Archive

Wisata NZ

Dalam rangka menghabiskan hari terakhir long weekend (hari Senin) saya dan M memutuskan untuk tramping. Kalau di Indonesia nyebutnya jalan alam, kali ya? Di NZ ini banyak sekali rute jalan alamnya (yang dirawat dengan baik, petunjuknya jelas, alamnya indah dan tentu saja tidak ada bahaya binatang berbisa) dan gratis. Ya mereka nggak memungut biaya masuk untuk rute jalan-jalan alam di sini, langsung jalan saja. Saya pernah jalan beberapa kali tapi setiap kali jalan saya nggak sempat nenteng HP dan foto-foto. Takut jatuh, karena saya kalo jalan kudu konsen — lha ya jalan biasa aja suka tersandung, sih! Terus celana olahraga yang khusus dipakai buat jalan memang nggak ada kantongnya. Tapi kali ini saya memutuskan bawa, dan janji mau cerita di blog tentang NZ dan jalan-jalannya nggak cuma curhatan hati melulu, he he he.

screen-shot-2017-02-06-at-6-01-17-pm

Kami memutuskan untuk jalan ke Rangitoto Island. M terakhir ke sini sudah lebih dari dua puluh tahun yang lalu, ketika umurnya masih kecil. Kalau saya sih masih ingat dengan si pulau karena tahun lalu jalan-jalan alam bersama kantor tujuannya kemari. Pulau ini pulau gunung merapi tak berpenghuni, yang dijadikan sanctuary untuk kehidupan alam bebas (wildlife) kebanyakan yang saya lihat sih, burung-burung. Untuk mencapai pulau ini bisa naik ferry dengan harga yang terpampang di atas, karena kami naik dari Devonport (lebih dekat dari rumah) hanya makan waktu 15 menitan saja kurang lebih. Tidak ada karcis masuk pulau, bayar ferry-nya saja. Karena pulau ini tidak berpenghuni, penting untuk membawa sendiri air minum dan bekal makanan secukupnya, yang sampahnya wajib dibawa pulang dan dibuang di luar pulau. Selain air minum dan bekal yang cukup, memakai sunscreen itu wajib karena panas banget kalau tidak pakai, 100% pasti kena sunburn parah. Yang terpenting adalah dengan teliti menghitung waktu di pulau, karena kalau kelewatan ferry terakhir bisa-bisa harus bermalam di pulau yang dingin dan sunyi itu.

screen-shot-2017-02-06-at-6-07-45-pmKetika sampai di Rangitoto Island, begitu keluar dari ferry. Hari ini cuacanya bagus sekali, cerah biru tapi panas… jangan ditanya.

Pulau Rangitoto dijadikan tujuan orang untuk jalan alam, kebanyakan untuk naik ke puncaknya. Jalan ini lumayan mudah kok banyak orang-orang tua yang berjalan, namun karena menanjak mungkin memakan waktu agak lama. Perkiraannya untuk ukuran orang biasa (termasuk saya dan perkiraan yang dicetak di papan penunjuk di pulau) sekitar kurang lebih 1 jam untuk naik ke puncak dan 1 jam untuk turun. Selain scenic walkway ke puncak pulau, masih banyak lagi rute-rute jalan alam yang bisa dijalani di sini. Kalau yang malas jalan ada tuh paket untuk ikutan tur yang naik mobil lalu dipandu guide-nya untuk melihat bekas gunung merapi yang meletus kira-kira 400-500 tahun lalu.

screen-shot-2017-02-06-at-6-13-48-pmPenampakan peserta tur beserta kendaraan medan beratnya

Sebelum kami mulai meneruskan perjalanan kami ke puncak, kami mampir sebentar di rumah tua yang difungsikan sebagai museum pulau. Lucu sekali rumahnya kecil cantik, dan di dalam penataannya masih jadoel bagaikan terbang ke tahun 1940-1950an. Kalau mau lihat rumah-rumah tua seperti ini (disebutnya bach) di pulau, ada rute khususnya juga, tapi para bach adalah bach kosong yang terlantar (namun dirawat untuk estetika), nggak seperti yang dijadikan museum khusus. Untuk pecinta sejarah, antik dan barang jadoel pasti senang. Saya termasuk yang ketiga, jadi rasanya melihat bagian dalam bach ini seneng sekali.

Penampakannya bach dan isi bagian dalamnya yang sangat menarik, terawat dan apik.

Perjalanan kami pun berlanjut. Karena mau mengejar ferry pulang yang masih siang dan nggak mau seharian di Rangitoto kami putuskan untuk jalan ke puncak terus turunnya lewat lava caves (gua yang terbentuk dari lava ratusan tahun lalu waktu gunungnya meletus). Kami budget 2.5 jam untuk jalan dan istirahat makan siang, kami bawa bekal sandwich, buah apel dan cokelat dari rumah. Jalannya sih gampang aja, tingkat kesulitan mudah kok. Tapiiiiii begitu sudah mulai mau betul-betul ke puncak, tanjakannya yang tadinya level rendah makin lama makin naik sampai berpadu tangga pula. Duh nggak kuat. Sampe acara ngos-ngosan dulu di tengah nanjaknya, minum air dulu, makan apel dulu terus akhirnyaaaa sampai juga deh.

Satu point yang saya kagumi dan acungi jempol pulaunya benar-benar bersih dan terawat. Tidak ada satupun sampah besar maupun kecil yang saya lihat walaupun banyak yang makan bekal atau snack, dan minum dari botol plastik. Mereka setelah makan, membereskan kembali sampahnya dimasukkan tas untuk dibawa balik.

Sampai di atas tuh capeknya udah nggak berasa. Pemandangannya bagus banget aduh foto aja kurang bagus pokoknya. Apalagi di cuaca yang langit biru seperti ini. Penampakannya adalah kota Auckland dari jauh. Setelah puas menikmati pemandangan sambil makan siang bekal kami dan ngobrol-ngobrol kamipun lanjut, pergi lihat gua. Sayangnya gua ini gelap banget dan hasil fotonya meski dari luar juga jelek-jelek, jadi nggak saya sertakan. Berikut foto-foto dan sedikit penjelasan di bawah ini.

img_5487
Pemandangan dari atas summit yang bagus sekali, this photo doesn’t do it justice.


Ini si M nongol dari antara dedaunan, orangnya suka iseng ini dilihat itu mau dilihat, turun masuk bushes kalo saya yang steep gitu alias dalam takut juga kalo jatuh gimana?


Untuk melindungi satwa alam yang kebanyakan burung-burung ini disiapkan perangkap untuk predator, pokoknya pulau ini harus bebas hewan predator.


Contoh papan penunjuk jalan yang tersedia dan tersebar di area rute jalan, untuk membantu supaya nggak nyasar.


Ini pemandangan karang di sekitar sisi pulau. Bagus banget saya suka gradasi warna airnya.

Senangnya hari libur bisa dimanfaatkan buat lihat-lihat alam dan menantang badan supaya nggak malas gerak, biar bugar — semoga weekend-weekend lainnya nanti saya bisa pergi jalan-jalan lagi ya biar makin banyak walkway di NZ yang masuk cerita blog, supaya yang pingin liburan ke sini makin kepingin datang untuk lihat langsung, he he he. Dijamin nggak nyesal karena… beneran bagus banget! Plus sehat buat tubuh dong ya pastinya.

Teman lama saya dari jaman kuliah dulu, Lia, datang berkunjung. Karena saya bekerja dan jatah cuti sudah habis, jalan-jalan sendirilah Lia dan saya menemani waktu akhir pekan saja karena Lia di Auckland hanya beberapa hari lalu jalan-jalan ke South Island. Salah satu tempat yang wajib dikunjungi kalau jalan-jalan ke NZ adalah weekend farmers market-nya. Banyak sekali bertebaran di mana-mana — Sabtu itu saya mengajak Lia untuk ke French farmers market di daerah Parnell, sekalian jalan-jalan ke katedral dekat sana soalnya.

Kenapa disebut French farmers market? Soalnya bertempat di La Cigale French Cafe. Jadi ada cafe-nya yang menyajikan kopi dan pastry-pastry fresh menggugah selera dan di area parkiran cafe-lah weekend market alias pasar akhir minggu ini diadakan.

La Cigale Market, Bistro & Cafe
69 St Georges Bay Road, Auckland 1052, New Zealand
Cafe buka setiap hari dari pagi, market hanya ada setiap hari Sabtu dan Minggu pagi sampai pukul 1.30 PM

Begitu masuk disambut oleh wanginya pastry hangat yang baru keluar dari oven dan kopi. Terus ada keju dan kue-kue yang bisa dicoba. Saya menyarankan Lia mencoba bacon and egg pie — khas New Zealand! Ini di dalam bagian gedungnya si La Cigale cafe.

Selain pastry dan keju tentunya ada kue-kue — macaron si cantik yang di manapun sepertinya sedang populer saat ini.

Roti ini enak banget, dari adonan roti a la Timur Tengah yang dipanggang fresh di depan muka kita ketika kita order. Kalau gak salah pilihan isinya banyak tapi yang saya ingat cuma lamb alias daging domba, dan spinach and ricotta. Kami pesan yang spinach soalnya saya lagi nggak makan daging domba… enak banget karena fresh, asin dan gurih bercampur jadi satu.

Lagi-lagi fresh baking yang tampilannya menggoda. Kalau ke sini ketika lapar… wah bisa-bisa kalap mata dan makan kebanyakan. Oh iya kebanyakan weekend farmers market model begini tidak semua stall-nya menyediakan Eftpos alias metode pembayaran pakai kartu. Kami-kami di sini jarang banget deh bawa cash jadi hal beginian harus diingat — kalau nggak repot deh cari ATM atau stall yang menyediakan jasa cash out.

Namanya juga French market jadi kudu menyediakan fresh crepes dong. Saya nggak makan, tapi dulu pernah coba dan enak banget yang rasa lemon and sugar. Sederhana, hanya crepes tipis hangat ditaburi gula dan kucuran jeruk lemon segar. Sayangnya di market ini nggak ada stall yang menyediakan mussels atau whitebait fritter. Padahal enak, khas NZ dan saya pingin banget makan seafood pagi itu — dan juga pengen suruh si Lia mencoba.

Dua malam seminggu La Cigale juga buka sampai malam menyediakan hidangan a la Prancis. Ini belum dicoba tapi masuk list sih — sepertinya enak dan harganya masuk akal dibandingkan resto a la Prancis lainnya.

Siapa yang suka fresh oysters angkat tangaaaaaan! Saya dulu nggak doyan, geli-geli gimana gitu. Setelah pindah kemari dan mencoba yang segar… wah… enaaaaaaaak banget! Seperti stall Mahurangi oysters ini. Kerang-kerangnya baru ditangkap subuh itu katanya dan memang rasanya betul-betul segar. $12 untuk setengah lusin, dibukain, dimakan di sana. Puas banget, setengah lusin nggak cukup tapi sayang dompet hahahaha.

Ini dia muka bahagia kami di depan stall-stall yang enak-enak. Hari itu sunny sekali, masih bisa pakai baju summer, padahal hanya dua minggu yang lalu! Sejak minggu kemarin, cuaca pokoknya tiba-tiba jadi buruk.

Kalau ditanya makanan apa sih yang khas dari New Zealand? Semisal rendang dari Indonesia, nasi lemak dari Malaysia, pasta dari Italia atau pastry dari Perancis… jawabannya nggak ada. Saya sudah pernah tanya M juga dan selain pavlova, makanan di sini adalah adaptasi dari makanan pendatang-pendatang di Selandia Baru ini (yah namanya aja udah pake kata ‘Baru’ ya) tapi hasil adaptasinya enak-enak kok jadi Kiwi style. Misalnya pie, pie kan aslinya bukan dari NZ tapi di NZ sini pie terkenal banget dan style-nya juga beda dari segi pastry dan isi.

Part 1 ini isinya adalah makanan, rencananya saya pengen bikin part 2 yaitu snack (inspirasi dari waktu beli afghan cookie — khas NZ — yang ternyata lumayan mengundang rasa penasaran yak hehehe).

Oke berikut makanan-makanan yang wajib dicoba kalau lagi di NZ versi saya.

fantacy-pavlova-hero-NEW-SITEPavlova
Suka disangka oleh orang awam sebagai makanan dari Australia, makanan pencuci mulut ini sebetulnya berasal dari New Zealand. Dari list ini pavlova ini adalah satu-satunya yang murni asli makanan NZ. Pavlova terbuat dari putih telur yang dikocok keras dan dicampur dengan gula. Biasa dimakan dengan topping buah-buahan, saus buah (semacam berry coulis seperti di foto) dan whipped cream alias krim kocok. Banyak tempat yang menjual dari restoran fine dining sampai supermarket biasa. Biasanya kami kalau kepingin belilah satu loyang di supermarket terus potong buah atau pakai buah kalengan dan saus buah instan dan bikin krim kocok sendiri. Orang sini sangat bangga dengan pavlova, dan kamu bisa saja menyinggung mereka kalau bilang pavlova dari Australia hehehe. Enak tapi menurut saya agak manis banget jadi kalau saya yang makan, banyakan krim dan buahnya dibanding pavlovanya.
Fotonya dari website annabel-langbein.com

pie-copy.jpgMince and Cheese Pie
Ini salah satu makanan kegemaran saya! Orang New Zealand suka sekali makan pie, bahkan setiap tahunnya diadakan kompetisi pie untuk menentukan pie paling enak tahun itu dari bakery mana. Untuk pie yang enak pastrynya harus lembut, buttery tapi crispy di atasnya. Yummy! Mince and cheese pie ini isinya biasanya filling yang terbuat dari daging sapi cincang nan gurih, lalu ditaruh keju di atasnya sebelum ditutup pastry lagi. Pokoknya enak banget. McDonalds NZ juga menjual pie ini versi mereka namanya Georgie Pie. Selain mince and cheese pie, steak and cheese pie juga terkenal. Kalau main ke Auckland saya menyarankan pokoknya harus coba pie di Little and Friday bakery — mince and cheese pie-nya thumbs up!
Gambar dari GAdventures.com

downloadSausage Rolls
Salah satu makanan yang enak sekali dan saya juga senang membuatnya — karena mudah dikreasikan dengan daging cincang apa saja. Mau babi, sapi, ayam, kambing semua bisa kecuali seafood. Makanan andalan yang suka saya buat kalau didaulat untuk bikin kudapan, habisnya mudah dan enak! Prinsipnya simple saja, daging cincang dibumbui dan dibalut kulit puff pastry dan dipanggang. Hasilnya? Perfect for morning tea, alias snack pagi sebelum makan siang, atau kudapan piknik! Atau mau gampang beli ke bakery mana saja, bahkan tersedia beku di supermarket.
Gambar dari chelseawinter.com

feijoa.jpgBuah Feijoa
Hanya ada di musim gugur sayangnya, untungnya saya punya pohon yang berbuah banyaaaak di musim gugur, di belakang rumah kami. Buahnya bertekstur mirip guava alias jambu, tapi wangi sekali. Saya suka campurkan ke dalam smoothie atau dimakan begitu saja juga enak. Atau dicemplungin ke dalam segelas wine.
Foto dari breontheroad.com

13-26-likes-the-classic-kiwi-cream-bunJam and Cream Donuts
Simple saja, donat biasa tanpa bolongan di tengah (menurut saya nggak selembut tekstur donat di Indonesia, teksturnya lebih keras sedikit dan lebih mirip roti walau nggak sekeras roti) dibelah dua dan diisi selai berry dan krim kocok. Ke bakery atau supermarket pasti ada, menurut saya enak dan pasti yang doyan makan manis suka! Kata M kenangan masa kecilnya adalah makan donat ini, sampai sekarang kalau lewat bakery juga masih suka beli.
Foto dari longwhitekid.wordpress.com

fncFish and Chips
Juaranya! Siapa sih yang nggak suka gorengan? Menurut saya yang paling enak adalah beli di toko takeaway kecil dan dimakan di taman atau pantai terdekat. So Kiwi! 🙂
Ikan yang tersedia biasanya ikan lokal seperti gunnard, tarakihi, snapper atau hoki — saya paling suka tarakihi atau snapper. Makannya harus pakai saus tomat. Dan biasanya saya juga tambahkan orderan gorengan lainnya khas di sini, yaitu deep fried mussels (isinya kerang hijau NZ yang dibalut adonan dan goreng garing ) dan mussel fritters (semacam omelet kerang hijau NZ).
Foto dari birddogsprofit.com via Pinterest

Selain ini yang boleh dicoba juga hangi, makanan tradisional khas suku Maori. Hangi ini memasak sayuran seperti kumara (NZ sweet potato), wortel dan sebagainya dengan daging dengan cara menggali lubang di tanah, dipanaskan lubangnya dan makanannya dimasukkan ke lubang. Menurut saya rasanya biasa aja and cenderung hambar? Emang dasar lidah Indonesia kalau makan yang nggak ada bumbunya, nggak doyan. Tapi bolehlah dicoba kalau lagi di sini.

Dan satu lagi… ini sih saya nggak doyan ya. Tapi M suka dan dia bilang kudu dimasukkan ke postingan ini karena khas Kiwi katanya hahaha.
DSC06043-L.jpgMarmite and Chips Sandwich
Menurut saya pokoknya ini makanan aneh! Marmite itu spread yang terbuat dari fermentasi yeast alias ragi. Rasanya… susah dideskripsikan. Mirip Vegemite (kalau yang di negaranya ada cobain deh) tapi lebih pungent dan kuat rasanya. Terus dioleskan di roti tawar, masukin keripik kentang, makan deh. Pokoknya aneh buat saya, enak buat orang-orang yang gedenya makan beginian hahaha.
Gambar dari breontheroad.com

Kalau Amerika punya Coachella dan Burning Man, Australia punya Stereosonic dan Belgia punya Tomorrowland, New Zealand punya Splore yang diadakan setiap bulan Februari setiap tahunnya. Annual arts and music festival ini seru sekali dan setiap tahun temanya berbeda. Anak kecil boleh ikut bahkan ada camping area khusus untuk keluarga juga, ada aktivitas untuk anak-anak, art workshop, yoga, show dan sebagainya. Bahkan ada themed camp di mana orang-orang yang niat banget membawa campervan dan membuat camping bertema sendiri. Splore diadakan di Tapapakanga Regional Park — camping ground yang sampingan dengan pantai. Selama tiga hari festival ada stage besarrrr di tepi pantai yang memainkan musik terus menerus namun cukup jauh dari area camping jadi kalau mau istirahat tidak berisik.

10441072_851631148215628_3970465387407032353_n

Untuk bertransaksi diberikan wristband yang diisikan uang di dalamnya jadi tidak bisa beli-beli barang pakai uang cash atau kartu lainnya. Gara-gara ini juga saya sempat diusir keluar dari sebuah bar di siang bolong (padahal saya nggak beli minuman lho) — karena disangka di bawah umur! Dan ironisnya saat saya balik ke barnya di malam hari saat semua orang party, saya nggak ditanyakan kartu tanda umur, ha ha ha.

11025228_10153842155180605_3423977962650409324_n

Tema tahun ini adalah space odyssey jadi sepanjang weekend kami melihat dan ikutan dress up dengan tema angkasa luar. Banyak yang niat banget sampai membuat kostum astronot sendiri, lho!

10533435_10153834327815605_6308697358102217767_n

Selain stand makanan, musik dan market yang menjual aksesoris dari baju, perhiasan sampai topi, Splore juga menyediakan jasa pernikahan! Ya, dengan mendaftar dan membayar biaya bisa menikah di festival ini. Unik sekali!

12743606_10207276503885642_190450265301497852_n.jpgCaravan bertema.

12744094_10153842154420605_2712846790255242608_n12746337_10153841893125605_1763828985_n

Kalau berkunjung ke New Zealand bulan Februari pokoknya worth it untuk datang ke arts and music festival ini. Makanannya juga enak-enak! Pengalaman tak terlupakan dan kami berencana untuk pergi lagi tahun depan. Yang bikin agak ilfil awalnya adalah portaloo – WC portabel — karena nggak ada flushnya kalau lagi sial bisa melihat ‘kado’ dari orang sebelum kita, ha ha ha.

Info selengkapnya bisa lihat di http://splore.net/
See you next year, Splore!

Happy Auckland Anniversary Day!

Hari Senin ini kami dapat hari libur di kota Auckland saja karena kotanya sedang berulang tahun. Berhubung saya lagi nggak punya uang lebih saya pun mikir ngapain ya hari Senin ini, kalau di rumah saja kok bosan. Sabtunya sudah punya acara dan karena saya nggak bisa menyetir dan malas naik bus di panasnya matahari, hari Minggu saya di rumah sendirian makan Indomie 3x (ini jangan ditiru, jelek banget hahaha). Oke setelah membudget diri kami bertiga memutuskan untuk makan malam di rumah, siangnya makan enak terus yuk ke museum!

Auckland War Memorial Museum
Park Road, Grafton
Auckland 1010

b1

Kami ke Auckland War Memorial Museum yang letaknya di tengah taman gede, Auckland Domain. New Zealand residents boleh masuk dan diundang buat donasi, tapi kalau kamu bisa menunjukkan bukti kamu tinggal di Auckland, bisa mendaftar untuk masuk gratis (boleh bawa orang, lagi!). Saya sudah beberapa kali ke museum sebelumnya. Pertama dan kedua pas masih baru di Auckland jadi nggak punya bukti alamat tetap, kali ketiga sekalian nonton acara jadi semua kunjungan sebelumnya itu saya harus bayar. Dalam rangka penghematan saya sudah cari info dan membawa proof of residence dalam bentuk surat tagihan telepon yang dikirim ke alamat rumah. Sampai di museum saya hanya perlu isi formulir lalu diberikan kartu ini. Kami pun masuk gratis dan sampai kapanpun saya masuk ke museum hanya perlu swipe kartu ini saja, hore murah meriah alias gratis terus kartunya cantik lagi. Tapi gratis ini museum saja ya dan eksibisinya kalau mau nonton acara seperti cultural dance harus bayar lagi.

Untuk catatan saja biaya masuk turis dewasa NZ$25 dan anak-anak NZ$10, bisa juga ambil family pass 2 dewasa dan maksimal 4 anak NZ$60.

b3

Penampakannya museum dari luar. Museumnya bagus, terus adem soalnya ada AC. Salah satu alasan kami lama-lama di dalam karena di luar panas nggak tertahankan dan di dalam kan AC-nya gratis, he he he. Kebetulan juga Air New Zealand sedang mengadakan eksibisi dalam rangka perayaan 75 tahun maskapainya berdiri, jadi banyak yang bisa dilihat di museum. Kami sempat juga naik ke ruang pesawat bohongan terus pakai alat virtual reality dan merasakan gimana sih penerbangan di masa depan itu, pokoknya seru. Saya nggak banyak foto-foto di dalam museumnya karena mengandalkan kamera HP yang jelek di low light area… kalau yang penasaran boleh Google mengenai museum ini atau datang sendiri, nanti saya temenin ke museumnya 😀

b2

Dari museum kami jalan-jalan ke taman dan taman bunga di sekitar Auckland Domain ini. Nemu truk yang jualan macam-macam dari hot dog, milkshake, es krim, minuman dingin dan kentang goreng. Sayangnya mereka hanya menerima uang tunai saja dan kami nggak ada yang bawa uang tunai (mode transaksi yang paling umum di sini pakai kartu Eftpos — mirip kartu Flazz kali ya?)… hanya bisa ngiler cium bau hot dognya dan nggak jadi beli.

Fish Fish @ Ponsonby Central
Shop 8, 4 Brown Street
Ponsonby, Auckland

Ponsonby Central ini semacam sentral yang isinya banyak restoran dijadikan satu, food market, toko-toko kecil dan bahkan jasa penerawangan gipsi juga ada. Foto ini saya ambil dari postingan blog lama di Blogspot hehehe. Kami ke sana karena kepingin ikan dan males makan di takeaway fish and chips yang berminyak dan harus dibawa pulang cari tempat makannya (terlalu panas buat piknik). Pergilah kami ke Fish Fish.

Memilih sendiri ikannya (segar-segar!), cara masaknya dan sidesnya yang kamu mau. Mirip seperti makan seafood di Jakarta yang ngangenin (walau rasa dan bumbunya beda). Di atas layout tempat makannya, terus kita duduknya sambil nonton mereka masak dan menyiapkan makanannya.

b5

Pesanan saya pan fried gurnard with butter herb sauce, karena panas dan malas makan karbo sidesnya saya pilih fennel and orange slaw. Minumnya organic soda. Untuk makan siang ini saya bayar NZ$18 untuk semuanya… kalau beli fish and chips takeaway sih jauh lebih murah (bisa di bawah $10) tapi nggak sehat (tidak ada pilihan side salad atau pan fried fish semuanya gorengan) dan ikannya tidak terlalu segar. Puas rasanya makan siang di sini, jarang-jaranglah karena hari libur.

b8

Oh iya salah satu favorit saya di Ponsonby Central adalah tempat sampahnya!

Queenstown adalah tempat tujuannya turis-turis yang datang ke New Zealand. Tinggal di sinipun saya belum pernah ke sana sebelumnya karena biaya ke sana yang tidak murah — maklum kota turis sih! Akhirnya berkesempatan juga ke sana, memanfaatkan long weekend akhir bulan (Queen’s Birthday) dan deal promo tiket Jetstar yang harganya bersahabat.

Kota Queenstown yang diapit danau bening dan gunung yang gagah dilihat dari atas (naik gondola ke atasnya).

Queenstown bukanlah tempat yang kamu tuju untuk belanja atau ngegaul, menurut saya, karena kotanya yang kecil banget (di lembah gunung). Queenstown adalah tempat yang dituju untuk relaksasi, untuk bertualang, untuk mendekatkan diri dengan alam. Banyak sekali kegiatan yang ditawarkan mulai dari trekking, naik gunung, ski, skydiving, bungee jumping, kayak, rafting dan sebagainya. Dengan banderol harga yang tidak murah, tetapi saya berhasil menyiasatinya dengan merencanakan kegiatan secara seksama dan booking kegiatan-kegiatan tersebut online. Contohnya naik gondola kalau bayar di loket langsung $35, tetapi kalau beli tiket di situs bookme.com $45 sudah termasuk gondola dan 5 permainan luge (seperti mobil-mobilan kayu yang turun gunung). Kalau beli tiket luge di loket $43 adalah gondola + 1 luge tersebut.

Pemandangan dari atas pesawat sebelum mendarat.

Selama di sana saya berjalan-jalan dengan menggunakan mobil sewaan. Biasanya hotel atau penginapan yang bukan backpacking menawarkan tempat parkir gratis untuk tamunya, jadi nggak usah khawatir mobilnya diparkir di mana. Menyewa mobil juga ideal, jadi bisa jalan-jalan sendiri, menentukan tujuan sendiri. Dan selama menyetir pasti berdecak kagum dengan pemandangannya yang ajubile bagus banget, kalau menyetir sendiri nggak usah repot, tinggal berhenti di pinggir jalan untuk foto-foto atau sekedar menikmati pemandangan alamnya. Menyewa mobil juga tidak mahal, hitunglah pukul rata $50 sehari dan dibagi berberapa yang menyewa mobilnya plus biaya bensin, lebih murah dari beli tiket bus menuju tempat wisata. Turis dengan mudah bisa menyetir asal memiliki SIM Internasional yang diakui.

Ini namanya “Queenstown Mall” kalau di Indonesia lumrahnya mall adalah gedung pertokoan, di NZ sini mall bisa saja komplek jalanan yang banyak tokonya, hahaha. Queenstown Mall ini adalah pusat kotanya Queenstown… kecil tempatnya, penuh toko-toko, restoran, pub dan tourist centre.

Di Queenstown udaranya sangat segar dan sejuk! Mungkin karena nggak ada gedung tinggi, adanya banyak pohon dan hewan seperti burung dan bebek. Bebeknya banyaaak dan gemuk-gemuk. Orang-orang di sini sangat ramah dan bersahabat… di Auckland aja udah ramah bener, di sini di-dobel ramahnya! Ya iya karena kota kecil yang mengandalkan pariwisata. Di mana-mana juga banyak turis berseliweran, dengan tempat backpacker yang selalu ramai, pub yang selalu ramai karena minumannya murah dan orang-orang rileks untuk berlibur. Saya mencoba mulled wine, red wine yang dipanaskan dengan rempah-rempah. Enak sekali, untuk menghangatkan badan di tengah dinginnya cuaca malam Queenstown. Segelas dibanderol $6-$10 tergantung tempat.

Bebek di pinggir danau utama pusat kota Queenstown.

Pemandangan dari jendela hotel. Menginap di hotel Rydges… book dari wotif.com dapat diskon 15%, harga terjangkau di pusat kota, pemandangan bagus, unlimited wifi dan servis yang menyenangkan. Untuk budget hotel, saya bisa sarankan di sini.

Berhenti di pinggir jalan buat foto-foto… recommended untuk nyewa mobil dan nggak ikutan tur bus hehehe, serasa nyetir di gambar kartupos… bagus sekali!

Sampai sini dulu ceritanya 😀 nanti saya akan lanjutkan di post lain tentang jalan-jalan ke tempat lainnya di Queenstown.

Ini cerita jalan-jalan tahun 2011 bersama kakakku waktu dia berkunjung. Karena dia memiliki sertifikat menyelam, kakakku pengen menyelam katanya. Carilah tempat menyelam bagus yang letaknya nggak jauh dari Auckland… lalu berangkatlah kami ke Whangarei. Whangarei ini kota kecil banget, ndak ada apa-apanya… kami di sini juga hanya semalam karena tujuannya ya untuk menyelam ini saja. Kami pun book untuk pergi ke Poor Knights Island. Infonya bisa dilihat di sini.

Kami dijemput shuttle van dari hotel pukul 7 pagi, kami sampai ke kantor dan marina Dive Tutukaka untuk siap-siap berangkat pukul 8. Saya karena nggak bisa menyelam, membayar $115-120… lupa berapa tepatnya, untuk snorkeling saja. Yang nggak bisa berenang seperti saya nggak usah khawatir karena diberikan wet suit yang bisa mengapung. Senang sekali, karena untuk pertama kalinya saya bisa nyemplung ke laut dengan perasaan bahagia nggak takut tenggelam… biaya itu juga lengkap dengan makan siang dan minuman hangat di kapal, karena di kapalnya kan seharian tuh, cruise sampai jam 4 sore. Kapal tersedia untuk snorkel dan dive, lalu ada lagi kapal terpisah yang khusus untuk cruise saja.

Setiap kapalnya dinamai, kami menaiki kapal Calypso. Lalu sepanjang hari kita akan saling dadah-dadahan dengan kapal lainnya. Buat saya ini worth it, apalagi yang belum pernah snorkeling seperti saya. Aman karena health and safety betul-betul diperhatikan. Saya juga sempat mabuk laut sedikit, dan tiap mabuk laut dibuatkan minuman lemon toddy panas dari ‘cafe’ kapal yang saking enaknya, sejak saat itu saya selalu stok di rumah untuk obat di kala tidak enak badan.

Dari Auckland ke Whangarei bisa menyetir atau naik bus antarkota kurang lebih 3 jam lamanya.

Untuk selanjutnya bisa dilihat lewat foto-foto. Air dan langit yang biru, melihat ikan lumba-lumba, sempat lihat paus kecil juga. Instruktur dan staffnya juga sangat ramah-ramah sekali. Setelah ngobrol mereka ternyata lokal-lokal yang datang ke Whangarei setiap musim panas saja untuk bekerja di sana, semacam holiday job gitu kali ya. Patut dicoba kalau ke sini. Saya nggak bisa menjelaskan betapa bagus dan beningnya waktu saya snorkeling, berenang bersama macam-macam ikan warna warni.