Archive

Romance

Hari yang sederhana, penuh makna dan tawa.

Persiapan sama sekali tidak merepotkan, pokoknya sangat santai. 3 bulan sebelumnya kami mendaftarkan diri. Lalu saya hanya membeli sebuah gaun dari toko online, sepasang sepatu idaman, pesan buket bunga tulip warna merah jambu (karena sedang tidak musim mencari toko bunga yang menyediakan, lumayan perjuangan juga), dan memesan meja untuk makan siang di restoran.

Hari Jumat pagi itu kami bersama belasan teman terdekat dan orangtua M pergi ke kantor catatan sipil di Auckland. 30 menit kemudian kami keluar, sudah resmi menikah! Cepat, mudah, santai, tanpa stress… tapi khidmat dan sakral dong tentunya (pakai kata Mami saya). Dikarenakan beberapa hal, keluarga saya berhalangan hadir kali ini. Tapi tak apa, karena Mami ingin membuat acara di Jakarta nanti kalau kami pulang berkunjung, untuk acara dari pihak keluarga dan secara adat. Tapi, tanggal menikah ini adalah pilihan orangtua saya dan kami ikuti karena menghormati kepercayaan dari keluarga pihak saya.

Alasan kami membuat acara kecil-kecilan yang tidak formal, karena kami ingin menikmati suasana bahagia dengan kesederhanaan dan orang-orang terdekat saja. Selain tidak stress, tidak repot kami juga bisa menabung ‘dana pernikahan’ untuk nanti jalan-jalan. Bersyukur sekali sehari sebelumnya pihak kantor saya mengadakan pesta kecil untuk kami, lengkap dengan kue yang dipotong berdua dan kado. Pokoknya sampai senang sekali!

Senang, terharu. Sebelum acaranya mulai malah sempat grogi sendiri. Yang paling aneh rasanya… mungkin adalah menyesuaikan diri dengan nama belakang yang baru! Ha ha ha… setelah acara nikahannya selesai kami makan siang di salah satu restoran kesukaan. Untung cuaca cerah, dan restorannya cantik penuh bunga. Kami dapat tempat duduk di balkon yang disinari matahari. Setelah selesai makan, kami pergi mini-moon di akhir pekan. Senin sudah masuk kerja lagi.

Saking santainya, sampai ada yang bilang kami kayak main nikah-nikahan, nggak kayak nikah beneran.

Advertisements

Apa sih proses standar orang menikah rata-rata, zaman sekarang? Yang saya lihat dari sosial media, mulai dari proses pengumuman pertunangan (kadang, lengkap dengan foto dan video proses lamaran, biasanya pihak laki-laki melamar dan menanyakan dengan cara nan romantis apakah si pacar mau menikah dengannya), lalu nanti muncul foto pre-wedding, undangan dan tanggal pernikahan, lalu menikah dan resepsi pernikahan. Jarak perencanaan pernikahan ini bisa memakan satu tahun (atau lebih!) – bedanya kalau di Indonesia sepertinya sudah tunangan tak resmi dulu lalu tunangan resminya beberapa hari sebelum hari H menikah.

Anyway kenapa saya terinspirasi dan memutuskan untuk menulis ini? Kabar gembiranya, setelah bersama selama 4 tahun lebih status M sekarang naik pangkat dari pacar ke tunangan 🙂
Keputusannya diambil bulan Oktober 2016. Proses kami agak nggak ikut pakem standar lainnya, yang membuat cerita sendiri di balik persiapan kami menikah ini. Pertama, kami betul-betul memutuskan untuk menikah. Bukan tunangan yang lama sambil mempersiapkan pesta pernikahan. Kami merasa sudah bareng sekian lama, sudah saling cocok, keluarga mendukung dan mereka juga kebetulan tipe yang nggak mau ribet – jadi kami memutuskan ya sudah menikah sederhana saja, jadi tidak butuh waktu yang lama sekali untuk mempersiapkan pesta pernikahannya.

Lazimnya budaya wedding di sini adalah menikahnya dinikahkan oleh celebrant (orang yang punya lisensi untuk menikahkan) yang dilanjutkan oleh pesta (dinner and drinks) di tempat. Untuk booking tempat menikah (restoran, winery atau venue seperti aula gedung kecil biasanya) harus dilakukan jauh-jauh hari karena cepat sekali penuh dan tidak tersedia kalau dekat dengan hari H yang diinginkan. Karena itu persiapan (pesta) pernikahannya biasanya antara 1-2 tahun di depan (jarak antara engaged and married). Tidak seperti di Indonesia, nggak usah melakukan prosesi religi kalau tidak mau. Bisa menikah secara sipil saja (jadi beda agama atau sesama jenis pun bisa menikah dengan resmi). Nanti saya ceritakan lebih lanjutnya, ya!

Sewaktu kami memutuskan menikah, tidak ada proses lamar melamar berlutut memberikan cincin ala ala film romantis. Pertama, karena saya dulu pernah mengatakan kepada M please jangan lebay-lebay apalagi saya orangnya nggak suka kejutan-kejutan besar, hahaha. Lalu saya nggak mau nunggu dilamar — jadi sudah bilang jangan lamar-lamar ya! Haha. Menurut saya hubungan kami adalah hubungan mutual yang segala sesuatunya harus dirundingkan dan diputuskan bersama, termasuk soal pernikahan – kalau saya nunggu dilamar terus ya artinya keputusan menikah ada di tangan M seorang, bukan di tangan kami berdua. Ini pendapat dan perasaan pribadi saya lho ya, saya yakin perasaan pribadi setiap orang berbeda dan nggak melihat proses melamar ala “Will you marry me?” ini seperti saya. Kami sedang ngobrol-ngobrol santai dan mendadak jadi serius, pokoknya hasil obrolan itu adalah wow oke kami akan nikah.

Yang lucu adalah ketika kami mengabarkan berita ke orang-orang. Reaksinya macam-macam. Ada yang menyelamati saja, yang saya jawab dengan rasa terima kasih yang tulus. Lalu ada juga yang dengan bilang, “Selamat ya yang udah/baru dilamar!”. Ada juga yang mengatakan “Selamat ya, you deserve it!” — yang ini saya jawabnya agak malas-malasan karena statement ini agak bikin saya merasa sedih dan remeh (saya yakin orang-orang ini nggak bermaksud seperti itu), karena tunangan/menikah kok kayaknya pencapaian/achievement yang sejajar dengan promosi kerja atau lulus kuliah, suatu ‘hadiah’ dari laki-laki buat saya. Banyak juga yang menyelamati (dan bahkan ucapan selamatnya sepertinya tertinggal) lalu minta undangan pesta – yang saya jawab pakai senyum saja. Lalu ketika ditanya gimana M melamar saya orang-orangnya agak-agak kecewa dan terkejut mukanya waktu saya bilang nggak ada lamar-melamar ala romantis.

Oh iya, Mami saya orangnya sangat percaya ramalan tanggal. Jadi walaupun kami memutuskan menikahnya bulan Oktober, Mami meminta untuk jangan ‘diresmikan’ statusnya sampai tanggal 3 November 2016. Menurut orang yang membantu Mami hitung tanggalan, tanggal 3 November adalah hari yang baik apalagi shio M tahun lalu sedang jelek peruntungannya. Jadi saya baru resmi memakai cincin, mengganti status dan bilang ke orang-orang sesudah tanggal 3 November itu (kecuali beberapa teman dekat yang khusus saya memang gak sabar, sudah diberitahu sebelumnya).


Sedikit cerita tentang cincin pertunangan saya alias engagement ring saya di atas ini – cincin ini adalah cincin pertunangannya almarhum nenek M (dari mamanya) dari zaman tahun 1940-an. Cincin ini diberikan kepada saya sebagai tanda kalau keluarganya menyambut saya menjadi bagian keluarga mereka yang resmi. Ketika diberikan ke saya, cincinnya sudah gelap dan ukurannya jauh lebih besar dari jari saya, bahkan dimasukkan ke jempol juga tidak muat. Lalu dibawa ke spesialis perhiasan untuk dibersihkan, dipoles dan disesuaikan ukurannya. Jadi seperti baru lagi! Dan tentunya sejarah di baliknya membuatnya sungguh sangat spesial bagi saya.

Oke sekian dulu postingannya, nanti malah kepanjangan – proses persiapan nanti akan saya ceritakan di postingan lanjutan ya!

Dari dulu saya dibesarkan buat nggak buang2 uang oleh orangtua, kecuali buat makanan (ternyata dari situ kali ya hobi gila makan saya bermulai). Jadi, pas jaman2 ada pesta2 sweet seventeenan, saya nggak ikutan. Begitu juga pas jaman temen2 sekolah rame2 foto studio di Princess sayapun nggak ikutan walau dalem hati kepengen juga hahaha. Keluarga kamipun nggak punya foto studio keluarga sampai saya umur 23 kemarin kita foto2 di studio biasa, plain aja yang make up pun dilakukan sendiri.

Bulan July kemarin ceritanya saya dan Mike ngerayain hari jadian kita yang ke-2 dan buat event khusus saya dandan deh, jarang2 dandan lengkap soalnya alesan males bersihin dandanannya sih hahaha.

Kemarin2 dia kedatengan paket dan saya nggak mikir apa2 karena ini nerdy boy sering banget beli mainan dari luar negeri. Mau Warhammer lah, Lego lah karena di NZ sini harga gitu2an meroket tinggi. Pas dibuka, sayapun speechless…

wpid-img_20140730_113441.jpg

Isinya adalah foto saya dari malem dinner itu yang saya aja nggak sadar diambil, dicetak di kanvas gedeeeee banget. Langsung terharu biru deh secara ini foto bagus artistik apaan lah pertama saya yang diprint bagus kayak begini. Buat dipajang katanya. Thank you ya darling and sorry banget akhir2 ini saya suka kejam ngomel2 melulu hahahaha. xx

Pacar saya ini lumayan terkenal di lingkungan temen2 saya… terkenal sbg bule karbitan! Kenapa? Soalnya biarpun tampangnya begitu, makanan kesukaannya itu semua makanan2 Asia dan doi makan macem2 yang buat bule laen aneh kali ya. Mama mertua temen saya contohnya, dimasakin nasi goreng terus dijadiin sandwich pake roti n mentega! Dengernya aja bikin bleneg deh tuh. Seru kalo ngajak dia wisata kuliner, karena prinsip dia apapun harus dicoba sekali, siapa tau enak. Otak sapi gulai Padangpun, dihajar dan katanya, enak! Saya sering cerita tentang soto betawi di Jakarta yang pakai jeroan (kesukaannya) dan dia udah semangat mau nyobain tuh. Maaf ya diriku cium bau babat aja udah mual, jadi soto betawinya daging aja kalo masak di rumah.

Kalo ditanya what’s your favorite food dengan mantap jawabannya adalah “Hokkien Mee”. Itu loh mie goreng Malaysia yang mienya gendut, warnanya hitam. Saya aja nggak doyan karena bleneg deh makan itu, isinya sosis babi, daging babi, kriuk kriuk samcan babi n Chinese dark soy sauce. Aneh ah. Atau dia doyan banget bakut teh Malaysia (aneka isian dan jeroan babi yang dimasak pakai kuah herbal–jadi inget rasa obat2an Cina yang dicekokin mami saya pas kecil). Kalo dimasakin makanan Indonesia atau diajak ke festival Indonesia, doi ikut2an semangat. Lucu deh liatnya, suka makan terasi (kadang2 tuh terasi suka dicomotin terus dicemil, ya ampun), girang banget pas kita kemarin ada acara Indo dia makan kambing guling yang katanya “SOOOOO GOOOOOOD” lengkap pake gulai jeroan. Dia juga suka request tahu kukus and mie goreng ala tektek tapi harus mie Atoom Bulan ya (fanatik nih udah). Saya aja nggak doyan jeroan dan kalo pergi dimsum pasti makannya yang aman2 aja, gak model dia yang pemakan segala jeroan and favoritnya yaitu ceker.

Tapiiiiii tetep dong, doi gak doyan kesukaan saya… duren!

Makan Hokkien Mee di Malaysia, muka sumringah bahagia poll. Padahal restorannya di sebelahnya ada saluran air yang tikusnya gendut2!

Makan dimsum kesukaannya… aneka jeroan dan ceker ayam favorit.