This content is password protected. To view it please enter your password below:

Advertisements

Saya ini masih muda… tapi kadang mengalami saat-saat di mana nih otak rasanya bekerja dengan senior mode on, hahaha. Maksudnya, saya suka alpa dan slebor. Contoh mudahnya saja, dulu Mami rutin kalau kami sedang jalan bareng akan memperingatkan saya, “Awas tuh ada batu di depan.” Atau ada kaca dsb. Padahal kadang obyek yang diperingatkan olehnya supaya saya nggak nabrak, gede banget… tapi ya begitu, karena saya suka tersandung, nabrak dan sebagainya – Mami selalu memperingatkan. Sekarang tanpa sadar, si M melakukan hal yang sama! Saya ngakak, sebegitu alpanya kah saya?

Contoh lainnya saya suka panik… mana HP, kacamata, buah lemon dsb. Dan obyek yang menjadi sumber kepanikan saya bisa saja nyantol di kepala. Atau HP nggak ketemu lha ya orang saya mencarinya sambal teleponan… HPnya nyantol di kuping… jadi nggak kelihatan. Buah lemonnya? Dipegang di tangan! Oops… udah panik duluan dan saya kalo panik jantung berdebar dan tangan langsung keringatan.

Kenapa tiba-tiba nulis tentang ini? Karena tadi pagi saya habis ditertawakan oleh M.

Semalam entah kenapa kami tidurnya terlambat, jadi tadi pagi saya bangun dengan rasa ngantuk yang luar biasa. Tertatih-tatih saya melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk bersiap-siap kerja. Seperti biasa Loki menyambut dengan semangat, dan kebiasaannya adalah menemani saya bersiap-siap. Loki akan naik ke atas tempat cuci tangan sambal meong meong sampai saya selesai bersiap-siap.

Sehabis cuci muka, saya biasa memasang lensa kontak dulu sebelum mandi. Buka tempat lensa kontaknya… langsung panik dong. Mana nih lensa kontak kiri? Lho yang kanan kok nggak ada juga???? Meraung-raung deh saya. Lalu… baru sadar… nih mata kok terang banget padahal nggak pakai kacamata? Ya saudara-saudara dengan alpanya lensa kontak nggak sengaja dibawa tidur (pertama kali kejadian dalam 5 tahun belakangan nih!). Pantesan nggak ada di tempatnya. Lha ya masih nempel dengan mata saya sih!!

Oke, kalau begitu saya mau keluarkan dan dicuci deh supaya aman. Sayapun mencuci tangan dengan sabun supaya tangannya bersih sebelum mencopot lensa kontak. Setelah mencuci tangan, saya refleks meraih lap tangan yang digantung di sebelah kiri bawahnya sink. Sambil usap-usap kok tangannya nggak kering-kering… nengoklah saya ke kiri.

WUAAAAAAAAAHHHHHHHHHH pantesan saja usapan saya nggak mengeringkan tangan. Lha yang diusap bukannya kain lap tangan… tapi ekornya si Loki yang menggantung tepat di sebelah si lap tangan!!!!!!!!!!

Kudu cuci tangan ulang, diketawain pula oleh M, kok kamu pagi-pagi sudah ngaco saja…

Yaaaaa… sayapun ikutan ketawa deh. Sambil berjanji pada diri sendiri, nanti malam tidurnya tidak boleh terlambat lagi 🙂

Oke bonusnya foto saya saja deh di bawah, hehehe. Ceritanya habis ikutan voting (voting pertama saya di NZ) untuk pemilu tahun ini.

Ya, betul.

Kalau menaruh makanan di kulkas… kadang suka dipakai bersama! Bukan bekal ya tapi staple seperti misalnya margarin, selai, madu, yoghurt… saya pernah kehilangan satu kotak yoghurt plus dengan kotak khususnya. Saya kan membuat yoghurt di rumah jadi tanpa kotak khusus saya nggak bisa membuatnya lagi. Beli lagi deh kotak khususnya supaya bisa buat lagi di rumah.

Saya kapok juga membawa sekotak spread (butter atau margarin) untuk roti, soalnya cepet banget habisnya — dan bukan saya yang pakai! Dan para-para klepto yang males beli spread sendiri ini juga meninggalkan sisa remah roti mereka di dalam margarin ini. Karena pisau yang sudah dipakai untuk mengoles roti panggang, dipakai lagi deh untuk ambil margarin lagi…

Saya kapok membawa selai untuk roti panggang. Peanut butter saya dipakai orang, tanpa izin, dan mana yang makai nggak bersiiiih jadi pas saya menyentuh botol setelahnya, tutupnya berminyak. Sebel banget nggak sih!

Madu juga kalau ditaruh di dapur, pasti cepat habisnya walau sudah dituliskan nama pakai stiker yang buesaaaaaaar. Sulitnya karena meja duduk kami tidak banyak storage jadi hampir nggak mungkin menaruh semua makanan tersebut di meja pribadi.

Kok bisa sih saya hari ini nulis ini? Saya mengalami kejadian menyebalkan di kantor hari ini.

Berhubung perut saya tidak bisa mencerna susu biasa (yang disediakan oleh kantor), saya harus membawa susu khusus (lacto free, yang laktosanya sudah di-convert menjadi gula, jadi aman dikonsumsi perut dan rasa susu persis susu segar biasa hanya agak manis sedikit) untuk membuat kopi di kantor. Karena susu khusus ini gak ada yang botol besar, saya hanya bisa membeli yang botol kecil, dan nggak cukup untuk dipakai seminggu penuh. Jadi, saya membeli dua botol setiap kalinya, supaya kalau habis nggak repot buru-buru ke supermarket untuk membeli susu untuk bisa minum kopi, bikin bubur oat atau makan sereal.

Supaya tidak dikira botol susu bersama, kan warnanya mirip, jadi saya nulis nama dan menandai si botol pakai spidol merah menyala.

Sudah BUESAR DAN TERANG kan namanya… hari Rabu saya kehabisan botol yang lama. Ambillah botol baru. Begitu diambil… ternyata sudah ada yang minum. Ketika saya beli kondisi susu masih tersegel, dan yang ngambil ini berarti kan harus ambil botol, buka tutupnya, melepaskan segelnya dan diminum setengah. Masa sih kelewatan nama segede itu di spidol merah lagi!

Duhhhhhh kesalnya sampai ke ubun-ubun… karena saya tidak bisa minum susu yang lain. How rude and inconsiderate! Mungkin pada buta tidak bisa membaca nama di botol susu, dan karena kesal, saya bikinlah label yang dilaminating… untuk di sisi botol… dan di atas tutupnya! Nggak bisa salah lagi kan???

Mungkin, kalau masih ada yang minum juga bukan kepunyaan dan haknya, saya mau sambelin tuh susu diam-diam… sukurin deh minum kopi pedas hahaha, resiko tanggung sendiri!

Ternyata pada tahun 2015 saya pernah menulis singkat tentang Bahasa Unik NZ – Part 1 yang dengan sayangnya terlupakan dan saya nggak pernah menulis part 2-nya… hahaha… maafkan saya yang suka terlanda kemalasan dan kurang niat ini. Kali ini saya mau berbagi lebih banyak lagi slang alias bahasa Inggris unik a la New Zealand. Pakai bentuk list saja supaya mudah dibaca dan nggak kepanjangan ceritanya, hehehe. Siapa tahu berguna untuk kalau ada yang mau berkunjung kemari, atau nambah pengetahuan bahasa Inggris model unik gini 😀

  • Dairy: selain arti harafiahnya yaitu produk dari susu, dairy adalah kata lainnya convenience store/minimarket. Jadi kalau ada yang bilang, “Go to the dairy.” atau “Getting it from the dairy.” ini maksudnya pergi ke kios minimarket kecil.
  • Lolly/lollies: sebutan untuk permen dan manisan.
  • Cooked: istilah “He/she is getting cooked.” atau “He/she’s so cooked.” maksudnya artinya ini orang udah mabuk banget hahaha.
  • Chook: ayam… contoh, seperti ayam panggang jadinya roast chook 🙂
  • Ta: ini artinya terima kasih/thank you. Waktu baru sampai di sini, saya bingung lihat teman saya yang berkomunikasi dengan anaknya pakai ‘ta’ kirain ‘ta’ itu bahasa bikinannya teman saya ini untuk minta barang dari anaknya. Nggak tahunya artinya terima kasih, hehehe. Di kantor juga banyak yang pakai kata ‘ta’ ini… untung saya sekarang ngerti kalau nggak maluuuuu.
  • Cheers: atau bisa juga bahasa gaulnya “chur”. Semacam kata ganti untuk terima kasih, juga bisa digunakan untuk ganti kata “regards” di komunikasi tertulis.
  • Brolly: ini singkatannya umbrella, alias payung. Dulu saya bingung disuruh bawa brolly oleh senior di kantor, apa ituuuu brolly hahaha. Gak tahunya payung 🙂
  • Gummies: bukan gummy bear ya… gummy bear mah lolly seperti di atas hahaha. Gummies ini singkatannya gumboots alias sepatu boots dari bahan karet, yang dipakai di kala hari hujan dan jadi bechyeeek ga ada ojyeeeek.
  • Hot chips: kentang goreng — kalo ngomong fries banyak yang nggak tahu, lho!
  • Chips/chippies: keripik kentang
  • Crook: sakit… contoh kalimatnya “Oh I feel so crook!” maksudnya ini saya nggak enak badan (bukan body not delicious yaaa… hahaha).
  • Jelly: selain arti harafiahnya jelly makanan itu, bisa jadi singkatan iri alias “jealous” — contohnya “I’m so jelly you get to go to the concert.”
  • Piss: artinya alkohol. Kalo misalnya mau minum-minum mabok, orang bisa bilang “I’m getting on the piss.”
  • Takeaways: istilahnya untuk gerai/makanan cepat saji terjangkau (tapi bukan model McD gitu-gitu) yang dibawa pulang. Misalnya saya bilang, “Let’s get takeaways for dinner.” jadi artinya adalah yuk bungkus makanan. Gerai takeaway biasanya di food court, atau komplek perumahan dan nggak ada tempat duduknya. Jadi memang didisain untuk makanannya dimakan di rumah masing-masing.
  • Bugger: artinya persis dengan “Oh, no” jadi misalnya saya cerita tentang kemalangan yang saya alami, teman bisa mengungkapkan rasa prihatinnya dengan bilang “Bugger!” tapi pengucapannya nggak dipakai r di belakang, jadi seperti ba-ga’
  • Piece of piss: artinya gampaaaaaaang… kalau di bahasa Inggris biasa artinya mirip dengan piece of cake.
  • Chilly bin: tas pendingin/cooler box yang bisa dibawa-bawa kalau piknik itu lhoo.
  • Wheelie bin: kotak sampah yang bisa ditarik.
  • Crash here/there: artinya nginap di rumah orang, bukan nabrak hahaha.

Segini dulu yang mau saya share hari ini… semoga bisa membantu atau jadi hiburan karena kata-katanya banyak yang lucu menurut saya. Nanti kalau mood lagi saya akan bikin part 3-nya (semoga penundaan tidak menjadi 2 tahun lamanya, hihihihi).

Alergi… adalah teman baruku sejak dewasa. Tepatnya sejak umur 25 ke atas kira-kira.

Waktu kecil sampai remaja — dan hingga awal umur dua puluhan, saya sehat sekali. Selain masalah muka jerawatan di kala puber dini (dulu julukan saya Jelita alias Jerawat Lima Juta karena ketika umur 12-13 saya jerawatan parah, di mana teman-teman belum jerawatan, tapi untungnya ketika yang lain mulai berjerawat jerawatku pun musnah) saya nggak pernah mendapatkan masalah yang berurusan dengan kulit sensitif, alergi makanan, alergi macam-macam. Pokoknya hidup bebas dan tanpa beban takut ini itu, ha ha ha…

Sejak umur 25 ke atas ini, waduh kok mendadak saya memiliki banyak teman baru ya… yaitu si alergi-alergi menyebalkan ini. Munculnya tiba-tiba, tak terduga dan malah beberapa hal yang dulunya saya oke-oke saja, sekarang jadi bermasalah.

Gigitan Serangga/Nyamuk
Dulu, kalau digigit nyamuk di kulit saya hanya berbekas bentok merah kecil saja yang sama sekali nggak gatal, lalu dalam dua hari pudar dan hilang sendiri. Asyik banget!
Sekarang???
Kalau terkena gigitan nyamuk pasti bentol dan gatal, dan jadi besar-besar…
Sementara gigitan serangga lebih parah. Dua tahun yang lalu saya terkena gigitan di pangkal kaki yang membengkak besar, jadi panas dan keras seperti batu. Alhasil saya harus diinfus antibiotik keras selama dua hari berturut-turut, setelah sembuh bekas bengkaknya pun menjadi gelap dan lama baru hilang.

Debu
Seumur-umur saya biasa saja dengan debu, apalagi mainnya di toko kayu Mami dan Papi yang berdebu banget pastinya. Sekarang kalau ketemu debu saya pasti bersin-bersin dan hidungnya jadi merah.

Lactose Intolerant/Intoleransi Laktosa
Ini ketahuan setelah swab dari usus perut saya (dengan kamera dan selang yang dimasukkan lewat tenggorokan). Karena saya ada intoleransi laktosa ini tidak aman untuk saya mengkonsumsi produk dairy (susu, keju, krim…) – kalau mengkonsumsi dalam jumlah besar perut jadi sakit, anginan, lalu setorlah ke toilet atau setor udara yang nggak mengenakkan banget, ha ha ha.
Untungnya menurut dokter intoleransi saya masih dalam batas yang tidak parah/intens jadi saya masih bisa makan produk dairy sedikit-sedikit (yogurt boleh, susu sedikit boleh, keju sedikit-sedikit juga masih oke). Kalau kepengin makan yang banyak, bisa — asal minum obat penangkalnya yaitu pil lactese (untuk membantu perut mencerna dairy). Dokter juga menyarankan jangan tidak mengkonsumsi sama sekali karena tubuh saya butuh kalsium.
Intoleransi laktosa ini ternyata hal yang wajar lho di ras orang Asia karena perut kita rata-rata belum berevolusi menghasilkan enzim laktosa di perut yang diperlukan untuk mencerna dairy.
Selama ini sih saya santai-santai saja, sehari-hari mengurangi produk dairy berlebih (misalnya susu diganti dengan lacto-free milk, nggak makan krim dsb) – tapi sekali-sekali ketika ingin, saya masih makan juga. Toh jarang dan juga, ada penangkalnya.

Obat Maag
Salah satu obat maag yang sering diresepkan dokter (termasuk untuk radang usus, sariawan di usus dan sebagainya) adalah obat yang mengandung proton pump inhibitor. Pengalaman saya jelek sekali – ketika mencoba obat ini untuk meredakan gejala maag di perut, saya sukses masuk rumah sakit. Perut sakit, badan merah dan bengkak, tenggorokan pelan-pelan menutup dan membuat saya sesak napas – alhasil saya harus disuntik adrenalin.
Nggak lagi-lagi deh dan saya pun menjauhi obat dengan kandungan ini, dengan sedih sih, soalnya saya punya gastritis yang harusnya kan bisa dengan mudah diobati menggunakan obat ini. Sayangnya saya alergi.

Perhiasan
Duh ini bikin sedih banget. Dulu saya bisa memakai apapun yang saya mau. Sekarang memakai anting sudah jaminan pasti kuping saya akan panas dan bengkak (mau coba anting dari bahan apapun, sampai beli yang hypoallergenic juga nggak bisa). Untungnya kalung dan cincin masih oke. Minggu ini saya bersedih sekali karena saya memakai jam tangan pemberian M untuk hadiah anniversary kami beberapa tahun yang lalu… dan pergelangan tangan saya iritasi, membentuk seperti arloji tersebut. Jadi sekarang tuh jam harus dipensiunkan dini, deh.

Plaster
Salah satu yang menyebalkan dan munculnya baru tahun 2015. Ingat sekali karena setelah reaksi alergi terjadi semua plaster di rumah diganti jadi yang hypoallergenic. Ceritanya saya luka di paha dan saya tutup dengan menggunakan plaster biasa lalu saya pun tidur.
Tengah malam… saya bangun karena paha saya panas. Ada apa gerangan… kupikir tuh luka infeksi?? Ternyata tidak, tapi kulit saya meradang dari plasternya. Di paha saya sampai sekarang ada bekas luka yang berbentuk plaster walau sudah sedikit lebih pudar. Jadi, saya harus berhati-hati dengan jenis lem/perekat yang digunakan oleh plaster untuk kulit saya.

Duh untungnya selain ini, saya nggak alergi yang lain (misalnya seafood atau gluten) atau muka saya jadi nggak cocok dengan skincare yang biasa saja. Bangkrut deh kalau disuruh beli skincare yang mahal-mahal, ha ha ha…

Kalian ada alergi juga nggak? Share di kolom komen dong kalau ada ceritanya yang menarik!

Tinggal di sini tentunya saya banyak bergaul dengan orang lokal, yang terkenal dengan sebutan ‘Kiwi’ seperti buah negara ini yang terkenal, hehehe. Misalnya mereka menyebut orang Australia ‘Aussies’; sedangkan untuk diri sendiri mereka menyebut diri sendiri ‘We are Kiwis’. Sepertinya saya belum pernah share tentang kebiasaan mereka yang beda dengan orang dari negara lain (terutama Indonesia dong ya perbandingannya, tanah air tercinta). Dengan orang di Australia, mirip nggak? Mungkin blogger-blogger yang tinggal di negeri Kangguru bisa memberikan pencerahannya.

1.jpg

Obsesi dengan Cuaca
Duh ini dia salah satu topik basa basi terhangat yang biasa dipakai orang Kiwi. Mereka pokoknya sukaaaaaa sekali dengan matahari yang bersinar terik walaupun sinar UV yang berbahaya. Saya juga suka sih, kalau keluar rumah tak lupa saya memakai selapis sunblock untuk melindungi muka saya dari ancaman melanoma alias kanker kulit.
Di bus, ketemu orang di jalan, kenal nggak kenal, kasir di toko, di kantor… pokoknya pasti ada saja percakapan dan pembahasan tentang cuaca hari itu, cuaca minggu tersebut, ramalan cuaca ke depan…

Tidak Membawa Uang Cash
Kebiasaan yang mungkin lebih jamak di kota besar dibandingkan kota kecil, dan salah satu kebiasaan yang nempel dengan saya 🙂
Sistem pembayaran di sini sering dilakukan menggunakan kartu ATM bank biasa. Kami menyebutnya EFTPOS card. Kalau belanja pasti pertanyaan di kasir adalah “Cash or EFTPOS?” Saya kalau keluar rumah tanpa kartu ini rasanya seperti nggak bawa uang… memang benar sih soalnya saya nggak pernah bawa uang cash sepeserpun.
Sekarang ada lagi sistem pembayaran, namanya Paywave. Jadi kartu dilengkapi dengan chip khusus dan bisa disentuh ke mesin tanpa menggunakan PIN (limit transaksi bisa dibatasi, contohnya saya mengatur supaya kartu Paywave hanya untuk pembayaran maksimal $50). Cocok untuk yang nggak sabaran seperti saya, ha ha ha.

Nyeker alias Tidak Memakai Alas Kaki
Semakin jarang terlihat di kota besar tapi tetap salah satu kebiasaan yang saya harus ikut tuliskan di sini. Banyak orang yang suka jalan-jalan tanpa alas kaki. Ke mall, ke supermarket, di jalanan… kalau di restoran sih pasti harus pakai alas kaki ya.
Saya masih ingat waktu tahun pertama di sini, ke supermarket, bengong pol karena ada sekeluarga di sana dan yang laki-laki dari ayah sampai anaknya semuanya nggak pakai alas kaki.

Menyebut Makan Malam sebagai Tea
Apakah orang negara lain ada kebiasaan ini? Bukan kebiasaan sih, mungkin lebih cocok disebut kosa kata, tapi karena unik dalam artian harafiah dan saya sering dengar saya tuliskan juga. Saya pertama-tama suka bingung kalau ada yang bilang, “I had roast for tea.” atau tanya, “What are you having for tea?”
Karena dalam pikiran saya tea kan ngeteh ya, tapi kok makannya pada berat-berat. Lama-lama sadar tea itu bisa juga buat sebutannya makan malam.

Coffee Culture
Kopi sudah bagaikan minuman wajib, yang di Australia sepertinya mirip-mirip juga coffee culturenya. Banyak kedai kopi di mana-mana dari yang basic sampai yang stylish. Kantor pun pasti rata-rata menyediakan mesin kopi (seperti di kantor saya mesin kopinya yang manual, jadi asyik bisa membuat kopi dengan susu yang difoam manual sendiri). Orang sini suka sekali dengan flat white, yaitu kopi yang dicampur dengan susu segar yang sudah di-foam dengan teknik khusus sehingga busanya kecil-kecil (microfoam). Saya juga sukaaaaaaa dengan flat white ini. Yang nggak mengkonsumsi produk susu pun tidak usah khawatir karena cafe pasti menyediakan opsi untuk memesan kopi dengan susu almond atau susu soya.

Drinking Culture
Aduh kalau weekend pasti di CBD pasti bertebaran orang-orang mabuk (biasanya yang umur awal 20an, walau nggak eksklusif juga sih!). Kalau di Jakarta kan orang mabuknya di dalam club/gedung/ruangan banyaknya, nah di Auckland jarang ada club khusus yang besar seperti di Jakarta. Biasanya restoran atau bar, malamnya jadi club, jadi sering juga orang pub crawl alias minum berpindah-pindah bar — makanya banyak yang di jalanan hihihi.
Di sini umur 18 tahun sudah usia legal untuk membeli alkohol, tapi pasti diminta ID/kartu tanda pengenal jika muka kita terlihat seperti di bawah usia 25 tahun. Misalnya diundang orang makan ke rumahnya kalau nggak membawa makanan untuk tambahan paling saya membeli sebotol wine untuk dibawa, minum bareng dengan tuan rumahnya. Kalau sedang musim panas diundang BBQ, sudah seperti aturan tak tertulis bawalah bir untuk diminum bareng. Tapi nggak untuk mabuk juga yaa haha. Wajar di sini kalau makan malam temannya segelas wine, atau bir.
Bir di sini banyaaaaaak jenisnya karena craft beer sangat populer dan menjamur, bisa juga minum cider (jus buah beralkohol, biasanya pir atau apel walau banyak variasi rasa lainnya dewasa ini).

Sekian 6 kebiasaan yang saya share hari ini… nanti kalau kepikiran lagi akan saya share lagi. Ada beberapa yang teringat waktu saya mengetik ini tapi mungkin lebih ke lingo/istilah bahasa, kapan-kapan kalau sudah terkumpul banyak (plus niat nulis, hahaha) akan saya ceritakan di postingan lainya yaa!

Ini adalah salah satu kenangan masa kecilku yang teringat dengan jelas, dan makin diingat kok rasanya makin lucu ya…

Mamiku adalah Mami nano nano. Beliau baik hati, perhatian dan sayang terhadap kami anak-anaknya, tapi jangan salah, Mami ini mudah marah dan kalau sudah marah rentetan omelannya (pakai istilah kami dulu) seperti kereta api, pokoknya panjaaaang, merembet ke mana-mana tak ada habisnya.

Masa itu almarhum kakek dan nenek saya tinggalnya di Kalimantan. Untuk berkomunikasi dengan Mami, Oma sering menelepon (teleponnya bagaikan telepon pejabat penting hihihi) dan kalau Oma menelepon bisa sejam lebih sekalinya ngobrol dengan Mami… dan kalau kami yang mengangkat rasanya senang ditelepon orang penting. Pokoknya Oma Diana number 1 deh!

Ketika saya berumur 6-8 tahun (duh nggak ingat pastinya — yang pasti masih polosssssss sekali) kami kena omel Mami. Lupa sebabnya apa. Omelan yang panjang, merembet pokoknya omelan khas Mami deh… setelah Mami berhenti ngomel tentu saja suasana di rumah masih tidak enak apalagi kami-kami yang habis diomelin, tuh! Telepon berdering… saya yang mengangkat. Eh, dari Oma! Oma menanyakan kabar saya dan ngobrol-ngobrol sebentar… lalu ingin ngobrol dengan Mami. Oma tanya, “Mama lagi ngapain?”

Jawaban polos dan jujur a la saya, “Mama lagi marah tuh…”

Tentu saja Oma menanyakan marah kenapa dan sebagainya, lalu telepon pun disambungkan ke Mami. Setelah Mami dan Oma selesai teleponan… saya dipanggil dan dikasihtahu lagi, lain kali nggak boleh ngomong ke Oma kalau Mami lagi marah! Ketika kecil saya iya-iya saja. Makin besar saya pun sadar… karena jawaban polos dan jujur a la saya, sukses tanpa disengaja Mami diomelin oleh maminya, yaitu Oma! hihihi… Iseng yang tak disadari…

Sampai sekarang saya masih suka meledek Mami, kalau dulu Mami diomelin Oma karena ngomelin kami… hahaha