Archive

NZ Life

Ternyata pada tahun 2015 saya pernah menulis singkat tentang Bahasa Unik NZ – Part 1 yang dengan sayangnya terlupakan dan saya nggak pernah menulis part 2-nya… hahaha… maafkan saya yang suka terlanda kemalasan dan kurang niat ini. Kali ini saya mau berbagi lebih banyak lagi slang alias bahasa Inggris unik a la New Zealand. Pakai bentuk list saja supaya mudah dibaca dan nggak kepanjangan ceritanya, hehehe. Siapa tahu berguna untuk kalau ada yang mau berkunjung kemari, atau nambah pengetahuan bahasa Inggris model unik gini 😀

  • Dairy: selain arti harafiahnya yaitu produk dari susu, dairy adalah kata lainnya convenience store/minimarket. Jadi kalau ada yang bilang, “Go to the dairy.” atau “Getting it from the dairy.” ini maksudnya pergi ke kios minimarket kecil.
  • Lolly/lollies: sebutan untuk permen dan manisan.
  • Cooked: istilah “He/she is getting cooked.” atau “He/she’s so cooked.” maksudnya artinya ini orang udah mabuk banget hahaha.
  • Chook: ayam… contoh, seperti ayam panggang jadinya roast chook 🙂
  • Ta: ini artinya terima kasih/thank you. Waktu baru sampai di sini, saya bingung lihat teman saya yang berkomunikasi dengan anaknya pakai ‘ta’ kirain ‘ta’ itu bahasa bikinannya teman saya ini untuk minta barang dari anaknya. Nggak tahunya artinya terima kasih, hehehe. Di kantor juga banyak yang pakai kata ‘ta’ ini… untung saya sekarang ngerti kalau nggak maluuuuu.
  • Cheers: atau bisa juga bahasa gaulnya “chur”. Semacam kata ganti untuk terima kasih, juga bisa digunakan untuk ganti kata “regards” di komunikasi tertulis.
  • Brolly: ini singkatannya umbrella, alias payung. Dulu saya bingung disuruh bawa brolly oleh senior di kantor, apa ituuuu brolly hahaha. Gak tahunya payung 🙂
  • Gummies: bukan gummy bear ya… gummy bear mah lolly seperti di atas hahaha. Gummies ini singkatannya gumboots alias sepatu boots dari bahan karet, yang dipakai di kala hari hujan dan jadi bechyeeek ga ada ojyeeeek.
  • Hot chips: kentang goreng — kalo ngomong fries banyak yang nggak tahu, lho!
  • Chips/chippies: keripik kentang
  • Crook: sakit… contoh kalimatnya “Oh I feel so crook!” maksudnya ini saya nggak enak badan (bukan body not delicious yaaa… hahaha).
  • Jelly: selain arti harafiahnya jelly makanan itu, bisa jadi singkatan iri alias “jealous” — contohnya “I’m so jelly you get to go to the concert.”
  • Piss: artinya alkohol. Kalo misalnya mau minum-minum mabok, orang bisa bilang “I’m getting on the piss.”
  • Takeaways: istilahnya untuk gerai/makanan cepat saji terjangkau (tapi bukan model McD gitu-gitu) yang dibawa pulang. Misalnya saya bilang, “Let’s get takeaways for dinner.” jadi artinya adalah yuk bungkus makanan. Gerai takeaway biasanya di food court, atau komplek perumahan dan nggak ada tempat duduknya. Jadi memang didisain untuk makanannya dimakan di rumah masing-masing.
  • Bugger: artinya persis dengan “Oh, no” jadi misalnya saya cerita tentang kemalangan yang saya alami, teman bisa mengungkapkan rasa prihatinnya dengan bilang “Bugger!” tapi pengucapannya nggak dipakai r di belakang, jadi seperti ba-ga’
  • Piece of piss: artinya gampaaaaaaang… kalau di bahasa Inggris biasa artinya mirip dengan piece of cake.
  • Chilly bin: tas pendingin/cooler box yang bisa dibawa-bawa kalau piknik itu lhoo.
  • Wheelie bin: kotak sampah yang bisa ditarik.
  • Crash here/there: artinya nginap di rumah orang, bukan nabrak hahaha.

Segini dulu yang mau saya share hari ini… semoga bisa membantu atau jadi hiburan karena kata-katanya banyak yang lucu menurut saya. Nanti kalau mood lagi saya akan bikin part 3-nya (semoga penundaan tidak menjadi 2 tahun lamanya, hihihihi).

Advertisements

Tinggal di sini tentunya saya banyak bergaul dengan orang lokal, yang terkenal dengan sebutan ‘Kiwi’ seperti buah negara ini yang terkenal, hehehe. Misalnya mereka menyebut orang Australia ‘Aussies’; sedangkan untuk diri sendiri mereka menyebut diri sendiri ‘We are Kiwis’. Sepertinya saya belum pernah share tentang kebiasaan mereka yang beda dengan orang dari negara lain (terutama Indonesia dong ya perbandingannya, tanah air tercinta). Dengan orang di Australia, mirip nggak? Mungkin blogger-blogger yang tinggal di negeri Kangguru bisa memberikan pencerahannya.

1.jpg

Obsesi dengan Cuaca
Duh ini dia salah satu topik basa basi terhangat yang biasa dipakai orang Kiwi. Mereka pokoknya sukaaaaaa sekali dengan matahari yang bersinar terik walaupun sinar UV yang berbahaya. Saya juga suka sih, kalau keluar rumah tak lupa saya memakai selapis sunblock untuk melindungi muka saya dari ancaman melanoma alias kanker kulit.
Di bus, ketemu orang di jalan, kenal nggak kenal, kasir di toko, di kantor… pokoknya pasti ada saja percakapan dan pembahasan tentang cuaca hari itu, cuaca minggu tersebut, ramalan cuaca ke depan…

Tidak Membawa Uang Cash
Kebiasaan yang mungkin lebih jamak di kota besar dibandingkan kota kecil, dan salah satu kebiasaan yang nempel dengan saya 🙂
Sistem pembayaran di sini sering dilakukan menggunakan kartu ATM bank biasa. Kami menyebutnya EFTPOS card. Kalau belanja pasti pertanyaan di kasir adalah “Cash or EFTPOS?” Saya kalau keluar rumah tanpa kartu ini rasanya seperti nggak bawa uang… memang benar sih soalnya saya nggak pernah bawa uang cash sepeserpun.
Sekarang ada lagi sistem pembayaran, namanya Paywave. Jadi kartu dilengkapi dengan chip khusus dan bisa disentuh ke mesin tanpa menggunakan PIN (limit transaksi bisa dibatasi, contohnya saya mengatur supaya kartu Paywave hanya untuk pembayaran maksimal $50). Cocok untuk yang nggak sabaran seperti saya, ha ha ha.

Nyeker alias Tidak Memakai Alas Kaki
Semakin jarang terlihat di kota besar tapi tetap salah satu kebiasaan yang saya harus ikut tuliskan di sini. Banyak orang yang suka jalan-jalan tanpa alas kaki. Ke mall, ke supermarket, di jalanan… kalau di restoran sih pasti harus pakai alas kaki ya.
Saya masih ingat waktu tahun pertama di sini, ke supermarket, bengong pol karena ada sekeluarga di sana dan yang laki-laki dari ayah sampai anaknya semuanya nggak pakai alas kaki.

Menyebut Makan Malam sebagai Tea
Apakah orang negara lain ada kebiasaan ini? Bukan kebiasaan sih, mungkin lebih cocok disebut kosa kata, tapi karena unik dalam artian harafiah dan saya sering dengar saya tuliskan juga. Saya pertama-tama suka bingung kalau ada yang bilang, “I had roast for tea.” atau tanya, “What are you having for tea?”
Karena dalam pikiran saya tea kan ngeteh ya, tapi kok makannya pada berat-berat. Lama-lama sadar tea itu bisa juga buat sebutannya makan malam.

Coffee Culture
Kopi sudah bagaikan minuman wajib, yang di Australia sepertinya mirip-mirip juga coffee culturenya. Banyak kedai kopi di mana-mana dari yang basic sampai yang stylish. Kantor pun pasti rata-rata menyediakan mesin kopi (seperti di kantor saya mesin kopinya yang manual, jadi asyik bisa membuat kopi dengan susu yang difoam manual sendiri). Orang sini suka sekali dengan flat white, yaitu kopi yang dicampur dengan susu segar yang sudah di-foam dengan teknik khusus sehingga busanya kecil-kecil (microfoam). Saya juga sukaaaaaaa dengan flat white ini. Yang nggak mengkonsumsi produk susu pun tidak usah khawatir karena cafe pasti menyediakan opsi untuk memesan kopi dengan susu almond atau susu soya.

Drinking Culture
Aduh kalau weekend pasti di CBD pasti bertebaran orang-orang mabuk (biasanya yang umur awal 20an, walau nggak eksklusif juga sih!). Kalau di Jakarta kan orang mabuknya di dalam club/gedung/ruangan banyaknya, nah di Auckland jarang ada club khusus yang besar seperti di Jakarta. Biasanya restoran atau bar, malamnya jadi club, jadi sering juga orang pub crawl alias minum berpindah-pindah bar — makanya banyak yang di jalanan hihihi.
Di sini umur 18 tahun sudah usia legal untuk membeli alkohol, tapi pasti diminta ID/kartu tanda pengenal jika muka kita terlihat seperti di bawah usia 25 tahun. Misalnya diundang orang makan ke rumahnya kalau nggak membawa makanan untuk tambahan paling saya membeli sebotol wine untuk dibawa, minum bareng dengan tuan rumahnya. Kalau sedang musim panas diundang BBQ, sudah seperti aturan tak tertulis bawalah bir untuk diminum bareng. Tapi nggak untuk mabuk juga yaa haha. Wajar di sini kalau makan malam temannya segelas wine, atau bir.
Bir di sini banyaaaaaak jenisnya karena craft beer sangat populer dan menjamur, bisa juga minum cider (jus buah beralkohol, biasanya pir atau apel walau banyak variasi rasa lainnya dewasa ini).

Sekian 6 kebiasaan yang saya share hari ini… nanti kalau kepikiran lagi akan saya share lagi. Ada beberapa yang teringat waktu saya mengetik ini tapi mungkin lebih ke lingo/istilah bahasa, kapan-kapan kalau sudah terkumpul banyak (plus niat nulis, hahaha) akan saya ceritakan di postingan lainya yaa!

Ingin cerita dan berbagi foto tentang salah satu hal favorit saya di daerah tempat tinggal kami di Auckland.

Saya termasuk salah satu yang beruntung bisa tinggal di suburbia/daerah perumahan di Auckland, New Zealand — tepatnya di daerah North Shore City (bagian Utara kota Auckland). Menurut saya nggak terlalu sumpek dan beruntungnya lagi rumah kami letaknya di pinggiran bukit yang pemandangan ke bawahnya sangat cantik. Selain pemandangan yang cantik, pemerintah (council) juga merawat taman dan daerah sekitar sehingga ada taman dan rute kecil untuk jalan alam mini. Menyegarkan, pokoknya, dan gratis! Hehehe. Di sini banyak yang jalan pagi, jalan sore, ajak anjing jalan-jalan, jogging, bersepeda dan seperti saya jalan pacaran ceritanya, ha ha ha.

img_7837Turun dari bukit (tentunya ada jalan setapaknya, seperti di buku Enid Blyton kalau saya bayangkan… berpetualaaaaang) bertemu dengan pemandangan ini. Tentunya dengan langit yang biru. Saya ini seperti kucing, kalau hujan, saya nggak keluar rumah.

img_7868Ini si M lagi memfoto rumah kami dari bawah bukit… rumahnya kelihatan di foto ini seperti titik kecil, hehehe. Lihat kan deretan rumah-rumah di atas bukit?? Itu perumahannya, di jalan utama dan ada rute busnya dan sebagainya.

img_7834Jalan kira-kira 10 menit dari rumah kami sampai ke rute jalan alam ini. Jalannya ya cuma tanah biasa seperti di atas, yang bagian kayunya adalah jembatan buatan.

img_7861

img_7862

img_7839

img_7877

Saya seumur hidup nggak pernah olah raga, tahun ini saya memulai. Pelan tapi pasti — sulit pastinya dong soalnya jarang gerak sih! Dengan adanya rute jalan alam ini sangat membantu jadi tidak bosan, dekat rumah juga. Karena saya nggak terlalu suka olah raga di gym, selain jalan ini saya juga ikut kelas bikram yoga (yoga di ruangan panas kira-kira 38-40 derajat celsius).

Saya suka sekali dengan rute jalan alam ini, karena kalau lagi matahari bersinar cerah, sepertinya dengan mudah kami bisa mendapatkan sedikit pelarian alias escape dari kehidupan kota… secara sehari-hari kerja di daerah city yang sibuk (sesibuknya sih nggak sampai sesibuk di daerah Senen misalnya ya, hehehe), pulang kerja pun balik ke rumah yang suasananya ya perumahan. Bisa kabur ke alam sebentar seperti ini, rasanya rileks dan badan pun segar kembali.

Judulnya lebay banget ya… hahaha… singkatnya setiap tahun kantor saya ikutan acara cupcake day ini di mana kami-kami volunteer dari kantor untuk buat cupcakes (atau cemilan lainnya) yang lalu dijual di kantor dan hasilnya disumbangkan untuk SPCA. SPCA ini adalah organisasi kesejahteraan hewan di New Zealand. Mereka ini organisasi independen yang nggak menerima uang dari pemerintah… jadi sumbangan dari masyarakat benar-benar penting untuk mereka. Saya sendiri sebagai pecinta binatang tentunya ikutan dong ya volunteer di kantor untuk bikin kue. Tahun ini tidak terasa sudah tahun ketiga saya ikutan acara ini. Mau berbagi cerita saja gimana ikutan berpartisipasi di acaranya.

Saya, si orang last minute ini, hari Minggu sore baru mulai baking. Pede aja pastinya jadi. Lalu pakai acara coba-coba resep baru lagi… yah saudara-saudara GAGAL DONG! Hasil jadinya sih enak bingits seperti kue bolu ala ala Indonesia gitu, tapi saking airy dan lembutnya, si kue kempes kalau dikasih icing yang berat 😦

img_7730

Di atas ini adalah penampakan si kue yang gagal tapi enak ini (iya, gagal, tapi karena enak dan lembut jadi kita makanin semua di rumah hihihihi). Resepnya pakai resep Cie Ine Elkaje. Saking enaknya si suami udah request, bikin lagi dong pakai pasta pandan. Dasar memang kue kesukaannya, chiffon pandan 🙂

Oke, resep gagal, nggak mati gaya. Langsung ke website gula di NZ sini yang kebetulan merek gulanya kami pakai di rumah, pakai resep cupcakenya, hasilnya… cupcake yang lembut, tapi kuat dan kokoh untuk icingnya.

img_7736

Inilah hasil cupcakes batch kedua, saya buat dobel resep jadinya dua loyang. Beda ya hasilnya kelihatan sama yang awal, mengkerut kebanyakan udara si kue. Tapi jujur saja… lidah Asia saya lebih doyan yang mengkerut. Soalnya rasanya persisssssss kue bolu chiffon! Biar cepat, saya bikin Nutella frosting saja (karena lumayan sering bikin jadi sudah nggak ditakar lagi buatnya). Eh ternyata spuitku hilang… entah ke mana… padahal sudah jam 11 malam yaaa habisnya last minute sih bikinnya. Setengah mengantuk sayapun menghias cupcakes dengan menggunakan pisau butter! hehehe. Lalu pakai sprinkles. Hasilnya lumayan juga. Jam 12 malam jerih payah saya terbayar dengan comot makan satu cupcakesnya.

img_7743

Hasil cupcakes frostingan tangan saya. Lumayan banget! Satunya dijual $4

img_7742

Tahun lalu peserta bakingnya jauh lebih banyak, tahun ini hanya ada 3 orang saja. Jadi kuenya terpaksa kami hargai lebih mahal 😦 terus kedengeran Ibu Manager saya protes, kok mahal amat. Yah Bu, bikinnya pakai telat tidur dan bahannya dari kami lho… hahahaha… tapi setelah ngoceh-ngoceh si Ibu Manager beli juga satu. Dilabeli dengan post it note, karena saya demen nulis, sayalah yang disuruh nulis label dan harga.

img_7745

Oh iya di atas ini adalah ‘toko kue’ resminya SPCA untuk cupcake day ini. Toko pop up ini hanya ada sehari ini saja, dan tersebar di Auckland. Yang membuat kue dan menjualnya juga adalah para volunteer yang baik hati.

Bagi saya pribadi, seru — dan walau tiap tahun pasti membuatnya last minute, lalu ngoceh-ngoceh no more next year, tetap tahun depannya saya ikutan lagi.

Kali ini saya ingin bercerita beberapa pengalaman unik/awal/berkesan tentang papasan/ketemu nggak sengaja dengan orang Indonesia di tempat umum di New Zealand. Lumayan sering papasan atau dengar orang ngobrol Bahasa Indonesia di jalanan, mal, supermarket dan sebagainya. Sering di sini nggak tiap hari ya, mungkin sebulan sekali. Beberapa minggu yang lalu saya di Queenstown juga sempat papasan dengan pasangan Indonesia. Yang nyikut dan ngasih tau saya si M. Dia bilang “They’re saying ini… iniii…” dengan nada orang milih barang gitu hahahaha. Papasannya di toko souvenir.

Pengalaman pertama manis sih. Katanya orang Indonesia ramah-ramah? Iyaaaaa iyaaa… pengalaman yang pertama ini terjadi pada bulan kedua saya di Auckland. Sedang jalan-jalan di K Mart (department store murah) bersama dua teman serumah saya yang juga orang Indonesia (berangkatnya bareng dari agen sekolah yang sama). Kami papasan dengan sebuah keluarga muda kecil Indonesia yang RAMAH BANGET. Papa, mama dan anaknya perempuan… minggu depannya sekeluarga ini main ke apartemen kami yang mungil, bawa makanan. Ramah, baik, welcoming… ah berkesan deh, tapi saya nggak lanjut temenan dengan mereka.

Pengalaman kedua yang teringat… waktu saya baru di sini juga. Tahun pertama, tahun 2011 dan nggak kenal banyak orang – disarankan ikut organisasi tapi saya kurang minat, maklum karena sibuk, sekolah lalu bekerja part time. Papasan deh sama dua cewek Indonesia, kalau dengar dari gaya pakaiannya dan gaya ngomongnya… pasti deh orang Jakarta. Saya iseng, lagi good mood, jadi menyapa. Halo, dari Indo yaa (insert senyum semanis madu di sini). Whuaaaahh… katanya orang Indonesia ramah-ramah? Ngggaaaaaak semuaaaaa… saya mendapatkan jawaban berupa “Iya.” yang singkat, padat, jelas, tak terlanjutkan dan sebuah hadiah kecil tatapan naik dari atas kepala ke bawah kaki. Kabur ah! Itu pertama dan terakhir kali saya menyapa orang Indonesia duluan kalau nggak kenal. Niatku mau ramah aku malu… hihihi.

Pengalaman yang ketiga, lucu banget. Ceritanya saya dan teman lagi antre McDonald’s. Kami waktu itu dilemma banget mau makan apa, belum memutuskan, dan saking asyiknya saya nggak sadar di belakang yang tadinya nggak ada orang sekarang ada orang yang menunggu. Seorang Ibu kira-kira umur 50an dan anaknya kira-kira sepantaran saya lah, laki-laki. Si tante sepertinya kurang sabar… lalu nyelonong ke depan kami dan taruh order ke kasirnya, anak remaja yang mukanya langsung bingung situasi seperti ini mau diapakan. Muka saya kan mata sipit kulit kuning nggak langsat, jadi si Tante pasti nggak menyangka saya ngerti omongannya seterusnya.
Si anak mukanya merah karena malu, bilang, “Mama nggak boleh gitu… antre Ma.”
Lalu si Tante dengan agak berapi (walau ngomongnya nggak kencang, tapi nadanya biasa saja jadi saya bisa dengar) menjawab, “Habis mereka cewek-cewek ini LELETT buangeeeet (ngomongnya ditarik) sihhhhh… Mama kan laaaappeeerrr… biarin aja nih cewek-cewek sukurin tahu rasa kalo lelet ya keduluan orang!”

Ya sudah, saya pun jalan beberapa langkah, menundukkan kepala soalnya si Tante lebih pendek dari saya lalu saya berkata, “Gak apa-apa kok, Tante kalau laper, duluan aja.” Lengkap dengan senyum semanis madu a la saya hahaha… si Tante pun gelagapan dan menjawab pelan dan halus, “Oh… orang Indo juga yaa…” huahahaha… saya bukannya kesel tapi malah tertawa dalam hati. Teman saya juga ikutan ketawa! Habisnya mau nyolot terselubung malah ketahuan kan… makanya hati-hati deh kalau ngomong di tempat umum (saya juga) – daripada malu, ngomong macam-macam ternyata orangnya ngerti lagi diomongin yang nggak enak 🙂

Lebih dari setengah dekade tinggal di NZ sini… nggak terasa saya jadi slebor… hahaha. Selebor ini dalam artiannya percayaan, kurang waspada (kalau pakai bahasanya Mami saya). Orang Kiwi di sini, kebanyakan percayaan, baik, ramah — dengan tingkat kriminalitas yang menurut mereka tinggi ya, tapi kalau dibandingkan dengan negara-negara yang saya tinggali sebelumnya, wuih nggak sama sekali.

Percayaan ini dalam artian, nggak punya prasangka buruk dengan orang lain, pokoknya percaya deh kalau orang lain itu sama-sama jujur.

Mereka bisa lho jualan lepas dan ditinggal. Beberapa minggu yang lalu, saya pergi ke Matakana market (kira-kira sejam dari Auckland). Karena parkiran sekitar market penuh, kami parkir agak jauh dan jalan ke market. Sepanjang jalan… banyak rumah-rumah di dekat sana yang ikutan jualan juga. Ada yang jualan buah, tanaman kecil (contoh, Vietnamese mint di dalam pot kecil) dan sebagainya. Jualan-jualan ini semuanya ditinggal di luar rumah, ada yang ditaruh gitu aja di bak plastik, ada juga yang niat dengan meja papan kayu tua. Sayang, saya lagi sibuk minum kopi jadi nggak kepikiran mau difoto. Setiap jualan ini ada harganya (biasa ditulis dengan spidol di karton kardus bekas) dan… disediakan wadah (contohnya kaleng atau kotak bekas es krim) untuk uangnya!

Ya, mereka percaya saja tuh kalau orang membeli dagangannya, nanti bayar uangnya pas dengan jujur yang lewat nggak iseng mengambil uangnya. Saya juga pernah lihat di tepi jalanan kota kecil nanti ada seperti kotak kayu kecil yang mirip halte bus bentuknya, tapi tujuannya untuk orang jualan buah — dan nggak ada yang jaga. Mobil-mobil yang lewat bisa melihat dari tanda di papan buah apa yang dijual dan berapa harganya. Kalau mau beli ya stop saja, ambil buahnya, lalu membayar dengan menaruh uang tunai di wadah yang disediakan.

Salah satu teman kerja saya yang tinggalnya dekat dengan Matakana itu bercerita, kalau di rumahnya susu yang mereka minum adalah susu segar. Setiap dua hari sekali mereka menaruh botol susu (bahannya dari gelas dan transparan) di depan pintu rumah di pagi hari, dengan uang untuk botol berikutnya, nanti tukang antarnya akan ambil botol kosong dan menaruh botol baru dengan susu yang penuh.

Cerita begini kebanyakan yang di luar kota besar. Kalau di kota-kota besar (seperti di Auckland sini), sudah semakin ramai. Hidup susah. Banyak imigran. Ketidakpercayaan pun muncul di mana-mana.

Walaupun begitu tetep saja menurut standar saya yang tumbuh besar di Jakarta… masih aman bangetttt.

Saya berani saja tuh jalan sendirian walaupun di malam hari. Tas ya jarang diresleting. Ditenteng gitu aja. Kadang saya suka mikir aduh lupa ditutup nanti ada yang copet bagaimana. Selama 6 tahun nggak pernah kena copet walau slebor gitu. Kalau di Jakarta, harta bendaku pasti sudah habis tak bersisa hahaha… Kadang kalau malas bawa tas ya saya pegang saja HP dan dompet di tangan. Makan, ditaruh di meja tanpa diawasi. Kalau di Jakarta… makan di restoran di mal saja barang berharga masuk tas, yang ditutup rapat dan ditaruh di pangkuan, saking seringnya dengar cerita seraaaaam di mana-mana (apalagi orangtua saya tuh sering banget mengirimkan berita kriminal dengan modus terbaru di Indonesia).

Kejujuran juga tinggi. Misalnya duluuuuuu waktu baru ke sini, saya sempat pinjam buku di perpustakaan di mana tuh buku terselip waktu saya pindahan apartemen. Selang setahun kemudian, saya nemu bukunya ketika bongkar tas, dan cerita sepintas lalu dengan M. Ditanyain, kapan mau dikembaliin? Saya bilang ah nanti aja karena nggak sempat (ini sifat jelek banget jangan ditiru ya!)… hasilnya adalah saya dikuliahi macam-macam, disuruh kembalikan buku secepatnya dan bayar denda telat yang memang merupakan kewajiban saya.

Soal penipuan, saya juga jadi lebih ‘kurang awas’ — kali ini, pakai istilahnya Papi… hahaha. Dulu, waktu beli mobil saya transfer dulu malam sebelumnya. Besok sore baru diambil mobilnya. Kalau di Jakarta lha ya takut, banyak curigaan. Padahal ya saya masih curigaan dan awas juga sih. Kadang misalnya kami lagi ngapain gitu, lalu saya berkomentar, “Tapi kalau begini ________ bagaimana?” — M pasti bilang “It’s such an Indonesian thing to say.” maksudnya karena kecurigaan saya macam-macam skenarionya. Lah ya harus, di Indonesia kan buaaaanyaaakkk penipuan. Orang-orangnya kreatif.

Anyway postingan ini idenya dari foto di bawah ini. Saya tadi sore melihat ini di sebuah toko. Payung yang boleh dipinjam pelanggan kalau lagi hujan, mau jalan balik ke mobilnya. Nanti dikembalikan. Saya terpana, soalnya lagi-lagi ingat di Jakarta… apalagi payung kualitas bagus. Gratiskan? Jaminan yang balik, pasti nggak lebih dari seperempatnya jumlah payung deh.

Ketika saya kecil dulu (sampai sekarang sih sebetulnya) saya sangat menggemari cerpen majalah Bobo. Ketika sudah besar sedikit, Bobo mengeluarkan buku kumpulan cerpen-cerpennya, yang saya beli dan kumpulkan… sayang sekarang hanya bersisa sedikit dan saya bawa ke sini pula, untuk dibaca ketika sedang ingin bernostalgia. Saya suka cerpen zaman tahun 1980 – 1990an karena ceritanya yang benar-benar sederhana.

Salah satu cerita cerpen yang teringat di kepala adalah yang berjudul “Bangsa Tempe” – kalau nggak salah. Jadi ceritanya sederhana sekali, satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan kedua anaknya sedang menikmati makan malam. Si sulung komplen, kok tiap hari makan tempe terus… ayah pun lalu menimpali dan bercerita (yang menambah pengetahuan saya!) tentang bangsa Indonesia yang harus bangga terhadap tempe. Bangsa Indonesia adalah Bangsa Tempe. Katanya…

Masa iya sih?

Dulu waktu kecil lha ya nggak mikir seperti itu… makan tempe sudah seperti makanan pokok, sering banget, sampai bosan.

Sekarang dong… semalam saya sebelum tidur, terbayang mau makan tempe orek pete.
Tempe adalah makanan mewah untuk kami di sini. Harganya lebih mahal dibandingkan daging… bayangkan! Untuk kalangan orang New Zealand, tempe dikenal sebagai ‘protein baru’ yang hits di kalangan orang-orang vegan dan vegetarian, dan kalangan makanan sehat. Harganya pun MAHAL. Mahal banget. Contohnya sebungkus 250 gram tempe organik di supermarket… dibanderol seharga $6.29! Kalau mau murah sedikit beli di toko Asia (yang buat orang Indonesia rumahan) itu pun masih tergolong mahal (sekitar 3 dolar-an).


Tempe di atas dari website Huckleberry (tempat jualan makanan organik di Auckland) — di beberapa supermarket juga ada. Sebungkus di atas itu, cilik, 250g harganya $6-$7 tergantung belinya di mana.

Lihat bule-bule mengolah tempe, eneg sendiri. Tempenya dibumbui terus dijadikan pengganti burger patty daging, misalnya. Atau dibumbui pakai bumbu-bumbu health food gitu (contohnya tamari) dan dimakannya dingin. Waduh menurut saya nggak karuan. Lha ya dari negara pencipta tempe… tempe yang dimakan dari kecil hangat dan enak dengan rasa sederhana.

Saking kepengennya makan tempe, saya pengen makan tempe orek pete. Bela-belain deh beli tempe mahal-mahal… yang penting puas dan bergizi juga kan! Nanti kapan-kapan kalau pulang lagi saya ingin deh, beli ragi tempe terus diselundupkan ke sini biar bisa makan tempe sepuasnya tanpa mbolongin kantongku hahaha…
Hidup bangsa tempe! Bangga lho, makanan asli khas Indonesia ini di luar negeri pamornya betul-betul bagus (sayangnya cara memasaknya ndak cocok dengan lidah kita… eh lidah saya mungkin ya).

Screen Shot 2017-08-03 at 8.34.02 PMPenampakan orek tempe a la saya… saya doyannya yang agak nyemek dan nggak terlalu manis. Di rumah, Mami dulu nggak doyan yang versi garing, jadi keikut deh anaknya ini masak tempenya nggak garing sama sekali.

Kalian doyan makan tempe diapakan?

Favorit saya tempe mendoan dan tempe goreng pakai garam 🙂