Archive

Opini

Tulisan ini sebetulnya sudah ada di dalam draft agak lama, tapi baru sekarang ini siap di-publish. Inspirasinya datang dari beberapa orang dekat dalam kehidupan saya, dan reaksi sekitarnya menyikapi keadaan mereka.

Saya pribadi sangat sedih dan prihatin dengan stigma anak yang diadopsi di Indonesia (di negara Asia lain begini nggak? Adakah yang bisa memberi pencerahan?). Sebutannya saja sudah tak enak didengar, yaitu anak pungut. Duh miris nggak sih. Emangnya barang jatuh di lantai yang dipunguti. Atau saya sering dengar juga, anak haram. Lingkungan pun melihat sang anak seperti warga kasta kelas dua saja. Padahal seharusnya mengadopsi anak kan untuk dijadikan anak betulan, bukan anak-anakan. Kalau di NZ sih, saya nggak menjamin masyarakatnya semua menerima tetapi sebagian besar sudah menganggap adopsi adalah hal yang lumrah dan biasa saja, bukan seperti aib/memalukan yang ditutupi atau jadi bahan gunjingan.

Beberapa contoh kejadian yang saya alami akhir akhir ini, yang membuat saya miris dan memutuskan untuk menuliskan keprihatinan dan uneg-uneg saya dalam blog.

Pertama, salah satu teman dekat yang diadopsi sejak bayi, mengatakan ketika orang mengetahui tentang cerita masa lalunya, kontan orang pun mengasihani. Lalu bertanya, apakah mencari orangtua kandungnya? Diikuti kenapa nggak/kenapa iya? Kalau cari ada yang anggap salah dan mengkhianati orangtua angkat. Kalau tidak cari ada yang anggap padahal itu kan orangtuamu. Menurut si teman saya ini, she doesn’t know any difference between parents and adoptive parents. Dia nggak mengenal konsep maksud pertanyaan itu. Seumur hidup, ya orangtuanya adalah orangtua yang mendidik dan membesarkannya. Orangtua yang mengangkatnya, memperlakukannya seperti anak sendiri. Lha iya dong, memang mau diperlakukan seperti apa? Anak-anakan?? Teman ini juga kalau nggak cerita ia anak angkat saya nggak akan nyangka, karena hubungannya dengan orangtuanya dekat sekali. Sewajarnya hubungan orangtua dan anaklah…

Kedua, anggapan bahwa anak angkat itu ‘tidak baik’. Saya pernah dinasihati, kalau mengangkat anak tuh tidak baik, karena nanti sudah dewasa kemungkinan besar akan mencari orangtua kandungnya lalu ‘kesetiaannya akan berbalik’ ke si orangtua kandung. Kamu nggak anak mendapatkan keuntungan apa-apa dari mengangkat anak. Saya sangat tidak senang dengan anggapan ini. Karena anggapan ini menurut saya, mengajarkan kalau cinta kasih itu tidak tulus, tidak ikhlas, tapi ada pamrihnya. Jadi tujuannya angkat anak, egois dong, kalau sudah besar si anak dikekang untuk ‘setia padanya’. Jadi kayak cerita cinta posesif saja.

Ketiga, konsep anak angkat/adopsi bukan anaknya. Orang yang tidak pernah mengadopsi anak mungkin tidak akan pernah membayangkan bagaimana sih perasaan si orangtua terhadap anak, karena mereka kan punya anak kandung sendiri ya. Tapi contoh mudah sajalah, saya sayang sekali dengan Loki yang bukan anak saya tuh. Itu saja adopsi kucing, bukannya anak. Ada seorang anak adopsi yang akan diajari oleh orangtua(angkat)nya untuk mengelola aset keluarga. Lalu seseorang mengomentari, “Lho memangnya boleh? Kenapa? Kan bukan anaknya…” komentar yang mungkin untuk si orang biasa saja dan wajar (karena ketidaktahuan atau kurangnya pengertian) tapi tentu saja tidak enak didengar. Orangtua yang mengadopsi tentu saja sudah menganggap anak adopsinya adalah darah daging sendiri. Again, saya tekankan, masa mengadopsi untuk jadi anak-anakan. Tidak disayang, tidak diikutkan secara penuh. Kalau kejadian begitu adalah salah orangtua angkatnya, bukan kesalahan pada status si anak yang anak angkat! Karena mengangkat anak adalah untuk dijadikan anak, bukan main keluarga-keluargaan. Kalau ada perbedaan perlakuan atau rasa tidak menyayangi ya, berarti orangtua tersebut belum/tidak siap mengangkat atau mengangkat tidak sepenuh hati (contoh: ya bukan anak kandung gue kok ngapain gue pusingin/bagi aset gue). Tidak baik, bukan?

Sahabat saya yang diadopsi pun mengatakan, kalau status ‘anak angkat’nya adalah anak bawaan dari suami/istri perkawinan sebelumnya, sepertinya dipandang lebih wajar oleh masyarakat dibandingkan anak yang 100% diadopsi oleh pasangan. Alasan mengadopsi pun banyak… ada yang memang tidak bisa memiliki anak, ingin membantu dunia karena merasa banyak anak yang tidak punya keluarga di dunia ini, ingin anak jenis kelamin tertentu (misalnya anak lelaki sudah ada 2, tidak mau/bisa hamil lagi tapi ingin anak perempuan, ya sudah adopsi adalah jalan keluar — ini berdasar beberapa kisah nyata di kehidupan sekitar saya)… kalau ada yang tahu alasan lain boleh ditambahkan di comment 🙂

Intinya saya menulis ini sebagai bentuk rasa prihatin saya terhadap orang-orang awam yang melihat (tanpa disadari kebanyakan) anak adopsi sebagai anak kasta kelas dua. Saya sangat prihatin karena beberapa orang terdekat dalam hidup saya diadopsi orangtuanya. Saya melihat nggak ada kata angkat, pungut, adopsi. Itu hanyalah suatu proses bagaimana mereka menjadi keluarga. Kalau orang lewat hamil dulu, mereka mengadopsi. Sekali sudah menjadi keluarga, ya judulnya resmi dan simple; orangtua dan anak. Nggak ada embel-embel! Lagipula setiap individu berbeda. Jangan melihat kasus orangtua mengangkat anak yang setelah dewasa dinilai ‘tidak baik’ lalu kemudian langsung menggeneralisasi dan mencap anak yang diadopsi itulah masalahnya. Kesalahannya. “Makanya mungut anak sih!” — komentar yang sangat tidak enak didengar.

Catatan: saya nggak pernah mengadopsi anak. Ini hanya pengamatan saya dari apa yang saya alami secara intens dalam kehidupan saya 🙂

Semoga curhatan saya ini make sense 🙂 wahhh setelah dipublish dan dituliskan rasanya legaaa sudah bisa berbagi pengalaman sendiri ❤

Advertisements

Postingan ini adalah suatu hal yang sering saya lihat dan alami di kehidupan sehari-hari. Sebagai orang Timur — orang Indonesia yang berkultur kekeluargaan, rasanya tak asing mendengar pertanyaan atau ajakan untuk memiliki keturunan dilontarkan di mana-mana, entah baru kenal, teman tidak dekat, teman dekat, keluarga dan seterusnya.

Ucapan selamat kepada pasangan yang baru melahirkan, biasa dibalas dengan “Yuk kapan giliranmu…”, “Nyusul yuk!”, “Buruan cepet kasih teman buat anakku” dan lainnya yang bernada mirip. Ketika menjadi pasangan baru menikah pasti suruhan ajakan untuk memiliki momongan datang dari berbagai kalangan baik yang dekat atau yang baru kenalpun bisa tanya, kapan punya anak nih?

Waktu ketemu dengan teman Mami saya, Mami bilang anaknya (saya) udah nikah waktu ditanya (padahal waktu itu belum, hanya berselang 3 bulan sebelumnya sih). Dan teman Mami ini, yang saya baru pernah bertemu sekali seumur hidup, pertama kali pula, langsung bercanda dan mengatakan, “Udah punya anak belum? Buruan kasih cucu ke Mama!” Rasanya pengin saya cabein, hahaha… habisnya saya nggak kenal sudah ngomong seenaknya saja sih. Tapi berdasarkan budaya hormat dan sabar dengan teman orangtua, saya jawab dengan senyum tipis. Lagipula saya yakin ini orang asal ngomong saja. Tapi tetap dong ya nggak boleh sembarangan ngomong, apalagi kalau nggak kenal.

Secara pribadi saya nggak suka dengan pertanyaan, komentar dan ajakan seperti ini. Tentu saja sebagai manusia, saya pernah juga melontarkan pertanyaan begini… tapi hanya pada teman dekat saya yang saya tahu tidak sensitif kalau saya tanya. Tanya, lho, bukan nada menyuruh (entah bercanda entah serius) yang banyak digunakan oleh orang-orang yang mungkin kehabisan bahan omongan. Memang saya tahu niatnya bukannya tidak baik. Tapi terkadang pertanyaan, bisa salah dilontarkan kepada orang yang salah.

Contohnya ketika saya pulang ke Indonesia akhir tahun kemarin.

Saya ketemuan dengan beberapa teman saya. Kebetulan, saya diceritakan oleh salah satunya (sebut saja G) kalau ia habis keguguran sekitar semingguan lebih sebelumnya. Singkat cerita janinnya berusia beberapa minggu dan nggak kuat di kandungannya. G sedih sekali dan merasa bersalah apalagi ia dan suaminya memang sedang program anak. Ketika nongkrong dengan G dan teman saya satunya lagi K, kami papasan dengan teman SMU, V, yang membawa anaknya di mal. Anaknya lucu sekali, baru berumur beberapa bulan. G pinjam main dan menggendong anaknya, lalu V dengan ramah, bercanda kali, atau bagaimana ngomong begini

“Udah cocok banget G, buruan dong jangan ditunda-tunda lagi, nyusul cepetan, sebentar lagi giliran kamu.”

Saya dan K saling lirik, merasa sumpah nggak enak banget, kami saling menyikut diam-diam terus pelan-pelan jalan balik ke meja kami… soalnya sebelum V muncul si G betulan baru saja cerita dengan detail bagaimana kejadian kegugurannya belum lama ini. Duh saya dan K rasanya pingin deh gali lubang di tembok terus ngumpet di situ, ha ha ha…

Dengan kejadian kemarin, membuat saya betul-betul jaga mulut. Berusaha untuk jaga mulut supaya misalnya, kemarin pas menikah, dan ada yang menyelamati, saya nggak kontan menjawab dengan ajakan yuk buruan nyusul atau semacamnya. Memang saya biasanya nggak ngomong begitu kepada teman yang tidak dekat, tapi sekarang pada semua orangpun saya berusaha nggak nyinggung topik positif… karena, kita mana tahu sih kehidupan dan isi hati orang, ya nggak 🙂 Siapa tahu saja di luarnya si pasangan bahagia, tapi di dalam isi jeroannya kita nggak tahu kan, bagaimana dan seperti apa hubungannya itu. Siapa tahu ceweknya nunggu dilamar, beuhhh, bisa-bisa, dikutuki aku bercanda kayak gitu 🙂 atau kalau ngajak/menyarankan orang hamil, bisa-bisa malah menyakiti perasaan si orang tersebut.

 

Setelah baca postingannya Eva tadi pagi yang berjudul Alcohol, Pornography and Rape saya jadi teringat tentang pengalaman saya sendiri; saya pernah mendapatkan telepon-telepon iseng dari seseorang yang berbau seksual, and verbally assaulting. Saya mengalami sendiri yang namanya victim blaming, yang dibahas Eva di postingannya ini.

Singkat cerita seorang laki-laki dulu sering menelepon ke cafe tempat saya kerja dan ngomong jorok. Orang Indonesia. Setelah melapor polisi dan sebagainya kami pun tahu identitasnya. Di atas kertas, dari keluarga baik-baik. Kalau nggak kenal, pasti kamu kira dia berpendidikan. Nyatanya…

By the way saya masih sering lihat fotonya seliweran di Facebook kenalan-kenalan di Auckland. Dia masih di sini sih, tapi sudah nggak pernah ganggu saya lagi. Mungkin kapok, karena oleh polisi yang menangani kasus saya (orangnya sumpah baik banget) si cowok insial B ini dipanggil ke kantor polisi dan digertak keras oleh si polisi. Sebagai status mahasiswa dengan student visa tentunya ia tidak mau dideportasi karena masalah ini, kan? Karena salah satu gertakannya polisi tersebut adalah kalau B berlaku macam-macam lagi, polisi akan menghubungi pihak imigrasi.

Ceritanya pernah saya share melalui postingan Pengalaman Stalker.

Ketika saya berbagi cerita tentang hal ini (saat itu, dan sesudahnya) saya sempat mendengar komentar-komentar seperti di bawah:
– “Kamu sih posting foto di pantai.”
– “Kamu sih pakai baju seksi/pendek/terbuka dll”
– “Makanya jangan suka posting foto di Facebook.”
– “Teman kamu aneh-aneh sih.”
dsb.

Komen yang menyakitkan hati, tidak membantu dan tidak terbukti pada akhirnya, karena si cowok ini punya Facebook juga nggak (dan kalau kamu tidak berteman dengan saya di FB, profile saya terkunci habis. FB pribadi tersebut juga orangnya nggak banyak). Soal saya berfoto lagi liburan di pantai (saya di-tag oleh teman) — emangnya di pantai pake baju lengkap lagi berenang? Ya malah aneh dong. Soal baju seksi, menurut saya baju saya masih normal. Sekalipun tidak normal misalnya, IT IS STILL NOT OKAY TO HARRASS AND ASSAULT PEOPLE JUST BECAUSE YOU ARE A SHITTY PERSON.

Jujur mendengar komen seperti itu saya merasa tersudut. Takut, malu, merasa tidak aman. Saya tidak berani cerita pada orangtua, takut mereka khawatir dari jauh. Takut mereka akan ikutan menyalahkan saya, habisnya banyak orang yang menyalahkan saya. Sekarang, setelah masalahnya lewat saya bisa melihat dengan jelas itu bukan salah saya, saya tidak boleh takut berbagi, apalagi malu! His disrespectful behaviour was not my fault. Dan saya mengerti mengapa korban pelecehan dalam bentuk apapun, itu kadang takut bercerita. Ya, karena mereka merasa tidak aman, takut disalahkan, nanti kalau berbalik bagaimana, dan sebagainya.

We need to stop making the wrong people feel responsible for what they don’t do.

x

Alkisah kemarin siang, saya sedang berdiri di sisi jalan karena menunggu jalanan sepi supaya bisa menyeberang. Ketika saya berdiri sendiri itu, sebuah mobil sedan putih melaju di jalan dan melewati saya. Di dalam mobil dekil tersebut ada dua orang yang jelas-jelas imigran seperti saya, meneriaki saya dengan teriakan rasis seperti ‘Cing Cong’ dan mengklakson sambil melaju. Dari raut muka dan aksennya mereka pasti dari salah satu negara di Asia Selatan. Rasanya darah mendidih, kesal, kalau ada batu saya timpuk kali, hahahaha. Nggak mungkin kena juga soalnya ngebut sih mobilnya. Saya sangat kesal, mengapa? Karena kebiasaan jelek kok dibawa-bawa sih ketika menjadi pendatang di negara orang?

Memalukan sekali. Ketika saya tumbuh besar di Indonesia saya sering dipanggil Cina atau amoy dari tukang bangunan, pengemudi truk atau mikrolet, dan sebagainya. Panggilan kasar itu saya amini dalam hati walaupun kadang kalau kesal bawaannya mengutuk saja, hahaha. Ketika saya berkuliah di Malaysia juga pernah mengalami dipanggil seperti itu — terutama kalau lewat konstruksi — saya kaget dong masih ada juga yang seperti itu di New Zealand dan yang lebih menyebalkan lagi kami sama-sama imigran! Saya menyayangkan sikap seperti ini, ataupun kebiasaan jelek dari negara sendiri yang dibawa ketika bertamu ke negara lain. Baik bertamu sebagai turis, pelajar ataupun imigran. Menurut saya kita harus pandai menyikapi perilaku dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Kasarnya kalau nggak suka, nggak usah pindah ke negara orang!

Sebagai perantau yang sudah 10 tahun tinggal di luar negeri saya punya beberapa contoh yang tidak layak ditiru, yang ingin saya tulis mengenai membawa diri dengan baik ini. Menurut saya, sebagai perantau, kita juga membawa nama negara dan ras asal kita, lho. Jangan karena nila setitik rusak susu sebelanga… kan kasihan orang-orang lain yang kena efek generalisasi jelek seperti ini.

  • Kebiasaan orang meludah sembarangan. Ini jijay banget dan saya pernah melihat ada yang melakukannya di sini, tentu saja bawa kebiasaan negara asalnya karena ketahuan banget itu bukan orang asli sini.
  • Selalu berkumpul dengan sesama dari negara sendiri, nggak ngumpul dan membaur dengan orang lokal atau orang dari negara lain. Selain bahasa Inggrisnya jadi nggak lancar, dilihatnya juga malas banget kalau bergerombol rame, berisik, suka sok haha hihi tapi kalau sendiri? Diam di pojokan (ini pengalaman bersekolah saya di luar Indonesia).
  • Kebalikannya dengan yang kumpul dengan sesama negara, ada juga si kacang lupa kulit. Saking membaurnya dengan orang lokal, bahasa Indonesia pun lupa (atau katanya nggak lancar padahal tumbuh besar juga di Indonesia dan di luar negeri belum lama dibandingkan dengan di Indonesia), aksen berlebihan, dan sebagainya.
  • Kebiasaan bersikap intolerant alias tidak peduli. Sering saya lihat di bus orang yang duduk di disabled seats. Tak jarang pula kantong belanjaan atau terkadang tas tentengnya yang biasa didudukkan di kursi sebelahnya, walau jelas sekali bus perlahan menjadi penuh. Kebiasaan ini bukan hanya orang interlokal (hahaha) saja ya yang melakukan, tapi kebanyakan saya lihat memang bukan orang lokal.
  • Mengomel, mengeluh, hobby complain tentang regulasi negara lain yang ditempati dan membandingkannya dengan regulasi di negara asal. Kalau nggak senang banget ya ada kan option untuk pulang? Contohnya, ada orang Indonesia yang hobby complain… harga makanan mahal, complain. Harga tiket ini itu mahal, ngomel. Urutan tatacara ke dokter yang berbeda dengan di Indonesia, tidak senang. Dokternya nggak memberikan seabrek obat seperti di Indonesia ketika pilek, koar koar marah. Bingung dengan yang seperti ini, lama-lama gemas jadinya.
  • Impor obat-obatan terlarang. Beberapa tahun terakhir ini, kasihan dengan sebagian komunitas Asia yang jadi identik dengan narkoba, soalnya banyak muncul di berita kalau mereka import bahan narkoba atau terlibat perdagangan narkoba itu di koran.

Sebegitu dulu yang saya ingat dan terinspirasikan untuk nulis. Selain itu ramah, sopan, tidak sombong dan rajin harus dong yaaa 🙂
Sampai-sampai di kantor saya, kami para orang Asia dicapnya rajin hahaha… ini beneran kata boss saya, lho, bukan saya yang ngomong sendiri 😀

x

Anya Hindmarch

Masih pada ingatkah dengan tas kanvas di atas? Tas yang sangat nge-hits di jamannya yaitu tahun 2007 (alamak hampir satu dekade yang lalu!) dan banyak sekali teman di sekitar saya yang punya. Agak ironis karena nenteng tas ini untuk gaya-gayaan sementara di tangan sebelahnya nenteng kantong plastik belanjaan yang super banyak, ha ha ha. Karena aslinya desainer Anya Hindmarch juga termasuk orang yang peduli lingkungan, jadi ia mengeluarkan tas limited edition ini untuk mengajak supaya orang-orang ikut peduli lingkungan juga, nggak mengambil kantong plastik untuk belanja dan pakai tas kanvasnya saja sebagai tas belanja.

Saya pernah membahas sedikit di postingan ini tentang mencoba untuk mengurangi pemakaian plastik. Terus kemarin, ngobrol dengan Stephanie… jadi terinspirasi menulis ini.

Memulai mengurangi kantong plastik (dan waste in general — kapan-kapan saya tulis di postingan lain) memang awalnya terasa ribet dan susah. Tapi percayalah lama-lama jadi mudah kok. Apalagi menjadi aware dengan banyaknya kantong plastik yang tidak dibawa pulang, sekarang saya kalau terpaksa ngambil satu saja rasanya berat hati sekali!

Tips-tips kecil untuk mengurangi kantong plastik dan meminimalisir adanya waste a la saya di bawah ini. Meminimalisir waste maksudnya tidak ngambil barang yang nantinya malah jadi sampah dalam kehidupan sehari-hari.

  • Saya membeli reusable kantong belanja dari supermarket mereka biasanya menyediakan, dan juga tas kanvas yang lucu-lucu modelnya. Saya menyimpan satu di laci kantor, satu di mobil, dan membawa kantong belanjanya Lululemon seperti di gambar di bawah ini. Kantongnya si Lululemon ini bisa dilipat kecil (saya gulung-gulung) untuk ditaruh di dalam tas kerja atau weekend slig bag saya. Jadi kalau ada unexpected trips ke supermarket atau beli baju dan sebagainya sebisa mungkin ada tas kain untuk mengisi belanjaan. Kalau memang dari rumah saya membawa kantong belanja jumbo atau sekalian kardus dari rumah, jadi kantong-kantong emergency-nya benar-benar hanya dipakai untuk emergency saja.
    Lulu
  • Membeli daging atau membeli makanan takeaway biasanya diberikan wadah dan tray dari styrofoam kan — saya mulai membiasakan mengurangi ini. Waktu ke supermarket membeli daging kalau bisa, membeli dari bagian butcher karena dibungkus pakai kertas dan nggak di tray styrofoam seperti kalau ambil dari bagian daging prepacked. Kalau beli takeaway, membeli di restoran yang memang tahu ngasih wadahnya bukan styrofoam… setidaknya kalau wadah plastik, saya biasanya pakai ulang sampai rusak, lalu dimasukkan ke recycle bin untuk didaur ulang.
  • Tidak membeli takeaway coffee karena walaupun bisa di-recycle… tetep saja waste. Cuma dipakai buat minum sekali, lho! Saya membeli reusable coffee cup dari JoCo dan memakai itu, atau sekalian minum di sana saja nggak dibawa pulang.
  • Kalau di supermarket membeli buah dan sayur saya nggak masukkan ke dalam kantong plastik yang disediakan buat naruh dan mengumpulkannya. Langsung saja dimasukkan ke tas sendiri tapi hati-hati awas tertimpa barang lain yang lebih berat 🙂
  • Menggunakan organic cotton untuk liner, tampon, pads, kapas pencuci make up.
  • Nggak membeli minuman seperti bubble tea, kalau tidak jelas plastiknya bisa di-recycle nggak. Kalau iya, pastikan ketika sudah meminumnya, benar-benar memasukkannya ke recycle bin bukan tong sampah biasa.
  • Menggunakan banyak lap (beli yang bahannya benar-benar menyerap air) dibandingkan dengan paper towel sekali pakai untuk di dapur.
  • Memakai kotak makan stainless steel, karena lebih awet. Saya baru saja membeli merek LunchBots… sebelumnya menggunakan rantang kecil bawa dari Indonesia, tapi kadang makan siang saya cuma muat satu rantang saja tapi lha rantangnya kan harus bawa sekalian dua tumpuk biar bisa ditutup? Belilah LunchBots ini… selain mudah dicuci (bau dan noda nggak bandel kayak di tupperware) juga lebih awet. Jadi nggak sering membeli yang baru karena yang lama, rusak.
  • Buat yang doyan belanja di pasar seperti saran Mbak Deny boleh bawa kotak tupperware sendiri dari rumah untuk mengisi daging, tahu, dan sebagainya.
  • Nggak beli sedotan plastik! Hahaha. Hanya sekali pakai dan jadi sampah.

Itu dia beberapa saran saya yang dekat dan mudah dilakukan di hidup sehari-hari.
Ada saran tambahan lagi?

 

Images from Poshmark.com

Sebagai pengguna media sosial yang antusias, saya mengamati beberapa kebiasaan penggunaan media sosial yang dampaknya bisa jadi agak annoying untuk penggunaan sehari-hari. Ide tulisan ini muncul sejak saya balik mulai menggunakan Twitter lagi — kok jadi ingat alasan awal kenapa saya pindah (yang sekarang sudah nggak terlalu signifikan dan kalau annoying ya gampang tinggal di unfollow saja). Fitur di sosial media tuh sebenarnya sudah memudahkan sekali lho untuk kenyamanan penggunanya sayangnya banyak disalahgunakan oleh orang. Berikut saya kupas beberapa yang signifikan menurut saya.

Twitter

  • Fitur Retweet yang disalahgunakan, ini betul-betul mengganggu buat saya. Dulu waktu jaman Twitter masih ramai banget, orang-orang suka ngobrol pake fitur RT ini. Kalau mencantumkan @username di depan tweetnya untuk balasan atau sekedar ngobrol yang bisa membacanya di timeline ya orang yang di-mention di depan itu. Lain persoalannya kalau tweetnya dengan model seperti ini contohnya “Iya bener banget aku setuju – RT @username blablabla” sebagai mode percakapan. Mengganggu dan nggak perlu apalagi kalau yang diobrolin nggak penting, sekadar ngucapin terimakasih atau iseng doang. Kecuali kalau RT-nya yang penting, nah boleh deh kita ikutan membaca. Yang model kayak gini sekarang sudah di-unfollow, jarang juga karena orang-orang beralih ke Path.
  • Ngomong-ngomong soal Path, banyak orang yang beralih ke social media platform lain dan me-link akun mereka tersebut ke Twitter. Jadi orangnya sih sudah nggak pernah aktif nge-tweet lagi tapi akun Twitternya berkicau terus dengan notification postingan di Facebook lah, Instagram lah atau Path. Yang begini juga sudah di-unfollow.

Path

  • Satu kebiasaan orang yang menurut saya mengganggu sekali di Path yaitu mereka suka sekali multi-tag orang sejuta umat untuk mengucapkan selamat pada hari raya… karena sekali kamu kena tag di satu post SEMUA comment yang muncul akan masuk ke notification Path-nya. Bayangkan kalau ada yang post foto selamat Natal contohnya, lalu tag 50 orang. Dari 50 itu, 40 orang membalas dengan cara komen di postnya. Kalau push notification Path kamu ON di telepon genggam kamu akan mendapatkan 40 notification yang sangat nggak penting terus menerus, kalau OFF begitu masuk ke Path lho kok ada 40 notif… begitu dicek, nggak penting. Saya pernah posting di Path sengaja tolong saya nggak usah di-tag di postingan ucapannya ya karena malah jadi mengganggu.

Facebook

  • Sudah beberapa lama ini Facebook memperkenalkan fitur ‘Reply’ di komen postingan. Jadi kita bisa membalas langsung komen orang lain dan yang dapat notifikasi ya kita dan orang tersebut, nggak semua orang yang komen di foto tersebut misalnya. Kan jadinya nggak mengganggu ya, misalnya cuma dua orang saja yang ngobrol panjang lebar di komen postingan tersebut yang dapat notifikasi ya dua orang itu saja. Sayangnya beberapa orang di Facebook masih tidak menggunakan fitur ini.
    Contohnya kenalan post foto yang sekalian menanyakan saran. Saya comment untuk kasih saran, niatnya baik. Lalu dia membalas dengan komen di bawahnya, terima kasih, nggak menggunakan fitur reply itu. Setiap orang (belasan jumlahnya) yang komen, dia balas dengan cara itu, kadang malah mereka bisa balas-balasan tapi gak pakai fitur reply. Terbayang donk betapa banyaknya notifikasi yang bunyi bunyi terus… akhirnya saya mute notificationnya.

Whatsapp

  • Ngobrol di Whatsapp itu seru dan mengasyikkan, saya bisa sekali kirim pesan panjang kalau ngobrol seru dengan teman. Tapi… ada beberapa orang yang bisa saja model chatting di Whatsappnya seperti ini:
    Hi
    Mariska
    MMMMM
    Lagi apa?
    Sibuk ga?
    Pusing nih
    Gw kmrn itu
    Pergi ke rumah si X
    Trs ketemu kakaknya
    Mmmm
    Ganteng bgt!
    Sumpah!
    Nggak kuat!
    Gimana ya???
    menurut u
    Kabari gw ya
    xox
    Ya jadi setiap beberapa kata, atau emoticon, diketik enter! Telepon genggam bunyi terus, notifikasi jalan terus, kepala juga jadi pusing baca satu layar yang penuh pesan-pesan singkat seperti ini. Rekor saya ada teman yang Whatsapp sampai 40 pesan untuk curhat… tapi begitu dibuka pesannya dengan model seperti di atas.

Instagram

  • Kurang maksimalnya Instagram ini sih nggak sampai tahap annoying menurut saya, he he he. Hanya saja jadi tidak maksimal betulan. Beberapa orang masih belum tahu kalau mau membalas pesan di Instagram kan harus mention nama user lain tersebut, kalau nggak kita sampai butek nunggu balasan kok gak dibalas-balas, nggak tahunya sudah dibalas tapi kita tidak terima notifikasi karena tidak di-mention.

Segitu dulu analisa saya… ada yang mau menambahkan dengan pengalaman sendiri?

Disclaimer sebelum membaca postnya saya tidak ada maksud untuk menjelekkan agama apapun di postingan ini.

Berawal dari comment-commentan dengan Inly soal KTP Indonesia yang menaruh informasi agama seseorang minggu lalu membuat saya dapat inspirasi untuk menulis ini. Di Indonesia memang hampir semua surat-surat pribadi yang penting memasukkan kolom agama yang harus diisi. KTP, KK, kartu pelajar di sekolah dulu. Bagusnya SIM nggak mencantumkan agama ini. Latar belakang keluarga saya beragama Kong Hu Cu dan karena dulu dilarang oleh pemerintah kami pun masuk ke agama Budha (masih bingung kok agama yang urusannya individual bisa dilarang mana yang boleh dan mana yang tidak oleh negara). Sampai sekarang untuk urusan resmi kami sekeluarga masih pakai Budha sebagai agama walaupun secara masing-masingnya kami sudah punya dan memeluk kepercayaan masing-masing yang berbeda. Malas gantinya karena satu alasan yaitu birokrasi yang ribet. Lalu dalam KK katanya sebaiknya agamanya disamakan saja supaya urusan segala lebih mudah.

Anyway saya jadi ingat pengalaman beberapa waktu yang lalu.

Anak temannya orangtua ada yang baru datang ke New Zealand beserta suami dan anaknya. Mami memberikan nomer telepon saya (dengan seijin saya tentunya) soalnya memang dia nggak kenal siapa-siapa di sini. Dia pun menghubungi saya dan kami ngobrol lewat Whatsapp. Catatan ya saya nggak kenal orang ini dan bertemu saja belum.

Lewat Whatsapp kira-kira dia bilang gini.
“Mariska hari Minggu ngapain? Ikut Cici ke *rumah ibadah xx* yuk, banyak makanan Indonesianya lho.”

Dan bukan hanya sekali dia ngomong begitu. Beberapa kali. Saya sudah bilang saya tidak ke rumah ibadah tertentu. Ajakan tetap datang. Saya merasa risih dan sampai sekarang saya tidak menjaga kontak dan ketemuan dengan orang itu.

Menurut saya agama itu sifatnya pribadi sekali dan saya juga jarang membicarakan soal agama dengan orang lain apalagi yang baru kenal. Karena itu saya merasa risih banget belum-belum saja sudah mencoba ‘menjerat’ orang. Terus apa hubungannya ke rumah ibadah dengan makanan Indonesia? Apakah segampang itu menjerat orang untuk datang ke rumah ibadahnya dengan iming-iming makanan?

Bukan hanya sekali ini dengan orang ini saja beberapa tahun lalu saya mengantar teman saya ke rumah ibadah (yang banyak orang Indonesianya). Saya datang dan menunggu di sana, ikutan masuk juga karena nggak ada tempat menunggu di luarnya. Selesai ibadah mereka mengajak saya ngobrol, terus saya tiba2 kok sudah di dalam ruangan orang-orang yang sedang belajar mendalami agamanya??? Saya kaget dan sama sekali nggak tahu. Nggak balik lagi juga tapi saya sempat dapat SMS mengajak balik dari orang-orang yang baru saya temui tersebut! Ohmygod. Agresif sekali. Agama itu kan panggilan batin ya bukan untuk dikejar-kejar seperti itu.

Di Indonesia juga tak jarang orang kenalan yang nggak dekat tiba-tiba mengetuk pintu rumah, bertamu dengan tujuan menyebarkan agama dan mengajak ke rumah ibadah. Datang juga tidak bilang-bilang kadang-kadang kami di rumah sibuk dan nggak bisa menerima tamu kan? Jadi dengan alasan kesopanan kami nggak melakukan kegiatan kami yang direncanakan. Contohnya yang masih segar di kepala saya dan Mami berencana untuk ke dokter kulit pukul 7.30 malam, pukul 6.30 ada orang mengetuk pintu bertamu. Rupanya tetangga belakang rumah dengan beberapa orang dari rumah ibadahnya. Mereka duduk di rumah kami sampai jam 9 malam, berkhotbah tentang agamanya. Minta nomer telepon saya supaya saya bisa dapat undangan grup anak-anak muda di rumah ibadahnya. Hello, mereka sama sekali nggak pernah tanya lho agama saya apa. Atau saya minat gak. Pokoknya, jerat dulu. Nggak saya kasih nomer teleponnya dengan alasan saya di Indonesia cuma sebentar kok.

Salah satu anggota keluarga besar juga kadang berkunjung ke rumah membawa khotbah agama sampai mengatakan setiap dia datang di perjalanan menuju rumah kami dia berdoa supaya kepala kami dibebaskan dari makhluk jahat, jadi kami bisa menerima Tuhannya dan diselamatkan…

Anyway point saya kali ini adalah saya tidak mengerti kenapa ajakan ke rumah ibadah yang kadang-kadang bisa extreme ini seperti hal biasa yang diterima dan dengan lumrah dilakukan oleh sebagian orang di masyarakat. Agama sifatnya adalah hal yang pribadi kan, bukan menyeret orang lain untuk ikut kepercayaannya (sampai refer agama orang lain se-extreme kepala kami diselubungi makhluk jahat jadinya kami nggak bisa diajak untuk diselamatkan!). Saya menghormati setiap kepercayaan orang lain. Menurut saya nggak perlulah berlaku extreme untuk mengundang orang lain masuk agama kita… Lebih baik kita benahi dulu kelakuan kita pribadi, belajar saling toleransi dan tidak melewati batas hal-hal pribadi orang lain. Soal agama, biar diri dan Tuhan saja yang tahu.

x, Mariska