Ya, betul.

Kalau menaruh makanan di kulkas… kadang suka dipakai bersama! Bukan bekal ya tapi staple seperti misalnya margarin, selai, madu, yoghurt… saya pernah kehilangan satu kotak yoghurt plus dengan kotak khususnya. Saya kan membuat yoghurt di rumah jadi tanpa kotak khusus saya nggak bisa membuatnya lagi. Beli lagi deh kotak khususnya supaya bisa buat lagi di rumah.

Saya kapok juga membawa sekotak spread (butter atau margarin) untuk roti, soalnya cepet banget habisnya — dan bukan saya yang pakai! Dan para-para klepto yang males beli spread sendiri ini juga meninggalkan sisa remah roti mereka di dalam margarin ini. Karena pisau yang sudah dipakai untuk mengoles roti panggang, dipakai lagi deh untuk ambil margarin lagi…

Saya kapok membawa selai untuk roti panggang. Peanut butter saya dipakai orang, tanpa izin, dan mana yang makai nggak bersiiiih jadi pas saya menyentuh botol setelahnya, tutupnya berminyak. Sebel banget nggak sih!

Madu juga kalau ditaruh di dapur, pasti cepat habisnya walau sudah dituliskan nama pakai stiker yang buesaaaaaaar. Sulitnya karena meja duduk kami tidak banyak storage jadi hampir nggak mungkin menaruh semua makanan tersebut di meja pribadi.

Kok bisa sih saya hari ini nulis ini? Saya mengalami kejadian menyebalkan di kantor hari ini.

Berhubung perut saya tidak bisa mencerna susu biasa (yang disediakan oleh kantor), saya harus membawa susu khusus (lacto free, yang laktosanya sudah di-convert menjadi gula, jadi aman dikonsumsi perut dan rasa susu persis susu segar biasa hanya agak manis sedikit) untuk membuat kopi di kantor. Karena susu khusus ini gak ada yang botol besar, saya hanya bisa membeli yang botol kecil, dan nggak cukup untuk dipakai seminggu penuh. Jadi, saya membeli dua botol setiap kalinya, supaya kalau habis nggak repot buru-buru ke supermarket untuk membeli susu untuk bisa minum kopi, bikin bubur oat atau makan sereal.

Supaya tidak dikira botol susu bersama, kan warnanya mirip, jadi saya nulis nama dan menandai si botol pakai spidol merah menyala.

Sudah BUESAR DAN TERANG kan namanya… hari Rabu saya kehabisan botol yang lama. Ambillah botol baru. Begitu diambil… ternyata sudah ada yang minum. Ketika saya beli kondisi susu masih tersegel, dan yang ngambil ini berarti kan harus ambil botol, buka tutupnya, melepaskan segelnya dan diminum setengah. Masa sih kelewatan nama segede itu di spidol merah lagi!

Duhhhhhh kesalnya sampai ke ubun-ubun… karena saya tidak bisa minum susu yang lain. How rude and inconsiderate! Mungkin pada buta tidak bisa membaca nama di botol susu, dan karena kesal, saya bikinlah label yang dilaminating… untuk di sisi botol… dan di atas tutupnya! Nggak bisa salah lagi kan???

Mungkin, kalau masih ada yang minum juga bukan kepunyaan dan haknya, saya mau sambelin tuh susu diam-diam… sukurin deh minum kopi pedas hahaha, resiko tanggung sendiri!

Ternyata pada tahun 2015 saya pernah menulis singkat tentang Bahasa Unik NZ – Part 1 yang dengan sayangnya terlupakan dan saya nggak pernah menulis part 2-nya… hahaha… maafkan saya yang suka terlanda kemalasan dan kurang niat ini. Kali ini saya mau berbagi lebih banyak lagi slang alias bahasa Inggris unik a la New Zealand. Pakai bentuk list saja supaya mudah dibaca dan nggak kepanjangan ceritanya, hehehe. Siapa tahu berguna untuk kalau ada yang mau berkunjung kemari, atau nambah pengetahuan bahasa Inggris model unik gini 😀

  • Dairy: selain arti harafiahnya yaitu produk dari susu, dairy adalah kata lainnya convenience store/minimarket. Jadi kalau ada yang bilang, “Go to the dairy.” atau “Getting it from the dairy.” ini maksudnya pergi ke kios minimarket kecil.
  • Lolly/lollies: sebutan untuk permen dan manisan.
  • Cooked: istilah “He/she is getting cooked.” atau “He/she’s so cooked.” maksudnya artinya ini orang udah mabuk banget hahaha.
  • Chook: ayam… contoh, seperti ayam panggang jadinya roast chook 🙂
  • Ta: ini artinya terima kasih/thank you. Waktu baru sampai di sini, saya bingung lihat teman saya yang berkomunikasi dengan anaknya pakai ‘ta’ kirain ‘ta’ itu bahasa bikinannya teman saya ini untuk minta barang dari anaknya. Nggak tahunya artinya terima kasih, hehehe. Di kantor juga banyak yang pakai kata ‘ta’ ini… untung saya sekarang ngerti kalau nggak maluuuuu.
  • Cheers: atau bisa juga bahasa gaulnya “chur”. Semacam kata ganti untuk terima kasih, juga bisa digunakan untuk ganti kata “regards” di komunikasi tertulis.
  • Brolly: ini singkatannya umbrella, alias payung. Dulu saya bingung disuruh bawa brolly oleh senior di kantor, apa ituuuu brolly hahaha. Gak tahunya payung 🙂
  • Gummies: bukan gummy bear ya… gummy bear mah lolly seperti di atas hahaha. Gummies ini singkatannya gumboots alias sepatu boots dari bahan karet, yang dipakai di kala hari hujan dan jadi bechyeeek ga ada ojyeeeek.
  • Hot chips: kentang goreng — kalo ngomong fries banyak yang nggak tahu, lho!
  • Chips/chippies: keripik kentang
  • Crook: sakit… contoh kalimatnya “Oh I feel so crook!” maksudnya ini saya nggak enak badan (bukan body not delicious yaaa… hahaha).
  • Jelly: selain arti harafiahnya jelly makanan itu, bisa jadi singkatan iri alias “jealous” — contohnya “I’m so jelly you get to go to the concert.”
  • Piss: artinya alkohol. Kalo misalnya mau minum-minum mabok, orang bisa bilang “I’m getting on the piss.”
  • Takeaways: istilahnya untuk gerai/makanan cepat saji terjangkau (tapi bukan model McD gitu-gitu) yang dibawa pulang. Misalnya saya bilang, “Let’s get takeaways for dinner.” jadi artinya adalah yuk bungkus makanan. Gerai takeaway biasanya di food court, atau komplek perumahan dan nggak ada tempat duduknya. Jadi memang didisain untuk makanannya dimakan di rumah masing-masing.
  • Bugger: artinya persis dengan “Oh, no” jadi misalnya saya cerita tentang kemalangan yang saya alami, teman bisa mengungkapkan rasa prihatinnya dengan bilang “Bugger!” tapi pengucapannya nggak dipakai r di belakang, jadi seperti ba-ga’
  • Piece of piss: artinya gampaaaaaaang… kalau di bahasa Inggris biasa artinya mirip dengan piece of cake.
  • Chilly bin: tas pendingin/cooler box yang bisa dibawa-bawa kalau piknik itu lhoo.
  • Wheelie bin: kotak sampah yang bisa ditarik.
  • Crash here/there: artinya nginap di rumah orang, bukan nabrak hahaha.

Segini dulu yang mau saya share hari ini… semoga bisa membantu atau jadi hiburan karena kata-katanya banyak yang lucu menurut saya. Nanti kalau mood lagi saya akan bikin part 3-nya (semoga penundaan tidak menjadi 2 tahun lamanya, hihihihi).

Alergi… adalah teman baruku sejak dewasa. Tepatnya sejak umur 25 ke atas kira-kira.

Waktu kecil sampai remaja — dan hingga awal umur dua puluhan, saya sehat sekali. Selain masalah muka jerawatan di kala puber dini (dulu julukan saya Jelita alias Jerawat Lima Juta karena ketika umur 12-13 saya jerawatan parah, di mana teman-teman belum jerawatan, tapi untungnya ketika yang lain mulai berjerawat jerawatku pun musnah) saya nggak pernah mendapatkan masalah yang berurusan dengan kulit sensitif, alergi makanan, alergi macam-macam. Pokoknya hidup bebas dan tanpa beban takut ini itu, ha ha ha…

Sejak umur 25 ke atas ini, waduh kok mendadak saya memiliki banyak teman baru ya… yaitu si alergi-alergi menyebalkan ini. Munculnya tiba-tiba, tak terduga dan malah beberapa hal yang dulunya saya oke-oke saja, sekarang jadi bermasalah.

Gigitan Serangga/Nyamuk
Dulu, kalau digigit nyamuk di kulit saya hanya berbekas bentok merah kecil saja yang sama sekali nggak gatal, lalu dalam dua hari pudar dan hilang sendiri. Asyik banget!
Sekarang???
Kalau terkena gigitan nyamuk pasti bentol dan gatal, dan jadi besar-besar…
Sementara gigitan serangga lebih parah. Dua tahun yang lalu saya terkena gigitan di pangkal kaki yang membengkak besar, jadi panas dan keras seperti batu. Alhasil saya harus diinfus antibiotik keras selama dua hari berturut-turut, setelah sembuh bekas bengkaknya pun menjadi gelap dan lama baru hilang.

Debu
Seumur-umur saya biasa saja dengan debu, apalagi mainnya di toko kayu Mami dan Papi yang berdebu banget pastinya. Sekarang kalau ketemu debu saya pasti bersin-bersin dan hidungnya jadi merah.

Lactose Intolerant/Intoleransi Laktosa
Ini ketahuan setelah swab dari usus perut saya (dengan kamera dan selang yang dimasukkan lewat tenggorokan). Karena saya ada intoleransi laktosa ini tidak aman untuk saya mengkonsumsi produk dairy (susu, keju, krim…) – kalau mengkonsumsi dalam jumlah besar perut jadi sakit, anginan, lalu setorlah ke toilet atau setor udara yang nggak mengenakkan banget, ha ha ha.
Untungnya menurut dokter intoleransi saya masih dalam batas yang tidak parah/intens jadi saya masih bisa makan produk dairy sedikit-sedikit (yogurt boleh, susu sedikit boleh, keju sedikit-sedikit juga masih oke). Kalau kepengin makan yang banyak, bisa — asal minum obat penangkalnya yaitu pil lactese (untuk membantu perut mencerna dairy). Dokter juga menyarankan jangan tidak mengkonsumsi sama sekali karena tubuh saya butuh kalsium.
Intoleransi laktosa ini ternyata hal yang wajar lho di ras orang Asia karena perut kita rata-rata belum berevolusi menghasilkan enzim laktosa di perut yang diperlukan untuk mencerna dairy.
Selama ini sih saya santai-santai saja, sehari-hari mengurangi produk dairy berlebih (misalnya susu diganti dengan lacto-free milk, nggak makan krim dsb) – tapi sekali-sekali ketika ingin, saya masih makan juga. Toh jarang dan juga, ada penangkalnya.

Obat Maag
Salah satu obat maag yang sering diresepkan dokter (termasuk untuk radang usus, sariawan di usus dan sebagainya) adalah obat yang mengandung proton pump inhibitor. Pengalaman saya jelek sekali – ketika mencoba obat ini untuk meredakan gejala maag di perut, saya sukses masuk rumah sakit. Perut sakit, badan merah dan bengkak, tenggorokan pelan-pelan menutup dan membuat saya sesak napas – alhasil saya harus disuntik adrenalin.
Nggak lagi-lagi deh dan saya pun menjauhi obat dengan kandungan ini, dengan sedih sih, soalnya saya punya gastritis yang harusnya kan bisa dengan mudah diobati menggunakan obat ini. Sayangnya saya alergi.

Perhiasan
Duh ini bikin sedih banget. Dulu saya bisa memakai apapun yang saya mau. Sekarang memakai anting sudah jaminan pasti kuping saya akan panas dan bengkak (mau coba anting dari bahan apapun, sampai beli yang hypoallergenic juga nggak bisa). Untungnya kalung dan cincin masih oke. Minggu ini saya bersedih sekali karena saya memakai jam tangan pemberian M untuk hadiah anniversary kami beberapa tahun yang lalu… dan pergelangan tangan saya iritasi, membentuk seperti arloji tersebut. Jadi sekarang tuh jam harus dipensiunkan dini, deh.

Plaster
Salah satu yang menyebalkan dan munculnya baru tahun 2015. Ingat sekali karena setelah reaksi alergi terjadi semua plaster di rumah diganti jadi yang hypoallergenic. Ceritanya saya luka di paha dan saya tutup dengan menggunakan plaster biasa lalu saya pun tidur.
Tengah malam… saya bangun karena paha saya panas. Ada apa gerangan… kupikir tuh luka infeksi?? Ternyata tidak, tapi kulit saya meradang dari plasternya. Di paha saya sampai sekarang ada bekas luka yang berbentuk plaster walau sudah sedikit lebih pudar. Jadi, saya harus berhati-hati dengan jenis lem/perekat yang digunakan oleh plaster untuk kulit saya.

Duh untungnya selain ini, saya nggak alergi yang lain (misalnya seafood atau gluten) atau muka saya jadi nggak cocok dengan skincare yang biasa saja. Bangkrut deh kalau disuruh beli skincare yang mahal-mahal, ha ha ha…

Kalian ada alergi juga nggak? Share di kolom komen dong kalau ada ceritanya yang menarik!

Tinggal di sini tentunya saya banyak bergaul dengan orang lokal, yang terkenal dengan sebutan ‘Kiwi’ seperti buah negara ini yang terkenal, hehehe. Misalnya mereka menyebut orang Australia ‘Aussies’; sedangkan untuk diri sendiri mereka menyebut diri sendiri ‘We are Kiwis’. Sepertinya saya belum pernah share tentang kebiasaan mereka yang beda dengan orang dari negara lain (terutama Indonesia dong ya perbandingannya, tanah air tercinta). Dengan orang di Australia, mirip nggak? Mungkin blogger-blogger yang tinggal di negeri Kangguru bisa memberikan pencerahannya.

1.jpg

Obsesi dengan Cuaca
Duh ini dia salah satu topik basa basi terhangat yang biasa dipakai orang Kiwi. Mereka pokoknya sukaaaaaa sekali dengan matahari yang bersinar terik walaupun sinar UV yang berbahaya. Saya juga suka sih, kalau keluar rumah tak lupa saya memakai selapis sunblock untuk melindungi muka saya dari ancaman melanoma alias kanker kulit.
Di bus, ketemu orang di jalan, kenal nggak kenal, kasir di toko, di kantor… pokoknya pasti ada saja percakapan dan pembahasan tentang cuaca hari itu, cuaca minggu tersebut, ramalan cuaca ke depan…

Tidak Membawa Uang Cash
Kebiasaan yang mungkin lebih jamak di kota besar dibandingkan kota kecil, dan salah satu kebiasaan yang nempel dengan saya 🙂
Sistem pembayaran di sini sering dilakukan menggunakan kartu ATM bank biasa. Kami menyebutnya EFTPOS card. Kalau belanja pasti pertanyaan di kasir adalah “Cash or EFTPOS?” Saya kalau keluar rumah tanpa kartu ini rasanya seperti nggak bawa uang… memang benar sih soalnya saya nggak pernah bawa uang cash sepeserpun.
Sekarang ada lagi sistem pembayaran, namanya Paywave. Jadi kartu dilengkapi dengan chip khusus dan bisa disentuh ke mesin tanpa menggunakan PIN (limit transaksi bisa dibatasi, contohnya saya mengatur supaya kartu Paywave hanya untuk pembayaran maksimal $50). Cocok untuk yang nggak sabaran seperti saya, ha ha ha.

Nyeker alias Tidak Memakai Alas Kaki
Semakin jarang terlihat di kota besar tapi tetap salah satu kebiasaan yang saya harus ikut tuliskan di sini. Banyak orang yang suka jalan-jalan tanpa alas kaki. Ke mall, ke supermarket, di jalanan… kalau di restoran sih pasti harus pakai alas kaki ya.
Saya masih ingat waktu tahun pertama di sini, ke supermarket, bengong pol karena ada sekeluarga di sana dan yang laki-laki dari ayah sampai anaknya semuanya nggak pakai alas kaki.

Menyebut Makan Malam sebagai Tea
Apakah orang negara lain ada kebiasaan ini? Bukan kebiasaan sih, mungkin lebih cocok disebut kosa kata, tapi karena unik dalam artian harafiah dan saya sering dengar saya tuliskan juga. Saya pertama-tama suka bingung kalau ada yang bilang, “I had roast for tea.” atau tanya, “What are you having for tea?”
Karena dalam pikiran saya tea kan ngeteh ya, tapi kok makannya pada berat-berat. Lama-lama sadar tea itu bisa juga buat sebutannya makan malam.

Coffee Culture
Kopi sudah bagaikan minuman wajib, yang di Australia sepertinya mirip-mirip juga coffee culturenya. Banyak kedai kopi di mana-mana dari yang basic sampai yang stylish. Kantor pun pasti rata-rata menyediakan mesin kopi (seperti di kantor saya mesin kopinya yang manual, jadi asyik bisa membuat kopi dengan susu yang difoam manual sendiri). Orang sini suka sekali dengan flat white, yaitu kopi yang dicampur dengan susu segar yang sudah di-foam dengan teknik khusus sehingga busanya kecil-kecil (microfoam). Saya juga sukaaaaaaa dengan flat white ini. Yang nggak mengkonsumsi produk susu pun tidak usah khawatir karena cafe pasti menyediakan opsi untuk memesan kopi dengan susu almond atau susu soya.

Drinking Culture
Aduh kalau weekend pasti di CBD pasti bertebaran orang-orang mabuk (biasanya yang umur awal 20an, walau nggak eksklusif juga sih!). Kalau di Jakarta kan orang mabuknya di dalam club/gedung/ruangan banyaknya, nah di Auckland jarang ada club khusus yang besar seperti di Jakarta. Biasanya restoran atau bar, malamnya jadi club, jadi sering juga orang pub crawl alias minum berpindah-pindah bar — makanya banyak yang di jalanan hihihi.
Di sini umur 18 tahun sudah usia legal untuk membeli alkohol, tapi pasti diminta ID/kartu tanda pengenal jika muka kita terlihat seperti di bawah usia 25 tahun. Misalnya diundang orang makan ke rumahnya kalau nggak membawa makanan untuk tambahan paling saya membeli sebotol wine untuk dibawa, minum bareng dengan tuan rumahnya. Kalau sedang musim panas diundang BBQ, sudah seperti aturan tak tertulis bawalah bir untuk diminum bareng. Tapi nggak untuk mabuk juga yaa haha. Wajar di sini kalau makan malam temannya segelas wine, atau bir.
Bir di sini banyaaaaaak jenisnya karena craft beer sangat populer dan menjamur, bisa juga minum cider (jus buah beralkohol, biasanya pir atau apel walau banyak variasi rasa lainnya dewasa ini).

Sekian 6 kebiasaan yang saya share hari ini… nanti kalau kepikiran lagi akan saya share lagi. Ada beberapa yang teringat waktu saya mengetik ini tapi mungkin lebih ke lingo/istilah bahasa, kapan-kapan kalau sudah terkumpul banyak (plus niat nulis, hahaha) akan saya ceritakan di postingan lainya yaa!

Ini adalah salah satu kenangan masa kecilku yang teringat dengan jelas, dan makin diingat kok rasanya makin lucu ya…

Mamiku adalah Mami nano nano. Beliau baik hati, perhatian dan sayang terhadap kami anak-anaknya, tapi jangan salah, Mami ini mudah marah dan kalau sudah marah rentetan omelannya (pakai istilah kami dulu) seperti kereta api, pokoknya panjaaaang, merembet ke mana-mana tak ada habisnya.

Masa itu almarhum kakek dan nenek saya tinggalnya di Kalimantan. Untuk berkomunikasi dengan Mami, Oma sering menelepon (teleponnya bagaikan telepon pejabat penting hihihi) dan kalau Oma menelepon bisa sejam lebih sekalinya ngobrol dengan Mami… dan kalau kami yang mengangkat rasanya senang ditelepon orang penting. Pokoknya Oma Diana number 1 deh!

Ketika saya berumur 6-8 tahun (duh nggak ingat pastinya — yang pasti masih polosssssss sekali) kami kena omel Mami. Lupa sebabnya apa. Omelan yang panjang, merembet pokoknya omelan khas Mami deh… setelah Mami berhenti ngomel tentu saja suasana di rumah masih tidak enak apalagi kami-kami yang habis diomelin, tuh! Telepon berdering… saya yang mengangkat. Eh, dari Oma! Oma menanyakan kabar saya dan ngobrol-ngobrol sebentar… lalu ingin ngobrol dengan Mami. Oma tanya, “Mama lagi ngapain?”

Jawaban polos dan jujur a la saya, “Mama lagi marah tuh…”

Tentu saja Oma menanyakan marah kenapa dan sebagainya, lalu telepon pun disambungkan ke Mami. Setelah Mami dan Oma selesai teleponan… saya dipanggil dan dikasihtahu lagi, lain kali nggak boleh ngomong ke Oma kalau Mami lagi marah! Ketika kecil saya iya-iya saja. Makin besar saya pun sadar… karena jawaban polos dan jujur a la saya, sukses tanpa disengaja Mami diomelin oleh maminya, yaitu Oma! hihihi… Iseng yang tak disadari…

Sampai sekarang saya masih suka meledek Mami, kalau dulu Mami diomelin Oma karena ngomelin kami… hahaha

Ingin cerita dan berbagi foto tentang salah satu hal favorit saya di daerah tempat tinggal kami di Auckland.

Saya termasuk salah satu yang beruntung bisa tinggal di suburbia/daerah perumahan di Auckland, New Zealand — tepatnya di daerah North Shore City (bagian Utara kota Auckland). Menurut saya nggak terlalu sumpek dan beruntungnya lagi rumah kami letaknya di pinggiran bukit yang pemandangan ke bawahnya sangat cantik. Selain pemandangan yang cantik, pemerintah (council) juga merawat taman dan daerah sekitar sehingga ada taman dan rute kecil untuk jalan alam mini. Menyegarkan, pokoknya, dan gratis! Hehehe. Di sini banyak yang jalan pagi, jalan sore, ajak anjing jalan-jalan, jogging, bersepeda dan seperti saya jalan pacaran ceritanya, ha ha ha.

img_7837Turun dari bukit (tentunya ada jalan setapaknya, seperti di buku Enid Blyton kalau saya bayangkan… berpetualaaaaang) bertemu dengan pemandangan ini. Tentunya dengan langit yang biru. Saya ini seperti kucing, kalau hujan, saya nggak keluar rumah.

img_7868Ini si M lagi memfoto rumah kami dari bawah bukit… rumahnya kelihatan di foto ini seperti titik kecil, hehehe. Lihat kan deretan rumah-rumah di atas bukit?? Itu perumahannya, di jalan utama dan ada rute busnya dan sebagainya.

img_7834Jalan kira-kira 10 menit dari rumah kami sampai ke rute jalan alam ini. Jalannya ya cuma tanah biasa seperti di atas, yang bagian kayunya adalah jembatan buatan.

img_7861

img_7862

img_7839

img_7877

Saya seumur hidup nggak pernah olah raga, tahun ini saya memulai. Pelan tapi pasti — sulit pastinya dong soalnya jarang gerak sih! Dengan adanya rute jalan alam ini sangat membantu jadi tidak bosan, dekat rumah juga. Karena saya nggak terlalu suka olah raga di gym, selain jalan ini saya juga ikut kelas bikram yoga (yoga di ruangan panas kira-kira 38-40 derajat celsius).

Saya suka sekali dengan rute jalan alam ini, karena kalau lagi matahari bersinar cerah, sepertinya dengan mudah kami bisa mendapatkan sedikit pelarian alias escape dari kehidupan kota… secara sehari-hari kerja di daerah city yang sibuk (sesibuknya sih nggak sampai sesibuk di daerah Senen misalnya ya, hehehe), pulang kerja pun balik ke rumah yang suasananya ya perumahan. Bisa kabur ke alam sebentar seperti ini, rasanya rileks dan badan pun segar kembali.

Judulnya lebay banget ya… hahaha… singkatnya setiap tahun kantor saya ikutan acara cupcake day ini di mana kami-kami volunteer dari kantor untuk buat cupcakes (atau cemilan lainnya) yang lalu dijual di kantor dan hasilnya disumbangkan untuk SPCA. SPCA ini adalah organisasi kesejahteraan hewan di New Zealand. Mereka ini organisasi independen yang nggak menerima uang dari pemerintah… jadi sumbangan dari masyarakat benar-benar penting untuk mereka. Saya sendiri sebagai pecinta binatang tentunya ikutan dong ya volunteer di kantor untuk bikin kue. Tahun ini tidak terasa sudah tahun ketiga saya ikutan acara ini. Mau berbagi cerita saja gimana ikutan berpartisipasi di acaranya.

Saya, si orang last minute ini, hari Minggu sore baru mulai baking. Pede aja pastinya jadi. Lalu pakai acara coba-coba resep baru lagi… yah saudara-saudara GAGAL DONG! Hasil jadinya sih enak bingits seperti kue bolu ala ala Indonesia gitu, tapi saking airy dan lembutnya, si kue kempes kalau dikasih icing yang berat 😦

img_7730

Di atas ini adalah penampakan si kue yang gagal tapi enak ini (iya, gagal, tapi karena enak dan lembut jadi kita makanin semua di rumah hihihihi). Resepnya pakai resep Cie Ine Elkaje. Saking enaknya si suami udah request, bikin lagi dong pakai pasta pandan. Dasar memang kue kesukaannya, chiffon pandan 🙂

Oke, resep gagal, nggak mati gaya. Langsung ke website gula di NZ sini yang kebetulan merek gulanya kami pakai di rumah, pakai resep cupcakenya, hasilnya… cupcake yang lembut, tapi kuat dan kokoh untuk icingnya.

img_7736

Inilah hasil cupcakes batch kedua, saya buat dobel resep jadinya dua loyang. Beda ya hasilnya kelihatan sama yang awal, mengkerut kebanyakan udara si kue. Tapi jujur saja… lidah Asia saya lebih doyan yang mengkerut. Soalnya rasanya persisssssss kue bolu chiffon! Biar cepat, saya bikin Nutella frosting saja (karena lumayan sering bikin jadi sudah nggak ditakar lagi buatnya). Eh ternyata spuitku hilang… entah ke mana… padahal sudah jam 11 malam yaaa habisnya last minute sih bikinnya. Setengah mengantuk sayapun menghias cupcakes dengan menggunakan pisau butter! hehehe. Lalu pakai sprinkles. Hasilnya lumayan juga. Jam 12 malam jerih payah saya terbayar dengan comot makan satu cupcakesnya.

img_7743

Hasil cupcakes frostingan tangan saya. Lumayan banget! Satunya dijual $4

img_7742

Tahun lalu peserta bakingnya jauh lebih banyak, tahun ini hanya ada 3 orang saja. Jadi kuenya terpaksa kami hargai lebih mahal 😦 terus kedengeran Ibu Manager saya protes, kok mahal amat. Yah Bu, bikinnya pakai telat tidur dan bahannya dari kami lho… hahahaha… tapi setelah ngoceh-ngoceh si Ibu Manager beli juga satu. Dilabeli dengan post it note, karena saya demen nulis, sayalah yang disuruh nulis label dan harga.

img_7745

Oh iya di atas ini adalah ‘toko kue’ resminya SPCA untuk cupcake day ini. Toko pop up ini hanya ada sehari ini saja, dan tersebar di Auckland. Yang membuat kue dan menjualnya juga adalah para volunteer yang baik hati.

Bagi saya pribadi, seru — dan walau tiap tahun pasti membuatnya last minute, lalu ngoceh-ngoceh no more next year, tetap tahun depannya saya ikutan lagi.

Lebih dari setengah dekade tinggal di NZ sini… nggak terasa saya jadi slebor… hahaha. Selebor ini dalam artiannya percayaan, kurang waspada (kalau pakai bahasanya Mami saya). Orang Kiwi di sini, kebanyakan percayaan, baik, ramah — dengan tingkat kriminalitas yang menurut mereka tinggi ya, tapi kalau dibandingkan dengan negara-negara yang saya tinggali sebelumnya, wuih nggak sama sekali.

Percayaan ini dalam artian, nggak punya prasangka buruk dengan orang lain, pokoknya percaya deh kalau orang lain itu sama-sama jujur.

Mereka bisa lho jualan lepas dan ditinggal. Beberapa minggu yang lalu, saya pergi ke Matakana market (kira-kira sejam dari Auckland). Karena parkiran sekitar market penuh, kami parkir agak jauh dan jalan ke market. Sepanjang jalan… banyak rumah-rumah di dekat sana yang ikutan jualan juga. Ada yang jualan buah, tanaman kecil (contoh, Vietnamese mint di dalam pot kecil) dan sebagainya. Jualan-jualan ini semuanya ditinggal di luar rumah, ada yang ditaruh gitu aja di bak plastik, ada juga yang niat dengan meja papan kayu tua. Sayang, saya lagi sibuk minum kopi jadi nggak kepikiran mau difoto. Setiap jualan ini ada harganya (biasa ditulis dengan spidol di karton kardus bekas) dan… disediakan wadah (contohnya kaleng atau kotak bekas es krim) untuk uangnya!

Ya, mereka percaya saja tuh kalau orang membeli dagangannya, nanti bayar uangnya pas dengan jujur yang lewat nggak iseng mengambil uangnya. Saya juga pernah lihat di tepi jalanan kota kecil nanti ada seperti kotak kayu kecil yang mirip halte bus bentuknya, tapi tujuannya untuk orang jualan buah — dan nggak ada yang jaga. Mobil-mobil yang lewat bisa melihat dari tanda di papan buah apa yang dijual dan berapa harganya. Kalau mau beli ya stop saja, ambil buahnya, lalu membayar dengan menaruh uang tunai di wadah yang disediakan.

Salah satu teman kerja saya yang tinggalnya dekat dengan Matakana itu bercerita, kalau di rumahnya susu yang mereka minum adalah susu segar. Setiap dua hari sekali mereka menaruh botol susu (bahannya dari gelas dan transparan) di depan pintu rumah di pagi hari, dengan uang untuk botol berikutnya, nanti tukang antarnya akan ambil botol kosong dan menaruh botol baru dengan susu yang penuh.

Cerita begini kebanyakan yang di luar kota besar. Kalau di kota-kota besar (seperti di Auckland sini), sudah semakin ramai. Hidup susah. Banyak imigran. Ketidakpercayaan pun muncul di mana-mana.

Walaupun begitu tetep saja menurut standar saya yang tumbuh besar di Jakarta… masih aman bangetttt.

Saya berani saja tuh jalan sendirian walaupun di malam hari. Tas ya jarang diresleting. Ditenteng gitu aja. Kadang saya suka mikir aduh lupa ditutup nanti ada yang copet bagaimana. Selama 6 tahun nggak pernah kena copet walau slebor gitu. Kalau di Jakarta, harta bendaku pasti sudah habis tak bersisa hahaha… Kadang kalau malas bawa tas ya saya pegang saja HP dan dompet di tangan. Makan, ditaruh di meja tanpa diawasi. Kalau di Jakarta… makan di restoran di mal saja barang berharga masuk tas, yang ditutup rapat dan ditaruh di pangkuan, saking seringnya dengar cerita seraaaaam di mana-mana (apalagi orangtua saya tuh sering banget mengirimkan berita kriminal dengan modus terbaru di Indonesia).

Kejujuran juga tinggi. Misalnya duluuuuuu waktu baru ke sini, saya sempat pinjam buku di perpustakaan di mana tuh buku terselip waktu saya pindahan apartemen. Selang setahun kemudian, saya nemu bukunya ketika bongkar tas, dan cerita sepintas lalu dengan M. Ditanyain, kapan mau dikembaliin? Saya bilang ah nanti aja karena nggak sempat (ini sifat jelek banget jangan ditiru ya!)… hasilnya adalah saya dikuliahi macam-macam, disuruh kembalikan buku secepatnya dan bayar denda telat yang memang merupakan kewajiban saya.

Soal penipuan, saya juga jadi lebih ‘kurang awas’ — kali ini, pakai istilahnya Papi… hahaha. Dulu, waktu beli mobil saya transfer dulu malam sebelumnya. Besok sore baru diambil mobilnya. Kalau di Jakarta lha ya takut, banyak curigaan. Padahal ya saya masih curigaan dan awas juga sih. Kadang misalnya kami lagi ngapain gitu, lalu saya berkomentar, “Tapi kalau begini ________ bagaimana?” — M pasti bilang “It’s such an Indonesian thing to say.” maksudnya karena kecurigaan saya macam-macam skenarionya. Lah ya harus, di Indonesia kan buaaaanyaaakkk penipuan. Orang-orangnya kreatif.

Anyway postingan ini idenya dari foto di bawah ini. Saya tadi sore melihat ini di sebuah toko. Payung yang boleh dipinjam pelanggan kalau lagi hujan, mau jalan balik ke mobilnya. Nanti dikembalikan. Saya terpana, soalnya lagi-lagi ingat di Jakarta… apalagi payung kualitas bagus. Gratiskan? Jaminan yang balik, pasti nggak lebih dari seperempatnya jumlah payung deh.

Apa…?

Ya benar, sudah setengah tahun lamanya saya mempersulit hidup sendiri hehehe, dengan nggak mengambil wadah (terutama plastik) sekali pakai. Wadah sekali pakai ini termasuk sedotan, beli minuman di wadah plastik, makanan di wadah plastik, styrofoam dsb.

Saya pernah bercerita di postingan ini tentang upaya saya mengurangi sampah, nggak mau ambil kantong plastik, dan inilah perubahan ‘naik sederajat’ yang saya coba terapkan dalam kehidupan sehari-hari sekarang.

Soal sedotan… sebelum beli sedotan stainless steel, saya mencoba kalau beli minuman minumnya langsung dari gelas saja. Sekarang sudah beli satu pak sedotan yang bisa dipakai berulang kali, lama dan bahannya stainless pula. Praktis, tinggal dibawa ke mana-mana dan tinggal cemplung ke mesin cuci piring sesudahnya.

Screen Shot 2017-08-11 at 8.31.13 PMPenampakan sedotan saya.

Berkaitan dengan soal minuman, komitmen nggak memakai produk sekali pakai ini juga artinya saya mengurangi konsumsi minuman takeway yang dibeli seperti minumannya Starb**ks soalnya gelas dan sedotannya plastik – begitu juga dengan smoothies (sekarang bikin sendiri saja tiap mau minum), minumannya di tempat fast food (wadahnya kan kertas tapi tutupnya plastik), kopi (kecuali ketika bawa wadah untuk kopi sendiri – tapi seringnya bikin sendiri di rumah dan dimasukkan wadah untuk dibawa keluar), bubble tea is a big no no soalnya full plastik semuanya, minuman seperti jus dalam botol plastik sekali minum juga tidak. Selain lebih sehat – sekarang saya seringnya minum teh, kesukaan saya rooibos dan jadinya lebih sering minum air putih dari botol yang dibawa di dalam tas – juga menghemat uang karena nggak sering jajan minuman iseng sembarangan kan.

Kebetulan tempat kopi saya unyu hahahaha jadinya senang dibawa ke mana-mana.

Soal makanan di wadah plastik… ini agak lebih tricky karena plastik kan di mana-mana ya. Saya beli foodwrap organic yang dibuat dari bahan beeswax. Ke mana-mana bawa si foodwrap ini dalam tas, kalau beli snack misalnya pastry, dibungkus pakai ini. Bisa dicuci dengan mudah dan dipakai berulang kali, desainnya cantik, wangi madu (jadi tas wangi madu juga) dan membungkus makanan dengan efektif soalnya kalau dua permukaannya ditekan bersama, jadi agak nempel. Lebih mendingan dong dibandingkan pembungkus makanan dari kertas (sekali pakai terus dibuang jadi saya nggak ambil juga). Lalu kalau pergi makan keluar saya mencoba untuk membawa kotak makan dari rumah, jadi sisa makanannya masuk ke situ saja untuk dibawa daripada masuk Styrofoam.

Foodwrap yang ramah lingkungan.

Kalau lupa, kebetulan butuh, nggak ada dsb… bagaimana?

Di rumah saya menyediakan wadah khusus untuk plastik halus (seperti pembungkus produk supermarket misalnya, atau kantong plastik biasa) supaya kalau memang terpaksa ngambil, plastik-plastiknya bisa dikumpulkan. Kalau sudah penuh saya bawa ke supermarket karena di supermarket ada fasilitas untuk mendaur ulang plastik jenis ini. Plastik keras lainnya wajib masuk wadah daur ulang di rumah yang dikumpulkan oleh tukang sampah setiap dua minggu.

Repot nggak? Awalnya iya, sekarang kebiasaan, dan kalau lihat minuman sudah nggak kepingin lagi. Kalau lihat sampah yang sembarangan dibuang (dalam artian sekali pakai sudah dibuang) duh rasanya ngenes di dada gitu lho. Kata teman saya, nanti kalau saya pulang bisa ikutan stress… plastik di mana-mana hahaha…

“As a child my Mum said I was very easy to feed.”
“What changed?” one of my peers sarcastically asked, trying to make a joke.

Nothing has changed. The difference is I value for what I pay for, with the money I earn with hard work, more.

I don’t consider myself as fussy. When I go to my friend’s house, my parents’ house, or wherever where I get people cooking me my meals as a favour (this includes my own husband), as their way of hospitality, as a nice thing to do, I eat what I get given on the plate. I feel thankful, I don’t kick up a fuss.

But when I pay $7 for a two minute cup noodles in the airplane and the person who makes it goes way over the water pour line and makes my food bland, I don’t like it.

When I buy a $17 plate of schnitzel for lunch and it comes smothering in sauce (despite nothing in the menu indicates so), I cringe. I would have asked for sauce on the side. What’s the best part of eating schnitzel? The crispy crumb. And nope I did not get that.

When I ask for no peanuts on my pad thai yet I get peanuts on it. With $15 a pop. Don’t I have the right to be ‘fussy’ and not liking my meal?

I can be ‘fussy’ as most of the time I cook my own meals, thank you very much. The times when I don’t pay for the meals I don’t kick up a fuss about what I like or dislike. And when I pay for those meals and get disappointed, or simply get served bad meals, or go to an Asian eatery to find an absolute bastarised version of a dish that I grew up with (sorry Indonesians and Koreans, gado-gado salad with kimchi does exist) do I then lose my right to not like it in order to conform, and be a kinder member of society rather than be labelled as ‘fussy’?

I have a right to not like tomatoes in my burger. I don’t ask you to take them off my burgers when I myself forget to ask it off.

I have a right to not like ice cream on my waffles. I paid for my waffles AND always ask nicely to have it on the side.

I have a right to not want to eat chicken thighs on my meal. Because a) I almost always cook my own chicken meals and b) when we eat out I always, always ask the cut of meat they use and/or ask for breast only.

The list goes on.

Leave me alone. I don’t ask people to pay for my food — let alone cook it for free.