 50an dan anaknya kira-kira sepantaran saya lah, laki-laki. Si tante sepertinya kurang sabar… lalu nyelonong ke depan kami dan taruh order ke kasirnya, anak remaja yang mukanya langsung bingung situasi seperti ini mau diapakan. Muka saya kan mata sipit kulit kuning nggak langsat, jadi si Tante pasti nggak menyangka saya ngerti omongannya seterusnya.
Si anak mukanya merah karena malu, bilang, “Mama nggak boleh gitu… antre Ma.”
Lalu si Tante dengan agak berapi (walau ngomongnya nggak kencang, tapi nadanya biasa saja jadi saya bisa dengar) menjawab, “Habis mereka cewek-cewek ini LELETT buangeeeet (ngomongnya ditarik) sihhhhh… Mama kan laaaappeeerrr… biarin aja nih cewek-cewek sukurin tahu rasa kalo lelet ya keduluan orang!”

Ya sudah, saya pun jalan beberapa langkah, menundukkan kepala soalnya si Tante lebih pendek dari saya lalu saya berkata, “Gak apa-apa kok, Tante kalau laper, duluan aja.” Lengkap dengan senyum semanis madu a la saya hahaha… si Tante pun gelagapan dan menjawab pelan dan halus, “Oh… orang Indo juga yaa…” huahahaha… saya bukannya kesel tapi malah tertawa dalam hati. Teman saya juga ikutan ketawa! Habisnya mau nyolot terselubung malah ketahuan kan… makanya hati-hati deh kalau ngomong di tempat umum (saya juga) – daripada malu, ngomong macam-macam ternyata orangnya ngerti lagi diomongin yang nggak enak 🙂

Lebih dari setengah dekade tinggal di NZ sini… nggak terasa saya jadi slebor… hahaha. Selebor ini dalam artiannya percayaan, kurang waspada (kalau pakai bahasanya Mami saya). Orang Kiwi di sini, kebanyakan percayaan, baik, ramah — dengan tingkat kriminalitas yang menurut mereka tinggi ya, tapi kalau dibandingkan dengan negara-negara yang saya tinggali sebelumnya, wuih nggak sama sekali.

Percayaan ini dalam artian, nggak punya prasangka buruk dengan orang lain, pokoknya percaya deh kalau orang lain itu sama-sama jujur.

Mereka bisa lho jualan lepas dan ditinggal. Beberapa minggu yang lalu, saya pergi ke Matakana market (kira-kira sejam dari Auckland). Karena parkiran sekitar market penuh, kami parkir agak jauh dan jalan ke market. Sepanjang jalan… banyak rumah-rumah di dekat sana yang ikutan jualan juga. Ada yang jualan buah, tanaman kecil (contoh, Vietnamese mint di dalam pot kecil) dan sebagainya. Jualan-jualan ini semuanya ditinggal di luar rumah, ada yang ditaruh gitu aja di bak plastik, ada juga yang niat dengan meja papan kayu tua. Sayang, saya lagi sibuk minum kopi jadi nggak kepikiran mau difoto. Setiap jualan ini ada harganya (biasa ditulis dengan spidol di karton kardus bekas) dan… disediakan wadah (contohnya kaleng atau kotak bekas es krim) untuk uangnya!

Ya, mereka percaya saja tuh kalau orang membeli dagangannya, nanti bayar uangnya pas dengan jujur yang lewat nggak iseng mengambil uangnya. Saya juga pernah lihat di tepi jalanan kota kecil nanti ada seperti kotak kayu kecil yang mirip halte bus bentuknya, tapi tujuannya untuk orang jualan buah — dan nggak ada yang jaga. Mobil-mobil yang lewat bisa melihat dari tanda di papan buah apa yang dijual dan berapa harganya. Kalau mau beli ya stop saja, ambil buahnya, lalu membayar dengan menaruh uang tunai di wadah yang disediakan.

Salah satu teman kerja saya yang tinggalnya dekat dengan Matakana itu bercerita, kalau di rumahnya susu yang mereka minum adalah susu segar. Setiap dua hari sekali mereka menaruh botol susu (bahannya dari gelas dan transparan) di depan pintu rumah di pagi hari, dengan uang untuk botol berikutnya, nanti tukang antarnya akan ambil botol kosong dan menaruh botol baru dengan susu yang penuh.

Cerita begini kebanyakan yang di luar kota besar. Kalau di kota-kota besar (seperti di Auckland sini), sudah semakin ramai. Hidup susah. Banyak imigran. Ketidakpercayaan pun muncul di mana-mana.

Walaupun begitu tetep saja menurut standar saya yang tumbuh besar di Jakarta… masih aman bangetttt.

Saya berani saja tuh jalan sendirian walaupun di malam hari. Tas ya jarang diresleting. Ditenteng gitu aja. Kadang saya suka mikir aduh lupa ditutup nanti ada yang copet bagaimana. Selama 6 tahun nggak pernah kena copet walau slebor gitu. Kalau di Jakarta, harta bendaku pasti sudah habis tak bersisa hahaha… Kadang kalau malas bawa tas ya saya pegang saja HP dan dompet di tangan. Makan, ditaruh di meja tanpa diawasi. Kalau di Jakarta… makan di restoran di mal saja barang berharga masuk tas, yang ditutup rapat dan ditaruh di pangkuan, saking seringnya dengar cerita seraaaaam di mana-mana (apalagi orangtua saya tuh sering banget mengirimkan berita kriminal dengan modus terbaru di Indonesia).

Kejujuran juga tinggi. Misalnya duluuuuuu waktu baru ke sini, saya sempat pinjam buku di perpustakaan di mana tuh buku terselip waktu saya pindahan apartemen. Selang setahun kemudian, saya nemu bukunya ketika bongkar tas, dan cerita sepintas lalu dengan M. Ditanyain, kapan mau dikembaliin? Saya bilang ah nanti aja karena nggak sempat (ini sifat jelek banget jangan ditiru ya!)… hasilnya adalah saya dikuliahi macam-macam, disuruh kembalikan buku secepatnya dan bayar denda telat yang memang merupakan kewajiban saya.

Soal penipuan, saya juga jadi lebih ‘kurang awas’ — kali ini, pakai istilahnya Papi… hahaha. Dulu, waktu beli mobil saya transfer dulu malam sebelumnya. Besok sore baru diambil mobilnya. Kalau di Jakarta lha ya takut, banyak curigaan. Padahal ya saya masih curigaan dan awas juga sih. Kadang misalnya kami lagi ngapain gitu, lalu saya berkomentar, “Tapi kalau begini ________ bagaimana?” — M pasti bilang “It’s such an Indonesian thing to say.” maksudnya karena kecurigaan saya macam-macam skenarionya. Lah ya harus, di Indonesia kan buaaaanyaaakkk penipuan. Orang-orangnya kreatif.

Anyway postingan ini idenya dari foto di bawah ini. Saya tadi sore melihat ini di sebuah toko. Payung yang boleh dipinjam pelanggan kalau lagi hujan, mau jalan balik ke mobilnya. Nanti dikembalikan. Saya terpana, soalnya lagi-lagi ingat di Jakarta… apalagi payung kualitas bagus. Gratiskan? Jaminan yang balik, pasti nggak lebih dari seperempatnya jumlah payung deh.

Ketika saya kecil dulu (sampai sekarang sih sebetulnya) saya sangat menggemari cerpen majalah Bobo. Ketika sudah besar sedikit, Bobo mengeluarkan buku kumpulan cerpen-cerpennya, yang saya beli dan kumpulkan… sayang sekarang hanya bersisa sedikit dan saya bawa ke sini pula, untuk dibaca ketika sedang ingin bernostalgia. Saya suka cerpen zaman tahun 1980 – 1990an karena ceritanya yang benar-benar sederhana.

Salah satu cerita cerpen yang teringat di kepala adalah yang berjudul “Bangsa Tempe” – kalau nggak salah. Jadi ceritanya sederhana sekali, satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan kedua anaknya sedang menikmati makan malam. Si sulung komplen, kok tiap hari makan tempe terus… ayah pun lalu menimpali dan bercerita (yang menambah pengetahuan saya!) tentang bangsa Indonesia yang harus bangga terhadap tempe. Bangsa Indonesia adalah Bangsa Tempe. Katanya…

Masa iya sih?

Dulu waktu kecil lha ya nggak mikir seperti itu… makan tempe sudah seperti makanan pokok, sering banget, sampai bosan.

Sekarang dong… semalam saya sebelum tidur, terbayang mau makan tempe orek pete.
Tempe adalah makanan mewah untuk kami di sini. Harganya lebih mahal dibandingkan daging… bayangkan! Untuk kalangan orang New Zealand, tempe dikenal sebagai ‘protein baru’ yang hits di kalangan orang-orang vegan dan vegetarian, dan kalangan makanan sehat. Harganya pun MAHAL. Mahal banget. Contohnya sebungkus 250 gram tempe organik di supermarket… dibanderol seharga $6.29! Kalau mau murah sedikit beli di toko Asia (yang buat orang Indonesia rumahan) itu pun masih tergolong mahal (sekitar 3 dolar-an).


Tempe di atas dari website Huckleberry (tempat jualan makanan organik di Auckland) — di beberapa supermarket juga ada. Sebungkus di atas itu, cilik, 250g harganya $6-$7 tergantung belinya di mana.

Lihat bule-bule mengolah tempe, eneg sendiri. Tempenya dibumbui terus dijadikan pengganti burger patty daging, misalnya. Atau dibumbui pakai bumbu-bumbu health food gitu (contohnya tamari) dan dimakannya dingin. Waduh menurut saya nggak karuan. Lha ya dari negara pencipta tempe… tempe yang dimakan dari kecil hangat dan enak dengan rasa sederhana.

Saking kepengennya makan tempe, saya pengen makan tempe orek pete. Bela-belain deh beli tempe mahal-mahal… yang penting puas dan bergizi juga kan! Nanti kapan-kapan kalau pulang lagi saya ingin deh, beli ragi tempe terus diselundupkan ke sini biar bisa makan tempe sepuasnya tanpa mbolongin kantongku hahaha…
Hidup bangsa tempe! Bangga lho, makanan asli khas Indonesia ini di luar negeri pamornya betul-betul bagus (sayangnya cara memasaknya ndak cocok dengan lidah kita… eh lidah saya mungkin ya).

Screen Shot 2017-08-03 at 8.34.02 PMPenampakan orek tempe a la saya… saya doyannya yang agak nyemek dan nggak terlalu manis. Di rumah, Mami dulu nggak doyan yang versi garing, jadi keikut deh anaknya ini masak tempenya nggak garing sama sekali.

Kalian doyan makan tempe diapakan?

Favorit saya tempe mendoan dan tempe goreng pakai garam 🙂

Begitu kira-kira pertanyaan Mami kepada saya.

Saya bukan tipe istri seperti Mami dulu, yang rajin masak beberapa lauk sekaligus (ada yang kuah, goreng dan tumis) untuk makan di meja makan. Karena pulang kerja sudah petang, saya maunya makan yang cepat saja. Tapi harus bergizi, penuh nutrisi… dan pastinya harus enak! Dan saya termasuk orang yang rewel soal penampilan makanan. Kalau kelihatannya asal tubruk, saya nggak bakalan makan dengan nikmat hahaha… makanya dari kecil kalau makan Mami nggak pernah menyendokkan makanan ke piring anaknya yang satu ini saking si anak bawel kalau makananannya disendokkan dengan ngasal. Urus sendiri deh! Beda dengan kakak saya yang demen kalau piringnya udah tinggal makan saja pokoknya.

Karena sedang musim dingin, harga sayuran pun tinggi; mau masak oseng oseng tumisan a la Asia, deuh sayurnya agak mahal dan sedikit. Tunggu deh nanti musim semi kalau mau makan gitu-gitu dengan ekonomis. Saya memang sedang berusaha dan mencoba untuk makan lebih seasonally, belanjaan sayur tergantung yang di musimnya supaya bisa mengirit (dan tentunya jatah tuh sayur yang lebih besar, makanannya bisa banyak untuk makan malam plus makan siang sekaligus).

Jadi kayak apa sih menunya kita sehari-hari bulan terakhir ini?

Sirloin steak, mashed potato (kentang tumbuk) dan tumisan kale plus wortel. Karena dagingnya dibeli dengan harga spesial hari itu sepiring ini kira-kira NZ$7 🙂 buat saya hap hap hap sekali makan aja, nggak ada sisanya! Kalau teman serumah makan, dagingnya disisakan lalu dicampur ke saladnya untuk makan siang esok.

Pie ayam dan sayuran (chicken and leek pie — resep sudah diposting di sini), menu ini juga menghangatkan badan secara minggu terakhir cuaca di Auckland amburadul (dingin banget, angin kayak es lalu saya tengah malam bangun karena hujan es nabrak-nabrak kaca kamar tidur tuh esnya). Terus ekonomis juga karena dengan harga bahan sekian si pie sangat mengenyangkan, sisanya untuk makan siang dan ada dua potong sisa yang saya masukkan freezer kalau kami butuh bekal makan siang darurat di masa depan.

Di atas ini ceritanya bekal makan siang saya dan M untuk dibawa ke kantor. Saya beli daging sapi cincang yang lagi diskon, dibagi dua. Setengahnya dijadikan patty/bola daging dan disajikan dengan telur rebus dan sisa sayur-sayuran dari beberapa makan malam sebelumnya. Jadi deh makanan baru. Lalu setengahnya lagi saya masak dengan pasta dan sayuran. Lumayan banget lho, bawa bekal seperti ini karena beli makanan di luar untuk makan siang kira-kira pukul rata bisa habis $10 atau lebih sekali beli (soalnya kalau mau murah, beli sandwich mana kenyaaang apalagi dingin begini). Berdua jadi $20an deh… bandingkan dengan si daging cincang yang harganya hanya $4.50, jadi 4 porsi makan siang 🙂

Bola-bola ayam dan wortel yang saya buat menggunakan food processor. Enak, murah, hasilnya banyak… dibawa ke rumah teman untuk potluck, sisanya saya sisihkan dan sajikan dengan nasi dan sayuran untuk bekal makan siang.

Minestrone soup, isinya sisa-sisa sayuran (lagi!) yang belum dimasak di kulkas, kelihatannya menyedihkan jadi campur aja deh dengan bacon, tomat dan pasta. Resepnya ada di sini dan si sup ini menghangatkan banget, lho! Selain ekonomis, enak dan mengenyangkan si sup juga oke dimasukkan ke freezer untuk dibekukan… kalau sakit dan malas masak (atau memang alasan aja lagi malas masak) bisa dipanaskan dengan cepat.

Bakso buatan sendiri… makannya pakai mangkok ayam. Suedaaaaaap…! Bakso saya buat 1 kg sampai pegel tuh tangan mentol baksonya sendirian, lalu saya bekukan dan pisahkan beberapa porsi kuah untuk dibekukan. Mau makan tinggal dipanaskan saja. Praktis, enak di kala dingin dan mengobati kangen Indonesia pastinya.

Laksa buatan sendiri. Ini juga enaaaak… pas membuatnya saya sempat was was takut nggak jadi, maklum belum pernah membuat laksa dari nol sebelumnya. Ternyata hasilnya enaaaaaaak dan menghangatkan (plus bikin nangis karena saya pakai sambel banyak). Sisa kuah lagi-lagi saya bekukan hahaha, kalau mau makan lagi tinggal hangatkan kuahnya saja dan hadirkan pernak-pernik segar (ayam, sayuran, telur rebus dan bihun).

img_6982

Di atas ini lagi-lagi saya mengkaryakan sisa makanan… hahaha. Saya dan M makan keluar dan porsi dagingnya banyak banget jadi kami gak bisa habiskan. Saya bungkus, bawa pulang dan hadirkan kembali dengan penampilan berbeda. Sisa daging saya potong-potong dan tumis bersama bumbu dan sayuran yang nemu di kulkas, sajikan dengan nasi putih. Enak dan ekonomis!

Sekian postingan iseng-iseng saya kali ini, semoga pada gak bosen lihat foto makanan ya 🙂

Berhubung saya punya proyek Instagram (klik di sini) dan blog makanan baru (klik di sini) saya ingin mencoba peruntungan saya dalam berkebun lagi. Tahun 2015 saya sempat bercerita tentang niat berkebun saya. Sayangnya, tanaman-tanaman tersebut (ada mint, rosemary, parsley dan spring onions) satu-satu mati… tangan saya nih betul-betul nggak hijau. Kali ini ganti strategi, tanamannya ditaruh di halaman depan rumah yang sering saya lewati supaya saya ingat untuk disayang-sayang. Memang untung nggak disangka, ketika bertanya tips berkebun kepada temannya M yang berkebunnya sukses sekali, dia malah menawari ambil saja tanaman di rumahnya untuk bibit supaya saya nggak perlu beli.

Pulang dari rumahnya yang asri (dan ada kucing serta ayam-ayam yang lucu dan gemuk-gemuk sayangnya saya lupa foto) dikasih hadiah rosemary, catnip dan cabe segar-segar! Duh terimakasih sekali, bisa buat masak minggu depan nih. Loki juga sangat senang dan ceria dapat catnip yang luar biasa banyaknya.

Tanaman yang diberikan olehnya saya pindahkan ke pot saya. Ini tanaman mint, catnip dan rosemary. Nanti saya mau beli tanaman kecil untuk coriander (ketumbar) dan thyme yang sering saya gunakan dalam masakan sehari-hari.

Untung lagi yang nggak disangka dan sangat disyukuri, teman kerja saya pindah rumah. Ketika pindah ini tanaman lemon dan limaunya di dalam pot, nggak ikut dibawa karena rumah barunya minim tempat di kebun. Ditawarkan ke saya, gratis… dan diantarkan ke rumah pula! Benar-benar terima kasih sekali, apalagi timingnya yang tepat banget kan ketika saya mau mulai berkebun lagi.

img_6867

Foto penampakan tanaman dan buah limaunya yang cantik dan segar-segar, semoga beneran nggak mati! Ada tips, boleh dong dibagi untuk saya yang baru mulai berkebun ini!

Nasi goreng petai yang enak dan mengobati kangennya dengan rumah. Piring di atas ini adalah piring masa kecilnya Mamiku, lho! Konon waktu kecil setiap hari beliau makannya dengan piring ini, hebat banget kualitasnya sudah berumur 50 tahun masih bagus. Masak ini hasil dari inspirasi karena SMS-an dengan Stephanie malam sebelumnya, hahaha… Resep sudah diposting di sini ya!

Terakhir, penampakan si Loki aja nih karena bisa lihat panjangnya dia dibandingkan bantal sofa kami.

Semoga weekend kalian bermanfaat dan penuh warna juga, ya!

Kali ini saya mau berbagi sedikit tentang visa spesial yang satu ini karena banyak yang nggak tahu lho, tentang eksistensinya. Catatan ya, saya nggak punya pengalaman apply visa ini sendiri jadi ini hanya rangkuman dari research saya membaca-baca di website imigrasi New Zealand.

img_5596

Silver Fern Job Search Visa ini adalah visa yang dikeluarkan oleh pemerintah NZ untuk orang-orang yang minat untuk mencari pekerjaan di sini. Boleh bekerja apa saja, lho! Setiap tahunnya hanya 300 orang pertama yang aplikasinya diterima untuk mendapatkan visa ini, jadi harus cepet-cepetan (udah kayak beli tiket konser). Setiap tahun ada tanggal khusus di mana kalian bisa apply visa ini. Hanya sekali saja setiap tahunnya! Dan nggak dikasihtahu dari jauh-jauh hari, cuma ditulis ‘late 2017’ jadi harus rajin-rajin cek ke website imigrasi.

 

Dengan mendapatkan visa ini, bisa bekerja apapun di manapun di NZ selama 9 bulan lamanya (boleh dipakai juga buat belajar selama 3 bulan maksimal) dan bisa keluar masuk NZ (multiple entry) selama ini. Nah kalau dalam kurun waktu 9 bulan memegang visa ini kalian mendapatkan job offer dari perusahaan di sini, kalian bisa mendaftar Silver Fern Practical Experience Work visa, dan mendapatkan visa lagi dengan durasi maksimal 2 tahun… lalu bisa mendaftar visa resident setelahnya.

Kali ini yang mau saya bahas sih yang Job Search visa ya karena inilah langkah awal yang kudu ditempuh sebelum ke depan-depannya.

 

Saran-saran pendaftaran dari saya:

  • Sign up/registrasi di website Imigrasi NZ SEKARANG JUGA. Jadi kalian punya akun, dan akan dikabari lewat email tanggal pastinya dan bisa mempersiapkan diri untuk mencoba peruntungan mendaftar visa ini. Nggak buru-buru.
  • Research juga tentang job market di NZ (bisa lihat-lihat lowongan yang ada di Seek.co.nz atau Trademe.co.nz) jadi kalau beruntung dan dapat visanya, kan nggak kelabakan ya.
  • Ketika mendaftar bukalah banyak tab dengan browser yang berbeda, supaya kesempatan untuk masuk lebih besar. Ingat, saingan kalian untuk 300 visa ini dari seluruh dunia yang buesaaar ini.
  • Mempersiapkan dari jauh hari dokumen-dokumen dan syarat yang dibutuhkan.
  • Jangan lupa waktu yang kalian pakai harus waktu NZ yaa… teman saya ada yang mau daftar, dia baca jam 7 pagi. Lah jam 7 pagi NZ dong, bukan waktu Jakarta. Pas dia buka, udah habislah tuh kuota.

Kriteria penting yang dibutuhkan ketika mendaftar:

  • Usia harus 20-35 tahun.
  • Harus berada di luar NZ ketika mendaftar. Mereka mungkin akan minta bukti surat yang kalian terima beserta alamatnya untuk bukti, atau surat dari perusahaan di mana kalian bekerja.
  • Punya paspor yang masih berlaku dan pasfoto terbaru.
  • Menyiapkan diri menjawab pertanyaan kesehatan. Kalau aplikasinya diterima harus siap ikut X-Ray dan eksaminasi medis untuk imigrasi.
  • Kalau diterima harus ada SKCK dan police report dari semua negara yang pernah kalian tinggali selama 12 bulan atau lebih.
  • Harus memiliki ijazah minimal setara dengan S1 di NZ atau trade qualifications (kalau yang mau kerja pertukangan misalnya).
  • Harus punya pengalaman kerja.
  • Harus memiliki bukti tabungan setara dengan NZ$4,200 untuk bukti kalian bisa menghidupi diri kalau datang ke sini nanti.
  • Harus memiliki bukti tiket pesawat, booking-an tiket pesawat atau uang yang dibutuhkan untuk beli tiket return ke NZ.
  • Harus lancar berbahasa Inggris! Dan bisa membuktikannya dengan misalnya ijazah TOEFL atau IELTS, ijazah sekolah di negara yang berbahasa Inggris.

 

Semoga postingan singkat ini bisa membantu 🙂

Pengalaman yang sudah pernah mendaftar sendiri bisa dilihat contohnya di sini.

Untuk yang mau baca-baca, silakan ke halaman web Imigrasi New Zealand ini.

Terinspirasi kejadian yang terjadi seminggu lalu (nanti akan saya bahas di postingan terpisah) dan postingan Crystal tentang sakit di Belanda, kali ini saya mau membahas tentang sistem kesehatan di New Zealand. Sebagai background saya ini jarang sakit tapi saya punya beberapa kondisi tubuh yang mengharuskan saya untuk lumayan sering ketemuan dengan specialists.

Prosedur dokter di New Zealand sebenarnya mudah saja, biayanya yang berbeda-beda. Misalnya kamu sakit batuk. Sebagai turis, pekerja baru (work visa di bawah 2 tahun), atau pelajar (student visa) kamu tidak bisa mendapatkan harga subsidi, jadi jatuhnya lebih mahal, tergantung daerah dan reputasi klinik kamu bisa merogoh kocek sebesar NZD 50-100 untuk ketemuan singkat dengan dokter selama 15 menit. Harga subsidi yang tersedia untuk citizen, resident dan work visa yang sudah dipakai selama 2 tahun ini hanya bisa didapatkan di klinik GP (General Practitioner) di mana kamu terdaftar. Jadi misalnya kalau kamu terdaftar di klinik A, kamu harus bayar biaya tanpa subsidi kalau kamu pergi ke klinik B. Subsidi jadinya jauh lebih murah, sekitar NZD 18-60 tergantung dengan daerah dan reputasi klinik juga. Obat-obatan yang diresep juga murah sekali, 5 dolar saja per jenis obat kalau dapat biaya subsidi.

Kalau sakitnya tidak bisa ditangani oleh dokter umum alias GP, si dokter akan membuat surat referensi untuk ketemuan dengan spesialis. Jadi tidak bisa misalnya ada keluhan jantung, keluhan perut lalu langsung menghubungi spesialis sendiri, harus dapat pengantar dari dokter. Nah kalau kamu nggak punya asuransi kesehatan untuk pergi ke spesialis atau rumah sakit swasta, perawatan gratis bisa didapatkan lewat public health system alias rumah sakit dan spesialis umum. Hanya saja, yang gratis ini biasanya waitlist alias daftar tunggunya bisa lama, dari hitungan minggu sampai hitungan bulan. Kalau situasi dan kondisi kamu tidak parah atau darurat, mereka nggak akan memprioritaskan kamu untuk ketemu spesialisnya.

Contohnya dulu ketika ada benjolan di dada saya, karena benjolannya tidak berbahaya, bukan tumor bukan kanker tapi tetap harus diangkat, melalui jalur yang gratis saya disuruh menunggu 6 bulan untuk dapat jadwal operasi. Ketika saya telepon RS swasta yang bayar, dua minggu sudah dapat jadwal operasinya. Tapi daftar tunggu ini relatif juga, karena menurut teman dekat saya yang tinggal di kota kecil, jadwal tunggunya tidak selama ketika mereka tinggal di Auckland.

auck hosRumah sakit umum di tengah kota, yaitu Auckland City Hospital
Foto diambil dari https://www.healthpoint.co.nz/pharmacy/pharmacy/auckland-city-hospital-pharmacy/

Bagaimana kalau darurat atau kecelakaan?

Tenang, karena di New Zealand ada ACC, alias Accident Compensation Corporation. Sebagai catatan, yang luar biasa adalah ACC ini juga mencakup turis dan non-resident/citizen. Jadi kalau kamu sebagai turis kecelakaan (termasuk yang remeh temeh seperti jatuh misalnya) di New Zealand kamu berhak untuk mendapatkan perawatan sampai operasi kalau dibutuhkan, melalui ACC ini. Gratis! Paling hanya bayar biaya administrasi saja yang jumlahnya sedikit, paling banter $100. Kalau kecelakaan, kondisi penyakit parah atau darurat nggak punya asuransi juga nggak apa-apa karena langsung akan ditangani oleh pihak umum, tidak pakai tunggu.

Pengalaman pribadi saya di-cover oleh ACC ada beberapa. Saya pernah jatuh, lalu sakit punggung. Perawatan jalan fisioterapinya gratis, karena termasuk kecelakaan jadi ACC yang membayar. M pernah juga tiba-tiba tidak bisa gerak (sepertinya punggungnya ‘keceklek’ atau salah urat), kami pun telepon ambulan. Ambulan datang menjemput, dibawa ke rumah sakit dan ditangani, kami nggak bayar sepeserpun. Lalu ketika saya mengalami serangan alergi/shock/anaphylaxis seperti di cerita postingan ini juga saya tidak bayar.

Screen Shot 2017-05-08 at 6.16.21 PMIni saya di rumah sakit setelah dikasih penenang, sudah bisa pose senyum-senyum. Padahal setengah jam sebelumnya, bengkak, merah, sembab, ngamuk karena nggak mau dipasang infus dan disuntik ha ha ha… bandel ya.

Jadi intinya tidak usah khawatir kalau sakit di NZ pasti akan ditangani kok. Hanya saja kalau tidak darurat, harus siap-siap menunggu giliran sampai bulanan lamanya. Tidak mau menunggu dan mau mendapatkan fasilitas di rumah sakit swasta yang tentunya jauh lebih bagus? Belilah asuransi kesehatan. Dengan asuransi, bisa pergi ke rumah sakit dan spesialis swasta yang jeda waktu menunggunya tidak selama di umum. Ya maklum lah ya, namanya juga gratis dan pastinya buanyaaak sekali orang yang lebih membutuhkan ketemu dokter dibanding orang yang sakitnya tidak mendesak. Dan kualitas rumah sakit umumnya juga bagus.

Saya sendiri memiliki asuransi, soalnya sekali ketemuan dengan spesialis di swasta harganya mulai dari $250, dan kebetulan kantor memberikan subsidi asuransi kesehatan jadi saya membayar hanya seperempat dari premi aslinya. Bersyukur banget. Sebetulnya saya sudah punya dari sebelum masuk kantor, tapi karena di kantor dapat subsidi, saya naikkan covernya dari yang basic ke yang cover banyak macam-macam.

Semoga postingan ini bisa memberi gambaran bagaimana sistem kesehatan di NZ. Menurut saya sistem ini masih bisa diperbaiki dan dimajukan lagi kualitasnya, tapi saya sangat sangat bersyukur dengan adanya sistem ini. Gratis lho! Dan ada ACC. Sistem yang sudah bagus bagi saya, kalau-kalau saya sakit atau kecelakaan, saya nggak kuatir nggak ada yang menangani kalau saya tidak punya uang.